Forever Chapter 2 : Endless Sorrow

"Ketika senyumanmu datang…

.

.

.

itu artinya aku harus meninggalkanmu.

Selamanya."

.

.

.

DEG… DEG… DEG…

Dengan degupan jantung yang berdetak lebih cepat dari semula, gadis itu hanya mampu menatap wajah sang pangeran dengan wajah bersemu merah. Tak seperti biasanya, nafasnya yang biasa saja, kini menyesak, beriringan dengan degupan jantung yang sudah diluar kendali itu. Huh, berhadapan langsung dengan Sasuke, bahkan di jarak yang tak terkendali? Tak perlu ditanya bagaimana malunya.

Pemuda di depannya hanya bisa terdiam dalam keheranan, sengaja ia menaikkan sebelah alisnya, menunjukkan bahwa ia keheranan dengan sikap sang gadis. "Hei? Kau sadar?"

"I-iya…" jawab sang gadis dengan wajah memerah.

"Ya sudah, jangan bersandar terus diatas tanganku!" seru sang pemuda dengan wajah kesal, membuat Sakura tersadar dan segera bangkit dari tangkapan –atau pelukan- Sasuke barusan. Ia berusaha mengontrol wajah merahnya, yang tertangkap basah oleh Sasuke tadi. Dengan wajah malas-malasan, Sasuke menunjuk teras sekolah di depan pintu gerbang. "Tunggu disana, jaga tasku."

"Tapi, nanti Sasuke-"

"Sudah, jangan banyak bicara!" seru Sasuke kesal, sambil menatap Sakura dengan iris obsidian menusuknya. Sakura tercengang. "Ba-baik," kata Sakura gugup, kemudian segera berlari meninggalkan Sasuke menuju teras sekolah.

TAP… TAP… TAP…

Sakura berbalik, kemudian menatap Sasuke yang tengah berdiri dengan wajah datarnya sambil menatap bendera hinomaru di depannya.

Sa-Sasuke…

Tiba-tiba, seulas senyum miris terukir di bibir merah mudanya. Ia pun kembali berlari, dan segera duduk tepat di samping ransel milik Sasuke, tanpa sedikitpun melepas pandangan dari pemuda tersebut.

Arigatou…

Dengan lutut yang ia peluk, ia tersenyum sambil menatap Sasuke. Membiarkan beberapa helai softly pink yang bertengger indah di kepalanya, berjatuhan, memberi tanda-

.

.

-bahwa kehidupannya semakin singkat.

Sekali lagi, terima kasih…

.

.

.

Hari semakin sore, ketika Sasuke telah berhasil menyelesaikan hukumannya.

Dengan badan yang basah kuyup, pemuda itu berjalan pelan menuju teras sekolah. Ia terdiam, saat melihat ketiadaan gadis yang sudah ia suruh untuk menjaga ranselnya. Namun, seiring dengan rasa kesal karena dibohongi itu, ia juga melihat secarik kertas dengan pulpen bertinta merah yang ia yakin bukanlah tinta pulpen. Lihat saja tulisannya yang berbayang dan berantakan itu.

Maaf aku harus pergi duluan. Jika mau, makanlah dahulu sebelum kau beranjak pulang. Sakura.

Pemuda itu mengernyit, kemudian mengangkat ranselnya karena merasa ada yang janggal dibawah ranselnya itu. Iris obsidiannya membulat lebar, melihat sekotak bento yang masih hangat dan sebotol air putih jernih di sampingnya yang masih tersegel dan belum kadaluwarsa itu.

He… ia membelikanku makan sore? Kenapa?

Pemuda itu masih tertegun melihat kotak bento dan botol air putih itu, tak lama kemudian ia mengambil kotak bento itu, membukanya dan segera memasukkannya ke dalam-

.

.

"Eh?"

.

.

-tong sampah.

"Cih, mana sudi aku makan pemberian orang," katanya gengsi, sambil melempar kotak bento berbahan plastik kedap air itu sembarangan saja. Namun, tidak dengan botol air putih itu. Pemuda itu mengambil air putih itu, dan segera menyiramkannya ke seluruh tubuhnya. Bahkan, tak setetespun dari air putih itu ia minum ataupun ia konsumsi. Huh, tak tahukah ia bahwa sang pemberi hanya bisa terdiam terpana di balik dinding di sampingnya? Cih.

Pemuda itu mengambil secarik kertas yang sebelumnya ia baca, kemudian segera merobeknya kemudian membuangnya ke sembarang tempat. Segera, ia mengambil ranselnya dan bergegas pulang tanpa mempedulikan apapun lagi.

"Cih," decihnya, saat tahu sepatu hitam mengkilatnya menginjak bungkus kotak bento yang sebelumnya ia buang sembarangan itu.

Seiring dengan kepergiannya menggunakan motor pribadinya, keluarlah seorang putri lemah yang baru saja meneteskan air matanya melihat kelakuan tanpa peduli sang pemuda.

.

.

"Kenapa?"

Gadis itu menatap bungkus kotak bento yang sudah hancur berantakan itu, kemudian mengambilnya dan mengukir senyum paling miris di hadapan benda yang sudah ia rangkai begitu rapi untuk sang pangeran dan akhirnya, dibuang juga. Benar-benar sama persis dengan kehidupannya.

Haha… kenapa kau harus menangis, Sakura?

