My Dangerous Boyfriend
Pair/Main Cast:: KrisTao/TaoRis (Wu Yi Fan – Huang Zi Tao)
Rated:: T
Genre:: Romance, Fluffy
Warning:: BOYS LOVE, SHOU-AI, typo bertebaran, gaje, maksa, abal, aneh, tidak sesuai EYD, pokoknya DON'T LIKE DON'T READ!
^^ HAPPY READING ^^
.
.
.
"Sekian dulu perjumpaan kita. Kumpulkan tugas kalian besok pagi!" Setelah mengatakannya, Mrs. Lee segera melesak pergi dari kelasnya.
Jam tanda pulang telah berbunyi sehingga mengharuskan dia untuk mengakhiri pelajarannya.
Semua murid berteriak senang dan bergerak cepat merapikan peralatan belajar mereka ke dalam tas masing-masing. Sama halnya dengan apa yang dilakukan seorang pemuda panda saat ini. Tao sedang membereskan peralatan belajarnya, berbeda dengan seorang pemuda berambut pirang yang masih terlelap diatas meja belajarnya. Kris, ia sudah tertidur dari awal pelajaran Mrs. Lee. Tao sudah membangunkannya sejak awal tetapi Kris hanya mengerang "Hm" sebagai jawabannya lalu kembali tidur.
Tidak ada satupun yang berani membangunkan atau mengusik sang naga ketika ia sedang tidur, kecuali satu orang. Tao.
Mrs. Lee takut jika kejadian setahun yang lalu kembali terjadi padanya jika dia masih bersikeras untuk membangunkan sang naga. Alhasil, Mrs. Lee berpura-pura tidak melihat Kris yang tertidur di dalam kelasnya. Bukan hanya Mrs. Lee yang takut membangunkan Kris tetapi semua guru yang mengajar di sekolah ini.
Pernah sekali, ada kejadian dimana Kris memukul seorang guru. Saat itu ia sedang tidur diatas meja belajarnya sama seperti sekarang. Guru itu berjalan menuju tempat tidurnya dan memukul kepalanya dengan bukunya. Merasa terganggu, Kris pun berdiri dari tempat duduknya dan memukul guru itu hingga hidungnya patah. Kelas saat itu menjadi ribut karena siswa-sisiwi yang berteriak ketakutan melihat kejadian itu. Saat itu Tao sedang sakit dan tidak masuk sekolah, jadi tidak ada yang berani untuk menenangkan Kris, hingga seorang siswa pergi keruang guru dan memberitahukan kejadian tersebut. Siswa itu datang bersama beberapa guru dan security untuk menenangkan Kris yang saat itu dengan brutal memukul guru itu.
Setelah kejadian itu, tak ada satupun guru yang berani membangunkannya ketika ia sedang tidur. Dan terdengar bahwa guru yang dipukul oleh Kris masuk rumah sakit dan harus menerima perawatan secara insentif oleh dokter.
Ketika Tao mendengar berita itu, ia menghukum Kris mengikuti seluruh pelajaran selama satu minggu tanpa membolos dan tidur di kelas barang seharipun dan sebelum hukuman itu selesai, ia tidak boleh berbicara, mendekati Tao atau pun pergi ke rumah Tao. Alhasil, Kris harus menjalani hukuman itu, bahkan ia harus menahan diri untuk tidak berbicara ataupun pergi kerumah Tao selama satu minggu. Kris bahkan tidak membolos atau tidur di dalam kelas selama pelajaran berlangsung. Kris tidak mau berlama-lama berjauhan dari Tao.
Tao menatap punggung Kris–tempat duduk Kris berada di depannya.
Ia menggeleng kecil melihat Kris yang masih nyaman diatas mejanya. Ia berjalan ke sisi tubuh Kris yang masih tertidur diatas meja belajarnya.
"Gege?" Tao menggoyang pelan bahu Kris.
"Mm?" Gumam Kris kecil. Ia tak bergerak sedikitpun dari tidurnya. Sepertinya hal yang dilakukan Tao tidak terlalu berarti sama sekali. Kris kembali tidur.
"Fanfan, bangun!" Kali ini Tao menepuk bahu Kris. Dan sepertinya hal itu berhasil. Kris bergerak lalu menoleh kesamping, dimana Tao berdiri. Ia mendongak keatas, mendapati Tao yang sedang tersenyum manis untuknya.
Tao menunggu Kris untuk berbicara, tapi pemuda pirang itu tetap diam dan malah mengacak rambutnya hingga rambutnya yang memang sudah berantakan semakin berantakan. Kemudian dia berdiri tak lupa mengambil tasnya lalu merangkul pinggang Tao.
"Aku lelah!" Kris dan Tao meninggalkan kelas mereka dan berjalan beriringan.
Kris dan Tao berjalan dengan santai, mereka mengabaikan tatapan yang diberikan oleh siswa-siswi disekitar mereka. Ada yang menatap kagum, ada pula yang menatap mereka ketakutan–pada Kris. Siswa-siswi yang berjalan disekitar mereka memang sudah mengetahui hubungan keduanya. Kris dan Tao memang bukanlah pasangan yang populer disekolah. Hanya saja karena perangai Kris layaknya 'monster', membuat mereka cukup di kenal. Tao sangat baik dan ramah, berbeda dengan Kris, ia mudah marah jika diusik. Bahkan dia sangat cuek dan dingin pada orang-orang disekitarnya, kecuali pada Tao.
