special thanks to
Rin 'Yaya-chan' Kagamine, Nia Kagamine, Akihisa Funabashi, Nura
dan kamu yang udah membuka halaman ini

disclaimer
yang kemaren ngikut aja yaa~
tambahan: The Best Thing punyanya Relient K

warning
APE
(abal, pasaran, enek)
biar seru, bakalan ada hints crack pair
bab ini panjang lhoo~

advice
kayaknya seluruh cerita ini bakalan lebih enak kalau dibaca dengan mode 3/4 deh.


berry blue
(sendok kedua)


Miku menguap lebar sambil menatap sebal ke arah mobil sedan biru yang terparkir tepat di depan rumahnya. Sang pengemudi, pemuda berambut biru yang terlihat amat sangat tampan pagi itu, melambaikan tangan kanannya dengan bersemangat seolah hari itu dia bangun tanpa beban sama sekali.

Dan ingin rasanya Miku melemparkan bola basket kesayangannya untuk merusak wajah ceria dari sahabat bodohnya itu. Ini adalah Senin pagi. Pagi yang selalu dibenci hampir oleh semua orang yang mengharapkan liburan berlebih, termasuk Miku sendiri. Keinginan untuk tetap bergelut di balik selimut tebal dan memeluk bantal kesayangannya masih mendesak begitu kuatnya.

Dia bisa saja bangun terlambat ataupun bolos datang ke sekolah, tapi semua rencana nakalnya harus dirusak oleh kedatangan si maniak es krim itu. Shion Kaito berhasil merusak rencana hebatnya. Miku harus benar-benar memberikan ucapan selamat pada orang itu!

Gadis berambut panjang itu mencibir Kaito sambil berjalan ke kamar mandi. Mulutnya tak berhenti melafalkan betapa nistanya Kaito sebagai seorang manusia dan disertai beberapa kutukan agar pemuda bodoh itu tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidup ini.

Lima belas menit kemudian, Miku sudah berdiri di depan rumahnya dengan tas selempang dan bola basket hitam di tangannya. Rambut hijaunya terurai di belakang punggungnya yang terlihat amat sangat tidak cocok dengan penampilan tomboinya. "Hei, bodoh, bukakan pintunya tahu!" perintahnya dengan nada tinggi.

Kaca jendela sedan itu terbuka dan menampakkan wajah riang Kaito. Cengiran lebar di bibirnya jelas membuat Miku semakin kesal saja. "Buka pintunya, bodoh!"

"Selamat pagi, Miku! Kenapa kau terdengar sangat sebal sih? Nikmati hidupmu dong! Beruntung kau masih bisa hidup hari ini!"

"Well, yeah, aku akan berterima kasih kalau seandainya kau tidak datang menjemputku sepagi ini. Demi Tuhan, apa salahku padamu, Kaito?"

"Aku hanya ingin menawarkan jemputan."

"Agar kau bisa bertemu dengan Megurine Luka saat mengantarkanku ke kelas? Kau menyebalkan tahu!" Miku berjalan ke sisi belakang dan membuka pintu mobilnya. Dia melemparkan tasnya dan bola basketnya kesana lalu merebahkan dirinya ke dalam posisi paling nyaman. "Setengah tujuh. Apakah kau tidak bisa lebih siang sedikit?"

"Semakin pagi kau bangun, semakin kau bersemangat menghadapi hari!"

Miku mencondongkan tubuhnya ke depan lalu memaksakan sebuah senyuman aneh di wajahnya. "Jawaban bodoh. Tidak masuk akal. Idiot. Aku benci padamu."

Kaito mengerjapkan kedua matanya pelan kemudian tersenyum lebar. "Kau tahu, semakin kau marah, wajahmu terlihat semakin manis."

"Gombalanmu tidak akan mempan padaku, bocah es krim." Miku menegakkan punggungnya. "Kapan kau akan mulai menyalakan mobil ini sebenarnya?"

"Hah?"

"Kita nungguin apa lagi?"

