Disclaimer : Naruto respectively belongs to Masashi Kishimoto.

Rating : M, supaya aman saja...

Pairing : SasuNaru, one-sided SasuIno

Warning : Yaoi. AU. Angst

Wanita berambut pink itu menatap Sasuke dan Kakashi secara bergantian, "Kemungkinan besar anti-virusnya terdapat di DNA Diable, karena itu…" Sakura menghela nafas dalam, "Bawakan aku darah Diable,"


Bloodthirst.

2nd piece: Time Limit

by: Arialieur


Sasuke berdiri di balkon sambil memegang segelas cocktail. Angin malam meniup lembut rambutnya, membawa wangi tanah basah. Ya, malam ini sedang hujan gerimis di Lyon, di mana bintang-bintang bersembunyi di balik awan gelap, dan bulan, yang meskipun tidak sedang purnama tapi seharusnya masih bersinar cukup terang, tidak terlihat sama sekali.

Pria itu menyapukan pandangannya ke taman besar yang terlihat dari balkon. Parc de la Tête d'Or, taman kota terbesar di Prancis. Di siang hari, taman ini begitu cantik, dengan danau besar yang terlihat berkilauan di musim panas, di mana pengunjung dapat berperahu bersama. Sasuke sendiri samar-samar ingat pernah berperahu di tempat itu bersama Itachi, dahulu saat keduanya masih anak-anak dan hanya tahu bermain saja.

Ketika Diable belum ditemukan.

Sedangkan saat ini, di malam hari, tak seorang pun berani berada di taman itu. Bagaimana tidak? Dengan ancaman adanya vampire di setiap sudut, tidak ada orang waras yang bersedia berada di luar malam-malam, kecuali para petugas Bloodshield yang sedang patroli dan interpol, yang kalau dilihat dari gedungnya yang masih menyala terang, masih bekerja di jam-jam selarut ini. Sejak munculnya ancaman Diable, bisa dibilang kehidupan malam di Prancis –tidak, di seluruh dunia, lumpuh total.

'Diable.'

Minum seteguk dari gelas cocktailnya, Sasuke kembali menghirup udara malam Lyon. Sakura mengajukan permintaan yang cukup berat.

'Darah Diable', Sasuke tersenyum sendiri, sebuah senyuman pesimis. Bagaimana bisa mendapatkan darahnya kalau keberadaannya saja tidak bisa dilacak? Kalaupun bisa ditemukan, melihat kekuatannya yang luar biasa itu, bagaimana bisa melukainya? Terakhir kali Diable terluka, itu lima tahun yang lalu di tangan Itachi. Sebuah luka yang menurut Kakashi pasti akan berbekas, luka sayatan di pinggul kiri sepanjang 20 cm. Lalu bagaimana mencarinya? Apa Bloodshield harus memeriksa penduduk Prancis satu per satu sampai menemukan orang dengan bekas luka seperti itu? Bisa-bisa penduduk Paris sudah mati setengahnya sebelum metode itu selesai.

"Itu berbahaya, tahu," suara Naruto terdengar dari belakang Sasuke. Sang Inspektur hanya memandangnya penuh tanya, membuat si pemuda berambut pirang bangkit dari posisi terlentangnya di tempat tidur. Ia menunjuk ke arah pintu balkon yang terbuka.

"Berada di udara terbuka malam-malam begini. Bisa-bisa vampire masuk dan menyerangmu," kata Naruto lagi, membuat Sasuke tersenyum kecil dan menutup pintu balkon sebelum masuk ke kamar.

"Terima kasih telah mengingatkanku, Naruto,"

Ya, mereka berdua telah sepakat untuk saling memanggil dengan nama depan saja sejak tadi sore, saat Sasuke kembali menemui Naruto dan Ino di rumah sakit. Keduanya tinggal di sana saat Sasuke pergi ke Laboratory Jean Marieux, menemani Shizune membuat laporan medis tentang insiden TGV kemarin. Dan sepulangnya dari rumah sakit, ketiganya menuju ke hotel untuk beristirahat. Naruto agak ragu untuk ikut, sebenarnya, karena ia tidak ikut membayar kamar, tapi Sasuke berhasil meyakinkan pemuda itu untuk berbagi kamar dengannya, mengatakan bahwa ada atau tidaknya Naruto, Sasuke tetap harus membayar jumlah yang sama untuk kamar hotelnya.

