Chandelier

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura butuh waktu untuk sendiri. Ia bersikeras untuk mengemudikan mobilnya sendiri dan menolak permintaan Sasuke yang menawarkannya tumpangan ke rumah. Ia tidak bisa berlama-lama jika harus berdekatan dengan bos besar itu. Ini berbahaya. Dan pernikahan konyol mereka, Sakura juga masih tidak menyangka akan terjadi. Itu semua berada di luar akalnya saat ini.

Yang harus ia lakukan adalah menghubungi Ino dan mengajak wanita itu untuk pergi keluar makan malam. Walau sebenarnya, ia sendiri sedang tidak lapar. Ia hanya butuh anggur dengan sedikit alkohol untuk melupakan masalahnya.

Tetapi, Sakura tidak melakukannya. Ia hanya duduk di sofa besarnya dan melamun. Entah harus berbuat apa dengan keputusan nekatnya menerima tawaran menikah dengan lelaki itu. Jelas saja, Sasuke yang dulu berbeda dengan sekarang. Yang membedakan hanyalah para wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, lebih banyak ketimbang masa sekolah dulu.

Sakura segera pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya di wastafel. Menghapus sisa make-up yang masih menempel di wajahnya dengan air bersih yang mengalir dari keran wastafel.

Persediaan anggur di dalam kulkas dan rak khusus penyimpanan sudah habis. Banyak orang mengatakan terlalu banyak mengkonsumsi anggur tidak baik, tapi Sakura tetap meminumnya. Ia mulai kecanduan saat video itu tersebar. Video sialan yang berhasil menghancurkan hidupnya dalam satu malam.

Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Sakura menegak air dingin dari gelasnya dan segera mengambil ponselnya yang ada di meja makan.

Aku ingin bertemu denganmu malam ini. –Sasuke

Sakura memutar matanya. Jari-jari lentiknya mengetik balasan di sana.

Aku punya janji dengan Ino. –Sakura

Oh, baiklah. Besok kita bertemu. Aku akan ke kantormu kalau begitu. –Sasuke

Sakura mengerutkan dahinya ketika membaca pesan balasan dari Sasuke.

Kau tahu dimana kantorku? –Sakura

Tidak sulit bagiku menemukannya. –Sasuke

Sakura mengusap wajahnya dan kembali mematikan ponselnya. Ia menaruh ponselnya di atas meja makan setelah menghubungi Ino untuk makan malam bersama. Ia harus berbicara pada sahabatnya. Ia harus menceritakan segalanya. Harus.

.

.

"Kau tidak gila 'kan? Apa kadar kewarasanmu sudah habis?" Ino mengangkat tangannya seakan tidak mengerti dengan kata-kata Sakura yang menjelaskan bagaimana pernikahan konyolnya.

Sakura hanya mendesah. Ia memotong asal daging panggangnya dan memainkan garpunya. Matanya tidak berselera memandang daging asap yang tampak lezat itu.

"Entahlah. Aku menerimanya demi kepentinganku sendiri. Aku melakukan ini demi kalian semua," kata Sakura putus asa. Ia melirik ekspresi Ino yang sedih. "Tidak apa, Ino. Ini hanyalah kontrak biasa. Kami tidak akan macam-macam."

Ino mendengus, ia mendorong jauh-jauh mangkuk saladnya. "Tetap saja ini konyol! Sakura, pakai sedikit logikamu, bagaimana kalau Sasuke mengambil kesempatan dalam hal ini? Kau tahu apa yang pernah kau alami dulu. Dia pernah melihat videomu dan itu sama saja dengan merendahkanmu secara tidak langsung. Seharusnya kau sadar itu."

Sakura menyisir poninya ke belakang. Wajahnya terlihat lelah dan Ino sedikit menyesal karena sudah membentak sahabatnya.

"Memang. Tapi, dia sendiri tidak pernah membahas itu saat kami bertemu. Dia tidak mengenalku selain sebatas kakak kelas dan adik kelas. Itu saja."

Ino mendesah berat. Kedua tangannya saling meremas kuat di atas meja. Mau dikata apapun juga, keputusan Sakura sangatlah tidak bisa diterima. Ia harus menerima tawaran pernikahan konyolnya dengan seorang lelaki yang jelas-jelas menjadi incaran kaum hawa di sini. Ini tidak akan mudah baginya, tidak akan mudah. Pernikahan adalah hal sakral yang pernah terjadi selama hidup. Dan itu tidak bisa dilakukan dengan main-main.

"Ino, pikirkan saja bagaimana kalau aku menolaknya. Sasuke tidak akan mau membantu kita dan kita sudah kehabisan cara untuk menutup semua kerugian dan hutang. Masih banyak proyek ada di tangan kita dan itu harapan kita satu-satunya." Sakura masih berusaha meyakinkan Ino yang kini memalingkan wajahnya.

"Sampai kapan kau akan melakukannya?"

Sakura memejamkan matanya lalu kembali membukanya. "Hanya sampai Ibunya sembuh total. Aku dan Sasuke akan bercerai."

Ino hanya mengangguk. Ia kembali memesan segelas air dingin dengan ukuran gelas yang jumbo. Ino butuh minum. Dan Sakura tahu, Ino tidak suka dengan alkohol dan anggur.

"Aku lupa memberitahukannya padamu, Sai mau membantumu mengungkap siapa dalang dibalik videomu itu. Entah yang menyebar atau memperkosamu di saat kau mabuk dan tidak sadarkan diri."

Sakura mendongak, kedua matanya terlihat kosong ketika menatap mata cerah Ino. "Benarkah? Apa Sai bisa melakukannya?"

Ino mengangguk mantap. Pancaran mata bersinar akan harapan terlihat jelas di matanya.

"Tentu, Sakura. Sai memiliki koneksi yang bagus untuk masalah ini. Bertahun-tahun dia mencoba memecahkan masalah yang sama denganmu, dan hasilnya memuaskan. Sebagai kepala keamanan tertinggi, dia pasti bisa."

