–Ini sequel, ehe. Maaf atas typo-nya, aku males ngedit lagi :3

.

.

.

Yoongi mendengus sebal sembari menanti Jimin, pesawat mereka sudah siap untuk berangkat tapi Jimin masih saja mencari kopernya. Koper milik Jimin kembar dengan beberapa orang di bandara ini, kalian tahu kan bawah pabrik tidak membuat satu produk, bisa saja hanya satu jika itu barang limited edition. Jimin saja membeli dengan harga diskon, kalian bisa bayangkan berapa banyak koper yang sama dengan Jimin.

"Kau tidak menempelinya dengan stiker atau gantungan kunci untuk mengenalinya?"

Jimin hanya tersenyum dengan bodohnya, "Tidak."

"Bagus. Berapa lama lagi kita menunggu?" Yoongi bersendekap sambil menggerutu lucu, acara honeymoon (meskipun bukan yang pertama) mereka pasti gagal hanya karena sebuah koper. Jimin yang melihat itu merasa gemas dan langsung mencubit pipi gembil Yoongi.

"Kau lucu sekali sayang." Yoongi mendelik, "Jangan bercanda! Cepat cari atau aku akan pulang ke Daegu selamanya." Tanpa disadari keduanya, ada koper tergelincir kearah mereka.

Buk!

Jimin melihat sesuatu yang menghantam betisnya, sebuah koper berwarna teal. Dengan sengaja Jimin coba memasukkan sandi kopernnya, dan terbuka. Memeriksa satu persatu barang yang ada di koper, senyuman langsung terpatri di wajah Jimin. "Ini koperku sayang! Ayo berangkat!"

Plak

"Penerbangan pertama sudah berangkat lima menit yang lalu. Kita tunggu penerbangan yang kedua. Dasar bodoh."

Jimin hanya meringis mendengarnya.

.

Hoseok menghela nafas lelah, bosan melihat Yoongi yang cemberut sedari tadi. Ayolah, Yoongi sudah tiba di Bali, destinasi yang tepat untuk honeymoon. Meskipun bukan honeymoon yang pertama. Dia masih kesal dengan Jimin. Berakhir dengan dirinya harus mampir ke salah satu resto makan bersama Hoseok dan anaknya Haechan yang sedang liburan juga di Bali. Sedangkan Jimin harus pergi mengurus villa tempatnya menginap dibantu dengan Namjoon –suami Hoseok– .

"Sudahlah hyung, intinya kan kau sudah berada disini. Nikmati saja."

Yoongi melirik sinis ke arah Hoseok, "Tetap saja, dia menyebalkan." Menghela nafas lagi, Hoseok benar-benar lelah dengan ini. Apalagi saat Yoongi memasukkan potongan bebek goreng ke mulutnya dengan tergesa. Kenapa tidak tersedak sekalian, Hoseok minta ditampol ternyata.

"Yoonie samchon kenapa?" ini suara si kecil Haechan yang bingung melihat kedua orang dewasa yang bersamanya.

"Ini semua salah Jimin samchon, Haechanie. Jika bertemu dengannya pukul saja wajahnya." Haechan memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti, salah Jimin samchon apa?

Yoongi yang melihatnya langsung memekik, ekspresi Haechan lucu sekali. Mana lagi anak itu sedang dipangku Hoseok sambil menyamankan kepalanya di dada Hoseok. Terlihat sedikit mengantuk. Bahkan orang lain yang melihatnya juga gemas sendiri.

"Nanti Haechan pikir lagi~" Astaga, suaranya lucu. Yoongi jadi gemas lagi kan, dan pipi gembil Haechan yang jadi korban cubitan Yoongi. Anak itu hanya diam, biasanya dia akan berubah berisik jika pipinya dicubit. Tapi Haechan hanya diam, benar-benar mengantuk ternyata.

"Haechanie mengantuk?" Hoseok bertanya sambil mengelus rambut hitam putranya, lihatlah anak ini semakin terkantuk sambil mengangguk sekilas. Usapan ibunya memang menenangkan. Hoseok mencium pucuk kepalanya, lalu menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Wajah polos itu dengan mudahnya jatuh tertidur. Tak lupa Yoongi yang heboh dengan kamera ponselnya hanya untuk mengabadikan Haechan yang tertidur.

"Rasanya punya anak itu seperti apa Hoseok?" tanya Yoongi setelah meletakkan ponselnya, lalu melanjutkan makannya yang tertunda hanya gara-gara Haechan.

