Sang raja malam telah menampakkan wujudnya yang bulat penuh, menyinari gelapnya malam di kota Tokyo. Tak lupa dengan ribuan prajurit yang setia menemaninya. Ah, sangat indah bila melihat langit malam di mana bulan berbentuk bulat penuh dan bintang-bintang menghiasi di sekitarnya, bukan?

Di lapangan bandara, tampak pesawat-pesawat yang berlalu lalang, entah lepas landas atau baru saja tiba. Satu diantaranya berhenti, kemudian pintunya terbuka menampakkan penumpang-penumpang dengan ekspresi beragam yang mulai menuruni tangga yang telah disediakan.

Pemuda berambut biru gelap ─salah satu dari penumpang pesawat─ tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Mulutnya kadang membuka atau sekedar bergumam, menyahuti si penelpon. Dari mimik wajahnya yang sangat minim ekspresi, kelihatannya ia sedang dalam mood yang buruk. Pemuda itu lantas mengambil langkah panjang memasuki bandara dengan blazer di tangan kanannya.

"Hn. Aku akan segera ke sana." Ucapnya menutup obrolannya dengan si penelpon. Ia memasukkan kembali ponselnya di saku jeans yang ia kenakan.

.

I'm Not A Kid © Airawliet2327 (Aira Ai)

Disclaimer : Saya adalah titisan Uzumaki Kushina ngiahaha *abaikan. Naruto milik om Masashi, tapi nantinya juga bakalan jadi milik saya sebagai penerusnya. Hoho #plakk

Warning : OOC, Gaje, Typo[s], rush*maybe T.T*, dan segala kekurangan lainnya.

DLDR!

.

.

-2-

.

.

Hinata membaca buku di depannya dengan mimik wajah serius. Sesekali ia menyeruput susu kesukaannya yang ia pegang dengan tangannya yang bebas, dalam artian tidak membalik-balikkan lembaran buku yang ia baca. Keningnya berkerut. "Kenapa PR nya sulit sekali, sih." Gerutunya seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi setelah meletakkan gelas yang sudah tidak berisi susu lagi.

Gadis itu beranjak ke arah tempat tidur yang tak jauh dari meja belajarnya. Hinata merebahkan dirinya bersamaan dengan helaan napas lelahnya. Diraihnya ponsel bercasing rilakuma nya, mengecek kali saja ada e-mail atau pesan teks atau panggilan yang masuk.

Ternyata, Nothing.

Bungsu Hyuuga itu mengubah posisinya menjadi tengkurap dengan tangan yang mulai menari di layar ponselnya. 'Sedikit' bermain game mungkin bisa menghilangkan stres. Sedikit? Bermain hingga ketiduran dapat dikatakan sedikit? Ya seperti itulah dalam kamus Hyuuga Hinata.

Tak lama setelahnya, terdengar bunyi bel dari arah pintu utama. Awalnya Hinata hanya cuek saja, toh ada banyak pelayan di mansionnya dan lagipula.. membuka pintu bukan tugasnya. Namun bel itu kembali berbunyi, bahkan terdengar.. sepertinya si pembunyi bel sedang kesal. Dan dengan kesal juga Hinata mempause game yang ia mainkan. Dengan segala macam umpatan ia arahkan kepada pelayan-pelayan dan juga.. Hey, bukannya ada Neji? Ke mana pemuda berambut panjang itu?

Dengan langkah gontai, Hinata menuruni tangga dan bergegas ke arah pintu utama.

Cklekk

Pintu terbuka.

Hinata mematung di tempatnya begitu melihat siapa yang bertamu malam-malam di rumahnya. Makian yang berniat ia utarakan tak jadi dikeluarkan dari mulutnya. Bahkan untuk bernafas saja, serasa sulit bagaikan oksigen sangat enggan memasuki paru-parunya melalui hidungnya. Matanya mengerjap beberapa kali.

Di depannya, berdiri pemuda tampan berwajah stoic dengan potongan rambut yang menurutnya sangat, aneh. Namun itu tidak mengurangi tingkat ketampanan pemuda itu. Bahkan menurutnya, pemuda itu adalah cowok keempat terganteng yang pernah ia lihat selama enam belas tahun hidupnya. Siapa yang pertama, kedua,dan ketiga? Tentu saja ayah dan kakaknya, menurut Hinata. Dan yang ketiga, rahasia dong.

"Oi Hinata. Siapa yang datang?"

Suara dari Neji membuyarkan lamunan Hinata. Ia menolehkan kepalanya kepada sang kakak dan menatapnya dengan bibir mengerucut. Yang ditatap malah acuh tak acuh dengan wajah innocent. Neji berjalan mendekati Hinata dengan langkah santai. Saat berada lebih dekat, bibirnya membentuk seulas senyuman tipis, "Kau sudah tiba rupanya."Ucapnya pada pemuda selain dirinya yang berdiri di depan adiknya.

"Hn." Sahut pemuda itu datar.

