BEAUTIFUL DISASTER

Kehancuran Yang Indah

.

.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

Rated: M

.

A story by emerallized onyxta

.

Warning: Typo, Badchara, OOC? Darkfic, and many more.

.

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, maybe Angst?

.

Don't like don't read. I warn you.

.

.

.


I could show you incredible things. Magic, madness, heaven, sin. Saw you there, and I thought 'Oh My God, look at that face, you look like, my next mistake. Love's a game, wanna play?'

Blank Space, Taylor Swift


.

.

.

Sakura mengambil beberapa peralatan medis yang telah disediakan oleh pelayan berambut coklat yang sedari tadi menemaninya. Ia mengobati pengawal bertubuh besar itu perlahan. Ia meringis melihat beberapa luka parah akibat hantaman keras yang didapatnya. Banyak luka robekan di beberapa sudut bibir dan pelipis.

Dengan tangan handalnya ia menahan aliran darah itu keluar. Menambahkan beberapa obat antiseptic, lalu mulai menempelkannya pada wajah yang terluka.

Pengawal itu meringis merasakan perih akibat pukulan sang majikan. "Apakah masih sakit?" Sakura bertanya khawatir. Benar-benar pemuda itu tak tahu rasa belas kasihan. Pria ini kan pengawalnya sendiri, begitu pikirnya.

"Saya sudah tidak apa, Nyonya. Terima kasih." ucapnya sambil memegang kapas yang dilepaskan Sakura.

"Nyonya? Jangan panggil aku seperti itu," balas Sakura sambil merapikan beberapa obat medis dan menaruhnya di tempat seperti sebelumnya.

"Tapi tidak lama lagi Nyonya akan menikah dengan Tuan."

Sakura membuang napasnya kasar. Menikah? Ia saja tak pernah membayangkan pernikahan sedikitpun. "Mungkin aku akan membatalkannya. Dengan caraku sendiri. Aku takkan melibatkan kalian lagi."

Sakura mengedarkan pandangannya ke beberapa penjuru ruang kamar. Ada sekitar lima pengawal sedang mengawasinya. Pemuda itu tak main-main rupanya. Penjagaannya makin diperketat.

"Sampai kapanpun anda tidak akan bisa kabur. Tuan Sasuke selalu memegang ucapannya." Sakura menatap tajam pada pelayan berambut coklat yang menjawab ucapannya. "Aku bisa. Memang siapa dia? Aku bukan milik siapa-siapa. Aku sendiri tak tahu mengapa aku dibawa kesini. Apa alasan mereka membawaku kemari?" tanyanya bertubi-tubi.

Pelayan tadi menggeleng cepat sebagai jawaban. Sakura berdiri, melangkahkan kaki jenjangnya kearah jendela yang langsung berhadapan dengan pekarangan depan rumah. Ia menatap kosong pada gerbang besar yang seolah mengejek dirinya. Huh.

.

.

"Apa kau gila?!"

Teriakan dari wanita berambut perak panjang itu membuat para pengunjung café itu menoleh pada dirinya dengan tatapan bertanya. Ia memilih untuk mengabaikannya dan memandang marah pada pemuda raven yang juga sedang menatap dalam padanya.

"Kupikir kau tahu," jawabnya tak acuh. Tangannya terlipat di depan dada dengan wajah datar andalannya. Ia memandang jam yang tergantung diatas pintu masuk café. Menunjukkan pukul 5 sore.

"Kau benar-benar gila, Sasuke! Kau bilang kau akan menentang semua perkataan kakek tua itu? Ternyata kau sama saja. Menyetujui pernikahan ini dan memilih berpisah dariku," paparnya panjang lebar. Matanya terlihat lebih redup dari sebelumnya.

Sasuke menghela napas kasar dan kembali mata kelamnya menatap pada wanita yang berusaha menahan tangisnya agar tak terlihat olehnya. "Tidak. Kita tidak akan berpisah sampai nanti. Aku tidak akan melepasmu."

Wanita itu tersenyum menanggapi jawaban dari pemuda yang sudah menjadi tunangannya selama empat tahun itu. Ia menggenggam erat jemari kekar milik pemudanya.

"Aku mencintaimu." lirihnya.

"Hn. Aku juga."

.

.

Sakura termenung memandangi pekarangan belakang mansion dengan tatapan kosongnya. Ia lelah. Sangat lelah. Berusaha mencari celah untuk pergi dari sini. Tapi pada kenyataannya, ia selalu gagal. Ada saja para pengawal iblis itu melihatnya. Entah mencoba dengan memanjat pagar tinggi belakang mansion dan berpura-pura menjadi pelayan yang hendak membuang sampah ke luar gerbang. Tetap saja ia dikenali.

"Aku harus bagaimana?" gumamnya frustasi.

Ia memejamkan mata sejenak lalu memandang kearah kolam renang berbentuk persegi panjang tepat dibawah balkon dimana ia berdiri. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati pemuda yang dibencinya sedang menatap dirinya dengan tatapan meremehkan. Seringai mulai tercipta di wajah tampannya. Ingin rasanya ia menampar wajah itu lalu mendorongnya hingga kepalanya terbentur pembatas kolam lalu mati.

"Jika kau berpikir untuk lari dari sini, kau takkan bisa."

Sakura masih bergelut dengan pikirannya. Tak mendengar jika pemuda di depannya sedang berbicara pada dirinya.

