Yep, aku lanjutin lagi deh nih cerita. Maaf ya, kalau kurang sesuai dan... *dibekep perban sama Sasuke dkk* haha kayaknya aku terlalu banyak ceramah, *digebukin readers* iya iya deh, aduh aku langsung jawab review ya...!! Yoyoyo..!! ^O^

Uchiha Ry-chan : Wehehe makasih Ry-chan...!! ^^ Cup cup, jangan nangis aku kasih permen nih *ditabok* ng, ini udah cepet belum updatenya? Gomen, kalo masih lama *ditendang* hehe mau DeiSaku? Ok ok aja, aku coba bikinin ya tapi gak tahu kapan *lho? –dilindas truk* soalnya SasuSakuDei ini kan request dari Badboy Sheva, thanks ya dah review..!!

Chiwe-SasuSaku : Masa' sih? Hehe jadi malu *digolok* sebenarnya ini juga request dari Badboy-senpai juga, pairingnya harus SasuSaku? Waduh, belum kepikir endingnya nih *digolok lagi* iya, hehe tiba-tiba lewat aja pikiran Sasuke jadi inspektur, kayaknya keren hohoho *Sasuke Sweatdrop* thanks dah review ya..!!

Raiko Azawa : Yup, Deidara juga pembunuh bayaran, tapi gak begitu ahli kayak Sakura. Tujuan sebenarnya Deidara jadi pembunuh bayaran cuma untuk melindungi Sakura. Thanks ya dah review..!! ^^

Aku kakasaku fans : Wah, gak terlalu parah kok Cuma jadi pembantu doang *itu parah tahuuu..!! –kena shannaro Sakura* kalo mau senpai review fic aku yang rating m judulnya 'Are You Ready?' tapi pairingnya SasuSaku, mau ya? Mau ya? *mulut dibekep perban* thanks dah review ya senpai..!!

Badboy Sheva : Senpaiii…!! *menangis ala Guy dan Lee* *digampar XP* iya betul, Saku dan Dei jadi pembunuh dan Sasu jadi polisinya. Kalau jadi SasuSaku kayaknya agak ribet nih, tapi belum tahu juga kan gimana jadinya? Baca terus ya senpai..!! Oh ya, maaf kalo masih agak bingung di chapter sebelumnya, semoga di chapter ini gak bingung lagi hehe, thanks dah review yaa..!!

Dei-kun coolz : Wah sorry kalo ternyata gak sesuai sama keinginan senpai hehe *mulut dibekep perban* thanks ya dah review..!!

Hanaruppi : Mau DeiSaku? Waduh, susah juga ya tapi kayaknya kalau ini SasuSaku dulu deh hehe peace *digebukin* tapi ini kan masih 'kayaknya' jadi ada kemungkinan DeiSaku, kalo mau DeiSaku yang mantap ntar aku bikinin bareng requestnya Ry-chan gimana? Mau nggak senpai? Thanks ya dah review..!!

Furu-pyon : Iya senpai, udah diupdate kok makasih reviewnya ya..!! ^^

Michishige Asuka : He~ gemes sama Sasu? Kenapa gak aku aja? *digebukin* ok, makasih reviewnya ya senpai..!!

Uchiha Yuki-chan : Wah, maaf kalo gak sesuai kemauan senpai hehehe, tapi kalo boleh dibilang Sasuke lumayan menderita juga lho di sini *digebukin Sasuke Fc* hehehe... Deidara suka Sakura gak yaa..?? Gimana ya, kalau saat ini aku bikin Deidara sayang Sakura dulu sebagai adik, kalo lebih dari itu mungkin bakal muncul seiring berjalannya waktu, baca terus ya senpai....!! Thanks dah review..!!



Disclaimer : Always Masashi Kishimoto...

Genre : Romance/Crime

Pairing : SasuSaku, maybe DeiSaku

I AM DIFFERENT



CHAPTER 2 : UNTUK MELINDUNGI SENPAI...

Sakura's POV

Aku masih tidak percaya siapa yang kulihat meski dengan mata kepalaku sendiri. Bahkan saking terkejutnya, insting untuk berusaha melarikan diri dari polisi langsung lenyap begitu saja. Dan saat kulihat, Deidara-senpai sama terkejutnya denganku, bahkan dia tak bisa menutup rapat mulutnya. Wajar saja kalau kami jadi begini, karena inspektur yang memimpin para polisi ini untuk menangkap kami adalah mantan teman seperjalanan kami...

