.

.

I Love You, Wolf-kun!

Story original by : Revi-san

Naruto © Masashi Kishimoto senpai

.

.

Warning : AU, TYPO(S), OOC, DLDR dan lain-lain.

Note : Fic ini hanya untuk hiburan semata, saya tidak mengambil keuntungan apapun. Jika ada kesamaan alur maupun ide cerita 'hontouni Gomenasai'.

.

Happy Reading and Enjoy ! :)

.

"Sakuraaa..." sebuah teriakan keras dan melengking terdengar dari jarak beberapa meter. Sontak saja gadis bersurai sakura tersebut menoleh dan mendapati Ino sedang berlari kearahnya.

"Ada apa? Tak bisakah kau tak berteriak begitu?" tanya Sakura.

"Nyehehe.. gomen gomen.. eh? kau satu kelompok dengan si Uchiha itu?! Kau bermimpi apa sebelumnya?!" Serentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Ino yang nampak penasaran.

"Memangnya kenapa jika aku satu kelompok dengannya? apa sangkut pautnya dengan mimpiku?"

"Tentu saja ada! kau tak bisa meremehkan mimpimu Sakuraa.. itu termasuk pertanda apa yang akan terjadi."

Sakura memandangnya bosan. "Ayolah Inoo.. tak ada waktu untuk mempercayai mitos bodoh seperti itu. Lagi pula aku bukan nenek-nenek jaman dahulu yang bergantung dengan mitos-mitos yang tak jelas asal usulnya."

Sakura tetaplah Sakura. Seorang gadis yang tak percaya hal-hal yang berbau mistis ataupun mitos. Menurutnya itu hanyalah lelucon belaka untuk mengecoh anak-anak kecil pada jaman dahulu. Dan sekarang? jaman telah berbeda, pemikiran individunyapun juga harus berbeda. Orang dahulu terpaku oleh aturan-aturan yang tak masuk akal.

"Ah dasar kau pinky keras kepala! bagaimana jika selama kau berada di gunung Fuji ternyata kau mulai menyukainya?"tanya Ino penuh penekanan.

"Menyukainya? itu hal yang mustahil bagiku. Tak ada seorang laki-laki yang menurutku menarik. Kalau ada aku pasti akan langsung menikahinya!" perkataan Sakura cukup membuat Ino tersedak air liurnya sendiri.

"Ap-apa?! jangan bercanda! atau kau akan termakan omonganmu sendiri!"

"Hmm.. aku serius Ino.."

Ino terdiam melihat sahabatnya memang mengatakannya dengan raut wajah yang begitu serius. Gadis berambut pirang dengan poni panjang yang menutupi satu matanya itu tak percaya apa yang diucapkan sahabat pinknya.

"Aaaa.. sudahlah aku mau pulang." Sakura melangkah pergi.

"T-tunggu Sakura! aku ingin bertanya padamu.."

"Memangnya apa? jika kau bertanya yang berkaitan dengan mitos ataupun hantu aku tak akan menjawabnya." ujar Sakura.

"Bukan itu, apa kau benar-benar serius akan satu kelompok dengannya?" Sakura berbalik dan menatap Ino dengan tatapan meyakinkan.

.

xxxxxXXXxxxxxx

.

Keesokan harinya..

"Nah! semua perlengkapan sudah siap."

Sakura terlihat membawa sebuah tas berukuran lumayan besar dengan sebuah gulungan karpet kecil diatas tas tersebut. Ia memakai kaos putih polos, sebuah jaket yang ia ikatkan pada pinggulnya, celana jeans selutut serta ia memakai boots berwarna cokelat tua. Rambut sakuranya ia ikat keatas dan menyisakan beberapa helai poninya. Paras ayunya tampak alami tanpa memakai polesan make up. Bibir pinknya juga terlihat mengkilap karena sebuah lipgloss yang ia kenakan.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia bergegas menutup semua jendela maupun pintu apartemennya. Yah setidaknya untuk satu atau dua minggu kedepan ia takkan berada diapartemen kesayangannya tersebut. Sebelumnya ia berjanjian dengan Sasuke untuk bertemu di depan pintu gerbang kampus. Karena Sasuke tak mau menyerahkan nomor ponselnya atau memberitahukan dimana rumahnya kepada Sakura dengan alasan yang tak pasti.

