Hola hola..! Fi balik lagi... ^^
Fi: *liat kolom review* *melotot* U-uwaaaaaa.. Fi ga nyangka, dlm 3 hari yg review dh lebih dr 10.. O.O"
Padahal, Fi kira nunggu review ampe minimal 10 tu kira-kira seminggu, hhe. Jadi sesuai janji, inilah Chapter 2! Makasih buat yg udah nunggu Fi apdet ya.. ^^
Tapi sebelumnya, Fi bales review yg gak login dulu, ya.
Dy: Wah makasih bgt masukkannya! Fi terharu (?) TwT... Ini udah lanjut, semoga gak mengecewakan.. ^^ Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Kitsune murasaki is a little monster: Yah soalnya Fi blm PD, jadi pengen tau tanggapan dari para readers dulu.. Hhe. Wah masa bagus sih? Ini lanjutannya, semoga gak mengecewakan. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Ice crem blueberry: Boleh boleh! Salam kenal juga Blueberry-chan ^^. Ini lanjutannya, semoga gak mengecewakan.. ^^ Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Kanhakura Haito: Ehehehe makasih pujiannya.. ^^. Wah harusnya sih nggak, kan mereka teman baik. Tapi coba tanyain ke mereka langsung deh! Oi, oi Sakura-chan! Hinata-chan! Kalian mau berantem gak? (Hinata & Sakura: Ntar ya, itung kancing dulu!) Yeeeeh.. =_='
Ini lanjutannya, semoga gak mengecewakan. Makasih udah RnR! RnR lagi?^^
Zoroutecchi: Ini udah apdet, semoga gak mengecewakan. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Uprut: Hehehe, namanya lucu. Yosh, salam kenal juga. Ini lanjutannya, semoga gak mengecewakan. Makasih udah RnR! RnR lagi? ^^
Yg review login, Fi bales lewat message.
Oke deh, langsung aja.. Selamat membaca chapter 2! ^^
Pesan Fi Cuma satu: Don't like, don't read, don't flame! (Atau ini dihitung tiga, ya..? =_=')
~St. White's Day Romance~
A Naruto Fanfic
Ide dan beberapa adegan terinspirasi dari DNAngel
Rated: T
Genre: Romance, Friendship
Pairing: Naruhina
Slight Narusaku, Kibahina, & Sasohina
Warning: AU, OOC, Hinata di sini tidak terlalu pemalu, Cliche, Typo(s), dwwl (dan warning-warning lainnya)
Disclaimer: Naruto belongs to Kishimoto Masashi-sensei
DNAngel belongs to Sugisaki Yukiru-sensei
.
Happy Reading! ^^
.
.
Chapter 2
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, perayaan St. White's Day. Murid-murid Konohagakuen High School datang pagi-pagi sekali dan mulai mendekor kelas mereka masing-masing. Tirai putih, balon-balon putih, dan hiasan-hiasan lain yang bernuansa putih mereka gunakan untuk mempercantik kelas masing-masing. Tak mau kalah, mereka pun memakai seragam yang berbeda hari ini. Para siswa memakai kemeja putih lengan panjang dan celana panjang putih, tak lupa scarf yang juga berwarna putih dipasang di balik kerah kemeja sebagai dasinya. Sedangkan para siswi memakai baju terusan selutut berlengan panjang, dengan aksen bulu-bulu putih di leher, kedua ujung lengan, dan pinggiran roknya.
Kelas XI-A3 pun tampak ramai dengan murid-murid yang tengah mendekor. Mereka membagi-bagi tugas agar pekerjaan cepat selesai. Seorang gadis berambut merah muda tengah memperhatikan siswa-siswa di kelasnya yang memanjat kursi untuk memasang balon di langit-langit kelas.
"Waah... Kelihatannya semua anak cowok sudah mempersiapkan diri, ya," ucapnya ketika melihat beberapa siswa mengantongi sebuah pita putih dengan muka merah.
Gadis berambut panjang yang mendengar ucapan temannya tadi menoleh ke arahnya, pita putih yang disematkan di rambutnya berkibar kala ia membalikkan badannya.
"Lalu? Kamu sudah tahu Naruto-kun akan memberikan pitanya pada siapa, Sakura-chan?" tanya gadis berpita rambut putih itu, yang menandakan ia adalah panitia acara.
Sakura yang ditanya merespon dengan munculnya rona merah di wajahnya. "Eh, tidak... Itu..." ucapnya gelagapan. Hinata hanya tersenyum miris melihatnya. Tapi itu hanya sesaat, karena segera setelahnya seseorang menghampirinya.