Kaito tersenyum lalu membalikkan badannya ke depan. Dia mengatur posisinya ke yang paling nyaman dan mengatur gigi depan sedannya. "Aku hanya menunggu perintah dari nona yang bersikap seperti tuan putri di belakangku ini."

"Nyindir nih?"

"Nggak kok."

Miku memutar bola matanya. Biasanya dia duduk di depan di sebelah Kaito. Hanya saja, entah kenapa, pagi ini dia ingin duduk di kursi belakang sekarang. Seolah, kursi depan itu sudah memilih seseorang untuk duduk di atasnya.

.

.


.

.

"All my life. I've been searching for you. How did I survive in this world before you cause I don't wanna live another day without you now."

Miku melirik Kaito yang sedari tadi sibuk melafalkan lirik lagu Relient K dengan judul The Best Thing sesuai temponya yang melantun lewat speker mobil sedan itu. Biasanya, mereka berdua akan menyanyikan lagu rock dengan tempo cepat sebelum pergi ke sekolah, tapi pagi ini, kebiasaan itu berubah karena sifat melankolis Kaito yang mendadak muncul.

"This is the best thing. The best thing that could be happening. And I think you would agree. The best thing is that it's happening to you and me."

Jatuh cinta jelas memiliki gejala nyanyian lagu melow nan romantis. Miku benar-benar tidak habis pikir bahwa seorang Megurine Luka mampu mencuci otak Kaito yang selama ini hanya dihiasi oleh es krim dan coklat. Diam-diam, Miku ingin memuji Luka atas keberhasilan gadis cantik itu.

"The best thing is that it's happening to you and me! Wooo!" Kaito tertawa lebar sesudah lagu itu selesai dimainkan. Dia memukul stir mobilnya dengan bersemangat. "Aku siap bertemu denganmu, gadis cantikku!"

Miku memasang wajah aneh sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. "Kamu tuh norak banget sih!"

"Biarin!" Kaito menjulurkan lidahnya. "Yang penting aku bisa jadi pacar Luka-cwaaan!"

"Dia belum tentu mau jadi pacarmu tahu!"

"EH?" Kaito segera menoleh ke kaca spion untuk menatap wajah Miku. "Apa maksudmu?"

"Sudah kubilang kan, kau itu sama sekali nggak sebanding sama dia!" Miku mengangkat tangannya, memberikan gerakan permisalan. "Dia, Megurine Luka, bagaikan putri cantik dari kastil tertinggi. Semua orang menginginkannya." Tangan kiri Miku terangkat kemudian tangan kirinya terayun ke bawah jok mobil. "Kalau kau, Shion Kaito, berada di posisi terendah dari siapapun yang pernah ada."

"JAHAT!"

"Jadi, bahasa simpelnya, Luka itu tuan putri, kau itu tukang sapu!"

"Miku!" seru Kaito dengan nada tinggi. "Kau melukai perasaanku, tahu!"

Gadis itu menjulurkan lidahnya. "Well, who cares about that!"

"Dengar ya, kalau seandainya aku benar-benar akan jadian dengan Luka-chan, jangan menangis!"

"Menangis?" ejek Miku. "Yang benar saja, bodoh! Jangan berharap kau bisa pacaran dengannya! Aku bahkan yakin kalau dia tidak mau bicara denganmu lagi untuk selanjutnya!"

Kaito menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. "Kau salah, Miku!"

"Kau yang teralu pe-de, Kaito!" Miku menyandarkan tubuhnya sambil menatap deretan gedung perkantoran yang menuju ke sekolah mereka.

Speaker mobil mulai memainkan lagu berikutnya, namun kedua sosok remaja itu sama sekali tidak peduli apa yang didengarnya. Mereka hanya diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga mobil sedan biru itu terparkir rapi di tempat parkir sekolah mereka.

Miku-lah yang membuka pintu terlebih dahulu dan keluar begitu saja tanpa mengucakan sepatah kata pun pada Kaito. Entah kenapa, dia merasakan suasana canggung yang sangat tidak mengenakkan dan membuat dia ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Kaito.

