– BUAK BUK DUARR –
DeiDei : ampun... ampuni gue!!! emang gue salah! Mangapp!!
Sakura : apaan loe baru minta mangap sekarang? Gue mintanya minta maap!
DD : iya! Gue minta maap!
Sasuke : ada apaan sih neeeeh???
Sk : Sasuke-kun, kau tau kan kapan ulang tahunku?
Ss : nggak..
DD : BWAHAHA...
Sk : masa kamu nggak baca yang chapter kemaren sih?
Ss : emang ada apaan?
Sk : aku lahirnya bulam maret! Bukannya bulan november! Pake ada akhir bulan septembernya segala lagi! Author bego ini sok tau banget sih!
DD : Jangan salahin gue! salahin otak gue yang dari kemaren cuma mikirin ultahnya Kevin Jonas. Jadi kagak sengaja nulis bulan september ama november...
Sk : alaaah... banyak alesan lo! Dasar DeiDei payah!
Deidara : heeeeh... kenapa gue juga diikut-ikutin segala sih?
Sk : siapa yang ngikutin elo? Dasar ge-er! – death glare -
Dei & Sasu : mengerikan...
Ditengah emosi memuncak dari seorang Sakura Haruno, author yang payah satu ini mengalami kerusakan parah. Entah bisa melanjutkan cerita ini setelah chapter 2 apa nggak?
-
Author : Ceprutth DeiDei
Disclaimer : Sasuke ama Sakura punya gue!!! Udah gue rental dari Kishimoto-sensei buat main di fanfic ini. Bayarnya mahal lho! Jadi, yang baca juga harus pada bayar semua! *dilemparin tomat ama para readers, sampe rumah dijilatin Sasuke gara-gara berlumuran tomat XD*
Genre : Romance/General
Rate : T
Pair : Sakura H./ Sasuke U.
Summary : Sasuke mengusir Sakura dengan mantap. "Hei! Buka pintunya! Cepat buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!?" Pintu terbuka, pantat ayam itu muncul dengan wajah kesal. "Kau mau apa lagi?" Hari pertama Sakura kerja pun dimulai. RnR plisss?
WARNING : Judulnya ngasal doang! Tapi jangan permasalahkan judulnya tapi ceritanya!! Oke?
"bla bla bla" : orang lagi cuap-cuap alias ngomong
'bla bla...' : dalem hati!
bla bla bla... : kalian semua udah tau kan? Sakura's POV. Oke? Jangan lagi lempar tomat ke muke gue.
(bla bla...) : omongan-omongan gaje dari gue!!
-
All My Life
-
Matahari sudah berada di puncak kepala. Puluhan murid sudah mulai berhamburan keluar kelas, termasuk gadis berambut pink yang sedang terburu-buru ini.
"Uuuaaaaaaah... aku harus cepat-cepat pergi kerja!" katanya lirih sambil terus berlari keluar sekolah. Gadis ini terlihat benar-benar sangat terburu-buru.
"Sakura-chan!"
Langkahnya yang tergesa-gesa itu tiba-tiba berhenti begitu seseorang memanggilnya dari kejauhan. Ia berbalik mencari asal suara dan didapatinya kekasihnya yang berambut merah itu sedang tersenyum padanya sambil menyelempangkan tasnya dibahu.
"Gaara-kun!" Sakura membalas tersenyum. Pemuda itu berjalan mendekati Sakura. "Sudah mau pulang?" tanyanya saat sudah berada dihadapan Sakura.
Wajah Sakura tiba-tiba merona merah begitu melihat senyuman Gaara dari dekat. Ia menunduk. "Aaaa... y-ya begitulah."
"Mau kuatar? Aku bawa mobil. Kebetulan karena motorku mogok jadi terpaksa bawa mobil" ajak Gaara. Sakura hanya terdiam dengan wajah yang berubah warna menjadi merah padam. Ia masih tertunduk. Gaara ikut merunduk dan menegok wajah Sakura yang warnanya bagai kepiting rebus itu daridekat. "Sakura?"
"Aaaa—" Sakura kaget dan menjauh ke belakang. Gaara keheranan melihat tingkah kikuk Sakura. "Ooooh....eee...ti-tidak usah! Gaara-kun pulang duluan aja. Aku masih ada urusan penting. Duluan ya...!"
Sakura langsung berlari meninggalkan Gaara. Yang ditinggalkan terlihat masih kebingungan.