"Hinata. Panitia disuruh membawa barang-barang itu ke gedung olahraga 'tuh, untuk perlengkapan membuat lorong bintang. Ayo kita pergi," ujar siswa berambut hitam dengan setelan chicken-butt itu tenang. Hinata mengangguk.
"Oh, terima kasih, Sasuke-kun. Sakura-chan, aku pergi dulu, ya! Selamat berjuang!" Hinata melambaikan tangan pada Sakura dan segera berlalu dari kelas setelah menerima barang-barang dari Sasuke. Sakura sempat melihat Sasuke bertanya untuk apa selamat berjuang itu, tapi Hinata hanya bilang tidak ada apa-apa sambil tertawa garing.
"Hei, Hinata! Haaah, dasar anak itu..." keluh Sakura yang tak sempat memanggil Hinata. Namun sesaat setelahnya, ia tersenyum lembut. Tanpa disadarinya, sepasang mata biru tengah memperhatikannya dengan tatapan sendu dari balik spanduk yang sedang dipasangnya.
.
.
.
"Selanjutnya... Gorden... Ugh, berat..." keluh Hinata sambil berjalan menyusuri koridor sekolah. Tubuh mungilnya terhuyung-huyung berusaha menyeimbangkan berat badannya yang tengah membawa beban. Langkahnya terhenti ketika melihat sosok berambut pirang jabrik berjalan di ujung koridor.
"Naruto-kun..." gumamnya dengan tatapan sendu ke arah pemuda yang berbelok di ujung koridor itu. Baru saja ia akan melangkah lagi, kegiatannya kembali terhenti oleh seseorang yang memanggil namanya.
"Hinata. Kau ada waktu sebentar?"
Hinata berbalik dan melihat Kiba tersenyum di hadapannya. "Aku mau bicara sebentar..." lanjut pemuda itu.
Hinata tak langsung menjawab. Sekilas ia menoleh ke arah ujung koridor itu lagi, dan melihat bahwa Naruto sudah tak ada di sana. Tatapannya semakin sendu menatap ujung koridor yang telah kosong itu. 'Naruto-kun... Pasti sudah memberikan pitanya pada Sakura-chan...' pikirnya miris. Memang ia yang meminta Naruto melakukannya, tapi tetap saja ia merasa sakit jika membayangkannya.
Hinata memantapkan hatinya, lalu membalik dan melangkah mengikuti Kiba.
"Ya... Baiklah."
.
.
.
Sakura membelalakkan matanya tak percaya. Benda putih yang kini berada di tangannya tampak bercahaya di mata emeraldnya yang berkilauan.
"Untukku..?" tanyanya pelan, berusaha memastikan. Jantungnya kini berdebar kencang.
Pemuda yang di hadapannya hanya nyengir dan menggaruk belakang kepalanya. "Eh, iya... Jaga baik-baik, ya!" ujarnya gugup. Mendengar jawaban Naruto, Sakura tersenyum lembut.
"Terima kasih..." ucapnya tulus. Naruto yang melihat senyuman itu merasa seperti ada palu yang menghantam hatinya.
"Eng... Sudah, ya! Aku kembali ke tempat yang lain dulu... Sampai nanti!" katanya terburu-buru, dan tanpa menunggu tanggapan Sakura ia langsung bergegas meninggalkan atap sekolah itu dan menuruni tangga dengan perasaan gusar. Jika ia melihat ke belakang, ia akan melihat Sakura menatapnya dengan tatapan yang seolah terluka.
Begitu sampai di lantai dasar, Naruto segera berjalan menuju kelasnya. Pikirannya makin kalut.
'Huh... Aku sudah memberikan pita itu pada Sakura-chan, tapi... Rasanya aku sudah menipunya saja...' ia membatin, '...Kalau dulu, aku pasti sudah sangat senang dan bangga dengan tindakanku ini.'
Naruto menghela napas, entah sudah yang keberapa kalinya hari ini. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya melihat sahabat sejak kecilnya kerepotan membawa 2 kardus besar berisi alat-alat olahraga. Wajahnya yang biasanya datar itu kini terlihat begitu tersiksa, dan membuat Naruto menahan tawanya. Ternyata objek tertawaan itu menyadari kehadiran Naruto, dan langsung mengubah air mukanya menjadi jengkel.
"Hoi, Dobe! Ke mana saja kau? Cepat bantu aku mambawa barang-barang ini ke gudang olahraga!" perintahnya kesal. Naruto hanya membalas dengan tatapan malas.
"Hn. Teme," jawabnya singkat, lalu mengambil satu kardus dari tumpukan di tangan Sasuke. Sasuke sweatdropped.
