Pancaran sinar matahari yang menyilaukan, mau tak mau membuat Youngjae membuka mata, dan mengerjap beberapa kali, menetralkan korneanya dengan silau cahaya tersebut. Ada sesuatu yang menempel di keningnya, membuat Youngjae reflek menggerakkan tangannya, yang kemudian segera membuatnya sadar bahwa ada jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan kirinya itu.

Pintu kamarnya terbuka pelan, menampilkan sosok Jongup yang sedang melangkah masuk sambil membawa baki, dan segera tersenyum ke arahnya, "Ah, hyung kau sudah bangun ? Good morning."

Sapaan selamat pagi itu membuat Youngjae reflek menoleh ke jam dindingnya, dan jarum panjang pendek yang bertindihan di angka sembilan, membuat Youngjae segera menoleh ke arah Jongup dengan panik. "Aku ada rapat, aku harus ke kantor !" Serunya segera, berniat bangun, namun Jongup yang baru saja meletakkan baki di atas meja tak jauh dari tempat tidur Youngjae bergerak lebih cepat sehingga dapat menahan pergerakan hyung-nya tersebut.

"Kau demam tinggi, hyung." Terang Jongup, mengambil handuk kecil yang terlipat dari atas kening Youngjae dan memasukkannya ke dalam baskom yang baru Youngjae sadari keberadaannya. "Yongguk hyung sedang ke kantormu sekarang, dia juga membawa perkerjaan yang telah kau selesaikan. Himchan hyung harus menemui designer untuk pemotretannya besok, ia yang menghubungiku untuk menemanimu. Daehyun hyung baru saja berangkat ke rumah sakit, dia akan kembali lagi kesini saat jam makan siang nanti. Junhong masih harus berlatih dengan team-dancenya, tapi dia bilang akan segera kesini setelah selesai."

Penjelasan lengkap Jongup tersebut hanya direspon Youngjae dengan tersenyum tipis dan desahan pelan. Ia senang dan terharu tentu saja dengan perhatian para sahabatnya, namun mengingat akhir-akhir ini Youngjae lebih sibuk dan dan jarang memiliki waktu untuk mereka, tiba-tiba saja ia merasa…bersalah ? Tak enak ?

Melihat wajah Youngjae yang pucat dan rautnya yang muram, membuat Jongup segera mengambil handuk kecil dari dalam baskom tadi, memerasnya, dan kembali menempelkannya ke kening Youngjae. "Ada apa hyung ? Apa masih terasa pusing ?" Jongup menempelkan punggung tangannya ke pipi Youngjae. "Badanmu sudah tak sepanas beberapa jam lalu."

Youngjae menggeleng kecil, ia dapat merasakan kepalanya masih terasa enteng dan seluruh tubuhnya terasa linu, tapi ia tidak lagi merasa pusing seperti kemarin. "Bantu aku duduk, Jongup-ah." Pintanya yang segera dituruti dongsaeng yang hanya berusia setahun lebih muda darinya itu.

"Ah iya, aku membuatkan bubur untukmu, mau ku suapi atau makan sendiri ? Daehyun hyung memberimu obat yang harus kau minum setelah makan." Tawar dan terang Jongup sambil mengambil mangkok bubur dari atas baki.

"Aku ingin makan sendiri, tapi.." Youngjae menunjukkan tangannya yang tertempel jarum infus. "Daehyun akan membunuh kita berdua kalau aku sampai melepaskannya, iyakan ?"

Gurauan kecil Youngjae membuat Jongup terkekeh pelan, dan segera saja menyuapkan sesendok bubur ke arahnya. "Kata Himchan hyung, kau tidak sadarkan diri dan mimisan banyak sekali, membuat Yongguk hyung nyaris menggendongmu ke rumah sakit tepat saat Daehyun hyung akhirnya datang. Kau selalu seperti ini saat sedang fokus dengan sesuatu, Yoo Youngjae hanya punya satu tubuh, jangan memforsirnya terlalu sering, hyung."

Youngjae tahu, racauan Jongup ini adalah bentuk dari kekhawatirannya, dan Youngjae juga tahu Jongup adalah tipe orang yang lebih suka mengamati secara diam daripada bertindak langsung, mendengarnya terbuka seperti ini, semakin membuat Youngjae merasa tak enak.

