Disclaimer : Kalau aku yang punya Harry Potter, aku akan menghancurkan dunia sihir pake satu mantra Voldy...


Rowena tiba-tiba bangun dengan erangan pelan, menyadari sesuatu terjadi pada tubuhnya. Ia membuka mata, dan menjerit kecil. Sebuah bola besar pink dengan sayap lebar berada tepat diatas kepalanya. Baru beberapa saat kemudian, ia menyadari itu adalah kepala, kepala peri rumah. Ia terduduk dengan kaget. Karena menyadari Rowena terkejut, peri rumah itu cepat-cepat membungkuk dalam-dalam.

"Maafkan saya, Miss! Tracy tidak akan melakukannya lagi, Miss! Tracy hanya ingin membangunkan anda, Miss!" lengking Peri Rumah itu, masih membungkuk hingga hidungnya menyentuh lantai. Rowena berkedip heran, kemudian menarik napas menenangkan diri.

"Tidak apa-apa, Tracy, bangunlah.. lagipula, kenapa kau ingin membangunkanku?" tanya Rowena. Tracy berdiri tegak, lalu menatap Rowena dengan bola mata kristalnya yang besar.

"Sir Godric Gryffndor menyuruh saya, Miss! Dia bilang, Miss butuh bangun subuh-subuh untuk makan sahur, karena besok pagi mesti puasa sampai sore, Miss!" jawab Tracy. Rowena tersenyum kecil akan perhatian Godric padanya, tapi pikirannya teringat dengan percakapan Helga dengannya tadi malam setelah makan malam selesai.

"Rowena, kau tidak curiga dengan Godric?" tanya Helga pelan, menatap Rowena yang sedang menyisir rambut panjangnya. Rowena mengangkat alis heran mendengar pertanyaan Helga.

"Kenapa aku mesti curiga?" Helga mendesah.

"Yah, tidak biasanya saja Godric memujimu tadi, dia bukan tipe orang yang memperhatikan penampilan seseorang, aneh saja mendengar dia berkata hal seperti itu. Apalagi, dengan nada yang manis begitu.." Rowena menundukkan kepalanya.

"Yah, aku memang curiga, sedikit.."

"Terus?"

"Aku... aku tidak tahu..." jawab Rowena pelan. Helga menatapnya prihatin. "Tapi, tapi aku sudah janji... Lagipula, ini tidak akan jadi masalah besar, kan? Tidak marah seharian..." sambungnya lagi.

"Yah, semoga saja begitu..." kata Helga tersenyum. Ia lalu bangkit dan bersiap keluar dari kantor Rowena. Namun, sebelum ia keluar, ia berhenti di ambang pintu. "Tapi, ingat-ingatlah Rowena, kadang-kadang rencana Godric tidaklah begitu menyenangkan."

"Miss?" panggil Tracy takut-takut. Rowena tersentak dan tersadar dari lamunannya. Ia melihat Tracy di dekat kakinya, memandangnya takut-takut. Ia menghela napas dan tersenyum.

"Bilang pada Godric, bahwa terimakasih telah membangunkanku. Sesudah itu, bawakan aku beberapa makanan kemari, ya..." katanya lembut. Tracy memandang Rowena dengan penuh pemujaan dan membungkuk dalam-dalam. Detik kemudian, ia telah menghilang dengan bunyi 'PLOP' keras. Rowena menarik napas dalam-dalam, mencoba melepaskan pikirannya dari pikiran-pikiran buruk.


"Oh? Dia bilang begitu?" tanya Godric bersemangat. Tracy mengangguk. "Benar Sir! Miss Rowena Ravenclaw berkata seperti itu, sir! Dan dia juga minta untuk dibawakan makanan ke kamarnya, Sir!" jawab Tracy. Godric nyengir. "Kalau begitu, kembalilah bekerja. Terima kasih, ya Tracy." Tracy mengangguk penuh semangat. Lalu, setelah membungkuk dalam, ia menghilang dangan bunyi 'PLOP' pelan. Godric tersenyum menatap titik tempat Tracy menghilang tadi, lalu mengacungkan tongkatnya, dan berbisik pelan, 'Expecto Pactronum'. Seekor singa perak keluar dari sana, lalu berjalan dengan anggun mengelilingi Godric.

