Nyahahahaha... Na kembali...
Maaf atas keleletan updatenya. Tapi semuanya masih bersedia buat ngebaca 'kan?*kitten eyes*

Terima kasih buat my Onii-san, Benjiro Hirotaka. *didepak karena sok ngaku-ngaku*
Na ganti judulnya jadi Saviour. Agar lebih simple...^^
Apakah masih ada kesalahan? Apa lebih baik judulnya' The Legend of Naruto'? Wkwkwkwkwk*ditendang*

Kita langsung mulai ceritanya

Mohon maaf untuk kesamaan ide dan sebagainya. Tapi sesama Author kita pasti tahu bahwa terkadang ide itu bisa pasaran dan bisa sama dengan Author lainnya.
Tapi... selalu ada perbedaannya. Yaitu, setiap Author pasti punya ciri khas tersendiri dalam menulis dan cara menyampaikan ceritanya. Maka dari itu anggap saja persamaan kita ini karena kita... berjodoh.*digeplak*

Naruto : Masashi Kishimoto

Inspirator : The legend of Aang : Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko

Rate : T untuk aman.

Angin musim gugur berhembus menerbangkan daun-daun berwarna coklat yang telah gugur. Anginpun menggoyangkan rambut raven milik pemuda berkulit putih pucat yang mencuat kebelakang melawan gaya gravitasi bumi. Sebuah pedang berada di belakang punggungnya yang terbalut kimono putih jepang dan celana hitam dengan pita di pinggangnya. Mata sekelam malamnya menatap tajam tiga orang pria di hadapannya yang sudah siap memasang kuda-kuda menyerang.

"Maju," suara dingin itu mengalun seiring angin kembali berhembus mengantarkannya ke masing-masing gendang telingan tiga pria itu.

Salah satu dari pria tersebut dengan rambut coklat pendek. Berlari mendekati pemuda raven dengan melemparkan shuriken dan kunai, namun dengan mudah pemuda raven menangkisnya dengan menggunakan pedangnya yang entah sejak kapan ada di genggamannya itu tanpa harus berpindah dari posisi berdirinya.

Dalam sekejap mata pemuda raven itu sudah berada di belakang pria berambut coklat itu dan memukul tengkuknya dengan ganggang pedangnya membuat pria itu tersungkur dan pingsan.

"Katon Gokakyu no Jutsu," Bola api besar itu menyembur dari atas pemuda raven. Pemuda raven itu menghindar dan menatap pria kedua yang kini melayang di atasnya.

"Katon Housenka no Jutsu," Bola-bola api kecil menyembur kearah pria yang kini berada di atas. Posisi pria kedua yang sedang melayang tanpa ada pijakan, membuatnya tidak bisa menghindari serangan bola-bola api pemuda raven. Pemuda raven itu menyeringai merasa menang saat pria kedua jatuh ke tanah dengan merintih kesakitan.

'Buughh...' pemuda raven itu sedikit mengerang saat seseorang memukul perutnya dan membuatnya mundur beberapa langkah. Pemuda itu menggeram kesal dia terlalu bangga dan lalai sehingga lupa bahwa masih ada satu pria lagi yang tersisa.

Mata sekelam malam itu terpejam sesaat sebelum kelopak mata itu terangkat dan menampilkan iris mata merah denga tiga tanda koma yang berputar.

Terlambat.

Pria ketiga yang tersisa itu terlambat menghindari tatapannnya dengan pemuda raven. Dia seolah terhipnotis ke dalam dimensi lain. Dengan langkah angkuh pemuda raven mendekati pria yang kini terduduk dengan tatapan kosong ke depan. Pedangnya berada di leher pria yang masih terdiam itu. Pedang pemuda itu terangkat dan mulai berayun untuk menebas leher pria yang sudah berhasil memukulnya.

