Bokuto mengepalkan tangannya sekuat mungkin. Matanya membelalak tak percaya, reaksi atas syok yang ia terima. Rasanya dunia berputar di sekelilingnya, pun dirinya entah mengapa masih sanggup berdiri tegak. Bau sakura membuatnya muak seketika, yang berwarna kemerahmudaan itu menyakiti matanya. Mata emasnya hanya memakukan pandang ke tanah yang dipijak si hitam. Bibirnya rapat, tertutup dan tak mengeluarkan bunyi apapun. Emosi seolah tertunda naik ke kepalanya, belum memberikan kesempatan air mata untuk jatuh dari tempatnya.
"Bokuto-san, sekali lagi, aku minta maaf."
Rasanya ingin Bokuto tertawa lirih sekaligus menghina akan ketololannya sendiri. Namun rahangnya benaran terkunci rapat, tak mengijinkan sedikit bunyipun keluar dari pita suara di tenggorokannya.
Gigi-giginya bergemeretukan tiga detik kemudian, emosi dan kecewa seketika naik ke kepalanya dalam hitungan detik dan tanpa ia sadari. Wajahnya memerah, pun ia mencoba memaksakan diri menatap hijau indah di depannya. Namun ketidaksanggupan menjadi penanda kepengecutannya dan ia hanya mampu memaksakan senyum agar muncul di wajahnya. Bukan senyum penuh kepercayaandirinya—entah kemana hilangnya hal itu—namun senyum tipis dan menggambarkan kehancuran hatinya.
Tawanya berhasil lepas sekali. Namun terdengar ganjil. Lebih kepada menertawakan dirinya sendiri yang malang luar biasa.
Tentu saja. Akaashi tidak gay sepertinya—atau Kuroo—atau Kenma. Akaashi hanya menganggapnya sebagai kawan setim. Tidak lebih. Bahkan mungkin jauh lebih rendah, seseorang yang merepotkan? Ah, gambaran tentang bagaimana dulu Bokuto selalu berusaha penuh untuk menarik perhatian si hitam entah mengapa muncul lagi di pikirannya dan membuat si perak menyadari lagi dan lagi bahwa dirinya sangat tolol dan bodoh.
Digigitinya bagian dalam bibirnya sendiri untuk menahan air mata yang memberikan indikasi ingin terjun bebas dari kelopaknya. Tidak. Jangan. Tolong jangan membuat Bokuto terlihat menyedihkan di depan Akaashi kali ini.
"Bokuto-san? Kau tidak apa?" Untuk sedetik akhirnya sepasang emas itu memberanikan diri menatap lurus ke arah hijau indah yang selalu dipujanya itu. Dan bertemunya dua pandang itu menjadi penanda hilangnya ketahanan Bokuto. Setetes dua air matanya terjatuh, wajahnya yang merah semakin memadam, seolah mampu membakar tumpukan kelopak sakura yang selalu diasosiasikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan cinta.
Dilihat Bokuto tatap panik di mata hijau itu. Ah, apakah dirinya benar-benar terlihat menyedihkan di mata Akaashi? Akankah jika orang ini melihatnya merana maka cintanya yang ditolak akan dicoba ditimbangnya lagi untuk dipeluknya?
Rasa bersalah Akaashi bisa ditangkap Bokuto, namun orang itu sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Tidak memeluknya. Tidak menyambutnya. Tidak mendekatinya. Menahan diri di tempatnya berdiri sambil terus memberikan pandangan iba pada diri Bokuto yang terpuruk. Ah, Bokuto benar-benar makin meradang dan tersiksa.
"Aku sakit hati, Akaashi. Haha. Tapi—" kejujuran itu menjadi suara pertama Bokuto setelah sekian lama tak berkata. "Yah, kau tentu saja—haha. Aku sedikit sakit hati. Tapi aku akan baik-baik saja. Kau—" Bokuto mundur dua langkah dan menemu batang pohon sakura di belakangnya yang menyentuh punggungnya, "—kau pergilah duluan. Aku akan menyusul nanti. Setelah—" ia tergagap karena suaranya didominasi rasa sakit di tenggorokan, "—setelah ini."