"Katakan pada Rowena, kalau perlu bantuan, aku siap disini." Perintah Godric pada singa itu. Kemudian, singa perak itu mengangguk kecil dan berlari keluar. Godric menghela napas, dan membaringkan diri di kasurnya, memikirkan sebuah pertanyaan yang menghantuinya sejak tadi. Namun, beberapa detik kemudian, tanpa mendapatkan jawaban, ia bangkit, mengganti piama dengan jubah merahnya , menyambar tempat lilin disamping tempat tidur, lalu berlalu keluar kamar.

Rowena sedang duduk di Aula Besar dan menatap makanan didepannya dengan lesu. Ia memang tidak pernah makan dengan rakus seperti Salazar, namun ini untuk pertama kalinya ia begitu malas untuk makan. Ia mendesah keras-keras. Pertama, ia masih sangat mengantuk. Ia bukanlah seorang mourning person, sehingga bangun subuh-subuh seperti ini sangat menyiksanya. Kedua, percakapannya dengan Helga kemarin. Ketiga,...

"Kau belum makan? Makananmu sudah mulai dingin.." kata suara familiar dibelakangnya tiba-tiba, memotong lamunannya. Jantungnya serasa melompat, ketika melihat wajah seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini, apalagi dengan wajah kusut dan jubah berantakan. Dalam hati, ia mengutuk Godric Gryfindor yang sedang memandangnya dengan wajah heran tanpa dosa. 'Kenapa dia selalu datang tiba-tiba, sih?' omelnya dalam hati. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, ketika Godric telah duduk disampingnya. Namun, Godric kelihatan tidak peduli, karena ia telah memanggil peri rumah, dan memesan makanan.

Kemudian, setelah makanan telah muncul di depannya (Pai apel dan jus labu), Godric menoleh pada Rowena yang masih menunduk. Ia menyentuh bahunya pelan, "Kok nda makan?" katanya. Rowena berjengit, wajahnya terbakar. Namun, ia segera menguasai diri dan berdehem pelan, berdoa agar suaranya tidak kedengaran bergetar, kemudian berkata, "Apa yang kau lakukan disini, Godric?"

Godric, memiringkan kepalanya dengan heran. "Menemanimu sahur. Memangnya kenapa?" Jawabnya polos. Rowena membelalakkan mata.

"Di, disini? Berdua saja?" Godric mengernyit heran, tampak tak paham.

"Tentu saja. Tidak ada orang selain kita disini, kan? Aku tidak bisa tidur, jadi aku ikut makan saja disini. Tidak apa-apa, kan? Lagipula, sudah mau imsak, tuh. Waktu sahurmu tinggal dikit lagi. Makan, gih. Nanti kamu sakit." Katanya tak peduli, lalu mulai makan pai apelnya. Rowena memandang Godric dengan takjub, sedikit mengumpat karena kepolosannya, namun tersenyum kecil dan mulai makan juga. 'Yah, bodoh kalau mengira Godric akan melakukan sesuatu. Otaknya bahkan tidak sampai disitu.' Pikirnya sembari curi-curi pandang pada Godric yang juga sedang makan dengan lahap.

.

.

Cahaya matahari mulai merambat naik ketika Godric menyelesaikan makanannya. Ia menoleh, dan tersenyum memandang Rowena yang ketiduran diatas meja. 'Mukanya manis juga kalau tidur. Beda kalau bangun.' Pikirnya sembari nyengir. Ia menghela napas, kemudian, dengan perlahan ia menggendong Rowena naik ke kamarnya, berjingkat-jingkat kecil, kemudian pelan-pelan menutup pintu. 'Have a nice dream, Prof. Ravenclaw'. Bisiknya pelan dibalik pintu, tersenyum sedikit, lalu menuju ke Aula Besar menyambut anak-anak yang sudah mulai ribut.