"Pengawalku melapor kalau kau mencoba kabur, begitu?"

Sakura mendengus menahan marah. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia berusaha untuk menahan agar tak segera menampar bahkan memukul wajah itu dengan tangannya.

"Kau pikir kau mau apa? Aku tak mau menikah denganmu," ia melirik kearah kolam renang bening hingga dasarnya terlihat. "Bahkan jika aku mati disini. Setidaknya itu lebih baik."

Seringai meremehkan terbentuk di wajah tampannya. Pemuda itu tetap tak bergeming pada tempatnya. Ia tak takut pada ancaman kecil yang dilontarkan gadis di hadapannya. Mata kelamnya berkilat sesaat saat ia menyadari bahwa tubuh gadis berambut merah muda itu bergetar dengan mata hijaunya masih memandang tak gentar padanya.

"Hn. Kau mau melakukan percobaan bunuh diri? Silahkan. Aku takkan mencegahmu," katanya.

Sakura menelan ludahnya cepat. Tenggorokannya terasa kering. Keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Ia mulai melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak pembatas besi berwarna cokelat. Mata hijaunya menatap tajam pada mata kelam yang masih menatapnya datar. Tanpa ekspresi dan emosi apapun didalamnya.

Kakinya mulai menaiki besi-besi kecil secara ragu. Ia memejamkan matanya sejenak. Berdoa pada Tuhan semoga jalan yang diambilnya benar. Ia meringis kecil ketika merasakan tatapan mengintimidasi dari balik punggungnya. Tidak. Ia tidak akan menoleh ke belakang. Ia sudah memantapkan hatinya. Ia akan melakukan cara apapun untuk pergi dari sini.

Dan pada akhirnya—

BYUR

—suara dirinya jatuh ke dalam kolam terdengar keras.

.

.

Sakura tahu, sangat tahu dirinya tak bisa berenang. Dalam kondisi seperti ini ia tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya hampir menyentuh dasar kolam jika tak ada tangan lain yang merengkuhnya dan membawanya menuju ke tepi kolam.

Ia merasakan napasnya hampir berhenti sebentar lagi. Matanya tak mampu untuk terbuka. Terasa berat.

Ya Tuhan, aku akan benar-benar mati.

"Bangun, bodoh!" samar-samar ia mendengar suara serak dari seorang pemuda di sampingnya. Ia membuka matanya perlahan. Masih terasa berat. Mungkin dirinya terlalu banyak meminum air kolam tersebut hingga seperti ini.

"Gadis keras kepala! Kau pikir kau lakukan apa tadi? Hah? Kau tak bisa berenang!"

Sakura memegang kepalanya yang berdenyut sakit mendengar teriakan marah dari seseorang di sampingnya. Ia mencoba untuk bangun tapi tubuhnya masih terasa kaku.

"Kakashi, bawa dia ke kamarnya!" teriaknya.

Yang dipanggil Kakashi segera berdiri hormat dan menuntun Sakura menuju kamar pribadinya.

.

.

"Nyonya benar-benar ingin melakukan percobaan bunuh diri," gumam pelayan berambut coklat yang berdiri hormat dengan kepalanya sedikit tertunduk.

Sakura membuang napas lelah. Lagi-lagi dirinya gagal dan harus terpenjara di dalam kamar mewah di dalam istana yang menurutnya bermetamorfosis menjadi penjara mewah. Sial.

"Mari saya bantu untuk membersihkan diri. Setelah ini, Nyonya harus segera bersiap-siap bertemu beberapa tamu."

Sakura mendongak menatap wajah penuh ramah pelayannya. Biarlah kali ini dirinya yang kalah. Hari ini begitu melelahkan.

.

.

"Astaga, aku tak pernah tahu kalau calon istri Tuan akan cantik seperti ini!" puji wanita cantik bermata merah sambil melepas kacamata yang terpasang apik di wajahnya. Dirinya menatap penuh kagum pada gadis di depannya. Tangan handalnya mulai menata cepat rambut panjang milik Sakura dan mengaturnya agar semakin terlihat rapi.

"Kau siapa?"

Wanita itu menghentikan kegiatannya sebentar dan menoleh pada cermin besar di depannya. Mata merah miliknya bertemu pandang dengan mata hijau teduh yang tengah menatapnya ingin tahu.

Ia berdeham sebentar, "Aku, Karin. Aku bekerja untuk Tuan Sasuke sekitar tiga tahun. Salam kenal, nona. Nama anda siapa?"

Sakura tersenyum tipis. Ia mengibaskan tangan kirinya ke udara sesaat. "Tak usah memanggilku seformal itu. Kupikir kita seumuran. Aku, Sakura Haruno."

Karin tersenyum manis. Tangannya mulai bekerja untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Senang bertemu denganmu, Sakura," ujarnya ramah.

"Aku juga, Karin." jawabnya disertai senyuman manis.

.

.

"Sakura, diantara tiga dress ini kau harus memilih salah satu. Ini adalah dress terbaik yang kubawa kesini untukmu," paparnya sambil menaruh tiga dress selutut yang dipegangnya ke ranjang besar di sampingnya.

Sakura menatap terkejut pada ketiga dress yang dibawa untuknya. Astaga. Ini terlalu mewah. Ia tak bisa memilihnya.

