Selamat menikmati
.
.
Sebelumnya, di chapter 1:
"Apa ini berarti kita..err—teman?"
"Hn."
"Apa artinya itu?" tanya Naruto.
"Terserah kau mau menganggapnya apa." Jawab Sasuke sekenanya.
Sapphire milik Naruto langsung berbinar-binar. "Hahahahah! Yes! Akhirnya aku punya teman juga." Teriaknya sambil berhighfive ria.
"Berisik , Dobe!"
"Heheh, Aku hanya terlalu senang, Teme! Kalau begitu aku akan melanjutkan makan—EH?" Naruto menatap nanar pada kotak bekalnya yang sudah kosong. "Kau—Kau menghabiskan bekalku, Teme!"
.
Chapter 2
.
Dua pemuda tampak berjalan di koridor sekolah. Keduanya terlihat begitu kontras. Yang satu pirang, dan yang satunya lagi berambut hitam. Yang satu berkulit kecoklatan dan yang satunya berkulit pucat. Yang satunya beriris biru—walau memakai kacamata—dan yang satunya lagi beriris hitam. Naruto dan Sasuke.
"Dobe! Bisakah kau berjalan lebih cepat?" tanya Sasuke menyeret lengan Naruto.
"Teme! Ini waktu istirahat, pasti mereka akan mengerjaiku lagi disana!" protes Naruto sengaja memperberat langkahnya.
"Tapi, Dobe! Aku lapar dan butuh sesuatu untuk dimakan sekarang!" sengit Sasuke.
"Kita kan bisa memakan—"
"APA? Nasi kepalmu lagi? Apa kau tidak bosan? Lagipula kalau hanya membawa sebanyak itu, aku yakin anak kecil sekalipun tidak akan kenyang." Bantah Sasuke sebelum Naruto mengelak lagi.
Naruto hanya mendesah pasrah ketika Sasuke menyeretnya ke Kantin.
Sebenarnya alasan terbesar yang selalu Naruto hindari adalah, Ia tidak mau mencari masalah dengan anak-anak lain. Ia bosan diejek dan dikerjain tiap kali ia ke kantin. Makanya ia selalu menyendiri di atap sekolah atau di halaman belakang.
Apalagi sejak ia berteman dengan Sasuke seminggu yang lalu, ia jadi punya teman menyendiri untuk menemaninya menyendiri di tempat-tempat ia biasa menyendiri.
Tapi sekarang, mungkin Sasuke sudah bosan mengikuti gaya menyendirinya selama seminggu ini. Makanya sekarang ia diseret ke kantin.
Naruto menyamakan langkahnya dengan Sasuke ketika mereka sudah tiba di depan kantin. Penghuni kantin tiba-tiba terdiam dan menatap tajam ke arahnya ketika ia menginjakkan kakinya ke dalam. Beberapa dari mereka terlihat berbisik.
"Apa ada masalah hingga kalian menatap seperti itu?" ucap Sasuke agak sedikit keras. Ia terus terang tidak suka ditatap seperti itu. Walau dalam artian sebenarnya, tatapan itu untuk Naruto. Tapi tetap saja Sasuke tidak suka.
Masih belum bergerak, Sasuke memberikan tatapan terkeji miliknya sebagai balasan. Adu pandang satu lawan banyak berakhir dengan menyingkirnya anak-anak 'anti-Naruto' itu. Mereke memberikan jalan untuk Sasuke dan Naruto. Walaupun masih dengan raut wajah tidak ikhlas dan cibiran-cibiran kecil.
Naruto bersyukur. Walau masih sedikit sungkan, ia mengekor pada Sasuke menuju konter untuk memesan makanan.
"Aku pesan ramen dua, jus jeruk dan jus tomatnya masing-masing satu." Kata Sasuke lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya. Ia membawanya dengan nampan ke salah satu meja yang kosong.
"Kau mau berdiri terus hingga masuk atau duduk di situ lalu habiskan makananmu, Dobe?" ucap Sasuke pada Naruto yang berdiri saja sejak tadi.
Naruto duduk di samping Sasuke sambil nyengir tidak bersalah.
"Bagaimana kau tahu aku suka ramen, Teme? Kau bisa membaca pikiran ya?" tanyanya sambil mengeluarkan sumpitnya dari kemasan.