Sakura memutar matanya, namun ia tersenyum.

"Dan Sai pernah melihat video itu?"

Ino mengangguk. "Kau yang menyuruhnya untuk melihat video itu. Tenang saja, Sai bukan tipikal orang seperti itu. Memanfaatkan teman di segala situasi."

Sakura meminta pelayan untuk membawakannya segelas air putih dingin. Ia baru saja menghabiskan satu gelas anggur dan kepalanya terasa pusing sekarang.

"Butuh berapa lama melakukan hal ini?"

Ino mengerutkan alisnya tampak berpikir. "Aku tidak tahu. Sai juga punya pekerjaan yang banyak, Sakura. Seperti mengawal jalannya pemilihan umum nanti dan kampanye besar-besaran partai. Ini berjalan sulit," Ino mengulurkan tangannya untuk meremas tangan Sakura yang bergetar. "Tapi, dia akan berusaha untuk sahabat terbaik kekasihnya. Kau tidak perlu takut. Siapapun yang melakukan kejahatan, akan menerima akibatnya."

Dan Sakura sangat yakin dengan kata-kata Ino. Menumbuhkan secercah harapan baru di hidupnya.

Tidak selamanya mimpi buruk itu akan terus menghantuinya. Tidak selamanya.

.

.

Sakura sedang sibuk dengan sketsa gedung di tangannya sampai pintu dibuka dengan tiba-tiba dan tanpa ketukan, menampilkan sosok Uchiha Sasuke yang berdiri di tepi pintu selama beberapa saat.

"Kenapa tidak masuk?" Sakura mengerutkan dahinya.

"Kukira kau akan marah karena aku tidak mengetuk pintumu. Apa perlu kuulang?"

Sakura memutar matanya. Ia mengangkat kedua tangannya. Menyerah.

"Tidak perlu. Duduklah."

Dengan santainya, Sasuke menarik kursi dan memilih untuk duduk di depan Sakura ketimbang di sofa khusus para tamu di ruangannya. Tatapan matanya jatuh pada kertas-kertas yang berisikan sketsa gambar yang dibuat langsung oleh tangan wanita itu.

"Ini pekerjaan sesungguhnya seorang arsitek?" tanyanya.

Sakura hanya mengangguk. Ia menaruh kertas dari genggaman tangannya ke atas tumpukan kertas yang lain dan menyatukannya menjadi satu.

Kini, tatapannya fokus hanya pada Uchiha Sasuke seorang.

"Baik," Sasuke menopang kepalanya dengan satu kepalan tangannya, tampak berpikir. "Aku sudah mengatur segalanya tentang pernikahan."

Sakura masih diam. Ia tidak ingin berkomentar lebih jauh saat ini.

"Mereka sudah mengaturnya. Hanya tinggal tempat pernikahan dan siapa saja yang akan kau undang. Sisanya, aku yang mengurusnya."

Sakura mengangkat satu alisnya. "Bagus. Kau sudah mengatur segalanya, kenapa tidak sekaligus saja? Kupikir kau tidak membutuhkan pendapatku mengenai hal ini."

Sasuke menghembuskan napas panjang. "Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin satu pihak merasa tidak dihargai di sini. Jadi, bagaimana?"

Sakura menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Ia sedang berpikir keras.

"Aku menyukai pantai," Sasuke menangkap adanya ekspresi sedih di sana. Namun, Sakura cepat-cepat menghapusnya dan mengganti dengan ekspresi biasa. "Mungkin, kita bisa menyewa penginapan di pinggir pantai untuk satu malam?"

"Hanya satu malam?"

Sakura mendengus. "Memang kau ingin berapa malam di sana?"

Sasuke menarik sudut bibirnya, menyeringai. "Kau bisa mengambil cuti satu minggu atau satu bulan untuk masalah ini. Kau juga butuh waktu untuk bersenang-senang."

Kini Sakura menampilkan wajah datarnya. "Konyol sekali kau ini. Aku tidak butuh waktu libur. Pekerjaan sangat menumpuk. Kalau kau mau, kau saja yang berlibur. Kau terlihat membutuhkan waktu untuk bersenang-senang." Sakura mengutip kata bersenang-senang dengan kedua jarinya.

Sasuke memutar matanya dan mendengus.

"Oke, aku akan menyewa penginapan terbaik di sana untuk tiga hari dua malam. Bagaimana?"

Sakura mendesah berat. Wajahnya yang putus asa berhasil membuat Sasuke tersenyum samar.

"Baiklah."

"Aku sudah berbicara dengan pihak bank untuk mendanai bisnismu," Sasuke mengeluarkan kartu nama dari balik saku jasnya. "Mereka menyetujuinya. Aku sudah menandatangani proposal yang diajukan Perusahaanmu. Nanti pihak bank dan anak buahku akan datang meminta tandatanganmu."

Sakura tersenyum puas. "Itu tidak masalah. Asalkan para pegawaiku selamat dari krisis ini, aku akan sangat senang."

"Aku ingin mengundang sahabatku dan kekasihnya, juga beberapa pegawaiku. Apa kau tidak keberatan?" tanya Sakura.

Sasuke terlihat berpikir sejenak. "Itu tidak masalah. Kupikir kau akan mengundang banyak orang nanti."

"Ini hanya pernikahan sementara. Kenapa harus? Kau juga bebas mengundang siapapun yang kau mau. Asalkan mereka tidak tahu yang sebenarnya, itu saja."

"Ya."

Sasuke bangun dari kursinya, ia bersiap untuk pergi dari ruangan Sakura. Namun, sebelum mencapai pintu, ia berbalik.

"Maukah kau menemaniku siang nanti untuk bertemu Ibuku?"

Sakura mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dengan senyum.

"Itu bukan masalah. Aku akan menemanimu."

.

.