"Aku tak bisa memilihnya. Semuanya bagus menurutku," jawabnya datar.

Karin menghela napas pelan. Ia mengambil salah satu dress berwarna merah muda. "Ini akan cocok untukmu. Segera berganti, Sakura. Aku akan tunggu disini." Sambil menyerahkan dress tersebut pada Sakura.

Tak butuh waktu lama. Sakura sudah keluar dengan menggunakan dress cantik merah muda yang dipilih untuknya. Sangat pas dengan tubuhnya yang mungil. Kemudian, ia memakai sepatu berhak tinggi berwarna putih sebagai pelengkapnya. Benar-benar cocok untuknya.

"Benar-benar cantik!" girang Karin. Dirinya menatap penuh kagum pada gadis di depannya. Sasuke memang tak salah memilih pendamping, gumamnya.

"Mari, aku akan mememperbaiki beberapa riasan wajahmu," Sakura berjalan menuju cermin yang sudah dirubah menjadi meja rias pribadi untuknya.

Sakura menatap lekat pada cermin di hadapannya. Mata hijaunya kemudian melirik pada wanita yang sedang memperbaiki sanggulan pada rambut miliknya.

"Karin? Bolehkah aku tanya sesuatu?" tanyanya. Karin mengangguk cepat dengan kedua tangannya masih bekerja memperbaiki hiasan rambut dirinya yang sedikit berantakan.

"Kau bekerja untuk—Sakura terdiam sesaat. Mengambil napas panjang. Ia merasa benci untuk mengatakan nama pemuda yang menyekapnya disini—Sasuke pada bagian apa?"

Karin tersenyum menanggapi lalu berjalan memutar hingga tubuhnya berada tepat di depan tubuh Sakura.

"Aku bekerja sebagai pengelola butik dan salon miliknya. Ia sangat baik. Menempatiku di bagian manager. Otomatis, aku yang mengatur semua kegiatan di tempat tersebut."

Sakura menatap datar pada wanita yang sedang memegang bedak untuk memoleskan pada wajahnya. "Salon dan butik? Ia punya salon dan butik?"

Karin mengangguk setuju. Tangannya mulai bergerak menyapu wajah cantik di depannya perlahan menggunakan bedak yang digenggamnya.

"Kupikir kau tahu. Tuan mempunyai beberapa salon dan butik ternama di kota ini. Ya, itu hanya sebagian kecil dari miliknya. Ia juga mempunyai beberapa usaha restaurant ternama di kota ini. Aku sendiri lupa ada berapa banyak perusahaan kecil yang ia miliki disamping ia harus mengurus perusahaan besarnya itu."

"Ia sangat kaya, Sakura. Aku sendiri tak tahu berapa banyak uang yang dimilikinya," lanjutnya.

Sakura mengangguk setuju. Ia menatap dirinya di cermin. Sudah satu jam berlalu dan kini dirinya sudah selesai berdandan. Ia berdiri. Memandang penuh kagum pada dirinya sendiri.

"Kau cantik sekali! Ahh, aku takkan bosan memuji dirimu, Sakura," gumamnya. Ia merapikan alat-alat make-up miliknya lalu menaruhnya pada satu tempat besar yang dibawanya.

" Terima kasih." Sakura mengulurkan tangan mungilnya sambil tersenyum manis. Karin segera membalasnya dan tersenyum tipis.

"Aku harus kembali. Ada beberapa pekerjaan yang harus kukerjakan. Semoga harimu menyenangkan, Sakura! Kuharap kita bisa bertemu lagi."

Sakura mengangguk senang dan melambaikan tangannya pada perias—yang kini menjadi temannya hingga mata hijaunya sudah tak menangkap sosok yang sudah pergi dibalik pintu besar kamarnya.

.

.

"Selamat malam, Nyonya. Saatnya untuk turun. Beberapa tamu sudah datang. Anda ditunggu Tuan dibawah." Kakashi menunduk hormat pada gadis yang duduk melamun di samping tempat tidurnya. Sakura segera mengangguk dan pergi mengikuti pria berambut perak yang berjalan di depannya.

Sakura menatap tak percaya pada beberapa tamu yang hadir. Sebagian disana ada yang dikenalnya! Demi Tuhan, apa yang harus ia lakukan?

Ia meneguk ludahnya kasar. Saat ini tatapan para tamu sedang tertuju padanya serta pemuda berambut raven yang juga menatapnya intens. Sial. Ia tak bisa ditatap seperti ini. Tersenyum kikuk sebagai respon, ia berjalan menuju sofa besar melingkar berwarna putih di tengah ruangan.

Sakura melotot tajam pada pemuda yang sedari tadi tak ingin dilihatnya berjalan ke arahnya. Tangannya dimasukkan pada saku celananya. Ia sangat tampan. Memakai kemeja putih serta jas hitam ditambah celana bahan berwarna hitam yang tak ayal membuatnya semakin tampan.

"Apa?" ketusnya. Sakura bisa merasakan pandangan mata para tamu yang hadir sekarang tertuju padanya. Ia merasa tak nyaman ditatap seperti ini.

Sasuke menatap datar dirinya. Tubuhnya berbalik meninggalkan Sakura yang termenung disana. Sakura mengerti. Sasuke menyuruhnya untuk mengikutinya. Ia melangkahkan kaki jenjangnya pada meja makan besar yang sudah disiapkan dengan berbagai macam makanan yang tersaji disana.