Akaashi tak mungkin tiba-tiba mencintainya hanya karena iba. Tentu saja. Bokuto mungkin bodoh, tapi ia tak mungkin tidak tahu fakta itu.
Didengarnya Akaashi yang mengambil selangkah untuk berjalan mundur. Bokuto menyandarkan seluruh bebannya ke pohon, menolak menatap sosok Akaashi jauh lebih lama. Si hitam itu kemudian berbalik dan berlari pergi setelah berujar, "Aku benar-benar minta maaf."
Akaashi akan selalu dimaafkan, selalu. Kapan Bokuto tidak pernah memaafkan Akaashi? Dia menyayanginya. Sangat mencintainya. Tak pernah dosa Akaashi diingat Bokuto dan didendamnya. Tentu saja.
Tentu saja.
Ah.
Sialan.
Bokuto jatuh terduduk. Tak ada lagi yang menahan air matanya untuk jatuh dari tempatnya bersarang. Membasahi wajah yang seharusnya berbahagia itu. Desir angin musim semi seolah menjadi pengejeknya, memberikan sorakan menghina untuk ia yang patah hati. Hujan kelopak sakura semakin menyakitkan dirasa si perak. Ia tersungkur, terpuruk, menderita.
Tidak pernah rasanya Bokuto menerima penolakan semenyakitkan ini. Atau bahkan mungkin Bokuto selama ini tak pernah ditolak apapun keinginannya? Sehingga ia tak pernah tahu rasa yang meradang ini hingga yang terburuklah yang ia terima?
.
Kenma mengamuk tepat di depannya. Bahkan hingga melemparkan Nintendo DS-nya ke wajah Kuroo, menghantamkan bantalnya ke badan si hitam jabrik dengan penuh amarah hingga berhamburan bulu-bulu angsa di dalamnya, bercampur keringat, air mata, dan jeritan Kenma yang mengisi setiap ruang itu dengan segala dukanya.
Kuroo tak bisa melakukan apapun. Ia tak pernah melihat Kenma semarah itu seumur hidupnya. Wajah pemuda itu merah padam dan matanya membengkak karena menangis sejak sejam lalu. Hempas emosinya menyakiti Kuroo, setiap teriakannya membekas di memorinya, takkan bisa hilang dengan mudah seperti rasa bersalahnya pada si pirang kesayangannya itu.
Ibu Kenma sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan putranya dengan sang kekasih terkurung di dalam kamar penuh murka itu dengan pasrah. Membiarkan sosok hitam itu menjadi objek amarah si pirang yang tak terima pada keputusan yang diterimanya.
"KURO BANGSAT!"
Seluruh bantalnya habis, berganti dengan jeritannya pada sosok si hitam. Ia cakari tubuh orang itu dengan seberang-berangnya. Rengekannya menghancurkan hati orang itu. Berkali-kali Kenma mengguncang Kuroo, berusaha membuat si jabrik berubah pikiran.
Mereka baru berpisah selama dua bulan. Belum genap dua bulan, bahkan. Kenma mengerti bahwa kesibukan baru Kuroo di universitasnya tak membuat mereka bisa berhubungan sesering biasanya. Kenma mengerti bagaimana Kuroo masih beradaptasi dengan segala hal yang ada di lingkungan barunya. Kenma mengerti bagaimana susah dan sibuknya Kuroo. Kenma sangat mengerti Kuroo.
Tapi memutuskan hubungan begitu saja? Bahkan hanya melalui sebuah pesan singkat di media sosial? Siapa yang tidak murka? Dan jika Kuroo tidak dihubungi ibunya, mana mau orang ini datang kepadanya. Sudah muakkah Kuroo kini kepadanya? Apa yang salah dari Kenma selama ini? Si pirang tak habis pikir.
Kuroo tentu tahu Kenma sangat menyayanginya. Bagaimana mungkin orang ini memutuskannya begitu saja? Mengkhianatinya?