Dan disinilah dia berada. Di ruang intensif sebuah rumah sakit swasta yang terkenal di Tokyo. Sasuke bukanlah orang kelas bawah, ia tidak main-main jika ini menyangkut kesehatan seseorang. Dan dengan mudahnya, ia meminta perawatan terbaik untuk sang Ibu, berapapun biayanya.

Sakura sendiri tidak terkejut dengan hal itu. Dia sudah bisa menebak bagaimana loyalnya Sasuke terhadap uang dan segala macamnya. Lelaki itu tidak terlihat berat menggerakan tangannya untuk hal semacam ini. Sakura sendiri pernah melihat Sasuke beberapa kali di koran kalau ia sering terlibat dengan acara amal dan sosial yang berkali-kali menyandang namanya sebagai donatut terbesar.

"Ibumu sedang tidur," Sakura melepas genggaman tangan mereka ketika Sasuke menariknya masuk ke dalam ruangan. Dokter mempersilakan mereka untuk menjenguk pasien selama setengah jam saja. "Aku tidak akan mengganggunya."

Sakura melihat bagaimana rapuhnya Ibu dari calon suaminya ini. Terbaring tak berdaya dengan alat-alat listrik yang menancap di seluruh tubuhnya. Rambutnya tampak memutih dengan beberapa di sisinya sudah terlihat habis karena ganasnya penyakit yang dideritanya.

Sasuke menyerah, ia meminta Sakura untuk duduk di kursi tunggu dan ia akan segera menyusulnya.

Sakura mengusap air mata yang menggenang di matanya. Ini mengingatkannya pada sang Ayah dulu. Dimana kecelakaan itu terjadi, sang Ayah langsung dilarikan di rumah sakit. Namun sayang, nyawanya tidak lagi bisa diselamatkan. Dia meninggal dengan kondisi yang sama sekali tidak Sakura bayangkan sebelumnya.

Tubuh kurus Nyonya Uchiha, membuat Sakura tersadar bagaimana ia bisa mengalami penyakit mematikan ini? Ia tidak pernah bertanya pada Sasuke sebelumnya. Jika, kondisinya seperti ini, apakah masih ada harapan untuk sembuh? Dan Sasuke, apakah ia berjuang sendirian untuk sang Ibu?

"Apa kau baik-baik saja?" Sakura menoleh ketika bahunya terasa ditepuk seseorang. Ia mengangguk, kedua matanya kembali beralih pada kaca jendela yang menghubungkan langsung antara ruang tunggu dan kamar intensif.

"Ibumu… sejak kapan dia menderita karena penyakit ini?" Sakura menoleh ketika Sasuke menatap penuh kesakitan pada sang Ibu yang kini tengah tertidur pulas. Lelaki itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya.

"Sudah lama."

Sakura tidak lagi berniat bertanya lebih jauh. Ini mungkin saja menyakitkan Sasuke karena melihat orang yang dicintainya tengah menderita dan masih berjuang melawan penyakitnya agar bisa sembuh. Ini sama saja melukainya. Sakura pernah ada di posisi yang sama.

"Dokter bilang, kemungkinan sembuh sangatlah kecil. Ibuku akan mengalami banyak komplikasi lagi. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jalan satu-satunya adalah operasi."

Sakura menoleh, "Kenapa tidak kau menyuruh dokter untuk melakukan operasi itu secepatnya?"

Sasuke hanya tersenyum lirih. "Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Sejak setahun yang lalu, aku pernah mendesak dokter untuk segera melakukan operasi. Tapi, kondisi Ibuku sangat tidak memungkinkan. Kemungkinan gagal akan jauh lebih besar."

Sakura kembali memalingkan wajahnya ke depan. Perlahan-lahan, mata yang terpejam itu terbuka. Sakura tersenyum lebar ketika melihat Ibu Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan genggaman di tangannya segera menyadarkannya. Sasuke kembali membawanya masuk ke dalam untuk menemui Ibunya.

"Ibu."

Sakura hanya diam ketika senyum wanita itu menghiasi wajah pucatnya. Sasuke tersenyum lebar ketika sang Ibu menggerakan tangannya untuk menyentuh wajah anaknya.

Sakura mengerutkan dahinya, mencoba mengenali siapa wanita yang Sasuke panggil Ibu ini. Wajahnya terlihat tidak asing untuknya. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

"Aku pernah melihatmu sebelumnya," Sakura menutup mulutnya tanpa sadar ketika pandangan mata Sasuke mengarah padanya. Ia menatap tak percaya ketika Ibu Sasuke memberikan senyum kecil padanya. "Kau pernah menyelamatkan hidupku waktu itu. Ya, aku yakin."

Wanita itu tersenyum lirih. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Sakura. "Halo, nak. Senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa kau baik-baik saja?" Suara seraknya berhasil meruntuhkan pertahanan Sakura. Ia hanya mengangguk dengan menahan mati-matian air matanya.

Sasuke terlihat bingung untuk beberapa lama. Namun, kemudian ia menarik tangan Sakura untuk duduk di sisi sang Ibu dan Sasuke mengalah untuk tetap berdiri.

"Ibumu pernah menyelamatkanku waktu itu. Aku sangat berterimakasih padanya. Tanpa dia, aku tidak akan hidup sampai sekarang." Sakura menggenggam telapak tangan wanita itu dengan lembut. Merasakan bagaimana aliran rasa dingin yang mengalir dari wanita itu ke tangannya.

Ibu Sasuke hanya bisa tersenyum. Ia sepertinya tidak mampu lagi untuk sekedar bersuara atau dia berusaha untuk bersuara namun tidak bisa.

Sasuke hanya mengangguk. Ia tidak lagi bertanya lebih lanjut.

"Ibu," panggil Sasuke. Mata kelam sayu itu beralih menatap sang anak yang kini menatapnya dengan penuh keseriusan. "Kami akan menikah."

Sang Ibu tampak terkejut. Ia membulatkan mulutnya dan kemudian berganti menjadi air mata yang menetes dari sudut matanya. "Benarkah? Kapan itu?"