'Jangan sampai Gaara-kun tau aku kerja sambilan buat beli kado istimewa untuknya' kata Sakura dalam hati sambil terus berlari.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxooxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
"Rumahnya dimana, sih?" keluh Sakura yang sudah berkeliling perumahan yang cukup mewah itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Udah naik bis jauh, masih harus muter-muter lagi! Perasaan kok rumahnya jauh amat ama sekolah... apalagi ama rumah!"
Sakura kembali menyibukkan dirinya mencari rumah yang akan menjadi tempat ia bekerja menjadi pembantu. Puluhan rumah-rumah besar sudah dilewatinya tapi tempat tujuannya masih belum ketemu juga. Kakinya mulai terasa pegal karena terlalu lama berjalan kaki.
"Ngomong-ngomong, anak yang dititipin tante Mikoto itu kayak gimana ya? Laki-laki apa perempuan? Umur berapa ya?" Sakura mulai berbicara sendiri untuk membuang rasa bosan dan lelah. Tiba-tiba ia menjitak kepalanya lagi (bagus! Jitakin aja pala lo terus! Nyahaha – dishanaro Sakura –)."Ah, mungkin masih SD. Nggak mungkin kan kalo anak udah gede minta dijagain."
Setelah beberapa menit lalu pikiran Sakura terbang kemana-mana, ia kembali fokus mencari rumah yang ia tuju. Dan akhirnya ia menemukan papan didepan sebuah rumah yang bertuliskan 'Blok K-1'. Sakura tersenyum senang. "Nah, sepertinya ada disekitar sini!"
"Blok K no 4...Blok K no 4...K-4" Sakura berjalan melewati rumah-rumah itu sambil mengamati nomor rumah yang tertera seperti pada rumah yang ia lihat sebelumnya. "Nomor 2...nomor 3—Aaah! Ini dia! Blok K nomor 4!!!"
Sakura berdiri menghadap sebuah rumah yang sepertinya hampir seukuran rumahnya yang juga bertingkat 1 lantai. Rumah berhalaman cukup luas yang bernuansa barat. Di halamannya terparkir sebuah mobil BMW hitam. Desain rumahnya juga sangat menakjubkan. Sakura berjalan masuk dan berhenti di depan pintu rumah bercat kombinasi antara abu-abu-hitam-putih ini.
'Hebat sekali rumahnya!' gumam Sakura yang masih terpesona dengan rumah tempat kerjanya itu.
TING TONG TING TONG TING TONG
Beberapa kali Sakura menekan bel. Pintu juga sudah diketuknya berkali-kali, tapi rumah itu masih tetap sepi. Tak ada orang yang membukakan pintu dan mempersilakannya masuk ke dalam rumah itu. Sakura mengira rumah itu kosong, tapi ia langsung kaget begitu ia mencoba membuka pintu rumahnya langsung terbuka. "Heeeeh...?! Ng-nggak dikunci, ya...?"
"Permisi." Sakura memberanikan diri mengintip ke dalam rumah. Terlihat sebuah ruang tamu yang desainnya juga begitu 'wah' dimata Sakura. Gadis itu kembali terpesona. Perabotan-perabotannya juga tampak mahal dan berkualitas tinggi. 'Dalemnya keren banget bo...! Hauuu... gue juga pengen punya rumah yang begini!' (jangan harap! Kagak usah minta yang tinggi-tinggi deh lo! Nggak akan gue kabulin!)
Ditengah-tengah sihir pemikat yang dipancarkan ruangan itu pada Sakura, sampai-sampai gadis berambut pink itu tak menyadari kalau ada seseorang yang berjalan mendekatinya. "Siapa kamu?!"
Sakura kaget setengah mati. Dihadapannya kini sudah berdiri seorang pria yang jauh lebih tinggi diatasnya. Ia mendongak dan mata emeraldnya bertemu dengan mata onyx pria itu. Wajahnya kelewat tampan. Rambut hitam panjangnya yang tergerai begitu saja seakan menambah keseksiannya. Sakura lagi-lagi terpesona. 'Sumpeh bu! Ni cowok cakep buaanget! Lama-lama gue bisa mimisan nih kalo ngeliatin dia mulu...!'
"Halo...?! Nona cari siapa, ya...?" suara pria itu memecahkan lamunan Sakura. Sakura langsung tersadar kembali sepenuhnya. Wajahnya memerah seketika. Ia mundur dan menunduk serendah-rendahnya agar wajah merahnya tidak kelihatan.
"Ma...maaf!" Sakura membungkukkan badannya kemudian mulai memperkenalkan diri. "Perkenalkan. Saya Haruno Sakura, pembantu baru yang akan bekerja disini."
