Nothing

Chapter 2

HimeKami

Warn: Typo (s), aneh, gaje, abal

Kami:kami kembali! *teriak-teriak*
Hime: ulangan ku hasilnya jelek gara-gara nulis fic ini…hiks.. *nangis*
Kami:hey! Kamu tidak bisa sepenuhnya nyalahin fic ini *tepuk-tepuk kepala Hime*
Hime: hiks… ta..tapi… hiks…
Kami:*hug Hime*
Llu:ne, Luna, kalau Hime-sama lagi sedih begini dia manis juga ya?
Luna: iya! Aku senang lihat ouji-sama dan oujo-sama rukun begitu
Llu:iya… *makan popcorn sambil nonton adegan Kami X Hime*
Luna:kamu baca disclaimer gih! Aku gak mau ngerusak moment ini
Llu:eh? Aku?
Luna:jangan bilang kamu gak mau Llu Sseighwellter! *dark aura mode: on*
Llu: aye sir!

Disclaimer : vocaloid bukan milik Kami maupun Hime, kalau Kami yang punya, LenRin jadi incest deh ._.v

Llu: jujur ½ gak ikhlas baca disclaimer ini
Luna: udah ah, kita mulai aja
Llu:yosh! 3…2…1

Cekidot!

'buku itu tidak merubah Len-chan'

Rin's POV

23.45

"kyaaaa" teriakku terbangun dari mimpi burukku

'BRAK' aku mendengar suara pintu kamarku terbuka dengan keras

"RIN!" "kau tidak apa-apa?" terdengar suara bersamaan

"ng? Lui-nii? Len-chan?" gumamku

"kamu kenapa?" Tanya Len

"aku…mimpi buruk" jawabku

"oh, hanya mimpi buruk…" gumam Lui-nii, sepertinya dia sedikit menyepelekan

"…aku pikir kau kedatangan maling atau apa" lanjutnya

"ini… tentang…ibu" gumamku

Kulihat ekspresi wajah Lui-nii dan Len-chan berubah

"…"

"…"

"kau bermimpi apa tentang dia?" Tanya Len kemudian

"aku bermimpi…dia tinggal dirumah ini lagi" gumamku pelan

"…"

"sudahlah, itu kan hanya mimpi, tak usah dipikir kan, kau cepat tidur sana" ujar Lui-nii

"hai' oyasuminasai Lui-nii, Len-chan" sahutku lalu berbaring kembali dan menutup mataku. Aku merasakan seseorang menyelimuti ku. Lalu tak lama kemudian aku terlelap

Skip Time

"ohayo!" seruku sambil menuju ke meja makan

"ohayo Rin!" jawab Lui-nii

"hn" hanya itu yang Len katakan sambil terus menatap lembar demi lembar buku bersampul hitamnya tersebut

"mou~ Len-chan! Dari kemarin kau terus berkutat dengan buku itu, sebenar nya itu apa sih?" Tanya ku dengan ½ jengkel

"bukan urusanmu" sahut nya cepat sambil menutup bukunya, bersamaan saat Lui-nii membawakan sarapan kami, roti bakar dengan telur dan bacon

"ne, Lui-nii ayah pulang kapan?" Tanya ku membuka pembicaraan, ehm, mengalihkan pembicaraan maksudku

"hum… mungkin 3 hari lagi" jawab Lui-nii sambil menggigit roti nya

"ooh" kataku yang hanya bisa ber-ooh ria

Normal POV

Saat ini Len dan Rin sedang berjalan menuju sekolah. Diiringi dengan moment berdiam yang tidak disukai Rin

"Len-chan" panggil Rin mencoba mencari topic pembicaraan

"ng?" jawab Len tanpa mengalihkan pandangannya dari buku bersampul hitam itu

"um..etto..ano"

"kalau tidak ada yang di bicarakan, tidak usah bicara!" sahut Len ketus

"mou! Apa yang membuat Len-chan'ku seperti ini!?" kata Rin frustasi(?)

Mendengar kata-kata 'Len-chan'KU' Len menjadi blushing sedikit (Kami: asal tau saja, di fic ini Len diem-diem suka sama Rin)

"jangan-jangan buku bersampul hitam itu!" seru ku tiba-tiba

"apa-apaan sih kau ini!" gerutu Len sambil melangkah kan kakinya lebih cepat

"Len-chan! Kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku" ujar Rin sambil berusaha menyamai langkahnya dengan Len

Mendengar itu Len menghentikan langkahnya

"akan kuberitahu kalau sudah waktunya" gumam Len pelan, namun masih terdengar cukup jelas bagi Rin

"kapan?" Tanya Rin

"…" tapi tidak ada respon dari Len

"Rin-chan, apa kabarmu?"

"ibu? Ke…kenapa kau disini?"

"wah, kamu sudah dewasa, kamu manis sekali"

"ja…jangan mendekat!"

"Rin-chan, ayo kemari ibu tidak akan mengapa-apakan mu"

"ti…tidak! Jauhkan pisau itu dari ku!"

23.45

"KYAAAA!" teriak Rin terbangun dari mimpinya.

'malam ini mimpi tentang ibu lagi' batin Rin

"RIN!" "HOAM! Rin, kau kenapa?"

"Lui-nii, Len-chan"gumam Rin

"kau kenapa? Mimpi buruk lagi?" Tanya Len acuh tak acuh

"iya… tentang ibu" jawab Rin

"…"

"…"

"Len-chan, malam ini boleh aku tidur di kamarmu?" ujar Rin memelas

"eh?"

"kumohon" ujar Rin memelas + jurus puppy eyes

"haaah… baiklah" jawab Len

"arigatou, Len-chan" ujar Rin lalu berjalan menuju ke kamar Len, diikuti Len di belakangnya

Di Kamar Len

"Len-chan?"

"ng?"

"kau tidak tidur?" Tanya Rin yang melihat Len masih membaca bukunya, di temani lampu baca yang masih menyala, yang berada tepat di sebelah mejanya. Kamar Len ini memilki ranjang berukuran Queen Size, dilengkapi dengan Lemari, meja kecil disebelah tempat tidur, meja belajar, juga rak buku kecil. Kamar Len ini memiliki nuansa Krem

"nanti" jawab Len singkat

"Len-chan, aku punya permintaan, mau kau mewujudkannya?" Tanya Rin

"ng? kenapa kau tidak meminta kepada Lui-nii saja?" ujar Len heran

"karena, aku yakin hanya Len-chan yang bisa mewujudkannya" sahut Rin

"baiklah kalau memang begitu, Rin mau minta apa?"

"Len-chan janji?" ujar Rin

"iya"

"ng… kalau begitu, jelaskan kepadaku tentang isi buku yang selalu Len-chan baca itu dan isi nya"

"EH?"

"tidak bisa ya? Len-chan kan sudah berjanji" ujar Rin merajuk

"…"

"Len-chan?"

"…"

"len-chan!"

"…"

"LEN-CHAN!"

"geez, iya aku jelaskan deh"

"horee"

"sst! Jangan berisik"

"hai'"

"buku ini adalah sebuah diary"

"diary? Punya siapa?"

"milik 'wanita tua' itu"

"ibu?" gumam Rin

"hn" jawab Len

"apa… isinya?" Tanya Rin

"kalau aku membacakan isinya kau pasti menangis" sahut Len

"aku tidak akan menangis kok! Tapi, dari mana Len-chan mendapatkan buku itu?" ujar Rin

"dari gudang" jawab Len

"lalu… apa isinya?" Tanya Rin mengulang pertanyaannya yang tadi

"kalau kau menangis gimana?" Tanya Len ragu

"aku tidak apa-apa!" ujar Rin

"baiklah kalau begitu" ujar Len akhirnya

"jadi, apa isi buku itu?" Tanya Rin bersemangat

"diary si 'wanita tua' sewaktu kita lahir" ujar Len perlahan

"ng? lalu?"

"…"

"Len-chan, jujur saja, aku tidak akan menangis kok" ujar Rin

"dia… tidak menginginkan anak kembar, yang dia ingin hanyalah 'seorang' adik bagi Lui-nii" kata Len

"hanya… seorang, jadi ibu tidak… menginginkanku" ujar Rin pelan

"Rin, belum tentu yang tidak diinginkan oleh dia itu kamu, bisa saja aku yang tidak di harapkan" sahut Len berusaha menghibur saudara kembar nya. Len tahu bahwa sebentar lagi Rin pasti menangis

"tapi… atas segala yang ibu lakukan pada ku… ibu pasti… hiks" dan tumpahlah air mata Rin

"Len-chan… kenapa ki..kita kembar? Ka…kalau aku tidak ada, ibu pasti masih dirumah ini, d..dan Len-chan juga Lui-nii pasti masih berbahagia dengan ibu, kalau saja aku…"

"CUKUP RIN! HENTIKAN!" bentak Len memotong ucapan Rin

"Le…Len-chan"

Melihat Rin yang gemetar ketakutan atau mungkin karena factor tangisan dan juga dinginnya suhu AC di kamar Len, Len menjadi tidak tega, lalu Len mengelus kepala Rin

"maaf aku membentakmu, Rin" ujar Len sambil merenguh Rin kedalam pelukannya

"Len-chan… hiks" ujar Rin pelan sambil menangis di dalam pelukan Len

"maaf, maaf Rin" kata Len sambil menyandarkan kepalanya di pucuk kepala Rin

"hiks…"

Kemudian Len melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Rin

"sekarang kau tidur saja, aku tidak menanggung kalau kamu telat!" kata Len

"i…iya" ujar Rin lalu membaringkan tubuhnya disusul dirinya

Len lalu menyelimuti Rin dan dan juga dirinya.

"oyasuminasai, Len-chan"

"oyasumi, Rin"

Dan Rin pun terlelap, namun tidak dengan Len. Len masih memikirkan kata-kata pada lembar terakhir di buku hitam itu, yang tertulis 'aku pasti akan kembali ke rumah itu, membalas kan dendamku, dan membuat Lui menjadi anak tunggal'

To Be Continue