Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto and W Juliet © Emura
Summary : Uzumaki Naruto adalah seorang remaja 16 tahun yang memiliki mimpi menjadi pemain drama profesional. Ia rela melakukan apa saja demi cita-citanya itu. Tapi Sang Ayah tidak merestuinya. Untuk mendapatkan restu ayahnya itu, Naruto harus menjalankan satu syarat…
Rate : T
A/N : Shounen Ai. Gaje. OOC. AU. OC (maybe in next chap). Remake. Don't like don't review. ^^
-
Terimakasih banyak untuk yang sudah mereview di chapter satu…u.u Kenapa bisa fic ini shounen ai? X3 bagi yang belum membaca versi pertama, semoga kalian bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan itu di chapter ini. *grin*
*dilempar kardus karena sok misterius*
-
Thank's to Nae Rossi
-
_Chiba Asuka's Present_
_Hana To Yume_
_Beta-Ed by FBSN_
-
_Chapter 2_
"Oh, malam, Uchiha. Aku ti—"
Sebelum Naruto sempat menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. Sasuke memejamkan matanya, melebur ke dalam ciuman itu, tak menyangka kalau bibir Naruto lebih lembut daripada kelihatannya…
Dan Sasuke merasakan tusukan di rusuknya, membuatnya mengakhiri ciuman singkat itu. "Apa yang kau lakukan?" sembur Naruto marah.
"Itu," Sasuke menatap ke kedalaman mata Naruto, mengeluarkan semua aura charming yang dimilikinya, "adalah apa yang kurasakan padamu."
Plok. Plok. Plok.
Terdengar suara tepukan Kurenai dan semua orang lain di audit, yang membuat Sasuke kembali ke tampang stoic-nya, kembali ke dunia nyata. Naruto langsung menjauh dari Sasuke, mengambil naskahnya yang masih tergeletak di samping Kurenai. Wajahnya sumringah seakan baru saja memenangkan Academy Awards.
"Wow…" kata Kurenai takjub, ekspresinya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ekspresi perempuan lain di ruangan ini. Hanya dia satu-satunya perempuan yang puas dengan ciuman pura-pura barusan. Sementara cewek lain tampaknya sudah akan menjemput ajalnya, kecuali Naruto yang masih berdiri di samping Kurenai dengan tampang childish-nya membuat Sasuke bertanya pada dirinya sendiri, kemana sosok gadis dewasa yang barusan diciumnya?
"Wow…" kata Kurenai lagi, bangkit berdiri dan memegang kedua bahu Naruto dengan tampang yang mengingatkan Sasuke akan tampang Kakashi ketika memandang cewek pirang itu pagi ini. "Kau benar-benar berbakat, Naruto! Dan timing kalian berdua sangat pas! Aku belum pernah lihat orang yang baru kenal sehari langsung punya chemistry yang kuat begitu," pujinya bangga. "Tentu saja kau akan dapat peran psikiater itu…ya, ya, ya… peran itu benar-benar cocok untukmu."
Naruto tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, Sensei."
"Eh?" potong Sakura dengan suara melengking yang memecahkan gendang telinga Sasuke. Sasuke benci suara cewek yang seperti itu, untungnya walaupun suara Naruto cempreng, paling tidak suaranya tidak seperti cewek kebanyakan…
Sasuke nyaris mencekik dirinya sendiri ketika menyadari dia berpikiran begitu. Untungnya suara Naruto tidak seperti cewek kebanyakan? Ya ampun…pikiran bodoh macam apa itu…
"Lalu bagaimana dengan peranku, Sensei? Aku ingin jadi love interest Sasuke-kun!" protes Sakura histeris, tak percaya posisinya sebagai satu-satunya cewek yang layak mendampingi Sasuke dalam tiap lakon langsung tergantikan dalam beberapa menit saja.