Cowok itu mengernyitkan dahi. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Oooh... pembantu baru, ya!"
"I, iya" jawab Sakura tersipu malu. 'Diluar dugaan, ternyata gue harus ngejagain cowok keren yang bahkan lebih tua dari gue ini? Kirain masih SD. Nggak taunya udah gede gini! Tapi mukanya cakep banget, gue juga mau kali ngejagain cowok keren kayak gini!'
Cowok itu menengok ke bagian rumah yang lebih dalam. "Hei, Sasuke!" Sepertinya ia memanggil seseorang yang ada didalam. Tiba-tiba cowok berambur hitam panjang itu terkikik geli. "Coba dengar, sepertinya Okaa-san kesayanganmu itu terlalu khawatir padamu sampai-sampai dia membawakanmu pembantu baru lho!"
"Hah—?!" Dan muncullah seorang cowok—yang lagi-lagi kelewat tampan dan keren. Mata onyx lain yang sama persis seperti milik pria berambut panjang itu menatap Sakura dengan malas. "Okaa-san memang keterlaluan!"
Lelaki jangkung berwajah sangat tampan—bahkan sangat terlalu tampan—dan berambut emo itu pun berjalan ke arah Sakura dan pria berambut panjang disebelah Sakura. Sakura bingung. 'Loh—jadi bukan dia pemilik rumahnya?!' Ia bertanya-tanya dalam hati sambil melirik pria disebelahnya diam-diam.
"Namamu Sakura, ya? Aku Itachi. Uchiha Itachi." Cowok keren yang ternyata bernama Itachi itu membalas perkenalan Sakura tadi sambil tersenyum.
"U, Uchiha?!" Sakura tersentak kaget. 'Gila! Ternyata ni cowok anggota keluarga konglomerat uchiha? Wehwehweh...'
"Yayaya." Itachi mengangguk-angguk sambil tersenyum ramah. Sakura setengah mati menahan dirinya agar tidak pingsan melihat ketampanan lelaki yang satu ini. "Aku kakak Sasuke, pemilik sebenarnya rumah ini."
'Jadi yang disitu juga Uchiha?' Sakura bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu, ya?!" Cowok berambut emo dengan rambut bagian belakang yang mencuat kemana-mana dengan tidak karuan itu menatap Sakura tajam. Sakura merinding dan akhirnya membungkuk lagi dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan. Namaku Sakura Ha..."
"Lebih baik kamu pulang saja!" potong cowok bernama Sasuke itu dengan nada dingin. Sakura kembali berdiri dan menatap pemuda jangkung itu dengan bingung. "Aku nggak butuh pembantu" lanjutnya, masih dengan nada kasar dan dingin.
"Maaf, tapi..." kata-kata Sakura terhenti begitu sang pria kelewat tampan dan keren tapi bersikap dingin itu mendorongnya keluar dari dalam rumahnya. Sakura kaget.
BRAK!, pintu rumah mewah itu kembali tertutup rapat. Meninggalkan Sakura yang masih berada diluar. Sakura terhenyak. 'SIALAAAAAN...!!!!'
TOK TOK TOK!! BRAK BRAK!!
Sakura mengetuk-ngetuk pintu rumah itu dan lama-lama ia pun memukul-mukul pintu dengan keras. Dua manusia didalamnya tetap tidak bergeming.
"Kau yakin tidak apa-apa mengusirnya begitu?" Itachi bertanya pada adiknya yang keras kepala itu.
"Aniki jangan ikut campur. Sebagai tamu yang tak diundang dan pengganggu, lebih baik kau menurut saja padaku. Ini kan rumahku, jadi terserah aku mau berbuat apa."
"Aaaah—Baiklah!" Itachi menunduk lesu.
Sakura berputar-putar mengelilingi halaman diluar rumah itu. Begitu melihat ada jendela, ia langsung mendobrak pintu itu sambil berteriak-teriak. "Buka pintunya! WOOIIIYY!!!"
"Sial!" Sasuke langsung menutup gorden jendela dihadapannya begitu melihat Sakura mengetuk-ngetuk kaca jendela sambil berteriak-teriak.
Sakura akhirnya berlari lagi mencari jendela yang terbuka, tapi semua jendela sudah ditutup rapat-rapat lebih dulu oleh Sasuke. 'Ampuuuuun... cowok pantat ayam yang kelewat keren itu nyebelin banget sih!?' umpatnya sambil terus mencari celah rumah di rumah mewah itu.
