For Felicia : untuk Insieme tanyakan pada yang bersangkutan, me Cuma bantu nulis aja ^^;
Title :The Future of Us
Rated :T
Genre :Family / Adventure
Warning :Shounen Ai, Semi-AU, OOC, rombak dari cerita asli ^ ^;
Bisa dibilang sequel dari cerita Insieme :)
KHR Belong to Amano Akira
.
Chapter 2, About Millefiore
.
"Saat kami lengah, Giotto Vongola mencoba untuk mencari tahu tentang keberadaan markas Millefiore. Saat itu, kami memusatkan perlindungan pada Giotto saja—tidak menyadari jika target yang diincar oleh Millefiore bukanlah dia—" Lal menutup matanya, mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Tsuna, "—korban pertama dari Vongola Hunt adalah—sahabat sejak kecil, tangan kanan, juga Storm Guardian Vongola Primo, ayah dari Gokudera—yaitu G…"
…
"APA!"
Tsuna menatap kearah Gokudera yang tampak hanya diam dan berjalan—seolah tidak ada yang ia dengar mengenai ayahnya. Tetapi Tsuna tahu, apa yang didengarnya tentu saja membebani fikirannya. Walaupun hubungan Gokudera dan ayahnya tampaknya tidak terlalu baik karena selalu bertengkar, tidak mungkin Gokudera tidak merasakan perasaan sedih mendengar ayahnya tewas.
"G—Gokudera-kun…"
"Tidak apa-apa Tsuna—" Gokudera tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya—mencoba untuk tersenyum dan menghela nafas berat dan panjang, "—lagipula, itu salahnya terlalu bodoh sehingga terbunuh begitu saja. Aku tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi tangan kanan dari paman Giotto…"
"Lalu, bagaimana dengan Hayato-senpai?"
Senyuman Gokudera tampak memudar saat mendengar nama kakaknya di sebut oleh Tsuna. Merasa aneh dengan apa yang dilihatnya dari raut wajah Gokudera, ia ingin semakin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu—tetapi ia akan bersabar dan menunggu jawabannya dari Gokudera.
"Aniki—"
POOF!
"—aku tidak mungkin!"
"HIEE!" Tsuna terkejut begitu juga dengan Lal saat tiba-tiba saja sosok Gokudera di selubungi oleh asap pink yang cukup tebal dan familiar, "G—Gokudera-kun?"
"Ah, suara ini—TSUNA-SAMA!" belum asap pink itu hilang, sosok Gokudera 10 tahun yang lalu—tepatnya pada masa Tsuna berada tampak menerjang dan memeluk Tsuna dengan erat, "syukurlah, kukira aku tidak akan bertemu lagi denganmu Tsuna!"
"EEEH! Kenapa Gokudera-kun juga terkirim kemari!"
…Sebelumnya~…
"Kakek tua, kenapa kalian bisa tenang saja sementara sampai sekarang Tsuna-sama tidak diketahui dimana keberadaannya!"
Gokudera, tampak menatap kearah ayahnya yang tampak membaca beberapa laporan dan tidak menghiraukannya. Setelah membawa Giotto untuk beristirahat, G langsung berkutat dengan sebuah kertas yang baru saja diberikan oleh anak buahnya. Hayatopun tampak memutuskan untuk melihat keadaan Natsuki saat itu.
"Tidak ada yang bisa dilakukan Gokudera, aku sudah meminta Spanner untuk menganalisa apa yang sebenarnya terjadi," G tampak berdecak kesal karena anaknya itu mengganggu pekerjaannya.
"Lalu, apakah sudah ada kabar dari si lollipop itu?"
"Belum, dan ini bukan hal yang mudah—sudah 1 jam sejak Tsunayoshi tertembak dan tidak ada tanda ia akan kembali…"
"Bagaimana kalau tembakkan kembali Bazooka itu padaku, aku bisa mencari Tsuna-sama!"
"Jangan bodoh!" G tampak meninggikan suaranya yang sebelumnya tampak biasa saja, "kalau kau sampai ikut menghilang itu hanya akan memperburuk suasana! Bersabarlah dan jadilah anak baik sebelum Spanner menemukan cara untuk membawa Tsuna kembali!"