Gadis itu segera menghapus air matanya, sambil mencoba tertawa sebisanya, tawa yang terlihat begitu miris dan mengibakan. Sejenak kemudian, ia mengambil pecahan kotak bento itu, tanpa menghapus senyum miris yang dapat memperlihatkan betapa menderitanya ia saat ini.

Huh…

.

.

.

Sampai kapan aku begini, Tuhan?

.

.

.

TOK! TOK! TOK!

Dengan wajah suram, seorang pria berwatak keras bangkit dari tempat duduknya dan berjalan membuka pintu ruang kerjanya. Ia terdiam, melihat seorang gadis berseragam koki yang tengah menunduk malu kepadanya. "Ma-maaf aku terlambat, Orochimaru-sama."

Pria berambut hitam panjang itu tertegun sejenak, kemudian ia mengangguk. "Oke, tak apa. Sekarang, lakukan tugasmu dengan baik, Sakura. Aku mau istirahat dulu."

BLAM!

Gadis itu menghela nafas berat, melihat sikap majikannya yang memang sudah dari dulu pendiam dan jarang bersosialisasi itu.

Huh, hampir sama dengannya, bukan?

TAP… TAP… TAP…

Dengan lemah, gadis itu berjalan menyusuri berbagai lorong untuk mencapai suatu ruang dapur yang begitu luas, dimana disana terdapat banyak koki berpakaian sama sepertinya, yang tengah memasak sesuatu untuk kumpulan orang di meja pesanan.

"Wah, konnichiwa, Sakura-chan," sapa seorang gadis dengan rambut cokelat alaminya sambil menatap gadis berhelai merah muda tipis di sampingnya.

Sakura menoleh kearah Matsuri, kemudian tersenyum selebar mungkin, lalu membalas, "Konnichiwa, Matsuri-chan!"

Dengan wajah putih pucat, gadis itu mengambil beberapa bahan masak untuk ia masak menjadi berbagai macam masakan siang. Sesekali, ia melirik kearah Matsuri yang baru saja menyelesaikan spaghetti buatannya, dan langsung menarik liur begitu tahu ia memang kelaparan siang ini. Namun, sekali lagi, ia tersenyum dan menggeleng kecil.

Jangan tergoda hanya karena makanan, Sakura… pikirkan kerjamu…

"Huh," Sambil tersenyum meremehkan, gadis itu segera memotong sayuran yang baru saja ia cuci bersih.

Mana mungkin aku mati karena makanan, kan?

.

.

.

"Ini masakannya."

Dengan wajah lemas dan suara yang sudah hampir habis, Sakura menyerahkan sepiring sayuran selada manis campur selai kacang kepada seorang pemuda yang sepertinya seumur dengannya. "Ah, arigatou! Tunggu, kau kecapekan?" sapa sang pemuda, sambil menepuk bahu Sakura agar sadar jika saat ini ia tidak sedang dalam keadaan tiduran.

"A-ano… ti-tidak, Tuan… silakan makan," kata Sakura sambil mencoba tersenyum, kemudian segera berlalu meninggalkan pemuda beriris hazelnut itu menuju dapur dan memasak kembali tanpa memikirkan perutnya yang sudah benar-benar keroncongan itu.

Grep!

Sakura tercengang, saat tahu lengannya dipegang dengan erat oleh sang pemuda. Dengan takut-takut, ia menoleh. "A-ada apa, Tuan?"

Pemuda itu terdiam sejenak, sebelum salah satu tangannya bergerak menyentuh sesuatu, dan memberikannya kepada Sakura. Dengan senyum yang cukup manis, pemuda itu memberikan piring makanan yang sebenarnya ingin ia lahap habis itu kepada Sakura. "Ini, makanlah."

Sakura terpana, dengan wajah masih ketakutan, ia melihat iris hazelnut sang pemuda. Jujur. Yah, pemuda itu benar-benar tulus memberikan makanan itu kepadanya.

"Ta-tapi, bukankah Tuan yang memesan makanan ini? Kenapa harus saya yang makan?" tanya Sakura heran.

Pemuda itu menghela nafas sejenak, ia kemudian menepuk-nepuk sofa di depannya, dan mempersilakan Sakura duduk di depannya. "Duduklah," perintahnya dengan wajah berseri-seri. Sakura yang tadinya ingin kembali protes, segera mengalah saat melihat tatapan tak suka sang pemuda jika ia kembali memprotes. Alhasil, kini Sakura ikut-ikutan menjadi pelanggan.

Pemuda yang kiranya sebaya dengan Sakura itu, menggeser letak piring makannya kearah Sakura. "Cepat makan, aku tahu jika kau lapar."

Sakura terdiam. Untuk kali pertamanya, baru ia tahu bahwa ada seorang pemuda baik hati yang benar-benar tulus memberikan piring pesanannya yang masih penuh itu untuk ia makan saat perutnya sudah benar-benar keroncongan. Dengan malu-malu, Sakura menyentuh garpu dan sendok, kemudian segera melahap selada selai kacang itu.

Pemuda itu tersenyum dengan kelakuan Sakura yang masih gugup itu, kemudian bertanya, "Siapa namamu?"

Sakura terdiam. Ia pun menghentikan acara makan siangnya, kemudian menggeser letak piring selada itu kearah sang pemuda. Sambil menunduk, ia menjawab, "Sakura."

