First Love
Park Jimin & Min Yoongi
Namjoon;Seokjin;Taehyung;Hoseok;Jungkook
Other
Rated : T
Warning! BL/OOC/Abal
.
©jjnuna
.
Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri, saya hanya meminjam nama mereka untuk menuangkan isi pikiran saya melalui ff ini.
Mohon maaf jika ada yang tidak suka, I hope u don't bash cast in here .
.
Enjoy!
.
Daegu, 21:00
Remang. Ya satu kata itu yang dapat mendeskripsikan keadaan ruang, yang hanya disinari pantulan cahaya televisi yang setia menonton makhluk yang tengah berbaring di sofa panjang berwarna coklat tersebut.
Ya, ia yang sedang di tonton bukan menonton.
Kelopak mata yang sempat terpejam itu perlahan-lahan terbuka. Memperlihatkan netra sayu laki-laki berumur 24 tahun yang terlihat terpaksa untuk tetap terjaga.
Sebut saja Min Yoongi, laki-laki pengangguran yang entah kerasukan apa tengah menonton televisi yang bahkan biasanya televisi tersebut yang menontonnya. Raut wajah yang biasanya datar ditambah kulit pucatnya yang terkesan sangat galak itu, sekarang terlihat berbeda.
Ia tersenyum. Mungkin bisa di sebut juga tertawa, terlihat dari eye smile yang ia pancarkan. Mungkin orang-orang terdekatnya akan kaget melihat Yoongi yang seperti itu, sayang hanya sebuah telivisi yang melihat keajaiban itu.
"Tak apa saya akan menjawabnya. Frist love yah, hemm saya kurang berpengalaman soal percintaan. Dulu saat saya di Busan, saya pernah di tolong oleh seseorang. Entah mengapa saya ingin mencari orang itu lagi, apa mungkin itu bisa di sebut first love?"
Yoongi tertawa mendengar pernyataan yang berasal dari televisi, "Dasar pencitraan! Kau itu playboy mana mungkin kurang berpengalaman. Pandai sekali ya." Tutur pemuda yang tengah fokus melihat acara tersebut. Terkadang ia menggerutu tak jelas selama penayangan acara, bahkan kesal saat break iklan yang muncul di layar kaca tv.
Yoongi pun beranjak dari sofa dan langsung menuju dapur, selagi iklan masih tayang. Ia harus minum, sangat tidak nyaman sekali ketika bangun tidur dan langsung mengoceh sana sini.
"Oh jadi dulu itu kau punya cinta pertama, tapi tidak memberitahuku?" Tanya Yoongi entah pada siapa saat berjalan menuju dapur, "Cukup tahu saja. Sempat menolong juga kan ya? Ow so sweet." Lanjutnya seraya menaruh kasar gelas yang airnya sudah habis tanpa sisa.
Kapan Yoongi meminumnya? Hanya dia yang tahu.
Pemuda itu pun kembali ke sofa dengan setoples biskuit oreo kesukaanya, dan sisa jus jeruk entah milik siapa. Mungkin milik Seokjin atau Taehyung. Ya, mereka adalah teman satu apartement Yoongi, disini Yoongi hanya menumpang dan mereka berdualah yang membayar. Tapi ia sendiri lah yang suka tak tahu diri, tolong di maklumi saja kelakuan pemuda pucat itu.
Hampir setengah jam lewat wawancara tersebut berlangsung. Yoongi sampai memejamkan mata ketika iklan yang menurutnya sangat tidak penting masih menghiasi tv, dan ia terkaget-kaget saat suara pembawa acara itu bergeming nyaring kembali mengawali wawancara kembali.
"Terimakasih Jimin-shi telah datang diacara ini, mohon maaf bila anda tak nyaman. Dan terima undangan kami selanjutnya ya!"
"Tak masalah. Baiklah saya akan datang dengan Chanyeol hyung lain kali."
Surak-surak penonton yang ada di dalam studio kontras dengan ruangan remang yang pemuda pucat itu tempati, Yoongi masih fokus dengan objek yang sedang sedang bersalaman dengan pembawa acara itu.