…
"Tch—" Gokudera memutuskan untuk diam dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan ayahnya. Membaca buku yang ada di depannya dan tidak menatap ayahnya yang sesekali melihat Gokudera yang tampaknya kesal sekali dengan sifat santai yang ditunjukkan G. Tetapi ia tidak boleh bertindak gegabah dan pada akhirnya malah berakibat fatal.
"Aku mengerti apa yang kau katakan sebelumnya—" Gokudera menatap ayahnya dari sudut buku, masih dengan tatapan kesal dan juga bibir yang tampak membentuk kurva maksimum itu, "—kau beranggapan kalau Tsuna, sudah tewas bukan? Makanya sosoknya 10 tahun yang akan datang tidak kembali ke masa ini…"
Gokudera memalingkan wajahnya dan hanya mengangguk, walaupun itu hanya pemikirannya saja, tetapi tetap saja itu mengganggunya sekali. G menatap Gokudera sebelum tawa pelan terdengar dan ia menatap anaknya itu.
"Kau panik sekali mendengar kalau sudah menyangkut Tsuna," G tampak menghela nafas dan tersenyum—menurunkan kertas yang ada di tangannya dan menatap anaknya itu, "tenang saja—Tsuna tidak akan semudah itu mati. Kau tahu itu—"
"Te—tetapi, kenapa ia…"
"Pasti hanya ada kerusakan pada Juunen Bazooka, dan Gianni serta Spanner akan menemukannya dengan segera," menyenderkan punggungnya di kursi yang ia duduki, mencoba untuk rileks.
"Tch—walaupun begitu…"
"Aku jadi penasaran—" Gokudera menatap ayahnya dengan tatapan bingung. G hanya memberikan senyumannya yang penuh arti dan tangannya memangku kepalanya dengan sebelah tangan, "—bagaimana kalau aku yang berada di posisi Tsuna? Saat yang ada di fikiranmu adalah, aku sudah tewas?"
…
"Ja—jangan berbicara macam-macam!" wajah Gokudera sejenak tampat cemas seolah ia benar-benar mendengar kalau ayahnya tewas, "kau tidak akan mungkin mati semudah itu. Bagaimanapun kau tangan kanan dari boss mafia terbesar di Italia sekarang ini. Lagipula, orang bodoh sepertimu tidak akan mungkin mati begitu saja dengan mudah…"
"Kalau sampai itu terjadi—apakah kau akan bersedih Gokudera?" dengan senyuman yang tampak tidak bisa dibaca artinya, Gokudera tampak seolah dipermainkan oleh ayahnya. Wajahnya tampak memerah karena marah dan juga malu.
"Ja—jangan bercanda dengan kata-katamu itu kakek tua!" kesal karena dipermainkan oleh ayahnya, dan G yang senang mempermainkan Gokudera membuat keduanya tidak menyadari sebuah peluru bazooka yang melayang dari jarak yang cukup jauh, "A—aku tidak mungkin—"
POF!
…
"Gokudera…?" G tampak terkejut karena tidak melihat sosok Gokudera yang tertutupi oleh asap pink. Berharap ada sosok yang bisa menjelaskan apa yang terjadi—tetapi yang ia lihat hanyalah ruangan kosong tanpa ada sosok Gokudera disana.
…
"Be—begitulah," menjelaskan masalah yang ia ketahui dari Millefiore, Vongola Hunt, dan semua yang ia ketahui—kecuali kematian G yang tidak bisa ia katakan pada Gokudera saat ini. Setelah mendengar semua itu, tampak Gokudera yang menyudut sambil memeluk lututnya, dengan aura gloomy yang menyelimuti tubuhnya, "G—Gokudera-kun?"
"Apa yang sebenarnya diriku di masa ini lakukan, kenapa Tsuna-sama bisa tewas begitu saja!"
"I—ini bukan salahmu, lagipula tidak ada yang menyangka akan seperti ini—" Tsuna mencoba untuk menenangkan Gokudera yang tampak mengamuk sendiri pada dirinya yang berada di masa ini.
"Aku pasti akan membunuh orang yang bernama Shouichi itu, setelah kembali ke masa kita…"
"I—itulah masalahnya, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa kembali ke masa kita," Tsuna tampak menatap Gokudera, cemas karena ia tidak bisa kembali ke masa mereka, dan tidak tahu bagaimana cara mereka untuk kembali ke masa itu, "dan sepertinya kau juga terjebak di sini Gokudera-kun…"
…
Suasana Gloomy yang tercipta diantara mereka tampaknya membuat empat persimpangan di kepala Lal semakin jelas sebelum ia memukul dengan keras kedua orang yang ada di depannya saat ini—membuat mereka berdua mengaduh sakit.