"Jongup-ah."

"Ne, hyung ?"

"Maafkan aku karena membuat kalian semua repot dan khawatir, dan tentunya, terimakasih."

Jongup membalasnya dengan senyuman. "It's okay hyung, as long as we're all okay, then it's okay."


Daehyun memeriksa temperature tubuh Youngjae, mendengarkan detak jantungnya melalui stetoskop, mengukur tensi darahnya, mengganti botol infus yang kosong, dan mengoleskan salep pada lebam yang muncul dipergelangan tangan Youngjae akibat jarum infus yang tertancap disana.

Semua itu dilakukan Daehyun dengan diam. Tanpa membuka mulut sama sekali. Bahkan sahabatnya itu sama sekali tak menyapa Youngjae dengan senyuman. Laki-laki berjas putih dihadapannya ini seperti bukan Daehyun yang telah Youngjae kenal selama enam belas tahun.

"Yak !" Youngjae mencoba memecah keheningan. Daehyun sedang memeriksa dua botol obat yang ia tinggalkan tadi pagi.

"Aku sudah meminum obatnya." Ujar Youngjae lagi. Dan Daehyun masih tak bergeming, kini ia malah sibuk membereskan peralatan dokternya, memasukkannya ke dalam tas, dan siap meninggalkan Youngjae.

"Daehyun-ah," Youngjae memegangi ujung jas Daehyun, menahan namja itu, "Jung Daehyun," ulang Youngjae, "Kau..marah padaku ?"

Daehyun meletakkan tasnya yang telah ia pegang ke lantai, memutar tubuhnya, dan segera duduk di sisi tempat tidur Youngjae sambil menatap dua bola mata yang masih tampak sayu itu serius.

"Bukankah aku selalu bilang kesehatan itu nomor satu, pabbo-ya ?!"

Youngjae mengangguk, sedikit takut dengan emosi yang terpancar jelas dari sorot mata Daehyun, dan tentu saja bingung, "Ma—"

"Jangan minta maaf kalau kau akan mengulanginya lagi." Potong Daehyun ketus. "Kau selalu seperti ini, kau tahu ? Kau nyaris pingsan saat belajar untuk ujian kelulusan SMA, begitu juga saat kau mempersiapkan untuk ujian masuk universitas, atau saat kau menyusun skripsimu, demi Tuhan Youngjae, Ibumu bahkan sampai memberi hadiah liburan ke Jeju supaya kau bisa beristirahat sejenak, kami semua bahkan harus 'menculikmu' dari tumpukan buku-bukumu dan menjejalkan makanan kemulutmu secara paksa saat kau mempersiapkan sidang skrisipmu. Dan kupikir, setelah berkerja, kau akan lebih peduli pada kesehatanmu, tapi kenyataannya ?! Di antara kita semua, kau yang paling sering datang ke rumah sakit untuk suntik vitamin C, kau yang paling sering terkena gejala flu, kau yang paling sering muncul dengan mata panda dan wajah pucat ! Kau tahu, nantinya mau aku jadi dokter sehebat apapun, akan percuma jika saha—"

"Ini salahku, bukan salahmu, maafkan aku Daehyun-ah," Youngjae memeluk Daehyun begitu saja, menumpukan wajahnya di pundak Daehyun, "Aku tahu kau mungkin lelah dengan permintaan maafku, lelah dengan keras kepalaku, tapi sungguh, habis ini, aku akan berusaha jadi Yoo Youngjae yang selalu sehat."

Youngjae dapat merasakan emosi yang mulai menguar dari tubuh Daehyun, yang tak lagi setegang saat ia baru mulai memeluknya. Gesture Daehyun yang mulai melingkarkan tangannya ditubuh Youngjae, juga membuat namja itu yakin bahwa sahabatnya sudah tak kecewa lagi dengannya. Youngjae ingin bertahan dalam posisi seperti ini sebentar lagi, rasanya ia sudah lama tak memeluk sahabatnya —atau menurut istilah Himchan soulmatenya, seperti ini. Sampai lagi-lagi ia merasa ada yang mengalir perlahan dari dalam hidungnya, membuat Youngjae reflek melepaskan pelukannya dan menutup indra penciumannya itu dengan tangan.