Pemuda itu pun ber-'oh' ria, kemudian tersenyum kembali kepada Sakura. "Ngomong-ngomong, aku Sasori. Sepertinya kau ada masalah, ya?" tanya Sasori sambil menatap wajah Hinata yang meredup dan samar-samar meringis takut itu. Sakura hanya menggeleng kecil, membuat Sasori makin keheranan dengan sikap gadis itu.

"Kalau boleh tahu, kau sekolah diman-"

"SAKURA! Kenapa kau duduk di meja pelanggan?"

Sepasang manusia itu tercengang, kemudian berbalik menatap siapa yang tengah berteriak cukup kencang itu. Fine. Gadis berambut merah jambu itu hanya bisa menelan ludah, melihat seorang pria berambut panjang dengan mata sekelam malam itu hanya bisa menatapnya marah.

Segera, ia menatap Sasori, dan menunduk kecil. "Go-gomen, aku harus kembali bekerja! Terima kasih!" serunya kemudian, lalu segera berlari meninggalkan Sasori, bahkan sebelum Sasori menyelesaikan pertanyaannya barusan.

Sasori terdiam, sejenak kemudian ia menghela napas, kemudian menatap piring seladanya yang sudah tinggal setengah itu.

SHUUU…

Ia tertegun, melihat puluhan helai merah jambu yang tertiup angin entah kemana, diatas sofa di depannya. Tepat dimana Sakura duduk barusan.

Dengan pelan, ia mengambil helaian merah muda itu dan menatapnya cukup lama. Sejenak, pandangannya beralih ke seorang gadis berusia enam belas tahun yang sedang menjalani pekerjaannya sebagai pelayan dan koki itu. Ia menghela napas, kemudian menaruh puluhan helai merah jambu itu di dalam kantung jaket cokelatnya.

Huh… gadis yang membingungkan, eh?

.

.

.

Hei, ada satu hal yang tak pernah diketahui manusia sombong…

Kau tahu?

Fakta itu adalah…

.

.

.

Morning, at Konoha Apartement, in Tuesday.

Dengan wajah yang masih sangat kusut dan sikap tubuh yang malas-malasan, seorang gadis tengah menatap cerminan dirinya didepan cermin yang cukup lebar di depannya. Sambil mengenakan dasi sailor moonnya, sesekali ia menguap, bahkan tak jarang ia mengaduh akibat terjeduk benda-benda di kamar apartemennya saat ia berjalan kesana-kemari. Huh, kalau pagi datang, ia memang akan selalu mengantuk dan bersikap layaknya orang mabuk. Mengerikan.

TOK! TOK! TOK!

Dengan langkah lemah, gadis itu membuka pintu kamar apartemennya, dan berusaha tersenyum semampunya kepada seorang pemuda bellboy yang sedang tersenyum sambil membawakan sebuah nampan makanan.

"Seperti biasa, Nona Haruno."

Gadis itu menerima nampan itu, kemudian berusaha tersenyum manis di hadapan pemuda yang sudah lama menjadi bellboy di apartemen itu tanpa peduli akan kondisi pendidikannya. "Arigatou, Gaara-san."

Pemuda itu tersenyum, kemudian menunduk sebentar, lalu segera pergi dari hadapan Sakura.

TREK!

Sambil menaruh nampan makanan itu, Sakura menghela napas berat. Ia kemudian segera menaburkan cukup banyak bedak di sekitar wajahnya, menutup wajah pucat dan kantung mata hitam yang berada di bawah bola mata emeraldnya. Ini hukuman Tuhan karena kemarin malam ia tak sempat tidur cepat karena baru saja mengingat tugas sekolah yang harus ia serahkan hari ini. Salahkan otaknya yang tak bisa mengingat memori tugas rumahnya dengan baik.

Ceklek!

Sakura menghembuskan napas lega, setelah ia mengunci pintu kamar apartemennya. Ia pun segera mengukir senyum manis di bibirnya, lalu berlalu meninggalkan apartemen itu dengan sejuta senyum yang ia persembahkan untuk siapa saja yang ia temui pagi itu.

Ohayou, Konoha-san!

.

.

.

Tuesday, at Konoha Senior High School.

Dengan rambut yang sudah ia kuncir kuda, Sakura berjalan memasuki gerbang sekolah KHS. Jalannya terseok-seok, tentu karena sebelah kakinya pincang dan sulit digerakkan. Apalagi untuk kondisi tubuhnya yang mulai tak normal, yang sudah pasti disebabkan penyakit kanker darah itu, eh?

"HEI! PINCANG!"

Sakura menghentikan gerakan kakinya melangkah, kemudian menoleh ke belakang. Oh, tidak. Gadis sombong itu kembali memasang tampang emosi kearahnya. LAGI-LAGI.

Huh, pagi ini, apalagi yang mau kau lakukan, hah?

Gadis sombong itu segera berjalan penuh emosi kepada Sakura, dan menahan napas melihat wajah Sakura yang masih super-datar itu. "Hn? Ada apa, Karin?" tanya Sakura datar, tanpa mempedulikan wajah Karin yang sudah memerah padam sejak tadi. Alih-alih, Karin segera melakukan hal yang diluar dugaan Sakura.

PLAK!

Dengan perasaan yang sama sekali tak merasa bersalah, gadis sombong itu segera melayangkan telapak tangan kirinya ke pipi kanan Sakura, membuat pipi manis itu lebam kemerahan. Sakura mengaduh, sambil memegang pipinya yang sudah kemerahan itu. "Kenapa?" tanya Sakura dengan volume kencang, sambil menatap tajam Karin yang tengah menatapnya angkuh dan marah.