"KAU SELINGKUH? KAU MENEMUKAN KEKASIH BARU DI SANA? KATAKAN! KATAKAN!" Kenma berkali-kali mengguncang tubuh si hitam. Sekali dua kali pipi itu ditampar si pirang tanpa mau Kuroo membalasnya. Ia juga sama, Kuroo masih menyayangi orang ini. Namun entah kenapa tatapnya mendingin pada si pirang. Membuat rengekan itu menyaring, raungan Kenma menjadi, dan ia memeluk tubuh Kuroo dengan erat. Kepala di dadanya menggeleng kuat. "Tidak mau. Tidak mau. Kuro. Tidak mau."
Kuroo membalas peluk itu dalam diam. Diciumnya pucuk kepala si pirang dengan penuh sayang sebelum mencoba melepaskan pegangan erat Kenma. "Kenma, aku sudah harus kembali. Bokuto menungguku."
"BOKUTO?!" Kenma berteriak nyaring. Matanya melotot tajam, tak percaya. "KAU LEBIH MEMENTINGKAN BOKUTO?" Cepat si pirang melepaskan pelukannya. Mendorong tubuh si hitam sekuat yang ia bisa. "APA DENGAN ORANG ITU KAU SELINGKUH? BANGSAT. BANGSAT!"
Dada Kuroo dihantami Kenma dengan tenaganya yang tidak seberapa, namun sakitnya tetap terasa di hati si jabrik. Semenit dua menit Kenma lelah meluapkan segala tantrum di seluruh tubuhnya. Radang itu makin menjadi, namun ia kehabisan tenaga. Raungannya berubah menjadi rintihan pelan. Kepalanya jatuh ke dada Kuroo, membasahi baju si hitam dengan air mata dan ingusnya.
"Aku tidak mau putus. Tidak mau."
Kuroo adalah orang pertama yang tulus menyayanginya. Orang pertama yang selalu ada untuknya. Teman pertamanya. Orang yang paling dipercayanya. Kekasih yang sangat dicintainya.
Dan orang pertama yang menerima amuk amarahnya.
Kenma mungkin selama ini tidak terlihat peduli, namun ia sangat memperhatikan orang ini. Memberikan limpahan sayang yang tak dipercaya siapapun akan diberikan oleh seorang Kenma yang selalu dianggap tak pernah memiliki motivasi apapun untuk melakukan apapun.
"Aku harus kembali ke Setagaya." Entah bagaimana suara itu terdengar sama dinginnya seperti tatapnya, padahal di dalam hatinya, Kuroo sama hancur dan merana melihat sakitnya Kenma di depannya. Dengan pelan Kuroo mendorong tubuh si pirang, membalas belalak mata yang masih tak percaya pada apa yang dikatakannya. Kenma menggeleng sekuat mungkin. Menarik tangan Kuroo dan meringis, "Jangan. Jangan pergi. Tidak boleh. Kuro. Jangan pergi. Tidak mau."
Tenaga itu tidak sebanding dengan kekuatan Kuroo. Sekali hentak sepuluh jemari yang memegangi lengannya terlepas, bahkan membuat Kenma tersentak penuh kejut atas penolakan yang didapatnya. Bibir si pirang melengkung dalam ke bawah, mulutnya menganga sebelum kembali mengeluarkan raungan tak rela. Menyebutkan nama Kuroo berkali-kali. Namun Kuroo Tetsuro benaran sampai hati meninggalkan yang merana itu, keluar kamar dengan raut wajah murung.
"Tetsu."
Kuroo tak membalikkan badan saat ibu Kenma memanggilnya kala ia memasang sepatunya. "Tetsu, tidak bisakah kau memikirkan perasaan Kenma lagi? Kau tentu tahu hanya kau satu-satunya yang dimiliki Kenma."
Orang tua Kenma adalah orang tua penuh pengertian pada anak mereka. Kuroo percaya, dalam sehari dua hari lagi Kenma akan baik-baik saja ditinggalnya. "Maaf, aku harus segera pergi."