"Hah? Sudah berakhir?" Tanya Yoongi lagi entah pada siapa. Jadi dirinya menunggu lama iklan yang terus tayang, dan ketika acara itu di mulai hanya untuk salam perpisahan? Pemuda itu hanya berdegus kasar.
"Apanya yang berakhir Yoon?" Ucap seseorang yang tengah menyalakan lampu dan menuju ke arah Yoongi yang masih fokus dengan tv. Terkadang ia berpikir Yoongi tidak menyalakan lampu untuk berhemat listrik atau memang suka keadaan gelap.
Orang yang di maksud hanya hanya diam, enggan membalikkan tubuhnya untuk melihat sumber suara.
"Jawab aku Min Yoongi."
Yoongi membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara, "Acara tv-nya hyung, kau lihat sendiri bukan?" Akhirnya pemuda itu mengucapkan sepatah kata, setelah acara tv itu benar-benar berakhir.
"Hilangkan sikap cuek mu itu Min Yoongi! Dengan aku saja kau begitu, bagaimana dengan orang lain? Pantas saja kau tak kunjung mendapat pekerjaan. Masih akan terus begitu hah?! Apa kau tahu hari ini hari Wisuda Taehyung? Dan setidaknya kau membalas pesan dari dia! Atau bahkan kau belum melihatnya? Keterlaluan sekali dirimu Yoon." Ucap orang itu seraya pergi menuju kamarnya.
Pemuda pucat itu hanya terdiam. Melihat punggung 'hyung' nya yang perlahan mulai menghilang. Dan setetes air mata pun jatuh membasahi pipinya. "Maafkan aku Jin hyung…aku tak bermaksud begitu,"
Yoongi pun segera menuju kamarnya dan tergesa mencari ponselnya.
From : Taetaengie.
Hyung! Jangan lupa datang ke Wisuda ku hari ini. Aku akan mentraktir kalian berdua, okey! Harus datang pokoknya! Saranghae~
12 missed call from Jinnie hyung.
From : Jinnie hyung.
MIN YOONGI! KAU INGATKAN HARI INI? JANGAN MEN-SILLENT PONSEL MU!
Yoongi memukul kepalanya kasar. Ia merutuki sikapnya yang sangat buruk pada orang-orang yang dia sayangi sendiri. Kebiasan tidurnya yang buruk dan sikap acuh tak acuhnya itu bahkan menyakiti mereka.
Ingatan orang-orang yang sering membicarakan dirinya pun berputar. Banyak yang bilang kalau ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Menerima dan menyayangi Yoongi dengan tulus.
Semenjak Yoongi tidak tinggal di Busan lagi ia semakin menutup dirinya. Apa lagi ketika orang tuanya meninggal, ia benar-benar seperti makhluk unsos yang untuk keluar rumah saja jarang apa lagi berbicara dengan tetangga.
Mulai saat itulah dirinya lebih banyak tertidur dan sikap tak pedulinya muncul.
Dan berkat seseorang bernama Kim Seokjin, secerca harapan datang. Ketika Yoongi masih duduk di tingkat akhir Senior High School, hari itu pertama kalinya ia bertemu Seokjin. Saat itu ia bekerja part time di sebuah mini market dekat rumahnya.
Seokjin berkata, "Hey mini market ini akan sepi pengunjung nantinya, jika pegawainya tidak peduli dengan pelanggan. Lihat disana ada pelanggan yang membutuhkan bantuan." Ucapnya seraya menunjuk wanita tua yang tengah bingung mencari sesuatu.
"Jumlahnya 20 ribu won, tuan."
Seokjin hanya tertawa kaku melihat sikap Yoongi, dirinya masih takjub melihat sikap santai Yoongi. Ia pun memberi beberapa lembar uang yang jumlahnya pas, ingin melihat reaksi Yoongi.
"Uangnya pas tuan, terimakasih dan datang kembali."
"Ya. Sama-sama."
Seokjin pergi meninggalkan mini market tersebut, dan sempat bergumam. "Sebenarnya dia baik, tetapi dengan sikapnya yang begitu orang akan berfikir lain." Dan tanpa seokjin tau, pemuda pucat itu mendengar ucapannya.