"Miku!" panggil Kaito pelan.

Gadis dengan rambut hijau kebiruan itu berhenti di tempatnya dan menoleh ke arah Kaito yang menyusulnya dengan langkah cepat. "Kau marah padaku?"

"Tidak." Iris Miku menatap Kaito dengan heran. "Sama sekali tidak."

"Lantas, kenapa kau keluar duluan tanpa menungguku?"

"Karena kau tidak minta supaya aku menunggumu."

Kaito menghela napas panjang dan mencoba tersenyum pada Miku. "Ayo ke kelas sekarang." Tangan kanan Kaito terangkat dan itu jelas membuat Miku heran.

Alis gadis itu terangkat hingga dia memutuskan untuk memberikan high five pada pemuda biru itu. Kaito mengerjapkan kedua matanya, agak sedikit terkejut dengan apa yang diterimanya. Namun, dia hanya mengangguk seraya tersenyum.

Miku sudah ingin melangkahkan kakinya ketika merasakan pelukan hangat di pundaknya. Dia menoleh dan melihat Rin sedang tersenyum lebar padanya. Si pirang itu masih mengenakan helm motor putihnya dan mantel bulu kuning favoritnya. Mata birunya mengerjap pelan dengan bersemangat. "Pagi, Miku!"

"Pagi, Rin. Kau selalu semangat seperti biasanya ya!"

Gadis pirang itu tertawa pelan lalu melepaskan helm motornya. Dia mengangguk pelan pada Kaito lalu perhatiannya kembali terfokus pada Miku. "Siang nanti kita latihan lagi ya."

"Hah? Lagi?" protes Miku.

"Kenapa memangnya? Kau tidak suka?"

Alis Miku berkerut ketika dia mendengar suara dari orang yang paling menyebalkan sedunia menurutnya. Dia menoleh ke belakang dengan wajah cemberut. "Memangnya aku tidak boleh protes apa?"

Pemuda pirang dengan wajah serupa dengan Rin balas menatap Miku dengan ekspresi datar. Helm putih berada di tangan kanannya sementara tangan lainnya memegang bola basket berwarna oranye terang. "Mau menang atau nggak sih?"

Miku memutar bola matanya, merasa sebal ketika dia harus perang mulut dengan kapten tim basket cowok sekolahnya. Pasti ujung-ujungnya bakalan jadi obrolan yang teramat nggak penting, pikir Miku sebal.

"Sesudah pulang sekolah di lapangan basket seperti biasa!"

Rin nyengir lebar sambil menepuk pundak Miku. "Kita tunjukkan perfoma terbaik klub basket cewek, ya kan, Kapten?"

Sudut mata Miku menangkap wajah Len yang selalu terlihat menyebalkan baginya. Sudah lama sebenarnya Miku ingin membuat wajah manis Len yang serupa dengan Rin itu mengerut penuh kekalahan.

Semua orang di sekolah mereka tahu persis kalau hubungan kapten tim basket putri dan kapten tim basket putra sekolah mereka memang tidak dalam kondisi harmonis. Selalu saja, sekecil apapun itu, pasti ada penyebab yang kemudian memunculkan debat tanpa arah dari mereka berdua. Kadang, semua itu baru berakhir kalau salah satu dari keduanya disuruh mengalah oleh anggota tim basket mereka yang lain.

"Kita lihat saja nanti, Len, mana yang lebih baik, tim basketmu atau tim basketku. Jangan menangis kalau kau dianggap sebagai yang terpayah nantinya!"

Len memutar bola matanya yang sewarna dengan langit musim panas. "Jangan membual seperti orang bodoh, Miku!"

"Oh, yeah?" Gadis berambut panjang itu berbalik dan menatap mata Len lurus-lurus. "Kita lihat saja nanti!"

.

.


.

.

Matahari bersinar dengan ganasnya di antara langit birunya musim panas. Yap. Ini adalah bulan Agustus dimana udara Jepang sedang dalam kondisi terpanas sepanjang usia. Beberapa faktor seperti global warming jelas memperburuk segalanya.