Sakura tersenyum ketika tatapan mata kelam itu beralih menatapnya. Pancaran mata bahagia yang tidak bisa Sakura lupakan begitu kentara terlihat di matanya. Sasuke meliriknya, melihat bagaiamana bahagianya sang Ibu saat ini.

"Hari Minggu, sekitar dua hari lagi. Kami akan menikah di rumah pinggir pantai. Sesuai keinginan kekasihku," Sasuke berujar tenang tanpa mempedulikan raut wajah Sakura yang kebingungan. "Ibu bisa datang kalau Ibu sudah sembuh." Dan Sakura mendengar nada terluka yang Sasuke keluarkan ketika mengucapkannya.

Sang Ibu hanya bisa menangis dan Sakura semakin erat menggenggam tangannya. Sasuke memalingkan wajahnya yang memerah. Lelaki itu lebih menjadi perasa ketika berada di dekat sang Ibu. Sakura tidak menyadarinya.

"Semoga kalian bahagia. Aku akan berjuang sembuh untuk kalian. Aku akan hidup untuk melihat cucuku tumbuh." Lirihnya.

Sakura membeku di tempat duduknya. Ia hanya bisa tersenyum kaku ketika mata kelam yang berubah penuh harapan itu menatap matanya.

"Tentu saja. Kau harus sembuh. Kami ingin melihatmu sembuh dan bisa bergabung dengan kebahagiaan kami." Hanya itu yang bisa Sakura keluarkan sebagai jawaban.

Remasan di tangannya semakin kuat. Ibu Sasuke tidak lagi menangis. Ia hanya tersenyum, seakan-akan separuh bebannya sudah terangkat.

Sasuke benar, pernikahan ini memotivasi sang Ibu untuk sembuh dan kembali bersamanya. Sakura berpikir lebih jauh untuk membantunya, tidak ada salahnya jika ia mengorbankan sedikit waktu lagi demi kebahagiaan orang lain.

Sasuke memeluk bahunya dengan kuat. Sakura hanya bisa tersenyum ketika mata kelam milik Ibu Sasuke begitu bahagia menatapnya.

"Aku akan sembuh, aku janji." Itu kata-kata terakhirnya sebelum Sasuke mengajaknya untuk kembali ke rumah dan mereka berpamitan.

.

.

"Kau tidak bilang pernikahan itu berjalan tinggal dua hari lagi. Ini sangat mendadak, Sasuke, kau tahu?"

Sasuke masih fokus pada jalan besar di depannya. Ia sedang mengemudikan mobilnya dan Sasuke bersikeras untuk mengantarnya pulang meskipun Sakura menolaknya berkali-kali dan memilih untuk pulang dengan taksi.

"Ini mudah. Aku sudah mengaturnya," wajah lelaki itu datar seperti biasa. Sasuke yang dingin tidak tersentuh sudah kembali setelah mereka menginjakkan kaki keluar dari teras rumah sakit. Lelaki itu melirik Sakura dari sudut matanya. "Aku sudah menyebar undangannya. Semua sudah dipersiapkan, kau tidak perlu khawatir."

"Bahkan dengan surat perceraian?"

Sasuke sepenuhnya menatap ke arahnya. "Aku belum memikirkan sejauh itu. Itu akan menjadi urusan nanti."

Sakura mendesah berat. Ia menyendarkan pelipisnya pada kaca mobil penumpang dan tidak berkata apa-apa.

"Bagaimana kau mengenal Ibuku? Ini kebetulan atau memang sudah takdir?" tanyanya.

Sakura mendengus. Kemudian, ia tertawa. "Mungkin takdir. Tapi, aku tidak tahu," ia menoleh pada Sasuke yang masih fokus menyetir. "Aku mengenal Ibumu empat tahun lalu. Wajahnya sudah banyak berubah dari yang sebelumnya aku lihat. Aku masih tidak percaya dan shock sebenarnya, aku hanya bisa diam dan tidak tahu harus berkata apa lagi tadi. Aku minta maaf."

Sasuke hanya mengangkat bahunya.

"Ia pernah menemukanku sekarat di sungai. Aku masih sadar waktu itu, sampai dia menarikku dari sungai ke darat dan berteriak minta tolong. Dia mencari cara untuk menghentikan darah di pergelangan tanganku."

Sasuke mendengus, ia menginjak pedal rem saat lampu merah menyala dan menoleh pada Sakura yang kini menatap kosong ke arahnya. "Kau mencoba bunuh diri? Tebakanku benar."

"Ya, kau benar. Aku memotong pergelangan tanganku dengan silet yang aku sembunyikan di kamarku. Aku sudah berkali-kali memikirkannya, tapi selalu gagal. Aku masih sangat takut saat itu. Lalu, aku pergi ke penginapan milik Ayahku, aku pergi ke sungai dan mencoba untuk menenggelamkan diri di sana setelah memotong tanganku. Dan setelah itu, Ibumu menemukanku."

Sasuke kembali menginjak pedal gasnya. "Ibuku adalah pahlawan."

Sakura tersenyum lirih. "Ya, aku harus berterimakasih atau tidak, yang jelas dia benar-benar menyelamatkanku. Dia menungguku sampai aku dibawa ke rumah sakit. Aku tidak ingat apa-apa, Ayah yang menceritakannya padaku."

"Dimana Ayahmu?"

Sakura menghela napas panjang. "Dia tewas dalam kecelakaan mobil tiga tahun lalu."

Sasuke menoleh ke arah Sakura dengan wajah menyesal. "Maaf."

"Tidak apa, seharusnya kita saling terbuka satu sama lain." Sakura tersenyum ketika mata kelam itu kembali mengarah padanya.

"Ayahku mencalonkan diri untuk menjadi Perdana Menteri selanjutnya setelah kekuasaan Yujin habis," Sasuke memberhentikan mobilnya di depan rumah mungil dimana Sakura tinggal saat ini. "Ibuku tidak pernah menginginkan Ayahku menjadi anggota dewan sejak dulu. Mereka sering bertengkar. Dan entahlah, aku tidak tahu apa Ayahku yang menyebabkan semua ini terjadi."