"OI! APA-APAAN KAU!"
"Sekarang bukan saatnya untuk murung, kita harus kembali ke markas dan memberitahukan pada semuanya," Lal tampak berbalik dan kembali berjalan. Tsuna tampak hanya bisa mengangguk dan mengikuti Lal, begitu juga dengan Gokudera.
"La—Lal-san, bisa kau teruskan ceritamu tentang masa ini?"
…
"Seperti yang aku katakan sebelumnya—Millefiore terus melakukan Vongola Hunt hingga sekarang," Lal yang mengerti kalau Tsuna tidak ingin memberitahu tentang kematian G terlebih dahulu pada Gokudera tampak tidak mengatakannya begitu saja, "selain itu, ia juga memasang anti Tri-ni-sette…"
"Trinisette?"
"Kekuatan yang besar—yang akan dimiliki oleh seseorang yang memiliki tujuh buah Vongola Ring, Mare Ring, dan juga Pacifier yang di miliki oleh para arcobalenno. Para anggota Millefiore memiliki mare ring—" Lal tampak terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi.
"Me—mereka belum memiliki cincin lainnya bukan?"
…
"Sampai saat ini—mereka sudah memiliki lima dari tujuh buah pacifier." Tsuna dan juga Gokudera tampak terkejut mendengarnya. Menatap Lal yang hanya menundukkan kepalanya tidak mengatakan apapun lagi, "mereka membuat anti tri-ni-sette yang—membuat semua arcobalenno yang kalian ketahui—"
Tsuna tampak memiliki firasat buruk tentang apa yang akan dikatakan oleh Lal saat itu.
"—mereka semua tewas karena alat itu…"
"Apa! Ja-jadi, Reborn, Fon-san, dan juga Colonello-senpai—" Lal hanya mengangguk, Tsuna tampak terlihat agak shock karena mendengar mantan tutornya, dan kedua orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri yang tidak pernah bisa ia bayangkan akan tewas itu diketahui sudah meninggal 10 tahun kemudian.
"Tetapi mereka tidak mendapatkan pacifier milik Reborn, karena dirimu di masa ini segera menyelamatkan pacifier itu dan hingga sekarang masih aman berada di tangan Vongola," Tsuna dan juga Gokudera menghela nafas lega mendengar itu semua.
"Etto—rasanya ada yang terlupakan," Tsuna menggaruk dagunya dengan telunjuknya, mencoba untuk mengingat apa yang dilupakan oleh mereka. Baru saja akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara sebuah mesin yang berjalan mendekati mereka. Lal yang melihat itu dengan segera menarik mereka berdua untuk bersembunyi.
"I—itu Gola Mosca! Kenapa mereka bisa memilikinya—" Tsuna terkejut melihat mesin yang pernah dimunculkan pamannya dan juga Xanxus itu.
"Mereka berhasil mendapatkan blue print dari Gola Mosca itu," Lal berbisik sambil melihat Gola Mosca itu tampak akan melewatinya, "tetapi selama mereka tidak menangkap radar dari kita, ia tidak akan—"
"Oh tidak!" Tsuna tampak sedikit berteriak, dan segera menutup mulutnya walaupun suaranya tampak tidak cukup besar untuk didengar.
"Ada apa Tsuna?"
Saat Gola Mosca itu akan menjauh, tiba-tiba ia berhenti dan berbalik—mengacungkan senjatanya kearah mereka bertiga, membuat Lal terkejut dan segera muncul untuk mengalihkan perhatian benda itu.
"Kenapa ia bisa mengetahui keberadaan kita!"
"Lal, Gokudera-kun membawa Storm Ring di tangannya, kita lupa memberikan rantai buatan Mammon itu padanya!" Tsuna tampak panik dan Lal hanya bisa menggerutu pelan, mengutuk kecerobohannya sendiri dan kebodohan dari Tsuna.
"Kalian cepat lari dari sini, akan ada anggota Vongola yang pasti berada di sekitar sini," Lal mencoba untuk menembaki Gola Mosca itu, "aku akan memperlambat gerakannya…"
"Kami tidak mungkin meninggalkanmu sendiri melawannya Lal!"
