His Story

Pasca kematian ibunya,Draco dapat mengakses aset seluruh keluarga Malfoy secara menyeluruh.Termasuk Tapestry yang tak pernah lihat sebelumnya. Draco tengah memeriksa kantor ayahnya di manor ketika ia tapestry tersebut. Anehnya disebelah namanya terhubung dengan garis abu - abu adalah nama Harrieta Nott Nee Potter. Dibawah namanya dan Harrieta ada nama Lily Luna Nott.

Dengan nama belakang Nott, bisa dipastikan Theo menikahi Harrieta. Satu lagi, tinta nama Harrieta menjadi hitam tak seperti yang lain ditulis dengan tinta emas. Hal itu hanya berarti satu, Harrieta telah meninggal.

Draco merasa lemas. Ia tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi. 'Blaise,Aku membutuhkannya'kata Draco. Lord Malfoy itu pun memanggil Blaise lewat jaringan Floo.

Suara perapian yang menyala menandakan kedatangan seseorang. "Bloody Hell, Draco apa yang terjadi"kata Blaise yang terkejut melihat kondisi sahabatnya itu yang jauh dari kata Malfoy.

"Aku tidak tahu.Bantu aku"bisik Draco. Blaise pun melihat tapestry tersebut. Ia menghela nafas. "Accio Draco memory"rapal Blaise. Sebuah kotak kayu segera melesat ke tangan Blaise.

Blaise pun membuka kotak yang berisi sebuah botol berpendar cahaya putih. Blaise pun menceritakan kecurigaannya dan Theo bahwa salah satu orang tua Draco memodifikasi ingatan Draco. Membuatnya lupa akan hubungan asmara Draco dan Harrieta. Blaise pun menceritakan bagaimana Theo menemukan Harrieta tak sadarkan diri tak jauh dari Manor dengan undangan pernikahan didekatnya.

Bahwa Harrieta hampir saja keguguran bila Theo tak membawanya ke St Mungo tepat waktu. Draco segera mengambil botol tersebut membukanya dengan sihir. Membiarkan ingatannya kembali. "Merlin"kata Draco. Air matanya langsung mengalir.

"Blaise,Aku mohon bawa aku ketempat Harrieta untuk meminta maaf"pinta Draco yang hampir saja jatuh jika Blaise tidak menopangnya. "Aku yang bersalah. Bawa aku menemuinya"kata Draco.

"Draco,Harrieta sudah meninggal. Kandungannya lemah. Theo harus memilih. Harrieta meminta agar Theo memilih bayinya"kata Blaise.

"Kalau begitu,bawa aku ke makamnya."kata Draco yang semakin kacau. Blaise pun berapprate menuju pemakaman Godric Hollow

Pemakaman Godric Hollow terbilang sepi. Seorang pria berambut pirang platina duduk bersimpuh didepan sebuah nisan. "Love,Maafkan aku"kata Draco dengan suara serak. Kata Maaf terucap berulang - ulang dari bibirnya.Namun sebanyak apa pun kata maaf yang terucap,tentu saja tak dapat mengembalikan yang telah pergi.