NARUTO by MASASHI KISHIMOTO

KERUSAKAN HIDUP REMAJA DINI by DIAMONDLIGHT96

WARNING : Don't Like Don't Read!

Setting : Indonesia

RATE : T

NARUSAKU


Chapter 2 : Pernikahan

Dipingit. Biasanya setiap gadis akan merasa melayang, terbang, jantung deg-degan dan tidak karuan pada saat dipingit. Setiap diantar makanan ke dalam rumah, akan menanyakan kabar keadaan diluar dan calon suami. Saat jendela terbuka, akan melihat melalui celah-celah, deg-degan, menunggu kedatangan sang calon suami. Calon pendamping hidup untuk selamanya.

Biasanya ketika ditanya oleh orang lain, maka calon pengantin akan menjawabnya dengan muka merah semu dan jantung yang berdetak tidak beraturan. Mengutarakan bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka jatuh cinta, hingga bagaimana mereka bisa mencapai kesepakatan kedua belah pihak untuk menikah. Setelah itu, orang-orang akan bersorak, membuatnya menjadi lelucon, dengan kata lain, memojokan sang calon pengantin hingga mereka tak berkutik lagi. Menjadi bahan ejekan yang menyenangkan.

Tidak jauh berbeda dengan pasangan Naruto dan Sakura. Hanya ada 'sedikit' perbedaan bila mereka merentangkan lebih jauh. Sedikit?

Setelah kejadian di rumah keluarga Haruno itu, entah kenapa berita kotor NaruSaku menyebar di sekolah. Dalang utamanya adalah seorang 'siswa' yang disebut-sebut Tsunade, namun Tsunade tidak ingin membeberkan siapa dia walau wartawan SMA Konoha memaksanya.

Hal itu terjadi satu hari setelah kejadian di rumah Haruno terjadi. Foto bagaimana Naruto yang terlihat mabuk dibawa ke depan rumah Sakura pada malam sebelumnya, yang jelas-jelas Naruto tidak mabuk, hanya foto membuktikan saat itu dia mabuk. Setelah satu foto mati itu, terdapat tulisan yang sangat besar dan memenuhi mading dengan ukuran 2 x 1,5 meter.

HOTTEST NEWS!

KETUA UMUM DAN KETUA 1 OSIS

UZUMAKI NARUTO DAN HARUNO SAKURA

TELAH MENGALAMI MALAM MENYENANGKAN DI RUMAH KETUA 1 OSIS

Hal itu terjadi ketika mereka pulang dari kencan. Salah satu wartawan kami hendak mewawancarai mereka, namun, mereka selalu terlihat sibuk. Hingga akhirnya mereka mendapatkan percakapan, Ketua 1 OSIS mengundang Ketua Umum OSIS untuk menginap di rumahnya. Apakah terjadi sesuatu? Saat itu, wartawan kami langsung pergi begitu saja karena hari sudah malam. Namun, esok harinya dia mulai mengintai rumah Ketua 1 OSIS, mendapati Ketua UMUM OSIS masih berada di dalam kamarnya dengan baju yang dia pakai kemarin. Kemudian, Kepala Sekolah datang dan kami belum sempat mencari informasi, apa yang dilakukan mereka di dalam. Mungkinkah mereka telah mengalami malam menyenangkan? Tunggu jawabannya!

Semua jajaran OSIS dan sahabat Naruto dan Sakura menjadi gempar. Habislah mereka menjadi bahan guyonan dan gebrakan di Sekolah. Mereka berusaha menghubungi dua sejoli ini, namun tidak ada jawaban. Hingga akhirnya mereka memaksa masuk ke rumah keluarga Haruno dengan dalih ingin menjenguk dan bla... bla... bla... beruntung disana ada Sasuke yang jago berargumen dan mematahkan segala alasan orangtuanya untuk memisahkan mereka dari Sakura. Mereka pun berlari ke dalam kamar Sakura, karena Sakura tidak diperbolehkan untuk keluar kamar. Mereka tidak tahu kenapa, karena orangtua Sakura tidak mengatakan apapun termasuk masalah Sakura sedang dipingit.