Sakura membulatkan matanya, terkejut. "Kau putra tunggal Uchiha Fugaku? Ya Tuhan, seharusnya aku sadar sejak awal."

Sasuke tersenyum samar. "Kau tidak tahu? Tidak apa, anggaplah seperti itu. Aku tidak ingin berhubungan dengan Ayahku lagi beberapa waktu ini."

"Aku sudah tahu sekarang. Rasanya mustahil, tapi mengingat marga kalian sama, aku tidak terkejut." Sakura tersenyum lebar. Berusaha agar Sasuke tidak terlihat terluka.

"Terima kasih."

Sakura hendak membuka pintu mobil ketika Sasuke mengucapkan kalimat itu padanya secara spontan.

"Sama-sama," Sakura tersenyum tipis. "Aku juga berterima kasih, kau mau membantu menyelamatkan bisnisku."

"Aku tidak pernah melihat Ibuku seperti ini semenjak tiga tahun yang lalu."

Sakura mengulurkan tangannya hendak memegang tangan lelaki itu yang ada di atas kemudi. Namun, ia mengurungkannya. Ia kembali menarik tangannya dan menyunggingkan senyum.

"Tidak masalah. Prioritas kita saat ini adalah untuk kesembuhan Ibumu 'kan?"

Sasuke mengangguk singkat. Ia membiarkan Sakura turun dari mobilnya setelah mengucapkan kata terima kasih dan berlalu pergi.

Sakura menatap kosong mobil dimana Sasuke meninggalkannya. Masih tergambar dengan jelas bagaimana kondisi Ibunya yang membuatnya menjadi pribadi tidak tersentuh, dimana orang yang dicintainya menjadi satu-satunya alasan untuknya hidup. Ia mengerti, Sasuke juga memendam luka yang besar sama seperti dirinya.

.

.

"Uh, undangan mewah macam apa ini? Kita akan pergi dengan pesawat pribadi. It's cool." Ino berkata girang setelah Sakura duduk di kursinya. Sasuke menepati janjinya dengan menyebar undangan untuk para pegawainya dan juga sahabatnya. Dan apa ini? Mereka akan naik pesawat pribadi?

"Pesawat pribadi?" Sakura mengangkat sebelah alisnya.

Ino berdecak sebal, ia mencubit pipi Sakura gemas dan menunjukkan isi undangan itu pada Sakura.

"Calon suamimu benar-benar sangat kaya, Sakura. Sial, aku iri padamu." Canda Ino dengan tawa. Wanita itu terlihat lebih lepas sekarang. Keberhasilan mereka menutup kerugian dan hutang berhasil mengangkat beban berat dari pundak mereka. Sejujurnya, Sakura juga beruntung akan hal ini bisa mengenal Sasuke, yah walaupun berujung pada sandiwara.

"Oh, maaf," Ino melihat wajah Sakura yang sedih ketika ia menyebut kata calon suami dengan menggebu-gebu. Ino tahu, ini hanya pernikahan sandiwara dan ia tidak sepantasnya berbangga hati seperti itu.

"Apa Sai mengenal Sasuke?" tanya Sakura.

Ino mengangguk. "Ya, hanya sebatas pihak yang saling menguntungkan. Sasuke meminta bantuan Sai untuk keamanan di beberapa Perusahaan dan juga dirinya, itu saja. Tak heran kalau Sai menyuruh kita untuk meminta bantuannya ketika bisnis kita hampir bangkrut."

Sakura mengangguk. Ia membaca isi undangan itu. Semua fasilitas sudah disediakan Sasuke dengan sempurna. Ia bahkan tidak mempercayai semuanya. Pesawat pribadi, penginapan untuk para tamu dan segala keperluan sudah diatur dengan baik.

"Kau tidak meminta Sai untuk melamarmu?" goda Sakura yang dibalas delikan tajam dari Ino.

"Sebenarnya, Sai juga bisa melakukan ini. Tapi, aku tidak pernah berpikir sejauh itu," Ino mendesah berat. "Ngomong-ngomong, Sai tidak punya pesawat pribadi. Dia tidak sekaya Uchiha Sasuke."

"Kekayaan tidak berarti apa-apa jika dirinya sendiri tetap tenggelam dalam rasa kesepian dan luka, Ino. Ini semua hanya tipuan. Mengira kalau orang itu bahagia, padahal tidak." Sakura tersenyum ketika mata cerah Ino seolah mencerna perkataannya.

"Apa maksudmu?"

Sakura menggeleng dengan senyumnya. "Bukan apa-apa. Seharusnya, kau berpikir apakah Sai bahagia denganmu atau tidak?"

Ino mendengus keras-keras. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain ketika gelak tawa Sakura terdengar.

"Aku hanya bercanda, Ino. Kalian sudah dua tahun bersama, apalagi yang harus aku tanyakan selain kalimat 'kapan kalian menikah?' atau 'apakah kalian bahagia bersama?'" Sakura tertawa ketika wajah Ino yang merah padam menjadi respon pertanyaannya.

"Sai ingin fokus dengan pekerjaannya. Begitu juga aku, aku ingin hidup bebas sebelum menjadi Ibu, Sakura."

Lalu, mereka berdua tertawa bersama.

.

.

Sasuke mengepalkan tinjunya pada dua pria yang berhasil mengikutinya sampai sejauh ini untuk memata-matainya. Ini suruhan sang Ayah, Sasuke yakin itu.

"Brengsek! Jangan ikuti aku lagi atau kubunuh kalian!" Sasuke menggeram ketika satu buah pukulan kembali mendarat ke wajah mereka berdua yang sudah terkapar jatuh tak berdaya.

