Title : Bayar Aku Dengan Ciuman!
Summary : Kuchiki Rukia, murid pindahan di SMU Karakura mengalami penindasan. Tak disangka seorang senpai berambut orange menawarkan diri untuk melindunginya, tapi dengan bayaran… hah? Cium?!
Rated : T
Genre : Romance & Humour
For Oda Kurosaki (setan gentayangan yang hobinya neror dan ngerayu gombal)
_apa'an itu komentar d atas membuat diriku makin semangat cari mangsa bwahahahaha #plak_
.
.
.
.
Sebuah lembaga pendidikan di kota kecil Karakura tengah dihebohkan dengan berita super menggemparkan. Kabar tersebut tak lain dan tak bukan mengenai seorang—idola sekolah, jagoan di klub sepak bola, langganan peringkat 5 besar di angkatan kelas 2—pria berambut orange nyentrik, siapa lagi kalau bukan Kurosaki Ichigo alias si stroberi.
Ehem… jika pembaca masih ingat dengan 'penawaran' dan 'bayaran' yang diminta oleh kakak kelas Rukia—heroine mungil di cerita kita—satu ini, mungkin Anda sekalian akan berpikir bahwa hal yang mengejutkan di atas ada hubungannya dengan kejadian kemarin.
Yah, MEMANG masih ada hubungannya. Tapi sepertinya… bakal tidak sesuai dengan apa yang Anda bayangkan. Mari kita simak saja.
Kurosaki Ichigo. Umur 16 tahun. Warna rambut : Orange. Warna mata : Coklat—kadang disebut sebagai Hazel atau Amber. Pekerjaan : Pelajar SMU, bukan Dewa Kematian (AN : sengaja biodata diri seperti di BLEACH tapi dibedakan karena ini bukan setting canon).
Status : Single alias Jomblo atau tidak memiliki kekasih. Saat ini sedang naksir berat pada murid baru yang menjadi adik kelasnya, Kuchiki Rukia.
Ralat.
Status : Single yang sedang diusahakan menjadi In a relationship.
Saat ini sedang senyum-senyum gaje sembari melamunkan sang pujaan hati. Di kelas 2-I, sambil ditatap teman-teman sekelasnya yang tak percaya pada pemandangan ganjil ini. Lagi, striker andalan klub sepak bola itu mengelus pipinya yang tak lagi mulus.
Kenapa pipi Ichigo tak mulus?
Karena ada cap lima jari di pipi kanannya. Oleh-oleh dari seorang gadis bermata cantik yang kita kenal bersama.
Jadi berita heboh yang menggoncang seantero sekolah adalah keberadaan bekas tamparan abnormal milik Kurosaki sulung tersebut. Hayo… sebelumnya para pembaca membayangkan apa~?
Ehem! Back to story.
Jika pembaca bertanya-tanya kenapa sebuah bukti penganiayaan tersebut begitu mengundang perhatian seluruh murid dan sengaja Saya ketik 'abnormal', inilah jawabannya.
Tak ada seorang pun yang akan percaya bahwa pangeran sekolah satu ini akan ditampar oleh seorang gadis. Maksudnya, siapa sih pemilik tangan mungil yang mendaratkan jejak merah tersebut ke wajah seorang Kurosaki Ichigo. Imposibel, gitu loh~
Kedua. Bekas lima jari tak wajar itu, jika diperhatikan baik-baik memang tidak wajar. Oke… Saya sampai mengetik kata 'tidak wajar' dalam satu kalimat dua kali.
Jika biasanya seseorang menampar orang lain, maka di wajah korban akan ada cap dengan lima jari mengarah ke telinga atau ujung-ujungnya seperti menunjuk belakang kepala sedangkan telapaknya dekat ke arah dagu dan bibir. Pada kasus Ichigo, bekas merah jari-jarinya menghadap depan sampai nyaris mencapai hidung dan bagian telapaknya hampir mengenai telinga.
Para detektif sekalian, sudah ada yang mendapat jawabannya?
Tepat sekali!
Kronologisnya begini.
"Bayaran?" ulang Rukia curiga. Apa jangan-jangan senpainya ini bermaksud memeras isi dompetnya yang sudah tipis itu? "Bayaran apa?"
"pst… pst…"
"Hah? Apa?" tanya Rukia karena suara senpainya terlalu kecil hingga tak terdengar.
"Bayarannya…" Ichigo menolehkan kepalanya agar menghadap gadis kecil di gendongannya, membuat Rukia berkedip melihat rona merah jambu menyapu seluruh wajah tampan sang kakak kelas, kemudian dengan lantang berkata, "… Aku minta ciuman darimu!"
