World of Chances
Chapter 1
.
.
Disclaimer:
Bleach
by Tite Kubo
.
World of Chances
is Demi Lovato's song
.
warning:pairing Hitsu x Hina, AU, OOC
don't like, don't read
.
.
Aku berjalan pelan di koridor ketika seseorang memanggilku dari ruang guru. Itu Kensei-sensei.
"A, Hinamori, bisa kau kemari sebentar?" tanyanya.
Tentu saja bisa, aneh sekali pertanyaannya. Aku mengikuti beliau memasuki ruang guru dan berhenti di sebuah meja yang sangat rapi dibanding meja sebelahnya. Meja itu milik Kensei-sensei.
"Ini lembaran fotokopian untuk tugas kelas 3-4. Tapi, nanti aku tidak masuk ke kelas mereka karena ada urusan. Bisa tolong kau bawakan ke kelas 3-4?"
Aku mengangguk pelan saat menerima lembaran fotokopian itu. Kupikir, semua siswa yang diperintah gurunya tidak akan menolak bukan?
Setelah mengucapkan salam, aku keluar dari ruang guru dan menuju kelas 3-4. Kelas itu berada dalam lintasanku menuju kelasku sendiri, kelas 1-1.
Nah, papan nama kelasnya sudah terlihat di depan. Aku melangkah lebih cepat—hendak menyelesaikan semua ini.
"Permisi...," ujarku, lalu memasuki ruangan senpai di hadapanku.
"Ada apa?" tanya seorang senpai bermata ungu dan berambut hitam sebahu. Hei, dia bahkan lebih pendek daripadaku! Apa para senpai di sini tinggi badannya meragukan semua ya? Hmmm...
"Saya hendak mengantarkan lembar fotokopian dari Kensei-sensei. Beliau tidak bisa masuk kelas nanti, ada urusan," jawabku santai.
"Oh, ya... Terimakasih ya," senpai di hadapanku menerima lembaran-lembaran itu, dan mengumumkan apa yang baru saja kukatakan ke depan kelas. Tampak bahwa penghuni kelas 3-4 sangat bahagia karena tidak perlu mengikuti pelajaran Kensei-sensei.
"Baiklah, saya permisi.."
Aku baru saja melangkahkan kakiku ke depan pintu ketika terdengar suara teriakan para gadis yang—mm.. berlebihan. Dari arah barat, Hitsugaya senpai berjalan—dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku jasnya—ke arahku, diikuti gadis-gadis yang sepertinya merupakan fansnya.
Ia berhenti di hadapanku, dan menatapku tajam. "Kau..," katanya. "Gadis yang waktu itu kan? Kita bertemu lagi rupanya." Hitsugaya senpai tersenyum dan... mengecup pipiku! Lalu, dengan santainya—seolah tidak terjadi apa-apa, dia langsung masuk ke kelasnya—kelas 3-4—dan mengabaikan para fansnya. Sementara aku hanya terdiam di depan kelasnya, menutupi wajahku yang mulai memerah dan berlari meninggalkan koridor kelas 3 itu.
.
Beberapa hari yang lalu...
"Momo-chan!" panggil Inoue Orihime—teman dekatku di kelas 1-1—seraya menghampiriku yang sedang menurunkan bangku. "Kau tahu, ternyata senpai yang menolongmu itu adalah salah satu idola di sekolah kita!"
"Benarkah?" tanyaku setengah terkejut.
"Iya. Ada 3 senpai di kelas 3 yang menjadi idola Karakura High School. Yang pertama Kurosaki senpai, lalu Kuchiki senpai, dan Hitsugaya senpai. Saat berjalan bersama, aura mereka benar-benar berbeda. Kurosaki senpai sering keluar-masuk ruang BK, dia terlibat banyak masalah dan sering mempermainkan wanita. Lalu, Kuchiki senpai merupakan siswa teladan yang juga menjabat sebagai ketua OSIS. Dan kau adalah salah satu dari para gadis yang menyukai Hitsugaya senpai diantara mereka bertiga! Hitsugaya senpai dikenal sebagai sosok yang dingin, santai, tapi tegas dan selalu mengerjakan tugas sekolah dengan baik."