Sasuke duduk di kursi utama yang langsung menghadap pada para tamunya. Sakura mengikutinya untuk duduk tepat di sebelah kanannya. Ia menunduk menyembunyikan rasa tak nyamannya. Beberapa pasang mata masih menatapnya hingga bunyi kursi ditarik membuyarkan semuanya.

"Teme! Calon istrimu cantik sekali!" Sakura mengalihkan pandangannya pada pemuda berambut pirang bermata biru yang duduk di depannya dengan senyum tipis sebagai jawaban atas pujiannya.

"Hn." Sasuke membalas pujian sahabat pirangnya dengan datar. Ia berdeham sebentar dan menatap tajam pada para tamu yang datang.

"Akan kukenalkan pada kalian calon istriku, Sakura Haruno." ujarnya sambil melirik pada Sakura yang sedang menatapnya dengan tatapan datar tak berminat yang menjadi khas gadis tersebut.

"Salam kenal, Sakura-chan! Aku Uzumaki Naruto. Ini tunanganku, Hinata Hyuuga,"paparnya bangga dengan merangkul mesra tunangannya.

Sakura tersenyum. "Salam kenal juga, Naruto, Hinata."

"Oh ya. Ini ada Nara Shikamaru dengan istrinya Temari." Sakura tersenyum tipis pada pasangan berbeda warna rambut tersebut yang tengah mengangguk pada dirinya.

"Dan disamping Temari ada—"

"Tunggu!" teriak seorang gadis berambut pirang yang duduk di kursi sudut meja. Semua tamu yang hadir disana menatap pada dirinya.

Sakura menatap tak terkejut pada gadis yang juga tengah menatap dirinya. Oh, bagus. Sekarang semua pasang mata menatap pada dirinya dan gadis pirang itu.

"Aku kenal kau," katanya dengan suara yang cukup keras. Kini, tatapan mata beralih padanya. Termasuk pemuda berambut raven yang duduk di sebelah kanannya juga menatap dirinya.

"Ino, apa yang kau—"

"Ia pernah satu sekolah denganku," gadis berambut pirang itu berkata. Memotong ucapan pemuda berambut klimis di sampingnya.

"Aku kenal dia, Sakura Haruno. Kami memang tak pernah satu kelas bersama. Tapi aku sering melihatnya. Kami bersekolah di SMA dan kuliah yang sama."

Sakura terdiam. Mata hijaunya masih menatap ingin tahu pada gadis pirang yang akan melanjutkan ucapannya.

"Kalau aku tak salah, dia berada di Kedokteran dan aku di Managemen. Ia menjadi salah satu murid terpintar disana. Beberapa kali mengikuti perlombaan dengan membawa nama sekolah. Kurasa Sasuke juga tahu akan hal itu," lanjutnya.

Sakura menatap tanya pada pemuda yang sedang menopang dagu diatas tautan jemarinya. Ia bisa menangkap mata kelam pemuda itu meliriknya sebentar lalu memfokuskan pandangannya ke depan.

"Dan ia juga terkenal karena menjadi korban bully—

"Cukup, Ino!" bentak pemuda berambut klimis di sampingnya. Ino menghentikan pembicaraannya dan menatap marah pada kekasih di sampingnya.

Suasana berubah tegang. Sakura merasa tak nyaman dengan keadaan seperti ini. Ia berdiri dan mengangguk hormat pada tamu yang datang dan segera melangkah pergi kalau tak ada suara yang menghentikannya, "Mau kemana kau?"

Sakura menoleh dan menatap acuh pada pemuda yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mengintimidasi yang dibencinya. "Bukan urusanmu." Dan segera beranjak pergi.

.

.

Sakura mendudukan dirinya pada bangku panjang taman yang tersedia di belakang mansion. Ia menatap kosong pada taman bunga yang terhampar luas di hadapannya. Walaupun sudah malam, bunga itu masih terlihat cantik dengan terpaan sinar lampu bulat di beberapa sisinya. Menimbulkan rasa nyaman dan tenang yang memang dibutuhkannya saat ini.

Memejamkan matanya sejenak. Hampir saja gadis itu membuka luka masa lalu yang tak pernah ingin diingatnya lagi. Ia terkejut ketika ada seseorang yang duduk di sampingnya dengan mata aquamarine menatap tulus padanya.

"Hai, maafkan aku akan hal yang tadi. Aku benar-benar terkejut melihatmu tadi. Maafkan atas kecerobohanku."

Sakura menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Wajah cantiknya terlihat bersinar dengan terpaan cahaya lampu disekitarnya. "Tak apa. Aku mengerti. Kita belum pernah berkenalan sebelumnya. Ah, tetapi aku sering melihatmu di sekolah."

Ino tersenyum lega. Gadis ini benar-benar baik. Ia merutuki kebodohannya tadi. Hampir saja dirinya membuka aib gadis merah muda tersebut jika kekasihnya tak memotong ucapannya.

"Senang bertemu lagi, Sakura. Kupikir kau tau namaku," kekeh Ino.

Sakura tersenyum. Kali ini benar-benar senyum yang tanpa dipaksakan seperti sebelumnya. "Aku tahu, Ino. Senang bertemu kembali denganmu."

Ino mengangguk. Mata birunya menatap kagum pada pemandangannya di hadapannya.