Rowena terbangun tepat saat lonceng jam pertama berbunyi. Hal pertama yang ia sadari adalah sakit pada kepalanya, hingga ia baru menyadari hal sekelilingnya beberapa detik kemudian. Di kamarnya. Ia berada di kamarnya. Rowena mengernyit, lalu terduduk. Seingatnya, ia tertidur di Aula Besar tadi subuh, dan sama sekali tidak ingat sudah naik ke sini. Namun, ia kemudian teringat sesuatu. Matanya melebar tak percaya, ketika sebuah kartu melayang-layang jatuh dari langit-langit ke atas lututnya. Ia mengambilnya dengan heran. 'Jika kau sudah bangun, cepatlah bersiap-siap. Tidak perlu ke Aula Besar, karena kau sudah makan tadi subuh. Kelas akan dimulai beberapa menit lagi. See u' bacanya. Rowena membalik kartu itu. Tidak tertulis nama pengirimnya. Namun, entah kenapa, ia tahu benar siapa yang mengirimkan kartu tersebut. Ia mendesah lalu mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.

"Tumben.. ini baru pertama pertama kalinya dia bersikap manis begini.." gumamnya pelan.


Ketika ia menyelesaikan pelajarannya, Rowena merasa lapar. Ia baru saja berniat untuk singgah ke Aula Besar sebentar untuk makan paling tidak sepotong roti, ketika sebuah kartu kembali melayang-layang jatuh ke atas mejanya. Ia mengambilnya dengan heran. Kali ini kata-kata di kartu itu singkat saja. 'Ingat Rowena, puasa.'

Rowena memandang kartu itu mengernyit, kemudian, wajahnya jatuh. 'Oh, yeah. Right. Aku puasa..' pikirnya merana. Namun tiba-tiba, sebuah kartu kembali jatuh, kali ini di dekat kakinya. 'Lagipula kamu sudah makan tadi subuh, Rowena... ngomong-ngomong, puasanya yang ikhlas, ya..' Rowena mendesah jengkel. 'Godric benar-benar cerewet..' omelnya pelan. Ia menarik napas panjang kemudian bangkit dari tempat duduknya. Hari ini akan menjadi hari yang panjang, ia tahu itu.

Namun, seperti dugaannya dan Helga kemarin malam, puasa pertamanya tidak akan semudah yang akan diperkirakannya. Baru saja melangkah melewati pintu, terdengar teriakan dari bawah. Ia mendengus sebal. Ia sedang kelaparan, dan mereka dengan seenaknya membuat keributan dibawah. Ia berlari dengan segera ke lapangan dan melihat sumber keributannya. Tidak susah menemukannya. Bahkan sebelum benar-benar sampai ke lapangan, ia telah melihat percikan api berwarna kuning. Ia menggeram, dan masuk, menjeblak pintu sampai terbuka lebar. Dan kemudian terpaku.

Terlihat kembang api meledak di langit. Kembang api muggle biasa sebenarnya, kecuali bahwa kembang api ini dapat kelihatan jelas meski cahaya matahari sedang sangat terang, dan juga ukurannya yang luar biasa besar. Murid-murid dan staf yang lain kelihatan sangat menikmati pemandangan menyenangkan ini, namun tidak bagi Rowena. Ia berdeham keras-keras. Seluruh mahkluk disana menoleh, dan meringis melihat Rowena telah berdiri disana, dengan tangan di pinggang, gaya biasanya ketika ia sedang marah besar. Beberapa murid menelan ludah.

"Jawab yang jujur.." bisiknya dengan nada berbisa. "Siapa yang menyalakan kembang api ini?" Semua orang terdiam, bahkan nafas seakan diatur sepelan mungkin. Rowena menatap semuanya dengan tajam. Tiba-tiba, sebuah tangan terangkat. Semua menoleh, dan kaget. Rowena memerah sedikit, namun menahannya mati-matian.