Dibelakang rumah itu, Sakura menemukan pintu berdaun 2 yang besar. Sakura mengintip ke dalam rumah melalui jendela didekat pintu itu. 'Dia ada disana!' gumamnya begitu melihat sosok dua orang cowok yang sedang duduk-duduk ditengah ruangan sambil main game.
BRAK BRAK BRAK!!!
Sakura memukul-mukul pintu besar itu dengan kasar. "Hei! Buka pintunya! Cepat buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!?" teriaknya sambil terus memukuli pintu malang itu.
"Wah, gigih sekali dia! Terlalu berani. Sampai-sampai mau mendobrak pintu rumahmu yang mahal itu" kata Itachi yang sedaritadi mengamati pintu besar yang dipukuli Sakura itu sambil menyenggol pundak Sasuke yang sibuk main PS.
"Huh—!" Sasuke menghentikan kegiatannya dan ikut menoleh ke arah pintu. 'Yang benar saja?! Cewek itu alot sekali! Memangnya dia nggak tau kalo pintu itu harganya mahal?!' umpatnya sambil menatapi pintu dengan kesal. "Menyebalkan!"
Akhirnya Sasuke berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu itu perlahan. Sakura langsung menghentikan kegiatan memukulinya. "Nah, akhirnya dibuka juga!" kata Sakura sambil tersenyum lebar.
"Kau mau apa lagi?" tanya Sasuke dingin sambil menatap Sakura dengan death glare. "Apa ucapanku tadi masih belum cukup?"
"Aku tidak akan pergi darisini begitu saja karena sudah ditetapkan kalau aku bekerja sebagai pembantu dirumah ini."
"Begitu ya...?" Sasuke tersenyum tipis. "Tapi, maaf saja. Aku tidak terima pembantu berseragam SMA sepertimu."
"Khkhkh... sepertinya skor 1-0 untuk Sasuke" bisik Itachi sambil terkikik geli.
"APAA—?!" Sakura menggeram. Ia menjatuhkan tasnya dengan keras. Keduanya saling bertatapan. Death glare vs death glare. Kemudian tak disangka-sangka, Sakura melepas dasinya yang daritadi sudah berantakan sambil berkata, "Kalau begitu aku akan melepas seragam yang kupakai sekarang!"
"Ekh—?!" Sasuke terperanjat kaget. Matanya setengah tertutup melihat Sakura yang dengan berani membuka kancing baju seragamnya dari atas kebawah. Ia membuang seragam itu begitu saja.
"Kenapa?" tanya Sakura yang bingung melihat tingkah Sasuke. Ia membetulkan tanktop hitamnya dan melepas roknya. Ia masih memakai celana jeans yang sangat pendek."Kaukira aku sebodoh itu? Aku masih pakai baju nih. Memangnya menurutmu aku rela telanjang didepanmu? Huh—"
"Dasar cewek sial!" umpat Sasuke lirih setelah melihat Sakura yang sudah tak berseragam.
"Hah—?! Kaubilang apa?"
"Nggak ada" jawab Sasuke dengan nada superdingin.
"Jadi, kau masih tidak mau menerimaku bekerja disini?" tanya Sakura harap-harap cemas.
"Hn. Terserah!" Sasuke ngeloyor masuk meninggalkan Sakura dan menghampiri Itachi yang masih menertawakannya.
"Sekarang skornya imbang 1 sama" bisik Itachi ketika Sasuke lewat. "Aniki, kita main game lagi!" ajak Sasuke memaksa.
"Oke." Keduanya kembali sibuk main PS.
Sakura tersenyum lega. Ia memungut seragamnya dan mengambil tasnya. "Terimakasih."
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
"Baiklah, aku akan mulai menyapu rumah berdebu ini!" kata Sakura penuh semangat sambil mengangkat-angkat gagang sapu. Saat baru mulai menyapu, ia melirik dua pangeran tampan penghuni rumah ini dengan tatapan iri. "Mereka asyik sekali main PSnya! Sementara aku harus kerja begini!"
Sakura pun kembali sibuk dengan pekerjaan yang baru dimulainya.
"Aaaah... bakaotouto! Aku kalah lagi darimu!" Tiba-tiba Sakura yang sedang menyapu di ruang tamu mendengar teriakan Itachi. Sakura menoleh ke pintu dan melihat keduanya mulai bertengkar didepan TV. 'Haha... lucu juga mereka! Masih suka berantem, padahal udah tua...' bisik Sakura dalam hati sambil tertawa kecil.
Sasuke melirik kakaknya dengan death glare mematikan. "Bukannya kau yang baka? Yang kalah kan kau sendiri."