"Sejak kapan kau menggunakan kata-kataku?"
.
.
.
Naruto memijat-mijat bahunya yang pegal karena baru mengangkat beban berat. Ia terus memanyunkan bibirnya dan menggerutu tak jelas sepanjang perjalanan kembali dari gudang olahraga.
"Huuh, hancur sudah tubuhku... Kenapa aku harus jadi panitia, sih? Padahal 'kan masih ba-" gerutuannya terhenti ketika melewati sebuah kelas karena terdengar suara gebrakan di dalamnya. Rasa penasaran membuatnya mendekat dan berjinjit untuk mengintip ke dalam kelas melalui kaca yang agak tinggi di pintu kelas itu. Seketika ia terkejut melihat siapa yang ada di dalam kelas itu.
"Hi... Hinata..."
.
.
BRAAKK!
Hinata menggebrak meja di depannya, tanda ia sudah kehilangan kesabaran pada orang di hadapannya ini.
"Harus berapa kali kubilang! Aku nggak suka sama kamu! Kamu keras kepala betul sih, ketua OSIS!" bentak Hinata pada ketua OSIS itu. Sementara pemuda yang dibentak tetap saja keras kepala.
"Jangan bohong, Hyuuga! Kau selalu curi-curi pandang padaku setiap rapat OSIS... 'Kan artinya suka!" desak pemuda berambut merah itu. Hinata menelan ludahnya.
"I... Itu karena..." ia tak bisa melanjutkan kata-katanya. 'Karena kau selalu duduk di sebelah Naruto-kun yang wakil ketua OSIS!' Hinata menghela napas. Tak mungkin menjawab seperti itu, pikirnya.
"Ah sudahlah, aku mau pergi dari sini!" Hinata segera berbalik menuju pintu, meraih kenop pintu dan memutarnya. Namun ada yang aneh, pintu itu sama sekali tidak mau terbuka. Hinata mulai panik.
"Pi-pintunya... Terkunci..." ia segera membalikkan badannya, hendak bertanya mengapa Sasori si ketua OSIS itu mengunci pintunya. Namun sesaat setelah berbalik, Sasori telah berada tepat di hadapannya, membuatnya terjepit antara pintu dan tubuh Sasori. Hinata membeku, jantungnya berpacu karena takut, keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya.
"A-apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku! Le-" Hinata berhenti meronta-ronta, kini Sasori mencengkram dagunya hingga gadis itu tak bisa bergerak. Sasori mulai mendekatkan wajahnya pada Hinata, dan Hinata tak mampu melepaskan diri. Tubuhnya bergetar menahan takut, ia hanya bisa menutup matanya, pasrah. Di saat seperti ini, hanya satu nama yang melintas di otaknya.
'Na... Naruto-kun...'
BRAKK! BRUK! BRUUAAGH!
Suara berisik itu sontak membuat Hinata membuka matanya lebar. Begitu membuka mata, yang dilihatnya adalah pintu di sebelah pintu tempatnya bersandar sudah tak ada, dan di ujung kelas tergeletak Sasori yang tepar pingsan dengan mata berputar-putar dan tubuhnya tertindih daun pintu yang terlepas itu. Ingin tahu siapa yang melakukan hal itu, Hinata segera menoleh ke arah kanannya dan dilihatnya sosok Naruto yang terengah-engah, keringat mengucur dari pelipisnya, matanya berkilat menahan amarah.
"Kurang ajar kau, Sasori! Apa yang kau lakukan, hah? Dasar ketua OSIS gila!" bentak Naruto menunjuk-nunjuk Sasori yang sudah tak sadarkan diri itu.
"Na, Naruto-kun..." panggilan yang lembut itu menghentikan makian Naruto pada Sasori, membuat pemuda itu menoleh pada gadis yang memanggilnya. Dilihatnya Hinata yang terduduk di lantai dengan air mata menggenang di matanya, dan keringat dingin meluncur dari pelipisnya.
Pandangan Naruto melembut, ia segera berjongkok di hadapan gadis malang itu.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" tanyanya, diikuti dengan anggukan Hinata.
"Na, Naruto-kun... Kenapa ada di sini?" tanya Hinata masih dengan suara yang lemah. Tampaknya shock-nya belum hilang.
"Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar suaramu dari koridor, kok," jawab Naruto, tersenyum. Tapi kemudian ia mengingat sesuatu. Pandangannya berubah serius. "Kenapa kau bisa bersama dia, Hinata? Apa yang dia lakukan padamu?"