'Greeeb…'

"Pedang Kusanagi digunakan bukan untuk membunuh teman sendiri, Sasuke," ucapan dengan nada malas dari seorang pria dengan rambut silver yang lebih melawan gravitasi yaitu mencuat ke atas. Wajahnya yang menggunakan masker sampai menutupi mata sebelah kirinya. Sedangkan mata sebelah kanannya yang tidak tertutupi masker masih terfokus membaca sebuah buku oranye kecil di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menahan pedang Kusanagi dengan menggenggam tangan kanan pemuda bernama Sasuke itu.

"Kau mengganggu, Kakashi," kata Sasuke dingin dan menepis tangan Kakashi kemudian menaruh kembali pedang Kusanagi di punggungnya.

"Maaf, jika aku menggang..."

'DUUAARRR...!'

Kata-kata Kakashi terhenti karena sebuah ledakan besar. Sasuke dan Kakashi segera meloncat ke atas pohon dan mencari asal suara ledakan. Dari sebelah utara tak jauh dari tempat mereka berada sebuah cahaya biru bersinar dengan kepulan asap besar. Saat cahaya biru itu hilang dan kepulan asap tersapu angin. Mata Sasuke yang sudah kembali berwarna hitam membulat melihat sosok berwarna merah dari asal ledakan besar itu.

"Itu... Anak ramalan?" gumam Sasuke bertanya, pandangannya masih tertuju ke depan seolah tak percaya.

"Mungkin," jawab Kakashi bukan dengan nada malas seperti tadi.

"Kita kesana." Sasuke meloncat turun.

"Jangan sekarang," sergah Kakashi. Sasuke manatap tajam Kakashi.

"Kenapa? Aku sudah menunggu untuk saat ini,"

"Di sana masih daerah kekuasaan Hyuuga. Akan sangat berbahaya jika kita kesana dengan orang-orang kita yang sedikit. Apalagi kau baru saja membuat tiga orang kita terluka," ujar Kakashi. Sasuke masih menatap lekat Kakashi.

"Aku tidak peduli," ucap Sasuke kemudian sebelum dia berbalik dan kembali melangkah meninggalkan Kakashi yang menghela napas lelah.

~Fourthok'og~

Hanabi mengerang saat dirasakannya sakit dibeberapa bagian tubuhnya. Dengan kedua tangannya dia mencoba bangun dari posisi tengkurapnya. Sebelah tangannya terangkat menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit saat dia berhasil duduk. Teringat akan sang kakak, mata perak itu terbuka sempurna dan mulai menyelusuri tempat sekitarnya.

"HINATA NEE…" jeritnya saat melihat gadis indigo dengan pakaian berwarna sama dengannya hanya berbeda di lengan itu tergeletak lumayan jauh dari tempat Hanabi. Hanabi mendesah lega saat tubuh kakaknya mulai bergerak.

"Hanabi-chan?" Hinata bergumam saat mengubah posisinya menjadi duduk dia melihat adiknya yang menatap khawatir kepadanya. Pandangan mata perak itu teralih saat melihat sebuah bayangan besar di tanah.

Hinata dan Hanabi masih mengerjapkan mata khas milik klan mereka. Memandang tak percaya akan sosok mahluk besar di hadapan mereka kini. Mahluk itu berwarna merah dengan luka diatas mata kirinya, dia memakai rompi berwarna biru gelap dengan garis putih dari kerah sampai ujung rompi. Sebuah cerutu besar terselip di bibirnya dan pisau Tanto besar untuk ukuran manusia normal berada di pinggangnya. Mahluk besar ini seperti kodok tapi ukurannya jauh dari kata kodok. Bahkan ratusan gajah yang ditumpuk jadi satupun belum tentu bisa menyaingi besarnya kodok ini. Apalagi warnanya yang merah sungguh tidak lazim untuk warna kodok biasa. Hinata meneguk ludahnya saat kodok itu menatap tajam ke arahnya.

"Konichiwa…" suara cempreng yang terdengar dari atas kodok besar mengalihkan pandangan Hinata dan Hanabi -walaupun tidak teralih sepenuhnya karena kodok besar itu tetap terlihat- ke atas kepala kodok besar itu. Seekor kodok kecil namun tetap besar untuk ukuran kodok biasa mengangkat sebelah tangannya.