Mendengar ucapan terima kasih Sasuke, Naruto tersenyum malu-malu, membuat Sasuke harus menahan diri untuk tidak mengacak rambut pemuda itu sekali lagi.

"E-eh, sama-sama, Sa-Sasuke," balas Naruto. Sasuke menyadari dari nada suaranya bahwa Naruto harus belajar membiasakan diri untuk memanggil Sasuke dengan 'Sasuke' saja. Tapi mereka masih punya banyak waktu untuk itu.

Pria berambut hitam itu berjalan menuju coffee table untuk meletakkan gelas cocktailnya, tapi berhenti saat melihat begitu banyak makanan di atas meja. "Apa ini, Naruto?" ia bertanya, sedikit terkejut.

Pemuda bermata biru itu langsung berdiri dari posisi duduknya di pinggir tempat tidur dan mendekati coffee table yang dimaksud Sasuke. Dengan bersemangat, ia mulai menjelaskan,

"Lyon kan terkenal dengan makanannya, jadi kupikir sayang sekali kalau kita sudah di sini dan tidak mencicipi sama sekali. Karena kita tidak mungkin pergi ke luar malam-malam begini, jadi aku memesannya lewat room service. Ini..." Naruto menunjuk salah satu makanan, "Saucisson de Lyon, andouillete, dan ini..." pemuda itu menunjuk salah satu makanan yang terlihat sedikit mencurigakan bagi Sasuke, "...gras double, yaitu babat yang dimasak dengan bawang. Lalu itu..." kali ini Naruto menunjuk pada semangkuk salad, "...salade lyonnaise, salad berisi selada, bacon, croutons, dan telur rebus. Aku yang traktir," jelasnya, lalu kembali menatap Sasuke dengan pandangan puas.

Sasuke diam sejenak, itu adalah jumlah makanan yang SANGAT banyak. "Oke, jadi...siapa yang akan makan semua ini?" tanya sang inspektur.

Naruto mengedipkan mata. Sekali. Dua kali. "Umm...kita?" ia bertanya dengan nada ragu, lalu cepat-cepat menambahkan, "Kalau tidak mungkin habis kita bisa mengajak Ino?"

Sasuke menarik tangan Naruto untuk duduk di salah satu dari sepasang kursi di samping coffee table itu, lalu duduk di kursi satunya. "Tidak perlu, ayo kita makan," kata Sasuke sebelum menusuk salah satu sosis dengan garpu. Sudah cukup ia berhadapan dengan tatapan mabuk cinta Ino di siang hari, ia tidak mau repot-repot berurusan dengan tatapan itu di malam hari saat ia ingin beristirahat.

Acara makan malam kecil mereka berlangsung menyenangkan. Naruto terbukti sebagai teman yang enak diajak bicara bagi Sasuke. Di luar dugaan, walaupun ia masih muda dan hanya seorang office boy di Bloodshield Paris, pemuda berambut pirang itu memiliki pengetahuan yang luas, terutama di bidang sejarah Prancis. Naruto mengaku, sejak kecil ia senang membaca buku sejarah, dan Sasuke menawarkan untuk memberikan beberapa bukunya sebagai hadiah untuk Naruto. Pemuda itu tidak menolak, malah ia terlihat senang, membuat Sasuke tersenyum sendiri melihat semangat pemuda itu.

Mereka berdua sedang asyik bicara ketika ponsel Sasuke berbunyi. Ia melihat identitas penelepon, nomor tak dikenal. Pria berambut hitam itu mengerutkan dahi, tapi kemudian berjalan menjauh dari Naruto untuk menerima telepon. Sang pemuda berambut pirang hanya memandangi punggung Sasuke dengan penuh rasa ingin tahu.

"Halo?"

Suara yang menjawab di seberang sana adalah suara yang sangat Sasuke kenal. Suara yang mengingatkannya pada masa kecil yang indah, pada keluarga yang bahagia. Suara yang sudah lima tahun tidak didengarnya.

"Sasuke,"

Mata sang inspektur membelalak mendengarnya. Tenggorokan Sasuke tercekat, dengan susah payah ia mengeluarkan suara,

"Itachi?"


"Itachi...menghubungiku..."

Kakashi, Ino, dan Sakura serentak menghentikan gerakan mereka. Saat ini mereka berempat –berlima dengan Naruto, tapi pemuda itu sedang membeli chestnut bakar sejak lima menit lalu dan belum kembali—sedang makan siang bersama di salah satu restoran terbuka. Kontras dengan hujan semalam, siang ini cuaca di Lyon cukup cerah, salah satu alasan mengapa mereka memilih makan di restoran terbuka.