Hinata menatap Neji dan pemuda itu bergantian. "Sudah tiba? Memangnya dia siapa?" Tanya Hinata dengan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk Neji dan pemuda 'asing' secara bergantian. Gak sopan.

"Ah kau tidak mengingatnya? Dia ini kan─"

"Aku ingin tidur." Potong pemuda itu dan langsung berhambur masuk, melewati Hinata dan Neji begitu saja tanpa memperdulikkan ia yang sedikit menyenggol bahu Hinata.

Hinata meringis. Ia berniat memaki, memukul, menjambak rambut pantat ayam pemuda sengak namun tampan itu. Namun sebelum hal itu beneran ia lakukan, Neji menahan lengannya dengan kepala menggeleng. Memangnya siapa sih dia, sampai-sampai kakaknya sendiri tidak memihak kepadanya padahal jelas-kelas ia melihat adiknya ─sengaja atau tidak sengaja─ disakiti oleh pemuda itu.

Hinata mendengus sebal lalu menyusul kakaknya yang sudah berjalan mendahuluinya menghampiri pemuda tadi yang dengan seenaknya saja menaiki tangga menuju lantai atas. Gadis itu mencoba bersabar menghadapinya. Dielus-elus dadanya untuk menguatkan hatinya agar tidak gegabah memukul pemuda itu yang sekarang dengan santainya memasuki kamarnya dan langsung rebahan di kasurnya, tentu saja atas perintah Neji.

"Uchiha Sasuke. Namaku." Ucap pemuda itu seraya bangkit dari tidurnya dan menatap Hinata yang juga menatapnya.

"Gak nanya." Hinata memalingkan wajahnya dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.

Sasuke menyeringai, "Teman lamamu. Jika itu yang ingin kau ketahui."

"Trus gue harus bilang wow gitu." Ucap Hinata tetap acuh. Padahal otaknya mencoba mengumpulkan memori-memori lamanya, mengingat-ngingat siapa Sasuke sebenarnya. Namun nihil, pikirannya kosong tak berguna. Sebenarnya, tidak sepenuhnya kosong sih. Ada satu yang dapat ia ingat, tapi tentu saja ia meragukan Sasuke. Karena Sasuke tidak mungkin..

"Pangeran tampan dari negeri dongeng."

Hinata membelakkan matanya saat kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Sasuke. "T-tidak mungkin."

Sasuke kembali menyeringai begitu melihat rona merah yang mulai bermunculan di kedua pipi chubby Hinata. Ia kembali merebahkan dirinya. Dengan mata terpejam ia berkata, "Memangnya kenapa? Itu adalah sebuah fakta, Hinakid."

Hinata kembali dibuat kaget. Pemuda 'asing' itu tahu tentang sebutan 'Pangeran Tampan Dari Negeri Dongeng' yang ia berikan kepada teman kecilnya dulu saat masih tinggal di England. Ia bahkan tahu sebutan kesayangan dari orang-orang dekat kepadanya, 'Hinakid'. Ada banyak pertanyaan di benak gadis itu, dan itu semua berkaitan dengan Sasuke. Mungkin ia harus bertanya secara mendetail kepada kakaknya. "I'm not a kid!" Tegasnya.

Tapi tunggu dulu, lupakan sejenak soal Sasuke. Sekarang yang menjadi masalah adalah..

"Di mana─"

"Di luar."

...Jika Sasuke tidur di kamarnya, lalu di mana ia tidur? Tidak mungkin kan, ia yang merupakan putri kesayangan Hiashi tidur di sofa atau di kamar tamu.

Tak perlu banyak membantah, Hinata segera menarik selimut tebalnya dan berjalan dengan gontai keluar dari kamarnya. Rumah rumah gue, kamar kamar gue. Teriak Hinata dalam hati.

Gadis beriris lavender itu mulai memposisikan dirinya di sofa yang terletak berseberangan dengan kamarnya. Mengapa ada sofa di lantai dua? Hinata yang meminta Hiashi untuk meletakkan satu set sofa di lantai dua guna menjadi tempat berkumpul jika ada teman-temannya atau kakaknya yang berkunjung. Tapi jika sudah begini, Hinata dong yang jadi tamunya.

Hawa dingin mulai menyengat. Hinata memasang kupluk berbentuk ─lagi-lagi─ rilakuma di kepalanya. Dia juga mempererat selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh mungilnya agar tidak kedinginan. Dengan susah payah dirinya mulai memejamkan mata, berusaha dengan segera memasuki dunia mimpi. Berharap pagi akan segera datang agar ia dapat mengadu dan merajuk pada Hiashi, melaporkan semua yang terjadi padanya. Wajah imut Hinata menampakkan seringai kala membayangkan bahwa dirinya yang akan menjadi pemenang dan Uchiha Sasuke akan kalah saat dirinya mengadu kepada ayahnya. Seringai itu lama kelamaan memudar dan digantikan dengan wajah tenang Hinata yang telah tertidur.