Sakura melangkahkan kakinya menapaki jalan trotoar. Ia merasakan tasnya cukup berat karena membawa beberapa bahan makanan instan untuk persediaan saat berada di wilayah gunung Fuji. Dan tak lupa ia membawa sebuah tenda lipat berkapasitas dua orang. Hanya tenda itu yang ia punya, ia membelinya karena dulu Ino memaksanya untuk pergi berkemah bersamanya. Ia berharap agar kegiatannya bisa lancar dan tanpa ada kendala apapun.

Oh ya?

Apa Sasuke sudah menunggunya?

Mungkin saja.

Sebenarnya Sakura tak berkeberatan jika satu kelompok dengan Sasuke. Laki-laki pendiam dan misterius. Namun setelah kemarin ia berbincang-bincang dengan Sasuke- lebih tepatnya ia yang berceloteh dan Sasuke hanya menjawab singkat. Dibandingkan dengan Naruto, Sasuke lebih mendingan. Ia tak membayangkan bagaimana jika satu kelompok dengan si kuning berisik tersebut. Alih-alih mengerjakan tugas, pastinya si kuning itu akan terus menggodanya mati-matian atau hanya membuatnya repot saja. Tak pernah ada kesan aura keseriusan dari pemuda satu itu.

Sakura menghela nafasnya.

Apa yang harus ia lakukan pertama kali saat telah sampai disana?

Sasuke adalah tipe laki-laku kaku. Pastinya nanti ia akan lebih banyak diam. Walaupun begitu, Sasuke sangatlah rajin menyelesaikan tugas kampusnya. Tidak pernah ada kata menunda atau apapun. Sakura begitu penasaran dengan sosok Sasuke. Wajah yang lumayan tampan dipadu dengan rambut dark blue yang membingkai wajahnya. Pemuda itu mempunyai iris mata yang hitam. Cocoklah dengan kepribadiannya.

Saking penasarannya Sakura mencari informasi dari sebuah buku biografi tentang mahasiswa kampusnya. Mungkin di dalam buku tersebut ada sedikit informasi yang bisa ia dapat. Namun setelah mencari dan mencari, ia tak menemukan sedikitpun informasi tentang Sasuke. Yang tertera pada biografinya hanyalah tanggal dan bulan lahirnya saja. Selebihnya tidak tercantum atau memang sengaja Sasuke tak mengisi kolom saat pendaftaran dahulu.

Entahlah.

Rasa penasaran Sakura masih saja. Atau ia tanyakan langsung saja pada Sasuke? mengingat mereka berdua akan berada di gunung Fuji untuk melakukan riset disana. Tidak masalahkan hanya menanyakan ia berasal darimana dan beberapa pertanyaan lainnya.

Sebentar lagi Gadis pink tersebut sampai pada area kampusnya. Dari kejauhan ia bisa melihat seseorang berdiri bersandar pada tembok di samping gerbang. Sakura bisa menebak siapa yang bersandar disana. Ya itu Sasuke. Namun yang membuat Sakura heran adalah pakaian dan barang bawaannya tidak sefantastis apa yang ia bawa. Sasuke hanya mengenakan sebuah kaos panjang yang terlihat longgar dengan celana jeans hitam panjang dan juga sebuah tas serempangan berukuran sedang yang mungkin hanya bisa berisi pakaian saja.

Sakura mempercepat langkahnya menghampiri Sasuke.

"Sasuke-kun?"

Sang empu nama yang merasa dipanggil kemudian menatap Sakura. Kedua tangannya terlipat di depan dada bidangnya.

"Gomenasai.. Sasuke-kun.. kau pasti sudah menungguku lama." ujar Sakura sembari membungkukkan badannya.

"Hn."

"Baiklah.. kita akan berangkat sekarang juga. Mohon bantuannya Sasuke-kun."

Tanpa menjawab Sakura, Sasuke melangkahkan kakinya dan pergi. Sakura yang sadar pemuda itu sudah mendahuluinya kemudian ia sedikit berlari mengikuti langkah Sasuke. Ia menatap punggung pemuda itu. Benar-benar pemuda yang dingin dan cuek. Sakura tak habis pikir, sebenarnya apa yang membuatnya bersikap seperti itu.

"Sasuke-kun?" panggil Sakura.

"Hn?"