"Dasar bodoh—bukan saatnya untuk memikirkan hal i—" Gola Mosca tampak mendekati Lal dengan kecepatan cukup tinggi, tidak memberikan kesempatan Lal untuk siap dengan serangan itu.
"LAL!"
Saat serangan Mosca itu akan mengenai Lal, tampak sebuah serangan yang mengenai kepala Mosca itu hingga sedikit terbelah. Baik Lal, Tsuna, maupun Gokudera tampak menatap ke arah orang yang menggunakan serangan itu.
"Attaco di Squallo—ternyata berlatih dengan Varia tidak buruk juga," suara yang sangat familiar itu tampak membuat Tsuna tersadar dan menatap sosok yang memiliki suara itu. Pria berambut hitam panjang yang diikat satu dan memakai jas berwarna hitam yang sama dengan Gokudera dari masa ini.
"Kau tidak apa-apa?"
…
"Paman Ugetsu!" Gokudera dan juga Tsuna tampak terkejut melihat pria yang tidak berubah sejak 10 tahun yang lalu itu kini berdiri di hadapan mereka. Ugetsu menatap Lal sebelum beralih pada Tsuna dan juga Gokudera.
"Eh, misiku kali ini hanya menjemput agen CEDEF Lal Mirch, aku tidak menyangka akan bertemu dengan dua keponakanku ini," tertawa lepas seperti biasa dan menatap Tsuna serta Gokudera, "tetapi, apakah hanya perasaanku atau memang kau mengecil Gokudera? Lalu Tsunayoshi—apakah ini ilusi atau hantu?"
'Sudah dipastikan ia adalah paman Ugetsu…' sweatdrop melihat bagaimana santainya Ugetsu saat bertemu dengan mereka sudah cukup untuk membuat mereka berkesimpulan jika pria itu benar-benar Asari Ugetsu.
"Se—sebenarnya kami tertembak oleh Juunen Bazooka, dan terjebak di masa ini," Tsuna tampak tertawa gugup sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Ah, begitu—dari masa lalu? Seharusnya aku tahu itu—" Ugetsu tampak tertawa datar, "—pantas saja kau masih sehat seperti ini Tsunayoshi-dono…"
"Be—begitulah," Tsuna tampak tersenyum, sementara Gokudera hanya bisa menatap pamannya itu dengan tatapan datar.
"Sebaiknya kita segera kembali—Gola Mosca ini hanya akan berhenti bergerak beberapa saat, bertarung dengan mereka adalah salah satu mimpi buruk yang mengerikan," Ugetsu tampak berjalan dan melewati Gola Mosca. Tsuna, Lal, dan juga Gokudera tampak hanya diam dan mengikuti Ugetsu berjalan. Selama perjalanan, Tsuna tampak bercerita tentang apa yang terakhir kali terjadi sebelum ia terkirim ke masa depan.
"Ah, jadi kalian baru saja melakukan Ring Battle? Sudah lama sekali—tetapi ingatanku seperti baru saja terjadi beberapa hari yang lalu," Ugetsu tampak tersenyum, "sepuluh tahun—merubah semua yang terjadi kau tahu?"
…
"Vongola juga tampak baik-baik saja denganmu dan Giotto-dono sebagai pemimpinnya!"
"E—eh, apa maksud paman denganku dan ayah?" Tsuna tampak bingung dengan apa yang terjadi, karena ayahnya belum memutuskan siapa yang akan menjadi Vongola Secondo. Dan Tsuna mengira kalau Natsukilah yang menjadi penerus ayahnya, "bagaimana dengan Natsuki?"
"Ah, apakah anda belum mengatakannya pada mereka Lal-dono?"
"Mereka hanya menanyakan tentang Millefiore, aku malas menjelaskannya," Lal tampak memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mengatakan?"
"Kaulah yang menjadi Vongola Secondo Tsunayoshi-dono, yah—karena Giotto-dono bisa disebut pensiun muda, ia juga tetap ikut mengatur Vongola…"
"EEEH!" baik Tsuna maupun Gokudera tampak terkejut mendengarnya. Mata Gokudera tampak berbinar-binar mendengar hal itu.
"Kau hebat Tsuna, bagaimana dengan para guardiannya?" Gokudera menatap Ugetsu yang tampak tersenyum.