Tanpa angin tanpa hujan, Karin segera memegang dagu Sakura, dan mengangkatnya tanpa rasa kasihan. Dan dengan santainya, ia menunjukkan sebuah foto.

Sakura tertegun. Itu fotonya, dengan pemuda itu. Yah, saat mereka tengah menjalani hukuman kemarin.

Ah… pasti ia salah paham…

"Mau cari muka dengan Sasuke, hah? DASAR BODOH!" seru Karin sambil menjambak kuncir kuda merah jambu Sakura, membuat gadis itu meringis kesakitan. Para siswa yang melewati kedua manusia itu, hanya bisa mengiba dan membiarkan saja Sakura dalam genggaman Karin. Toh, itu sudah biasa. Dan seperti perkiraan sebelumnya, pasti Sakura juga akan dilepaskan oleh Karin. Mudah, kan?

"Dengar aku, Pincang… sekali kau dekati pemuda itu, jangan harap kedua matamu bisa berfungsi dengan baik lagi!" seru Karin emosi.

Dengan gampangnya, ia melepas jambakan kuncir merah muda itu dan membuat Sakura terhempas sampai menabrak tembok putih di sampingnya. Sekali lagi, ia meringis, membuat Karin hanya tersenyum meremehkan. "Ingat pesanku, Pincang. Jangan kira aku main-main, oke?" katanya dengan seringai terpaut indah di bibir manisnya, kemudian segera pergi meninggalkan Sakura dengan selembar fotonya dengan Sasuke yang tadi sempat diperlihatkan Karin.

Sakura menunduk, sengaja ia benamkan wajahnya, membuat poni-poni merah jambunya jatuh, menutup wajah basahnya.

Tesss… Tesss…

Sambil memejamkan mata, Sakura berusaha menitikkan air mata yang sedari tadi menggantung di kedua iris emeraldnya. Ingin, ia melawan Karin dan membuatnya tumbang seperti ia saat ini. Tapi, tak bisa. Ia hanya gadis biasa, yang bahkan untuk berjalan bagaikan gadis model saja, sudah sangat sulit.

"Hahaha…" tawanya hambar, sambil menghapus air mata yang tadi menetes untuk keberapa ratus kalinya itu.

Cih. Bunuh aku saja, Tuhan. Tunggu apa lagi?

"Butuh bantuan?"

Sakura terdiam, bahkan tubuhnya membeku melihat uluran tangan kekar seseorang yang sama sekali tak ia ketahui siapa pemiliknya. Segera, ia menghapus bersih air matanya, kemudian menoleh keatas, mencari tahu siapa yang memberikan uluran tangan kepadanya. Ia tertegun, melihat seorang pemuda berseragam KSHS dengan senyum manis terpatri di bibirnya, sembari mengulurkan tangan kanannya yang putih kecokelatan kepada Sakura. Sakura tercengang. "Sas… Sasori?"

Pemuda itu terkikik pelan, kemudian berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sakura. "Iya, aku Sasori. Siapa lagi?"

"Ke-kenapa?" tanya Sakura heran, membuat Sasori juga ikut menatapnya heran. "Kenapa? Kenapa apanya?" tanya Sasori bingung. Sebelum Sakura sempat menjawab, Sasori segera menarik tangannya dan mengajaknya bangkit tanpa merisaukan tangisan yang sempat ia tumpahkan barusan. Dengan senyum manisnya, Sasori menggamit tangannya. "Kurasa, aku mendapat teman baru di hari pertamaku bersekolah."

Eh?

Sakura tercengang. Namun, detik kemudian ia hanya bisa bersemu merah tanpa kata-kata melihat senyum manis dan iris hazelnut lembut yang tengah menatap lurus tanpa menoleh kearahnya.

Jadi, Sasori ya?

.

.

.

TAP… TAP… TAP…

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya sampai juga Sakura serta Sasori di depan kelas Sakura, yang syukur saja, adalah kelas baru Sasori. Segera, Sasori membuka daun pintu kelas tersebut, dan menatap seisi kelas yang hanya bisa termangu menatap kehadirannya yang begitu asing. Setelah keheningan sejenak, ia pun mengganti semua itu dengan senyuman. "O-ohayou, minna-san. Watashi namae wa Sasori. A-aku murid baru," kata Sasori canggung, tanpa melepaskan eratan tangan Sakura dengan tangan kanannya.

Semua siswa –terutama siswi- melirik Sasori kagum, sambil sesekali menyikut teman sebangkunya dan berbisik mengenai penampilan Sasori yang terlihat ramah disertai tampan itu.

Namun, pandangan mereka segera beralih kearah Sakura, yang tenang-tenang saja dalam dekapan tangan Sasori. Sakura hanya bisa menunduk takut, melihat deathglare yang diberikan para siswi di kelasnya, tidak terkecuali Karin.

"Um… aku duduk dengan siapa ya?" gumam Sasori pelan, yang dapat terdengar jelas oleh seisi kelasnya.

"Denganku saja, Sasori-san!"

"Ti-tidak! Bangku di sampingku sudah lama tak ada yang menghuni!"

"DISINI, SASORI-KUN!"

"Sasori-pyon, sebangku denganku saja!"