"Sakura, kau benar-benar telah melakukannya dengan Naruto?" tanya salah seorang sahabat Sakura yang bermata biru cerah dengan rambut kuningnya yang menjuntai. Sakura mengangguk kemudian tertunduk lesu. Dia teringat kata-kata Naruto saat mereka bertemu untuk terakhir kali. Saat mereka diberi waktu untuk berbicara berdua saja di kamar Sakura sedangkan kedua belah pihak dan kepala sekolah sedang berbicara di ruang tamu. 'Jangan katakan apapun pada mereka tentang preman-preman itu. Katakan saja, kau melakukannya denganku. Kurasa itu akan lebih menyenangkan untuk didengar, terutama untukmu.' Satu hal yang Sakura baru sadar, dimanapun dan kapanpun, Naruto selalu tersenyum untuknya.

"Kupikir ciuman pun kalian tidak pernah. Aku sedikit tidak percaya," Sasuke berkata ketus membuat Sakura makin menundukan kepalanya. Merasa malu dan bersalah. Setelah itu, semua orang di ruangan itu kecuali Sakura dan Sasuke memberi tatapan tajam pada Sasuke. Tatapan menyalahkan. "Apa? Tch, kenyataannya memang begitu," Sasuke berusaha mempertahankan argumennya. Mereka semua memang merasa seperti Sasuke, namun mereka menepisnya dan lebih condong berpikir ke CINTA BISA MELAKUKAN SEGALANYA.

.

.

.

.

Sekolah menjadi lebih gempar sekarang. Foto Naruto dan Sakura di dalam kamar Sakura yang sedang berpelukan di pagi hari ketika malam harinya terjadi hal mengenaskan itu menyebar dari ponsel satu ke ponsel lain. Sahabat dan jajaran OSIS langsung kalang kabut. Dalam seminggu, mereka habis dilecehkan. Beberapa bahkan sampai berujung pada perkelahian. Kepala sekolah pun turun tangan, melerai, kemudian memberi sangsi.

Setelah seminggu aksi pelecehan itu, Naruto dan Sakura pun masuk sekolah kembali. Mereka berjalan seperti babi. Tak memandang ke depan, hanya memandang ke bawah. Menghindari tatapan orang-orang dan menutup telinga mereka rapat-rapat. Banyak waktu mereka habiskan hanya di kelas dan di ruang OSIS. Tidak seperti hari-hari biasa, ke kantin, taman sekolah, lapangan basket-menonton naruto main basket, dll. Pandangan menjijikan bertebaran di sekitar mereka.

.

.

.

.

"Hey HARUNO! Dasar menjijikan, kamu kan yang menggoda Naruto?" bentak seorang siswi kelas 3 pada Sakura yang sedang berjalan sendirian menuju toilet sekolah. Hari itu matahari bersinar tertutupi awan, rasa ingin buang air kecilnya tak tertahankan, jadilah dia keluar sendirian menuju toilet yang sudah dijaga oleh anak kelas 3.

"Menjijikan, menjerumuskan NARUTO yang masih polos!" serunya lagi. Kemudian salah satu dari mereka mengambil seember air selokan yang masih banjir karena sampah yang memadat akibat hujan kemarin sore dan menyiramkannya pada Sakura. Mengurung Sakura di dalam toilet. Menyiramnya dari atas toilet yang bercelah dindingnya. 3 ember cukup membuat Sakura mengigil dan bau menyergapi seluruh area dekat toilet tersebut.

Sakura tak bisa kabur, dia hanya berusaha menghidar dalam petak toilet yang sempit itu. Tomat dan telur busuk berhamburan, bubur tanah menyapu rambut pinknya. Cacing, kecoa, dan segala yang menjijikan dilempar kesana. Salah seorang siswa yang hobi memelihara ular, Orochimaru, melepaskan semua ularnya yang berjumlah sepuluh ekor ke atas kepala Sakura. Ada yang kecil, ada yang besar. Sakura yang takut pada ular segera menjerit keras. Membuat beberapa orang berdatangan. Termasuk Naruto,dan kawan-kawan.

Sakura menggedor-gedor pintu toilet, namun tak ada yang mau membukanya. Sudah terlanjur dikunci dari luar dan kuncinya entah disembunyikan siapa. Yang pasti orang-orang diluar sana hanya mampu mematung atau menyaksikan sambil tertawa-tawa.