"Kau menjadi Storm Guardian sama seperti ayahmu, lalu Yamamoto menjadi Rain Guardiannya, Ryouhei Sun Guardian, Kyouya Cloud Guardian, Lambo Thunder Guardian, Mukuro dan Chrome Mist Guardian," menjelaskan panjang lebar, tatapan Gokudera semakin bersemangat mendengar hal itu, "ah, kau juga menjadi tangan kanan yang hebat Gokudera-kun…"
"Tentu saja, aku tidak mungkin kalau dari kakek tua itu! Apakah aku lebih hebat darinya di masa ini?"
Baik Tsuna, Lal, maupun Ugetsu yang mengetahui tentang keadaan G tampak hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
"Ya, kau sangat hebat di masa ini Gokudera-kun," Ugetsu tampak tersenyum tipis dan menghela nafas berat, "tetapi G lebih hebat darimu!"
"Tch—tentu saja kau memujinya, bagaimanapun kakek tua itu adalah kekasihmu," mendengus kesal dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Tsuna hanya tertawa dan menatap Ugetsu yang tampak sekilas tersenyum sedih.
"Ah, tentu saja—di masamu kami masih bersama," Ugetsu tampak tersenyum—kali ini tampak dipaksakan. Gokudera dan Tsuna tampak menaikkan sebelah alisnya bingung mendengar perkataan Ugetsu, "sekitar dua tahun yang lalu—kami memutuskan hubungan kami. Dan tentu saja sekarang ini aku dan G hanyalah memiliki hubungan relasi kerja…"
"E—eh, paman G dan Ugetsu-san…"
"Yah, memang susah dipercaya—tetapi memang itulah kenyataannya. G selalu saja seenaknya sendiri, katanya aku jadi tidak berkonsentrasi karena hubungan kami semakin dekat," Ugetsu tampak tertawa datar dan melihat Gokudera serta Tsuna yang hanya bersweatdrop ria mendengarnya.
'Pasti karena paman G/kakek tua itu yang tidak bisa berkonsentrasi…'
"Hei, apakah kita tidak bisa berjalan lebih cepat? Bukankah jarak dari tempat ini sampai markas masih cukup jauh?" Lal yang sedari tadi tampak diam pada akhirnya angkat bicara dan menatap kearah Ugetsu yang membalas tatapannya.
"Ah, aku lupa mengatakannya—untung saja tidak kelewatan. Informasi tentang letak markas yang kau dapatkan itu salah, kita sudah hampir sampai," berhenti di salah satu sisi dari hutan, melihat sekelilingnya sebelum mengeluarkan sebuah kotak lagi. Mengeluarkan salah satu cincin yang ada di tangannya—memasukkan kembali cincin itu ke dalam lubang yang ada di kotak.
Kotak itu tampak terbuka, dan sesuatu tampak terbang keluar—seekor burung yang langsung menukik ke atas.
"Ini adalah pertahanan paling dasar untuk mengecoh lawan—jangan sekalipun menengok kearah atas Tsunayoshi, Gokudera—" Ugetsu tampak menatap Tsuna yang tiba-tiba merasakan air tampak turun dan saat mendongak, hujan tampak turun dengan sangat deras.
"A—apa ini, seperti air yang jatuh begitu saja!"
'Ia bisa menggunakan weapon box tanpa menggunakan Vongola Ring?' Lal menatap Ugetsu dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tidak bisa melihat ke depan!"
"Kemari Tsunayoshi-kun, Gokudera-kun—" Ugetsu tampak membuka sebuah pintu menuju ke ruang bawah tanah. Tsuna yang hanya bisa melihat samar segera berjalan dan masuk ke dalam markas itu bersama Gokudera dan juga Lal. Sebuah lorong panjang terlihat di sana, dengan pencahayaan yang remang.
"Whoaa! Jadi markas itu ada di bawah tanah?"
"Begitulah, masih ada enam gerbang yang sejenis dengan ini—Vongola sudah mulai mencurigai Byakuran saat ia menginginkan untuk beraliansi dengan Vongola, ia tahu kalau Byakuran hanya mengincar cincin Vongola dan juga Pacifier milik Colonello, Uni, Fon, dan juga Reborn—" Ugetsu berjalan hingga ke sebuah ruangan yang sangat besar, "—itulah sebabnya ia merencanakan enam pintu masuk. Dan jika tidak menggunakan sidik jari dan juga flame, tidak akan mungkin bisa membuka pintu ini…"
"He—hebat, ayah merencanakan semua ini?"