Hoseok sedikit terkejut tiba-tiba Yoongi bertanya begitu, tapi Hoseok langsung memaklumi, "Rasanya bercampur jadi satu, tapi yang paling dominan adalah kebahagiaan. Apalagi Haechan anak yang manis, pengecualian untuk sifat sedikit berisiknya. Hyung bertanya seperti ini apa karena hyung sedang..." Hoseok menaik turunkan alisnya.

Yoongi menggeleng keras, "Aku belum. Aku juga tidak tahu kenapa, padahal kita sering melakukannya." Pipinya terbakar saat mengatakannya.

Hoseok ikut tersenyum, "Usaha lagi hyung, mungkin Jimin kurang banyak keluarnya."

"Mesum!"

Haechan sedikit mengerjap saat mendengar teriakan Yoongi, dan ibunya langsung menepuk-nepuk punggung kecil tersebut agar tenang.

.

Yoongi duduk di sofa yang ada di villa tempatnya menginap selama satu minggu, melihat sekitar ruangan, semua dindingnya dari kaca. Keadaan sekitar bisa terlihat jelas dimata Yoongi. Tidak ada pemandangan pantai atau jalanan kota, banyak pepohonan tinggi yang bisa Yoongi lihat. Suasananya sungguh menenangkan. Ruangannya saja hanya ada sofa panjang, permadani bulu yang lembut, kasur dengan ukuran king size beserta selambu, dan tentunya kamar mandi dan counter dapur. Keluar kamar langsung tertuju pada kolam renang setengah lingkaran. Villa ini sepertinya benar-benar tempat privat. Yoongi yakin pasti suaminya itu menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk ini.

Sofa sedikit bergoyang saat Yoongi meminum teh hijaunya, melirik sekilas, ternyata suaminya sudah kembali dengan beberapa cheesecake pesanannya. "Baiklah, lanjutkan kegiatan minum teh kita." Yoongi sedikit mendengus. Dia ingat, Jimin belum meminum teh buatannya sama sekali.

"Kau tahu, pelanggan toko kue disana sungguh gila. Mereka mengira aku idol yang sedang liburan."

Yoongi memutar bola matanya malas, "Dengan tidak sengaja kau mengatakan bahwa dirimu tampan, iya kan, tuan Park?" cengiran yang didapat Yoongi, suaminya memang narsis.

"Aku memang tampan, oke lupakan–" Jimin langsung berhenti sejenak karena sudah ditatap sinis oleh Yoongi, "–Kau suka tempat ini?"

Yoongi mengangguk, "Kau tahu kan, aku suka tempat yang tenang." Matanya memandangi tempat penginapan ini lagi, benar-benar tenang. Jimin tersenyum melihat Yoongi yang menatap tempat ini dengan binar mata yang kagum.

Tubuh Jimin tergerak untuk keluar ruangan, mengambil bunga –sejenis hibiscus, mungkin– berwarna peach yang tumbuh didekat kolam renang. Memetik satu, lalu masuk kembali dan duduk di permadani sambil memberi isyarat agar Yoongi mendekatinya. Yoongi mengangkat sebelah alisnya, cheesecake ini terlalu enak untuk diabaikan. Tapi tubuhnya tetap tergerak mendekati Jimin. Tidak lupa dengan cheesecake sepiring kecil yang ia bawa. Duduk bersila dihadapan Jimin sambil mengunyah roti keju itu malas, selera makannya tiba-tiba turun entah mengapa. Kenapa makan daging terlihat enak saat sore hari.

Jimin mendekat, meletakkan bunga yang dipetiknya untuk diletakkan di telinga Yoongi. Lihatlah warna bunganya cocok dengan kulit Yoongi dan rambut hitam kelamnya. "Kau cantik Yoon." Kepala Yoongi semakin menunduk untuk melihat ponselnya, alih-alih menyembunyikan wajah meronanya. Roti keju itu sudah diletakkan sedari tadi. Tanpa tahu Jimin juga ikut tersenyum melihat tingkahnya. Terus menunduk sambil memainkan game di ponselnya.

"Apa kau seumuran dengan Haechan?" Jimin masih memperhatikan Yoongi yang asik bermain dengan suara berisik seperti kucing dari ponselnya. "Evolution series itu sangat menyenangkan Jimin." Percayalah, Yoongi memiliki game seperti Cat Evolution, Dolphin Evolution, dan evolusi binatang lainnya hanya karena ketagihan bermain dengan Haechan saat anak itu ikut ke kafe milik ibunya.

