Disclaimer: I don't own YuGiOh!, Titanic, Romeo and Juliet. Either Ice and Snow. But, Amelia own the new names of those characters. So,please don't steal it.
Genre : Romance,Angst,Drama AU
Main Idea/Story : Amelia Kai
Editor/Script writer: Hikari Rio
Penyesuaian Karakter: Tolong diingat ya!
Yami Yuugi as Athemaria Russel
Mai Kujaku as Lisa Russel
Mahaado as Arsell Russel
Bandit Key as Rod Russel
Seto Kaiba as Serion ???
Noah Kaiba as Sein Varon
Gozaburo Kaiba as Cornelius Varon
Malik Isthar as Merick Traint
Bakura as Tom Robert :)
Isono as Carl Lawston
Summary : Bahkan boneka keramik itupun memiliki sebuah kisah…Kisah yang begitu indah bagai dongeng...namun tidak pada akhir ceritanya.
A Candor of Bisque Tale
Chapter 1. Iris - Wisdom and Faith
Di suatu tempat di sudut kota Paris, dahulu tempat itu masih berupa hutan belantara. Begitu indah pemandangan yang berada di baliknya. Tumbuh-tumbuhan yang beragam dan sungai jernih yang mengalir ditengah hutan itu. Mempesona setiap mata yang memandang keagungan dari Sang Pencipta.
Hal ini merupakan godaaan yang memikat bagi dua orang bangsawan ternama di Paris. Mereka berasal dari keluarga Varon dan Russel. Keduanya akhirnya bekerja sama untuk membuka hutan tersebut. Dan tak lama kemudian, dibangunlah sebuah kota kecil nan cantik dengan mawar sebagai ciri khasnya, Fleur, The City of Flower.
Kota yang masih hijau, dengan jalan-jalan kecil berbatu koral, kolam-kolam teratai, pepohonan rimbun yang teduh dan taman bunga menghiasi kota kecil itu. Pemandangan yang begitu indah, mengundang para pelancong untuk menetap disana dan menjadi penduduknya. Dengan nuansa damai dan kebahagiaan meliputi penduduk yang hidup berdampingan dengan alam. Mereka senantiasa menjaga dan turut memajukan tempat tersebut.
Namun, tidak demikian dengan kedua keluarga yang mendirikan kota itu. Tak lama setelah kota kecil itu cukup terkenal, terjadilah perselisihan tentang kuasa tanah. Keluarga Varon merasa lebih berhak memiliki daerah yang lebih luas. Namun tentu saja Russel tidak mau menuruti keegoisan tersebut.
Konflik internal itupun berujung pada permusuhan antar keluarga. Pertumpahan darah tak dapat lagi dielakkan. Dan hal ini hanya bisa diakhiri dengan kekalahan dari salah satu pihak. Takdir menentukan keluarga Russel sebagai pihak pemenang.
Orang-orang yang berhubungan dengan keluarga Varon dan dianggap mengetahui konflik ini, ditahan di penjara keluarga Russel. Sampai mereka bersedia untuk tutup mulut. Jika ketahuan berbohong dan menolak untuk bekerja sama, mereka akan 'dihukum' tanpa ampun. Ini pun dilakukan demi kota kecil itu, dimana mereka tahu bahwa Varon tak segan-segan menggunakan cara otoriter demi harta dan harga dirinya.
Sedangkan keluarga Varon yang tertangkap, tak mau berdamai dengan Russel dan menghina pemerintah di depan umum. Maka dengan terpaksa mereka dihukum mati. Namun, tak ada yang tahu bahwa masih ada sebagian kecil keluarga Varon yang selamat dan mereka melarikan diri dari Prancis.
Setelah kejadian itu, seluruh kota menutup mulut dan mulai melupakannya. Ingatan menyakitkan itupun perlahan terhapus dengan meminjam kekuatan sang waktu….
-XXXXXXXXXXXXX-
5 tahun kemudian…
Kota Fleur dibawah pemerintahan keluarga Russel menjadi sebuah kota yang maju dengan pesat. Dengan keindahan yang tetap terjaga dan keramahan para penduduknya, serta pengelolaan ekonomi yang baik.Membuat perdagangan dan pariwisata adalah sumber pendapatan terbesar disana. Kota itupun perlahan menjadi ramai dan dikenal di seluruh penjuru negeri.
Mansion keluarga Russel…
"PAPA! Papa!," seorang gadis kecil berusia 5 tahun, berambut pirang emas bergelombang berlari-lari kecil menyebrangi taman keluarga Russel menuju ke pavilliun yang berada di bawah pohon akasia di tengah taman itu, gaun merah mudanya tertiup lembut ketika ia berlari.