Satu bulan kemudian mereka bertemu kembali, bukan di mini market melainkan di trotoar jalan.
"H—hey!"
Sapa Yoongi. Orang yang di maksud bergumam 'aku?' seraya menujuk dirinya sendiri.
Seokjin berjalan menghampiri Yoongi, dirinya tahu kalau orang seperti Yoongi tidak akan bertindak walau dia yang memulai duluan. "Ada apa? Hemm," Ucap Seokjin sopan.
"Mmmm…maafkan aku sudah tak sopan denganmu," Ucap pemuda pucat itu ragu.
Orang yang menjadi objek sekarang tertawa. "Bahkan kau tidak sopan denganku sekarang. Panggil aku hyung, aku tahu dirimu mengetahui kalau diriku lebih tua." Jelasnya.
"Baiklah hyung maafkan aku ya." Tutur Yoongi dibarengi dengan senyum lembutnya.
"Kau manis juga kalau tersenyum, seperti gula haha. Oh ya perkenalkan aku Kim Seokjin, siapa namu?"
Yoongi terdiam melihat tawanya Kim Seokjin, ia berpikir ada ya laki-laki seperti itu?
"Min Yoongi, panggil saja aku Yoongi."
"Btw jam segini bukannya kau harus jaga mini market ya Yoongi-ya? Kenapa masih disi, pakai seragam pula." Tanya Seokjin bingung.
"Aku sudah di pecat hyung, dan itu gara-gara kau," Jawab pemuda pucat itu.
Seokjin kaget masa iya karena dirinya Yoongi di pecat. " Eh? Masa sih. Kau bisa bercanda juga ternyata." Ucapnya seraya tersenyum takut.
"Kau tak ingat? Saat dirimu berbicara disana ada pemilik mini market. Dan aku langsung di pecat saat itu juga." Seokjin tambah merasa tak enak mendengar penuturan Yoongi.
"Yoongi-ya, maafkan aku. Karena aku dirimu jadi di pecat. Sungguh aku tak menyadari kalau laki-laki tua itu ternyata pemiliknya, aku kira di pelanggan juga sama seperti ku."
Yoongi mendekat kearah Seokjin, "Tak apa hyung, aku juga kan yang salah. Kok jadi kau yang meminta maaf." Dan reflek Seokjin memeluk tubuh mungil Yoongi.
"Ah first impression kita buruk sekali ya, maafkan aku Yoongi-ya."
Dan sejak itulah Min Yoongi dan Kim Seokjin menjadi sedekat itu hingga sekarang. 7 tahun pahit manis kehidupan mereka jalani bersama. Di tambah si bocah manja adik kesayangan Kim Seokjin yang melengkapi kehidupan mereka. Ya dia adalah Kim Taehyung.
Dan orang-orang sangat iri dengan pemuda dingin, malas, to the point, galak seperti Min Yoongi. Dan satu hal yang orang-orang itu tak tahu dari Min Yoongi, kalau ia sangat lah sayang dengan sahabat—tidak keluarga barunya itu.
Yoongi lagi-lagi menangis mengingat saat pertama kalinya ia bertemu dengan Seokjin dan Taehyung. Jujur moodnya benar-benar buruk saat menonton acara di tv tadi. Dan ia tidak bermaksud mengacuhkan Seokjin.
.
.
[Tet,tet,tet,tet. Berhasil]
Seseorang sedang menekan beberapa digit password apartement, dan berhasil.
"AKU PULANG!"
Teriakan dengan suara ngebass itu pun, dapat memanggil dua penghuni lainnya untuk segera menuju ke sumber suara. Terutama Yoongi yang tergesa-gesa sampai tersandung sandal rumah yang ia pakai.
"Hati-hati Yoongi hyung, kau bisa melukai dirimu sendiri." Khawatir pemuda pemilik suara bass itu.
Yoongi yang mendengar intruksi dari adik Seokjin itu mengabaikan ucapannya. Dirinya terus berlari, membalap langkah Seokjin yang memang kamarnya lebih dekat dengan posisi adiknya sekarang.