"Kita bisa berteman baik, mungkin?" Ino menatap lekat pada manik hijau teduh yang sedang menatapnya tulus.

"Tentu! Aku sangat senang bisa berteman denganmu. Mungkin, kita bisa menjadi sahabat baik?" jawabnya. Ino melihat mata gadis di hadapannya menyipit karena tersenyum lebar. Ah, seharusnya sudah sejak dulu ia berteman dengan gadis ini.

"Tentu bisa! Aku sangat senang, Ino. Terima kasih." Sakura tersenyum lebar. Tidak buruk juga hari ini sepertinya. Ia sudah mendapatkan dua teman baru hari ini. Hidupnya serasa tumbuh kembali.

Dan kemudian dua gadis ini tertawa bersama sambil menikmati malam yang terasa panjang.

.

.

"Ah, Sakura, aku lupa memperkenalkan kekasihku padamu. Ini Sai Shimura." Katanya sambil memegang lengan pucat milik kekasihnya dan saling melempar senyum hangat.

"Senang berkenalan denganmu." Sakura mengulurkan tangannya dan segera disambut baik oleh Sai. Mereka berdua tersenyum sebentar, lalu dirinya segera duduk kembali pada tempat sebelumnya.

"Teme! Aku sudah tidak sabar untuk datang ke acara pernikahanmu besok," cengir pemuda pirang hangat pada pemuda berambut raven yang sedang menyuap roti panggang menuju mulutnya. Garpunya menggantung di udara bersamaan roti yang ditusuknya. Ia meminum kopinya lalu menghembuskan napas pelan.

"Hn."

.

.

Sakura melambaikan tangan mungilnya pada sahabat barunya dan juga tamu yang hadir lainnya. Ia berusaha terlihat ramah pada siapapun. Tidak ingin orang lain berbicara macam-macam tentang dirinya. Sudah cukup ia merasakannya. Dan Ino datang. Membawa angin baru pada kehidupannya. Hati kecilnya tak dapat menyangkal kalau pemuda tampan yang berdiri di sampingnya juga membawa dampak baru bagi kehidupannya. Walaupun perkenalan mereka dibilang terlalu singkat. Tetapi, ada hal baru yang diterimanya ketika bersama pemuda ini.

Entah kebahagiaan, ataukah—

—kehancuran.

Dirinya masih berada di tengah. Belum menentukan kemana dirinya akan terjebak.

.

.

Tamu-tamu sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka semua termasuk sahabat-sahabat terdekat calon suaminya. Hanya beberapa pesta kecil rupanya yang diadakan disini. Dan Sakura tak tahu akan hal itu.

"Hei," panggilnya.

Sasuke menghentikan langkahnya pada undakan anak tangga kedua. Tak berniat sedikitpun untuk menolehkan kepalanya atau sekadar membalikkan tubuhnya menatap gadis yang sedang berdiri memaku tak jauh di belakangnya.

Sakura melirik pada para pelayan yang sedang membersihkan area dapur dan meja makan. Beberapa dari mereka tampak sibuk dengan tugasnya.

"Kenapa kau mau menolongku saat aku menjatuhkan diriku ke kolam renang? Kau bilang takkan mencegahku melakukan hal itu," ketusnya.

Sakura bisa melihat tubuh pemuda itu sempat menegang sesaat. Hanya beberapa detik hingga tubuhnya kembali santai. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana. Entah, ia bisa merasakan kalau tangan pemuda ini sedang mengepal erat disana.

Lima menit, bahkan sepuluh menit berlalu dirinya tak kunjung mendapat jawaban yang pasti. Sakura membuang napasnya kesal. Cukup. Ia tak peduli dengan kejadian tadi. Dirinya bertekad akan melupakannya seolah takkan pernah terjadi. Ia juga tak pernah merasa menyesal melakukan hal itu—setidaknya sampat saat ini.

"Baiklah, kalau kau tidak mau menj—"

"Hn. Belum saatnya untuk kau mati."

Sakura membelalakkan matanya terkejut. Ia melangkahkan kakinya menuju tangga melingkar di depannya dan berdiri tepat di depan pemuda itu dengan mata hijaunya memicing tajam. Tangannya terlipat didepan dadanya. "Oh, aku tahu. Jadi kau berniat membunuhku, begitu?" sinisnya.

Sasuke menatap tajam sekaligus membunuh secara bersamaan pada gadis yang menentangnya dari awal pertemuan mereka. Mata kelamnya menatap wajah cantik di hadapannya. Bibirnya sedikit naik ke atas. Menampilkan seringai meremehkan. Lihatlah, gadis ini masih saja keras kepala. Sasuke bisa melihatnya dari dagu mungilnya yang terangkat naik.

"Hn. Aku tak tahu bagaimana kau bisa mendapat beasiswa dari Universitas yang ku danai jika di dalam kepalamu terdapat otak sok tahu disana," jawabnya datar.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat. Cukup sudah. Ia akan membalas perkataan pemuda itu nanti. Tangannya sudah cukup gatal untuk menampar, oh bahkan dirinya juga tak segan memukul pemuda ini hingga babak belur. Lihat saja nanti.

Sakura hendak berjalan pergi menuju kamarnya ketika suara yang dikenalinya lagi-lagi menghentikan langkahnya.