Kurenai menggeleng. "Kau jadi sekretarisnya saja, Sakura. Kau kan sudah sering main bareng Sasuke. Berikan kesempatan pada anggota baru kita untuk berpasangan dengan Prince Charming-nya Konoha Gakuen dong…"
Sakura hendak membantah lagi, tapi Kurenai mendelik padanya. "Tidak ada protes-protes lagi, sekarang semuanya latihan!" serunya, agar semua orang bisa mendengar. Sakura terpaksa mengalah. Ia berjalan dengan kesal ke arah Ino yang sudah menunggunya di sisi lain audit, dan ketika mereka sudah dekat, bisik-bisik yang menyusul pasti tentang Naruto.
"Nah, Sasuke, kau antar Naruto melihat-lihat ruang klub ya," pinta Kurenai. "Kau kan ketuanya."
Sasuke benci kalau Kurenai sudah mengeluarkan kalimat terakhirnya itu. "Tapi, Sensei, bukannya saya dan Uzumaki harus ikut latihan dengan—"
Kurenai mengibaskan tangannya, menghentikan omongan Sasuke. "Aku masih mau mengecek peran yang lain dulu, latihan sebenarnya besok saja, lagipula aku mau kalian mengakrabkan diri," tambah Kurenai dengan senyum yang membuat perasaan Sasuke tidak enak. "Masa kalian masih saling memanggil dengan nama belakang begitu padahal kalian satu kelas dan duduk sebelahan?"
Sasuke tidak berkomentar.
"Eh, Sensei, tapi aku pengennya melihat-lihat ruang klub bersama Hinata-chan…" Naruto-lah yang protes kali ini.
Kurenai menoleh ke arah Naruto. "Hinata orang penting di bagian dekorasi, Naruto. Aku membutuhkannya di sini. Yang nganggur cuma Sasuke."
Naruto merengut, tapi berkata, "Baiklah." Kurenai tersenyum dan langsung membalikkan badannya, berteriak kepada pemain-pemain lain agar bersiap.
"Ayo," ajak Sasuke, dingin seperti biasanya. Ia berjalan keluar dari audit dengan kedua tangan berada di saku celananya. Naruto mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan dalam diam. Sekali lagi, Sasuke merasa kalau cewek ini benar-benar aneh. Ia tahu Naruto hiperaktif, selalu banyak omong dan tidak bisa diam… kenapa sih sikapnya berubah saat berada di dekat cowok? Adalah pertanyaan yang seharian ini menggantung di benak Sasuke.
"Kau punya pacar?" tanya Sasuke akhirnya, rasa ingin tahunya menang. Daripada dia tidak bisa tidur semalaman?
Naruto menoleh ke arahnya dan menyeringai mengejek. "Apakah itu akan berujung pada pernyataan cintamu, Uchiha?" pancingnya.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya dan mendengus. Cewek ini terlalu percaya diri, jangan harap aku melakukan itu. "Apa kau tidak belajar sopan santun, Dobe? Jawab dulu pertanyaan yang diajukan padamu."
Mata biru Naruto menyipit berbahaya. "Kau panggil aku apa, Teme?" tanyanya, penuh penekanan.
"Bukan urusanmu aku mau memanggilmu dengan sebutan apa, Dobe."
Naruto menggeram kesal. Sesaat Sasuke sempat mengira kalau itu adalah suara geraman cowok, membuatnya menoleh memandang Naruto yang masih mencibir menatapnya. Sasuke memutuskan itu hanya halusinasinya saja.
"Brengsek kau," umpat Naruto jengkel.
"Jadi, kau punya pacar?" Sasuke terpaksa mengulangi dengan enggan.
"Tidak," jawab Naruto ketus.
"Apa ada cowok yang kau sukai?" tanya Sasuke lagi.
Naruto mendengus geli dan menatap Sasuke tak percaya. "Apa kau gila? Tentu saja tidak."
Tentu saja tidak. Hm… Sasuke menimbang jawaban itu. "Kau menyukai Hinata?"
Naruto mengetuk-etukkan jari telunjuknya ke dagunya. "Dia cewek baik dan manis," jawab Naruto ambigu.