Kodok kecil itu juga berwarna merah dan memakai rompi yang sama seperti kodok besar, sekilas seperti versi kecil kodok besar. Kodok kecil itu meloncat dan mulai mendekati Hinata.

Hanabi yang mulai tersadar dari keterkejutannya ketika kodok kecil itu mendekati kakaknya, ia mulai berdiri dan kemudian berlari ke arah Hinata. Tangan kanan Hanabi mencari Kunai dari tas kecil di belakang punggungnya. Dia bersiap melempar kunai kearah kodok kecil yang kini berada di depan kakaknya.

'Greeep...'

"Gyaaaa..." jerit Hinata, "kamu lucu sekali," seru Hinata selanjutnya. Hanabi yang sedang berlari setengah jalan hampir mendekati Hinata, terjatuh saat melihat kakaknya yang menjerit kesenangan dan memeluk erat kodok itu. Sepertinya Hanabi harus menyimpan Kunainya, namun suara berat dan besar yang menginterupsi itu membuat Hanabi mengurungkan niatnya untuk menyimpan kembali Kunainya.

"Lepaskan dia," perintah kodok besar. Hanabi kembali waspada dan berlari mendekati kakaknya dia sudah melakukan segel tangan dan mengaktifkan kekkei genkai-nya yaitu Byakugan.

Dengan terpaksa Hinata melepaskan pelukan mautnya dari kodok kecil yang kini wajahnya sudah berpadu antara merah dan biru karena kekurangan oksigen.

"Ah, Gomen..." sesal Hinata yang dibalas dengan gelengan pelan kodok kecil yang masih berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Siapa namanu, Heiress dari klan Hyuuga," suara kodok besar kembali membuat Hinata dan Hanabi terkejut. Darimana kodok itu tahu jika Hinata seorang Heiress?

Hanabi langsung berdiri di depan kakaknya sesampainya dia berada di dekat kakaknya. Tangan kanannya terangkat sebatas dada dengan mengarahkan kunai ke depan. Tangan kirinya ia rentangkan untuk melindungi sang kakak. Memang sudah kewajiban anggota klan melindungi Heiress mereka, tapi Hanabi tidak pernah berpikir bahwa dia adalah seorang anggota klan tapi yang dia tahu dia adalah seorang adik yang ingin melindungi kakak yang selama ini menjaga dan menyayanginya seperti seorang ibu. Mata perak dengan urat-urat yang kini muncul di pelipisnya menatap tajam kodok besar itu. Hanabi meneguk ludahnya.

'Cakranya sangat besar,' batin Hanabi.

"Kau seorang Heiress?" kodok kecil yang sudah berhasil bernapas dengan lancar itu bertanya, dia sedikit susah melihat Hinata karena terhalang oleh Hanabi. Hanabi hanya menatap sekilas kodok kecil itu dan kembali menatap kodok besar.

"Pantas kau bisa memanggil ayahku," gumam kodok kecil itu yang masih bisa didengar Hinata dan Hanabi.

"Siapa kalian?" Hanabi bertanya. Hinata sedikit berjengit saat untuk pertama kalinya ia mendengar sang adik berkata dengan nada datar seperti bukan Hanabi yang biasanya.

"Ah, Maaf. Perkenalkan aku adalah Gamakichi sedangkan itu adalah ayahku, Gamabunta. Kami bertiga tersegel dalam gulungan kertas itu dan hanya orang-orang yang memiliki cakra besar yang bisa membuka segel itu," Gamakichi menjelaskan, "dan ternyata yang membuka adalah seorang Heiress dari klan Hyuuga. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu darimana ayahku tahu kalau kalian dari klan Hyuuga?" lanjut Gamakichi dan sedikit bergumam di kalimat terakhir namun masih bisa didengar ayahnya.

"Dari warna matanya," Gamabunta menjawab santai. Memegang cerutunya lalu menghembuskan asap dan kembali meletakkan ujung cerutu di mulutnya.