"Jika semua ini tak ada hubungannya dengan kakek sialan itu, aku sudah membunuhmu sejak lama."

Dan Sakura merasa waktu terhenti sesaat ketika suara membunuh itu menguar di udara bersama dinginnya malam. Meninggalkan dirinya terpaku disana ketika pemuda itu tanpa rasa bersalah pergi melaluinya.

.

.

Sakura menutup pintu kamarnya kencang. Ia melempar sepatu berhak tingginya ke sembarang arah. Ia juga melepas ikatan dan hiasan pada rambutnya hingga membuat rambut merah muda sepinggangnya terurai berantakan. Air mata sudah mengalir dengan indah di kedua belah pipinya. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Kakinya bergetar. Menahan gejolak emosi di dalam sana. Tidak. Ini masih permulaan. Hingga akhirnya dirinya jatuh terduduk dibalik pintu putih besar kamar miliknya. Kakinya sudah tak mampu menopang tubuh mungilnya. Dan dirinya menangis hingga jatuh tertidur dalam keadaan yang menyedihkan.

"Ayah, ibu..."

.

.

Pernikahan itu benar-benar dilaksanakan.

Sakura menatap kosong pada jendela besar kamarnya. Banyak para tamu yang sudah hadir dan memasuki taman besar yang akan menjadi tempat janji sucinya diucapkan. Jika ada benda tajam atau apapun di dalam sini yang bisa ia gunakan untuk mengancam pemuda itu akan ia lakukan. Kata-kata pemuda itu semalam membuat dirinya seperti kembali terhempas ke dalam jurang yang sangat dalam. Ia berusaha tak peduli. Memangnya siapa dia? Mantan kekasih? Bukan. Sakura tak pernah mengenal Sasuke sebelumnya. Dan kata-kata itu sama sekali tak ada kaitan dengan dirinya. Ya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Pemuda itu pasti salah bicara.

Tadi malam ia jatuh tertidur dalam posisi terduduk dan itu cukup membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Wajahnya tampak pucat. Padahal beberapa pelayan yang meriasnya sudah menambahkan beberapa olesan make-up agar terlihat lebih baik.

"Ayo, Nyonya. Para tamu sudah menunggu di luar sana."

Sakura menoleh lemah pada pelayan berambut cokelat yang menjadi pelayan setianya beberapa hari ini. Ketika Sakura membutuhkannya ia selalu ada di sisinya. Tak peduli bagaimanapun kondisinya.

"Bisakah mereka menunggu lima menit, Ayame? Aku butuh waktu sebentar. Ehmm, aku sedikit gugup." Sakura menatap pelayan berwajah ramah itu dengan tatapan memelas miliknya. Ia berusaha terlihat gugup agar pelayan itu percaya padanya.

Senyum melebar di wajahnya. Tak butuh waktu lama hingga gadis itu menunduk memberi hormat dan beranjak pergi. Meninggalkan Sakura sendiri di dalam penjara mewahnya.

Sakura mengepalkan kedua tangan di dadanya. Tidak. Jangan pernah beranggapan ia adalah gadis lemah yang akan menuruti bahkan takut akan ancaman pemuda tampan, kaya, yang bisa melakukan apa saja hanya dengan menjetikkan jarinya. Jangan pernah samakan gadis diluar sana sama dengan dirinya.

Ia bertekad, mulai sekarang ia tidak akan kalah ataupun terlihat lemah di depan pemuda raven yang akan berubah menjadi suaminya nanti. Oh, lupakan. Ia akan tetap menghormatinya sebagaimana pasangan suami-istri pada umumnya.

"Sebelum kau yang menjadi malaikat pencabut nyawaku, Uchiha. Biarkan aku menghancurkan hidupmu dengan indah terlebih dulu. Hingga dirimu tak berdaya dengan semua yang kau miliki nanti. Sakura Haruno takkan pernah main-main dalam ucapannya."

Dan kata-kata itu terbang ke udara menjadi sesuatu yang tak terlihat dan menakutkan. Menciptakan suatu jarak yang Sakura takkan pernah bisa mendekatinya.

Yang takkan pernah ia tahu bahwa ini adalah awal dari segalanya…

.

.

Sakura tersenyum manis ketika melihat beberapa pengawal dan Ayame disana, menunggunya. Ia menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.

"Maaf, kurasa kalian menungguku terlalu lama," gumam Sakura.

Ayame menggeleng sebagai jawaban dan tersenyum ramah. Ia membantu Sakura dengan gaun pengantin berwarna putih panjangnya hingga menuruni tangga melingkar yang menjadi penghubung lantai di atasnya.

Sakura mengutuk sepatu kaca berhak tinggi miliknya yang beberapa kali sempat tersangkut dengan gaun panjang yang dipakainya. Terlihat serasi memang, tapi tetap saja ini merepotkan. Huh.

Mata hijaunya menatap terkejut dengan beberapa tamu yang hadir disana. Beberapa dari mereka adalah tamu yang semalam berada di satu meja makan bersamanya. Senyumnya berkembang ketika melihat tangan mungil milik Ino melambai ke arahnya. Ia balas dengan mengangkat kecil tangannya dengan senyum yang masih terpatri di wajah cantiknya.