"Kami hanya diutus oleh bos besar, Tuan. Kami tidak bermaksud apa-apa," mereka mengangkat kedua tangannya, menyerah pada Sasuke yang memasang wajah kejam. "Ampuni kami, Tuan, ampuni. Kami tidak akan berkata apa-apa lagi pada bos besar setelah ini."

Sasuke menyembunyikan kepalan tangannya di balik saku celananya. Rasa sakit akibat pukulan pada rahangnya masih terasa sampai sekarang. Dan mereka berdua yang bermain-main sudah mendapatkan akibatnya.

"Bereskan ini, Juugo."

Sasuke mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Wajahnya yang keras telah melunak ketika mendengar nada suara yang kini menjawab teleponnya. Ia berbalik pergi, meninggalkan jeritan kesakitan yang menggema di ruangan ketika ia pergi.

.

.

Sakura membuka pintu rumahnya ketika bunyi bel mengganggu acara makan siangnya. Ia mengerutkan dahinya, menemukan Sasuke yang berdiri bersandar pada mobilnya dengan sorot mata kosong.

"Apa yang terjadi?" Sakura mendorong pagarnya agar Sasuke bisa masuk ke dalam rumahnya. Ia terkejut ketika menemukan adanya luka di rahang lelaki itu dan Sasuke memalingkan wajahnya ketika Sakura melihatnya.

"Apa yang terjadi? Kau baru saja bertengkar dengan siapa?" tanyanya menuntut.

Sasuke mendengus. "Bukan urusanmu."

Sakura menghela napas pendek. Ia membiarkan Sasuke mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Sasuke mengambil tempat untuk duduk di ruang tamu tanpa memperhatikan bagaimana sekitarnya. Rumah Sakura jauh lebih kecil dibanding istana yang ia bangun di pinggir kota. Sasuke bisa menyadarinya ketika ia masuk. Namun, hawa yang terasa sangatlah berbeda. Rasa hangat dan nyaman bercampur menyusup ke dalam hatinya.

Sakura bergegas pergi untuk mengambil kotak obat yang ia simpan di dalam kamarnya. Sasuke mengikuti langkahnya yang perlahan tapi pasti mendekatinya dengan sekotak obat di tangannya.

"Kau mau mengobati dirimu sendiri atau membutuhkan bantuanku?" Sakura menaruh kotak obat itu di atas meja di hadapan Sasuke. Lelaki itu masih diam. Ia meringis ketika memegang rahang kirinya yang memerah.

Sasuke masih tetap pada kebisuannya. Lelaki itu berkali-kali melirik Sakura seolah meminta bantuannya. Sakura mengangkat tangannya menyerah, ia menarik meja agar bisa duduk di sana dan mengambil kotak itu lalu memindahkannya di sisinya.

"Jelas sekali kau dipukul," Sakura mengambil kapas dengan cairan antiseptic dan alkohol yang ia campurkan jadi satu di sana. "Siapa yang memukulmu?" Dan menekan dengan hati-hati pada luka memarnya.

Sasuke masih diam sampai Sakura menyelesaikan pekerjaannya. Sakura menutup kotak obatnya, menatap Sasuke dengan pandangan lirihnya.

"Kuharap kau tidak mengalami hal ini lagi," katanya dan bergerak pergi untuk menaruh kembali kotak itu ke tempatnya.

Sasuke hanya mendesah setelah mengusap wajahnya. Ia menunggu Sakura yang kini tengah membersihkan meja makan dan mencuci piringnya. Ia memaksa Sakura untuk mengambil jam setengah hari dan menyerahkan pada Ino sebagian dari pekerjaannya. Sasuke mengajaknya pergi ke suatu tempat dan Sakura tidak tahu kemana ia akan pergi.

.

.

"Setelah ini aku akan mengantarmu kembali ke rumah untuk mengemasi barang-barangmu. Kau butuh untuk membawa beberapa pakaian untuk nanti."

Sasuke menepikan mobilnya di sebuah butik besar yang ada di pinggir jalan. Butik ini masuk ke dalam kawasan pusat perbelanjaan yang di setiap sisi jalan terdapat toko-toko pakaian dan pernak-pernik berbau kemewahan yang Sakura taksir harganya mampu menguras dompetnya.

"Kau mengajakku kemari untuk apa?"

Sasuke hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, ia melepas sabuk pengamannya dan membukakan pintu mobil untuk Sakura ketika wanita itu keluar.

"Ini kejutan, tapi yang jelas kau sudah tahu dimana kau berada sekarang." Sasuke mengangkat alisnya ketika Sakura tersenyum lebar padanya.

"Bagus. Ini bukan lagi kejutan."

Sasuke menarik tangannya masuk ke dalam butik yang berisikan pakaian khusus pengantin. Banyak gaun-gaun cantik rancangan dari sang desainer yang dipajang di kaca depan. Sakura tidak sempat berkedip ketika melihat sebuah gaun cantik yang dipajang di dalam ruangan seakan itu mengundangnya untuk mendekat.

"Ini cantik," gumamnya tanpa sadar. Sasuke berdiri di belakangnya. Ia meninggalkan Sakura sendiri saat pegawai wanita itu mempersilakan Sasuke untuk keluar ruangan dan menunggu di ruang tunggu.

"Ini untukmu." Pegawai wanita itu mendekati Sakura yang masih mengagumi gaun pengantinnya. Sakura melirik wanita dengan kemeja putih dan rok hitam selututnya dengan pandangan bingung.

"Benarkah? Aku tidak pernah merasa memesan ini sebelumnya," Sakura mengerutkan dahinya sekilas, "oh, aku tahu. Maaf." Lanjutnya sembari tersenyum menyesal.

"Apa kau ingin mencobanya?" tawarnya.

Sakura menatap sekali lagi gaun itu dengan senyum. Ia menggeleng kecil sebagai jawaban. "Aku akan memakainya untuk kejutan nanti."

Pegawai itu segera pergi meninggalkan Sakura yang keluar ruangan menyusul Sasuke yang tengah duduk di sana sembari memutar-mutar ponsel di atas pangkuannya.