Gamakichi membulatkan mulutnya dan menatap Hanabi yang kini ada di hadapannya. Melihat mata Hanabi dengan urat-urat yang muncul di pelipisnya dan mata perak yang menatap tajam ke ayahnya.

'Jadi ini mata khas klan Hyuuga?' batin Gamakichi.

"Ah, sebenarnya tadi aku ingin berterima-kasih namun malah dipeluk terlebih dulu, ehehehe," kata Gamakichi yang menggaruk belakang kepalanya salah tingkah. Rona merah di wajahnya tidak kentara karena tertutupi warna kulitnya. Hinata yang mendengarnya juga merona malu di belakang Hanabi. Dia berdiri dan menyentuh bahu adiknya.

"Sudahlah Hanabi-chan." Mendapat sentuhan lembut dari kakaknya membuat Hanabi luluh. Dia mengnon-aktifkan Byakugannya. Hanabi menghela napasnya. Kakaknya memang terlalu baik bahkan kepada musuhnya sekalipun.

Hinata berjalan dan kembali berjongkok di depan Gamakichi. Diangkatnya Gamakichi dengan kedua tangan mungilnya. Ingin sekali rasanya dia memeluk lagi Gamakichi dengan gemas namun pandangan tajam dari Gamabunta membuat nyali Hinata menciut dan mengurungkan niatnya.

"Bukankah tadi kau bilang kalian bertiga? Tapi kenapa yang aku lihat kalian hanya berdua?" Hanabi bertanya dengan nada menginterogasi.

"Ah, Aku lupa...!" seru Gamakichi yang kemudian meloncat turun dari tangan Hinata dan membuat Hinata kembali kecewa.

Gamakichi menatap ayahnya seolah berbicara melalui mata dengan ayahnya. Gamabunta mengangguk. Dia melepaskan kembali cerutunya dari mulutnya dan sedikit menjulurkan lidahnya ke tanah membuat 'sesuatu' berwarna oranye berguling dan jatuh ke tanah.

Hinata mendekat diikuti Hanabi dan Gamakichi. 'sesuatu' itu ternyata adalah seorang manusia. Hinata bersimpuh di dekat orang itu dan membalikan tubuhnya yang tengkurap di tanah. Wajah Hinata bersemu merah melihat seorang pemuda berambut pirang dengan tiga goresan dimasing-masing pipinya sedang tertidur lelap.

'Tampannya...' batin Hinata.

"Apa dia masih hidup?' tanya Hanabi. Dia mengira bahwa kodok-kodok ini adalah kanibal.

"Minggir," perintah Gamabunta. Gamakichipun mengajak kedua gadis Hyuuga itu agar menyingkir.
Gamabunta melakukan sebuah jurus dengan mengeluarkan semburan air bervolume besar kearah pemuda yang sedang tertidur. Jurus itu berhenti dan pemuda pirang itu berdiri dengan napas yang terengah-engah.

"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku, hah?" Geram pemuda pirang itu. Napasnya semakin memburu karena menerima serangan air tanpa persiapan dan kesal. Mata birunya menatap tajam Gamabunta yang tak memperdulikan geraman pemuda itu. Dengan santainya dia kembali memasukan ujung cerutu ke mulutnya.

"Gah, dasar kodok menyebalkan," pemuda itu masih menggerutu kesal.

"Yo, Naruto," Gamakichi menyapa pemuda pirang itu. Naruto berbalik dan melihat Gamakichi bersama dua orang gadis. Tinggi mereka hampir sama tapi yang berambut coklat memasang wajah jutek sedangkan yang berambut indigo wajhnya memerah dan terlihat gugup sebelum dia menundukan kepalanya.

'Sepertinya mereka kakak adik,' batin Naruto, 'dilihat dari wajah sepertinya gadis berambut indigo itulah adiknya. Tapi dia lebih tinggi sedikit dari gadis berambut coklat itu,' lanjut Naruto membandingkan dan menerka kedua gadis Hyuuga di depannya. Tanpa sadar dia terus memandangi Hinata membuat gadis itu menunduk malu dan salah tingkah.