Hinata menundukkan kepalanya. "Ta, tadi setelah aku menolak Kiba-kun... Sasori-senpai bilang ingin bicara denganku. Dia mengajakku ke kelas ini, dan mengatakan perasaannya padaku. Awalnya aku menolaknya dengan halus, tapi dia keras kepala dan memaksa bilang kalau aku menyukainya... Dia terus mendesakku sampai kesabaranku habis, lalu dia..." ucapan Hinata terhenti, tapi penjelasan itu sudah cukup bagi Naruto. Naruto sempat terkejut dengan cerita Hinata yang menolak Kiba. Belum sempat Naruto menanggapi, Hinata kembali bertanya padanya.
"La, lalu, Naruto-kun... Bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah memberikannya pada Sakura-chan?" pertanyaan itu cukup membuat mata Naruto terbelalak. Oh ya, hampir saja ia lupa. Sakura. Dan pita putih.
"Eh, eng... Yah, begitulah..." jawab Naruto gugup. Naruto sendiri tak tahu mengapa ia gugup menjawabnya. Tapi bagi Hinata, Naruto gugup karena salah tingkah mengingat Sakura. Hatinya kembali terasa ngilu, ia pun menundukkan kepalanya.
"Oooh..." gumamnya lesu.
Naruto menatap Hinata, dan ia berpikir jangan sampai Hinata salah paham. Ia harus menjelaskan semuanya. 'Inilah saatnya,' batin Naruto.
"Hi, Hinata... Kau harus tahu, aku memberikan pita itu pada Sakura-chan karena kau yang memintanya. Se, sebenarnya, aku-" kata-katanya segera terpotong oleh Hinata.
"O-oh, aku tahu! Ma, maafkan aku yang sudah mendesakmu. Seharusnya kau memberikannya dengan niat tulusmu sendiri, ya... Aku memang bodoh, hahaha..." tawa Hinata hambar. Naruto tahu, sebenarnya Hinata menyembunyikan air matanya di balik tawa hambar itu.
"Bukan begitu, Hinata, aku sebenarnya-" jelas Naruto, tetapi kembali Hinata memotong perkataannya.
"I, iya, aku sudah tahu! Naruto-kun tidak usah menjelaskannya, aku sudah tahu, kok. Naruto-kun ingin benar-benar memberikannya tanpa paksaan, maka berikan saja sekali lagi pada Sakura-chan! Aku yakin dia tidak akan menolak, ka-karena Sakura-chan juga-" tutur Hinata, tapi kali ini ialah yang tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Naruto telah lebih dulu merengkuhnya, membenamkan wajahnya pada dada bidangnya sebelum ia mampu meneruskan kata-katanya.
"Bisakah kau biarkan aku menyelesaikan kata-kataku?" bisik Naruto lembut di telinga Hinata, membuat gadis itu membisu dan hanya bisa mengangguk pelan. Naruto menghela napas sebelum melanjutkan bicara.
"Aku memberikan pita itu pada Sakura-chan hanya karena kau yang memintanya. Aku mengerti kalau kau ingin membuat Sakura-chan senang, karena itu aku menuruti permintaanmu. Tapi aku ingin kau tahu, itu bukan satu-satunya pita putih yang kupunya. Masih ada sehelai lagi... Untuk kuberikan pada orang yang benar-benar aku inginkan," tutur Naruto lembut sambil membelai rambut panjang Hinata. Hinata terlalu terpaku pada pelukan Naruto, terpaku pada kata-katanya barusan, hingga ia tidak menyadari kini Naruto tengah mengalungkan sehelai pita putih bersih di lehernya yang tertutup kerah baju yang berbulu-bulu. Ia baru sadar setelah Naruto melonggarkan pelukannya, dan menatapnya dengan senyum yang lembut.
Segera Hinata menunduk dan melihat pita yang tersampir di lehernya, menyentuhnya seolah tak percaya bahwa benda itu benar-benar ada di situ. Wajahnya merona merah, kini debar jantungnya sudah tak beraturan lagi.
"Na, Naruto-kun... Ini..." ucap Hinata terbata-bata, setelah memberanikan diri mengangkat wajahnya yang memerah. Dilihatnya Naruto yang tesenyum sambil mendekatkan wajah padanya. Hinata terkejut, dan sontak menutup matanya rapat-rapat. Naruto semakin mendekatkan wajahnya, lalu berhenti ketika bibirnya tepat berada di dekat telinga kanan Hinata.
"Ya. Itu untukmu," bisiknya lembut, membuat Hinata yang merasakan hembusan napas hangat di telinganya itu membuka matanya.