"Sebelum ke gunung Fuji ada beberapa danau yang harus kita referensikan.. Jadi danau mana dulu yang harus kita kunjungi?" tanya Sakura sembari mengeluarkan sebuah kertas dari kantung celananya. Jari lentiknya membuka kertas tersebut yang ternyata adalah sebuah peta. Ia nampak bingung dengan peta tersebut.

"Danau Matsuko." ujar Sasuke datar.

"Matsuko?"

"Ya, kita mulai dari danau yang paling barat." sahut Sasuke.

"Bukannya itu danau yang paling jauh dan susah dijangkau menggunakan transportasi. Bukankah lebih mudah kalau tujuan pertama kita adalah danau Kawaguchi?" Protes Sakura.

Ya danau Kawaguchi merupakan danau yang sangat mudah untuk dijangkau dengan transportasi publik, seperti bus, dan juga kereta. Disana merupakan danau yang paling ramai dikunjungi dan paling populer. Lengkap dengan taman hiburan, stand makanan dan juga penginapan. Dibandingkan dengan Danau Kawaguchi, Danau Matsuko kurang diminati oleh para turis karena letaknya yang lebih jauh dan akses menuju kesananya pun lebih sulit. Namun Danau Matsuko adalah tempat strategis untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji.

"Kau ini... menyebalkan." seketika Sasuke menatap Sakura tajam. Dan Sakura hanya terdiam melihat reaksi dari Sasuke.

"Baiklah.. baiklah.. setidaknya bekalku cukup untuk seminggu kedepan." ujar Sakura pasrah.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menggunakan sebuah bus yang akan mengantar mereka ke kota yang jaraknya masih lumayan jauh dari lokasi danau. Mau tidak mau Sakura menuruti keputusan Sasuke. Perjalanan mereka di suguhi oleh pemandangan yang menakjubkan, seperti hamparan bukit dan perkotaan. Deretan pepohonan yang menambah kesan eksotisme pemandangan disekitar.

Sakura duduk di dekat jendela sehingga ia bisa melihat pemandangan diluar dengan leluasa. Ia meletakkan tasnya dan sedikit memijit bahunya yang terasa sakit. Yah maklum saja barang bawaan yang ia bawa cukup berat. Pastinya barang yang menurutnya sangat penting. Sasuke yang duduk disampingnya hanya melirik Sakura dengan tatapan bosan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya berlawanan arah.

"Ne Sasuke-kun.." tidak ada jawaban.

Sakura melirik Sasuke.

"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tidak ada jawaban lagi dari sang empunya.

Sakura merasa Sasuke sedang tidak ingin bicara. "Emm.. gomenne, mungkin kau sedang tak ingin bicara." ujar Sakura lagi.

Kemudian pandangannya beralih menatap pemandangan diluar jendela.

Ternyata sedikit lebih susah untuk berbicara denganmu..

.

xxxxxXXXxxxxx

.

Setelah berjam-jam mereka menghabiskan waktu perjalanan, mereka akhirnya sampai pada pinggiran kota. Dimana kota tersebut adalah awalan para pelancong untuk menuju Danau Matsuko. Sakura menenteng tasnya, raut wajahnya terlihat biasa. Ini pertama kalinya ia menuju danau tersebut dengan berjalan kaki. Terakhir kalinya ia melancong ketika bersama Ino menuju Danau Yamanaka yang terletak di sisi tenggara Danau Kawaguchi.

"Kau serius berjalan kaki menuju ke Danau itu Sasuke-kun?" tanya Sakura.

Sasuke melirik Sakura dengan pandangan tajamnya. "Jika kau menyerah dan merasa tak mampu, masih ada kesempatan untuk kembali ke rumahmu dan tidur manis." ujar Sasuke ketus.

Sakura mendengus kesal. Didalam hatinya ia tak ada habisnya mengerutuki Sasuke yang bersikap dingin dan acuh. Tak bisakah ia sedikit ramah pada seorang wanita? namun sayangnya Sasuke bukanlah sosok orang yang ia pikirkan sebelumnya. Sungguh meleset dari dugaan. Ia kira sifat acuh dan dingin Sasuke hanya sebagai chasing saja. Tapi ternyata mendarah daging!

"Hey! tunggu! jangan meninggalkanku!" teriak Sakura yang sadar jika dirinya telah ditinggal oleh Sasuke.