Sempat didengar Kuroo jeritan Kenma yang keluar dari kamarnya, berlari tertatih di koridor dengan memanggil namanya. Sekali lagi mencoba menahan si hitam dengan segala upayanya. Namun Kuroo secepatnya keluar, menutup pintu dan pergi dari rumah sang terkasih. Tak ingin membuat hatinya makin hancur melihat wajah kesakitan si pirang. Sedetik lebih lama dilihatnya Kenma merengek padanya, maka itu bisa saja membatalkan niat Kuroo untuk pergi dari sisinya.
"Bro, aku kembali."
Bokuto hanya menoleh sekali pada kawan hitamnya sebelum kembali menatap murung ke luar jendela. Memeluk lututnya sendiri dengan merana. Pucat wajah si perak, rambut jabrik peraknya sudah lunglai dan tak pernah setegak dulu entah sejak kapan. Mata kawannya selalu bengkak, bibirnya mengabu, seolah tak pernah ada kehidupan di raga itu.
Ia tak pernah seperti dulu lagi semenjak hari kelulusannya. Bahkan ia tak pernah ikut latihan apapun meski telah menjadi mahasiswa di Nittaidai.
Kuroo tersenyum tipis dan duduk di samping sahabatnya. Tangannya yang masih terluka karena cakaran Kenma tak ia acuhkan, lebam di wajahnya tak dirasanya. Ia ikut menatap ke luar jendela, mencari-cari apa yang menarik perhatian kawannya. "Aku putus dengan Kenma, kau tahu. Dan dia menghajarku habis-habisan."
Si perak tak menanggapi sama sekali. Matanya kosong, serupa ikan mati. Tak sedikitpun Bokuto bergerak dan memperlihatkan ketertarikan. Terkadang bahkan Kuroo harus memastikan apakah kawannya masih hidup atau tidak.
Dengan ganjil si hitam jabrik tertawa. "Sekarang kita duo lagi. Duo yang bernasib sama."
Tak ada reaksi.
Ingin Kuroo mengujarkan 'duo patah hati' namun entah mengapa ia menahan dirinya. Jiwa humor Bokuto sudah terkubur dalam, kemeranaan menjadi warna barunya. Kuroo makin merasa bersalah karena ia masih memiliki itu.
Ia sudah bersumpah, jika Bokuto patah hati, maka ia pun begitu jua. Ia sudah melakukannya. Namun entah mengapa ia masih merasa dalam tingkatan yang berbeda dari patah hatinya Bokuto.
"Hei, malam ini ingin jalan-jalan ke Shibuya? Aku mendengar ada toko olahraga baru dibuka di sana."
Tak ada tanggapan.
Kuroo mengusap wajahnya sendiri dua kali. Ia menatap wajah pucat Bokuto lagi. Tubuh yang semula kekar itu mengurus, bahkan jika Kuroo tak memaksanya, orang ini takkan tahu kapan waktunya makan dan tidur. Terus meratap di atas tempat tidurnya, menangis melihat ponselnya. Mengharapkan sedikit kabar dari orang yang dikasihinya. Entah kabar bahwa Akaashi merindukannya atau mungkin lebih dari itu.
Namun entahlah, kapten baru Fukurodani itu tak menghubunginya sama sekali.
Si hitam jabrik menarik napasnya panjang dan mengembuskannya pelan. Ia berdiri dan berjalan ke meja, mengambil botol minumnya dan sedikit diam melihat surat pemberitahuan yang ditujukan pada si perak. Absennya Bokuto dari kelas maupun latihan tentu saja menjadi perhatian bagi pihak universitas. Jika ini terus berlanjut hingga beberapa minggu lagi, Bokuto akan dikeluarkan.
"Hei, ikutlah ke gym bersamaku."
"Aku tidak mau." Bokuto makin erat memeluk lututnya sendiri. Makin mendalamkan kepalanya di sela pahanya sendiri. Tubuhnya bergerak-gerak tak karuan, punggung yang semula tangguh itu terlihat lemah dan tak berdaya.
"Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Aku ikut sakit melihatnya."
"Aku tak memintamu untuk melihatku."
Kuroo mengigit bibir bawahnya. Tatapnya terpaku pada si perak. "Kau sahabatku, kau tahu?"