Naruto memindahkan wajahnya dari sisi telinga Hinata ke hadapan wajah cantik itu, menatap kedua mata lavender itu dalam-dalam. Hinata pun menatap ke dalam kedua mata biru yang teduh milik Naruto, mata yang selama ini selalu menarik perhatiannya. Dirinya serasa terbius oleh tatapan itu. Perlahan, Naruto mendekatkan lagi wajahnya, kini mereka dapat saling merasakan hembusan napas masing-masing. Tepat ketika hidung mereka bersentuhan, Naruto menghentikan gerakannya, memberi kesempatan pada Hinata untuk menjauh jika bukan ini yang diinginkannya. Melihat Hinata tak menolak, Naruto sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, menutup matanya, lalu menutup jarak antara mereka. Hinata ikut menutup matanya ketika merasakan bibirnya menekan lembut bibir Naruto. Selama beberapa saat, mereka terdiam menikmati ciuman pertama mereka di dalam kelas itu.
Beberapa saat kemudian, Naruto melepaskan ciuman itu. Dengan mata yang masih setengah terbuka, mereka menunduk menutupi rona merah yang merajalela di wajah keduanya. Debaran jantung mereka begitu keras hingga mereka khawatir akan terdengar oleh orang di hadapannya ini.
Belum selesai mereka mengatur detak jantung dan emosi mereka yang campur aduk, mereka kembali dikagetkan oleh suara seseorang dari balik pintu.
"Kenapa pintu kelas ini lepas sebelah... Lho? Naruto? Sedang apa kau?" ucap siswa yang baru melongokkan kepala ke dalam kelas itu. Sontak Naruto dan Hinata saling menjauh, dengan panik Naruto mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Argh, Sa... Sa... Sa-Sasuke! Ka, kau... Kenapa ada di sini?" teriak Naruto gelagapan. Sementara Hinata hanya menunduk dengan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus yang diberi saus tomat. Sasuke yang mendengarnya mengernyitkan dahinya.
"Kau membalikkan pertanyaanku, Dobe," ujarnya malas. Seketika Sasuke melihat ke ujung kelas, di situ terdapat seonggok mayat (?) tak berdaya yang tertindih daun pintu yang lepas. Well, setidaknya Sasuke sudah mendapatkan jawaban mengapa pintu kelas ini lepas. Ia melempar pandangannya pada Naruto yang masih salah tingkah.
"Itu 'kan ketua OSIS, Naruto? Kenapa dia sampai mengenaskan begitu?" tanya Sasuke tenang. Tapi dengan melihat keberadaan Hinata dan bagaimana keadaan Naruto dan Hinata sekarang, otak jenius Sasuke sudah mendapatkan jawabannya. Tak perlu menunggu penjelasan Naruto sebelumnya. Maka tanpa menunggu jawaban Naruto, Sasuke berbalik menuju luar kelas.
"Ayo kita pergi. Kalian panitia, 'kan? Ada banyak hal yang harus kita kerjakan," ujarnya santai dengan seringai di wajah tampannya.
Naruto dan Hinata bertatapan sejenak, lalu saling bertukar senyum malu-malu dengan wajah yang masih memerah. Mereka lalu bangkit dan berjalan mengikuti Sasuke, Naruto menyamakan langkahnya dengan pemuda stoic itu dan mulai mengobrol dengannya, sementara Hinata berjalan di belakang mereka. Hinata menatap Naruto yang tengah mengobrol santai dengan sahabatnya itu, lalu tatapannya pindah kepada pita putih yang masih tersampir di lehernya, menyentuhnya lembut.
'Naruto-kun... Memasangkan pita ini di leherku, bahkan dia menciumku... Apa mungkin Naruto-kun...' gumamnya dalam hati dan kembali memandang punggung tegap Naruto, semburat merah di wajahnya semakin terlihat. Namun sesaat kemudian, ujung-ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman manis.
'Tuhan... Terima kasih,' batinnya lagi, sebelum menyamakan langkahnya dengan Naruto dan ikut mengobrol bersama Sasuke.
.
.
.
TBC
A/N: Terima kasih banyak buat para reviewers dan silent readers.. Fi benar-benar mendapatkan semangat dari kalian semua, lho! ^^
Untuk selanjutnya, Fi akan usahakan apdet secara berkala, mungkin setiap weekend, entah Jumat, Sabtu, atau Minggu. Cerita ini gak terlalu panjang, cuma sampai 4-5 chapter. Sekarang ini, Fi masih mengerjakan endingnya, doakan saja agar bisa cepat selesai, ya! ^^
Akhir kata.. Review please.. ^^
Tapi jangan flame, Fi belum kuat.. Hhe.
Sign,
Fi^^