Santai? Terlalu santai, malah—menurutku. Ngomong-ngomong, aku belum pernah melihat senpai yang bernama Kurosaki dan Kuchiki di sekolahku ini. Apa mereka juga mungil seperti Hitsugaya senpai? Kata Inoue, Kuchiki senpai tampil di hadapan para junior saat upacara pembukaan. Tapi, aku berada di UKS saat itu—karena terlalu tegang menghadapi hari pertamaku di sekolah baru—sehingga aku tidak bisa mengikuti upacara pembukaan.
"Darimana kau mendapat info soal mereka?"
"Ah, kau ini seperti tidak mengenal Inoue Orihime saja," ujar Inoue sambil menyibakkan rambutnya dan memasang wajah penuh kebanggan, "Aku kan suka mencari tahu gosip di sekolah."
Aku hanya mengangguk mendengar pernyataannya. Aku salah seorang fans Hitsugaya senpai? Hh, jangan bercanda.
.
.
Aku kembali ke kelas dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh kecupan Hitsugaya senpai di pipiku. Sepanjang langkah kakiku menelusuri koridor, bisa kurasakan tatapan tidak suka dari para gadis yang awalnya mengerubungi senpai. Apa mereka membenciku? Ah, sudahlah, aku malas memikirkannya.
Aku kembali ke kelasku dan menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Inoue yang menanggapinya dengan sangat bersemangat. Benar-benar gadis yang kelewat ceria. Meski begitu, dia adalah teman baik yang menyenangkan.
.
Pulang sekolah. Aku menunggu mobil yang akan menjemputku di depan gerbang sekolah. Apa Yukio—supir keluargaku—lupa akan jam pulangku? Ah, tidak mungkin. Menjemputku adalah rutinitasnya sehari-hari.
Aku masih sibuk meikirkan alasan keterlambatan Yukio saat mereka mendatangiku. Mereka itu terdiri 2 orang. Oh, aku mengenali salah satunya. Dia adalah gadis berambut hitam dengan mata violet—yang tadi menyambutku di kelasnya. Gadis yang lain memiliki mata hijau dan tatapan dingin, rambut hitam keunguannya terjalin di belakang.
Aku mengucap salam dan membungkuk di hadapan kedua senpai itu.
"Tidak usah terlalu sopan begitu," tukas senpai yang bermata ungu. "Kau.. tadi Toushiro menciummu?" tanyanya cepat.
Toushiro? Oh, Hitsugaya senpai ya?
"Ngg.. i-iya..," jawabku pelan. "T-tapi bukan aku yang memintanya! Senpai melakukan hal itu secara tiba-tiba, dan aku tidak bisa menghindar! Maafkan aku!" ujarku cepat.
Senpai bermata ungu itu menatapku agak lama, lalu kemudian memiringkan lehernya sambil tersenyum. "Yaah, bocah sepertimu tampaknya tak mungkin merebutnya dariku. Maafkan aku ya, kalau aku membuatmu takut."
"A-ahaha, t-tidak apa-apa, senpai. Aku yang seharusnya meminta maaf," balasku sambil tersenyum gugup.
"Sudah kubilang, bukan dia yang salah," senpai yang satu lagi ikut bicara. "Toushiro-mu itu memang playboy kan, Rukia."
"Jaga mulutmu, Nemu," tukas senpai yang bernama Rukia.
Senpai bernama Nemu hanya memutar bola matanya sambil mencibir menanggapi perkataan temannya.
"Baiklah, aku minta maaf atas perlakuan pacarku. Dia memang agak seenaknya," kata Rukia senpai lagi. Dia tampak cantik saat tertawa kecil seperti itu. Wajar bila Hitsu senpai menjadi pacarnya.
Tepat saat itu, mobil jemputanku tiba. Aku pamit pada kedua senpai itu dan bergegas masuk ke dalam mobil—memikirkan kejadian yang kualami hari ini.
.
.
Hari ini Inoue tidak masuk, ia terserang demam. Memang, akhir-akhir ini para siswa di sekolahku terserang demam secara bergantian—karena itu, sekolah jadi agak sepi. Bahkan di kelasku, hari ini ada 5 orang siswa yang tidak masuk. Hmmm, semoga saja aku tidak ikut terserang demam.