Di dalam ruangan kelas 2-A, seorang gadis terduduk dengan bosan seraya sesekali mencoretkan sesuatu di lembar buku catatannya. Dia menatap papan tulis tanpa semangat dan mulai memahami apa yang tertulis disana.

Statistika. Mean. Modus. Kuartil.

Kenapa dia harus mempelajari masalah sesulit itu sebenarnya?

Miku menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Perhatiannya kemudian teralih pada sosok berkacamata yang duduk tepat di sebelahnya.

Kojima Gumi sedang menekan kalkulatornya dengan terampil, mencoba menemukan solusi dari soal yang diberikan guru matematika mereka di depan sana sebelum orang lain mampu mendahuluinya. Beberapa detik kemudian, dia sudah mengacungkan tangan kanannya dengan aura penuh kepintaran tinggi.

Miku tersenyum tipis. Dia senang karena dia bisa duduk di sebelah gadis terpintar di angkatannya, namun ada beberapa hal yang tidak Miku sukai soal ambisi Gumi yang selalu ingin prefeksionis.

Mengingatkan Miku pada sosok pemuda pirang menyebalkan yang sudah dia anggap sebagai rivalnya dalam dunia basket. Kagamine Len. Sama halnya seperti Gumi, Tuhan telah menganugrahkannya sebuah kejeniusan tiada tara. Tidak ada yang salah dengan hal itu sebenarnya jika seandainya Len terlahir dengan sifat seperti kakak kembarnya, Rin. Masalahnya, Tuhan memang menciptkan semuanya dengan tidak sempurna. Dan ketidaksempurnaan Len terletak di masalah sifat menyebalkannya itu.

Gumi sudah kembali ke sebelah Miku setelah menuliskan jawaban soal yang sudah pasti benar. Gadis dengan rambut hijau pendek dengan model bagian depan jauh lebih panjang dari pada bagian belakangnya itu menatap Miku datar. "Kau tidak mengerjakan soalnya?"

"Malas," jawab Miku datar. "Aku sama sekali tidak mengerti tentang apapun yang kau tuliskan barusan! Apakah anak SMA harus belajar ini semua sebenarnya?"

Gumi mengangkat bahunya. "Itu konsekuensi sebagai anak SMA, Miku."

Tidak ada gunanya dia membicarakan masalah pelajaran-tidak-begitu-penting di depan anak yang juara umum sepanjang dia bersekolah. Memutuskan untuk mencari topik lain, Miku mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan iris biru kehijauannya terpaku pada sosok merah muda yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya.

"Hei, Gumi," panggil Miku sambil menyikut lengan teman sebangkunya itu.

"Apa?" Gumi sama sekali tidak melirik. Matanya tetap terfokus pada guru matematika mereka di depan kelas.

"Menurutmu, apakah Luka itu cantik?"

Alis Gumi terangkat sebelah walaupun dia masih belum menoleh ke arah Miku. "Apa maksudmu dia cantik atau tidak? Bagaimana mungkin kau bertanya tentang kecantikan seorang cewek kepada cewek lain? Kau aneh, Miku!"

"Jawab saja!"

Akhirnya, Gumi menatap wajah Miku juga. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Megurine Luka setelah hampir sebulan ini kita sekelas dengannya dan selama itu kau tidak pernah sedikit pun peduli padanya?"

"Kaito kemarin bilang kalau dia menyukai Luka."

Gumi langsung memusatkan kembali perhatiannya ke pelajaran ketika dia mendengar jawaban bodoh Miku. Dia menuliskan sesuatu di catatannya sambil berkata pelan, "kau cemburu begitu?"

"Jangan bodoh!"

"Bodoh?" Kata dengan makna negatif itu segera menyinggung perasaan Gumi yang paling dalam.

"Maksudku, mana mungkin aku cemburu kan? Kita sedang membicarakan Kaito! Shion Kaito!"

"Bukan itu masalahnya!" sela Gumi cepat. "Kau baru saja memanggilku dengan kata negatif, Miku."