"Aku…mimisan lagi ?"


"Kau yakin tidak mau tidur, hyung ?"

"Aku sudah terlalu banyak tidur hari ini, Junhong-ah. Lagipula akhirnya kau kemari, aku tidak akan membiarkanmu mati bosan menunggui orang tidur, arra ?"

Junhong bergelung di sisi Youngjae, membiarkan tungkai kaki panjangnya bergelantungan tak nyaman keluar pinggiran tempat tidur, "Maafkan aku baru bisa menengokmu sekarang, hyung. Kau tahu sendirikan, lomba dance yang akan ku ikuti minggu depan ? Masih banyak yang harus dipersiapkan, aku dan teamku bahkan berencana mengubah beberapa gerakan."

Pout yang dilakukan Junhong tanpa sengaja diakhir kalimatnya, membuat Youngjae tersenyum tipis dan membelai rambut maknae tersebut dengan sayang. Dibanding dengan yang lain, Youngjae dan Junhong mengenal satu sama lain paling lama, rumah mereka bertetangga, Youngjae bahkan masih mengingat dengan samar saat eomma-nya mengajak Youngjae yang berumur dua tahun menengok Junhong saat ia baru dilahirkan. Dan saat Junhong menjadi lebih besar, ia selalu mengikuti Youngjae hyung-nya kemanapun.

"Kau pasti akan memenangkan kompetisi ini seperti sebelum-sebelumnya, jangan terlalu memaksakan dirimu."

"Hyung, aku tumbuh bersamamu, tentu saja aku menjadi ambisius juga sepertimu !" Seru Junhong yang segera membuat Youngjae mendelik kearahnya, "Hahaha, bercanda hyung, dibanding dirimu aku lebih pintar dalam menjaga tubuhku, kau tahu kan ?" Tanyanya dengan nada menggoda.

Kali ini, ganti Youngjae yang melakukan pout tanpa sengaja, membuat Junhong menusuki pipi chubby Youngjae dengan ujung telunjuknya gemas.

"Kau orang ketiga yang membahas tentang ini, Junhong-ah. Dan aku yakin, saat HImchan dan Yongguk hyung datang, mereka juga akan membahas ini lagi."

Junhong tertawa, "Itu karena kau memang pantas menerimanya, hyung! Tapi kalau kau berjanji akan segera sembuh, dan akan menyempatkan waktu untuk menonton kompetisiku, mungkin aku bisa membantumu untuk mengalihkan Himchan dan Yongguk hyung."

"Memangnya kau mau mengalihkan perhatian mereka dengan apa ?"

"Uhm, aegyo ?"

Junhong memberikan pose yang manis ke arah Youngjae seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Youngjae tertawa dengan tingkah tersebut, "Hahaha, baiklah-baiklah, lagipula aku tidak akan tidak hadir ke kompetisi yang diikuti Junhong-ku."

"Aku suka tipe orang yang menjaga kesehatannya, Hyung, maaf."

"Yak !" Seruan Youngjae bercampur tawa Junhong menggema memenuhi ruangan yang didominasi warna biru tersebut.


Yongguk tersenyum ramah kepada beberapa suster yang berpapasan dengannya sejak ia keluar lift, ia membaca ulang pesan yang Daehyun kirimkan padanya lima menit lalu, dan kembali menyusuri lorong-lorong rumah sakit tersebut, sesuai isi pesan Daehyun padanya. Mereka semua berjanji akan menginap di apartemen mungil Youngjae malam ini, tapi tiba-tiba saja Daehyun menghubunginya, dan meminta Yongguk untuk menemuinya terlebih dulu disini.

Dari kejauhan, Yongguk bisa melihat Daehyun yang duduk di salah satu kursi aluminium khas rumah sakit, sambil memegang sekaleng jus jeruk di tangan kanannya.

"Yo~ Daehyun-ah."

Daehyun menoleh, dan tersenyum ke arah Yongguk, yang segera duduk disebelahnya, "Ini aku belikan kopi."