"Oi, Naruto. Kau membuatnya malu jika kau terus menatapnya seperti itu," Gamakichi berkata kesal karena tidak dipedulikan oleh Naruto. Naruto tetap menatap Hinata lurus. Tiba-tiba seseorang menghalangi pandangan Naruto ke Hinata.

"Aku bunuh kau jika masih menatap kakakku seperti itu," desis Hanabi. Naruto hanya mengedipkan mata beberapa kali sebelum ia mulai menyadari tempatnya berada kini.

"Ah, Hai... Aku Naruto, Namika... Errr... Uzumaki Naruto. Siapa nama kalian?" tanya Naruto tanpa basa-basi disertai cengirannya.

"Hanabi, Hyuuga Hanabi. Dan ini kakakku. Hinata, Hyuuga Hinata," Hanabipun menjawab seadanya.

"Eh? Kau kakaknya?" heran Naruto. Dia menggeser Hanabi yang menghalangi pandangannya ke Hinata membuat Hanabi memelototkan mata peraknya. Hinata mengangguk pelan. Wajahnya semakin memerah saat Naruto semakin dekat dengannya.

"Aku kira kau adiknya karena wajahmu lebih imut dan manis," kata Naruto membuat wajah Hinata semakin memerah sampai telinganya. Hanabi semakin merasa kesal karena secara tidak langsung ia dibilang tidak imut dan manis.

"Apa kau bila..."

" Katon Gokakyu no Jutsu,"

Api besar itu menyembur kearah dimana Naruto dan yang lainnya berada. Dengan sigap Hanabi, Gamakichi dan Naruto melompat menjauhi semburan api. Naruto melompat dengan membawa Hinata dalam pelukannya, membuat wajah gadis indigo itu kian memerah. Hanabi mendekati kakaknya. Ingin sekali rasanya dia memukul wajah Naruto yang sudah berani mengambil kesempatan memeluk kakaknya. Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk meributkan hal itu. Hanabi menatap tajam orang-orang yang tadi menyerang mereka.

'Uchiha?' batin Hanabi saat melihat Lima orang yang ada di hadapannya memakai baju dengan sebuah gambar kipas jepang berwarna merah dan putih. Empat orang memakai baju hitam sedangkan satu orang berambut raven dan berkulit putih pucat yang memakai kimono berwarna putih berdiri di depan empat orang itu.

"Aktifkan Byakuganmu, Nee-san," ucap Hanabi menyadarkan kakaknya dari lamunannya.

"U-uchiha?" tanya Hinata pelan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Iya, Uchiha. Bagaimana cara kalian bisa masuk sampai ke sini? Bukankah ini masih wilayah Hyuuga?" Hanabi bertanya dan mengaktifkan kembali Byakugannya.

"Itu bukanlah hal yang sulit bagi kami masuk ke wilayah klan lemah seperti kalian," Sasuke menjawab dengan datar dan dingin.

"KAU..." geram Hanabi bersiap mengambil kuda-kuda untuk menyerang. Namun Naruto merentangkan satu tangannya dan menghalangi Hanabi.

"Ada apa ini? Memangnya kenapa dengan Uchiha?" Naruto yang sedari tadi diam mulai bertanya dengan bingung. Gamakichi meloncat ke atas kepala Naruto.

"Uchiha adalah klan besar yang kini sedang melakukan pemboikotan dan menyerang seluruh klan di Konoha untuk menguasai Konoha dan Negara Hi, Naruto," Gamakichi menjelaskan.

"Hah?" seru Naruto, 'Jadi mereka adalah klan yang harus aku kalahkan untuk menyelamatkan dunia ninja?' batin Naruto.

"Apa? Apa kau tidak tahu tentang Uchiha?" tanya Hanabi heran dengan Naruto yang tidak tahu apa-apa tentang Uchiha.

"Tentu saja dia tidak tahu. Jika sedari awal dia sudah disembunyikan agar tidak dibunuh oleh klan kami," tanpa diminta Sasuke menjawab. Hanabi dan Hinata semakin bingung. Sedangkan Gamabunta dan Gamakichi menatap tajam Sasuke.