Kakashi yang pertama kali bereaksi, "Ia menemuimu?" dalam nada suaranya tersirat rasa tidak percaya. Wajar, seharusnya Itachi sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, kehilangan ingatannya tentang teman dan keluarga sebelum ia menjadi vampire.

Sasuke menggeleng,"Semalam ia menelepon. Aku sendiri tidak tahu darimana ia mendapat nomorku,"

Sakura meletakkan garpu dan pisau yang ia pegang. Mendadak beef cordon bleu di hadapannya kehilangan daya tarik. "Apa yang ia katakan?" tanya wanita itu. Ino hanya diam sambil menatap Sasuke lekat-lekat, mencoba membaca perasaan pria itu.

Pria berambut hitam itu bersandar di kursinya sambil menghela nafas, "Itachi mengajak bertemu, tiga malam lagi di Arc de Triomphe. Hanya kami berdua,"

Ino terdiam. Tidak ada jaminan bahwa Itachi masih Itachi yang mereka kenal. Bagaimana kalau ini jebakan dari Diable? Di insiden TGV kemarin, Diable secara tidak langsung menegaskan kalau ia sedang mengincar Sasuke. Bisa saja ini salah satu permainan kejam Diable, menggunakan Itachi untuk menjatuhkan Sasuke. Lagipula, sudah menjadi pengetahuan umum kalau manusia yang tergigit, hanya menuruti perintah Diable.

"Kau sadar kan, Sasuke, kalau ini sangat berbahaya?" tanya Kakashi, matanya bertatapan langsung dengan mata Sasuke, dan pria berambut hitam itu hanya tersenyum pahit.

"Ya, Kakashi. Tapi aku tidak akan melewatkan kesempatan ini,"

Ketiga orang lain di meja itu hanya menghela nafas, mereka cukup mengenal Sasuke untuk mengetahui tabiatnya, jadi tak seorang pun terkejut akan keputusan sang inspektur. Lagipula Sasuke benar, ini adalah kesempatan langka untuk bisa menjalin kontak dengan Itachi dan lebih dekat dengan kebenaran mengenai Diable.

"Kalau begitu, aku ikut ke Paris," lagi, tak seorang pun terkejut dengan pernyataan Kakashi, "...tapi kau harus tetap di sini, Sakura. Penelitianmu lebih penting dari apapun," lanjut pria berambut putih itu, diikuti dengan tawa tertahan dari Ino.

Sakura menyilangkan tangan di dada, "Hmph, iya aku tahu, kau jadi bisa menguasai Sasuke untukmu sendiri kan?" sungutnya.

Ino langsung panik, "E-eh! Bukan, anu..." berulangkali mata biru Ino melirik ke arah Sasuke, tapi pandangan pria itu tertuju ke arah lain, di belakang Kakashi. Wanita berambut pirang itu mengerutkan dahi, sebelum mengikuti arah pandangan Sasuke. Sepertinya Kakashi juga menyadari hal ini, karena ia langsung menengok ke belakang.

Di seberang jalan, Naruto sedang berbincang dengan seseorang, yang kemudian menyerahkan sesuatu ke tangan pemuda berambut pirang itu. Orang itu mengenakan coat hitam panjang, sangat ganjil jika digunakan di udara secerah ini. Rambut merahnya berkilat diterpa sinar matahari, sedangkan kulitnya yang pucat terlihat merona.

Naruto sepertinya menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, dan langsung menengok ke arah Sasuke untuk melambaikan tangan. Ia tidak melihat pria di belakangnya menyeringai ke arah Sasuke. Naruto juga tidak menyadari perubahan air muka Sasuke dan Kakashi saat angin menyibakkan poni si rambut merah, menunjukkan sebuah tato yang sangat familiar.

Gaara.

"Naruto! Menyingkir dari sana!" teriak Sasuke sambil bergegas menghampiri Naruto. Ia dapat melihat Gaara menelusuri leher Naruto dengan jarinya, dan menghilang seketika saat Naruto berbalik.

Terengah-engah, Sasuke memegang kedua bahu Naruto erat-erat, membuat pemuda malang itu semakin kebingungan.