Dalam perjalanan, mereka lebih banyak diam tanpa ada salah satu diantara mereka yang membuka pembicaraan. Sakura tak mau jika ia memulai pembicaraan hanya dibalas dengan nada ketus, diacuhkan atau sekedar 'Hn' saja. Menurutnya percuma jika ia berbicara. Jadi lebih baik saling diam dan tak berkata sepatah katapun. Sakura melihat sekelilingnya dengan pepohonan yang menjulang sangat tinggi. Kira-kira umur pohon tersebut puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun. Lumut hijau dan rimbunnya pepohonan mengeluarkan aura teduh dan mencekam. Seketika bulu kuduknya berdiri.

"Hiiiiii.."

Ia membekap tubuhnya sendiri.

"Kau gadis penakut." ujar Sasuke datar.

Sakura yang tak sengaja mendengarnya menoleh ke arah Sasuke dan menatapnya tajam. "Apa maksudmu? wajar saja jika berada di hutan seperti ini dan tak ada penghuni satupun!" cerca Sakura. Sasuke hanya membalas menatapnya datar seakan-akan itu bukan masalah baginya.

"Hey kau tuan! apa kau mendengarku?! jangan berpura-pura kau tak mendengarkanku!" Sakura meneriaki Sasuke dengan suara melengkingnya.

"Tch! berisik sekali!"

Sasuke melanjutkan perjalanannya tanpa menghiraukan Sakura yang kesal. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celanannya. Manik hitamnya memandang datar jalanan setapak yang sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh pepohonan. Suara serangga kecil turut meramaikan alunan syair angin yang berhembus menggoyangkan pepohonan.

Sakura masih dengan wajah terlipat. Ia begitu kesal dengan sosok pemuda di depannya. Alih-alih menenangkannya malah membuatnya semakin kesal. Tangannya mengepal menahan dirinya agar tidak melayangkan sebuah tinju mematikan kepada pemuda di depannya itu. Sakura mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Berharap jika pikirannya bisa menjadi tenang. Ia merogoh ponsel dari dalam saku celananya.

Pukul 14.00 siang

Manik emeraldnya melirik kolom sinyal yang berada di pojok kanan atas layar ponselnya. Tak ada sinyal sedikitpun!

"Tch!"

Perutnya sedikit terasa lapar. Kakinya pun juga memintanya untuk beristirahat sejenak. Ia melihat sebuah batu besar yang berada di pinggir jalan dan kemudian mendudukkan tubuhnya. Tak lupa tasnya ia letakkan terlebih dahulu di sampingnya.

"Sasuke-kun.." panggil Sakura.

Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. "Aku lelah.. istirahat sebentar." pinta Sakura.

"Dasar lemah. Ini baru seperempat perjalanan." ujar Sasuke tanpa mengurangi suara datarnya.

Sakura memalingkan wajahnya berusaha untuk tidak mempedulikan perkataan Sasuke. Kedua tangannya memijit pelan betis kakinya yang terasa pegal akibat berjalan beberapa kilometer dari tempat keberangkatan mereka. Yah ia merasa sedikit lelah karena sudah tak terbiasa berjalan dalam jarak yang jauh. Mungkin saja jika ia masih mengikuti ekstra petualang kondisi fisiknya bisa lebih kuat dan siap untuk melakukan petualangannya.

Sakura mengambil sebuah roti dan botol yang berisi air minum. Lantas pandangannya tertuju pada sesosok pemuda yang duduk tak jauh dari posisinya. Ya Sasuke. Pemuda itu membuka sebuah botol air mineral dan meminumnya. Sakura menenggak ludahnya.

Mengapa hanya karena menenggak air dari dalam botol pemuda itu sangat-

-keren?

Wajah tampannya.

Bibir Seksinya.

Dan caranya meminum air tersebut tampak mempesona. Sakura baru menyadari bahwa Sasuke terlihat sangatlah tampan. Sekilas ia bisa melihat tubuh kekar yang terbalut oleh kaus berlengan panjang. Ah sejak kapan ia mempunyai tubuh idealis seper- Tunggu dulu! Apa yang sedang ia pikirkan?

Mengapa ia malah membayangkan hal yang berlebihan?!

Memang pesona Sasuke tampak menguar kemana-mana, namun yang membuat kebanyakan orang tak suka padanya adalah sifatnya yang dingin dan acuh. Serta tatapan tajam nam mengerikan yang terpancar dari manik hitamnya. Namun bukan malah kebencian ataupun yang lainnya dirasakan oleh Sakura, justru sikapnya yang seperti itu membuatnya semakin penasaran dengan sosok Uchiha Sasuke. Memang terdengar aneh, tapi seperti itulah pada kenyataannya.