"Apa maksudmu?" Hinata bertanya. Hilang sudah rasa gugupnya, Byakugannya-pun telah diaktifkan.

"Aku tidak menyangka anak yang diramalkan akan menyelamatkan dunia ternyata hanya seorang anak bodoh yang kini dilindungi oleh dua wanita lemah dari klan yang lemah, yaitu klan Hyuu..."

"Jyuuken,"

'Bruughh,' Sasuke tidak bisa menyelesaikan kalimat penjangnya saat Hanabi yang secepat kilat berlari mendekat dan melancarkan jurusnya ke Sasuke, membuat tubuh Sasuke terpental ke belakang.

"Nama klanku terlalu suci untuk diucapkan oleh mulut kotor sepertimu, Uchiha," desis Hanabi.

"Keh, ternyata kau hebat juga gadis cilik," Sasuke berdiri dan meludahkan darah dari mulutnya.

"Kau saja yang terlalu meremehkan kekuatan seseorang, Uchiha-san." Sasuke, Naruto, Gamakichi dan Gamabunta dibuat terkejut oleh pemilik suara lembut itu. Hinata berdiri ditengah-tengah empat pria yang bersama Sasuke tadi yang kini tergeletak tak berdaya. Hanabi hanya menyeringai. Bahkan kakaknya yang lembut pun bisa berubah saat seseorang merendahkan klannya.

'Kapan dia melakukannya?' batin Sasuke, Naruto dan Gamakichi bersamaan.

'Heiress dari Hyuuga memang tidak bisa dianggap remeh,' batin Gamabunta yang masih tidak percaya ada gerakan yang lolos dari pengelihatannya. Bahkan gerakan seorang gadis yang melawan empat orang sekaligus itupun tidak dapat diketahuinya.

"Kagebushin no jutsu," Naruto menahan pedang Kusanagi Sasuke dengan shurikennya. Sedangkan satu Naruto yang merupakan kloning berguling di tanah bersama Hanabi di dekapannya.

"Kau tidak apa-apa?" kloning Naruto bertanya setelah mereka berhenti berguling di dekat Hinata. Hanabi hanya mengangguk pelan masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Bukanlah tindakan petarung sejati yang menyerang lawannya ketika lawannya sedang tidak siap," kata Naruto yang asli dan menatap tajam Sasuke, "apalagi yang menjadi lawanmu adalah seorang wanita," lanjut Naruto. Sasuke berdecih, sedikit lagi dia berhasil menusukan pedang kusanaginya ke jantung si Hyuuga bungsu namun dengan cepat Naruto sudah menangkis serangannya.

"Kecepatanmu hebat juga," Sasuke menatap tajam Naruto.

"Terima kasih atas pujiannya," Naruto mengeluarkan cengiran rubahnya namun mata birunya tetap menatap tajam Sasuke.

"Hinata-sama, Hanabi-sama," seru sesorang dari dalam hutan. Hinata dan Hanabi yang merasa namanya dipanggil menengok ke asal suara. Segerombolan orang dari klan Hyuuga menghampiri Hinata dan Hanabi.

"Otou-san?" seru kedua gadis Hyuuga itu saat melihat pria paruh baya berkimono putih panjang yang merupakan ayah mereka berada di antara gerombolan yang lebih dari dua puluh orang-orang Hyuuga tersebut. Dengan langkah berwibawa, pemimpin klan Hyuuga itu melangkah mendekati Hinata dan Hanabi.

"Kalian tidak apa-apa?" suara datar dan dingin itu bertanya namun tidak dapat menyembunyikan nada khawatir terhadap kedua putrinya. Hinata dan Hanabi hanya mengangguk.

"Bala bantuan, eh?" suara Sasuke seperti sebuah alarm tanda bahaya yang membuat para Hyuuga yang baru datang mengaktifkan byakugan mereka kecuali si pemimpin klan Hyuuga.