"Kukira kau keluar dengan gaunmu," Sasuke menatap datar ketika Sakura keluar tanpa memakai gaunnya. Wanita itu hanya tersenyum kemudian mengangkat bahunya. "Jangan harap kau melihatnya sekarang."

Sasuke menyeringai lebar. "Oh, kau ingin memberiku kejutan untuk nanti? Baiklah, aku akan sabar menantinya."

Sakura memutar matanya dan kemudian mengikuti Sasuke pergi.

.

.

"Bagaimana kau bisa menyewa pesawat pribadi hanya untuk tamu undangan?" ujar Sakura tak percaya.

Sasuke mengangkat alisnya. "Menyewa? Aku tidak menyewa pesawat untuk itu."

"Seharusnya, kalau kau keberatan, kau bisa menggantinya di tempat lain di dekat-dekat sini. Kau tidak perlu bersusah payah untuk segalanya." Sakura memutar-mutar gelas kopinya. Ia baru meneguk separuh dari gelasnya.

"Tidak apa, ini menyenangkan. Akan banyak orang yang membicarakan ini," Sasuke tersenyum misterius ketika tatapan mereka bertemu. "Aku hanya mengundang sedikit orang untuk nanti. Jadi, total tamu undangan hanya berjumlah lima puluh orang."

"Itu lumayan."

Sasuke mengangguk. "Ya."

"Kau mengenal Sai juga?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Ya."

"Dan kau berteman baik dengan kekasihnya. Itu kebetulan yang kedua." Jawab Sasuke enteng dengan jemarinya yang membentuk huruf v.

Sakura mengangguk. "Kau benar juga."

"Ngomong-ngomong, pesawat yang akan membawa para tamu milikku. Aku tidak menyewa pesawat untuk membawa tamu kita."

Sakura menghela napas. "Lalu, kau pergi akan menggunakan pesawat yang sama?"

Sasuke menyeringai. "Tentu saja tidak. Kita berdua akan naik di pesawat yang berbeda malam ini."

.

.

Sakura meminta pelayan penginapan untuk membawa koper dan tasnya ke dalam ruangan. Ia memilih untuk tidak sekamar dengan Sasuke hari ini dan ia akan membayar tagihan sendiri untuk kamar yang berbeda. Walaupun, Sasuke akan bersikeras untuk menolaknya.

Sakura membawa pakaian seadanya di dalam kopernya. Hanya beberapa potong gaun pendek dengan celana kain dan kaus. Pakaian musim panas dan beberapa pakaian dalam juga tidak lupa ia bawa.

Sebenarnya, Sakura sendiri penasaran dengan tamu yang akan diundang Sasuke besok. Sasuke sendiri sudah tahu siapa tamu terpilih yang Sakura usulkan padanya. Sedangkan Sasuke tidak berkata apa-apa tentang tamunya. Mungkinkah, ini sebatas teman kerjanya saja atau ada yang lain?

Sakura pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ia tidak sadar kalau sejak tadi Sasuke duduk di sana dan mengamatinya dalam kegelapan. Sampai ketika ia menyalakan lampu ruangan, ia baru menyadarinya.

"Demi Tuhan, aku akan melemparkanmu gelas ini kalau kau tetap bersikap seperti ini." Sakura menggenggam gelasnya erat-erat dan debaran jantungnya menggila. Ia tentu saja takut, takut jika sesuatu akan menyakitinya.

Sasuke hanya tersenyum dan kemudian lelaki itu menarik gelas dari raknya, mengambil air dari kulkas. "Kenapa? Aku tidak salah apa-apa."

Sakura memutar matanya, ia menaruh gelasnya kasar dan bersiap untuk kembali ke kamar sampai suara Sasuke menghentikan langkahnya.

"Seberapa berartinya Ayah dan sahabatmu itu untukmu?"

Sakura menggaruk lengannya yang tidak gatal. Ia memutar tubuhnya, menoleh pada Sasuke yang kembali duduk dengan tenang. Menunggu jawabannya.

"Sangat berarti. Aku tidak bisa menjelaskannya secara panjang di sini. Lain kali saja."

Sasuke hanya diam ketika Sakura kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. Tidak lupa menguncinya dari dalam.

.

.

"Aku bersedia."

Dan ucapan serentak dari pasangan itu membuat para tamu yang datang bertepuk tangan meriah. Meski tidak seperti pernikahan pada umumnya, Sasuke sudah mengaturnya sedemikian rupa hingga terlihat mewah dan elegan secara bersamaan.

Seperti pernikahan sesungguhnya yang Sakura impikan selama ini.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura yang kini merona merah. Sasuke menarik tangannya agar tidak menjauh dan mendaratkan sebuah kecupan di sudut bibirnya lalu menariknya menjauh.

Sasuke memberikannya senyum samar sebelum riuh tepuk tangan kembali terdengar.

Para tamu sedang duduk di bangku masing-masing untuk menunggu hidangan mereka. Sakura sendiri tengah duduk sembari memandang ombak yang bergulung-gulung rendah mendekati daratan. Ia ingin sekali melepas gaunnya dan berlari ke sana, bermain-main dengan air laut untuk melepas beban yang ia tanggung selama ini.

Ino mendekatinya dengan senyum merekah. Sakura tidak tahu mengapa Ino sebahagia ini.

"Sakura, kalian benar-benar pasangan serasi." Ino kembali memeluknya erat hingga Sakura merasa sesak. Wanita itu tersenyum lebar. Pakaian yang Ino kenakan pastilah sangat cocok untuknya. Sakura memuji bagaimana cantiknya Ino saat ini.

"Kau lihat," Sakura mengikuti arah telunjuk Ino yang mengarah pada sosok laki-laki berjas yang tengah meminum gelas anggurnya. "Sejak tadi dia memperhatikanmu terus, Sakura. Seharusnya kau sadar."