Pandangan Sakura masih tertuju pada pemuda itu. Tiba-tiba saja Sasuke menolehkan kepalanya menatap Sakura. Sakura terkejut dan segera memalingkan wajahnya kearah yang lain. Bagaimana bisa ia memikirkan pemuda tersebut? dan lagi-lagi untuk kedua kalinya ia kepergok oleh Sasuke. Sakura mendesah pelan. Ia mengambil roti tersebut, membuka bungkus plastik tersebut dan mencomotnya. Ya itu persediaan yang ia bawa dan langsung bisa dimakan. Sakura kembali melirik kearah Sasuke yang nampak terdiam sambil mengamati pepohonan. Bukan. Bukan mengamati. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu. Entah apa.

Tapi.. apa dia tidak lapar?

Mengapa Sakura tak melihatnya memakan sesuatu dan hanya minum air putih saja?

"Ayo lanjutkan perjalanan." ujar Sasuke yang telah berdiri membelakanginya.

"Eh?" Sakura cepat-cepat menghabiskan roti tersebut. "Kenapa cepat sekali?! padahal belum ada lima menit kita beristirahat."

"Tak ada waktu untuk bertele-tele dan membuang-buang waktu."

Sakura mendengus. Betapa menyebalkannya pemuda itu. Jika nanti pemuda itu bertambah menyebalkan, ia takkan menahan tangannya untuk mendarat pada tubuh Sasuke.

Nyaahaha.. biarkan dia merasakan indahnya pukulan maut Sakura.

Setelah membereskan bawaannya, kemudian Sakura bergegas menyusul Sasuke yang sudah berada jauh dari posisinya semua. Yah mereka masih harus menempuh tiga perempat perjalanan lagi untuk sampai di danau yang mereka tuju. Tanpa mereka sadari sesosok berkaki empat yang kemudian menjelma menjadi seorang pria bertubuh kekar dengan semua bulu yang tumbuh di tubuhnya tengah memandangi punggung mereka dengan pandangan sangat tajam bak sebuah silet yang merobek-robek sebuah daging. Air liurnya menetes dari sela-sela gertakan gigi tajamnya. Kemudian ia menyeringai.

"Santapan yang sangat manis."

.

xxxxxXXXxxxxx

.

Ino sedang duduk bersandar pada kereta. Sepasang earphone bertengger pada kedua telinganya. Kelopak matanya terpejam menyembunyikan kedua manik matanya yang menawan.

"Hoey Ino! kau mendengarkanku tidak!" ujar seorang pemuda berambut cokelat dengan sepasang tato merah runcing berada pada kedua pipinya.

Sementara sang empunya tengah asik mendengarkan alunan lagu yang begitu menenangkan pikiran.

"Hey! Inooo!" pemuda tersebut merebut earphone dari telinganya.

"Kibaaa! apa yang kau lakukan!" protes Ino.

"Aku sibuk mengoceh dan kau tidak mendengarkanku malah asik menutupi telingamu!"

"Aku sedang bersantai! membosankan jika tidak melakukan apa-apa!"

"Bersantai?! jadi kau benar-benar tidak mendengarkan penjelasanku? oh ya ampun! sudah kuduga aku tak mau satu kelompok denganmu!"

"Siapa juga yang ingin satu kelompok denganmu?!"

Debatan demi debatan mewarnai perjalanan mereka. Ya Ino berpartner dengan Kiba, mereka mendapatkan tugas ke Tokyo Imperial Palace. Kedua orang tersebut memang tak pernah akur barang sedetik saja. Setiap menit jika mereka berdua disandingkan pasti yang akan terjadi adalah masalah kecil yang berujung keributan besar. Ahhh..

Akhirnya mereka berdua bisa tenang setelah suara lantang seorang petugas kereta melerai perdebatan mereka. Bukan hal mudah melerai mereka, harus dengan ekstra kekuatan dan suara yang cukup besar. Jika tidak begitu maka perdebatan mereka akan berlanjut dengan ekstrim. Seperti saat status awas berubah menjadi siaga.

Mereka berdua duduk bersebrangan dengan memalingkan kedua wajah berlawanan arah. Ino menatap pemandangan pedesaan serta bukit yang berjajar rapi membentuk sebuah keindahan alam.