"Hn." Jawab Sasuke sekenanya. Dia mulai memasukkan mie ke dalam mulutnya.
Dan mereka mulai menikmati ramennya dengan khidmat setelah Naruto mengucapkan 'itadakimasu' dengan suara yang terlewat keras.
Skip time: Satu mangkuk ramen kemudian
dua mangkuk ramen kemudian (untuk Naruto, karena Sasuke sudah kenyang dengan satu mangkuk.)
tiga mangkuk ramen kemudian…
empat mangkuk ramen kemudian…
Sasuke memang dari awal berniat mentraktir Naruto. Akhirnya menyesali keputusnnya itu. Ia tidak menyangka Naruto akan menghabiskan empat mangkuk. Yang ada di pikirannya adalah Naruto ini sangat suka dengan Ramen atau memang sedang kelaparan. Kesimpulannya, kedua hal itu memang benar.
Sasuke menggeleng pasrah.
Ia bersyukur ketika lonceng masuk berbunyi yang artinya… Naruto menghentikan makannya dan tidak ada lagi mangkuk kelima.
Selesai deklarasi "Ah, Kenyangnya" dari Naruto, Sasuke buru-buru menyeret Naruto keluar dari kantin dan menuju kelas mereka. Ludes sudah uang sakunya hari ini...
.
.
.
Sasuke senang karena akhir-akhir ini, Naruto sudah mau mengikuti pelajaran dengan normal. Walau dalam beberapa part seperti pelajaran matematika, ia masih saja tertidur pulas. Dan ketika Sasuke bertanya alasannya…
"Matematika itu seperti obat bius untukku! Heheheh…"
Tentu saja dengan tawa garing dan cengiran lebar di akhir jawaban.
Satu hal yang membuat Sasuke senang, Naruto sudah lebih ceria dari seminggu yang lalu. Si Pirang harus berterimakasih padanya karena berada di dekatnya membuatnya terhindar dari serangan caci maki dan bully dari kelompok anti-Naruto.
Sebenarnya mudah saja untuk Sasuke. Karena satu hal yang tak pernah Naruto tahu, bahwa Sasuke adalah anak ketua Yayasan di sekolah ini,. Tentu saja hal itu membuatnya disegani oleh yang lain.
Sasuke menyeringai bangga dengan nama Uchiha yang disandangnya. Baru kali ini.
Ternyata nama Uchihanya bisa berguna juga. Berguna untuk orang seperti Naruto yang butuh perlindungan.
Jika ada hal yang ia suka dari Naruto, maka ada juga yang ia benci. Seperti yang satu ini…
"Hei, Teme! Boleh aku menyalin tugas metematika mu? Kau kan tahu aku paling tidak bisa di pelajaran itu. Lagipula kalau dipikir-pikir, di sekolah ini hanya kau saja temanku. Boleh ya?" Sasuke hanya memasang wajah datar biasanya menghadapi wajah memelas si pirang.
Sasuke bisa saja bersikap dingin seperti biasa dan menolaknya dengan tak berperasaan. Tapi… ia selalu mengalah apalagi kalau Naruto mulai mengiming-imingi dengan kata 'hanya kau temanku'. Membuat Sasuke mendengus pasrah.
Ditambah lagi, Sasuke dan Naruto sudah duduk sebangku. (lebih tepat kalau dibilang, Naruto yang mengungsi ke bangku milik Sasuke, mengingat bangkunya sudah jadi rongsokan.)
"Dan, Teme…" kata Naruto menghentikan kegiatan menyalinnya. "Kau mau tidak mengajariku matematika? Kau kan tau ulangan harian minggu depan… oke?" katanya lalu nyengir kuda.
"Hn. Sepulang sekolah, ikutlah dengan ku." Ucap Sasuke.
"Kau memang satu-satunya temanku yang paling baik Sasuke." Balasnya lalu kembali mencatat.
Tanpa sepengetahuan Naruto, Sasuke menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
.
.
.
Sekarang Naruto sedang terpaku menatap sebuah pemandangan mencengangkan baginya. Mulutnya menganga saking takjubnya.
Ia sedang berada di depan gerbang sebuah mansion. Mungkin lebih pantas disebut Istana daripada rumah. Bangunan putih itu bergaya ala bangunan Eropa dengan tiang-tiang berukir sebagai penyangga dan kubah besar sebagai atapnya. Pagarnya saja tingginya mencapai sepuluh meter.