"Taehyungie maafkan aku karena tidak datang ke acara Wisuda mu, aku ketiduran dan malah menonton tv setelah itu. Ponsel ku juga berada di dalam kamar, dan bodohnya aku sillent ponsel ku. Sekali lagi maafkan aku."
Pemuda pucat itu menangis dalam pelukan pemuda satunya yang bernama Taehyung. Pemuda yang di peluk hanya takjub melihat apa yang Yoongi lakukan, benar-benar bukan seperti dirinya.
Seokjin yang melihat adegan di depannya tersenyum lembut, seraya memberi acungan jempol pada Taehyung yang sedang melihat kearahnya juga.
Taehyung terkekeh, "Kau jadi terlihat seperti dongsaengku saja Min Yoongi." Yoongi yang mendengarnya reflek melepas pelukannya pada Taehyung, dan memberi jitakan di kepala pemuda tersebut. "Panggil aku hyung bocah!"
"Huh manis mu hilang deh kalo gitu, kurang-kurangin saja deh galak mu hyung. Awas nanti tak ada yang nyantol dengan kau,"
"KIM TAEHYUNG SIALAN!"
Jadilah acara kejar-kejaran Taehyung-Yoongi layaknya Tom and Jerry. Seokjin yang melihatnya lagi-lagi hanya tersenyum lembut. "Sudah-sudah, aku ingin bicara dengan kalian berdua." Ucapnya yang membuat Tom and Jerry itu berhenti sejenak.
Yoongi dan Taehyung saling menatap, "Ada yang ingin aku bicarakan juga/Aku juga." Ucap mereka bersamaan.
"Kalau begitu kita gambreng saja, yang keluar terlebih dahulu dia boleh bicara duluan. Bagaimana?" Usul Taehyung.
Dua orang itu hanya mengangguk, ingin tertawa juga mendengar usul dari Taehyung. Tapi sudahlah biar cepat selesai juga pikir mereka, malam juga semakin larut.
Akhirnya Yoongi yang dapat giliran pertama, Seokjin kedua, dan terakhir Taehyung.
"Yang aku ingin bicarakan hanya untuk meminta maaf pada Jin hyung, aku berjanji akan mencari pekerjaan dan mulai peduli dengan keadaan sekitar juga keadaan diriku sendiri."
Pemuda pucat itu memeluk Seokjin hangat, dan Seokjin pun membalasnya.
"Aku pegang janji mu Yoon. Tetapi apa kau bisa beradaptasi dengan pekerjaan di Seoul nanti?"
Yoongi yang menyimak ucapan Seokjin itu mengerjapkan matanya tanda tak mengerti, Seokjin hanya tertawa melihat ekspresi Yoongi.
"Aku mendapat pekerjaan di Seoul, dan Namjoon menyuruhku untuk pindah ke apartementnya. Dan aku di izinkan membawa kalian berdua."
Yoongi lagi-lagi mengerjapkan matanya, Seoul? Namjoon? Taehyung? Dia sedang blank sekarang.
Pemuda pucat itu terlihat ingin bersuara, namun Seokjin memotong terlebih dahulu. "Namjoon. Dia kekasihku. Maaf baru memberi tahu kalian."
"Sudah berapa lama?" Tanya Yoongi datar.
Seokjin menghembuskan nafasnya, "Hampir dua tahun." Jawabnya. "Dan kau menyembunyikan dari kami hyung? Terutama aku dongsaengmu sendiri." Taehyung menambahkan.
Yoongi tidak mempermasalahkan siapa Namjoon, ia mempermasalahkan kenapa Seokjin baru cerita sekarang. Waktu dua tahun itu tidak sedikit, dia rela berjauhan dengan kekasihnya karena apa? Dirinya? Taehyung?
"Anu…aku ingin melihat Taehyung menyelesaikan kuliahnya disini. Makanya tadi aku marah pada kau Yoon karena tidak hadir. Aku ingin membuat kenangan kita bertiga selama di Daegu." Tuturnya panjang lebar.