"Sasuke, ada ap-"

"Apa yang dia lakukan padamu?" potong Sasuke. Tanpa buang waktu, ia mengecek bagian-bagian tubuh Naruto yang tidak tertutup pakaian, "...ia tidak mencakarmu kan? Menggigitmu?"

Naruto tertawa kecil, "Sasuke, kau ini konyol sekali. Mana ada vampire keluar siang hari begini, dan tidak, dia tidak menggigit dan mencakarku," ujarnya geli, melepaskan diri dari tangan Sasuke. "...malah, ia menitipkan sesuatu untukmu," lanjutnya, sambil mengulurkan sesuatu ke tangan Sasuke.

Sebuah pendant perak berbentuk salib, dengan ruby di tengah-tengahnya. Salib itu sepertinya sudah sangat tua, kalau ditilik dari model dan warnanya yang menghitam. Di bagian pinggirnya tertulis, Fuyez un ennemi qui sait votre défaut.

"Fear the enemy that knows your weakness," gumam Sasuke, mengikuti bacaan itu.

"Hmm? Maksudnya, musuh sudah mengetahui kelemahanmu?" komentar Naruto polos, tanpa menyadari efek perkataannya pada Sasuke.

"Kelemahanku? Itachi?"

Dengan mata penuh tekad, Sasuke meraih tangan Naruto dalam genggamannya. "Ayo kembali ke Paris, hari ini juga,"

...bloodthirst...

Tidak sampai sehari kemudian, Sasuke, Ino dan Naruto sudah kembali ke pekerjaan masing-masing. Sasuke cukup bersyukur, karena selama ia ke Lyon, tidak ada kasus yang berarti. Hanya ada satu kasus penyerangan, dan vampirenya berhasil dibunuh oleh petugas Bloodshield. Wajar saja, karena Diable, -- sang sumber masalah -- mengikuti Sasuke ke Lyon.

Satu hal yang membuat Sasuke khawatir adalah karena ia tidak dapat mengetahui keberadaan Kiba. Menurut keterangan Naruto, terakhir kali mereka bertemu adalah di kantor, saat Kiba muncul dalam keadaan flu berat, membuat Naruto menawarkan diri untuk menggantikannya ke Lyon. Sasuke berencana untuk datang ke apartemennya besok, karena telepon genggam pecinta anjing itu selalu gagal dihubungi.

Entah kenapa, ada perasaan tidak enak menyelimuti hati sang inspektur. Seolah sesuatu terjadi pada Kiba.

Ia tidak menyangka bahwa firasat buruknya itu tepat.


Eiffel Tower, menara yang sering digunakan sebagai simbol Paris dirancang pleh Gustave Eiffel, dan dibangun pada tahun 1887-1889. Menara ini merupakan menara tertinggi di Paris. Menjulang setinggi 324 meter di atas tanah, menara dengan struktur baja itu pernah menjadi kebanggaan Prancis sebagai monumen yang paling banyak dikunjungi wisatawan di dunia. Pernah, adalah kata kuncinya. Masa-masa itu kini tinggal kenangan manis di sudut pikiran setiap penduduk Paris.

"Pendant itu kan kesayanganmu..." kata Gaara, menghampiri Diable yang sedang duduk di salah satu struktur besi yang melintang di bagian atas observation room di Eiffel. Sang raja vampire mengacuhkannya, dan memilih untuk memandangi langit dengan wajah masam.

"Aku benci kalau langit mendung. Bulan jadi tidak kelihatan," gerutu Diable, membuat Gaara memutar bola matanya, lalu memilih untuk balas mengacuhkan Diable.

"Kau benar-benar menyayangi Uchiha, ya, sampai pendant yang sudah bersamamu seribu tahun terakhir pun diberikan padanya, Your Highness," ujar Gaara sedikit sinis. Seribu tahun bersama Diable, dan vampire itu masih sulit untuk ditebak kemauannya.

Diable terkekeh mendengar perkataan Gaara, "Apa kau sadar yang baru kau katakan itu? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau makhluk terkutuk seperti kita ini tidak lagi merasakan cinta ataupun kasih sayang?"

"Hanya rasa haus darah..."