"Sakura.. bagaimana perjalananmu dengan Uchiha itu? apakah menyenangkan?" gumamnya.

.

xxxxxXXXxxxxx

.

Sang Penerang kembali menuju ke peraduannya meninggalkan semburat-semburat scarlet yang begitu mempesona dan indah pada langit di ufuk barat. Beberapa burung beterbangan hendak kembali ke sarangnya setelah seharian beraktifitas. Suara kodok dan hewan malam mulai terdengar bersahut-sahutan. Sakura dan Sasuke masih berjalan menapaki setiap jengkal jalan setapak menuju danau. Sebentar lagi mereka sampai pada danau yang mereka maksud. Aura mencekam begitu menusuk di setiap sendi-sendi siapapun yang berada disana.

Sakura semakin ngeri ketika bulukuduknya terus meremang dan tak kunjung normal. Pikirannya dipenuhi dengan hal-hal aneh. Walaupun ia tak percaya dengan mitos ataupun hal mistis lainnya.

Bagaimana jika hewan buas seperti serigala, koyote ataupun harimau yang sedang mengintainya?

Bagaimana jika ada burung pemakan manusia yang hidup dan siap memangsanya?

Jujur saja ia tak mau jika pada koran yang terbit setiap hari menampakkan sebuah judul 'SEORANG GADIS CANTIK TEWAS MENGENASKAN DIMANGSA OLEH SEEKOR HEWAN BUAS PENUNGGU DANAU MATSUKO'

Membayangkan saja terasa mengerikan, bagaimana jika itu benar-benar terjadi?

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin menepis semua pikiran konyolnya. Namun pikiran tersebut seakan-akan melekat kuat pada otaknya.

Hari semakin gelap, hawa dingin terasa membelai kulit mulusnya. Ia mengambil jaket yang tertali pada pinggulnya dan memakai jaket tersebut. Kemudian ia menatap Sasuke yang berada didepannya dengan tatapan heran.

Apa ia tak kedinginan?

Sakura sedikit memiringkan kepalanya.

"Kita sudah sampai." ujar Sasuke.

Sakura sedikit terkejut. Di depannya ia bisa melihat hamparan air danau yang begitu tenang di kelilingi oleh bukit-bukit nan tinggi. Semak-semak yang berada di sepanjang daratan terlihat setinggi lutut. Di ufuk timur, sang purnama mulai menampakkan wujudnya yang kian bundar dan bersinar terang. Sakura dapat melihat sepanjang danau dan juga daratan di samping danau yang disinari oleh cahaya malam. Begitu menawan dan anggun. Siapapun yang melihat pemandangan itu pasti akan terpesona hingga membuat mata tak mengerjap untuk beberapa detik karena tak mau melewatkan momen tersebut.

"Indahnya.." gumam Sakura.

Sasuke berbalik. "Jika kau ingin mendirikan tenda sebaiknya kau membuatnya tidak jauh dari danau yang semak-semaknya tak terlalu tinggi." ujar Sasuke.

"Dan kau Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Jangan mengkhawatirkanku. Aku bisa tidur dimana saja." ujar Sasuke sembari berjalan menjauhi Sakura.

Sakura terpaku. Didalam hatinya ia tak mengerti dengan pemikiran pemuda dark blue tersebut. Cukup lama ia memandangi Sasuke yang berjalan ke area yang tak jauh dengan danau dan membersihkan rerumputan. Sakura melihat pemuda itu mengambil sebuah karpet untuk alas tidur dan meletakkannya diatas rerumputan yang telah ia bersihkan. Kemudian Pemuda itu merebahkan dirinya.

Sakura nerinisiatif untuk mendekati Sasuke dan membangun sebuah tenda di dekatnya. Langkahnya terdengar terseret-seret karena rerumputan yang sedikit mengganggu langkahnya. Setibanya di dekat Sasuke, ia melihat pemuda itu tengah berbaring dengan berbantal lipatan tangannya. Manik hitamnya menatap langit dengan hamparan bintang berkilau.

"Sasuke-kun.." panggil Sakura. Sementara Sasuke hanya meliriknya saja.

"Boleh aku mendirikan tenda di dekatmu?" tanyanya. Sebenarnya ia sedikit takut jika mendirikan tenda berada dalam jarak yang terlalu jauh dari Sasuke.

Sasuke memejamkan matanya.