Sasuke Uchiha...

Dia masih menatap dingin kepada kami. Bagaikan menatap serangga kotor, lama-lama aku tidak tahan lagi. Akupun berteriak sekenanya, yang hanya dibalas dengan tatapan dingin tak berperasaan.

"A.. APA MAKSUD SEMUA INI, SASUKEEE..!?" teriakku tertahan, sedangkan polisi yang menahan tanganku semakin mempererat pegangannya membuatku harus menahan sakit. Melihatku kesakitan, Deidara-senpai berusaha mendekatiku dan menegur polisi yang menahan tanganku itu.

"Hei, jangan sakiti Sakura, un atau-"

"Atau apa, Deidara-senpai?" Sasuke memotong perkataan Deidara-senpai dengan congkaknya. Aku semakin menatap tajam matanya.

"Kau ingin melindungi cewek cengeng itu? Bisa apa kau kalau kau sendiri diborgol menyedihkan seperti itu?" gumam Sasuke lagi, kali ini nadanya agak ditinggikan. Dan aku kaget saat Deidara-senpai mulai berteriak...

"NAMANYA SAKURA HARUNO, SASUKE..!! SAKURA..!! INGAT ITU, HARUS BERAPA KALI AKU MENGATAKANNYA PADAMU, UN..!?" teriaknya dengan geram pada Sasuke. Aku tak pernah melihat Deidara-senpai seperti ini, Sasuke hanya mendengus dan berbalik sama sekali tidak menghargai kami.

"Bawa mereka," katanya lagi. Kali ini, polisi yang menahan kami mendorong keras tubuh kami tak sabaran. Mereka memasukkan kami ke mobil dengan paksa dan mengimpit kami. Aku hanya bisa mendesah pelan, memikirkan apa jadinya nanti.

Dari jendela kecil yang berkawat, aku bisa melihat Sasuke terus melihat ke luar jendela mobil hingga angin bisa meniup rambutnya yang hitam kebiruan mirip pantat ayam itu. Aku terus mengamatinya dalam perasaan tak karuan, jujur dia semakin tampan sekarang. Dan aku jadi ingat terakhir kalinya kami bertemu...

Flashback

"Yeeey, masa' gitu aja gak bisa ngambil sih..!? Hu.. Payah..!!" ejek seorang anak lelaki berumur 10 tahun pada perempuan yang berumur 8 tahun berusaha menjinjit untuk mengambil makanan yang disangkutkan di tangkai pohon. Ya, itu aku dan Sasuke.

"Hiks, Sa.. Sakura laper Sasuke-niichan, tolong ambilin makanannya," rengekku yang masih lemah itu pada Sasuke yang sedang berkacak pinggang di depanku. Ya, karena lemah itu lha, aku selalu diganggu Sasuke dan dilindungi Deidara-senpai.

"Ha? Baru segitu juga, ini sih masih kurang," gumamnya sambil memindahkan makanan itu ke tempat yang lebih tinggi. Akupun menangis sejadi-jadinya.

"Huhuhuhu, hiks, Sasuke-niichan jahaaat..!! Sakura laper..!!" tangisku semakin menjadi, tapi Sasuke tetap tertawa sumringah hingga Deidara-senpai datang.

"Sasuke, un..! Apa lagi yang kau lakukan, uuun..??" geram Deidara-senpai sambil membungkuk dan mengelus kepalaku lembut. Sasuke menyilangkan tangan dan mendengus kesal padaku dan Deidara-senpai.

"Deidara-senpai jangan belain dia terus dong..!! Dia kan jadi keenakan..!!" jawab Sasuke sejadinya. Deidara-senpai menggelengkan kepalanya lalu mengambilkan makanan yang diambil Sasuke tadi dan memberikannya padaku.

"Tentu saja Deidara-senpai belain yang benar dan tertindas dong," jawab Deidara-senpai santai.

"Huh, aku memang selalu salah di mata senpai kan?" jawab Sasuke lagi dengan ketus. Kali ini, Deidara-senpai tertawa dan mengelus kepala Sasuke sampai rambutnya berantakan.