"Tapi wajahmu tidak menunjukan bahwa kau lelah!" Tao menepuk pelan pipi kanan Kris pelan. Kris memang tidak lelah, ia hanya mengantuk. Wajahnya sangat menunjukan bahwa dia memang mengantuk. Apalagi sedari mereka keluar dari kelas, pemuda pirang itu selalu menguap.
Kris menoleh kesamping, ia memberikan deathglare tajam namun lembut kearah pemuda panda disampingnya. Tao hanya tersenyum polos menanggapi deathglare dari Kris. Dia tidak pernah merasa takut dengan deathglare yang diberikan Kris. Baginya, Kris seperti memberikan puppy eyes dog untuknya, dimatanya itu sangat manis dan lucu.
"Aku lelah~" Kris menyandarkan kepalanya diatas kepala Tao. Ia sedang merajuk. Ia ingin Tao menghiburnya dengan kata-kata manis lalu memeluknya hangat, bukan mengatainya. Tangan kanannya masih setia melingkar disekitar pinggang Tao, bahkan pelukannya semakin erat. Ia ingin perhatian dari Tao.
"Ugh...Kau berat!" Tao memukul perut Kris pelan. Kris meringis kecil. "Ini semua salahmu karena begadang hingga pagi demi menonton team kesayangmu bertanding. Kau bahkan melewatkan makan siang pertamamu hanya untuk tidur."
Kris melepaskan kepalanya dari Tao. Ia memutar matanya malas lalu kembali menguap. Ia merasa Tao sangat cerewet hari ini. Dari pagi saat mereka berangkat ke sekolah hingga saat ini, ketika mereka hendak pulang. Apa salahnya dia begadang? Toh, dia hanya ingin menonton team kesayangannya bertanding dan bukan membaca majalah dewasa atau pergi keluar rumah hingga subuh.
Tao terkadang seperti ibu-ibu, pikir Kris. Dia selalu menceramahinya setiap saat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Semuanya dia ceramahi. Bahkan ketika dia membaca majalah dewasa pun diceramahi. Padahal membaca majalah dewasa juga salah satu kebutuhan seorang lelaki. Lagipula dia juga sudah dewasa untuk membaca majalah itu. Tapi, Tao mengambil semuanya dan membakarnya hingga tak tersisa. Padahal majalah-majalah itu adalah milik temannya. Alhasil, keesokannya dia memberikan ganti rugi kepada temannya, pemilik majalah-majalah itu.
Meskipun begitu, Kris sangat senang Tao memperlakukan dia seperti itu. Dia menyukai perhatian dari Tao.
"Kau sangat ceweret!" Kris mencubit pipi Tao pelan. Tao memukul tangan Kris sebagai balasannya.
"Aku ti-"
"K-Kris sunbaenim!" Sebuah suara memotong ucapan Tao. Suara itu memanggil Kris. Kris dan Tao menoleh ke belakang, disana ada seorang pemuda sedang berdiri gugup. Matanya menyiratkan rasa takut disana. Pemuda itu adalah pemuda yang tadi pagi dipukul oleh Kris di kelas, Yeo Hoon Min. Pipi pemuda itu lebam dan bibir kirinya sedikit pecah.
Kris menatap Hoon Min tajam, ia tidak suka dengan pemuda itu, sejak dia berusaha medapat perhatian dari Tao. Merasakan tatapan tajam dan ketidaksukaan dari Kris, Hoon Min begerak mundur beberapa langkah kebelakang. Ia takut, jika dia tidak mundur beberapa langkah, Kris akan menyerangnya dan memukulnya hingga wajahnya tidak berbentuk lagi. Apalagi tatapan Kris padanya sangat menakutkan, menusuk dan bisa membunuhnya bila mungkin.
Kris melepaskan pelukannya dari pinggang Tao. Ia mengepalkan tangan kanannya. Rasa tidak sukanya pada pemuda itu setelah kejadian tadi membuatnya membenci pemuda itu. Ia ingin sekali menghampiri pemuda yang tengah ketakutan disana dan memukul wajahnya hingga tak berbentuk tapi diurungkannya. Ia tidak mau Tao menjauhinya. Sedangkan disisi lain, Tao hanya berdiri dan menatap Kris. Ia menatap Kris khawatir, akankah Kris memukul Hoon Min lagi? Tetapi tidak! Kris hanya berdiri di tempatnya berada, menatap lurus Hoon Min, walaupun sebelah tangannya telah mengepal erat. Ia tahu bahwa Kris tidak akan memukul Hoon Min. Kris sudah berjanji padanya.
Kris menghembuskan napas berat dan kasar. Ia harus bisa mengendalikan dirinya. "Ada apa memanggilku?"
"A-Aku minta ma-maaf atas kejadian tadi pagi!" Hoon Min gugup. "Ma-Maafkan aku, sunbaenim?" Ia membungkuk sebagai tanda maaf atas kejadian tadi pagi.
Kris dan Tao menatap pemuda didepan mereka tidak percaya. Ini pertama kalinya seseorang meminta maaf kepada Kris, padahal dia adalah korban kekerasan dari sang dragon. Pahdal, orang yang harus meminta maaf bukanlah dia melainkan Kris, yang sudah memukulnya. Sulit dipercaya.
Kris menguap sekali lagi. Ia sangat mengantuk. "Hanya itu?" Hoon Min mendongak. Ia menatap Kris tidak mengerti tapi ada rasa khawatir dalam hatinya. Mungkin saja Kris tidak puas dengan permintaan maafnya dan menyuruhnya untuk melompat dari atas gedung sekolah. Mungkin saja. Apapun bisa dilakukan oleh Kris, sang dragon selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Hoon Min meneguk ludahnya paksa. Ia menunggu ucapan selanjutnya yang akan keluar dari bibir Kris. Dalam hati dia berdoa, semoga Kris tidak menyuruhnya untuk melakukan tindakan gila nan berbahaya.
Kris melihat ada rasa cemas di wajah Hoon Min. Pemuda itu mungkin berpikir bahwa dia akan menyuruhnya untuk melakukan tindakan berbahaya. Kris tertawa dalam hatinya, seperti itukah pikiran pemuda itu tentangnya. Sungguh bodoh! Pikir Kris. Dia tidak mungkin dan tidak akan mungkin menyuruhnya untuk melakukan hal gila dan berbahaya. Dia tidak sekejam itu. Tapi, cukup kejam.
"Lupakan saja masalah itu. Aku sudah melupakannya!" Hoon Min terbelalak sama halnya dengan Tao yang berada di sebelah Kris. Mereka berdua tidak percaya dengan apa yang baru saja Kris ucapkan. Selama ini, Kris yang Tao kenal begitu pun orang lain, tidak pernah mengenal kata ampun jika sudah menyangkut Tao. Dia dikenal kejam dan tidak akan memaafkan siapapun yang berani mendekati kekasihnya, miliknya yang berharga. Sekalipun mereka mendekat, mereka akan berakhir di rumah sakit hingga berminggu-minggu.
Ini adalah sebuah perubahan yang besar dari Kris dimata Tao. Sulit untuk mempercayainya, tapi ini benar-benar terjadi. Tao tak tahu harus melakukan apa. Apa harus memeluk Kris atau memujinya. Ia tak tahu. Dia hanya berdiri dan tersenyum manis.
Kris kembali menguap. Ia sangat mengantuk hari ini. Waktu tidurnya belum cukup untuk menghilangkan rasa kantuknya. Ia ingin segera pulang ke rumah dan tidur sepuasnya. Tapi, pemuda di depannya masih berdiri mematung di depannya sambil menunjukan mata besar miliknya. Dia berdiri disini bukan untuk melihat mata besar pemuda itu.
Karena menunggu terlalu lama jawaban dari pemuda itu, Kris mendecih kesal. "Oi!" Hoon Min terkejut. Ia tersadar dari lamunan panjangnya dan menatap Kris takut. Ia membungkuk berkali-kali sambil bergumam 'maaf'
"Pergilah! Aku tidak mau melihatmu!" Kris menggunakan tangan kirinya, menggerakan mereka seperti mengusirnya. Hoon Min segera berdiri tegap.
"Go-Gomawo, Sunbaenim!" Hoon Min mengangguk dan berlari secepatnya meninggalkan Kris dan Tao. Ia berlari melewati Kris dan Tao tanpa menengok barang sedikit pun. Aura Kris tidak baik untuk kesehatannya.
Kris menoleh kesamping, mendapati Tao yang sedang tertawa. Ia mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti apa yang Tao tertawakan. "Ada yang lucu?"
Tao menatap Kris dan mengangguk. "Dia memanggilmu 'sunbaenim'. Apa gege tidak mendengarnya?"
"Benarkah?"
Tao mengangguk sambil membuat angka tiga dengan tangannya di depan wajah Kris. "Tiga kali!"
"Aku benar-benar tidak menyukainya."
"Hm, aku tahu!" Tao bergumam kecil namun masih bisa di dengan oleh Kris. "Kau bahkan sudah membuatnya ketakutan!" Tao tertawa kecil. Kris menoleh kearah Tao dan menatap kedua iris Tao. Mata yang di kaguminya. Mata yang selalu di pujinya sebagai mata yang paling cantik dan paling indah yang pernah ia lihat di dunia ini. Mata yang selalu bisa menangkannya. Kris menatap mata Tao cukup lama, hingga tak sadar sudah membuat pemuda yang di tatapnya merona dan salah tingkah.
Tak tahan dengan tatapan Kris, Tao memukul pelan pipi Kris, menyadarkan pemuda pirang itu. Tersadar, Kris berbalik menatap Tao dengan wajah kesal.
Tao menghancurkan momen indah mereka berdua. Seharusnya setelah mereka bertatapan, Kris harus mencium bibir Tao. Hal itu sudah direncanakannya. Kris mengerang kesal dalam hati.
Tao sudah berjalan lebih dulu darinya, meninggalkannya di belakang. Kris memanggil Tao, tapi pemuda itu hanya berbalik dan menjulurkan lidahnya, mengejek Kris. Tak terima, Kris berlari menuju Tao, memeluk pinggang Tao kembali dan mencium pipinya, membuat semua siswa-sisiwi melihat moment itu tersipu malu.
My Dangerous Boyfriend
"Tao?" Ny. Huang memanggil Tao. Wanita berumur sekitar 30-an itu adalah ibu Tao, dan satu-satunya keluarga Tao. Ayah Tao sudah meninggal ketika Tao berusia 6 tahun. Ny. Huang bekerja di sebuah rumah sakit jiwa sebagai perawat.
"Hm?" Tao bergumam sebagai balasannya. Ia saat ini sedang menata makan malam mereka di atas meja makan.
Sedangkan Ny. Huang sedang mengaduk sup daging. Mereka tinggal menunggu supnya matang lalu menyajikannya dan memakannya bersama-sama.
"Setelah kau lulus, apa kau ingin melanjutkan sekolahmu?" Tao terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa untuk ibunya. Ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, itu adalah impiannya. Tetapi disisi lain ia tahu bahwa itu adalah impian yang sulit ia capai. Ibunya tidak punya cukup uang untuk membiayai sekolahnya nanti. Ia berharap bisa mendapatkan beasiswa seperti yang ia terima saat ini di bangku sekolah menengah atas. Tapi, bagaimana jika ia tidak mendapatkan beasiswa itu ketika di perguruan tinggi nanti. Itu akan merepotkan ibunya.
Ny. Huang menanti jawaban dari Tao, tapi anak satu-satunya itu hanya diam. Mungkin ia pasti merasa bimbang antara harus melanjutkan sekolahnya ke perguraun tinggi atau berhenti hanya sampai lulus nanti, pikir Ny. Huang. Dalam hati, ia merasa bersalah karena tidak mampu membayar uang sekolah Tao. Gajinya sebagai perawat tidaklah cukup untuk membayar uang sekolah Tao di perguruan tinggi nanti. Mungkin dia hanya bisa membayar uang masuknya, tapi selanjutnya, ia tak tau bisa membayarnya atau tidak.
Ny. Huang menghela napas. Sebaiknya ia merubah topik pembicaraan ini.
"Tao?" Ny. Huang memanggil Tao dengan suara lembut, khas miliknya.
Tao mengangkat wajahnya dan menatap ibunya yang sedang menuangkan sup daging di dalam mangkuk. Sepertinya sup daging sudah matang.
"Iya, Ma." Tao berjalan menghampirinya dan mengambil mangkuk berisi sup daging itu dari tangannya. Ia kemudian meletakan sup daging tersebut diatas meja.
"Apa kau tidak berniat memanggil Kris untuk makan malam bersama kita?" Ny. Huang melepaskan apron yang dipakainya lalu meletaknnya kembali ke tempat apron itu berada. Ia kemudian menghampiri Tao yang sudah duduk lebih dulu di depan meja makan, menanti dirinya.
Tao menggelang. "Aku rasa tidak untuk malam ini."
Ny. Huang duduk di kursi miliknya. "Kenapa? Apa kalian berdua bertengkar?" Ny. Huang mengambil mangkuk berisi nasi dari Tao dan tersenyum.
"Ti-" Tidak, itulah yang ingin dikatakan Tao.
"Yooo!" Kemudian suara baritone, yang kita tau milik siapa memotongnya. "Apa aku terlambat?" Kris menghampiri Tao dan Ny. Huang. Senyumnya sangat lebar, seperti anak kecil yang baru saja menerima hadiah bagus dari orang tuanya. "Ah, sepertinya tidak!"
Kris mencium pipi kanan Ny. Huang lalu duduk di samping Tao. Ny. Huang terkekeh menanggapi tingkah Kris. Pemuda pirang sudah sering mencium pipinya jika berkunjung kemari. Mungkin itu adalah kebiasaannya. Ny. Huang pun sudah mengerti kebiasaannya, bahkan juga Tao. Ia sudah mengganggap Kris sebagai anaknnya sendiri.
"Aku pikir, gege akan tidur hingga besok pagi," Tao memberikan mangkuk berisi nasi kepada Kris. Kris menerima mangkuk itu dengan senang lalu mengucapkan terima kasih kepada Tao.
"Hey, aku tidak seperti itu," Kris mencubit pipi Tao pelan. "Aku masih mau makan bersama kalian!" Kris mulai memakan makanannya dengan pelan, begitupula Ny. Huang dan Tao.
Mereka makan diiringi dengan cerita dari Kris. Ceritanya ketika menonton pertandingan basket team kesayangannya kemarin malam. Ia tak peduli jika apa yang diceritakannya dimengerti oleh Ny. Huang atau tidak. Kalau Tao, ia masih bisa mengerti, karena dia sering menemani Kris bertanding basket bersama siswa laki-laki di sekolah.
Setelah makan malam mereka berakhir, Tao membantu Kris membersihkan meja makan, mengumpulkan piring kotor dan mencucinya bersama-sama. Sedangkan Ny. Huang, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, ia punya shift malam disana. Pekerjaannya sebagai perawat membuat waktunya bersama Tao sedikit berkurang. Tapi, hanya pekerjaan itu satu-satunya yang membuatnya bisa membiayai hidup mereka berdua, dia dan Tao.
My Dangerous Boyfriend
"Aku bosan!" Kris mengerang frustasi. Ia menjatuhkan tubuhnya diatas karpet berbulu putih dikamar Tao lalu menatap langit-langit kamar. Saat ini, Kris sedang berada di dalam kamar Tao bersama Tao. Mereka sedang belajar bersama. Sebenarnya dia ingin tidur, tapi Tao melarangnya. Katanya, ujian semakin dekat jadi mereka harus belajar keras agar bisa lulus. Kris mengerang kesal dan mengeluh tapi pada akhirnya ia tetap mengikuti perkataan Tao. Mereka kemudian mulai belajar bersama, tapi belum berselang 1 jam dia sudah tak tahan dengan segala materi yang Tao berikan untuk dia pelajari dan memutuskan untuk berhenti.
Dan sekarang dia merasa bosan karena tidak ada yang bisa diajaknya bercanda dan bermain. Tao sedang sibuk dengan belajar. Dia sudah mencoba untuk menarik perhatian Tao, tetapi yang diterimanya hanya gumaman kecil dan pukulan kecil di dahinya. Jadilah, dia memutuskan untuk tidak mengganggu Tao.
Tao menggeleng kecil. Mereka belum satu jam belajar dan Kris sudah merasa bosan. Ia tahu, Kris bukannya malas belajar, hanya saja dia sedang tidak mood untuk belajar. Ia tidak mungkin memaksakan Kris untuk belajar bersamanya, walaupun ia memaksanya, Kris tetap tidak akan belajar. Dia malah akan berpeluang untuk mengganggu konsentrasi belajarnya. Lebih baik ia membiarkan Kris dan melanjutkan belajarnya.
"Tao?" Panggil Kris setelah mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Mm?" Tao menjawab Kris tanpa melihatnya. Ia sedang sibuk dengan buku-buku yang berserakan diatas meja.
Kris bangun dari tidurnya. Ia memposisikan dirinya di depan Tao. Ia melipat kedua tangannya diatas meja yang menjadi tempat belajar Tao dan menumpukan kepalanya disana, menatap lurus kearah Tao. "Apa yang akan kau lakukan setelah lulus?"
Tao terdiam. Ia meletakan pencil yang dipegangnya diatas meja lalu menatap Kris yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Entahlah! Aku tidak tahu!" Jawab Tao. Matanya berubah sendu. Tapi tak lama, ia megubah raut wajahnya menjadi sumringah. Dia tidak mau membuat Kris merasa bersalah karena membuatnya sedih. Tao tersenyum lebar dan berkata, "Mungkin aku akan mencari pekerjaan."
"Kau tidak mau melanjutkan sekolahmu?"
Tao menggeleng sedikit ragu. "Mungkin tidak!"
"Kenapa?"
"Kau bertanya terlalu banyak, Ge!" Tao menjawab sarcastic. Ia kembali mengambil pencilnya dan mulai melanutkan belajarnya yang sempat tertunda.
"Apa karena uang?" Wajah Kris berubah serius.
"Gege!" Tao meletakan sedikit kasar pencil yang dipegangnya diatas. Sesabar-sabarnya ia, dia juga bisa marah. Tao menatap Kris tajam. Ia marah dan kesal karena Kris terlalu banyak bertanya.
Kris merubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa? Aku hanya bertanya. Apa itu salah?"
"Itu bukan urusanmu!" Bentak Tao. Seumur hidupnya, dia pernah membentak siapapun, apalagi Kris. Ini pertama kalianya dia membentak pemuda pirang di depannya. Ia merasa sedikit bersalah. Apalagi melihat Kris yang terkejut akan sikapnya.
Tao menghembuskan napasnya kasar lalu merapikan buku-buku yang berserakah diatas meja. Ia tidak ada mood lagi untuk melanjutkan belajarnya. "Sepertinya, hari ini cukup sampai disini!"
Kris berdiam diri ditempatnya. Ia menundukan kepalanya. Ini pertama kalinya dia dibentak oleh Tao. Selama ini apapun yang dia lakukan bahkan hingga hal yang teramat sangat menyebalkan sedikitpun, Tao tidak pernah membentaknya. Dia merasa sedih.
Ia melirik Tao sekilas, kekasihnya sedang merapikan buku pelajarannya dan memasukannya kedalam tas sekolah miliknya. Ia menatap punggug Tao.
"Itu adalah urusanku!" Tao menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap Kris. Sang naga seedang menatap Tao lurus dan tajam. "Sudah kubilang, kau adalah milikku. Apapun yang terjadi padamu juga milikku. Apa kau lupa?"
Tao terkejut. Memang benar, dia adalah milik Kris. Sejak pertemuan mereka dia sudah berjanji untuk menjadi milik Kris, selalu ada disisinya apapun itu.
Tao menghela napas. Ia merasa bersalah sudah memahi Kris. Tao meletakan kembali buku serta tas sekolahnya dan berjalan menghampiri Kris, ia duduk didepan sang naga dengan manis. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Ge. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu!" Tao tersenyum sendu. "Mama tidak memiliki cukup uang untuk membiayai kuliahku nanti." Mulai Tao.
Ia menceritakan semua masalahnya kepada Kris. Kris diam dan mendengarkan Tao hingga selesai.
"Mengapa tidak menceritakannya padaku sejak awal?" Kris mendekatkan dirinya lalu menepuk kepala Tao pelan.
"Aku tidak mau merepotkanmu!" Jawab Tao pelan. Ia melepaskan tangan Kris dari kepalanya dan menggenggamnya.
Kris balas menggenggam tangan Tao. "Selama itu kau, aku tidak merasa direpotkan!" Ia mencium tangan Tao lembut dan cukup lama.
"T-Terima kasih!" Tao menangis. Ia merasa tersentuh. Selama ini Kris sudah banyak membantunya dan juga ibunya.
"Hey," Kris mendekat ke Tao. Ia menyentuh kedua sisi wajah Tao dengan tangannya lalu menghapus airmata Tao dengan ibu jarinya. "Kau terlalu sensitive!" Kris mencium dahi Tao lembut.
"Ge-Gege terlalu baik untukku dan Mama jadi aku terharu! Apa salahnya?" Tao mengerucutkan bibirnya lucu.
"Tidak ada salahnya. Hanya saja...kau membuatku sedikit merasa bersalah!" Kris memberikan sebuah kecupan cepat di bibir Tao lalu membaringkan tubuhnya diatas carpet dan paha Tao sebagai bantalnya.
"Aku lelah!" Kris menutup matanya.
"Bagaimana denganku?" Tao mengeluh tidak terima. Bagaimana tidurnya nanti jika Kris tidur dipahanya? Tidak mungkin dia tidur sambil duduk.
Kris membuka matanya dan menggeser kepalanya kesamping. "Tidur disampingku?" Kris menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.
Tao menggeleng tapi pada akhirnya dia membaringkan dirinya disamping Kris. Tao meletakan kepalanya didada Kris sedangkan Kris memeluk pinggangnnya. Mereka berdua akhirnya tidur bersama seperti itu hingga pagi.
My Dangerous Boyfriend
"Kris!" Chansung berlari menghampiri Kris yang sedang berdiri di depan lokernya. Ditangannya ada sebuah bola basket. Ia adalah teman bermain basket Kris. Mereka bertemu karena sebuah ketidaksengajaan. Chansung pernah menculik Tao demi melukainya, karena dia pernah tidak sengaja merusak mobilnya. Tapi pada akhirnya dia dan teman-temannya berakhir dirumah sakit karena Kris. Sejak saat itu, Chansung mendekatinya untuk berteman. Awalnya, Kris tidak menyukainya dan sama sekali tidak menghendaki kehadirannya apalagi setiap hari dia selalu datang di kelas membuat Kris semakin tidak menyukainya bahkan dia selalu membawa hadiah untuk Tao. Dan mungkin karena dewi fotuna sedang memihak padanya, akhirnya mereka berteman setelah Tao memintanya dengan halus. Mereka berteman hingga saat ini, jika ada taruhan bermain basket, Chansung akan segera mencarinya dan mengajaknya untuk bermain bersama. Uang yang mereka dapatkan akan dibagi dua, tapi biasanya jika dia sedang berbaik hati, dia akan memberikan semua uangnya untuk Chansung.
"Yo!" Kris memberikan high-five untuk Chansung dan dibalas dengan baik oleh pemuda jangkung itu. "Ada apa mencariku? Ada yang mengajak taruhan?" Kris bersandar di lokernya dengan santai.
Chansung mengangguk semangat dan senyumnya sangat lebar. "Iya, dan taruhan kali ini sangat besar. Mereka dari kelas 3-4! Kau kenal Aaron Yan?" Kris mengangguk kecil dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Chinese guy?"
"That's right! Dia mengajak kita taruhan!"
"Kapan?"
"Besok, ketika jam istirahat pertama! Kau mau?"
Kris mengangguk kecil. "Hm, Baiklah!"
"Yes! Baiklah, aku akan menunggumu di lapangan basket besok!" Chansung mendribble bola basket ditangannya ke lantai beberapa kali dengan semangat. Sepertinya, dia sangat senang. Apalagi mendengar taruhan dari lawan yang sangat besar dan menggiurkan. Sedangkan disisi lain, Kris sedang sibuk mengeluarkan dan mengambil barang-barang dari dalam tasnya dan mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya ke dalam tasnya.
"Hey, dimana Tao?" Tanya Chansung. Ia baru menyadari bahwa Tao tidak berada Tao bersama Kris. Bukan apa, hanya saja ia belum pernah melihat Kris berjalan seorang diri tanpa Tao. Mereka berdua selalu berjalan bersama-sama.
"Di kelas!" Kris menutup loker sekolahnya. Ia sudah selesai mengambil barang-barang yang dia butuhkan.
Chansung menunjukan wajah tidak mengerti akan ucapan Kris. Kris memutar matanya bosan, Chansung selalu lambat memproses ucapannya. Ia heran, sejak kapan pemuda jangkung ini menjadi tulalit? Padahal, sebelum mereka belum kenal dan menjadi musuh, Chansung bukan orang seperti itu.
"Dia lebih dulu datang ke sekolah."
"Eh? Tumben. Biasanya kalian akan selalu berpergian bersama-sama. Apa kalian bertengkar?"
"Ck, kau banyak bertanya. Pergi sana!" Kris memukul dahi Chansung, ia sudah tak sabar lagi dengan pertanyaan Chansung yang membuatnya pusing.
Chansung meringis sakit dan mencoba memasang puppy eyes kepada Kris, tapi pemuda itu malah menerima deathglare dari Kris. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
Hari ini Kris dan Tao tidak pergi ke sekolah bersama-sama. Tao lebih dulu pergi ke sekolah karena Kris terlalu lambat bergerak. Ketika Tao sudah berganti dan bersiap untuk pergi, Kris masih bersembunyi dibalik selimut. Pemuda pirang itu masih tidur. Karena tak mau terlambat, Tao memutuskan untuk pergi lebih dulu. Ia meninggalkan Kris note kecil dan juga sarapan pagi diatas meja.
Semalam Kris dan Tao tidur bersama. Mereka tidur di kamar Tao. Tao sudah membangunkan Kris untuk pulang kerumahnya dan tidur di kamarnya sendiri, tapi bukannya bangun, Kris malah semakin memeluk Tao. Akhirnya, mereka tidur berdua.
Dan sekarang adalah jam makan siang dan Kris baru datang ke sekolah dengan wajah santai plus mengantuk seperti biasanya. Tidak ada yang berani menegurnya.
Kris berjalan menuju kelasnya lalu menaruh tasnya. Disana tidak ada Tao, jam istirahat seperti ini Tao dan dia akan menghabiskan waktu berdua di atap sekolah. Tempat itu adalah tempat favorite mereka berdua untuk mengabiskan waktu istirahat. Dan, sekarang pemuda tinggi itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan Tao. Ia membawa kakinya menuju atap sekolah, berjalan dengan santai. Beberapa sisiwi melihatnya dan berakhir dengan rona merah dipipi mereka.
Bagaimana tidak? Kris hari juga terlihat tampan walaupun urak-urakan. Rambut berantakan, kemeja beserta blazernya dibiarkan menggantung, lengan kemeja dan blazer di gulung hingga siku dan membiarkan dua kancing atas kemejanya dilepas. Pierching, celana panjang berbahan katun hingga sepatu merk terkenal Jordan berwarna hitam-merah, tentu saja membuat wanita manapun akan merona dan berdecak kagum melihat penampilannya.
Kris menguap sekali lagi. Ia sudah berada di depan pintu yang menghubungkannya dengan atap sekolah. Tanpa membuang waktu, Kris membuka pintu atap sekolah tersebut. Ia bisa melihat Tao yang sedang memungguninya, tapi kali ini Tao tidak sendiri. Dia juga melihat ada orang lain bersama dengan Tao. Seorang gadis. Rambutnya berwarna caramel dan sekilah terlihat cantik. Tapi, dia tidak tertarik dengan gadis itu.
"Tao!" Kris memanggil Tao. Pemuda panda itu berbalik dan tersenyum padanya. Ia selalu menyukai sambutan dari Tao. Kekasih pandanya itu akan selalu tersenyum hangat padanya ketika dia memanggil namanya. Ia juga akan melakukan hal yang sama jika Tao terseyum padanya. Tetapi kali ini berbeda. Kris tidak tersenyum sama sekali. Tatapannya datar dan membosankan. Bukan karena dia tidak menyukai semnyum Tao, bukan karena itu. Hanya saja dia tidak mau memberikan dan menunjukan senyumnya kepada orang lain selain Tao dan ibunya.
Tao menyadari keanehan itu. Ia mengenal betul sosok Kris dengan baik. Kris akan selalu membalas senyumnya, karena dia tahu Kris sangat menyukai senyum miliknya. Tapi dia terlalu polos untuk menyadari sumber dari keanehan Kris. Dia berpikir, mungkin saja seseorang yang ditemui oleh Kris sebelum dia kesini sudah membuat moodnya jelek, sehingga Kris tidak membalas senyum darinya.
Tapi bukan itu. Disamping Tao ada gadis caramel yang sedang tersenyum untuk Kris. Menyambutnya, sama halnya dengan yang dilakukan oleh Tao. Dan Kris tidak menyukai hal itu. Dia juga tidak menyukai senyum gadis itu dan tatapannya. Mereka adalah palsu.
Kris berjalan menghampiri Tao dengan perasaan kesal. Jika tidak ada Tao disana, dia sudah berbalik dan meninggalkan tempat itu. Dia tidak suka kehadiran gadis caramel.
Sesampainya dia didepan Tao, Kris memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Tao, membuat sang panda merona merah. Ia lalu mengambil tempat di depan Tao dan mengabaikan keberadaan seorang yang juga berada disana.
"Hai Kris!" Kris berpura-pura tidak mendengar. Ia memilih mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Tao dan memakannya. Sedangkan gadis yang menyapanya merasa canggung setelah diabaikan oleh Kris.
Tao yang menyadari suasana itu menepuk pelan pipi Kris agar menarik perhatian sang naga dari makanannya. Kris menatap Tao lurus, sebelah alisnya terangkat seperti bertanya 'ada apa?'.
"Dia Jessica Jung, seangkatan kita. Dia seumuran denganmu. Dia dari kelas 3-4." Tao memperkenalkan gadis disebelahnya.
"Lalu?" Kris berpura-pura tidak mengerti maksud Tao.
"Aku ingin kalian berkenalan, Ge!"
"Oh!" Kris menoleh kesamping, kearah Jessica. Sejujurnya dia merasa malas menoleh kearah gadis caramel, tetapi karena Tao, ia harus melakukannya. Dia tidak mau di cap buruk oleh kekasihnya.
Kris bisa melihat wajah Jessica sangat bahagia, matanya seperti ada puluhan bintang disana. Gadis caramel tersenyum padanya. Kris mengubah tatapannya menjadi dingin. Dia menatap kedua mata Jessica cukup lama. "Kris!" Singkat, padat dan jelas itulah Kris. Dia tidak suka memperkenalkan dirinya terlalu panjang kepada orang lain, apalagi kepada orang yang menurutnya memiliki aura negativ yang besar.
"Jessica Jung!" Kata Jessica penuh penekanan dalam nadanya.
Kris meremas kotak bekalnya, ia tidak suka dengan nada Jessica ketika menyebutkan namanya. Seolah-olah, menginginkan dia untuk mengingat namanya.
Kris menutup kotak makanannya dan berdiri. Ia meraih tangan kanan Tao dan menarik sang panda untuk ikut berdiri. "Kita pergi! Aku tidak menyukai suasana disini. Mood makanku seketika menghilang!" Kris melirik Jessica lalu menatap Tao.
Tao menatap Kris bingung. Dia ingin Kris menjelaskan maksdunya tetapi Kris lebih dulu menarik tangannya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Tao cukup terkejut dengan sikap Kris, dia juga tak nyaman untuk meninggalkan Jessica tetapi dia tak bisa menolak sang naga. Dia hanya berbalik lalu menunduk kecil kepada Jessica yang tetap tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.
Tao tidak tahu, setelah ia dan Kris menghilang dibalik pintu atap sekolah, wajah manis dengan senyum manis yang ditunjukan oleh Jessica di depannya beberapa waktu lalu berubah menjadi dingin dan datar.
Kris masih menggenggam tangan Tao. Ia bernapas lega setelah pergi dari sana. Dia merasa tak nyaman jika berada disekitar Jessica, bukan karena dia takut pada Jessica, hanya saja dia tak suka dengan tatapan dan senyum Jessica untuknya. Tatapannya membuatnya risih dan tidak menyukai itu. Apalagi kedekatannya dengan Tao. Dia takut Tao akan terluka jika dekat dengan Jessica. Aura negativ gadis itu sangat kuat. Semua yang ditunjukan Jessica adalah palsu.
"Ada apa?" Tao menggenggam erat tangan Kris. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas. Ia bisa merasakan kekhawatiran Kris. Apa yang Kris khawatirkan? Setelah mereka pergi dari sana, Kris tetap diam, menatap luruh kedepan dan menggenggam tangannya erat.
Tao menatap Kris khawatir, setelah keluar dari atap sekolah, sikap Kris berubah dingin. Tao merasa Kris seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Kris menolah kesamping, ia mendapati Tao sedang memperhatikannya khawatir. Kris tersenyum kecil, ibu jarinya mengelus tangan Tao lembut, mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Tapi, aku khawatir!"
Kris menghembuskan napas sedikit kasar. "Bisakah kau jauhi gadis itu?"
"Siapa? Jessica?" Kris menggangguk. "Kenapa?"
"Aku tidak menyukainya!"
"Kenapa?" Tao bertanya tidak mengerti akan maksud Kris. Menapa dia harus menjauhi Jessica? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kris? Apakah Kris tidak menyukai Jessica? Semua pertanyaan-pertanyaan itu berlari-lari di kepalanya. Padahal dia berpikir bisa memiliki teman seperti Jessica. Jessica sangat baik padanya. Mereka memang baru bertemu tadi diatap sekolah, dan dia yakin bahwa tidak ada yang salah dari gadis caramel itu. Dia terlihat baik dan juga sopan. Mereka bahkan mengobrol dan Jessica ramah dan juga lembut.
"Kumohon, jangan terlalu banyak bertanya!" Wajah Kris berubah sangat serius. Sikapnya menjadi dingin. Dia menatap Tao dan menggenggam tangan Tao lebih erat dari sebelumnya. "Jauhi dia!" Perintah Kris.
Tao menelan ludah paksa, ia bisa melihat rasa khawatir dimata Kris apalagi genggaman Kris sangat sangat kuat pada tangannya. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Kris. Ia menggangguk dan setelah itu Kris tersenyum lembut padanya. Wajah serius dan sikap dinginnya menghilang. Ia berubah menjadi Kris yang Tao kenal.
Mereka berdua terus berjalan, Tao mendongak dan menatap Kris. 'Apa yang kau sembunyikan dariku, Ge?' Batin Tao.
My Dangerous Boyfriend
"Kau bertemu dengannya?" Pemuda tinggi dengan rambut hitam legam berdiri santai, menyandarkan punggungnya di dinding atap sekolah. Kedua tangannya terlipat didepan dada. Ia menatap lurus gadis caramel di depannya.
"Tentu! Dia jauh sangat tampan dari pertama kali kami bertemu. Dia seperti pangeran kuda putih di dalam dongeng. Dia adalah suami yang aku idam-idamkan!" Gadis caramel tersenyum lebar, membayangkan wajah sosok yang dia idam-idamkan.
Pemuda itu menggeleng dan tertawa kecil melihat tingkah gadis caramel.
"Akhirnya aku bertemu dengamu, Kris Wu!" Gadis caramel menatap lurus kedepan dengan wajah serius.
.
.
.
To Be Continue
.
Sebelumnya saya minta maaf kepada semua readers saya yang terhormat karena sudah sangat sangat sangat sangat sangat lama menunggu cerita ini. Maaf sebesar-besarnya dari saya untuk kalian. *deep bow*
Saya berharap semoga kalian dapat menyukai chapter ini. Maaf jika banyak kekurangan, kesalahan dalam penulisan.
Dan untuk cerita KRISTAO STORIES chapter 6, saya minta maaf karena membuat kalian kecewa. Saya tidak akan melakukan kesalahan lagi. Maaf!
BIG THANKS TO::
Ajib4ff | missjelek | KTHS | zakurafrezee | arvitakim | Christal Alice | ressijewelll | diahuang91 | jettaome | oraurus | 7D | benbenkece | Ancient Kyungmyeon | Rima-TAOme | keuriseu | Baby Ziren KTS | Guest (1) | Guest (2) | Guest (3) | MJKT | taoris shiperrr | Ahjumma kece | jj | are | KRISme | EnchanterPanda | Guest (4) | NaughtyTao | Kim Panda | vriskaindriany1 | HATI | Young Minn Kim | Sarahmelina3 | Evilmagnaekyuu
(Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama)
MIND TO REVIEW?