"Kau kan lebih jago main PS, kenapa kau harus ajak aku yang amatiran ini main PS begituan sih? Aku jelas kalah" kata Itachi mencari-cari alasan. Sasuke hanya mendengus kesal. Mata Itachi yang sudah bosan melihat tampang mematikan Sasuke pun beralih ke Sakura yang juga sedang meliriknya dari depan pintu. "Aku mau liat Sakura-chan aja! Lagipula aku ada kuliah siang hari ini, sekalian pamit."
"Hn. Pergi sana!"
"Hai, Sakura-chan!" sapa Itachi sambil berjalan ke arah gadis berambut pink yang sedang memegang sapu itu. "Sudah selesai bersih-bersihnya?"
"Ehm... be-belum..." jawab Sakura dengan malu-malu. Wajahnya tampak sedikit memerah. Tangannya bergerak-gerak dan ia menyapu lagi.
"Ooh....eeeeeengg...." Sesaat tingkah Itachi terlihat kikuk. Sakura mengernyitkan dahi. Itachi tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dengan Sakura. Wajah Sakura sekelebat berubah menjadi merah padam. Pria berambut panjang itu membisikkan sesuatu ke telinganya. "Sakura-chan, hati-hati ya! Rumah ini adalah kekuasaan mutlak seorang Sasuke Uchiha."
"Heh—?!" Sakura sama sekali tak mengerti apa maksud dari Itachi membisikkan hal itu padanya. "Maksudnya?"
"Hei, aniki! Kau nggak pergi-pergi juga?" tanya Sasuke dengan nada mengusir pada Itachi sambil berjalan mendekat, meninggalkan PSnya begitu saja. "Bukannya kau ada kuliah siang? Nggak telat tuh?"
"Aaaaah—Aku telat! Telaaaat!" Itachi cepat-cepat berlari keluar rumah dan menyambar masuk ke dalam mobil BMWnya yang terparkir di halaman. Sasuke dan Sakura ikut berhambur keluar rumah. Itachi sudah menggiring mobilnya ke jalanan (emangnya bebek digiring? Itu kan mobil! BMW lage!)
"Dadah, Sakura-chan!" Itachi melambai-lambai dari kaca mobil yang tadi dibukanya lebar-lebar. Sakura mengangguk dan membalas melambai sambil tersenyum. "Jangan sampe diapa-apain ama Sasuke ya!" lanjutnya.
"MAKSUD LO?!" Sakura dan Sasuke kaget mendengar ucapan terakhir Itachi tadi. Mereka berdua berteriak secara berjemaah.
"Hihi... kalian kompakan banget!" kata Itachi sambil terkikik geli melihat tingkah kikuk pasangan muda berjidat lebar dan berambut pantat ayam ini.
"HAH—?!" Sasuke dan Sakura saling berpandangan. Sedetik kemudian mereka saling membuang muka. "Cih!"
"Ahaha—sayonara!" Mobil Itachi pun melesat pergi. Tinggallah Sasuke dan Sakura yang tersisa di rumah mewah itu.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
"Tunggu dulu! Jangan mengelap meja itu sembarangan. Nanti malah tambah kotor!" protes Sasuke yang sedang membaca buku sambil duduk disofa pada Sakura yang sibuk mengelap meja dihadapan Sasuke.
Sakura mendengus sebal. "Memangnya kau tau apa? Kau pernah membersihkannya?"
"Nggak" jawab Sasuke supersingat. Ia kembali memfokuskan pandangannya ke buku yang dibawanya. "Tapi setidaknya aku masih lebih tahu soal merawat perabotan mahal dengan baik daripada kau."
Sakura makin emosi setelah mendengar hinaan yang barusan dilontarkan Sasuke padanya. "Baiklah, tuan besar." Ia mengganti kain lap yang dipakainya dengan yang baru dan mengelap lagi meja itu dari awal dengan lebih perlahan-lahan dan sabar.
"Satu lagi," Sasuke melirikkan matanya ke Sakura. Sakura menghentikan pekerjaannya dan bersiap mendengar cercaan Sasuke yang selanjutnya. "Aku masih belum menerimamu sebagai pembantu dirumah ini" kata Sasuke santai. Sakura tertohok.
"Heeeh—?! Apa maksudmu? Kau tadi bilang terserah padaku kan? Aku mau bekerja disini. Titik!" protes Sakura dengan membentak.
"Delete titik. Masih ada koma. Aku belum menerimamu sebagai pembantu dirumah ini. Titik!" balas Sasuke—lagi-lagi dengan santai—sambil terus membaca buku.