Yongguk menerima kopi kalengan itu, membuka tutupnya dan segera meminumnya, lalu menoleh kembali ke arah Daehyun yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. "So, Whatsap ?"

"Tadi siang, aku memutuskan untuk mengambil sample darah Youngjae, dan karena aku masih dokter magang disini, jadi aku tidak bisa memeriksanya sendiri. Aku baru saja menyerahkan sample darah itu ke sunbaeku, dan lusa hasilnya baru keluar."

"Jadi, apa yang membuatmu khawatir ?" Tanya Yongguk berkonsentrasi penuh pada mimik muka Daehyun yang mengeras, meski dongsaengnya tersebut lebih memilih menatap sepatunya.

"Meskipun masih dokter magang, aku ini tetap dokter, hyung. Meskipun masih ada beberapa bulan sampai aku resmi menjadi dokter, aku ini tetap bisa mendiagnosa pasien, hyung."

Yongguk hanya diam. Membiarkan Daehyun mengeluarkan apa yang ingin ia keluarkan. Semenjak tadi subuh. Semenjak Daehyun memutuskan telponnya begitu saja saat ia bilang Youngjae pingsan dan mimisan. Semenjak ia melihat Daehyun di ambang pintu apartemen Youngjae dengan raut wajah panik luar biasa. Semenjak ia menyaksikan Daehyun memeriksa Youngjae sedetail mungkin, dan kemudian menungguinya sampai pagi. Yongguk tahu ada kecemasan besar yang Daehyun simpan dalam hatinya.

"Gejala yang ditunjukkan Youngjae, mengarah pada—"

"Gejala ? Gejala apa ?"

"Dalam dua bulan terakhir ini, ini bukan pertama kalinya Youngjae demam hyung. Kau ingat, terakhir kita kumpul berenam di cafe Jongup ? Youngjae datang dengan wajah pucat dan mengeluh pusing."

"Tentu saja ingat, aku yang mengantarkan kalian berdua ke apartemennya."

"Lalu, beberapa minggu setelahnya, ia sempat menelponku dan memintaku memberinya resep obat flu. Selain itu, Junhong pernah memberitahuku bahwa , Youngjae sempat mengeluh gusinya berdarah. Dan selera makannya, juga menurun hyung. Jongup bilang, Youngjae tidak lagi mampir ke cafenya untuk membeli bagel buat sarapan, tadi juga Youngjae tidak menghabiskan bubur yang dibuatkan Jongup—"

"Semalam dia juga tidak menghabiskan nasi goreng kimchi yang kubawa, Himchan sampai memaksanya ribuan kali, tapi Youngjae bilang ia kenyang."

"Aku tidak tahu, apa kau memperhatikannya, tapi ada lebam di lengan kanan-kiri Youngjae, juga di area jarum infus yang kupasang—"

"Maaf memotongmu lagi, Daehyun-ah. Tapi semalam aku menepuk pundaknya pelan dan ia meringis, saat kubuka, ada lebam di kulit Youngjae, dan saat aku dan Himchan bertanya, Youngjae tidak tahu apa yang terjadi padanya."

Daehyun menggenggam kaleng jusnya erat, timpalan-timpalan Yongguk terasa seperti tambahan beban pada pikirannya, "Dia juga bilang, kepalanya terasa sangat sakit, tulang-tulangnya terasa pegal. Dan, tadi Youngjae juga mimisan lagi, hyung."

Yang sekolah kedokteran itu Daehyun, yang mengerti arah pembicaraan ini kemana itu Daehyun, tapi mendengar bisikan lirih yang Daehyun utarakan barusan, tiba-tiba saja Yongguk merasa tak nyaman, merasa ingin memeluk Daehyun untuk menguatkan tapi juga ingin dipeluk untuk dikuatkan.

"Just—tell me.."

"AML."

"Huh ?"

"Acute Myeloid Leukemia."

TBC.

Makasih untuk yang udah RnR, it means a lot to me! Hehe, untuk yang nanya masalah pairing, mungkin di chapter-chapter selanjutnya nanti ada, tapi karena ceritanya lebih ke Youngjae-centric, jadi sekarang aku fokusin kesitu dulu, dan berusaha bikin semua moment ada dan rata, sekali lagi makasih!

RnR, please ?