"Baiklah, aku minta maaf, nona pintar."

"Setidaknya itu lebih baik."

Miku menarik napas panjang, mencoba bersabar dalam bicara dengan sahabatnya yang teralu pintar ini. "Jadi, bagaimana menurutmu?"

"Soal Megurine-san cantik atau tidak?" tanya Gumi sambil memperhatikan kepala Miku yang terayun ke atas dan ke bawah. "Well, kurasa dia itu lumayan. Stylenya bagus. Dia bisa jadi model majalah remaja kalau dia mau."

"Jadi, menurutmu dia cantik?"

"Kalau kau ingin menggunakan kata sifat itu untuk menjelaskan keadaannya, aku setuju saja."

Miku sama sekali tidak menyahut. Kepalanya tertunduk dengan lesu ke bawah lantai, menatap sepatu kets merah miliknya. Gadis itu bahkan sama sekali tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia ingin bertanya seperti itu pada Gumi. Sekarang, setelah dia mengetahui jawabannya, dia justru merasa lemas tak bersemangat. Ada sesuatu yang jelas aneh padanya.

"Kau marah kalau aku mengatakan yang barusan?" tanya Gumi pelan. Gadis pintar itu meletakkan pulpennya di mejanya lalu menatap Miku penuh perhatian. "Kau tidak rela kalau aku memujinya, begitu?"

Alis Miku berkerut. "Kenapa aku harus merasa tidak rela?"

Bola mata kehijauan milik Gumi berputar ke sosok Luka. "Kau mau dipuji, Miku?"

"Hah?"

"Aku heran tahu, rambutmu diurai dari pagi hingga sekarang? Ada momen khusus?"

Miku mengelus rambut panjangnya dengan pandangan tidak mengerti. "Maksudnya?"

Gumi menghela napas panjang. "Aku harap kau sedang tidak meniru seseorang."

"Hah? Maksudmu... kau pikir... aku meniru dia apa?"

"Hatsune Miku!"

Miku mengerjap pelan begitu sadar suara siapa yang barusan memanggil namanya. Guru mereka, pria dengan kaca mata tebal dan rambut keriting yang berantakan sedang menatapnya tajam penuh emosi. Tanpa sadar, Miku barusan berteriak di kelas dan jelas itu membuat semua mata tertuju padanya.

"Ya, Sensei?" tanya Miku takut-takut. Dia tahu nasibnya akan habis sesudah ini.

"Kalau kau ingin ribut, keluar saja dari kelas ini!"

.

.


.

.

Earphone yang memainkan lagu rock sukses menahan semua kekacauan suara ke telinga pemuda pirang itu. Tangannya mengetuk-ketukan nada sesuai tempo dengan iris biru yang mengamati suasana kelasnya yang berantakan akibat tidak hadirnya guru fisika mereka tercinta.

Yap. Di saat kelas lain sedang mengharapkan jam kosong, kelas 2-D benar-benar menjadi kelas terberuntung karena di siang sepanas itu, mereka tidak perlu belajar logika perumusan dengan berbagai macam angka memusingkan.

Dia sendiri, pemuda pirang dengan wajah manis itu, merasa bosan sendiri. Dia terlahir dengan kejeniusan tinggi. Membaca text book sekali dan dia akan mengaplikasikannya ke beribu soal yang ada. Karena itulah, di saat teman-temannya yang lain masih sibuk berkutat dengan tugas yang diberikan guru mereka, dia sudah bisa berleha-leha santai dengan tenang.

Iris sebiru langit cerah miliknya melirik bola basket oranye kesayangannya. Dia sebenarnya ingin meraih benda itu, membawanya keluar, bermain bersamanya. Tapi dia tahu, kapten basket putra main sendirian di lapangan? Gosipnya sebagai anak autis bisa menyebar dengan cepat dan memberikan kesan buruk pada semua fansnya.