"Seenaknya ngasih koma! Memangnya kau ini siapa?" omel Sakura yang kini semakin terbakar emosi. Sasuke menutup buku yang dibacanya dengan kasar. Mata onyxnya sepenuhnya menatap Sakura dengan tajam bagaikan mata elang. "Aku majikanmu. Pemilik resmi rumah ini."
"Lalu kenapa?" tanya Sakura terus melawan.
Sasuke berdiri dan membetulkan T-shirt birunya yang berantakan. Ia meletakkan buku yang dibawanya ke dalam lemari buku dipojok ruang tamu itu. "Nggak apa-apa sih. Tapi berhubung kau belum sepenuhnya kuterima bekerja disini sebagai pembantu, mungkin aku harus mengusirmu lagi sekarang juga!"
"Eh?!" Sakura kaget. Ia berdiri dan berjalan mendekati Sasuke. Raut wajahnya berubah cemas. "Tunggu dulu! Jangan usir aku! Aku mau bekerja disini."
Sasuke mengernyitkan dahi sambil menatap Sakura dengan heran. Ia berjalan kearah pintu depan rumah dan membuka pintu itu perlahan. "Aku heran kenapa kau itu ngotot sekali, tapi aku tak terima pengecualian."
"Tunggu!" Sakura menahan lengan Sasuke. "Memangnya apalagi yang harus kuperbuat agar kau mau mempekerjakanku disini sebagai pembantu? Menggedor-gedor pintu, lepas seragam, bersih-bersih dan merawat perabotan-perabotan mahalmu ini, lalu apalagi?"
Sasuke tersenyum tipis. Terlihat jelas kalau senyuman itu adalah salah satu senyum licik yang mematikan khas uchiha. "Masih ada satu."
"Satu? Apa itu?" tanya Sakura antusias. Tangannya dengan kuat menarik lengan Sasuke dan membuat lelaki dihadapannya itu kembali masuk kedalam rumah. Ia beralih ke arah pintu dan menutup pintu dihadapan Sasuke itu rapat-rapat. "Katakan padaku! Akan kulakukan kalau aku bisa tetap bekerja disini."
Lagi-lagi Sasuke tersenyum licik. Ia mundur ke belakang dan berbalik masuk ke dalam rumah. "Tunggu sebentar"
Sakura menurut dan menunggu Sasuke yang entah pergi kemana didalam rumah itu. Meninggalkan dirinya sendirian diruang tamu dan membiarkan gadis pink itu menunggu.
Beberapa menit pergi, Sasuke pun kembali ke ruangan itu dengan membawa sesuatu di tangan kanannya. Ia berjalan menghampiri Sakura yang masih duduk di sofa.
"HAH—?!" Sakura lagi-lagi kaget melihat kejutan sial yang dibawakan sang pangeran uchiha itu padanya. "Kau mau apa dengan benda aneh itu?" tanyanya heran.
"Bukan aku, tapi kau" kata Sasuke sambil menyerahkan benda itu. Benda berwujud pakaian yang tampaknya sudah lusuh. Modelnya pun aneh. Gaun berwarna hitam berlengan pendek dengan bagian badan yang seperti ditambah celemek putih. Roknya pun berenda-renda tidak jelas. Membuat Sakura enek melihatnya. "Ini seragam resmi pembantu rumah ini. Kau yang harus memakainya."
"APAA—?!" Sakura terkaget-kaget lagi dan langsung mundur menjauh.
"Nggak mau?" tanya Sasuke dengan nada kecewa. Ia melipat kembali seragam aneh itu dan berjalan ke arah pintu. "Ya udah. Kau akan kuusir."
"Aaaaah—baiklah-baiklah! Berikan padaku!" Sakura menyerobot dan merebut gaun seragam aneh yang ada ditangan Sasuke itu dengan paksa. Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Dengan wajah yang sudah merona merah menahan malu, ia pergi ke ruangan lain, mencari tempat ganti yang bisa ia gunakan untuk menukar pakaian yang dikenakannya dengan gaun aneh itu. "Tunggu disini. Akan kupakai!"
"Hnn..."
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
TOK TOK TOK!, pukul 06.30 tepat—eeh tidak! Tapi lebih beberapa menit, bel rumah Sasuke berbunyi. Sakura dengan penampilan barunya itu dengan setengah hati menghampiri pintu depan rumah itu dan membukakan pintu untuk tamu. "Selamat malam. Selamat datang di kediaman Tuan Uch..."