Beberapa ular ada yang meleor keluar toilet Sakura, namun Orochimaru segera memasukannya kembali. Suara Sakura semakin menjerit memilukan, tertelan suara tawa. Tiba-tiba, Naruto mendorong orang-orang diluar sana, sudah seperti bukan Naruto. Amarahnya memuncak, kemudian menatap mereka semua. "Siapa yang menyembunyikan kuncinya? Katakan! Cepat berikan padaku!" seru Naruto dengan tegas dan keras. Lebih menakutkan dari amukan Tsunade ataupun death glare Sasuke. Tidak ada yang bersuara ataupun bergerak disana. namun, satu orang dari mereka yang diketahui bernama Kabuto, melemparkan kunci tersebut ke dalam kloset toilet di sebelah toilet Sakura. Di dalam kloset tersebut terdapat kotoran manusia atau entah kotoran apa, mungkin kotoran hewan yang mirip kotoran manusia? "Kau ingin kuncinya? Ambil sana!" seru kabuto dengan senyum sinisnya. Keadaan makin hening.

Naruto diam seribu bahasa, menatap Kabuto dengan maut, kemudian tanpa pikir panjang beranjak ke toilet tersebut. Dia ingin menyiram dulu kotorannya, takut kuncinya terbawa air. Akhirnya dia mengambil kunci tersebut tanpa rasa jijik, mencucinya dengan air bersih, kemudian membukakan pintu untuk Sakura. Dia melihat Sakura yang acak-acakan. Beberapa gigitan ular tercetak jelas di sekujur tubuhnya.

Naruto menarik Sakura kemudian mendekapnya hangat. "Na-Naruto..." Sakura menangis sambil memanggil nama Naruto. Naruto makin mengeratkan pelukannya. Kemudian dia merasakan sesuatu bergerak di dalam baju Sakura. Ular itu masuk ke dalam tubuh Sakura. Dengan segera, Naruto menyandarkan Sakura di dinding di sebelahnya, tangannya mengodok baju Sakura karena tidak mungkin dia membuka bajunya di hadapan umum. Lantas mengambil ular tersebut dengan sekali tarikan. Setelah itu, dia melihat tubuh Sakura yang menggigil. "PANGGIL AMBULANS!" seru Naruto. Namun, tak ada yang melakukan aksi apapun. Terlena dengan aksi Naruto di hadapan mereka.

Naruto menatap geram, kemudian mulai menggendong Sakura ala bridal style, lalu berlari. Dia pikir, mengangkut Sakura seperti ini justru lebih cepat daripada harus menunggu ambulans. Toh Rumah Sakit Umum Daerah berada tepat di sebrang sekolah mereka.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Sakura boleh pulang setelah opname selama satu malam dan selama itu pula Naruto terus menungguinya. Kedua orangtua Sakura dan Naruto sedang pergi ke kampung halaman mereka, berhubung mereka akan menikah, maka keluarga besar pun harus tahu. Bukan hanya itu, biaya rumah sakit pun Naruto yang membayar.

Berkat kejadian pada hari itu, mereka kembali tak masuk sekolah.

.

.

.

,

Beberapa hari setelah Sakura pulang dari Rumah Sakit, akad nikah diadakan. Tidak ada resepsi, karena keluarga besar pun enggan datang. Jadilah yang hadir hanya keluarga kedua belah pihak dan sahabat Naruto dan Sakura. Semacam Sasuke, Hinata, Ino, Neji,dll.

Setelah menikah, Naruto dan Sakura tinggal di rumah Naruto sedangkan orangtua Naruto berlibur ke kampung halaman hendak menenangkan diri. Keduanya belum makan sama sekali dari pagi hari. Karena tak ada pesta di pernikahan mereka. Naruto yang baru saja tertidur selama sepuluh menit di kasurnya pun berinisiatif untuk memasakkan makanan untuk mereka. Sakura masih tidur di sebelahnya.

Namun, sebelum Naruto beranjak, dia memandang Sakura sekilas. Setelah itu, dia tersenyum dan membelai kepala Sakura kemudian pergi ke dapurnya.

Tak ada apapun di dalam rumah, dan Naruto tak bisa memasak. Akhirnya, dia pergi keluar rumah. Kakinya membawanya ke sebuah warung, kemudian dia membeli mie goreng dan telur. Setelah itu dia pun pulang kembali ke rumahnya.