"HAH?!"
Lama Rukia membeku. Otaknya mendadak macet memproses informasi yang baru dilontarkan oleh pria berambut jerut yang masih setia menggendongnya di punggung. Ichigo yang menunggu respon dari gadis pendek yang ditaksirnya ini membuang muka ke depan.
"Yah, maksudku… karena aku su—maksudku, aku tidak bisa membiarkan orang yang tertindas sepertimu. Dan—eh, tapi aku juga tidak mungkin bekerja gratisan. Ehm, lagipula cuma satu ciuman dan setelah itu kita bis—"
"DASAR SENPAI MESUM!"
PLAAKK!
Tamparan melegenda tersebut dilayangkan ketika pelakunya masih berada di punggung Ichigo. Jadi tak heran jejak penganiayaan tersebut nampak terbalik dari yang seharusnya. Dan kebetulan pas 90 derajat horizontal lagi!
Uhuk uhuk…
Kebiasaan Author bersenang-senang di atas penderitaan tokoh pria dalam cerita kambuh, nih. Padahal kita harus bersimpati pada Ichigo yang malang nian ini, loh.
Sudah berbaik hati ingin melindungi gadis yang disukai—meski minta bayaran yang agak-agak memancing di air keruh—jangankan ciuman, ucapan terima kasih juga tak dapat, malah dihadiahi satu cap tangan lengkap dengan set jari-jarinya.
Yang tabah, yah, Ichigo.
Euh… tapi tokoh utama pria kita satu ini masih meneruskan sesi senyum-senyum kasmarannya. Seperti petuah mengatakan, cinta itu buta. Begitu pula dengan yang dialami Ichigo. Bekas tamparan dianggap seperti kecupan di pipi. Diraba sambil sesekali cekikikan macam kuntil anak di dekat kuburan. Betul-betul bikin merinding seluruh penghuni kelas 2-I dan Author sendiri.
Entah takdir apa yang harus digelutinya, Rukia sendiri juga tak paham. Sejak pindah ke sekolah ini, ada saja kejadian tak terduga yang menimpanya. Mulai dari gosip dia merayu seorang idola yang diidamkan para siswi di SMU Karakura hingga akhirnya dia malah mengalami penindasan. Sekalinya seseorang menawarkan bantuan, ternyata…
Wajah Rukia memerah jika mengingat perkataan pria berambut jeruk dalam ingatannya. Dasar senpai mesum! Maki gadis itu dalam hati. Bisa-bisanya dia meminta bayaran… bayaran berupa ciuman!
Rukia bahkan belum pernah merasakan ciuman pertama! Berani betul pemuda kurang ajar itu menuntut hal tak beradab tersebut!
Dengan dongkol, murid baru ini berjalan melewati lorong menuju ruang kesehatan. Karena terlalu memikirkan hal yang bukan-bukan, Rukia sampai tidak memperhatikan langkahnya dan kaki kepeleset pun tidak dapat dihindarkan.
Saat ini, salah keseleonya pun dia limpahkan pada pemilik marga Kurosaki tersebut. Menyumpah supaya murid kelas dua itu dapat ganjaran 100 kali lipat lebih menggenaskan darinya.
"Permisi!" panggil Rukia sembari menggeser pintu ruangan yang dikawal guru juru rawat sekolah.
"Loh, Kuchiki-san? Ada apa lagi?" tanya Unohana-sensei yang baik hati.
Betul. Bukan kali ini saja korban kejahilan anak-anak perempuan satu SMU itu mampir ke tempat penuh bau antiseptik tersebut. Setelah setengah hari pertamanya dilewatkan dengan berbaring di ruangan sang guru kesehatan dan berkenalan dengan Unohana Retsu, Rukia menjadi langganan tetap ruangan ini untuk meminta obat luka atau sekedar bersembunyi dari kejaran siswi-siswi kurang kerjaan itu.
"Ehehe… Unohana-sensei. Kakiku keseleo…" ungkapnya jujur sambil cengir-cengir malu.
"Wah… apa karena kejadian kemarin, Kuchiki-san?" selidik wanita berkepang itu dengan nada menggoda. Tangannya yang hangat mengantar murid bertinggi badan di bawah rata-rata itu untuk duduk di atas salah satu ranjang yang tersedia.
Kontan pipi Rukia merona. "Ke-kejadian kemarin a-apa, Unohana-sensei?" balik si gadis bertanya.