"Hn."

Sakura tersenyum. Mendengar respon Sasuke yang begitu singkat membuatnya yakin kalau ia diperbolehkan mendirikan tenda di samping pemuda itu. Sakura menurunkan dan membuka tasnya. Ia mengambil sebuah benda dengan bungkus yang terbuat dari parasit. Ia membuka resleting benda tersebut dan mengeluarkan beberapa besi elastis dan juga lipatan tenda. Lantas dengan cekatan ia merangkai tenda tersebut.

Tak perlu waktu lama untuk mendirikan tenda. Ia hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk merangkainya. Dan kini berdirilah sebuah tenda yang cukup besar. Sakura mengambil sebuah handuk dan menyeka keringatnya yang bercucuran membasahi dahi hingga lehernya. Manik emeraldnya tak sengaja tertuju pada sesosok pemuda yang sedang memejamkan matanya.

Apakah dia tidak lapar?

Jika diingat-ingat, sejak berangkat pagi tadi Sakura tak melihat Sasuke memakan sesuatu. Apakah ia tak membawa bekal?

Semakin malam, hawa di daerah tersebut semakin dingin. Langit yang semula cerah ceria tiba-tiba saja tertutup oleh awan mendung. Beberapa kilatan petir nampak berkelap-kelip dengan asyiknya. Suara gemuruh pun terdengar keras pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Sakura menatap pemuda di sekitar tendanya yang sedang memejamkan matanya. Muncul rasa khawatir kepada pemuda itu. Ia bingung harus bagaimana. Ia hanya memiliki satu tenda saja. Jika Sasuke dibiarkan terkena air hujan pastinya di hari berikutnya ia akan kerepotan jika pemuda itu jatuh sakit. Dan disisi lain ia berpikir. Apakah harus berbagi tenda?

Ia sedang sibuk dengan pikirannya, mencari solusi yang terbaik. Namun solusi lainnya tak ia temukan. Tak mungkin jika ia membiarkan Sasuke mencari tempat berteduh seperti gua atau dibawah pohon. Itu terlalu berbahaya. Akhirnya dengan pemikiran yang sangat mantap ia melangkahkan kakinya mendekati dimana Sasuke terbaring.

"Sasuke-kun?"

Tak ada jawaban. Sang empunya masih memejamkan matanya. Sakura mendekati dimana Sasuke berbaring. Tangannya mencoba menggoyang-goyangkan badan Sasuke sembari memanggilnya.

"Sasuke-kun..."

"Hn."

"Sebentar lagi hujan.. masuklah kedalam tenda. Tidak baik jika kau membiarkan tubuhmu dibasahi oleh air hujan." ujar Sakura.

Sasuke diam saja.

"Ayolah.. aku tidak mau ada penolakan darimu. Jika esok kau sakit, aku yang akan kerepotan mengurusmu." Sakura menatap pemuda itu dengan tatapan memohon. Cukup sulit untuk meyakinkan seseorang seperti Sasuke. Jika bukan karena kesabaran Sakura yang berlebih dan rasa kepeduliannya demi lancarnya kegiatan mereka, pasti Sakura sudah menyerah sedari awal.

Akhirnya Sasuke bangkit dari posisi berbaringnya. Dengan wajah -terpaksa- ia menyanggupi permintaan Sakura. Entah Sakura harus merasa senang atau sebaliknya. Senang karena berhasil membujuk Sasuke dan was was karena ia satu tenda dengan seseorang yang baru ia kenal walaupun Sasuke adalah teman satu kampusnya.

Rintik hujan terdengar menimpa atap tenda. Semakin lama ritme jatuhnya air hujan tersebut semakin cepat. Hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

Disini.

Di dalam tenda.

Mereka berdua duduk saling berhadapan. Sakura mengambil sebuah cangkir plastik dari dalam tasnya. Ia memasukkan bubuk cokelat dan menuangkan air hangat dari dalam termos berkapasitas satu liter air yang sebelumnya ia bawa dari rumah. Ia mengaduk cokelat hangat tersebut dan memberikannya kepada Sasuke. Awalnya Sasuke menolak pemberian Sakura. Namun karena Sakura terus mendesak dengan alasan sebagai salam perkenalanlah, menghargai buatannyalah, atau yang lainnya akhirnya Sasuke menerimanya.