Karena Inoue tidak ada, saat istirahat makan siang, aku memutuskan untuk ke atap sendiri. Biasanya sih, aku dan Inoue makan di kelas atau di bangku taman. Atau bangku yang menghadap ke lapangan. Atau di bangku dekat lapangan sepak bola. Yaah, memang banyak lokasi makan siang yang biasa kami datangi.
Aku membuka pintu atap dan membiarkan angin sejuk menerpaku. Kebetulan, tidak ada siapa-siapa di sana. Aku suka itu. Apa aku sudah bilang kalau aku tidak begitu suka keramaian? Nah, nah, barusan aku bilang. Ya, aku menyukai suasana yang sepi, tentram dan damai.
Aku duduk di salah satu ujung dinding atap yang dibatasi oleh pagar berteralis, menghadap ke arah pintu atap—sekedar mengawasi siapa yang kira-kira akan naik ke atap untuk makan siang di atap.
Aku baru saja menelan gigitan sandwich-ku yang kedua, saat terdengar suara yang kukenal, "Kau tidak menawariku, heh?"
Aku langsung celingukan mencari arah sumber suara. Dia itu...
"Kau lihat ke mana, sih? Aku di sini," kata suara itu lagi. Aku menoleh ke kananku, dan melihat wajah Hitsugaya senpai yang jahil itu di atasku. Ya, di sebelah kananku ada bagian atap yang lebih tinggi. Untuk mencapainya, seseorang tinggal menaiki tangga yang ada di samping bagian dinding yang tinggi itu.
"Eh, kau mau?" Aku mengacungkan sandwich-ku padanya dan dia hanya menggeleng. "Tidak, aku tidak mau kau tidak konsentrasi nanti karena makan siangmu kurang. Lagipula, aku punya makan siangku sendiri," balasnya. "Ngomong-ngomong, Rukia mendatangimu ya?"
"Eh, i-iya, tapi Rukia-senpai tidak berbuat apa-apa kok.. hanya..."
"Hanya apa?"
"...berkenalan. Ya, dia berkenalan denganku. Dia itu cantik ya..." ujarku tanpa sadar, dengan mata menerawang.
"Tentu saja, kau pikir seleraku rendah, heh?" tukas Hitsugaya senpai.
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Setelah itu, senpai maupun aku sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
.
.
Saat sandwich-ku hanya tinggal bungkusnya, aku turun dari atap bersama Hitsugaya-senpai—sebenarnya aku turun duluan, tapi kemudian Hitsu-senpai melompat dari tempatnya dan mengikuti di belakangku. Saat kami hendak memisahkan diri di ujung tangga karena jalur kelas kami yang berbeda, kami berpapasan dengan senpai yang waktu itu menegurku. Nemu-senpai.
"Oh, kebetulan sekali kalian bersama.. Kalian ini dari mana?"
"E-eh, dari..." Aku tidak tahu kenapa aku gugup menjawab pertanyaannya padahal aku ini tipe orang yang tak begitu mempedulikan perkataan orang lain, aku ini orang yang 'dingin'.
"Atap. Kami makan siang bersama," potong Hitsugaya-senpai sambil berlalu meninggalkanku dan Nemu-senpai. Eh?! Kenapa Hitsugaya-senpai terang-terangan seperti itu, sih?!
Tunggu, kenapa aku jadi memikirkan kata-katanya? Memang kami makan siang di atap. Berdua. Ya, bersama. Lalu kenapa memangnya? Kenapa aku tidak mau Nemu-senpai tahu?
Senpai di hapanku melipat tangannya dan menatapku sambil tersenyum sinis, "Hmm..," gumamnya, "menarik. Kau gadis yang berani, Momo Hinamori." Detik berikutnya, Nemu-senpai meninggalkanku sendiri di koridor itu.
Author's Note:
Waktu bikin cerita ini tuh, cuma punya 'inti ceritanya' pokoknya ceritanya harus 'begitu'.. Tapi saya sama sekali ga punya gambaran awalnya, makanya openingnya jelek begini-_- Maaf karena mengecewakan ya. Di sini belum ada konflik sm sekali hiiih ga rame-_-
Anyway, thanks for the review: Kak Ruki Yagami yang ganti nama jadi Hepta Py yaa , Hikary Cresenti Raveniadan Izumi zai3 :D