Sasuke mengernyit. Pemahaman menyapu otaknya, jelas sudah orientasi cewek ini. Seandainya saja semua cewek baru yang masuk Konoha Gakuen seperti dia. Penggemar fanatiknya tidak akan bertambah banyak dari tahun ke tahun dan dia pastinya bisa hidup lebih tenang.
"Ini ruang klub kita," kata Sasuke saat mereka memasuki sebuah ruangan yang ukurannya sama besar dengan ruang kelas, dengan meja panjang di tengah ruangan dengan barang-barang terserak di atasnya, rak-rak berisi kardus-kardus penuh kostum, dan loker-loker milik anggota klub yang berjajar di sepanjang dinding ruangan. Sasuke melirik Naruto yang tersenyum senang. Heran, kenapa bisa dia sebegitu cintanya dengan drama? Apa ucapannya waktu perkenalan kepada anggota klub yang tadi itu serius? Ia ingin menekuni drama sampai sebegitunya?
Naruto berjalan ke arah rak berisi kostum dan melihat-lihat isinya. "Berapa lama kau jadi ketua, Teme?" tanyanya sambil mengangkat gaun ala abad pertengahan Inggris dari sebuah kardus.
Tak menyangka gadis itu akan mempertahankan sapaan 'Teme'-nya untuk Sasuke. Tidak lebih bagus daripada memanggilnya dengan sebutan 'Uchiha'. Sasuke berdiri bersender pada salah satu loker dan menunduk menatap lantai. Baginya, secantik apapun Naruto, tetap saja cewek itu bukan pemandangan yang menarik. Seandainya dia menyadari betapa langit biru yang dikaguminya di luar sana itu semuanya terangkum dalam mata biru Naruto.
"Baru sejak awal semester ini," jawab Sasuke singkat, karena dia memang tidak banyak bicara.
Naruto meletakkan gaun yang dipegangnya sambil mencibir, ia sekarang berjalan pelan mengelilingi ruangan, meneliti setiap pernak-pernik yang ada. "Kenapa juga Yuuhi-sensei bisa memilih orang sepertimu untuk jadi ketua… sok cool, songong lagi!"
Sasuke mendongak dari lantainya, tersinggung dengan perkataan cewek itu. Baru kali ini ada cewek yang mengatainya songong secara terang-terangan, kalau cowok sih, jangan ditanya, hampir semua. "Bukan urusanmu, Dobe," kata Sasuke ketus. "Kau tidak tahu kehebatanku di atas panggung."
Naruto berhenti melangkah dan menoleh ke arah Sasuke dengan seringai mencemooh di wajah cantiknya. "Kita akan lihat nanti," ucapnya dengan nada menantang. Sasuke tahu kalau kemampuan gadis ini juga tidak 'biasa saja'. Ia sudah lihat kemampuan akting Naruto beberapa saat yang lalu, ia begitu total, dan ia yakin kalau di naskah tertulis Naruto harus menyembelihnya dengan gergaji mesin setelah ia menciumnya, Naruto pasti akan melakukannya tanpa berpikir panjang. Dan alasan kedua yang membuat Sasuke yakin gadis ini luar biasa adalah, ciumannya tadi. Ya, ia tadinya sempat mengira kalau Naruto, seperti cewek kebanyakan, akan langsung berbunga-bunga dan jadi tak terkendali dan meminta lebih dan hal-hal menjijikkan lainnya. Tapi ternyata tidak dengan Naruto. Ia tetap santai, seolah ciuman tadi tak lebih dari sekedar jabatan tangan.
"Jadi, Teme, lokerku yang mana?" tanya Naruto akhirnya, celingukan ke sana ke mari. Sasuke menjauh dari loker yang sedari tadi dijadikannya tempat bersandar, beralih ke kusen pintu setelah sebelumnya mengedik ke loker itu tanpa kata-kata, menunjukkan kalau loker itu adalah loker yang dicari Naruto.
Naruto cemberut. "Kau ini memang menyebalkan," keluhnya. "Apa sih salahnya bicara lebih panjang dari selusin kata? Bicara nggak akan membuatmu mati cepat."
"Hn," tanggap Sasuke stoic.