"Um… maaf, aku duduk bersamanya saja," kata Sasori, sambil menaruh ranselnya di samping ransel milik seorang gadis buangan yang berambut merah jambu. Hei, kalian tahu siapa gadis itu, bukan?

Karin yang tahu Sasori duduk bersama Sakura, kaget bukan main. "Ke-kenapa kau duduk dengan si Pincang? Memalukan!" seru Karin kesal.

Sasori menatap Karin sejenak, kemudian menggeleng kecil. "Sepupuku, tolong jangan sombong begitu… siapa yang mengajarkan kesombongan padamu, hah?" tanya Sasori, sambil menyentil hidung Karin pelan, membuat Karin kesakitan. "Ittai!"

Sasori menghela napas panjang, kemudian segera duduk di samping Sakura. Sakura terdiam, entah kenapa detak jantungnya terasa lebih cepat ratusan kali daripada sebelumnya.

"Um… Sakura?" sapa Sasori, membuat gadis itu menoleh kearahnya. "Iya, Sasori?" balas Sakura pelan.

"Kau menyukai pemuda itu, ya?" tanya Sasori, sambil melirik kearah seorang pemuda beriris onyx yang sedang membaca buku, membuat Sakura dalam sekejap bersemu merah dan segera menunduk. Detik kemudian, ia menggeleng. "Ti-tidak!" jawab Sakura cepat, membuat Sasori hanya bisa menghela napas panjang. "Yah, kukira begitu. Soalnya, kau memandangnya sejak kita masuk kelas. Sepertinya, kukira kau ada perasaan terhadapnya."

Sambil menatap Sakura yang sedang bersemu merah dalam tundukannya, Sasori menyeringai.

Huh… air mukamu benar-benar tak bisa berbohong, Pinky…

.

.

.

Aku kenal denganmu.

Tapi, itu bukan berarti aku menyukaimu.

Bahkan, berbalik 180 derajat dari perkiraan mereka.

Aku benar-benar membencimu, eh?

.

.

.

"Baiklah, mari buka buku halam-"

TENG… TENG… TENG…

Semua siswa segera menyeringai senang, terkecuali Sakura serta Sasuke. Mereka segera menutup buku mereka, sambil berusaha berwajah bosan di hadapan seorang pemuda berambut mangkuk terbalik dengan mata yang cukup besar itu. "Nah, jam pelajaranku telah berakhir! Ganbatte, yo!" seru pria yang kelewat semangat itu, kemudian segera mengambil buku-buku yang selalu dibawanya, kemudian meluncur keluar dari kelas Sakura.

Sambil menutup buku pelajarannya, Sakura menatap sekumpulan anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan.

Huh, gerakan kaki mereka bebas sekali…

Berbeda jauh denganku, yah?

Sambil tersenyum miris, Sakura memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam ransel dan menutup resletingnya pelan. Sesekali, ia melirik ke Sasuke yang masih asyik dengan buku kecil yang selalu berada di dalam tasnya setiap ia bersekolah. Pokoknya, buku kecil itu tak pernah hilang dari genggamannya begitu waktu luang tiba.

"SAKURA!" teriak lantang seorang gadis beriris aquamarine, yang kebetulan melewati kelas dimana Sakura berada saat ini.

Sakura menoleh, kemudian tersenyum lebar melihat Ino yang berlari kencang, kemudian memeluknya tanpa sebab itu. "Ah, Ino! Jangan memelukku terus, dong!" kata Sakura sambil melepas pelukan Ino, hanya membuat Ino garuk-garuk kepala tak karuan. Tak lama, pandangan Ino beralih ke Sasori yang tengah membuka kotak bekalnya. "Wah, siapa dia? Anak baru?" tanya Ino.

Sakura mengangguk, kemudian menatap Sasori. "Sasori, kenalkan, ini Ino. Dan Ino, kenalkan, ini Sasori," kata Sakura sambil tersenyum simpul, Ino pun ber-'oh' ria, kemudian tersenyum tipis kepada Sasori.

"Kita ke kantin, yuk!" ajak Ino, sambil menggandeng tangan Sakura. Sakura pun mengangguk. "Baiklah, ayo."

TAP… TAP… TAP…

Langkah yang terdengar ringan dan agak terseok-seok itu, membuat keheningan di kelas Sakura menjadi-jadi.

Tinggal Sasori seorang.

.

.

.

Begitu sampai di kantin, Sakura dan Ino hanya bisa menghela napas berat.

Suasana kantin begitu penuh. Para pedagang hampir keringatan dengan siswa yang membeli makanan dengan motto 'siapa cepat ia dapat', hingga banyak orang yang sudah membayar duluan, namun tak mendapat pesanan dengan waktu cepat. Sakura menghela napas, pasti ia akan kembali jadi yang terakhir membeli makanan di kantin ini. Tentu kalian tahu alasannya, bukan?

"Kau mau beli apa, Sakura?" tanya Ino, tanpa melepas genggaman lengannya pada Sakura.

Sakura tertegun melihat sebuah stand ramen, kemudian menatap Ino. "Ah, aku beli ramen saja," kata Sakura. "Oke, aku beli minum dulu ya! Kutunggu di meja ujung," kata Ino, kemudian berlalu meninggalkan Sakura.

Huh… perjuanganmu dimulai, Sakura…

BRUGH! BRUGH!

BRAK! BRAK!