"Aku dengar sebuah ledakan besar dari tempat kedua putriku berada dan tak lama anak buahku datang dan bilang bahwa Uchiha memasuki wilayahku," ujar Hiashi, pemimpin klan Hyuuga dengan datar, "tapi aku tidak menyangka jika yang datang adalah si Uchiha bungsu dari Fugaku Uchiha," lanjut Hiashi menatap tajam Sasuke yang masih berhadapan dengan Naruto.

"Sambutan yang meriah," Sasuke menyeringai.

"Suatu kehormatan membalas sambutan yang meriah ini," kata Sasuke lagi. Tiga titik koma di bahu kirinya berputar dan berwarna merah seperti api sebentar sebelum semacam tato berebentuk api merambati wajah sebelah kirinya

"Aura ini..." gumam Naruto.

"KAU..." seru Naruto dan melompat ke belakang saat aura hitam Sasuke semakin menguat.

"Segel itu..." kata salah satu grombolan Hyuuga.

"Segel kutukan," Gamakichi semakin waspada.

"Orochimaru..."

Tsuzuku...^^

Apakah ini semakin aneh? Tapi entah kenapa saat mengetik chap ini Na merasa enjoy sekali walaupun Na harus search jurus-jurus mereka. Na tahu adegan pertarungannya sangat tidak memuaskan tapi Na harap semoga tidak mengecewakan.

Na sempat bingung menentukan chara yang cocok untuk pengeran Zuko antara Sasuke atau Itachi, secara Itachi kan punya tanda di wajahnya, dia juga kan seorang kakak jadi Na sempet mikir, Apa Itachi aja yang jadi pangeran Zuko? Tapi dendam dan derita Sasuke serta keinginan untuk menjadi yang lebih baik dan mengalahkan Itachi menjadikan dia lebih cocok sebagai pangeran Zuko. Sempet juga kepikiran ngebuat segel Sasuke itu permanen di wajah Sasuke agar lebih cocok dengan luka di mata Pangeran Zuko tapi yang ada nanti malah mirip banget sama The Legend Of Aang.
Terus paman Iroh, bingung antara Kakashi atau Obito. Tapi karena penderitaan Kakashi yang dari kecil melihat kematian ayahnya, sahabatnya sampai muridnya menjadi seorang mising nin. Maka dipilihlah Kakashi berperan sebagai paman Iroh tapi disini Kakashi tidak ada hubungan darah dengan Sasuke atau Uchiha. Dia tetaplah seorang HATAKE. Dia hanya menjadi guru beladiri untuk Sasuke.

Terima kasih yang sudah meriview, ngefave dan ngealert. Serta yang bersedia menununggu dan mengaharapkan agar fic ini update. Maaf Na gak bisa Update kilat karena kegilaan dunia nyata benar menyita waktu-waktu santai Na.

Balesan Riview untuk yang non login...^^

Narotu : Pertama dari Mika-chan. Maaf yah Mika-chan, si Author aneh ini gak bisa update kilat...XD

Hinata-hime : Selanjutnya dari Kira-san. Terima kasih sudah meriview Kira-san. Terima kasih juga untuk sarannya tapi sepertinya Na-chan akan menyertakan disclaimer The legend of Aang untuk menghormati inspirator cerita ini. Sekali lagi terima kasih.

Na : Selanjutnya dari Shi-Shiryo. Gyaaaa... Shi-chan terima kasih udah ngeriview. *Gubrak* Na juga gak kebayang kalau Naruto botak kayak para shaolin gitu.^Horor sendiri ngebayanginnya^

Sasuke : Dari Asahi. Hn... Di chap ini aku memang bertemu dengan si Dobe tapi si Author belum ngebuat pertarungan yang besar antara aku dan si Dobe.

Okeh... Terima kasih semuanya. Na tetep nungguin kritik dan saran dari kalian.
Uhhhmm... Untuk para Author, readers dan riviewers NaruHina. Ayo, kita kembali meramaikan fic NaruHina.

NaruHina the Greatest Pairing...

Keep stay cool and Never give up for NaruHina Lover...
Yeaaaahhhhh... *semangat membara*

Sankyuu...^_

Sunday, September 18, 2011