Bokuto diam. Si hitam jabrik mendesah. Diambilnya handuk dari dalam lemarinya, memasukkan sepatu olahraga ke tasnya, dan katanya, "Aku akan menunggumu. Aku bisa membantumu jika kau memintaku, kau tahu?"
Ia pergi tanpa menunggu Bokuto menjawabnya. Kuroo tahu Bokuto takkan menjawab. Kemauan orang itu untuk membalas semua argumennya, sarannya, tawarannya, bahkan ujar candanya benar-benar sirna. Hal yang sangat merepotkan sejak dulu, namun tak ia sangka kondisi itu kini berlangsung cukup lama dan menyiksa Kuroo sendiri.
Mungkin satu-satunya yang bisa mengembalikan Bokuto yang dulu hanyalah Akaashi seorang. Tidak, bukan 'mungkin' lagi. Kuroo yakin akan hal itu. Akaashi adalah kunci untuk hidup Bokuto. Orang ini sangat mencintai Akaashi. Sampai muak rasanya Kuroo ketika dulu Bokuto selalu menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Akaashi saja. Akaashi ini. Akaashi itu.
Mungkin Kuroo harus melakukan sesuatu. Meminta Akaashi untuk menghubungi Bokuto? Atau mungkin memohon pada Akaashi agar setidaknya memberikan sedikit peduli pada si perak seperti bagaimana dulu perhatian Akaashi yang diberikannya kepada Bokuto. Lagipula, pikir Kuroo, sombong betul Akaashi jika benar-benar menghilang dari Bokuto hanya karena tahu mantan kaptennya itu menaruh hati padanya? Apa Akaashi kemudian jijik pada Bokuto? Marah? Atau justru membencinya?
"Uwah, mengerikan."
Kuroo meletakkan kembali dumbell-nya ke lantai setelah sekitar dua puluh kali mengangkatnya. Kepalanya menoleh pada kawan-kawannya yang berkumpul di depan televisi yang diletakkan di pojokan. Disapunya sedikit keringat di kening dengan handuk yang melingkar di lehernya. Ia berdiri, melakukan sedikit peregangan dan berjalan mendekati tepian ruangan yang berjejer treadmill di situ.
"Heh, dunia ini memang mengerikan. Ada saja orang-orang seekstrim itu."
Si hitam jabrik naik ke atas treadmill yang kosong dan memasang kecepatan normalnya. Tak mempedulikan kehebohan kecil yang menarik rasa penasaran orang-orang yang ada di sasana itu.
"Ada apa?"
Beberapa orang menanggapi seruan ngeri itu dan turut menepi di sela istirahat mereka yang sejenak.
"Pembunuhan. Korbannya gay."
"Yang benar saja."
"Hei, bukankah yang minggu lalu juga yang dibunuh homo?"
"Kata polisi pembunuhnya sama. Bisa jadi orang ini fobia homo. Oi kalian yang homo, hati-hati loh." Gelak tawa itu sama sekali tidak lucu bagi Kuroo. Ia menaikkan kecepatannya untuk mengalihkan fokusnya. Untuk sesaat ia merasa tenang karena memutuskan hubungan dengan Kenma. Melepaskannya dari rumor bahwa ia dan Kenma berpacaran dan menghindarkan si pirang kesayangannya itu dari kebencian tak berdasar orang-orang yang mengaku normal.
Si jabrik itu heran ketika sekembalinya ia dari latihan dilihatnya yang tadinya pucat dan lemah itu kini sedikit memancarkan semangat. Mata emas yang selama ini serupa mata ikan memperlihatkan binar harapan di sana. Bahkan Bokuto terlihat kebingungan memilih beberapa kaus dan kemeja untuk ia pakai.
"Ada apa, Bro?"
Hidung Bokuto kembang kepis gembira. Senyuman di bibir tipis itu tak bisa disembunyikan, Bokuto bernapas dan berujar dengan terburu-buru, "Komiyan mengajakku ke reuni tim Fukurodani. Aku yakin Akaashi juga ada di sana. Aku ingin menemuinya."
Tangan kurus itu gemetaran karena kebahagiaan yang mendadak ia dapatkan. Dan Kuroo turut bisa merasakan hatinya yang ringan melihat sukacita Bokuto yang akhirnya ia lihat dalam dua bulan terakhir. "Kapan?"
"Nanti malam. Tidak, satu jam lagi. Di tempat kami biasa berkumpul di dekat sekolah."
Kuroo tertawa melihat limpahan emosi itu. Ia menenangkan sang kawan, "Hei. Tenanglah. Aku akan membantumu memilih pakaian terkeren, oke? Aku akan pergi denganmu."
"Hah? Untuk apa?"
Mana mungkin Kuroo tega melepas Bokuto pergi sendirian jauh ke Fukurodani dengan tubuh kurus kering dan lemah begitu. Hei, bahkan dia mungkin belum makan siang. "Sudahlah."
.
Bokuto berhenti berjalan saat sekitar lima meter jauhnya dari restoran yang dituju. Kuroo sama membekunya seperti kawannya ketika melihat sosok Akaashi masuk terlebih dahulu ke dalam. Yang menawan itu tetap sama dengan rambut hitamnya yang terlihat bercahaya dan sehat, tubuh yang makin terlihat sintal, dan tatap hijau tajam yang membuat siapapun meleleh.
Tapi bukan karena keanggunan si hitam yang membuat mereka berdua tak melanjutkan langkah. Tangan yang menggenggam erat lengan kecil seorang gadis manis lah yang membuat keduanya terkejut. Terpana. Heran. Tak percaya.
"Itu Shirofuku. Untuk apa Akaashi berpegangan tangan dengannya?"
Yang emas itu membelalak, bibirnya gemetaran, dan Kuroo melihat lutut orang itu sudah akan jatuh jika tak ditahannya. Merah pipi pucat itu, mata yang bengkak itu menghilangkan binar bahagia yang setengah jam lalu menjadi warna yang kembali. "Itu Akaashi dan Shi—Shirofuku."
"Ya, aku tahu. Aku juga melihatnya, Bro. Tapi mungkin itu hanya kesalahpahaman kita. Ayolah." Kuroo membimbing kawannya untuk mencoba melangkah lagi. Tenaga yang hilang itu membuat Kuroo begitu mudah menarik tubuh kurus Bokuto.
Benar, itu mungkin hanya salah paham saja. Mungkin Akaashi berpapasan dengan Shirofuku dan mungkin saja gadis itu sedang terluka kakinya sehingga perlu dipegangi agar tidak jatuh. Benar begitu. Pasti begitu.
Keduanya masuk ke dalam restoran okonomiyaki, membalas sapaan anggota sekaligus alumni klub voli Fukurodani. Senyum Bokuto terbit saat membalas tatap yang hijau dan indah itu. Tidak menghiraukan pandang heran kawan-kawannya tentang perubahan dirinya sendiri serta bisik tak percaya bahwa sosok itu adalah mantan kapten mereka. Ia mengambil tempat duduk yang kosong di depan si hitam pujaannya, tangannya yang kurus gemetaran terangkat ke atas meja dan matanya tak lepas dari sosok itu.
"Sudah lama tidak bertemu, Akaashi."
Kuroo melihat tatap bersalah di mata Akaashi. Merasa iba dan kasihan pada sahabat peraknya. Bahkan tangannya segera menutupi mulutnya sendiri saat membalas sapa, "Bokuto-san?"
Si perak tertawa, ganjil dan tidak bertenaga seperti dulu. Tapi senyuman itu tulus pada Akaashi. Kuroo melihat gerakan di luar kendali di ujung mata kawannya dan menduga itu sebagai pertanda bahwa Bokuto akan menangis lagi. Ujar bibir pucat itu, "Akhirnya kita bisa bertemu lagi."
"Bokuto-san, kau tidak apa-apa?" Pandangan khawatir itu beralih ke Kuroo, "Apakah latihan di Nittaidai sebegitu kerasnya?"
Kuroo tertawa ganjil. Ia mengangguk mengiyakan, namun tidak mengatakan apa yang terjadi pada Bokuto. Mungkinkah Akaashi berpikir bahwa Bokuto baik-baik saja selepas ia tolak cintanya dua tiga bulan lalu?
"Aku—" Bokuto berkata tersendat. Tangannya memegangi jemari Akaashi di depannya, "—aku tak apa-apa, Akaashi. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Haha."
Tapi tangisannya menolak ujarannya sendiri. Kuroo terenyuh, disangganya pundak rapuh Bokuto agar tak jatuh karena bahagia telah mampu bertemu dengan yang dikasihinya lagi.
"Bokuto," Sarukui memanggilnya. "Pesanlah sesuatu. Kau seperti manusia kurang gizi setelah jadi atletnya Nittaidai."
"Aku pesan—" rasanya dilihat Kuroo Bokuto yang kesusahan menelan air liurnya sendiri, "—apapun yang dipesan Akaashi."
Semua orang yang ada di sana tahu sejak dulu bahwa Bokuto memiliki rasa yang lain pada setter mereka. Semua orang mengerti. Semua orang paham dan hanya mengiyakan apapun yang dikatakan si perak. Namun mungkin apa yang terjadi di hari kelulusan tidak diketahui oleh mereka. Mungkin Akaashi bungkam. Dan Bokuto jelas tidak mengatakan pada orang lain selain Kuroo mengenai kepercayaandirinya yang dihancurkan begitu mudahnya dalam sekian menit.
"Bokuto—" Shirofuku pelan memanggil si hitam. Pancaran mata keunguan itu benar-benar memperlihatkan kekhawatiran. Gadis berambut bob ini benar-benar wanita yang lembut. Ia duduk di samping Akaashi, di depan Kuroo. Dipeganginya tangan kurus Bokuto yang masih menggenggam jemari si hitam, "—kau benar-benar tidak apa-apa? Kau terlihat sakit."
"Tidak, Shirofuku. Tidak apa." Bokuto tertawa. Ia melepaskan pegangannya pada Akaashi, menggerak-gerakkan tangannya seolah dia selalu sehat, "Lihat, aku seperti biasa."
"Kau tidak melakukan latihan yang berlebihan, kan?" Akaashi menatap curiga si perak layu di depannya. Yang ditanya tertawa, tawanya kini terdengar sedikit lebih bersemangat meski belum mendekati tawanya yang lama dan jenaka. "Tidak. Tidak apa, Akaashi."
"Akaashi—" Akhirnya Kuroo sanggup menyebutkan nama si hitam, "—kau tidak pernah menghubungi Bokuto lagi, benar?"
Akaashi terdiam. Kuroo berkata lagi, "Aku sekamar dengan orang ini di asrama. Kenapa kau? Menyombong sekarang?"
Kini mata hijau itu saling berbalas tatap dengan ungu indah di sampingnya. Sekitar lima detik ia diam, Bokuto segera menyela, "Kuroo, jangan ganggu Akaashi. Dia kapten sekarang. Tentu saja dia sangat sibuk. Iya kan, Akaashi? Aku tahu bagaimana beratnya menjadi kapten."
Kuroo dulu pun seorang kapten jua, namun setidaknya ia masih memiliki waktu untuk bersenda gurau dengan Bokuto atau bahkan bermain game bersama Kenma di waktu luangnya yang banyak.
"Beban menjadi pemenang di turnamen musim semi sangat berat." Akaashi berujar pelan. "Ada banyak murid kelas satu bertalenta yang bergabung di tim dan aku masih mencoba menyesuaikan posisi tim inti yang baru. Kami masih—bingung harus menurunkan siapa di posisi apa." Akaashi mengalihkan pandangannya sebentar, "Dan tekanan yang kami dapatkan jauh lebih besar daripada saat dulu kita hanya nomor empat."
"Benarkan?!" Bokuto menatap Kuroo dengan binar di mata emasnya. Ia menepuk-nepuk pundak kawannya dengan lemah, "Tugas untuk kapten tim terbaik Jepang memang berat, tahu. Aku sangat mengerti itu."
Jika kau mengerti, Kuroo mengeluh di hatinya, kenapa kau selalu merana menunggunya mengirimkan pesan padamu?
"Dan juga—" rupanya Akaashi belum selesai, "—maaf, aku memiliki kekasih yang berada jauh dariku dan harus kuberi perhatian jua."