Diam-diam, Sasuke tersenyum melihat wajah polos Hinata dari balik pintu kamar gadis itu. Dari awal Sasuke telah melihat semuanya. Semua yang dilakukan gadis itu setelah keluar dari kamarnya sendiri. Bagaimana Hinata yang mengumpat dirinya, Hinata mendengus, Hinata mulai kedinginan, seringai di wajah gadis itu, sampai Hinata tertidur.

Sasuke melangkah pelan mendekati Hinata agar gadis itu tidak terusik mimpinya. Setelah sampai di depannya, Sasuke berjongkok dan mulai mengamati wajah imut Hinata. Diusapnya lembut poni tebal gadis itu. Lalu tangannya turun ke kedua pipi chubby Hinata, membuat si pemilik pipi menggeliat tak enak. Tangannya kembali menelusuri wajah Hinata dan berhenti pada bibir kecil dan tipisnya. Senyum tipis terukir di wajah tampan Sasuke. Pikirannya melayang di mana ia mencium Hinata saat mereka masih duduk di bangku SD kelas tiga. Sasuke tertawa pelan mengingatnya. Itu adalah pengalaman pertamanya dan ia tahu bahwa itu juga pertama bagi Hinata.

Sasuke kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh Hinata lalu mulai mengangkat gadis itu untuk dipindahkan ke tempat seharusnya ia tidur. Setelah merebahkan Hinata di tempat tidurnya, Sasuke keluar lagi untuk mengambil selimut yang tadi dipakai Hinata dan kembali memakaikannya kepada gadis itu.

"Mimpi yang indah, ya." Bisik Sasuke pelan lalu beranjak keluar dari kamar Hinata setelah mengganti penerang kamar itu dengan lampu tidur yang terletak di atas meja samping tempat tidur.

Pasti kalian bertanya, mengapa Sasuke tinggal di rumah Hinata? Jawabannya yaitu, Uchiha Fugaku, ayah Sasuke, adalah sahabat karib Hiashi. Mereka telah bersahabat sejak masih duduk di bangku junior high school dan dulu selalu bersaing dalam segala hal. Jangan salah paham dulu. Bersaing dalam segala hal dalam artian saat mereka masih bersekolah, Hisahi dan Fugaku selalu bersaing siapa yang akan mendapat nilai dan peringkat tertinggi.

Soal Sasuke, Fugaku berkata bahwa ia dan istrinya mengaku tidak bisa memperhatikan lagi anak bungsunya itu. Pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk membuat mereka terpaksa lembur bahkan tidak bisa kembali ke rumah. Sebenarnya Sasuke mempunyai seorang kakak, Uchiha Itachi. Namun kakaknya itu adalah pewaris utama Uchiha dan ia juga telah menikah. Otomatis Itachi tidak dapat diandalkan dalam mengawasi adiknya. Mereka khawatir Sasuke akan melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan. Seperti menggunakan narkoba misalnya.

Untuk itu, Fugaku menyuruh Sasuke untuk kembali ke Jepang. Ia memberitahu kepada Hiashi perihal hal itu dan meminta tolong Hiashi mencarikan tempat tinggal yang baru untuk anaknya karena rumahnya yang dulu telah berpindah tangan kepada orang lain sepeninggal mereka dulu. Hiashi menawarkan agar Sasuke tinggal di mansionnya dan tentu saja disetujui oleh Fugaku. Meski dengan berat hati, akhirnya Mikoto merelakan tinggal jauh dengan anak bungsunya itu. Lagipula, di sana ada Hinata dan Neji yang bisa menemani dan menghibur Sasuke.

Sasuke menutup pintu kamar Hinata pelan. Saat ia berbalik, obsidiannya menangkap Neji yang menatapnya dengan seringai tipis. Dapat ia lihat Neji yang mulai mendekat ke arahnya.

"Aku ingin bicara denganmu." Ucap Neji.

"Man to Man, eh?"

Neji terkekeh pelan mendengar respon pemuda yang menjadi sahabat lamanya itu.

.

.

-TBC-

.

.

Cuap-cuap Ai

Hola saya balik =D

Yah karena pada minta untuk dilanjut, ya saya lanjutin. Tapi beginilah hasilnya. Sangat mengecewakan, kan? Harap maklum yo. Ini saya buat di tengah-tengah kesibukkan dan ini masih dalam sesi(?) MID semester. #alesanbasi

Maafkan jika gak sesuai dengan apa yang readers-san harapkan. Alur kecepetan, typo(s), OOC Hinata gak ketulungan, pendek, dan lain sebagainya. Entah mengapa ide yang semula ada dibenak saya mendadak hilang dan otak saya mendadak blank. huhu

Terima kasih untuk semua yang meluangkan waktu untuk membaca fict ini. Arigatou gozaimasu. Dan terima kasih kepada Ennaka-chan. Entah mengapa diriku merasa yang kamu maksud itu adalah aku dan sepertinya memang begitu(?) -,- Emang sih aku gak mau dikatai kayak gitu, dan maka dari itu aku meluapkannya(?) di fict ini #wkks

So.. This fanfiction,,, Continue or delete?

Minta ripuw lagi boleh dong, tebane.