Naruto memutar bola matanya sambil berjalan ke arah lokernya yang baru. "Aku heran kenapa cewek-cewek di luar sana itu," ia mengucapkannya dengan nada sinis yang sangat kentara, "bisa menyukai cowok autis sepertimu. Oke, aku tahu kau memang sedikit cakep, tapi kalau kau tahu…" Naruto mendadak terdiam dan menggelembungkan pipinya, ekspresinya seolah kesal dengan dirinya sendiri. Sasuke mengernyit menatap perubahan ekspresi yang begitu mendadak itu. "Ah, sudahlah lupakan," tambah Naruto sambil mengibaskan tangannya sambil lalu. Ia menutup lokernya dan berlari-lari kecil hendak keluar dari ruang klub, ketika insiden itu terjadi.
Untungnya refleks Sasuke yang bagus, karena menguasai tiga cabang olah raga bela diri, dapat membuatnya bertindak tepat waktu. Entah bagaimana, Naruto tersandung kakinya sendiri atau ceceran properti di lantai. Intinya dia terpeleset dan kehilangan keseimbangan. Sasuke, yang memiliki prinsip laki-laki gentleman tak boleh membiarkan seorang cewek jatuh begitu saja di depannya, bergerak maju dengan cepat untuk menangkap tubuh Naruto. Tapi rupanya itu belum cukup cepat. Sasuke tidak sempat menyambar tubuhnya, melainkan hanya kerah kemejanya, yang refleks, ditariknya sekuat tenaga.
ZRETT!!
Suara itu membuat Uchiha Sasuke membelalakkan matanya. Karena tenaganya yang terlampau kuat, bukannya menolong Naruto, ia malah merobek hampir seluruh kain bagian depan seragam cewek itu, sementara yang ingin ditolongnya malah sudah jatuh berdebam ke lantai. Ekspresi Naruto tak kalah kaget dengan Sasuke, begitu menyadari seragamnya robek, ia buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos gila-gilaan.
Tapi tetap saja semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Sasuke sudah melihat semuanya.
Sasuke berdiri membeku di hadapan Naruto, dengan robekan kain di tangan kanannya. Naruto masih jatuh terduduk di lantai, meringis takut-takut sambil memejamkan kedua matanya, sama sekali tidak berani memandang mata Sasuke. Kedua tangan gadis itu masih menyilang di depan dada.
"Kau…" Sasuke nyaris kehilangan kata-kata. "Kau… cowok?" tanyanya kaget luar biasa.
Naruto membuka sebelah matanya perlahan, memandang Sasuke takut-takut sambil menggigiti bibir bawahnya. "Er… bisa tolong tutup pintunya?"
Jawaban yang tidak nyambung. Tapi toh Sasuke tetap menutup pintunya juga. Naruto sudah mendudukkan diri di salah satu kursi begitu Sasuke membalikkan badannya lagi. Kedua tangannya mencengkram rambutnya dan ia menunduk, kelihatan jelas dia frustasi. Ribuan pertanyaan berkelebat dalam benak Sasuke. Akhirnya ia memutuskan untuk mendudukan diri di hadapan Naruto.
Naruto yang tahu Sasuke sudah duduk di depannya masih tetap bergeming, mengutuk dirinya sendiri. Ia sudah tidak melindungi tubuhnya lagi sekarang, percuma. Sasuke memandang Naruto dari seberang meja, ia sempat berharap yang dilihatnya tadi hanya halusinasi, tapi ternyata bukan. Dada bidang berkulit tan itu tak mungkin dada seorang cewek tulen. Sasuke mulai mengolah teori-teori yang seharian ini didapatnya di otaknya, dan semuanya tampak masuk akal. Tinggi badannya yang tidak biasa… caranya berbicara dengan cewek-cewek di kelas Sasuke yang sekarang bagi cowok emo itu lebih tampak seperti rayuan… kenapa Naruto sama sekali tidak menunjukkan rasa ketertarikan padanya… Hinata… dan hal-hal lainnya.