"Dobe!" Sasuke memanggil sambil menepuk pundak Naruto agar temannya itu segera sadar dari kagetnya. "—kalau mau kita bisa disini sampai besok hingga aku tidak perlu repot-repot membantumu belajar." Katanya dengan sarkastik.
Sasuke mendengus. Naruto masih belum sadar sepenunya dan terpaksa menyeret Naruto masuk ke dalam rumah Sasuke.
.
"Kau tidak pernah bilang kalau kau orang kaya, Teme!" kata Naruto sambil membetulkan letak kacamatnya. "Asal kau tau, aku belum pernah masuk ke dalam rumas sebesar punyamu ini!"
"Hn. Apa perlu aku mengatakannya? Lagipula semua ini bukan punyaku." Balas Sasuke. Mereka bedua sudah berada di kamar Sasuke. Di lantai dua mansion ini.
Selama perjalanan ke kamar saja, Naruto tidak berhenti terkagum-kagum dengan kekayaan milik keluarga Uchiha. Berbagai perabot antic dan lukisan-lukisan karya maestro terkenal banyak ia jumpai di rumah ini. Yang pasti harga untuk semua itu lebih dari sekedar mahal untuk Naruto.
Naruto berguling di kasur empuk milik Sasuke. "Bukan punyamu? Maksudnya?" katanya sambil menatap ke langit-langit kamar.
"Yeah, ini semua punya keluargaku. Bukan milikku." Ucap Sasuke datar. Ia berjalan menuju meja belajar miliknya dan mengambil satu dari deretan buku-buku tebal yang tersusun rapi disana. Kemudian mengambil posisi duduk di samping Naruto.
Naruto membalik tubuhnya hingga ia dalam posisi tengkurap. "Kalau aku jadi kau, aku akan membeli Ramen yang banyak lalu ku bagikan ke anak-anak panti. Mereka pasti akan senang sekali." Ucapnya sambil tersenyum. "—lalu kenapa kau selalu mengenakan sepeda ke sekolah? Harusnya dengan kekayaan seperti ini kau bisa saja membeli motor atau mobil mewah, mungkin?"
Sasuke mengalihkan fokusnya dari buku, lalu menatap Naruto. "Kan sudah kubilang Dobe, keluargaku yang kaya—bukan aku." Jawabnya. "Dan aku lebih suka sepeda pemberian kakakku itu."
Naruto mengangguk puas. "Tapi—"
"STOP! Membahas hal tidak penting seperti ini tidak akan ada habisnya. Lebih baik kau ambil bukumu dan kita belajar, oke?" potong Sasuke. Naruto mengembungkan pipinya kesal, lalu meraih tasnya untuk mengambil buku miliknya.
.
"Jadi, secara umum untuk merasionalkan bentuk akar dapat diperoleh dengan mengalikannya dengan bentuk sekawannya. Contohnya—seperti ini…" kata Sasuke sambil menggerakkan pensil di tangannya menuliskan beberapa deret angka dalam pecahan. "—mengerti?" Naruto hanya mengangguk ragu.
"Oke, kalau begitu coba kerjakan saja soal yang ini." Sasuke menyodorkan buku miliknya. Dan Naruto pun mulai menyalin soal itu di kertas kosong di hadapannya.
Sejak mulai mengerjakan satu nomor soal itu, Sasuke bisa menangkap beberapa ekspresi Naruto yang berubah-ubah. Sedikit-sedikit menggaruk-garuk dahinya, memonyong-monyongkan bibirnya, meniup-niup poninya sendiri, dan Sasuke tahu Naruto sedang kepayahan sekarang.
Dengan diam, Sasuke meraih kamera kesayangannya dan…
KLIK
Sasuke melihat layar kameranya, disana ada wajah Naruto dengan ekspresi lucu sambil menggigit pensilnya.
Sasuke menyimpan kameranya kembali sebelum si Pirang menyadarinya.
"AAARRGGGH. Kepalaku mau pecah!" teriak Naruto frustasi.
"Dobe! Kau payah."