Suasana romantis yang sedikit dibangun itu harus lenyap hanya karena Yoongi mulai memainkan game-nya.

Ponsel itu sudah tergeletak, Yoongi jadi ingat pembicaraan siang tadi bersama Hoseok. "Jimin.."

"Ya?" Jawab lelaki itu sambil tetap menopang dagu memperhatikan setiap pergerakan Yoongi.

Yoongi menelan ludahnya kasar, sedikit takut. "Kau suka anak-anak kan?" Jimin sedikit tertegun, mulai mengerti arah pembicaraan Yoongi. "Tidak perlu terburu-buru, sayang. Jika kau belum–"

"Hiks..." Omongan Jimin sudah dipotong oleh isakan Yoongi, ditariknya tubuh mungil itu agar duduk di kakinya yang bersila, lalu memeluknya erat. Yoongi mulai menangis dalam diam di ceruk leher Jimin. Pelukan Jimin semakin mengerat.

Ditangkupnya kedua pipi gembil Yoongi, bunga indah itu masih saja bertengger manis disana. Yoongi semakin terlihat lucu saat menangis dengan atribut bunga seperti itu. "Kau itu anugerah Yoongi, dan malaikat kecil itu sebagai pelengkapnya. Meskipun dia belum hadir, dirimu yang indah ini tetap anugerah yang diberikan Tuhan untukku." Yoongi masih sesenggukan tapi kini disertai pipinya yang merona.

Jimin mulai menciumi kening, kedua mata sembabnya, hidung, pipi, hingga berhenti pada ciuman lembut di kedua belah bibir merekah Yoongi. Membawa Yoongi dalam ciuman memabukkan yang lembut.

Setelah melepas ciuman tersebut, dibawanya Yoongi dalam dekapannya lagi. Tidak masalah Yoongi menjadi lebih tinggi karena lelaki manis itu duduk dipangkuan Jimin. Berbagi kehangatan yang menenangkan.

.

Yoongi menggeliat, mulai membuka mata perlahan, ternyata dirinya tertidur di permadani. Hari mulai malam, Yoongi sadar Jimin tidak ada. Matanya mengitari ruangan mencari keberadaan Jimin, semua gelap, ini pasti bercanda.

"Jimin?" ruangan hanya disinari cahaya bulan yang menembus dari luar, Yoongi sedikit kesulitan mencari Jimin.

Srak!

"Jimin? Jangan bercanda!"

Terdengar suara kekehan, "Tenang sayang, ini hanya pemadaman listrik massal. Semacam gerakan hemat energi." Jimin langsung duduk disebelah Yoongi dekat, hingga paha keduanya bersentuhan.

Yoongi mendengus, "Kau membayar berapa untuk penginapan ini sih?" Jimin menatap wajah manis itu dari samping, "Kebijakan pemerintah sayang. Sudah kita nikmati saja, tidur diatas permadani yang lembut tidak masalah kan? Bulan sedang bersinar terang, kita ada penerangan alami." Jimin sudah siap berbaring langsung terhenti saat Yoongi hanya diam saja. "Kenapa?"

"Memangnya kau bisa tidur dengan keadaan tegang begitu?"

Jimin langsung tercekat, "Kau, bagaimana bisa?"

"Berterima kasihlah pada penerangan alami."

Lelaki manis itu langsung memilih duduk diantara kaki Jimin, menarik simpul tali pada celana Jimin. Lalu menarik celana pendek itu beserta celana dalamnya. "Aku ini istrimu Jim, kenapa kau tidak memberiku tanggung jawab untuk mengurus ini." Ucapnya pelan bersamaan dengan remasannya pada kejantanan Jimin.

"Shh.." Jimin hanya bisa mendesis saat Yoongi mulai menaik turunkan tangan putihnya. Kepalanya semakin merunduk untuk menenggelamkan kejantanan gemuk dan panjang itu pada mulutnya. Desisan Jimin semakin tidak terkendali saat kejantanannya benar-benar masuk kemulut hangat Yoongi, meskipun tidak muat untuk keseluruhan. Tapi pangkal kejantanannya yang tidak masuk pada mulut hangat itu diberi remasan oleh Yoongi.

"Asshh... Jangan menyesal setelah ini sayang, aku benar-benar ingin menusukmu." Jimin berucap sambil meremat rambut Yoongi, karena lelaki manis itu masih bermain dengan kejantanannya. Bahkan Yoongi memberikan deepthroat yang memabukkan. Ingatkan Jimin untuk kasar malam ini.

.

Tubuh mungil Yoongi terlentang diatas permadani, kepalanya bersandar nyaman pada tumpukan bantal. Tapi peluh sudah membasahi wajahnya karena Jimin masih saja bermain pada paha dalamnya. Membuat kissmark yang tidak tanggung-tanggung, kissmark Jimin merata di pahanya. Sambil membuat tanda itu, jemari Jimin bermain dengan kurang ajarnya di lubang miliknya. Menarik maju mundur jemarinya, atau menggaruk lubangnya. Yoongi bahkan sudah meneteskan air mata, karena ini terlalu nikmat. Alhasil hanya desahan penuh kenikmatan yang keluar dari mulutnya.

"Akh! Akh! Aanggh..."

Jimin berhenti dari kegiatannya hanya untuk menatap wajah manis istrinya yang berpeluh dengan wajah merona. Nafasnya pendek, bibirnya merekah, libido Jimin langsung diambang batas. Dia ingin sekali melesakkan miliknya pada lubang berkedut milik Yoongi. Ditariknya paha yang penuh dengan tanda merah tersebut, mulai dari pinggul sampai ke bokong berisi itu berada dalam pangkuan Jimin karena lelaki tampan ini sedang bersila. Dan tubuh atas Yoongi berada di atas permadani lembut dan tumpukan bantal. Dia menggeliat lagi, miliknya bertubrukkan dengan milik Jimin.

"Nyaahh.. Ah!" Yoongi hanya bisa meremas bantal empuk sebagai alas kepalanya. Dari dulu Yoongi selalu bingung kenapa milik Jimin itu semakin hari semakin membesar ukurannya. Kali ini saja ukurannya lebih besar dari terakhir mereka melakukan seks.

Tanpa peduli Yoongi siap atau tidak, Jimin lanjut untuk menggerakkan miliknya. Mata Yoongi terbelalak, ini kasar tapi entah mengapa dia menyukainya. "Akh! Akh! Eunghh.. pel– aaanhh.. Jiminhh.. aanhh.." seolah tuli, Jimin semakin menyodok lubang itu lebih keras dari sebelumnya. Membuat Yoongi menggeleng kuat, air mata lolos dari mata indahnya. Entah mengapa cairan miliknya sudah berada diujung, ingin keluar karena sodokan yang diterimanya terlalu kuat dan kasar. Tubuhnya langsung membusur saat orgasmenya tiba, dan Jimin masih melesakkan miliknya lebih keras serta cepat. Yoongi sudah lemas dan dirinya hanya bisa menggeliat gusar, takut-takut Jimin tanpa aba-aba melesakkan miliknya kencang.

Tangan Jimin meraih pinggang Yoongi lalu memiringkan tubuh mungil itu tanpa melepas kejantanannya dari lubang sempit Yoongi, lalu ikut berbaring di belakangnya sambil menaikkan kaki kiri Yoongi keatas. Dan setelahnya Jimin menyodok lubang Yoongi kembali.

"Hyaaah... ber–hen–Aaannh..." Bijinya disenggol oleh kejantanan Jimin untuk ke sekian kali. Nafas Yoongi hampir tercekat setiap bijinya disenggol. Jimin memutar lagi tubuh mungil Yoongi untuk terlentang, dan Jimin semakin gila untuk menyodok lubang sempit yang kini sedang menjepit miliknya dengan sengaja.

"Akh! Nyaah... aanghh... AKH! Mmnnnhh..." sembari tangan putih milik Yoongi meremas rambut milik Jimin dan cumbuan terjadi setelah Yoongi orgasme tapi tidak mengurangi gerakan pinggul Jimin untuk membuat lubang sempit Yoongi lecet.

.

Hoseok menepuk-nepuk tubuh Yoongi agar terbangun dari tidurnya. Lama-kelamaan Yoongi juga merasa terganggu dan akhirnya bangun dari kasur yang empuk. Dia mengerjap beberapa kali, dan seketika sadar. Kemarin bukannya terakhir kali dia berada di permadani untuk... Yoongi panas mengingatnya.

"Sudah bangun tuan putri?" Yoongi kenal suaranya, ini Hoseok. Tunggu, kenapa ada Hoseok disini dan anaknya yang kini sedang asyik bermain game evolusi terdengar dari suara ponselnya. Dimana Jimin?

"Jimin sedang ada pekerjaan mendadak dengan Namjoon, aku dan Haechan disini untuk menemanimu hyung. Tenang saja, permadani laknat itu sudah ada di tempat laundry." Jawab Hoseok seolah tahu akan raut wajah Yoongi yang kebingungan.

"Terima kasih.." Yoongi masih terduduk diatas kasur, terlalu malas untuk berdiri. Hoseok menghampirinya, "Aku ingin tanya, hyung berbohong padaku ya?" Hoseok juga duduk bersila di depan Yoongi. Haechan langsug menghampirinya dan duduk dipangkuannnya. Sejujurnya anak kecil itu masih mengantuk saat Hoseok membawanya ke tempat penginapan Yoongi.

Yoongi bingung disini, siapa yang berbohong? "Aku tidak–"

"Katakan itu pada Eomma Min yang menelpon tadi pagi-pagi sekali untuk menyuruhku mengawasi hyung. Anaknya kini sedang mangandung jabang bayi."

Yoongi tersenyum kecut, mulut ibunya ternyata ember juga. "Ini kejutan untuk Jimin." Hoseok merotasi matanya.

"Dimana ada adik bayi?" suara antusias itu berasal dari Haechan, Yoongi hanya tersenyum. Menyuruh Haechan untuk duduk dipangkuannya, lalu mengelus perutnya yang masih terlihat rata.

"Disini, tapi adik bayi belum bisa keluar. Haechan boleh menyapanya."

"Halo adik bayi, ini Haechan. Kalau adik bayi sudah keluar, main dengan Haechan dan teman-teman Haechan ya?" Yoongi ikut tersenyum, langsung memeluk Haechan erat. "Haechanie sayang samchon dan adik bayi." Hoseok yang melihatnya ikut tersenyum, lalu berpura-pura cemberut.

"Jadi hanya sayang Yoonie samchon?" tatapan Hoseok benar-benar memelas, aktingnya boleh juga.

Haechan langsung menubruk Hoseok, sampai ibunya itu jatuh terlentang di atas kasur dangan dirinya diatasnya memeluk dengan erat. "Tentu saja Eomma juga." Wajah manisnya diusel-usel ke dada Hoseok. Yoongi ikut tertawa melihatnya, tanpa sadar ponselnya berdering. Panggilan masuk.

"Halo–"

"ASTAGA SAYANG! KENAPA KAU TIDAK BILANG SEDANG MENGAN–" Telpon diputus sepihak, telinganya tidak mau rusak mendengar teriakan suaminya pagi-pagi.

"Dasar gila." Hoseok dan Haechan ikut tertawa melihat Yoongi saat itu.

.

.

.

FIN.

.

.

Note:

Maafkan atas deskripsi tempat penginapannya, aku belum pernah kesana sih cuma waktu itu tertarik gara-gara ada reviewnya di youtube.

Ngetik bagian enaena sambil dengerin Stop, Baby don't stop. Edun itu lagunya penuh desah, sial kupingku :'v apa lagu ini sejenis BLCDnya TaeTen :3? /digampar/ mana aku ingat dancenya waktu dagunya Taeyong semacam digelitik gitu sama Ten :'v bikin cewe (re:Fujo) menjerit lemah :'v aku penganut uke Taeyong sebenarnya, tapi lihat ini, aku belok haluan :'v terus paling suka partnya Ten yang Baby~ Baby i just feel so right~ Baby i just feel so nice~ :'3

Selamat ulang tahun untukku dan adek aku Renjun :'v masih gk percaya ultah bisa barengan gini :'v tapi saya masih iri, kenapa dia laki tapi cansnya gk ketulungan (ukeable lah pokoknya) bisa jadi dedengkotnya Yoongi ini mah :'v

Untuk Haechan, aku gemes soalnya persis gitu mukanya sama Hoseok, apalagi rambutnya Haechan yang merah, aduh aku lihat Hoseok kan. Maaf lagi, saya sukanya Namseok dari smp kelas 3 ketimbang Namjin :'3

Terima kasih untuk:

Hantu Just In | Re,rest07 | 7D | rillakumamon (ini sequelnya) | defyoongi | Lita UchiHaruno (salken juga) | Buzlague (ini sequelnya) | Phylindan | shxramin (jangan jadi pelakor antara papih Taekwoon dan mamih Hakyeon mbak :'v) | ParkRin-2494 | awrerei | desmanito (Surabaya barat, arah ke Gresik :'v) | cloud,ky (terima kasih rekomennya) | xxKimmie | loseras

Last, review?