Di rumah, dia langsung masuk ke dapurnya, lalu memasak masakan yang dia bisa. Satu-satunya yang dia bisa setelah memasak air dan mie. Membuat pizza mie telor. Walau berusaha seperti apapun, tetap saja, masakannya hangus dan gelap.

Naruto tidak menyadari, sejak tadi Sakura memandangnya dari sela-sela pintu dapur dan tersenyum. Dia terbangun karena suara berisik dan aroma dari pasakan Naruto. Tanpa menunggu lama, Sakura pun masuk ke dapur ketika Naruto baru saja tersenyum puas saat masakannya tersaji di meja makan. Dia terkejut melihat Sakura datang.

"Sakura?" Naruto menyebutkan nama itu dengan spontan. Lalu dia menggiring Sakura untuk duduk di kursinya. Setelah itu, dia mengambilkan dua piring, garpu, dan pisau. Setelah itu dia menuangkan saus ke dua tempat saus dan disimpan di samping piring. Terakhir dia mengambil dua gelas berisi air putih, kemudian duduk.

Sakura memakan masakan Naruto. "Enak," ucap Sakura. Naruto terdiam. "Yang benar? Kupikir ini hangus?" Naruto pun mencoba masakannya sendiri. "Oh, enak!" ujarnya. Sakura tersenyum lalu melanjutkan makan. Saat itu, mereka makan dalam diam.

.

.

.

.

Malam hari, Sakura melihat Naruto tengah duduk di meja belajarnya sambil mengetik sesuatu pada laptopnya lalu mengeprint beberapa lembar kertas. Terus seperti itu dan terlihat sibuk. Sakura yang melihatnya tak berani mengganggu dan sibuk melamun sambil tiduran di atas kasur Naruto dengan memakai kaos dan celana Naruto yang tanpa lengan dan pendek.

Beberapa lama kemudian, Naruto meregangkan tubuhnya lalu mematikan laptopnya. Setelah itu membawa seluruh kertas tersebut dan membacanya sambil duduk di kasur. Sakura yang merasa penasaran langsung menginterogasi Naruto.

"Naru, apa itu?" tanya Sakura masih bersembunyi di bawah selimut mereka yang tebal. Naruto tersenyum, kemudian meminta Sakura untuk menghadapnya. "Ini, mau baca?" Naruto pun memberikan beberapa kertas di tangannya pada Sakura.

"Surat lamaran pekerjaan? Proposal pengajuan anggaran bisnis kecil-kecilan?" ujar Sakura dengan nada bertanya. Naruto mengangguk. "Untuk masa depan kita. Aku yakin Tsunade itu akan mengeluarkan kita. Dan aku ingin memastikan keluarga kita dan... ehm... anak kita kelak tidak akan sengsara," Naruto berkata sambil malu-malu. Sakura tersenyum lalu mengambil kertas di lengan Naruto, orang yang dia cintai, menyimpannya di meja kecil di samping kasur. Kemudian memeluk lehernya. Membenamkan kepalanya di leher Naruto. "Kau jahat, menuduhku menggodamu waktu itu," gumam Sakura. Naruto terdiam mematung, tubuhnya menggelitik merasakan hembusan nafas Sakura di lehernya. "Kau tahu? Aku sekarang halal untukmu, aku adalah hakmu, kau adalah kewajibanku," Sakura berbicara dengan nada yang menggoda. Ini benar-benar membuat perut Naruto bergejolak dan tegang. Dia tidak pernah sedekat ini dengan Sakura. Kemudian, Sakura mengeluarkan lidahnya, menjilat leher Naruto. Naruto mengerang, kemudian dia mulai melepas Sakura dari dekapannya. Dia menatap Sakura dengan intens.

"Sakura, ibuku bilang, ciuman adalah awal dari segalanya, maafkan aku, Sakura," Naruto mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Sakura hingga ke bawahnya. Malam itu, adalah malam yang manis... semanis madu untuk mereka. Bulan menjadi saksi bisu untuk mereka. Malam itu, adalah bulan madu mereka.

.

.

.

.

TBC

.

Review? My Lightly :)