"CIH! Yang cacat pesanannya nanti saja!"

"Yang pincang gak usah beli ramen!"

"Sana, merepotkan saja sih!"

"Pergi, kaki pincangmu mengganggu, tahu!"

Sakura akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Setelah setengah jam mengantre di stand ramen, akhirnya ia memperoleh semangkuk ramen dengan sambal yang cukup banyak, dan potongan selada yang hampir memenuhi mangkuk ramen tersebut. Ia tersenyum puas, sambil menghapus keringat yang sudah memenuhi pelipis wajahnya.

Huh… hampir saja kehabisan!

Sakura pun berjalan tenang sambil membawa mangkuk ramennya, ketika terdengar suara langkah kaki yang terdengar bernafsu dan tak tenang itu.

DRAP! DRAP! DRAP!

"MINGGIR KALIAN!"

DRAP! DRAP! DRAP!

"AWAS KAU, DOBE!"

Sakura menatap kesana-kemari. Jangan sampai ia jadi korban tabrakan, ia tak mau ramennya sampai jatuh dan tumpah kemana-mana. Dan hasil akhirnya? Ia tak mengkonsumsi apapun di sekolah selain ramen yang sudah tumpah dan kotor itu.

"AWAS KAU, PINCANG!"

Sakura kaget setengah mati, melihat seorang pemuda berambut kuning jabrik yang tengah berlari melaluinya. Ia menghela napas lega. Akhirnya… ia pun…

BRUUUUGH!

… tertabrak juga.

"AKH!" Sakura merintih, saat kakinya terkena kuah dari mangkuk ramen yang masih panas dan mendidih itu. Ia memegang kakinya yang memerah, sambil menatap seorang pemuda yang tengah menahan emosi di depannya. Ia hanya bisa menahan napas, melihat seorang pemuda berambut chickenbutt sedang melempar ramen yang tumpah ke kepalanya ke segala arah, bahkan hampir mengenai Sakura.

Begitu ia selesai merapikan tubuhnya yang masih berantakan, ia segera menatap Sakura jijik, sekaligus marah.

"ITTAI! PENGGANGGU! MENYEBALKAN! APA MAUMU, HAH?"

Sakura terdiam, bahkan bisa dikatakan termangu mendengar hinaan Sasuke barusan. Memang, hinaan itu memang sudah biasa ia terima dari seluruh manusia yang membenci kekurangannya. Tapi, entah kenapa, mendengar cemoohan dari Sasuke, membuat gadis itu merintih sakit. Bukan. Bukan dari lisan, tapi dari batin. Yah, batinnya merintih sakit, begitu mendengar ucapan murka Sasuke barusan.

"Go-gomen, Sasuke! MAAF!" seru Sakura sambil menunduk, membuat Sasuke hanya bisa menghindar dari gadis lemah itu.

"Dasar PINCANG! Jangan bersekolah disini jika gunamu hanya merepotkan, tahu!" seru Sasuke kesal, sambil bangkit dan segera berlari kecil menuju toilet. Sakura termangu, detik kemudian ia hanya bisa menghela napas panjang sambil menunduk.

Ya Tuhan, kenapa jadi begini?

"Nih, makan dulu sebelum membersihkan tubuhmu."

Sebelum air matanya sempat jatuh, gadis itu menoleh dengan iris emeraldnya yang berkaca-kaca. Ia menatap seorang pemuda beriris hazelnut, yang tengah menggenggam semangkuk ramen sambil tersenyum kearahnya. "Nih, makan. Habis itu bersihkan tubuh basahmu."

"A-arigatou…" ucap Sakura singkat. Sasori pun membantunya bangun, dan mengajaknya duduk dimana saja Sakura mau.

Ino dan Hinata yang sudah menunggu Sakura dari tadi, hanya bisa tercengang melihat Sakura yang basah bukan main. "SAKURA!"

Gadis berambut pirang panjang itu menghampiri Sakura, kemudian menatap lekuk tubuhnya yang sebagian terlapisi seragam itu, dalam keadaan basah kuyup dan lengket. Dan lebih parah lagi, bau amis. "Kenapa kau basah begini? Ka-kau ketumpahan ramen tenggiri?" tanya Ino kaget, yang hanya dibalas anggukan oleh Sakura. Hinata menghela napas kecewa, kemudian mengambil beberapa lembar tisu dari gulungan tisu di tiap meja kantin, lalu membantu Sakura membersihkan tubuhnya. "Lain kali, kau hati-hati ya, Saku. Kau memang butuh bodyguard rupanya," kata Hinata bercanda, sambil menyapu bau amis di sekitar tubuh Sakura.

Sasori terdiam, seperti orang yang sedang berpikir. Selang beberapa menit kemudian, ia izin pergi dari hadapan Sakura, Ino, dan Hinata, entah untuk tujuan apa.

Selagi Sasori pergi, Sakura perlahan menyentuh mangkuk ramen yang baru saja dibelikan Sasori, dan menyendok sekuah ke mulutnya. Rasa asin campur pedas, semua tercampur menjadi satu.

Sambil memakan ramen itu, ia teringat akan hinaan yang baru saja ia dengar dari pemuda yang sudah lama ia cintai itu.

Tesss… Tesss…

Bunga Sakura pun menangis, menanti kedatangan manusia yang ingin menatapnya sebagai bunga, bukan sampah.