Terdengar suara Naruto menghela napas panjang, disertai gerakannya menarik ujung rambut pirang panjangnya. Rambut indah itu terlepas dari kepala Naruto, memperlihatkan rambut pirang pendek yang berantakan. Naruto meletakkan rambut palsunya di atas meja dan menghela napas putus asa lagi. Sekarang, setelah Sasuke hanya melihat tubuh bagian atas Naruto yang tanpa rok dan bertelanjang dada, ia yakin sepenuhnya kalau teman sebangkunya ini cowok.
"Kenapa?" tanya Sasuke akhirnya, memecah keheningan.
Naruto mencibir. Seketika itu juga ingatan Sasuke melayang ke adegan yang mereka perankan tadi. Dewa Jashin, aku mencium cowok…
"Terlalu rumit," gumam Naruto putus asa. Ia mencengkram rambut pirang pendeknya dan mengerang frustasi, kelihatan jelas kalau dia marah pada dirinya sendiri.
"Coba saja," desak Sasuke. Ia tak tahu kenapa ia begitu penasaran. Mulai sejak berwujud cewek sampai sekarang, Naruto selalu membangkitkan rasa ingin tahunya. Naruto yang berisik ternyata lebih misterius dari yang semua orang duga.
Naruto mendongak kesal, menatap Sasuke seolah-olah Sasuke baru saja menghancurkan hidupnya.
"Kau ada kelainan?" tanya Sasuke lagi.
Naruto membelalak ngeri. "Enak saja!" protesnya marah. "Aku ini cowok normal tahu!"
Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai ganti kata tanya.
Naruto meniup poni pirangnya, membuat rambutnya semakin berantakan. "Yah… jadi begini… Aku satu-satunya cowok di keluarga…"
"Kau menyamar jadi cewek karena kau terlalu lama bergaul dengan cewek?" potong Sasuke seenaknya.
Naruto melempar Sasuke dengan topeng phantom yang tergeletak di atas meja, tapi Sasuke berhasil menghindar. "Jangan menyela seenaknya! Biarkan aku selesai, Teme!" amuknya.
"Teruskan," kata Sasuke kalem.
Naruto menghela napas dan melanjutkan. "Rumahku adalah dojo yang dikelola ayahku. Dan dia bermaksud mewariskan dojo itu kepadaku, yang merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarga, agar kelak aku bisa mengelolanya," ia menarik napas sebelum berkata lagi, "Tapi itu bertolak belakang dengan keinginanku. Sejak kecil, aku bercita-cita menjadi aktor profesional, bukan mengelola dojo. Ayahku tentu saja tak bisa menerimanya. Ia tetap ngotot, sebagai laki-laki aku harus meneruskan garis keluarga dan ia juga menganggap cita-citaku adalah sampah. Setelah berseteru selama hampir setahun, akhirnya ayahku memutuskan untuk menyetujui apa yang kuinginkan…" tangan Naruto mengepal di atas meja. "Tapi dengan satu syarat…"
-flashback-
Naruto menatap ayahnya dengan berang. Ia nyaris membanting meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan ayahnya. Sementara ayahnya malah dengan tenang menyeruput teh hijau yang tersedia di hadapannya.
"Kalau kau menginginkan persetujuanku untuk menjadi aktor, kau harus memenuhi persyaratan yang kuajukan," katanya dengan nada mengejek yang kentara sekali terdengar. Naruto mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia harus bisa menahan emosi. Mungkin ini satu-satunya cara agar dia bisa menjadi aktor dengan mudah, dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. "Sebutkan syaratnya," kata Naruto geram.
Ayahnya meletakkan cawan tehnya kembali di atas meja. "Habiskan masa SMA-mu sebagai seorang perempuan. Jika kau bisa melakukannya, aku akan memberimu kebebasan untuk melakukan apapun yang kau mau. Seorang aktor seharusnya bisa melakukannya. Aku yakin syarat ini mudah untukmu."
Naruto terhenyak. Menyamar menjadi perempuan selama SMA??
"Sebagai seorang aktor, itu bukan hal sulit kan?" tanya ayahnya dengan seringai mengejek. "Tapi," ayahnya melanjutkan dengan tegas. "Kalau ada orang yang tahu mengenai penyamaranmu, kau harus pulang dan mengelola dojo ini."