"SAKURA-CHAN! Apa yang sudah otoutoku lakukan padamu?" Si tamu terperanjat kaget. Sakura juga kaget melihat siapa yang datang. "I-Itachi-san???" kata Sakura.
Mata onyx Itachi memperhatikan penampilan baru Sakura baik-baik. "Bajumu ini... kenapa jadi seperti ini?" tanyanya heran.
Sakura mendengus sebal. Ia mempersilakan Itachi masuk. Begitu pria itu masuk, Sakura langsung menutup pintunya rapat-rapat. "Jangan tanya aku. Tanya saja pada tuan besar uchiha yang sok tahu itu!"
"Heeee...?" Itachi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sakura mendengus lagi. Ia menatap Itachi sebal. Itachi cuma nyengir. Sakura berjalan masuk ke ruang tengah, tempat Sasuke berada, meninggalkan Itachi yang masih berdiri di ruang tamu.
"Siapa?" tanya Sasuke begitu melihat Sakura kembali. Sakura hanya menjawabnya dengan desahan napas. "Hn?"
"Sasuke!" Tiba-tiba Itachi datang sambil membawa sesuatu barang—yang memang sejak tadi ia bawa-bawa—dan berjalan mendekati adik kesayangannya itu. Ia melirik ke arah Sakura yang nampak masih sebal. Ia terkikik geli. "Sepertinya setelah kalian kutinggal pergi, skornya berubah ya! 2-1 untukmu!"
"3-1 untukku, bakaaniki!" bantah Sasuke sambil melanjutkan kegiatan nonton TVnya. Sakura mendekati mereka berdua dan duduk disebelah Itachi (hoho... berpaling dari Sasuke ya? Mau coba-coba selingkuh rupanya?? Hohoho... – digampar –).
"Eh? Eh?" Itachi bergantian menatap Sasuke dan Sakura yang hanya terdiam. Wajahnya saat itu tampak blo'on sekali.
"Dia benar, Itachi-san!" Untaian kata-kata keluar dari mulut kecil Sakura dengan setengah hati. Sasuke mengernyitkan dahi. Ia menatap gadis merah muda itu lekat-lekat. "Kau tidak salah tempat?"
"Hah—?!" Sakura bingung dan balas menatap Sasuke bingung. Sasuke masih mengernyitkan dahinya. Ia menunjuk-nunjuk Sakura dan sofa santainya bergantian. Sakura mengamati apa yang ditunjuk oleh Sasuke. Pembantu muda itu mendengus sebal lalu turun dari sofa—duduk diatas karpet. "Bagus. Akhirnya kau mengerti!"
'Haaaa... benar-benar! Sakura-chan kalah telak!' kata Itachi dalam hati. Tak lama, Sakura berdiri lagi. Ia berjalan ke dapur. Menuang air minum ke gelas kacanya. Lalu meneguknya dengan emosi yang masih membara bagaikan api. Itachi yang sedaritadi mengamatinya, mulai mengerti keadaan. Lengan kekarnya menyenggol bahu Sasuke pelan. Membuat lelaki berambut pantat ayam disebelahnya itu menoleh dan menatapnya sebal. "Hooo... cewek itu marah lho!"
"Seharusnya kau tidak boleh memperlakukan gadis cantik seperti itu! Dia kan lebih muda darimu."
"Hn."
"Jangan 'hn' saja! Cepat minta maaf! Masa laki-laki sepertimu menyakiti cewek SMA yang imut sepertinya. Bisa-bisa imagemu rusak lho!"
"Hn. Tidak mau."
"Hei, kenapa? Kau mau melepaskan jodoh pinkmu itu begitu saja? Sepertinya kalian cocok!"
"Hn. Kau sok tahu."
"Benar-benar mau dilepas?"
"Hn."
"Hah—?!"
"Hn."
"Buatku ya?"
"Hn. Silakan!"
"Aaah—Kau ini benar-benar cowok yang dingin ya!" keluh Itachi yang mulai bosan menggoda Sasuke—cowok yang sedingin es kutub itu. Sasuke menatap wajah kakaknya heran. "Kau mau apa kemari?" tanya sang ice prince itu.
"Aku membawakan oleh-oleh dari Okaa-san kesayanganmu itu. Aku baru sampai rumah, sudah disuruh pergi lagi mengantar ini! Kau harus bayar ongkos antarnya!" jawab Itachi, masih dengan guyonannya yang membuat Sasuke muak. "Enak saja. Jangan harap aku akan membayarmu. Aku saja mau mengusirmu."