Yah, bunga Sakura… hanya sampah diantara bunga lainnya.

Cih, menyebalkan bukan?

.

.

.

"Nah, pakai ini."

Gadis itu terkejut, melihat sebuah seragam berwarna putih bersih, disertai bawahan rok biru muda yang ada dalam genggaman seorang pemuda berambut merah menyala. "Da-darimana kau mendapatkannya?" tanya Sakura heran. "Sudah, pakai saja. Apa kau nggak malu dengan keadaanmu saat ini?" kata Sasori. Sakura pun menatap dirinya. Kotor, bau amis, tidak berguna. Sangat cocok.

Gadis itu pun mengambil seragam itu dari tangan Sasori, dan menunduk sekejap. "Arigatou," balas Sakura, kemudian ia bergegas menuju toilet. Sambil menatap Sakura dari kejauhan, Sasori hanya bisa tersenyum.

Pandangannya beralih kepada seorang pemuda yang sedang asyik mendengar musik dari headset ponselnya tanpa memikirkan keadaan sekitar. Melihat itu, Sasori menggertakkan giginya kesal, sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.

Cih. Awas saja kau, Uchiha.

.

Sementara itu, di toilet perempuan…

.

Dengan wajah kusut, terlihat seorang gadis yang sedang mengganti seragam basah dan bau amisnya dengan seragam putih dan rok biru muda bersih yang baru saja diberikan teman sebangkunya. Cukup banyak pemuda itu membantunya, membuat gadis itu semakin senang dengan kedatangan pemuda itu yang banyak membantu masalahnya.

Setelah mengganti seragamnya, ia bergegas keluar toilet dan mengaca di cermin toilet. Ia termangu, melihat wajahnya yang semakin pucat, bibirnya yang makin pucat, dan rambutnya yang makin tipis.

Bahkan, saat ia mengganti seragamnya, helaian merah muda itu jatuh secara perlahan memenuhi lantai toiletnya.

Sambil menatap wajah putih pucatnya di cermin, sesekali ia memiringkan wajahnya. Tangan putihnya ia gunakan untuk membelai pipi manis namun pucat itu, sambil sesekali tersenyum miris begitu ia selesai membelai pipi pucatnya itu. Ia menghela napas berat, kemudian menatap westafel toilet perempuannya.

Dheg!

Ia terkejut bukan main, saat kepalanya tiba-tiba terasa pusing tanpa sebab. Bahkan, pusing yang ia alami makin lama makin menjadi-jadi, membuatnya jadi sulit bergerak, malah merosot jatuh ke lantai toilet.

"UKKKH…" Rintihnya pelan, saat tahu kepalanya makin sakit dan membuatnya makin sulit melihat dengan jelas, sekarang pandangannya mulai mengabur entah kemana.

Jangan sekarang, Tuhan… Jangan…

Selagi membatin berdoa, gadis itu terus berusaha bangkit dan mencegah agar seragam pemberian Sasori tidak basah lagi akibat darah dari hidungnya yang mulai mengalir tanpa henti itu. Sesekali, ia memukul kran air, karena ia merasa sakit kepala yang tak tertahankan. Kambuh. Yah, pasti penyakitnya itu kambuh lagi. Tapi, kenapa harus sekarang?

"UHUKKK… UHUKKKK!" Sakura membatuk kencang, mengeluarkan cairan merah mengental yang langsung jatuh mengotori lantai toilet.

Kumohon Tuhan… Kau menyayangiku, kan? Jangan seperti ini!

BRUK!

Dengan napas yang tersengal-sengal, Sakura memegang mulutnya yang sudah mengeluarkan cukup banyak darah. Kalau begini terus, takkan ada hasil. Ia berusaha tegar pun, takkan ada hasil memuaskan sampai kapanpun juga. Akhir-akhirnya ia juga akan mati, iya kan?

"To-tolong…" rintihnya pelan, sambil mencakar lantai toilet yang sudah kotor akibat darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.

"TO-TOLONG…" rintihnya makin kencang, diiringi isak tangis yang membuncah di kedua pipi manisnya.

Aku lelah, Tuhan… Lelah…

Hembusan napas terakhir, membawa gadis itu ke dalam dunia tak sadarkan diri. Mencoba membuatnya lebih rileks daripada sebelumnya, mencoba membuatnya lebih aman dan tenang, dan pastinya, lebih tegar dari sebelumnya.

Aku harusnya mati, kan?

.

.

.

Sudah setengah jam berlalu, tapi gadis itu belum kembali juga ke kelas.

Sambil menatap jam tangan yang melingkar manis di lengan kekarnya, Sasori sesekali menatap toilet perempuan, dimana biasanya para gadis mengganti pakaian mereka jika waktu pelajaran olahraga tiba. Ketika Sasori memutuskan untuk pergi, entah kenapa tiba-tiba ia mengurungkan niat itu dan kembali duduk. "Ah, mungkin Sakura sedang BAB? Atau… dia sedang mengganti pembalut di toilet? Cih, jangan berpikiran terlalu berbahaya, Sasori. Tsk," ucapnya kesal pada diri sendiri, sambil terus menunggu, menunggu, dan menunggu Sakura.

TAP… TAP… TAP…

Lain dengan seseorang, yang berniat keluar dan berjalan-jalan di sekitar koridor lantai dua, agar bisa menyegarkan pikirannya saat ini.