Tubuh kurus itu mengaku. Senyuman di wajahnya menghilang. Akaashi terasa berat mengatakan itu. "Aku harus mengatakan hal yang sejujurnya, Bokuto-san. Aku tidak ingin kau tersiksa karena aku. Tolong lupakan aku."
Bahkan entah mengapa, tanpa Akaashi mengatakannya Kuroo bisa menebak siapa. Namun Bokuto menanya, meyakinkan dirinya sendiri, "Shi—Shi—jangan katakan bahwa dia Shirofuku?"
Gadis di sampingnya bergerak tak nyaman. Ia menolak menatap mata dua orang di depannya, tangannya tersimpan di bawah meja. Begitu pula tangan Akaashi. Berpegangan tangankah keduanya? Saling membelai lembut kulit satu sama lain kah? Saling menghangatkan seperti angin musim semi yang justru mendingin untuk orang-orang yang mereka sakiti? Menegarkan satu sama lain dari tatap menghakimi Kuroo dan Bokuto?
"Kami sudah bersama selama setahun ini." Akaashi meneguk air liurnya sebelum kembali berkata, "Aku mengerti kau—kau—Bokuto-san, kau—" entah mengapa si hitam terlihat kesulitan mengucapkan satu kata yang pernah dikatakan Bokuto di depannya dua bulan lalu. Si perak tergagap, ia kembali menangis. "Aku menyayangimu."
"Aku mengerti itu. Tapi—sungguh—maafkan aku."
Orang-orang yang tidak mendengar percakapan keempatnya hanya sibuk pada perbincangan mereka masing-masing. Yang duduk di sebelah meja mereka dan secara terpaksa mengetahui masalah yang menyelimuti keempatnya terpaksa diam seribu bahasa, salah tingkah, mencari kesibukan lain, canggung.
Bokuto seolah lupa bahwa dia tidak berada di usia dimana ia bisa menangis semaunya di tempat umum. Wajah pucatnya kembali dibasahi air mata seperti malam-malam yang sebelumnya. Bibir pucatnya gemetaran, jemarinya bergerak-gerak tak nyaman dan bergetar. Dadanya kembang kempis menyakitkan, menekan jantungnya yang bekerja dengan berat dan terasa sakit.
Kuroo berdiri, dibimbingnya kawannya untuk berdiri, ia tuntun si perak untuk pergi dari tempat itu. "Kami pergi. Kami tak seharusnya ada di sini."
Berkali-kali bibir pucat itu menyerukan nama si hitam yang dipujanya. Seolah ia tak tahu kata lain, seolah tak ada nama lain melainkan ia seorang. Seluruh tenaganya hanya ia limpahkan untuk mengujarkan nama itu saja. "Akaashi. Akaashi."
Kuroo menyeret tubuh kurus itu dengan kesusahan, membawa yang terpuruk dan kembali menemu mimpi buruk yang kesekian kalinya itu. Dua tiga kali dalam semenit Kuroo menepuk pundak sang kawan dalam diam. Menegarkan yang rapuh itu.
"Kita akan melakukan sesuatu, Bro. Ini bukan akhirnya. Aku akan melakukan sesuatu. Untukmu. Hei, aku sahabatmu, bukan?"
.
Kuroo sekali lagi menyeka yang basah di rambut dan keningnya dengan handuk yang sama kuyupnya. Hujan mendadak datang saat ia baru berlari lima putaran di lapangan olahraga luar ruangan. Ia menarik napas berat dan merogoh kunci kamarnya sebelum membuka pintu.
Handuk kuyup yang dipeganginya terjatuh begitu saja. Matanya melotot. Tak ia rasakan berat tubuhnya yang tadinya membuatnya letih. Otot-otot yang memerih bekerja untuk hal lain kali ini. Beberapa kawannya yang lalu lalang di koridor dan mendapati kebekuan tubuh Kuroo melirik ke dalam kamar dan berteriak nyaring, menyeru ngeri. Ngeri melihat tubuh yang meregang nyawa di seutas tali yang terikat di tengah ruangan.
"BOKUTO!"