"Tidak juga, un. Tidak ada orang di dunia ini yang selalu salah, un. Sasuke juga pasti bisa berbuat yang benar, un..!!" jawab Deidara-senpai sambil nyengir dengan ciri khasnya. Sasuke yang tadi berwajah ketus kini mulai reda, sedangkan aku yang tadi menangis sudah tersenyum lagi sekarang.

"Oh ya, kalian berbaikan lagi sekarang, un," gumam Deidara-senpai sambil memegang tangan kami berdua. Karena takut dicampakkan, aku menundukkan wajahku, tapi aku kaget begitu melihat tangan yang disodorkan di depan wajahku. Akupun mendongak.

"Gomen, err.."

"Sakura," Deidara-senpai mengingatkan.

"Iya, gomen Sakura," kata Sasuke walau agak memalingkan muka. Saat aku membalas jabatan tangannya, aku sempat melihat wajahnya memerah. Apa perasaanku saja? Entahlah.

"Senpai pergi dulu ya, un. Mau cari makan lagi. Ok, un?" gumam Deidara-senpai sambil pergi dan mengedipkan sebelah mata pada kami. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, sedangkan Sasuke sepertinya tidak tertarik.

"Aku juga mau pergi, deh," kata Sasuke tiba-tiba sambil berbalik.

"Ngg, Sasuke-niichan mau kemana?" tanyaku polos.

"Kenapa? Mau ikut?" tanyanya balik padaku. Awalnya aku bingung, tapi akhirnya aku mengangguk juga. Lalu Sasuke berbalik lagi dan aku mengikutinya.

Tapi baru setengah jalan, tepatnya di depan tempat sampah. Tiba-tiba kami ditahan pria-pria berbadan besar. Aku langsung merinding ketakutan, sedangkan Sasuke langsung berpindah ke depanku seperti akan melindungiku.

"Hmm, sepertinya anak yang berambut pink itu benar-benar anak mantan pengusaha yang kaya raya keluarga Haruno, kalau kita jual pasti bisa mahal ya," gumam salah satunya sambil tersenyum licik, Sasuke mendelik ke arah mereka yang sudah mau mendekatiku.

"Mau apa kalian? Jangan dekati kami..!!" teriak Sasuke, walaupun terlihat berani, aku bisa melihat keringat dingin mengalir di dahinya. Aku semakin memegang erat bahunya, dan mulai menangis.

"KAMUUU..! ANAK KECIL SIALAN..!! BERANI DENGAN KAMI YAA? HAAA..!" saat laki-laki itu hendak memukul Sasuke, tiba-tiba tangannya ada yang menahan saat kami lihat baik-baik ternyata Deidara-senpai..!!

"Jangan ganggu mereka, un..!!" geram senpai sambil memukul balik laki-laki itu. "Sasuke, bawa Sakura ke tempat yang aman, uuun..!!" tambahnya lagi, Sasuke segera menarik tanganku menuju balik gedung.

Tapi dari segi jumlah saja tak adil, bayangkan saja Deidara-senpai yang masih bertubuh kecil itu harus berhadapan 3 laki-laki berotot besar dan menyeramkan. Tak lama kemudian, senpai pun roboh. Sasuke dan aku berlari mendekatinya saat senpai akan dihajar lagi oleh orang-orang itu.

"Nah, nak kalau mau senpai kalian selamat, ikut sama om ya," bujuk salah satu dari mereka padaku. Aku langsung merinding ketakutan, saat itulah tiba-tiba Sasuke berkata.

"Jangan Sakura..!! Om, bawa aku saja...!!"

"Huh, anak gembel yang biasa kayak kamu gak bakal bisa dijual..!! Gak ada untungnya..!!" gerutu yang lainnya.

"Ti.. Tidak..!! Aku tidak begitu mengerti, tapi ayahku pernah bilang kalau aku adalah penerus kekayaan keluarga Uchiha," jawab Sasuke. Aku dan 3 om-om itu tertegun.

Salah satunya berbisik pada yang lain, saat mereka mengangguk semua. Om itu menatap Sasuke sambil tersenyum ramah.

"Kalau gitu, yuk Sasuke ikut kami," katanya sambil tersenyum menyeringai. Sasuke mengangguk tanpa ragu dan berdiri mengikuti om itu dan meninggalkan aku dengan Deidara-senpai.

"Sasuke-niichan mau kemana?? Jangan tinggalin Sakura sama senpai..!!" teriakku sambil akan menangis karena aku memang tidak mengerti. Sasuke ngomong sebentar sama om itu dan kembali padaku.

"Sakura jangan khawatir, aku gak papa kok," jawab Sasuke sambil mengelus kepalaku dan tersenyum, spontan aku memeluknya.

"Sasuke-niichan gak boleh pergi, pokoknya gak boleh..!!" kataku seraya memepererat pelukanku tapi Sasuke melepaskannya lalu berdiri dan melambaikan tangannya padaku.

"Sayonara, Sakura..!!" teriaknya ceria lalu berlari dan masuk ke dalam mobil sedan hitam bersama orang-orang itu.

Setelah itu, aku hanya bisa menangis dan pingsan di atas tubuh senpai. Saat sadar kami sudah ada di rumah sakit terdekat, sejak saat itu aku bertekad untuk berubah dan melindungi semuanya. Ya, aku harus melindungi semuanyaaa...!! Aku mesti berbeda dari yang dulu..!!

End of Flashback

Tapi, kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa? Kenapa kau mengkhianati kami Sasuke? Tanpa sadar aku mengeluarkan tangis dalam diam dan menunduk. Tapi aku langsung mengusap semua tangis saat Sasuke menegurku.

"Jangan nangis disini, dasar cengeng," tegurnya tanpa sedikitpun berbalik untuk sekedar menatapku.

"Sialan kau, Sasuke..!!" batinku dalam hati yang kemudian kembali terdiam.

Sesampainya di kantor polisi...

Dari tadi aku dan senpai menunggu hanya disuruh untuk melihat diskusi membosankan. Yaah, walau dibilang membosankan, sebenarnya ini penting juga untuk nasib kami. Fuh, akhirnya selesai juga. Kulihat Sasuke membereskan mejanya dan orang-orang lain sudah keluar dari ruangannya, Sasuke menyuruh kami agar duduk lebih ke depan.

"Hukuman kalian sudah ditentukan," gumam Sasuke tanpa sedikitpun mau menatap kami. Menyebalkan sekali, dia menarik nafasnya saat akan mengumumkan itu.

"Kalian akan divonis hukuman mati," jawabnya lagi, kali ini dia mau menatap kami. Tatapan yang dalam. Aku marah besar atas jawaban yang tidak memuaskan itu.

BRAAAAAKKK...!!! Aku memukul mejanya sekeras mungkin.

"KAU GILA, SASUKE..?? ITU TIDAK ADIL..!! KAMI MELAKUKAN INI, DEMI MENCARI MAKAN TAHU..!!" teriakku sekenanya, Deidara-senpai berusaha menghentikanku tapi ku abaikan. Aku menatap mata onyx Sasuke, entah kenapa aku gemetar. Rasa marah dan takut bercampur jadi satu.

"KAU.. KAU TIDAK TAHU, APA YANG KAMI RASAKAN SELAMA 10 TAHUN..!!"

"Aku tahu," jawab Sasuke dengan nada dingin. Aku dan Deidara-senpai tertegun.

"Aku tahu apa yang kalian rasakan, karena aku pernah merasakannya, atau jangan-jangan kau lupa padaku yang dulu pernah hidup bersamamu, Sakura?" jelas Sasuke, entah kenapa dia berkali-kali tidak mau menatap kami.

"Ma.. Mana mungkin aku lupa..!! Bukannya kau justru yang melupakannya..??" tanyaku lagi.

"Mana mungkin aku bisa melupakannya," jawab Sasuke lagi tanpa ekspresi tapi menatap ke bawah.

"Sasuke kumohon, kau boleh menghukum mati aku. Tapi jangan Deidara-senpai, kumohon. Aku akan melakukan apa saja, tapi tolong-"

"Keputusan tak bisa diganggu gugat..!!" Sasuke mulai bangkit dari kursinya dan saat dia akan keluar aku menahan tangannya.

"Kumohon pertimbangkanlah Sasuke, aku mohon sekali..!! Tolonglah..!! Aku pasti akan menuruti apa saja yang kau iginkan, atau hukum mati saja aku..!!" aku mulai menangis, Deidara-senpai memegang punggungku dan mengelusnya lembut. Sasuke diam seribu bahasa sampai akhirnya dia melepaskan tangannya dari pelukanku dan membuka pintu ruangannya. Sebelum menutup pintu, dia berkata padaku...