"Hei! Tunggu dulu!" Sakura memotong pembicaraan kedua lelaki itu. Ia datang masih dengan membawa gelas minumnya. "Ada apa, Sakura-chan?" tanya Itachi.
"Barusan kaubilang kau baru sampai rumah, sudah disuruh pergi lagi sama Okaa-san Sasuke. Memangnya Okaa-sannya ada dirumah?" tanya Sakura penuh selidik. Itachi menjawabnya dengan mantap, "Tentu saja."
"Siapa nama Okaa-san kalian?" tanya Sakura lagi.
"Mikoto Uchiha" jawab keduanya—Itachi dan Sasuke—serentak.
"Heh—?!"
"Kenapa?" tanya Itachi begitu melihat ekspresi Sakura yang kaget.
"Bukannya tante Mikoto pergi keluar negeri? Makanya dia menyuruhku bekerja dirumah ini sebagai pembantu dan diminta menjagamu, Sasuke-san."
"Apa maksudmu? Memang siapa yang bilang Okaa-san pergi keluar negeri?" Itachi lagi-lagi menjadi satu-satunya orang blo'on di rumah itu (hahaha!).
"Dia sendiri" jawab Sakura.
Hening sejenak.
"Mendokusai!" Sasuke menggeram sebal. Itachi tertawa terbahak-bahak. "Okaa-san keterlaluan!"
Sakura hanya terdiam melihat ekspresi keduanya yang berubah drastis. Itachi tertawa. Sasuke marah-marah. 'Mereka berdua ini kenapa, ya...? apa aku salah bicara?'
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
BRUK
Dijatuhkannya tubuh langsingnya ke ranjang. Matanya memejam. Pikirannya berputar-putar—mencoba menelaah semua kejadian yang dialaminya hari ini.
'Aku sudah tahu sekarang!' kata Sakura dalam hati.
Sudah bisa kusimpulkan, pertama bahwa Itachi-san adalah orang yang baik. Kedua, aku ditipu mentah-mentah oleh tante Mikoto. Ketiga, tuan besar pantat ayam itu, suatu hari nanti aku akan membunuhnya dan menyiksanya tak tanggung-tanggung. Awas saja kau! Cowok pithik yang menyebalkan! (Sakura, lo bisa basa jawa? Cowok pithik??)
Sakura bangun dan duduk diatas ranjangnya. Ia menoleh ke meja sebelah ranjangnya dan melihat jam digital yang terpajang diatasnya.
08.37
"Sudah waktunya tidur..."
Lampu kamar itu padam. Gadis itu pun tertidur lelap dibawah indahnya malam.
—tbc—
Selesai! Selesai! Bagaimana menurut kalian pertemuan dua insan ini? Katakan lewat review! Jangan sungkan-sungkan! Review tidak dipungut biaya, jadi tenang saja! Ahahaha...
Sayonara...!
Do'akan saya semoga ga bikin Sakura murka lagi!
Sk : apa kaubilang...?
Kiiieeeek.... kabuuuur!!!
Sk : tunggu dulu! Aku belum sempat memukulimu! Aku tadi cuma baru bisa merusak laptopmu! Biarkan aku memukulmu!
Dei & Sasu : pasangan yang aneh...
Sk : Haaaaaah...???
Sauske : heeeeh... reviewnya gue tunggu! Ntar gue sendiri yang bakal bales. Beteweh, kenapa nama gue jadi Sauske? Emangnye gue saos?
Dei : jangan salahkan aku..!
Sasuke & Deidara : karena kami masih punya tugas ngegantiin si author abal dan tak beradab yang masih maen kejar-kejaran ama Sakura itu, maka sekarang kami akan membalas review dari kalian...
evey charen : hohoho… gitu ya, un? Map deh kalo bikin bingung, un! Akan saya kasih tau authornya biar dibenerin, un! – by Deidara –
Ritsukika Sakuishi : udah di update! Gue juga udah ketemu ama Sakura di fic ini! – by Sasuke –
Chiwe-SasuSaku : Waaaah… ga sabaran ya, un? Kalo Sasusaku kagak bakal bosen, bagaimana dengan DeiSaku, un?? Hohoho un… – by Deidara –
DD : MAKASIH DEISASU UDAH BALESAN REVIEWNYA!!! LAIN KALI GUE BAKAL BIKININ FANFIC YANG PAIRNYA KALIAN BERDUA!!! YAOI VERSI BARU???
Sasu & Dei : OGAAAAAAH!!!! GA USAH! MAKASIIIIIIH….!!!
REVIEW!! =3