Kedua tangannya menggenggam erat sebucket bunga berwarna merah muda dengan putih yang diikat dengan menggunakan pita merah. Terlihat cantik di genggaman gadis berambut merah muda yang sedang berjalan perlahan menuju altar dimana janji suci akan diucapkan olehnya—dan juga pemuda tersebut. Ah, pernikahan memang sama sekali belum pernah terpikirkan olehnya. Mengapa seperti ini rasanya? Ia tak pernah gugup sebelumnya dan hari ini ia merasakannya.

Sasuke terlihat tampan dengan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya. Terdapat dasi berbentuk kupu-kupu berwarna hitam dikerahnya. Ia sangat terlihat tampan. Dan satu lagi, Sakura tak pernah bermimpi akan menikah dengan pemuda tampan berwajah dewa ini di dalam tidurnya.

Ya Tuhan, apalagi yang harus ia hadapi kali ini?

Sakura gadis normal. Wajar jika dirinya terlihat gugup dan sedikit bergetar ketika berhadapan dengan hal yang berbau pernikahan yang sama sekali tak terpikir olehnya. Seperti ini, misalnya.

Tanpa terasa dirinya sudah berdiri di depan pemuda berambut raven yang sedang menatapnya. Emosi di dalam mata kelamnya tak dapat terbaca oleh dirinya. Tatapan yang tak ia tahu apa artinya. Banyaknya kilatan yang tak tergambar jelas disana. Yang dapat dilakukannya hanya membalas dengan tatapan yang sama.

Suara deheman membuat seisi tamu yang hadir hening sejenak. Sakura menoleh dan menatap pada pendeta yang berdiri gagah disana. Diikuti oleh genggaman dari tangan kekar milik pemuda di sampingnya. Tch! Sandiwara apalagi yang akan dijalaninya? Sakura hanya mampu tersenyum sebagai balasannya. Tak berniat membalas genggamannya.

Pendeta itu mengucapkan beberapa perkataan yang harus diikuti keduanya secara bersamaan. Proses upacara tersebut berlangsung khidmat. Para tamu yang hadir disana tampak tenang mengikuti jalannya upacara. Beberapa dari mereka bahkan tampak terlihat senang dengan senyum lebar yang tercetak jelas di wajahnya.

"Silahkan, Tuan dan Nona Uchiha, ucapkan janji suci pernikahan kalian seperti perkataan saya sebelumnya." Pendeta itu memegang lembaran buku yang dibacanya. Kedua manik hitamnya menatap pada kedua mempelai yang masih berdiri mematung di hadapannya. Hingga Sasuke menoleh dan menghadapkan tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan.

"Aku, Uchiha Sasuke…."

"Aku, Haruno Sakura…"

"Akan bersungguh-sungguh mencintai…" ucap mereka secara bersamaan.

"Sakit, sehat, kaya, miskin, akan selalu mendampingi…."

"Sakit, sehat, kaya, miskin, akan selalu mendampingi…."

"Aku bersedia."

Terdapat jeda sejenak. Hingga Sakura menatap dengan emosi tersembunyi di dalam mata hijaunya yang langsung bertemu dengan tatapan kelam yang sama sekali tak bisa dimengerti olehnya.

"Aku bersedia."

Riuh para tamu yang hadir menjadi penutup janji suci yang mereka ucapkan. Sakura menoleh pada para tamu yang sedang bertepuk tangan untuknya. Sekarang hidupnya berubah. Ia menjadi istri dari pemuda terkaya di Negaranya dan juga seseorang yang tak dikenalinya. Oh, jangan tanyakan hal itu padanya. Otak cerdasnya masih belum mampu mencerna semua yang terjadi beberapa hari ini.

Sakura tersenyum ketika melihat Ino yang sedang tersenyum untuknya hingga mata birunya menutup. Ia tahu, sahabatnya berbahagia untuknya. Ia akan berterima kasih akan hal itu. Sebelum gadis itu mengetahui apa yang ada dibalik semua ini.

Sakura menggenggam erat bunga yang dibawanya dari kamar menuju altar. Upacara pelemparan bunga akan dilaksanakan. Ia menatap pada sang suami yang tidak sedang menatapnya. Mata hijaunya mengikuti arus pandang dimana sang suami menatapnya penuh lirih. Ia bisa menebak. Di dalam sana terdapat cinta yang besar sepertinya. Sakura tahu, Sasuke tak mungkin bisa berdiri sendiri jika tak ada seseorang yang mendukungnya selain sang kakek dan juga seseorang yang dicintainya?

Sakura menatap pada bangku tamu yang terletak tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Disana, seorang wanita berambut perak panjang sedang menatapnya. Oh, bukan. Wanita itu sedang menatap suaminya dengan tatapan luka dan kesedihan yang tergambar di dalam sana. Ia melirik pada Sasuke yang berdiri tegang di sampingnya. Mata hijaunya terus mengikuti arus pandang suaminya hingga wanita itu menoleh padanya. Mata hijaunya membelalakk terkejut. Ia menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya. Wanita itu—

"Shion…"


.

.

.

Tbc.

.

.

Author Note:

Haiiii, ini chap 2 nya gimanaa? Gimana? Maaf megecewakan… sejujurnya saya gabisa bikin scene pernikahan. Adoooh tolong, saya masih muda belum mengerti pernikahan #dikemplang

Scene pernikahan saya contek dari beberapa film romance yang ada scene nikahnya(?) maaf jika masih banyak typo yang berkeliaran. Saya sudah berusaha meminimalisirkannya :"") #nanges

Oh, ya. Mau klarifikasi sedikit aja. Di beberapa adegan chapter 1 dan chapter 2 memang ada sebagian yang terinspirasi dari novelnya Santy Agatha, Sleep With The Devil. Aaa saya suka Mikail Ravenonya #nak tenang saja, ide ceritanya gaakan sama begitu juga alurnya. Hanya beberapa adegan dan untuk chapter selanjutnya tidak akan ada. Mungkin mulai masuk ke konflik awal :)

Mak Alya, ini chap 2nyaa. Maaf kalo alurnya sedikit memaksakan huhuhuhu. Aku ga tega sebenernya Shion dijadikan jahat… tapi disini aku buat Karin sebagai sahabatnya… jadi kedepannya Karin bakalan bantuin Sakura buat misinya *lirik chapter ini* #nyedh

Yosh, jawab beberapa review yang masuk dulu, ya :3

Isa alby: Kayaknya seiring berjalannya chapter akan terungkap ya kenapa Sasuke ga nolak pernikahan atau Madara yang milih Sakura buat pendamping cucunya. Akan dijelaskan kok.

UchiHaruno Misaki: Hallo, terimakasih sudah mau mampir dan mereview :3 di sini udah keungkap kan siapa Shion? Wkwk. Kalau sikap Madara kayaknya biar nanti seiring berjalannya chapter keungkap ya. Begitu pula dengan Sasuke, dan Madara punya alasan kenapa Sasuke gaboleh nikah sama Shion. Mungkin beberapa chap depan akan dibahas :3 Terima kasih! XD

Hanazono yuri: sudah lanjut! :3

Sakurazawa Ai: sudah lanjut, terima kasih :3

Prince ice cheery: nanti akan dijelaskan untuk next chap selanjutnya seiring berjalan aja. Terima kasih :3

Alzenardsmr: hallo, sudah update ya. terima kasih :3

Suket alang alang: nanti dijelaskan kok kenapa Sasuka kayak gitu XD oh yaampun fic itu ya… dilanjut kok. Tunggu waktu aja ya. rencananya fokus ke fic ini dulu. Terima kasih :3

Phanie-chan: sudahhhh, terima kasih :3

Tsurugi de Lelouch: kak wullll hai wkwk. Maapkan ini jadi fic utangku lagi yang keberapa ya, hmm *gakeitung* terima kasih, kak :3 semoga suka chapter ini. Sasuke ga kelainan jiwa kok kak wkwk, mungkin kekurangan kasih sayang kali yaa #lha

Mademoisellena: belum sempat kepikiran adegan kasar, sih. Wkwk Cuma mungkin nyelip kali ya beberapa nanti. Ini sudah update, terima kasih :3

Jikachu93: benci enggak ya, hmm… ini sudah update, terima kasih :3

Guest: sudah update, terima kasih :3

Namuchi: sudah mulai terlihat kan konfliknyaa… terima kasihhh :3

Sami haruchi 2:sudah dijelaskan diatas kan? Hehe aku harap mengerti, terima kasih :3

Undhott: sudahhhh yaa :3

SHL7810: halloo kamu, terima kasih saya dirindukan ternyata #nanges wkwk. Duh kamu, gajago bikin lemon dan rencananya gaada lemon *masih rencana loh* #disefak ini sudah menepati janji kan? Hehe terima kasih yaa :3

Guest: terima kasih yaa :3

Cho Lolo: sudahhh, terima kasih ya :3

Ancie Rocia: iya hehe. Udah aku jelasin diatas yaa chapter kemarin dan ini memang terinspirasi dari sana. Untuk selanjutnya mungkin tidak ada lagi karena mulai masuk konflik. Terima kasih, ya :3

Hydrilla: hai dedeq emeshnya bang Sean~~ #sefaknara. Nakal ya, disekolah baca fanfic…..aku juga suka gitu kok WKWK #abaikandia. Sebenernya mau buat Madara baik di fic ini…..karena memang perannya harus begitu #nyed. Dikau dengan Will Motgomery aja, ya biar daku dengan Mikail #diinjeg. Makasih yaa review dan kritiknya :* #dicipokbinilogan

Cherry philein: terima kasih, sudah lanjut :3

Hmmm: da aku gangerti atuh sama penname kamu….oiya, semoga beda ya. ini masih tahap awal kok. Terima kasih

Uchan: udah dilanjut ya, ikutin setiap chap ajaa. Nanti ketauan Sakura gimana aslinyaa :3 terima kasih :3

Sebenarnya fic ini terinspirasi besar dari lagu BlackWidow dengan BlankSpace. Makanya di awal chapter (kecuali chap 1) saya kasih beberapa lirik *anggap aja itu quotes, ya* yang berhubungan dengan setiap chapnya. Ga tentu kok, bisa saja kutipan novel atau lirik lagu yang lain menggambarkan setiap chapnya. Semoga suka :3

Sekian pertanyaan yang bisa saya balas. Saran, kritik, atau flame (yang ujung-ujungnya gabakalan mempan buat saya) yang mampir di kotak review. Saya akan senang menerimanya :)

Terima kasih bagi yang sudah mereview, memfave, dan memfollow. Saya sangat menghargainya :3

See you in next chapter! XD

Love,

.

emerallized onyxta