"Akan kupertimbangkan,"

Aku lega sekali mendengar jawabannya. Deidara-senpai memelukku dan menatap mata emeraldku yang sembab. Dia tersenyum lembut tapi air mukanya sedih sekali.

"Kenapa kau melakukan ini Sakura, un?" tanyanya lembut sambil mengusap kepalaku.

"Aku ingin melindungi senpai, walau cuma sekali," isakku di tengah pelukannya.

"Senpai, jangan menghalangiku ya. Aku.. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi senpai, walau harus jadi budak polisi pantat ayam sialan itu," aku menatapnya tajam menunggu jawaban yang kuinginkan. Dan senpai tersenyum lalu mengangguk dan semakin mempererat pelukannya padaku.

"Aku sayang kamu Sakura, un," getirnya, apa senpai menangis? Aku tidak tahu karena tak bisa kulihat dengan jelas.

"EHM...!!"

Aku dan senpai kaget, rupanya Sasuke sudah masuk lagi ke ruangan ini. Kenapa cepat sekali ya? Tatapan dingin itu kembali menusuk hingga sumsum tulangku. Sekarang aku mengerti kenapa Sasuke bisa jadi inspektur di usia 20 tahun. Dari matanya saja, dia sudah bisa mengintimidasi lawan.

"Sasuke... Gimana keputusannya?" tanyaku takut-takut.

"Kalian harus berterima kasih denganku, karena aku sudah mengeluarkan cukup banyak uang hanya untuk pembunuh bayaran seperti kalian," jawabnya ketus, lalu memandangku tajam.

"Sesuai janji, Sakura. Kau sekarang jadi milikku, dan Deidara-senpai akan terjamin keamanannya di penjara ini," jawabnya lagi, aku melotot lebar.

"Apa maksudmu? Bukankah tadi-"

"Masih mau protes?"

Kata-kataku bagai ditelan lautan yang luas. Aku takut kalau protes lagi, justru malah akan menyulitkan kami. Tapi kenapa Deidara-senpai harus dipenjara?

"Sudahlah un, tak apa Sakura, yang penting aku tidak dihukum mati jadi kau bisa lega kan, un?" Deidara-senpai tersenyum lagi ke arahku, dasar senpai di saat seperti ini masih bisa menghiburku. Aku mengangguk.

"Inspektur..!! Kami akan membawa tersangka ke penjara..!!" kata seorang polisi memberi homat. Sasuke melirik Deidara-senpai yang artinya pergilah-sekarang, Deidara senpai melepaskan pelukannya padaku dan mengikuti polisi itu. Sebelumnya dia memberi pesan...

"Baik-baik ya, Sakura un," lalu senpai pun pergi. Aku hampir saja menangis lagi kalau tidak ditegur Sasuke.

"Nangis melulu, dasar cengeng," tegurnya sambil membereskan mejanya, sepertinya bersiap-siap pulang.

"Ng, sekarang aku tinggal dimana?"

"Panggil aku Sasuke-sama..!!" perintahnya, aku langsung menelan ludah. Dia tersenyum kecil yang licik.

"Go.. Gomen, Sasuke-sama," ulangku lagi. "Jadi saya-" aku tak bisa melanjutkan kata-kata lagi karena Sasuke tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku hingga aku harus menahan nafas bertatapan sedekat ini dengan mata onyxnya.

"Sekarang kamu tinggal di rumah keluarga Uzumaki sebagai pelayan,"

To be Continued



Haduh, haduh... Baru tahu hukuman mati bisa diganti dengan menjadi pelayan polisi. Imajinasi saya ini aneh-aneh saja =_= maaf ya, kalau ada yang gak sesuai dengan keinginan hehehe...

Oh ya, gak usah tanya kenapa Sakura disuruh ke keluarga Uzumaki, karena alasannya ada di chapter selanjutnya..!! Hohohoho *digebukin readers*

Fic ini resmi karangan otak saya yang emang ngelantur kemana-mana, jadi jangan protes kalau ternyata kenyataannya tidak sesuai hehe peace *digebukin readers*

Ok, ada pertanyaan lagi? Review pleaaasee..??