Jangan salah, dengan wajah semanis Len dan sifatnya yang (sok) keren itu, beberapa siswi di sekolah mereka bisa sampai tergila-gila menuju kematian. Nggak ada yang bisa menandingi banyaknya jumlah fans Len (walaupun sebagian dari mereka memang fujoshi yang menganggap Len pas sekali untuk jadi uke).

Len menolehkan pandangannya ke luar jendela, ke koridor sekolah yang menuju lapangan basket sekolahnya. Betapa terkejutnya dia ketika dia melihat sosok gadis dengan rambut panjang sepinggang melintas di hadapannya dengan bola basket hitam di tangan kanannya.

Sebuah senyuman tersungging di bibirnya dan si pirang manis itu segera berdiri lalu meraih oranye kesayangannya. Langkahnya terhenti ketika salah satu anggota tim basketnya menarik tangannya dengan cepat.

"Kau mau kemana, Len? Meninggalkan aku sendirian disini?" tanyanya dengan mata penuh harap. "Aku bahkan belum menyelesaikan setengah tugasnya. Kau mau bantu aku nggak?"

Len menghela napas panjang dan menepuk pundak pemuda dengan rambut perak halus yang duduk tepat di sebelahnya. "Piko, dengar aku ya, mana integritasmu sebagai seorang siswa SMA?"

"Hei, aku masih SMA ya, bukannya mahasiswa. Ngapain ngomongin integritas di depanku, Len! Aku mau nyontek punya kamu. Boleh ya?" Piko mengedipkan sebelah matanya penuh rayuan sementara Len justru meletakkan tangannya di depan dada.

"Kau nggak akan jadi apa-apa kalau kayak gitu terus, Piko. Jauh-jauh ke Jepang dari Rusia cuma buat nyontek? Hello!"

Tanpa menunggu aba-aba lagi, Piko langsung meraih buku Len dan menyalin jawaban yang ada disana. Beberapa kali dia terdiam dengan dahi berkerut, tampak seolah berpikir, namun dia tetap lanjut menulis tanpa bertanya apapun.

Len mendesah panjang. "Itu jawaban soal latihan kemarin lho!"

"Len!"

Pemuda pirang itu memutar matanya, berbalik pergi dari ruangan kelas menuju lapangan basket sekolah mereka. Iris sebiru langit cerah miliknya tanpa berbinar penuh bahagia saat dia menatap bola oranye kesayangannya. Dia cinta basket lebih apapun di dunia ini dan dari dulu sampai sekarang, dia sama sekali belum pernah bertemu seseorang yang sangat ingin dikalahkannya.

Tapi dia sudah bertemu dengan orang itu sekarang.

Orang yang sejak awal ditetapkannya sebagai rival miliknya.

Hatsune Miku.

Bahkan Len sendiri tidak mengerti kenapa dia begitu terobsesi untuk mengalahkan gadis itu. Dia kenal beberapa orang yang levelnya jauh di atas Miku dan lebih hebat dibandingkan dirinya sendiri, tapi hatinya telah memilih Miku. Dia hanya ingin Miku yang menjadi rival sejatinya.

Jangan samakan ini dengan perasaan romantis seperti yang dikatakan kakak kembarnya. Rin bahkan sudah mati-matian menjodohkan Len dengan Miku yang menurut Len sendiri adalah tindakan paling bodoh.

Len dan Miku jelas sangat bertolak belakang. Bagaikan air dan minyak yang tak pernah menyatu karena massa jenisnya ditakdirkan untuk berbeda. Sama halnya seperti Miku dan Len yang tidak akan pernah cocok sampai kapan pun.

Karena itulah, ketika dia melihat gadis rivalnya itu lewat di depan kelas dengan bola basket di tangan, Len sama sekali tidak bisa menahan gejolak perasaannya sendiri untuk ikut ke lapangan basket dan bertanding dengan sang rival.

Begitu dia sudah sampai disana, sebuah senyuman sama sekali tak mampu tertahankan. Sosok gadis itu berada di tengah terik matahari, mendribbel bola dengan peluh yang membasahi seragamnya. Rambutnya dikuncir ekor kuda ke belakang seperti kebiasaannya sejak bermain basket.