Dengan wajah datar, rambut chickenbutt, iris obsidian, dan badan six packnya, pemuda itu keluar dari kelasnya yang sedang begitu ribut karena tak ada guru pengajar di jam pelajaran tersebut. Sesekali, ia menoleh kearah kelas lain yang sedang diajar guru pengajar lainnya. Diiringi dengan siulan merdu yang keluar dari mulutnya, ia beranjak meninggalkan kelas per kelas demi mencari udara segar yang baru ia hirup begitu ia keluar dari kelasnya. Bagaimana bisa ia mencari udara segar, jika tiap hari hanya dikelilingi gadis penggemar beratnya itu? Cih.

TAP… TAP… TAP…

Ia meneruskan perjalanannya, hingga berhenti di depan toilet laki-laki. Segera, ia memasuki toilet itu dan segera mencuci tangannya sampai bersih. Entah kenapa, ia merasa ada yang janggal dengan toilet perempuan, yang terletak tepat di sebelah toilet laki-laki.

CURRRR…

"Huh, siapa yang cuci tangan sih? Air di toiletnya ngucur terus," cibir Sasuke, kemudian menutup kran air westafelnya.

"U-Ukkhhh… to-tolongh…"

Entah suara darimana, tapi berkat suara itu, bulu kuduk Sasuke berhasil berdiri tegak, membuatnya melirik kesana-kemari. Eh, tunggu, ini suara gadis, bukan laki-laki. Berarti, yang bersuara di toilet perempuan! Tapi, itu setan atau manusia? Bisa saja itu setan yang pura-pura ingin dikasihani, kan?

Dengan langkah yang pelan tapi pasti, Sasuke membuka sedikit pintu toilet perempuan dan mengintip apa yang ada di dalamnya.

"UKHHH… UHUK-UHUK!"

Dan melihat itu, hanya membuat Sasuke termangu tanpa berkomentar apapun.

.

.

.

SAKURA?

.

.

.

Dengan wajah kaget bukan main, Sasuke menatap Sakura yang terbaring tak berdaya dengan mulut yang berdarah dan hidung yang tak henti-hentinya mengeluarkan cairan merah kental itu. "Sa-Sakura…" ucap Sasuke pelan, yang bisa terdengar jelas oleh Sasuke.

Meskipun merasa jijik dengan lantai yang kotor akibat darah Sakura, tapi di sisi lain, entah kenapa Sasuke merasa ada yang tak beres di dadanya jika ia tak menyelamatkan Sakura dahulu.

Sakura membuka matanya sayu, kemudian menoleh kearah Sasuke. Segera, ia berusaha tersenyum semampunya. "Sa-Sasuke…"

"Kau… kenapa?" tanya Sasuke singkat, sambil menatap wajah Sakura yang sudah putih pucat itu. Sakura menggeleng, kemudian berusaha bangun dan menghindari uluran tangan Sasuke. "Nggak apa-apa kok," kata Sakura sambil menyipitkan kedua matanya dan tersenyum manis. Sasuke mendecih sebal. "Nggak mungkin kau nggak apa-apa jika hidungmu mengeluarkan darah sebanyak itu!"

GREP!

Sakura terdiam sesaat, saat tubuhnya digendong secara paksa oleh Sasuke, dan dibawa keluar ke Unit Kesehatan Sekolah.

Sa-Sasuke…

Dengan iris emerald jernihnya, ia menatap Sasuke yang dengan gagah dan wajah datarnya, membawanya bagaikan 'pengantin yang baru menikah' ke UKS. Samar-samar, ia tersenyum, dibalik rasa pusing yang masih menghantui pikirannya. Pelan tapi pasti, ia memejamkan mata tanpa merasakan apapun lagi, termasuk rasa pusing dan mati rasa yang ia alami barusan.

Arigatou… gozaimasu…

.

.

.

TAP… TAP… TAP…

Dengan wajah gelisah, seorang pemuda berlari menuju toilet perempuan. Tapi, nihil. Ia tak menemukan siapa yang ingin ia cari saat ini. "Huh! Ia kemana sih, sudah hampir satu jam ia ke toilet! Dan sekarang ia tak ada disana? Cih!" seru Sasori kesal, kemudian berlalu meninggalkan toilet, tanpa menyadari noda darah yang mengotori sekitar lantai toilet perempuan itu.

Dengan wajah takut-takut, pemuda itu berlarian kesana-kemari, mencari gadis pertama yang selalu membuat perasaannya tenang itu.

Sakura? Kau dimana?

TAP… TAP… TAP…

SAKURA!

TAP! TAP! TAP!

Saku-

.

Pemuda itu termangu, melihat seorang gadis yang sedang dalam gendongan seorang pemuda berambut chickenbutt yang tengah berwajah sama dengannya, sama-sama gelisah. Pemuda itu terdiam, bisa dikatakan tak mampu berkata apa-apa melihat kejadian itu

-ra?

.

.

.

TBC :D

Wah, ini kukerjakan kebut semalam, soalnya besok aku sudah mulai belajar buat UKK TwT #ga terima curhat #dicincang

Ngomong-ngomong, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Raffa PART II sama Arnanda Indah (Kang Mas Neji Ganteng) Udah lama sih meninggalnya, tapi baru kuucapin sekarang. Gomen!

Hum… okey, akhir kata…

R

E

V

I

E

W

.

P

L

E

A

S

E

?

*Blush Mode On*