"Prof. Gryffindor. Bagus sekali..." katanya lagi, dengan nada yang lebih menakutkan. Godric menghela napas, kemudian menjentikkan tongkatnya. Keluar sebuah kartu, melayang-layang, jatuh di dekat kaki Rowena. Rowena membacanya, dan mengangkat alis. 'Kamu mesti belajar menahan emosimu kalau puasa, Rowena'

"Ikut aku." Tukas Rowena pendek, nyaris kehilangan kata-kata, lalu berbalik berjalan memunggunginya. Godric mengangkat bahu, mengikutinya. Seketika, murid ribut. Beberapa bahkan bertaruh Rowena akan meninggalkan Godric yang terpotong-potong. Namun, para staf mengernyit bingung. Walaupun ini bukan pertama kalinya Rowena marah, dia belum pernah kelihatan sangat marah besar, dan Godric datang mengorbankan diri. Apa yang terjadi?

Sementara itu, Godric tetap mengikuti Rowena, yang menuju ke perpustakaan. Walaupun kelihatan sangat santai, ia khawatir juga. Beberapa bayangan mengerikan terlintas di otaknya, yang langsung ia hapus keras-keras. Rowena masih punya hati, ia yakin, walaupun ia belum pernah menghabiskan hari tanpa marah-marah.

"Nah, Godric." Kata Rowena tiba-tiba, setelah ia menutup pintu perpustakaan, dan menoleh menghadap Godric. "Bisa kau jelaskan padaku, mengapa kau menyalakan kembang api itu, padahal tahu aku sedang berpuasa? Apa mungkin kau berpikir aku tidak akan mendampratmu hanya karena aku puasa?" Godric meringis mendengar nada Rowena, namun berusaha menjaga wajahnya tetap datar.

"Bagaimana kalau kau menenangkan pikiranmu dulu, lalu kita bisa berbicara dengan baik?" ujar Godric diplomatis. Rowena mengernyit. "Apa ini pergantian topik pembicaraan?" Godric tersenyum manis, "No, this not."

Rowena tetap memandang Godric dengan curiga, sebelum menghenyakkan dirinya di salah satu kursi perpustakaan dan menjentikkan tongkatnya, mengambil sebuah buku dan membacanya. Godric mengernyit melihatnya. Walaupun kelihatan tenang, raut wajah Rowena masih sangat kaku, seolah masih menyimpan marah padanya dan menunggu saat yang tepat untuk meledakkannya. Godric menghela napas, lalu duduk di atas meja di depan Rowena. Rowena memandangnya, dan wajahnya tiba-tiba kembali memerah seperti kepiting rebus. Belum pernah Godric sedekat ini dengannya.

Godric tersenyum, menjentik buku yang dipegang Rowena. "Kau kebanyakan belajar, tahu.. Terkadang buku bahkan tidak dapat menenangkan emosi kita..." Rowena mengernyit.

"Apa maksudmu?" Godric hanya tersenyum.

"Mengapa kau menahan emosimu seperti itu? Wajahmu jadi kelihatan kaku dan tegang, merusakkan pemandangan."

Rowena menatap Godric dengan tersinggung, tapi kemudian matanya kembali ke buku yang dipegangnya. "Setidaknya aku menahan emosiku." Godric mengangkat alis.

"Puasa itu bukan sekedar menahan, Rowena... Puasa itu adalah kesabaran! Sabar untuk tidak makan, minum, dan tidak emosi..."

"Kau sendiri yang mengatakannya, Godric, waktu kau menjelaskannya padaku. 'Puasa adalah Menahan lapar, haus, dan nafsu dari subuh hingga terbenam matahari, kebiasaan yang biasa dilakukan orang Islam jika tiba bulan ini.' " jelas Rowena, tak melepaskan matanya dari bukunya. Godric mengernyit mendengar Rowena dapat menghafalkan kata-kata yang diucapkannya tanpa kesalahan, namun tetap memasang wajah datar.