"Jadi, esok kita pergi ke makam keluarga mu dan keluarga ku, Yoon. Habis itu kita jalan-jalan dan menyiapkan keberangkatan ke Seoul lusa nanti. Bagaimana Taehyung, kau setuju dengan hyung 'kan?"
Pemuda yang diajukan pertanyaan mengangguk, "Sebenarnya, yang ingin aku bicarakan adalah aku di terima menjadi model majalah di Seoul!" Ucapnya riang.
"Sejak kapan kau tertarik menjadi model Taetae?" Tanya Yoongi heran.
Taehyung tertawa, "Kerjaan Hoseok hyung, dia mengirim beberapa fotoku untuk audisi. Awalnya aku marah, karena takut Jin hyung tidak mengizinkan untuk pergi ke Seoul. Setelah mendengar cerita Jin hyung aku senang." Jelasnya.
"Jadi hanya aku yang pengangguran disini? Bahkan Taehyung sebelum dapat pekerjaan bisa membantu Jin hyung membayar uang apartement. Diriku real pengangguran ternyata."
Yoongi merasa dirinya jauh di belakang Kim brother, ia harus serius mencari kerja di Seoul nanti.
"Kau jadi tukang service saja hyung, kau 'kan jago memperbaiki apapun yang rusak." Canda Taehyung.
Seokjin tertawa, "Tumben sekali kau benar Taengie haha,"
Yoongi mendegus "Kalau aku mendapat pekerjaan nanti, gaji pertamaku akan kuhabiskan untuk mentraktir kalian sampai puas." Janjinya.
"Wah Yoongi kita banyak mengucapkan janji hari ini. Kau sudah merekamnya 'kan Taehyung? Soalnya dia jago mengingkar janji~"
"Tentu saja hyung~" Taehyung membalas.
Kim brother pun tertawa bersama, berbanding terbalik dengan Yoongi yang marah-marah dengan kelakuan Kim bersaudara. Tentu saja Kim brother tak menanggapi. Yoongi benar-benar sangat cute saat ia menjadi galak.
"Huh kalian sama saja."
Yoongi hendak meninggalkan Kim Brother yang sedang tertawa bersama, namun terhenti ketika Taehyung mengucapkan sesuatu.
"Double cheese burger milik siapa ini Jin hyung?" buat kau saja deh hyung, bonus dari triple cheese burger mu."
Dengan sigapnya Yoongi mengambil kantong bewarna coklat dari tangan Seokjin. Yang isinya makan kesukaan dirinya, dan ia pun kembali duduk di sofa.
"Kau 'kan sudah punya triple cheese burger hyung, yang ini untuk saja." Ucap Yoongi seraya menunjuk bungkusan bewarna coklat tersebut.
"Giliran makanan saja kau cepat sekali Yoon haha. Kajja kita makan, lalu tidur."
"AYE AYE CAPTAIN!"
Malam itu benar-benar terasa sangat panjang untuk Min Yoongi. Ia sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena telah mendatangkan dua Kim bersaudara. Mungkin tanpa mereka hidup seorang Min Yoongi, akan stuck di situ-situ saja.
-good friends only know about best stories in your life,
but best friends have lived them with you.-
.
-to be continued-
.
Review pls;)
.
2017/05/21
Chapter dua selesai~ maaf kependekan hehe, yang nanyain Yoongi muncul kapan, udah muncul ya doi wkwkwk Jiminnya soon chapter depan:v. Chapter ini khusus untuk Yoongi+Kim brother. Aku buru-buru nulis lanjutan ff ini coz senin depan udah ukk, dan seminggu besok full ulangan harian. Takut ga bisa nulis, ya aku kebut sekarang wkwk doain ya gaes biar lancar ukknya :v
Oh ya seperti biasa diriku butuh kritik dan saran~ haha. Eh satu lagi semoga Bangtan menang di Billboard mereka di undang aja aku udah seneng apa lagi menang, semoga menang amin. Jimin matanya jan jelalatan yak, nanti Yoongi ngamuk di hotel.g :v sekian ngebacotnya, baru nyadar ngapa jadi panjang begin wkwkwi. See u~