"Benar, Gaara, hanya rasa haus darah." Diable terkekeh lagi, "Benar-benar cocok bagi orang yang menggadaikan jiwanya pada iblis seperti kita. Mungkin harusnya mereka tidak menyebutku Diable, tapi dengan nama asliku. Aku jelas-jelas bukanlah iblis, hanya seseorang yang membuat kontrak dengannya,"

Gaara duduk di samping Diable, menyandarkan kepala di bahu rajanya itu. "Mereka tidak tahu nama aslimu, Your Highness,"

Diable memajukan bibirnya, "Kau juga tidak pernah memanggil nama asliku,"

Kali ini giliran Gaara yang tertawa, "Untuk apa? Memangnya seribu tahun terakhir ini kau pernah menggunakan nama aslimu? Lagipula nama kita sudah seharusnya terlupakan, karena kita telah membuang diri kita yang lama, seribu tahun lalu,"

"Kalau begitu berhentilah memanggilku Your Highness. Kau bukan lagi pengawal pribadiku, Gaara,"

Mendengar itu, Gaara mengalihkan pandangannya ke kejauhan, berusaha melihat sungai Seine lebih jelas, tapi gagal karena pandangannya tertutup hujan gerimis yang tiba-tiba turun.

"Memang bukan, tapi aku telah bersumpah untuk mengikutimu sampai akhir, Diable. Jadi, kenapa kau memberikan pendant itu pada Uchiha Sasuke?"

Diable menyeringai ke arah Gaara, dan kalau ada saat-saat di mana Gaara sedikit takut terhadap Diable, itu adalah saat-saat seperti ini, di mana matanya berkilat penuh kesenangan, yang berarti ia sedang merencanakan sesuatu. "Sebagai bayaran, karena aku mengambil sesuatu miliknya..."

Rambut putih sebahu Diable melambai tertiup angin saat ia berdiri, lalu membungkuk untuk melihat ke bawah. "...ya kan, Kiba?" ia bertanya pada seorang pria yang digantung terbalik hanya dengan seutas tali. Kedua tangan dan kakinya terikat, sedangkan mulutnya disumpal dengan segumpal kain. Dari luka gigitan di lehernya, darah mengalir perlahan ke wajah pria itu, untuk kemudian terjatuh tiga ratus meter ke bawah.

"Kiba?" Diable memanggil lagi. Tidak ada jawaban, tentu saja.

"Sepertinya kau mengisap darahnya terlalu banyak," komentar Gaara, ia berjalan di salah satu baja yang menjulang vertikal, turun sampai ia selevel dengan Kiba. Vampire berambut merah itu memperhatikan mayat Kiba dari bawah sampai ke atas, menyadari bahwa darah pria itu dihisap sampai hampir habis.

"Ah, maaf kalau begitu. Sepertinya aku batal menjadikannya anakku,"

Mendengar nada penuh kepalsuan itu, Gaara hanya tersenyum sinis, ia tahu sejak awal Diable memang berniat membunuh petugas Bloodshield itu. "Tidak perlu berpura-pura di depanku, Diable," katanya, sambil terus berjalan secara vertikal ke bawah, meninggalkan Diable sendiri di atas.

"Eeh? Mau kemana, Gaara?" tanya Diable, sambil berkacak pinggang.

Gaara hanya melambaikan tangan tanpa berbalik, "Ada sedikit urusan,"

"Jangan lupa tugasmu ya, Gaara!" teriak Diable. Gaara hanya terus berjalan menjauh.


Suara ketukan di pintu. Sekali, dua kali, dan Sasuke bergegas mengambil senjatanya sebelum menuju pintu depan. Matahari baru saja tenggelam, dan walaupun belum malam, tapi langit sudah mulai gelap. Hampir tidak ada orang yang mau keluar jam segini, karena itu Sasuke sangat terkejut mendapati sosok Naruto tersenyum lebar di teras rumahnya.

"Naruto?"

"Uhm, seharusnya aku mengantarkan berkas ini tadi siang, tapi, karena ada urusan, jadi...uhm... kupikir ini penting, uh..."

Sasuke menarik pemuda itu masuk ke dalam rumah, "Dasar bodoh! Kau pikir ini jam berapa? Sangat riskan berada di luar!" bentaknya, membuat Naruto menundukkan kepala dalam-dalam.

"Maaf..." pemuda itu bergumam dengan mata berkaca-kaca.

Melihat ekspresi Naruto, mau tidak mau kemarahan Sasuke perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh sedikit rasa bersalah karena telah membentak pemuda itu. Dengan frustasi, sang inspektur mengacak rambutnya sendiri, sebelum akhirnya menghela nafas.

"Sudahlah, aku juga minta maaf karena terlalu berlebihan. Malam ini kau jangan pulang ya, menginap saja di sini. Hari sudah gelap, berbahaya bagimu jika keluar rumah," kata Sasuke sambil menuntun Naruto untuk duduk di sofa. Pemuda berambut pirang itu hanya mengangguk, sebelum kembali menunduk.

"Naruto?"

"..."

"Hei, Naruto. Aku tidak marah padamu kok,"

Naruto mengangkat wajahnya, "Sungguh?" ia bertanya. Sasuke menahan diri untuk tersenyum, ekspresi Naruto saat ini terlalu manis.

Sasuke mengangguk, "Sungguh. Nah, sekarang, kau mau minum apa? Teh atau susu? DI rak sebelah sana ada buku sejarah yang waktu itu kuceritakan, kau bebas membacanya. Lalu..."

Sang pemuda berambut pirang hanya mengedip saja mendengar ucapan Sasuke. Ini pertama kalinya ia mendengar Sasuke berbicara sepanjang ini –kecuali saat sedang menganalisis kasus, tentunya. Naruto tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, memandang punggung Sasuke yang semakin menjauh. Kemungkinan ke dapur untuk mengambil teh atau susu.

...bloodthirst...

"Sudah selesai?" Sasuke bertanya sambil menjulurkan kepalanya dari balik pintu. Naruto sedang berganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur di kamar. Menghormati pemuda tersebut, sang inspektur memilih untuk menunggu di luar.

Malu-malu, Naruto menarik-narik ujung bagian bawah kaus yang dikenakannya. Kaus milik Sasuke yang ia pinjam berukuran terlalu besar, sehingga mencapai pertengahan paha. Bagian kerahnya terlalu besar sehingga terus merosot di pundaknya. Sasuke, secara pribadi, berpikir kalau Naruto sangat, sangat, sangat manis mengenakan kausnya. Dan ia tidak keberatan kalau kausnya terus dipinjam oleh Naruto.

"Kau cocok dengan kaus itu," komentar Sasuke, memunculkan semburat merah di wajah sang office boy.

"U-uuh... kau menggodaku," protes Naruto sambil memajukan bibirnya. Apanya yang cocok? Pahanya terlalu terbuka, bagian kerahnya terlalu besar. Ada juga ia terlihat konyol dengan kaus ini.

"Aku sungguh-sungguh," kata Sasuke sambil menyeringai, lalu maju untuk mengatupkan sebelah telapak tangannya di pipi Naruto. Jempol sang inspektur membelai lembut pipi pemuda itu, membuatnya memejamkan mata. "Kau sangat cocok mengenakannya, sangat manis,"

Naruto menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. Sasuke tertawa kecil, "Tidurlah, Naruto. Kalau butuh apa-apa, aku di ruang kerja. Ada berkas yang harus kuperiksa,"

Sekali lagi, Sasuke mengacak rambut Naruto sebelum keluar dari kamar, meninggalkan pemuda itu berdiri sendirian di tengah kamar. Pandangannya masih terus tertunduk ke lantai.

Berapa jam telah berlalu sejak ia meninggalkan Naruto di kamar, Sasuke tidak yakin. Yang ia tahu, pundak dan lehernya terasa sangat kaku, kemungkinan akibat terlalu lama di depan komputer, membaca salinan berkas tentang penyerangan vampire di Paris selama ia pergi. Serangan terakhir terjadi di Orsay, daerah tempat Kiba tinggal. Korban bernama Michaelangelo Loconte, seorang penyanyi yang cukup ternama, ditemukan mati kehabisan darah di apartemennya.

'Kenapa Kiba tidak melaporkannya padaku secara langsung? Apa flunya separah itu?'

Sebuah suara teriakan yang melengking membuyarkan lamunan Sasuke. Suara yang berasal dari kamar di atas, tempat Naruto tidur. Suara teriakan itu tidak salah lagi merupakan suara teriakan Naruto.

Secepat kilat, Sasuke meraih senjatanya sebelum berlari menaiki tangga untuk menuju kamar atas. Ia mencoba membuka pintu kamar Naruto, tapi gagal karena terkunci. Tanpa pikir panjang Sasuke menendang pintu itu keras-keras, sampai daun pintu terlepas dari engselnya dan terjatuh, menimbulkan bunyi berdebam yang menggema di seluruh ruangan.

Dan di tengah ruangan ia melihatnya.

Melihat Gaara berlutut di lantai, taring terbenam dalam di leher Naruto. Air mata mengalir deras dari sepasang mata biru itu, sedangkan tubuhnya gemetar.

Rasa sakit. Mereka bilang, saat darahmu dihisap oleh vampire, seluruh tubuhmu merasakan sakit yang luar biasa.

"Gaara!!"

Mendadak Sasuke menjadi gelap mata, ia melepaskan tiga tembakan ke arah Gaara. Ketiganya berhasil dihindari oleh vampire berambut merah tersebut. Tanpa perasaan, Gaara melompat ke samping sambil melempar tubuh lemas Naruto ke lantai. Ia berdiri di samping jendela, menyeringai ke arah Sasuke, memamerkan sepasang gigi taring panjang yang berselimut darah.

"Diable kirim salam untukmu," kata sang vampire, sebelum melompat ke luar jendela dan membaur dalam kegelapan malam. Sasuke tidak mengejar, sebaliknya, kaki sang inspektur seolah terpaku di tempat. Dalam jangka waktu tiga hari, ia sudah bertemu dengan Gaara dua kali. Ini artinya, Diable benar-benar sedang mengincar Sasuke. Dan yang lebih membuatnya resah, kali ini Diable melibatkan Naruto. Orang yang bahkan belum lama ia kenal.

"Uuhh..." suara erangan Naruto membuat Sasuke memaksa kakinya untuk bergerak. Segera dihampirinya pemuda itu, lalu ia tarik ke dalam pelukannya. Darah mengalir deras dari luka di leher Naruto, sedangkan mata birunya masih basah oleh air mata. Tidak perlu cek ultraviolet untuk mengetahui bahwa Naruto sudah terinfeksi Vampire Poison.

"Sa...suke..."

"Ssshh...jangan bicara, aku akan mengambil kotak obat untuk membalut lukamu," Sasuke membaringkan Naruto di atas tempat tidur, sebelum hendak pergi mengambil kotak obat di ruangan lain. Gerakannya terhenti saat Naruto mempererat pelukannya di leher Sasuke.

"Jangan...tinggalkan aku,"

"Ssh...aku hanya mau mengambil perban..."

"Tidak...jangan," suara Naruto semakin lemas, tapi ia tidak melonggarkan pelukannya. Tidak punya pilihan lain, Sasuke ikut berbaring di samping Naruto dengan kedua lengannya masih memeluk erat tubuh pemuda itu. Darah menodai selimut dan pakaiannya, tapi ia tidak peduli.

"Sasuke... aku akan mati?"

Tubuh sang inspektur menegang. Ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang mengancam untuk keluar. "Tidak..." jawabnya dengan suara parau, setengah berbisik, "Kau tidak akan mati..."

"Tapi... dalam dua minggu aku akan dieksekusi,"

"Tidak kalau aku tidak melaporkanmu,"

Nafas Naruto tercekat, "Bagaimana kalau aku berubah jadi vampire? Aku tidak ingin membahayakan orang lain, Sasuke!" pemuda itu kembali terisak. Ia tidak ingin mati, itu jelas. Tapi ia juga tidak ingin membunuh orang lain.

Sekali lagi, Sasuke mempererat pelukannya. Ini salahnya, harusnya ia tahu dengan pekerjaan semacam ini, ia tidak boleh berhubungan terlalu dekat dengan orang lain. Sekarang, semuanya sudah terlambat.

"Aku akan mencari cara... untuk menyembuhkanmu..."

"Sasu-"

"Ssh... sekarang istirahatlah. Jangan berpikir macam-macam dulu. Tidurlah, Naruto..."

Pemuda berambut pirang itu menelan isakan terakhirnya, dan berusaha menenangkan diri dalam pelukan hangat Sasuke. Sesekali, ia bisa merasakan jemari Sasuke menyisiri rambutnya dengan lembut. Dalam waktu singkat, Naruto sudah memejamkan matanya, tidur lelap.

Sasuke memandangi pemuda itu dengan tatapan campur aduk. Kalau mau menyelamatkan Naruto, waktunya kurang dari satu bulan. Satu bulan sebelum Naruto kehilangan insting manusianya. Satu bulan untuk mendapatkan darah Diable.

Ini pertama kalinya Sasuke mengucapkan janji yang ia sendiri pun tidak yakin mampu memenuhinya.

.

.

.

TBC


Mudah-mudahan masih pada ingat sama fic yang ini...

Review?