"Well, kalau begitu, kadang-kadang bahkan kita mesti meralat kata-kata kita sendiri, kan? Inti dari puasa itu adalah sabar, bukannya hanya 'menahan'. Puasa mendidik kita untuk senantiasa tersenyum, bahkan ketika kita kelaparan. Kita tidak mampu tersenyum ketika kita hanya menahan, namun ketika kita sabar, senyum itu akan keluar dengan sendirinya. Makanya, aku mengusulkanmu untuk berpuasa, bukannya sekedar untuk tidak marah!" Kali ini, Rowena memandang Godric.

"Bagaimana caranya?" Godric tersenyum mendengar kalimat Rowena, kilat jahil kembali di matanya. Rowena tiba-tiba telah menyesal telah bertanya.

"Sekarang, kamu yang ikuti aku, ya?" Sebelum Rowena bahkan bertanya apa maksud dari kalimat tersebut, Godric menarik tangan Rowena, dan berlari sekencang-kencangnya. Beberapa kali Rowena nyaris terserempet, merasa bahwa semua organ tubuhnya masih tertinggal di atas meja perpustakaan. Namun, Godric sama sekali tidak berhenti ataupun menurunkan kecepatannya, hingga...

"STOP!" teriak Godric kencang, mengerem mendadak. Ia tetap berdiri tegak, sementara Rowena nyaris terjatuh menabraknya, jika tidak ditahannya. Rowena baru saja ingin mengomel, namun tidak jadi, melihat tangan Godric yang menunjuk ke atas. Ia mendongak, dan terpaku.

Kembang api muggle yang tadi, yang berukuran luar biasa besar, meledak di langit tepat di atasnya. Herannya, kali ini ia tidak marah. Ia hanya menatap kembang api itu dengan takjub. Kembang api itu menuliskan berkali-kali di udara, 'SELAMAT ULANG TAHUN PROF. RAVENCLAW' besar-besar, dengan tulisan meliuk-liuk yang indah. Ia menatap semua orang disekelilingnya, yang hanya tersenyum menenangkan. Ia kehilangan kata-kata. Belum pernah ia merasa sangat gugup seperti ini seumur hidupnya.

Kemudian, ia menatap Godric, yang juga tersenyum. "See? Segala hal akan menjadi lebih indah ketika bersabar, bukannya hanya menahan." Katanya. Tiba-tiba, Dua tangan teracung ke atas. Godric menoleh kepada dua anak itu dengan heran. Callisto Potter dan Jonathan Weasley.

"Sudah buka puasa, prof." Kata mereka bersamaan, tersenyum lebar. Godric nyengir pada mereka. "Timing-mu bagus sekali, Potter, Weasley. Nah, sekarang, untuk merayakan ulang tahun profesor tercinta kita, kita makan di lapangan sini saja, ya!" seru Godric pada kerumunan. Ia menjentikkan tongkat sihirnya, dan empat meja asrama penuh makanan muncul tiba-tiba, dan sebuah meja kecil bertaplak putih dengan kue ulang tahun di atasnya terletak tepat di depan Rowena. Kerumunan bertepuk tangan. Rowena terperangah, wajahnya menoleh pada Godric, Callisto dan Jonathan, yang nyengir.

"Kalian merencanakan ini dari awal, kan?" katanya dengan nada mengancam. Mereka bertiga meringis, mundur ke belakang. Namun, Rowena tiba-tiba tersenyum.

"Terima kasih, ini ulang tahun terindah di hidupku." Godric, Callisto, dan Jonathan menghela napas lega. Kemudian, Helga mendekatinya, dan berbisik sesuatu. Rowena terkikik.

"Yah, Rencana Godric juga terkadang jauh lebih indah dari yang kita perkirakan."


A/N : Aku tahu.. aku tahu...

Klise sekali, aku tahu... aku tahu..

Penutupnya jelek, aku tahu.. aku tahu.. #pundungdipojokan

.

Ah, ya sudahlah. Review, ya, ALL! Mungkin sangat jauh dari perkiraaan, tapi aku sudah mencoba yang terbaik...