-end of flashback-
Naruto menghela napas lagi begitu ia selesai bercerita. Ia menopang kepalanya dengan tangan kanannya, dan memainkan rambut palsunya yang tergeletak di atas meja. "Ayahku yang brengsek itu menggunakan kekuasaannya untuk memindahkanku dari SMA lamaku di Suna ke sekolah ini sebagai cewek. Ini baru hari pertamaku, dan aku sudah ketahuan olehmu. Payah!" gerutunya sebal, memukul-mukul pelan rambut palsunya.
Sasuke terdiam, walaupun ia tidak punya mimpi yang ingin diraihnya seperti Naruto, ia tetap merasa bersalah juga karena telah menggagalkan cita-cita terbesar cewek itu, eh, maksudnya cowok itu, eh… ah, masa bodoh dengan gendernya sekarang.
Naruto meniup poninya lagi. "Huh, apa yang harus kulakukan sekarang? Gengsi dong kalau harus kembali ke rumah dan ketemu orang tua belagu itu…"
Sasuke bangkit dari kursinya dan mengambil kemeja cadangannya yang selalu ia tinggal di dalam loker klubnya. Ia melemparkan kemeja itu ke kepala Naruto.
"Teme! Ka—" umpatan kaget Naruto terpotong saat tahu apa yang ada di tangannya. Ia memandang Sasuke penuh tanya. Yang dipandang malah berdiri di ambang jendela sambil menatap langit. Sok melankolis seperti biasa.
"Pakai itu dulu," kata Sasuke singkat. Kalau omongan kena pajak, mungkin Sasuke-lah yang akan menjadi orang paling irit sedunia.
Naruto membentangkan kemeja putih di tangannya. Kelihatannya ukurannya dan ukuran Sasuke tidak jauh berbeda. Cowok pirang itu melepas kemejanya yang sudah tidak berbentuk dan mengenakan kemeja Sasuke. Sedikit kebesaran, tapi nyaman. "Kau baik juga ternyata…" gumam Naruto sebagai pengganti ucapan terimakasih. Ia kembali memakai rambut palsunya, dan ketika Sasuke menoleh kembali ke arahnya, Naruto sudah berwujud cewek pirang cantik lagi.
"Dan Uzumaki Naruto itu nama aslimu?" tanya Sasuke. Dia tidak heran ketika Naruto menggeleng. "Bukan. Uzumaki itu nama gadis ibuku. Nama asliku Namikaze Naruto," ia menjelaskan. Naruto tak paham kenapa ia mau-maunya membeberkan semua rahasianya begitu saja pada cowok songong yang sudah dianggapnya menyebalkan sejak pertama kali dia melihatnya. Tapi toh rahasianya sudah terbongkar sejak kemejanya robek beberapa menit yang lalu. Semua yang dia katakan hanya keterangan tambahan, bukan rahasia.
Sasuke melangkah ke pintu keluar, tak menanggapi penjelasan Naruto barusan. "Sebaiknya kita kembali. Yuuhi-sensei menunggu."
Naruto masih duduk dengan tampang cengok. "Eh, tapi kan… aku itu…"
"Kau tetap Uzumaki Naruto bagiku," Sasuke menghentikan kalimat terbata-bata dari Naruto tanpa menoleh memandangnya, melainkan terus ngeloyor keluar dari ruangan.
Naruto mencerna ucapan itu, dan senyum lebar terkembang di wajahnya. "Tunggu aku, Teme!" serunya ceria, berlari keluar dari ruangan dan bergegas menyusul Sasuke.
Sasuke tersenyum tipis. Sejak saat itu, Sasuke memutuskan kalau drama akan jadi tujuan hidupnya.
_Tsuzuku_
Uh…uda nggak sabar nulis shounen ai…shounen ai…shounen ai…shounen ai…shounen ai…=3=
Nae itu emang uke baek ya….dia rela membeta keseluruhan seri ini…u.u
Mind to review? ^^