"Ingin tahu sesuatu yang menarik?" Ugetsu tertawa kecil dan menepuk kepala Tsuna, "kau yang merancang dan membuat semua ini Tsunayoshi…"
"E—EH! Aku?"
"Ya, kalau tidak salah—saat usiamu 20 tahun, awalnya hanya sekedar untuk markas cadangan, tetapi malah menjadi markas utama sejak Vongola Hunt…" terus berjalan hingga di depan sebuah pintu yang tampak diselimuti oleh sensor berwarna.
"Apa itu?"
"Entahlah—yang aku tahu, Gianni membuatnya. Semacam sensor pendeteksi—" Ugetsu, Tsuna, dan juga Gokudera tampak berjalan begitu saja dan tidak ada efek apapun pada sensor itu. Dan pada saat Lal melewatinya, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya lemas dan dengan segera kesadarannya hilang dan langsung pingsan.
"L—Lal!"
"Tenang saja, ia hanya tidak bisa menerima perbedaan tekanan dari luar dan juga di dalam sini—apalagi dengan kondisinya yang sekarang," Ugetsu tampak mengecek keadaannya sebelum menggendong Lal dalam gaya bridal.
"Sebaiknya kita menemui Giotto terlebih dahulu—ia pasti akan sangat terkejut melihatmu," Ugetsu tersenyum setelah mengantarkan Lal ke ruangan kesehatan, dengan segera mereka berjalan ke sebuah ruangan yang memiliki lambang Vongola dan angka I disana, "Giotto—ini aku…"
"Masuklah Ugetsu—" suara itu tampak menunjukkan kelelahan dan juga tekanan batin yang diderita oleh Giotto. Baik Tsuna maupun Gokudera tampak hanya bisa diam dan berdiri di depan pintu—tertutupi oleh sosok Ugetsu yang berjalan dan berhenti di depan pintu, "—bagaimana keadaan Lal?"
"Sepertinya sensor itu memang bekerja padanya—tetapi ia sudah berada di tangan yang tepat, sebentar lagi ia akan siuman," Ugetsu tampak tersenyum lebar dan menatap Giotto yang tampak bingung dan menghentikan pekerjaannya.
"Sepertinya kau sangat gembira Ugetsu—apakah ada berita bagus?"
"Kau tahu siapa yang aku temukan saat mencari Lal Mirch di hutan Vongola?" Giotto tampak memiringkan kepalanya dan bingung—tidak mengerti maksud perkataan dari Ugetsu sebelum tampak sosok Tsuna yang masih bersembunyi di belakang Ugetsu, mengintip ayahnya yang tampak tidak berubah selama 10 tahun berlalu.
"Hai ayah—"
…
"T—Tsuna?" Giotto dengan segera berdiri, menatap tidak percaya anaknya yang tampak sehat dan juga hidup—sementara yang ia tahu hingga beberapa detik yang lalu adalah tubuh Tsuna masih berada di dalam peti mati di salah satu sisi hutan Vongola. Berjalan dan mencoba untuk melihat apakah itu adalah ilusi atau memang sosok Tsuna yang tampak sehat walaupun terlihat lebih muda, "ini benar-benar kau—" memeluk erat Tsuna dan membenamkan kepalanya di atas kepala Tsuna.
"Oh Tsuna, kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku saat kau dan juga G tidak ada—aku benar-benar tidak percaya aku masih bisa melihatmu lagi," mengecup dan mengusap kepala Tsuna, sambil bernafas lega.
"Kakek tua itu tidak ada?" semua yang ada di ruangan itu tampak terdiam—Gokudera menatap mereka penuh curiga, dan perkataan Giotto sudah cukup untuk membuat kecurigaan dari Gokudera semakin bertambah. Giotto menatap Ugetsu yang hanya menghela nafas panjang dan berat, "memang ia kemana?"
"Gokudera-kun," Ugetsu mengeratkan kepalan tangannya, mencoba untuk tegar saat mengatakan keadaan G pada Gokudera saat itu, "G—tewas dalam serangan Millefiore, ia adalah korban pertama dari Vongola yang tewas saat penyerangan di markas utama saat itu…"
…
"E—Eh?" Gokudera tampak terkejut dan membelalakkan matanya mendengar perkataan Ugetsu itu.
'Kalau saja saat itu—kau menemukan fakta bahwa aku sudah tewas, apa yang kau rasakan Gokudera?'
.
To Be Continue
.