"Oh, halo gadis kecilku!" Suara lembut seorang pria yang duduk di belakang meja di teras pavilliun itu menjawab panggilan tadi. Pria itu memiliki rambut keperakan panjang yang diikat ekor kuda,bola mata berwarna merah delima, kulitnya pucat,badannya tinggi tegap dan kakinya panjang ramping. Setelan lengkap kemeja terbaik yang dipakainya sudah cukup menunjukkan bahwa ia salah satu bangsawan penghuni mansion ini. Pria ini adalah Arsell Russel, ialah yang memimpin keluarga Russel di generasi ini. Oleh penduduk kota, ia disebut-sebut sebagai pemimpin terbaik dalam keluarganya. Seorang pemimpin cerdas,dermawan dan bijaksana. Dengan keluarga yang bahagia, sungguh seorang bangsawan yang beruntung.
"Sayang, kenapa kau kemari? Bukankan banyak nanny yang menemanimu bermain?" tanyanya sambil berdiri mengangkat putri kecilnya.
"Tapi, Papa….aku lebih suka bermain dengan papa. Mereka semua hanya nenek-nenek!" katanya cemberut. Pipinya yang bulat menggembung dan bibirnya menguncup kesal.
"Ahahaha…//Nenek-nenek ya? Gawat kalau mereka dengar..//…" Arsell tersenyum membayangkannya. "Manisnya putriku ini," ia mencubit lembut pipi bulat putrinya. "Ya, boleh saja kalau mau main. Tunggu sebentar ya…" Arsell merapikan kertas kertas yang berserakan di mejanya.Gadis itu memandangnya penuh perhatian ketika melihat Arsell mengambil satu persatu kertas kerjanya, ia merasa bersalah karena telah mengganggu papanya.
"Eh? Papa,kalau kau sibuk lebih baik tak usah. Aku main dengan para nanny(pengasuh) saja…" gumamnya agak sedih.
"Tidak, sayang. Ayo main dengan papa!"
"Benarkah?" Mata rubinya bersinar-sinar penuh harap mendengar kata-kata papanya.
"Bohong kok…Tidak bisa, Papa sedang sibuk nih.." godanya.Gadis kecil itu cemberut lagi.
"Papa…" Arsell menahan tawa, namun tak tahan melihatnya.
"Haha, kau manis sekali kalau cemberut begitu…" Arsell mencubit sayang pipi putrinya lagi." Anak siapa sih ini? Hm..."
"Papa...Sakit! Jangan cubit-cubit!Hu-uh..." Gadis itu cemberut lagi, sebelum tersenyum karena papanya menggenggam tangan kecilnya dan keduanya masuk ke mansion.
-XXXXXXXXXX-
Ruangan besar dengan karpet merah menuju tangga utama, di kedua sisi tembok ruangan itu terpajang lukisan-lukisan para bangsawan, pilar-pilar tinggi terlihat keemasan terkena sinar matahari dari jendela besar, di langit-langit tergantung lampu-lampu kristal yang besar, dan tirai bercorak bunga mawar memberikan kemewahan dengan benang emasnya yang selalu berkilauan. Di kiri bawah tangga besar itu, ada sebuah grand piano dimana Arsell sedang bernyanyi bersama putrinya.
Tepat saat denting tuas piano terakhir, terdengar jelas langkah-langkah kaki yang memantul menggema di ruangan besar itu. Pemilik langkah-langkah lembut itu adalah seorang wanita anggun berambut panjang bergelombang dengan warna pirang keemasan. Matanya berwarna amethyst dengan pandangan lembut yang mempesona, semua itu berpadu dengan kulit peachnya yang dibalut gaun satin berwarna merah. Wanita cantik ini tak lain adalah istri dari Arsell, Lisa Russel.
"Mama!" gadis kecil itu menjerit senang.
"Oh, hi Lisa" Arsell menyapa istrinya.
"Hi, Sayang." Ia memberikan kecupan lembut di kedua pipi suaminya, perhatiannya lalu berpindah pada putrinya.
"Athemaria, kau mengganggu ayahmu lagi !?"bentaknya. Gadis kecil itu menunduk ketakutan.
"Tidak, Lisa. Aku sudah selesai tadi.Jadi sekarang aku menemaninya bermain." Ia mengusap sayang kepala putrinya yang tadi menunduk.
"Russ, kau terlalu memanjakannya," wanita itu menggelengkan kepalanya perlahan "Ah, ya. Aku memanggil kalian berdua untuk makan siang. Hari ini ada menu kesukaanmu, Athema."
"Sungguh?!"
"Ya, sungguh."
"Oh, Kyaa..asyik !!!.Ayo, Papa. Cepat kita ke ruang makan." Ia menarik-narik lengan baju papanya dengan semangat.
"Iya, Iya…Ayo, Lisa.." Ia berkata pada istrinya.
"Ayo, Pa, Ma!" Athema menarik tangan kedua orang tuanya bersemangat. Ia tak sabar untuk memakan pudding caramel favoritnya itu.
End of 1st Chapter...
Pendek banget yach???...Review please…then I'll continue…