Miku mendribbel bola dalam satu pola yang indah sehingga dentumannya mampu membuat perasaan Len menjadi nyaman. Gadis itu bergerak dengan lincah seolah menghindari beberapa musuh tak terlihat yang ada di sekelilingnya. Maju mundur, kanan kiri, memeluk mendribbel, lalu melemparkannya tepat ke ring ketika dia sudah berada di di posisinya.

Namun, bola memang belum ditakdirkan untuk masuk ke ring. Miku menggelengkan kepalanya dengan kesal lalu berlari mengejar bola, mendribbelnya beberapa kali, dan melemparkannya lagi ke ring...

Yang lagi-lagi tidak masuk.

Miku mendengus kesal. Dia memutari lapangan sambil mendribbel bola. Peluhnya sudah membanjiri wajahnya, namun dia masih belum puas selama dia belum mencetak poin.

Sekali lagi, Miku berdiri di depan ring, siap menembak dan... tidak masuk.

Di pinggir lapangan, Len sendiri sudah cukup heran dengan sikap si bola yang memilih untuk tidak memihak pada Miku. Padahal, biasanya, dari lima lemparan Miku ke ring, tiga pasti diantaranya masuk.

Ada sesuatu yang salah, Len bisa menebak hal itu.

Miku menarik napasnya, mencoba menenangkan diri. Cuaca panas mau tak mau telah menguras staminanya, melemahkan kondisinya, menghabiskan teralu banyak energinya. Dia mengambil bola basketnya lagi, menatapnya dengan tidak percaya. Apa yang salah? Dia sudah melakukannya seperti biasa!

Miku menggelengkan kepalanya, mencoba membuang rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Dia merasa mual dan begitu lemas.

Gadis itu mengenggam jemarinya, berusaha membuatnya semakin kuat, tapi rasa lelah mendorongnya untuk menutup mata. Pandangannya sekilas mulai mengabur dan menghitam.

Detik berikutnya, Miku sudah ambruk di tengah lapangan.

.

.


.

.

Saat Miku membuka kedua matanya, dia bisa melihat langit-langit putih asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bau alkohol dan obat-obatan serasa menusuk hidungnya, menimbulkan rasa pusing mengingat dia sama sekali tidak pernah menyukai benda-benda seperti itu. Matanya mengerjap pelan, mencoba mencerna situasi di sekelilingnya.

Dia mencoba duduk dan menatap sekelilingnya. Dia sedang duduk di tempat tidur dengan seprei putih pucat yang ada di ruangan berbau obat. Ada sebuah meja panjang, lemari obat, dan vas bunga berbau lavender disana.

Ruang kesehatan. Miku mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya. Seingatnya, dia sedang latihan basket di lapangan dan udara memang sangat panas. Lalu, dia merasa lemas dan...

Siapa yang membawaku kemari?

Merasa panik, Miku ingin segera berdiri dari tempatnya dan beranjak keluar dari ruangan itu secepatnya. Gerakannya terhenti ketika dia melihat seseorang ternyata duduk di lantai tepat di sebelah tempat tidurnya.

Seorang pemuda dengan rambut pirang di kuncir yang di telinganya tersumpal earphone besar berwarna putih mencolok. Iris biru langitnya terpejam dengan tenang seolah dia baru saja tertidur dengan damainya. Wajah manisnya terlihat semakin manis ketika dia terlihat tenang seperti dia tidak pernah menunjukkan wajah menyebalkannya kepada seluruh dunia.

Miku menelan ludahnya dengan panik. Apa yang dilakukan orang ini disini?

Lantas, tiba-tiba saja iris biru itu menunjukkan keberadaannya. Len segera menoleh dan menatap Miku tajam seperti biasanya. Wajah tenang nan damainya berubah menjadi wajah iblis yang paling dibenci oleh Miku. Dia melepaskan earphone nya sambil berdiri lalu berkata, "Kau sudah bangun akhirnya."