Sasuke menarik soal Naruto. "Begini saja tidak bisa. Kan sudah kujelaskan tadi, Dobe." Ujar Sasuke kesal. "—kau tinggal mengalikan ini dengan pecahan serupa yang bernilai satu. Berikutnya tinggal mengalikan penyebut dengan penyebut dan pembilang dengan pembilang—seperti ini." Naruto mengangguk-angguk lagi.
"Anggukanmu itu berarti kau 'mengerti' atau kau 'menyerah', hn?"
Naruto nyengir.
"Sudah kuduga. Sejak tadi kita belajar pasti kau tidak mengerti sedikitpun kan, Dobe?" bentak Sasuke frustasi.
Naruto menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Jangan salahkan aku, Teme! Pelajaran ini memang tidak cocok untuk otakku."
"Memangnya ada pelajaran yang masuk ke otakmu? Otakmu itu memang harus di upgrade, Dobe! Dasar bodoh." Naruto menutup bukunya dengan kesal.
"Aku tidak bodoh, Teme! Sekarang aku tanya—Sebutkan kru Bajak Laut Topi Jerami dari manga One Piece?" Naruto melipat tangannya di depan dadanya.
Sasuke menatap Naruto datar.
"Kau tidak tau kan?—Luffy, Zoro, Nami, Usopp, Sanji, Chopper, Robin, Franky, dan Brook." Naruto menyeringai bangga. "Ini bukan masalah bodoh atau tidak, kita hanya memiliki ketertarikan pada hal yang berbeda."
Sasuke mendengus bosan. "Memangnya ilmumu itu diujikan di sekolah, begitu?" ucapnya santai…
"Kau bisa mengisi itu di lembaran jawabanmu nanti, Dobe!"
.
.
.
"Ulangan hariannya besok! Bagaimana ini, Teme?"
Sasuke menjauhkan telinganya dari Naruto yang tidak berhenti berteriak sejak sekolah usai tadi. "Santai saja, dan pelajari kembali yang aku ajarkan kemarin. Apa tidak cukup aku mengajarimu selama hampir seminggu ini?"
Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri. Membuat beberapa orang yang melintas dekat mereka menatap heran. Mereka berdua memang sedang berjalan pulang, karena kebetulan Sasuke tidak membawa sepedanya hari ini.
"Aku sudah mengerti beberapa bagian. Tapi tetap saja aku gugup. Nilai ulangan besok menentukan nasibku. Kakashi-sensei bilang kalau nilaiku jelek aku akan didepak dari sekolah. Ditambah lagi absenku yang memang kotor."
"Salahmu sendiri, Dobe!" ucap Sasuke datar.
Ketika hendak berbelok ke jalan biasa yang mereka lalui, tiba-tiba Naruto menarik tangan Sasuke. "Kita jangan pulang dulu. Temani aku ke suatu tempat dulu." Ucap Naruto.
"Hn."
Naruto tersenyum senang. Kemudian menuntun Sasuke ke sebuah jalan yang berlawanan arah dari panti dan rumah Sasuke. "—kita mau kemana, Dobe?" tanya Sasuke. Ia berjalansantai di belakang Naruto sambil memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya.
Naruto tidak menjawab. Ia hanya memberi satu senyum simpul di bibirnya.
Mereka semakin jauh berjalan hingga berbelok ke sebuah jalan setapak yang hanya beralaskan rumput. Kalau tidak salah, jalan ini menuju ke sebuah pemakaman, pikir Sasuke.
Benar. Seperti dugaan Sasuke, Naruto membawanya ke sebuah pemakaman umum. Kalau ini malam hari, Sasuke pasti akan dengan tegas menolak tawaran Naruto.
"Kau...mau apa kesini, Dobe?" tanya Sasuke penasaran.
"Diam dan ikut saja, Teme!"
"Tapi—" Sasuke diam tiba-tiba mendapati Naruto kini berhenti di dua buah makam dan berlutut di samping makam-makam itu. Tepat di batu nisan itu ia bisa membaca dengan jelas nama yang terukir disana. 'Minato Namikaze' dan 'Kushina….Uzumaki?'
'Orangtua Naruto' batin Sasuke.
"Selamat siang, Ayah, Ibu." Naruto mulai berbicara. "—maaf aku baru menengokmu sekarang. Kalian tidak marahkan? Aku sedang sibuk dengan sekolahku sekarang. Besok kami ada ulangan, aku bingung harus bagaimana sekarang. Aku takut akan dikeluarkan dari sekolah. Kalian pasti kecewa sekali melihat anak kalian yang bodoh ini. Aku hanya berharap…urusanku di dunia bisa lancar-lancar saja dan aku bisa cepat menyusul kalian."
Dari sudut mata Sasuke, ia bisa melihat setetes air mata meluncur dari balik kacamata Naruto. Ia segera mengambil posisi di samping Naruto. Ia menepuk halus pundak sahabatnya itu.
Naruto tersenyum. "—tapi tenang saja, aku tidak akan menyusul kalian sebelum membuat kalian bangga." Naruto mengepalkan kedua tangannya lalu menutup mata. Ia berdoa.
Sasuke mau tidak mau ikut berdoa bersama Naruto. Sasuke berucap dalam hati, 'Aku akan menjaganya untuk kalian.'
.
.
.
Hari ini tepat ulangan harian matematika diadakan.
Naruto sudah mati-matian belajar semalam. Ia bahkan rela begadang sampai tengah malam. Ini akan menentukan nasibnya di Sekolah ini. Dua dari nilai mata pelajarannya sudah jatuh, yaitu Bahasa Inggris dan Kimia. Itu berarti jika ia gagal ulangan hari ini, maka nilai rusaknya genap menjadi tiga. Yang berarti ia harus dikeluarkan dari sekolah.
Sejak kertas ulangan dibagikan oleh Kakashi-sensei, Naruto mulai berkonsentrasi dengan angka-angka disana. Ia tidak menengok kanan-kiri seperti ia yang biasanya.
Otaknya sibuk beradu dengan rumus-rumus yang Sasuke ajarkan dan yang ia pelajari sendiri. Untung saja sebelum ulangan tadi, ia sempat membuka buku dan membacanya sekilas lagi untuk sekedar mengingatkan.
Dari samping, Sasuke sempat melirik teman pirangnya itu. Dan menyunggingkan senyum—terlewat—tipis.
Hingga lima menit menjelang waktu berakhir, Sasuke sudah menyelesaikan bagiannya dan berdiri untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Ia sempat melirik Naruto yang masih terlihat mencorat-coret kertas buram miliknya.
Sasuke berjalan keluar kelas. Ia tidak menunggu Naruto keluar. Ia menuju ruang osis untuk menghadiri rapat bulanan. Lagipula Naruto juga belum selesai ulangan. Meninggalkan Naruto sebentar tidak akan menimbulkan masalah, bukan?
.
Naruto berjalan keluar dari kelas ketika kertas ulangan miliknya sudah terisi penuh dengan jawaban. Ternyata ulangannya lumayan gampang. Tidak sia-sia ia berguru pada Sasuke selama seminggu belakangan ini.
Eh! Ngomong-ngomong dimana Teme? batinNaruto.
Naruto mengedarkan pandangannya. Biasanya Sasuke menunggunya di depan kelas atau di bangku taman depan kelas. Tapi tak ada sosok yang ia cari disana. 'Apa mungkin ke kantin?' pikir Naruto. Ia melangkahkan kakinya ke sana.
Baru setengah perjalanan, Naruto berhenti. "Tidak mungkin ia ke kantin tanpa mengajakku. AH! Mungkin kesana."
Naruto memutar arah menuju tempat yang ia duga ada Sasuke berada. Naruto tahu kalau Sasuke bukan orang yang suka berada di keramaian seperti di kantin. Kalau ia berpikir sebagai Sasuke, mungkin satu-satunya tempat yang tepat adalah disana.
Di atap sekolah.
Tempat mereka biasa menghabiskan bekal Naruto. Tempat mereka biasa membolos.
Sesampainya disana, Naruto membuka pintu yang menghubungkan ke tempat itu. Pintunya memang selalu macet ketika gagangnya diputar. Cuma orang-orang tertentu yang bisa membukanya. Dengan cara tertentu pula.
Naruto memutar gagangnya ke kanan satu kali, lalu ke kiri dua kali, lalu ke kanan lagi dan diberi sedikit dobrakan kecil, dan…
BRAK
Pintu itu terbuka.
Dan tidak ada siapa-siapa disana.
Naruto berjalan menuju panggar pembatas. Ia rasa lebih baik menunggu Sasuke disini. Sambil merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya.
Tanpa disadari oleh Naruto, sejak tadi seseorang mengikutinya.
Naruto berhenti tiba-tiba, ia berbalik ke belakang, dan…
Tidak ada siapa-siapa… tapi ia sempat melihat bayangan seseorang. Mungkin ia yang salah lihat.
Naruto membalikkan badan, lalu melepas kacamatanya. Ia menggunakan kain di kantongnya untuk mengelap kacanya. Agak sedikit buram kacamatanya itu.
TAP
Naruto berhenti bergerak. Sekarang telinganya yang mendengar suara langkah seseorang dari arah belakangnya. Ia tidak langsung berbalik. Ia memilih focus mendengar untuk memastikannya.
TAP
Benar suara itu lagi. Tubuh Naruto menegang.
TAP
Suara langkah lagi. Tapi Naruto membuang pikiran negatifnya karena sebuah pemikiran lain baru saja merasuki otaknya. Siapa lagi yang tahu tempat ini selain ia dan orang itu. Siapa lagi yang tahu cara masuk kesini selai dia dan orang itu. Siapa lagi yang mengklaim tempat ini sebagai tempat favoritnya selain dia dan orang itu.
Yah, orang itu. Sahabatnya.
"Kau dari mana saja. Aku mencarimu tau—" Naruto berbalik. "TEM—"
BUAGH
Satu hantaman balok kayu mengenai leher Naruto bagian kanan dan membuatnya tak sadarkan diri…
.
.
'Teme…'
Satu suara itu tiba-tiba terdengar di pikiran Sasuke. Suara Naruto yang memanggilnya dengan julukan seperti biasa.
Entah mengapa suara itu terdengar lirih dan menyedihkan. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
'Sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto.'
.
.
.
To be continue
.
Bagi yang tidak suka, silahkan melewatkan part-part di bawah! Dan menuju kolom pengisian review! ;D baru menuju chapter selanjutnya! ^^/
Balasan Review:
Meringkas sekaligus menjawab semua pertanyaan di review, aku senang ternyata banyak yang sependapat denganku mengenai 'uke tidak harus kecewekan' itu. Dan aku akan berusaha semaksimal mungkin supaya ff ini tidak terlantar dan updatenya bisa secepat mungkin. Aku juga minta maaf untuk pecinta Naruto karena aku sudah membuatnya terlalu menderita disini. Tapi ga nyangka juga ada yang senang dengan hal itu, hehehe! Oh ya, pair di ff ini SN yah, bukan NS, gomen! Dan saya senang karena ada yang memberikan kriktik mengenai kecepatan alur ff ini. Aku akan berusaha memperbaiki kesalahan saya yang masih banyak itu. Thanks sudah mengingatkan. ^^ Dan lagi mudah-mudahan rasa penasaran anda tentang kelanjutan ff ini bisa terus berlanjut (^^)/
SPECIAL THANKS TO:
Kazuki NightFlame47 :: sasunaru4ever :: NN :: ttixz lone cone bebe :: ChaaChullie247 :: Ristha wuff yu :: Namikaze lin-chan :: Superol :: AM-NYM :: Micon :: kiki uzumaki :: chocho mami-Riicho :: shiho Nakahara
Ps: nama yang di-bold itu untuk reviewers yang log-in
.
Sekali lagi terima kasih banyak bagi yang sudah membaca dan mereview. Juga untuk para SIDERS (Silent Readers). Bagi reviewers yang ga log-in usahakan ga usah ganti nama klo review, biar aku tau dan tetap mengenali kalian! Juga untuk yang sudah meng-alert sampai memfavoritkan ff ini! *terharu. Mudah-mudahan kalian setia menanti ff ini sampai tamat. Oke, sebelum menuju chapter selanjutnya, silahkan di review dulu…. ;)
Sekilas di chapter berikutnya:
'Teman pirangmu dalam masalah. Tidak ikut menonton?'
"Hahahahahaha! Kami Cuma ingin bersenang-senang, tidak ada yang lain."
"Permainan belum selesai, pirang!"
"Itu akibatnya kalau berusaha melawan."
"Setelah ini kau harus membayarku karena sudah merepotkanku seperti ini, Dobe!"
"Kau—sedang tersenyum, Teme?"