Sakura memutar matanya. "Sasuke? Tidak, Ino. Aku sadar sejak tadi. Tapi, aku merasa biasa saja."

Ino mendengus. "Kau benar-benar, ya, tidak merasa malu atau gugup?"

"Sedikit." Sakura akhirnya menyerah ketika tatapan Ino yang mendesak membuatnya mengeluarkan kalimat itu. Dan lihatlah, Ino terlihat tersenyum puas.

"Sasuke adalah seniormu, dia berteman dengan Karin?" tanya Ino ketika Sakura mengajaknya berdiri di pinggir pantai setelah melepas sepatunya.

"Ya. Seingatku mereka adalah teman sekelas."

Ino mengangguk. Ia melirik Sai yang kini duduk menyantap salad di mangkuknya. Para tamu satu-persatu kembali ke penginapan untuk beristirahat. Menyisakan beberapa dari mereka yang masih tinggal untuk menikmati udara pantai.

"Ayo, kau harus mencoba minuman dari kelapa ini. Apa perlu ku ambilkan?" Ino mengangkat gelas yang berisi air kelapa murni yang diberi es di dalamnya. Sakura menggeleng, ia bergerak untuk mengambil minuman itu dari meja yang sudah disediakan.

Sasuke sedang pergi sebentar dan Sakura tidak melihatnya sejak tadi. Ino masih menemaninya, wanita itu rela meninggalkan Sai yang tampaknya sedang merajuk karena kekasihnya meninggalkannya sendiri di acara pesta ini.

"Hai, Sakura. Maaf aku terlambat."

Sakura memutar tubuhnya ketika mendengar suara lembut namun terdengar mematikan di telinganya. Ia mendongak, mendapati Karin tengah berdiri dengan senyumnya dan pakaian pestanya yang sangat cocok di tubuhnya.

Ino menutup mulutnya yang terbuka. Ia melirik takut-takut ke arah Sakura lalu bergantian pada Karin yang kini mulai mendekat.

"Jangan mendekat!" teriak Sakura.

Karin hanya tersenyum. Sakura tidak bisa mengerti senyum apa yang diberikan Karin untuknya saat ini.

"Aku ikut senang ketika undangan pernikahanmu sampai ke rumahku. Sasuke yang memberikannya. Kami dulu teman dekat, Sakura, kalau kau tidak tahu itu."

Tangan Sakura bergetar memegang gelas minumannya. Ino berusaha memegang bahunya agar Sakura tidak terjatuh. Sorot matanya berubah kosong ketika perlahan-lahan Karin mulai mendekat.

"Semenjak pelepasan, aku dan Sasuke tidak lagi berkomunikasi. Dia teman baikku dulu, kami sering bermain bersama dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Sepertinya, Sasuke tidak mengetahui kalau aku ini sepupumu, ya, Sakura?"

Ino menjauh ketika ia melihat Sasuke mendekat ke arah mereka. Tatapan lelaki itu terlihat bingung saat Sakura melangkah mundur untuk tidak berdekatan dengan Karin. Ino masih setia bersama Sakura yang seakan bersiap untuk melempar gelasnya.

"Kenapa kau harus datang, Karin? Kau bukan saudaraku lagi, bukan. Kau yang bilang itu padaku!" Bentak Sakura.

Sasuke mendekatinya dengan berlari. Ia memegang lengan istrinya ketika Sakura semakin lama beringsut mundur. Karin masih dengan santainya mendekat, ia tersenyum ketika tatapan Sasuke mengarah padanya.

"Oh, Sasuke, teman lamaku! Teman-teman menanyakan kabar bos besar ini."

PRAAAANG

Ino menutup mulutnya ketika Sakura memecahkan gelas minuman hingga melukai tangannya dan berdarah. Sakura masih menatap Karin dengan pandangan marahnya. Ia tidak memedulikan rasa perih yang menjalar dari telapak tangannya.

"Sial, Sakura, apa yang kau lakukan?" Sasuke berkata lirih sembari berlari mengambil kain bersih agar darah yang mengalir itu terhenti dan tidak menyebabkan infeksi yang berlanjut.

Karin masih setia berdiri di sana untuk melihat apa yang terjadi. Sasuke mengalihkan pandangannya pada Karin, membentak wanita itu. "Pergi dari sini, Karin! Bilang pada penjaga di depan untuk membelikanmu tiket kembali. Aku yang akan membayar ganti ruginya."

Wajah Karin tampak memerah. "Aku kemari karena undangan itu dan juga untuk menyampaikan salam dari teman-teman kita, Sasuke!" Balasnya keras.

"Pergi. Aku bilang pergi." Napas Sasuke memburu seiring langkah Karin yang beringsut mundur dan keluar dari area pantai.

"Kau baik-baik saja?" Sakura mendongak, menatap mata suaminya yang khawatir ketika menatapnya.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih."

Ino membiarkan Sakura yang pergi ke penginapan bersama Sasuke yang menuntunnya. Sai perlahan-lahan mendekatinya, wajah pucat lelaki itu berkali-kali menatap pada sosok Karin yang kini menghilang.

Ino menatap ke arahnya. Menyadari raut wajah kekasihnya yang terlihat aneh di matanya.

"Ada apa?"

Sai menoleh untuk menatap mata biru kekasihnya. Ia mendesah berat. "Aku berpikir kalau Karin menjadi dalang dibalik kematian Tuan Kizashi dan mengenai video itu… entahlah, itu hanya opiniku saja."

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

Author Note:

Gajanji sebenarnya bakalan sampai berapa chapter hwhwhw. Diusahakan tetap sampai enam atau lima atau berapa… utang saya banyak hu hu.

Anw, yang kenapa nanya judulnya dikasih Chandelier hmm kenapa ya, saya spontan aja nulis judulnya karena emang kebetulan lagi denger lagunya dan ini bukan song fic.

Jadi, saran dan kritik dan teman-temannya ditunggu.

Sampai jumpaa!

Lots of Love

Delevingne