Pemilik mata teduh itu tertawa rendah, geli menangkap gelagat yang jelas-jelas mencurigakan dari remaja mungil di depannya. Seraya memeriksa kaki Rukia untuk mengecek kerusakan yang mungkin akan fatal, wanita yang mengenakan jas putih tersebut menjawab, "Kemarin hujan, kan? Sensei sempat melihat kau dan Kurosaki-kun pulang berduaan saja. Apalagi kau sampai digendong. Rupanya kalian memang akrab, yah."
"A-a-apanya yang akrab!? I-itu karena hujan! La-lalu, lalu—"
Belum selesai ceracauan Rukia, Retsu kembali bernostalgia. "Iya, ya. Waktu pertama kali bertemu Kuchiki-san juga, Kurosaki-kun sudah menungguimu yang pingsan."
"E-eh? P-pe-pertama kali?" gagap gadis berambut bob itu karena tidak nyambung dengan arah pembicaraan gurunya tersebut.
"Iya," ujar sensei bermahkota sutra ini sambil tersenyum puas dengan hasil pemeriksaannya. "Kakimu hanya terkilir. Tidak akan apa-apa. Asal selama seminggu jangan memberi beban berlebih pada kaki kananmu, ya."
"E-eh. Baik, Unohana-sensei."
Selang waktu beberapa menit sepanjang penjaga ruang kesehatan tersebut membalut pergelangan kaki mungil Rukia. Meski awalnya ragu, gadis cebol itu memberanikan diri untuk bertanya mengenai hal yang mengganggu benaknya sedari tadi.
"Eng… soal pertama kali yang sensei katakan tadi… itu… maksudnya apa, Unohana-sensei?"
Wanita berumur kepala tiga itu mendongkak dari pekerjaannya dan balas memandang Rukia dengan mata melebar.
"Kau tidak tahu, Kuchiki-san?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
Retsu menghembuskan nafas perlahan. Dikiranya Kurosaki dan Kuchiki sudah akrab sejak hari pertama gadis ini bersekolah. Tak disangka…
"Waktu hari pertama kau pindah kemari dan pingsan sampai kau harus dibawa ke sini, kau ingat?"
Rukia mengangguk. Mana mungkin dia lupa. Ketika membuka mata, dirinya sudah menjadi pasien dadakan di unit kesehatan sekolah. Di hari pertamanya pindah sekolah!
"Saat itu, sensei ada urusan di luar dan begitu kembali ke ruang kesehatan, sudah ada Kurosaki-kun yang duduk di dekatmu yang berbaring di sana," jelas Retsu sembari mendelikkan matanya pada salah satu ranjang paling pojok yang pernah didiami Rukia. "Sensei kira… kalian sudah akrab sejak dulu. Kalau tidak, untuk apa dia menungguimu selama itu. Malahan…"
Perkataan sang sensei yang mengantung memancing rasa ingin tahu Rukia lebih dalam. Dengan gaya bak detektif, siswi kelas satu itu mendekat dan mengulang, "Malahan apa, Unohana-sensei?"
Wanita yang lebih tua tersebut menatap Rukia penuh arti. Seolah ada rahasia besar yang diketahui semua orang di dunia kecuali dirinya. Dan itu membuat si gadis makin penasaran.
"Malahan sensei kira kalian punya hubungan khusus, lho," bisik Retsu bak Ibu-Ibu yang suka bergosip.
"EHH! Tidak! Tidak! Kami tidak punya hubungan apa-apa, kok! Sungguh! Beneran! Suer, deh! Berani disamber petir!" tolak Rukia mati-matian.
Pemilik marga Unohana yang bijak itu pun cukup pintar untuk tidak menyinggung kecurigaannya tentang kejadian itu, di mana pria berambut orange tersebut terlihat ingin mengecup seorang putri tidur di ruangan kerjanya.
"Kalau begitu… apa mungkin Kurosaki-kun punya rasa padamu?" ucap Retsu membagi pikirannya.
Bel pulang sekolah berdentang nyaring memanggil gegap gempita para murid SMU Karakura. Selepas menuntut ilmu di lembaga pendidikan, remaja-remaja ini pastinya juga ingin menghabiskan waktu untuk bermain, jalan-jalan dan bersantai. Meski ada pula yang harus menyisihkan waktunya demi kegiatan klub sesuai hobi masing-masing.
Kurosaki Ichigo, misalnya. Siswa kelas dua tersebut melenggang pergi dari kelas bukan menuju ke ruang klub sepak bola melainkan ke lorong yang dihuni pelajar kelas satu. Apalagi kalau bukan mencari dambaan hatinya, seorang gadis dengan tinggi 144 cm. Cap merah di wajahnya tak menghalangi niat Ichigo untuk tetap melindungi sang gebetan. Selain itu, meski ditampar… tetap saja berarti pipi tirusnya pernah disentuh oleh Rukia. Wuih… serasa melayang, deh. Perasaan senang tersebut mengalahkan segalanya.
Betul-betul sudah gila karena cinta.
Lain pula dengan si target yang diincar idola sekolah ini.
Belum puas Rukia bersunggut-sunggut ria karena kejadian tempo hari, sekarang batinnya tidak tenang karena hasil analisis yang dikemukakan Unohana-sensei membuatnya pusing tujuh keliling.
Senpai jeruk mesum itu menyukainya?
'Masa, sih?!' jerit Rukia dalam inner world-nya.
"Hahh…" desah siswi pindahan tersebut galau. Dipikir terus juga tidak ada habisnya. Otaknya yang pas-pasan di bidang matematika tidak dapat menyetujui pendapat dari wanita cantik nan lembut itu. Jadi… kenapa pria itu sempat meminta… ciuman?
Pipi bulatnya merona jikalau mengingat kembali bayaran yang dituntut oleh sang kakak kelas. Puh! Tidak dilindungi juga tidak apa-apa, kok! Kuchiki Rukia tidak akan takluk hanya karena gerombolan cewek kegatelan ga jelas!
"Kuchiki! Kau harus ikut kami! Sekarang!"
Baru disebutkan, kawanan kurang kerjaan ini langsung muncul. Panjang umur…
Rukia berhenti melangkah dan memutar bola matanya sebelum akhirnya tertumbuk pada trio ganjen kwek-kwek lengkap dengan dandanan menor mereka.
"Malas," jawab korban penindasan tersebut. Nada bicaranya tak gentar sekali pun menghadapi tiga orang yang lebih tinggi darinya.
Murid kelas satu lainnya terang-terangan menonton kejadian menarik di koridor mereka tanpa menyadari kehadiran seorang pria bersurai mencolok.
"Kau! Berani melawan rupanya?! Sudah kuperingatkan, jangan mendekati idola sekolah kami! Dasar gadis tak tahu diri!" pekik salah seorang perempuan berkepang dua.
"Betul! Sepertinya kau tidak mengerti juga. Jadi jangan salahkan kami kalau kami bertindak kasar!" dukung siswi berambut hitam pendek yang lain.
Nampaknya kedua belia ini lupa diri karena emosi. Meledak di depan kelas bukanlah jalan terbaik untuk mencapai popularitas. Namun menghadapi seorang keras kepala seperti Kuchiki memang menguji batas kesabaran mereka.
"Coba katakan padaku, sejak kapan kalian tidak pernah berbuat yang aneh-aneh di sekelilingku? Sepertinya malah kalian yang tidak mengerti, ya. Aku tidak ingat pernah mencoba mendekati idola sekolah kalian yang oh-so-wow itu. Jadi sebaiknya hentikan saja ulah kalian itu," cerca sang murid pindahan dengan tingkat pe-de selangit.
"APA?!"
"Yah… kalian bisa berhenti menggangguku mulai dari seka—" seketika lidah Rukia kelu. Pemandangan yang tersaji di depannya otomatis mematikan kemampuan berpikirnya. Dia mungkin tidak sadar bagaimana matanya membulat hingga sebesar bola, rahangnya akan terjatuh ke tanah jika tidak menempel dengan pipi—untung ga ada lalar masuk ke mulutnya—atau bila otaknya kembali memutar ucapan Unohana-sensei berulang kali.
Kalau begitu… apa mungkin Kurosaki-kun punya rasa padamu?
Di sana. Tepat di belakang tiga pelaku yang suka menggencetnya. Berdiri seorang pemuda berambut nyentrik sewarna langit senja dengan mata coklat bersinar tajam. Tingginya menjulang melewati semua barikade murid yang berdiri di depannya.
'Senpai jeruk mesum?!' teriak benak Rukia.
Kalau begitu… apa mungkin Kurosaki-kun punya rasa padamu?
"Rasakan ini!"
Rupanya saat benak Rukia tengah berkecamuk dengan berbagai hal sekaligus, hanya lewat beberapa detik di rotasi bumi. Sehingga salah satu wanita yang menjadi lawan berlaganya di lorong sekolah ternyata telah melayangkan sebelah telapaknya menuju muka sang calon korban, jika saja tidak dicegah oleh kakak kelas bertubuh jangkung yang sedari tadi mencuri perhatian Rukia.
"A-ah…"
Berkat kejadian tersebut, seluruh perhatian para murid tercuri oleh kehadiran tamu dadakan satu ini. Termasuk trio ganjen menoran yang segera nampak ketakutan begitu melihat raut bengis menghiasi wajah yang biasanya berekspresi dingin dan cuek ala Kurosaki Ichigo.
Kalau begitu… apa mungkin Kurosaki-kun punya rasa padamu?
Ingin rasanya Rukia memerintah otaknya supaya berhenti memutar rekaman memori yang berkali-kali menyebutkan pernyataan—pertanyaan?—dari si guru ruang kesehatan. Kalimat itu terus berdendang di kepalanya, sampai-sampai gadis itu berpikir lebih baik dia mencoba terapi hilang ingatan. Akan tetapi kehadiran sang subjek mengalihkan pikirannya secara total. Yang bisa dilakukannya kini hanya cengo, bengong dan yah… membatu.
"Siapa di antara kalian yang berani mengganggu gadis ini…" geram Ichigo dengan nada menusuk. "Hadapi aku dulu," kecam anggota klub sepak bola itu mengakhiri.
"Ku-Kurosaki-senpai! Kami cuma—"
Wanita-wanita penggemarnya tersebut berniat meluncurkan pembelaan, namun hanya dengan satu tatapan mengancam dari sang pemuda, mereka mengunci bibir mereka rapat-rapat.
Sejurus kemudian, Ichigo menarik lengan gadis yang masih termangu menyaksikan peristiwa yang terjadi di hadapannya. Meski kerja otaknya melambat, untung kakinya masih dapat bergerak mengikuti langkah senpai tampan tersebut.
Kalau begitu… apa mungkin Kurosaki-kun punya rasa padamu?
'Apa jangan-jangan perkiraan Unohana-sensei benar?' hati Rukia mulai membisiki kemungkinan yang tidak sepenuhnya mustahil itu. Kontan pikiran ini menciptakan ruam pink pada pipi si remaja mungil tersebut. Belum lagi organ di dadanya bertalu riang gembira tanpa bisa dikontrol si gadis.
Hening.
Dua anak manusia itu sama-sama membisu. Yang terdengar hanya gemerisik daun karena tertiup angin. Kehijauan taman belakang sekolah seolah tak sanggup menenangkan sanubari mereka yang porak poranda. Sesekali salah satunya melirik ketika yang lain tidak melihat. Kalau pun mata mereka tak sengaja bersirobok, keduanya langsung membuang pandangan sambil menahan semburat merah di wajah.
Sampai saat ini Rukia masih agak tidak terima dengan reaksi anehnya sendiri. 'Dia ini 'kan si senpai jeruk mesum! Kenapa aku jadi begini?!' batinnya dongkol.
Padahal kalau boleh jujur, gadis ini berpendapat bahwa pemuda yang membelakanginya tersebut cukup tampan dan keren. Sayang kejadian-kejadian yang Rukia lalui tidak membuatnya antusias menyambut perasaannya yang mendadak tersebut. Apalagi soal bayaran yang diminta oleh kakak kelasnya itu. Betul-betul membuat siswi imut ini benci setengah mati.
"A-a-anu…"
Ichigo membuka suara terlebih dahulu seraya menggaruk kepala orangenya yang tidak gatal namun kembali diam karena tak tahu harus mengatakan apa. Meski enggan mempertemukan violetnya dengan hazel tajam sang kakak kelas, Rukia tidak dapat menahan gejolak di nadinya yang menggila saat mendengar suara bariton khas lelaki tersebut. Apalagi saat pandangannya menangkap warna pink yang manis di wajah rupawan milik si pemuda.
Jika gumpalan yang mendadak muncul di kerongkongannya bukan sesuatu yang ajaib, mungkin gadis itu harus mengakui kalau ucapan Unohana-sensei mulai merongrong batinnya. Bahkan dia mulai berpikir, jangan-jangan senpai ini meminta ciuman karena naksir dirinya.
Kalau betul seperti itu… mungkin Rukia tidak begitu keberatan.
Mungkin, yah…
Baru MUNGKIN, lho!
ARGHH! Pikiran apa yang masuk ke otaknya ini?!
Stres, Rukia mengacak mahkota hitamnya kuat-kuat.
"E-eh? Kau kenapa?" tanya senpai yang pernah menolongnya dua kali itu. Tiga kali jika kejadian Rukia dibawa ke ruang kesehatan dihitung, meskipun sebetulnya Ichigo juga yang salah pada awalnya.
"Tidak apa-apa!" hardik remaja pendek ini cepat. Membuat Ichigo kembali merasa kagok menghadapi gadis mungil yang ingin dijadikannya pacar tersebut.
Apalagi iris ungu keabuan cantik itu menatap ke arahnya sambil menyala terang seperti akan mengeluarkan sinar laser. Andai benar bola mata besar tersebut dapat mengeluarkan sinar laser, mungkin Ichigo sudah henshin jadi jeruk hangus.
Tapi beda lagi dengan jantungnya yang sekonyong-konyong sudah akrobatik gila-gilaan di dadanya. Dasar orang jatuh cinta. Ditatap bengis begitu juga bisa membuatnya terpesona.
"Kau… manis sekali…" kata Ichigo menyuarakan isi hatinya tanpa sadar.
Yang dipuji langsung cengo. Lalu wajah Rukia memerah seperti cherry. Silinder matanya mulai berair karena meski memaksa, pandangan menusuknya tidak bisa dipertahankan. Dengan harga diri yang masih tersisa, murid kelas satu itu dengan sok tegar bertanya balik, "Kenapa bilang aku manis segala?! Kau suka padaku, hah?!"
"Tidak."
Jawaban singkat itu seketika membuat Rukia ingin mengamuk.
"Aku jatuh cinta padamu. Saat pertama kali melihatmu… aku langsung jatuh cinta padamu," ungkap Ichigo jujur. Nada bicaranya sama sekali tidak tersirat kebohongan atau tipu daya. Terlebih sinar matanya begitu menghanyutkan, penuh ketulusan, menyeret kesadaran Rukia hingga ke dasar hati pria yang memujanya ini.
Ditembak pertama kalinya dalam seumur hidup itu…
BETUL-BETUL MEMALUKAN!
Saat ini, siswi mungil itu ingin sekali menggali sebuah lubang, masuk ke dalamnya dan tidak akan keluar dari sana seumur hidupnya.
Itu kalau dia memang punya kemampuan menggali super atau sekedar nyali untuk betul-betul melaksanakan niatnya tersebut.
Nyatanya Rukia terdiam. Membiarkan wajahnya memerah terang seperti lampu rambu lalu lintas serta mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Lalu seperti virus yang menular, gejala penyakit cinta tersebut terjadi juga pada Ichigo yang wajah meronanya menciptakan kontras yang tidak serasi dengan rambut orangenya. Meski dia mati-matian mempertahankan baku hantam antara hazelnya dengan violet milik sang gadis.
Entah berapa lama mereka saling memandang seperti itu. Keduanya tak kuasa berpaling, walau hanya sedetik. Yang pria berusaha mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara utuh hanya dari bola matanya, karena kata-kata saja tidak akan cukup. Tidak akan pernah cukup. Sedang si wanita terpaku. Bukan kah indah sekali sinar mata musim gugur itu kala menatapnya? Batin Rukia berbisik manja. Seolah kesadarannya sendiri telah memutuskan untuk menerima perasaan Ichigo tanpa ba-bi-bu lainnya lagi.
Dan gadis itu merutuk alam bawah sadarnya yang suka seenak teuing ini.
Merasa jengah dengan kebisuan yang tak kunjung selesai, Rukia berdeham. Membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Lalu suara 'ehem' berikutnya menyusul. Soalnya cuma satu kali ternyata ga mempan.
Hal ini sukses mengembalikan Ichigo ke alam nyata. Lalu dia membuang muka. Tak tahan malunya karena telah menyuarakan perasaan cintanya yang sempat terpendam. "Ehm… ya, kau sudah aman di sini," ucap Ichigo merasa konyol sendiri. Bicara apa dia ini?!
Oke. Gara-gara itu pikiran Rukia memutar suatu memori yang belum lama.
Dia sudah aman sekarang. Dan tadi…
Pemuda ini melindunginya. Iya, kan?
"Pokoknya. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan menerima kata 'tidak'."
"Hum… tapi. Ada bayarannya…."
"Bayarannya… Aku minta ciuman darimu!"
Ups! Nah, loh. Jadi teringat kejadian tempo hari.
Kembali pipi Rukia terbakar, dan kali ini dengan intensitas yang lebih panas. Yah, Rukia tidak minta dilindungi, sih. Tapi juga tidak menolak, kan? Seorang Kuchiki tak akan menjilat ludahnya sendiri!
Terus bayarannya harus dilakukan, nih?
Glek!
Lirik. Senpai itu masih menoleh ke arah lain.
Eng… kalau di pipi… tidak masalah, kan? Waktu itu tidak disebutkan harus di… ehem, bibir. Kyaaa~ malunya!
Pikiran Rukia sudah panik macam-macam dan ribut sendiri. Bahkan lebih seru dari menonton orang joget gila. Masih bimbang-bingung-bisulan—eh salah!—gadis itu pelan-pelan mendekati Ichigo.
Yang didekati sadar dengan manuver siswi kelas satu tersebut. Agak canggung, tapi mencoba bersikap biasa. Alias, tetap buang muka.
Setelah jarak mereka tereliminasi dan Rukia berada tepat di sisi striker klub sepak bola itu, secepat kilat gadis itu menyongsorkan wajahnya.
Cup!
Dan dengan segera murid pindahan tersebut mundur dari posisinya barusan.
Telak.
Sebuah kecupan halus tepat di pipi yang terlukiskan cap lima jari, pemberian dari gadis yang sama. Muka Rukia sudah pink tingkat akut.
Tapi…
"Lho? Kok, bukan di bibir?" sewot Ichigo tanpa dosa. Habisnya sejak peristiwa di ruang kesehatan, pria jangkung tersebut sangat penasaran dengan rasa bibir sang dambaan hati. Sampai-sampai rasa malunya pun terlupakan.
Kurang dari sedetik setelah pertanyaan itu diluncurkan, urat kemarahan Rukia langsung berdenyut sadis. Dia salah rupanya jika mengharapkan kata-kata manis yang akan diungkapkan oleh pemujanya.
Kesal setengah mati, Rukia mengacungkan sebelah tangannya dan…
PLAAKK!
"DASAR SENPAI MESUM!"
Voidy's note: wah, kelar juga. Tenggat satu bulan jadi molor hampir dua bulan. Maap, soalnya saia sempat menyelesaikan utang-utang fic lainnya terutama di rated M. Lalu… susah sekali menemukan mood untuk melanjutkan cerita ini. Maklum, dapet gadget baru… waktuku jadi tersita oleh gamess~ (author ga tanggung jawab) jadi… MAAP YAAH~ bagi yang sudah menunggu sampai selama ini. Dan akhirnya saia menuntaskan utang fic semuanya! Yey~ nope. Masih ada utang fic lain. Pokoknya, saia betul-betul minta maaf karena menunda-nunda penulisan fic ini karena berbagai hal dan lainnya. Dan terima kasih banyak yang sudah menunggu dan membaca fic ini. Saatnya membalas review~
miisakura, lha? Kamu juga bikinin fic buat oda, kan? Yah, ga gitu juga kok. Cuma ide sederhana, kok. Kepikiran Ichiruki SMU yang rated T itu ujung-ujungnya mesti ciuman doang. (ketahuan doyan ama lemon~)
Hepta Py, makasih pujiannya. Silakan ini lanjutannya~
Silver Andante, mau ikutan neror? Wah, jangan jadikan saia korban lagi, yah~ iya yah, ficnya berderet atas-bawah. Heheh~ ciumannya di pipi, ga papa kan? yah, ada bonusnya, kok~
Nyia, update molo, say~ ga bisa kilat saia, mah. Maap yah.
Can-can, updatenya sudah. Tapi ga bisa cepet. Maap yah.
Rizuki Aquafans, ah… iya, pas baca ulang saia juga ngerasa ada missword, kok. Ah… kurang teliti juga, nih. Maklum lah, semua author menghadapi penyakit typo yang sama. Ehem, saia ga bikin akun sendiri supaya saia ga terikat, sih. soalnya saia masih penganut orisinalitas. Fic, sih cuman selingan. Ah, tapi saia juga belom profesional, kok! Sumpah!
gui gui M.I.T, iya yah, emang kasihan. Ah, itu ditampar gimana? Eheheh~ emang mintanya di bibir. Sejak dari pertama bertemu udah kepengen cium bibir. Ah… molor hampir dua bulan nih, ehhehe… maap yah.
Owwie Owl, lha dikau ngeriview, gitu? Ah… lebih panjang kayaknya lebih panjang sih. heheh~ jangan neror terus kerjaannya, Oda. Lebih produktif sendiri, dong~ eheheh~ Maap yah lama updatenya.
Purple and Blue, ga bisa update kilat. Maap yah.
Shizuku Kamae, terima kasih pujiannya. Saia ga hebat banget kok. Kalo humor, yah… cara ngehumor saia emang gitu sih~ iya, emang typo sulit dienyahkan, sih. ini updatenya, maap sudah membuat situ menunggu lama.
Yuki Sasaki, ah… ga bisa update cepet, nih. Maap yah. Terima kasih sudah suka cerita ini.
ChapChappyChan, iyep. Karena saia ga punya akun, sih. iya, typo dan kawan-kawannya itu emang susah hilang. Maap yah. Saia agak bingung kenapa kamu pantang begitu. Nah, ini sudah update.
MizuRaiNa, eh… iya, sih. Ah, terima kasih pujiannya. Bener deh, anda bikin saia tersandung. Aw~ typo emang selalu ada. Ehehe~ ini sudah diupdate.
, betul! Dasar cowok~ ehm, ditampar dulu tuh ama Rukia. Tapi dikasih juga, sih. eheheh~ ini chapter terakhirnya.
nenk rukiakate, eh, ga papa, kok. Ini udah dilanjut.
curio cherry, wah… makasih pujiannya. Untuk pertanyaan ke Oda, dijawab ama dia sendiri, yah. Heheh~
Reiji Mitsurugi, eh… gebrak? Ah, terima kasih pujiannya. Ini sudah dilanjut.
MizunoHikari, sekarang udah diupdate. Eh, maap yah lama dan telat dari tenggat. Silahkan kalau mau memaki… *nunduk*
Wakamiya Hikaru, makasih pujiannya. Ini sudah dilanjut.
Ray Kousen7, judulnya ilham tiba-tiba padahal. Ehehe, salam senal deh Ray. Sama-sama karena situ juga ngereview fic buatan saia.
Omake : After all, He's a pervert.
Pagi hari di kediaman keluarga Kurosaki. Bunyi panci berperang dengan sodet dan sutil menjadi alarm pagi bagi penghuni rumah mungil nan sederhana tersebut.
"BANGUNG SEMUANYAA~!" teriak Rukia memanggil suami dan anak-anaknya yang masih terbuai di alam mimpi.
Betul sekali. Wanita manis ini telah menjadi nyonya Kurosaki dan Ibu bagi dua anak laki-laki yang sehat dan…
"KYAA~ OKKA-SAN! OHAYOU~~"
"OKKA-SAN! OKKA-SAN! HIRO MENGGANGGUKU!"
…sangat bersemangat. Kadar keceriaan mereka terbilang berlebih, namun Rukia tetap mencintai kedua anaknya sepenuh hati. Setiap pagi, sudah menjadi rutinitas wanita bersurai kelam itu untuk mempersiapkan Hiro dan Mamoru ke sekolah. Mulai dari memasak sarapan, menyiapkan bekal, menyuruh mandi hingga membantu mengganti baju.
Dan saat ibu rumah tangga ini disibukkan oleh kegiatan yang menguras tenaga tersebut, Ichigo, sang kepala keluarga juga harus bersiap ke kantor. Hanya saja, dia harus mengerjakan semuanya sendiri. Karena perhatian sang istri telah tersita sepenuhnya oleh keributan yang disebabkan oleh dua buah hatinya yang kelewat periang.
Setelah semuanya oke, tinggal mengantar Hiro dan Mamoru ke sekolah. Dan tugas itu adalah bagian sang ayah.
"Kalian berdua, masuk duluan ke mobil!" perintah singkat dari Ichigo langsung dituruti oleh anak-anaknya ketika Rukia permisi sebentar ke dapur untuk mengambil bekal suaminya yang tertinggal.
Saat wanita imut tersebut terpogoh-pogoh kembali ke pintu depan, hanya ada pria berambut jabrik itu. Seketika perasaannya jadi tidak enak.
"Ichigo… ini bekalmu," ujar Rukia sambil menyodorkan kotak bekalnya. Kakinya menolak untuk mendekat lebih jauh dan jarak pasangan suami istri tersebut terpaut tiga meter.
"Terima kasih, ya, sayangku~" goda Ichigo. Lalu…
Sret!
Dalam satu gerakan, ayah dua anak ini mencuri sebuah ciuman dari bibir wanitanya. Sambil terkekeh, dia berlari terbirit-birit keluar rumah sementara istrinya yang cantik itu memaki dengan suara menggelegar.
"DASAR JERUK MESUM!"
Omong-omong, Rukia… mukamu memerah, loh~