"Ne Sasuke-kun.. aku berharap kita bisa berteman baik." ujar Sakura sembari tersenyum. Ucapan Sakura hanya dibalas lirikan saja dan itu membuat Sakura cukup senang.

Suasana kembali hening. Sasuke tampak menyeruput cokelat hangat pada cangkir di tangannya.

"Sasuke-kun.. apa kau tidak lapar?" Sasuke tidak bergeming. Ia masih asik mnikmati cairan pekat yang berada dalam cangkirnya.

"Hn. Tidak."

Sakura semakin heran. Bagimana Sasuke tidak merasa kelaparan setelah seharian tidak makan?

Sakura mengambil sebuah roti yang masih terbungkus dan menyodorkannya pada Sasuke.

"Aku tidak lapar." ujarnya singkat.

"Aku akan meletakkannya disini, makanlah jika kau lapar." Sakura meletakkan roti tersebut tepat di depan Sasuke.

Selama hujan berlangsung, mereka tak banyak memperbincangkan sesuatu. Pastinya Sakura yang terus memulai pembicaraan dan terkadang dibalas dengan jawaban singkat ataupun sekedar 'Hn' saja. Namun anehnya Sakura tak lagi merasa kesal dengan jawaban Sasuke yang terlewat singkat. Ia masih terus melanjutkan pembicaraannya. Sementara Sasuke hanya mendengarkannya saja dan sesekali melirik Sakura dengan tatapan datarnya.

Semakin malam hujan tak kunjung reda. Hingga mereka berdua merasakan kantuk menyerang dan tubuh masing-masing yang meminta untuk segera diistirahatkan. Sasuke merebahkan dirinya membelakangi Sakura. Dan Sakura begitu sebaliknya. Tak lupa Sakura mengambil sebuah selimut yang ia bawa. Namun lagi-lagi pandangannya tertuju pada Sasuke yang meringkuk. Ia tak tega melihat Sasuke yang mungkin merasa kedinginan. Lantas tangannya meraih selimut yang hendak ia pakai dan menutupkan pada tubuh Sasuke.

Sakura tersenyum.

Ia mengambil jaket dan memakainya. Lalu ia berbaring membelakangi Sasuke.

"Oyasumi Sasuke-kun.." gumamnya.

Sakura memejamkan matanya dan bersiap untuk menyambut petualangan ke alam mimpinya.

Sementara Sasuke..

Kelopak matanya yang semula terpejam kembali terbuka. Entah karena apa. Tak disangka sebuah senyuman tipis terpahat jelas pada bibirnya. Ia tersenyum. Senyuman yang mempunyai arti tersembunyi. Kemudian ia memejamkan matanya kembali dan membiarkan dirinya terlelap.

.

To Be Continued

.

Naaahh! akhirnya selesai juga sesi kedua ini. Saya sempat galau menjabarkan tempat dan lokasinya, karena saya kurang ngerti lokasi tersebut. Saya minjem lokasi untuk setting tempatnya karena mungkin akan cocok dengan peran Sasuke. Nyehehe..

okee saya tidak akan banyak bercuap-cuap karena saya tidak mau membuat para pembaca jenuh dengan komentar saya XD

Obrolan author :

#Herawaty659-san : Senpai? aaaa.. saya author baru disini, dan juga saya hanya penulis dan pengarang amatirrr.. hehe masih banyak kekurangannya.. chapter 2 update! Arigatou XD

#Afisa UchirunoSS-san : Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

#FiaaATiasrizqi-san : Yap! saya mengusung tema Sasuke yang jadi Werewolf.. hehe mungkin akan seru. Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

#IndahP-san : Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

#GaemSJ-san : Hey juga ! salam kenal.. Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

#ikalutfi97-san : Arigatou Ika-san hehe.. saya juga suka yang beginian. Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

#dauddolmayan-san : Chapter 2 update! happy reading and Arigatou XD

.

Nah sekian dari saya. Apabila ada kesalahan kata atau penjabaran kalimat yang kurang ngeh di benak reader saya minta maaf, karrna saya hanyalah mnusia biasa. Yosh! terimakasih juga untuk yang sudah memfollow dan menfavorite. Karena tanpa kalian apa jadinya aku huhu.. oke sekali lagi saya ucapkan terimakasih bayak.

Minna-san! Yoroshiku onegaishimasu.. sertakan kritik dan saran kalian agar fic saya bisa lebih baik dan membuat para pembaca terhibur.

jaaa nee! See next chapter :D