"Yang sebenarnya tidur siapa sih?" Miku memutar bola matanya dan melompat berdiri ke lantai. Karena pergerakkan yang teralu cepat sementara aliran darahnya belum siap memompa ke seluruh jantungnya dengan cepat, tubuh Miku sempat limbung sebentar dan saat itulah sang pemuda pirang menyebalkan itu sigap menangkapnya.

"Hati-hati dong! Kata suster kau anemia tahu! Jangan kebanyakan gerak dulu!" sahut Len datar. Tangan kanannya memegangi bahu Miku, menyangganya agar tidak jatuh merosot ke lantai.

Miku mendongakkan kepalanya untuk membalas perkataan Len. Dan saat itulah, waktu terasa berhenti untuk mereka berdua.

Saat biru kehijauan bertemu dengan biru langit cerah, Miku bisa melihat wajah Len teralu dekat hingga rona kemerahan muncul di wajahnya. Entah baru tersadar atau apa, wajah Len terasa lebih tampan—bukan manis—daripada biasanya. Bulu mata Len terlihat lebih panjang dengan bibir merona merah dan kulit wajah yang juga berwarna merah.

Seketika, Miku merasa jantungnya berdetak tak normal ketika Len menarik tangannya dan membantunya berdiri. Pemuda itu hanya beberapa senti darinya dan jarak di antara mereka berdua mengaburkan segalanya.

Len sendiri cukup lama terdiam, terpesona pada wajah Miku yang mulai memanas. Dia tidak mampu berkedip, tidak mampu juga melakukan apapun. Dia hanya terdiam, berdiri disana dengan kepala kosong.

Dan waktu mulai berjalan lagi ketika Miku menarik tangannya paksa dari genggaman Len lalu memalingkan wajahnya ke samping. Len sendiri baru tersadar kalau wajahnya panas dan ikut-ikutan memalingkan wajahnya dari Len.

"Kau yang membawaku kemari?" tanya Miku pelan, bahkan hampir terdengar seperti bisikan halus.

Len merasakan ada sesuatu yang aneh dengannya. Dia melirik tangan kirinya yang baru saja mengenggam tangan Miku. Matanya mengerjap pelan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

"Umm... kurasa aku harus berterima kasih..." bisik Miku pelan dengan wajah yang masih terpaling.

"Mestinya kau diet tahu! Aku hampir mati rasanya menggendong babon seberat kau!" potong Len cepat.

Miku segera menolehkan kepalanya dan menatap Len berang. "Ap.. Hah? Dengar ya, memangnya siapa yang minta bantuanmu, hah?"

Len balas menatap Miku tajam. "Kau itu teralu bodoh tahu! Main basket di cuaca seterik ini? Hello! Kau mau menguji daya fisikmu memangnya?"

"Oh, yeah, tuan super jenius? Dengar ya, apapun yang kulakukan terhadap diriku sendiri, itu semua sama sekali nggak ada hubungannya denganmu!" seru Miku dengan nada sarkastik dan kemudian dia berjalan pergi kembali ke kelasnya.

Len menghela napas panjang dan memutuskan untuk kembali ke kelasnya juga. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat gelang dengan batu berwarna biru kehijauan yang terlihat sangat indah di lantai. Dia menunduk dan memungut gelang itu dengan alis berkerut.

Di belakang bandul batunya, terpahat tulisan rapi berbunyi: friends forever.

Alis Len terangkat. Ini punya Miku? Benda norak seperti ini punya dia?

Len menggelengkan kepalanya merasa agak aneh dengan imej Miku yang tomboi memakai gelang seperti ini. Walaupun dia tidak tahu itu gelang siapa, Len tetap memutuskan untuk menyimpannya ke dalam saku celana seragamnya. Saat dia ingin keluar, dia melihat dua buah bola basket, miliknya dan milik Miku, oranye dan hitam. Keduanya terlihat tidak cocok satu sama lain.

.

.

.bersambung


a.n. jadi, apakah plot ceritanya udah mulai kelihatan?

sampaikan pendapatmu di review! XD

:2005-2011: