Bitter&Sweet

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC maybe, typo, alur lambat dll

Don't like don't read, no flame

Don't like don't read, no flame

Don't like don't read, no flame

Chapter 2

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Seharusnya, aku sudah berada di rumah, membantu ibuku memasak makan malam atau mengobrol dengan Hanabi, adikku sambil menonton televisi. Seharusnya. Tetapi entah kenapa aku justru berakhir di ruang arsip, yang dipilih guru pembimbing klub literatur, menjadi ruang untuk kegiatan klub literatur untuk satu tahun ke depan, bersama Sakura-chan , Ino -san, Naruto-kun, dan yang paling tidak kuduga, Uchiha Sasuke.

Setelah memutuskan kegiatan klub yang akan kami berlima ikuti di kelas tadi, aku berniat pamit untuk menuju ruang klub literatur, mengingat Kurenai-sensei, guru pembimbing klub memintaku untuk menyambut anggota baru klub yang ikut bergabung juga, jika ada. Mengingat klub ini sudah dua tahun tidak beranggota dan hampir dibubarkan.

Niatnya, aku ingin pergi sendiri. Tapi tiba-tiba, Uchiha Sasuke-san, teman baik Naruto-kun ini juga ingin bergabung dengan klub literatur dan akan ikut bersamaku ke ruang klub. Dan saat tersadar, disinilah kami berlima, duduk di meja ditengah ruang arsip yang dipenuhi dokumen-dokumen dan buku-buku tebal yang sudah berdebu di rak yang mengelilingi ruangan disinari matahari sore yang menembus jendela yang berdebu juga di sisi kanan ruangan ini.

Kupikir, atau mereka juga mungkin, keadaan ini cukup canggung. Sakura-chan dan Ino-san sangat fokus pada smartphone mereka yang ber-casing kerlap kerlip itu sambil sesekali terkikik pelan dan menunjukkan apa yang mereka lihat di layar smarphone mereka pada satu sama lain. Uchiha -san sibuk membaca suatu buku tebal yang tidak dapat kulihat sampulnya dan Naruto -kun hanya memaju-mundurkan kursi yang didudukinya sambil berusaha menghibur dirinya sendiri.

Naruto-kun kelihatan sangat bosan. Haruskah aku mengajaknya bicara? Bolehkah aku membuka percakapan dengannya? Astaga, hanya dengan memikirkanya saja aku bisa merasakan pipiku memanas.

Sekali lagi aku memastikan apa yang sedang Naruto-kun lakukan dari sudut mataku. Dia masih memaju-mundurkan mejanya sambil menguap bosan. Ini pasti kesempatan yang diberikan Tuhan untukku. Setelah mengukuhkan tekadku dan menyusun percakapan santai, aku membuka mulutku untuk memanggil namanya hingga tiba-tiba seseorang bersuara sesaat sebelum suaraku keluar.

"Kalian bertiga sungguh membuat ruangan ini jadi canggung. Tidak bisakah kalian pergi dari sini?" tanya Uchiha-san atau lebih tepatnya usir Uchiha -san, yang sangat jelas ditunjukkan pada Sakura -chan, Ino-san, dan Naruto -kun. Karena gagal mengajak Naruto -kun bicara, bahkan mengeluarkan suara, aku jadi menutup rapat mulutku.

"Kenapa Sasuke-kun? Harusnya Sasuke -kun senang kan anggota klub nya bertambah?" balas Sakura-chan sambil memberikan puppy eyes andalannya pada Uchiha -san.

"Nggak butuh." Balas Uchiha-san dingin.

"Teme, jangan dingin begitu. Lagipula mana ada klub yang anggotanya hanya saling diam dan hanya fokus pada buku." Timpal Naruto-kun sambil melipat tangannya di meja.

"Itulah alasan makanya klub ini disebut klub literatur, baka. Kegiatan mereka memang hanya membaca dan menulis buku." Jelas Sakura-chan sambil memberikan tatapan merendahkannya pada Naruto-kun yang sedang mem pout kan bibirnya.

"Se-sejujurnya, a-aku tidak k-keberatan jika N-Na-Naruto-kun, Sakura-chan atau I-Ino-san bergabung juga dengan k-klub literatur." Tambahku untuk meringankan suasana. Sontak, mereka berempat langsung mengalihkan pandangan mereka padaku.

"A-ah, tidak perlu Hinata-chan. Lagipula aku juga sudah berniat masuk klub cheers. Aku hanya ingin fokus disana." Balas Skura-chan sambil sedikit gelagapan.

"Aku juga sudah berniat masuk klub cheers dan Ikebana. Kupikir dua klub sudah cukup." Ino-san ikut menimpali.

"Aku dan buku bukan hal yang bisa berjalan bersama." Dan setelah itu Naruto-kun tertawa ringan menanggapi kata-katanya sendiri.

Aku sedikit sedih mendengar penolakan halus dari mereka. Kupikir akan menyenangkan berada dalam satu klub dengan mereka, apalagi dengan Naruto-kun, tapi tak apalah.

Setelah itu keadaan hening kembali, hanya tak bertahan terlalu lama. Sakura-chan memecah keheningan dengan gerakannya berdiri dari kursi yang menimbulkan bunyi deritan pelan. Setelah itu Sakura-chan pamit untuk pulang. Ibunya memintanya membantu membelikan bahan makan malam. Ino-san juga pamit, begitu pula Naruto-kun yang pasti mengikuti apapun keinginan Sakura -chan. Mereka juga mengajakku pulang, tetapi aku berdalih akan menunggu sedikit lagi, takut ada anggota baru yang datang dan malah membatalkan niatnya bergabung karena tidak ada siapapun. Sebenarnya aku hanya tidak mau melihat Sakura-chan dan Naruto-kun berjalan beriringingan sambil bercanda riang berdua. Dan akhirnya mereka pun pulang, meninggalkanku bersama teman baik Naruto-kun , Uchiha-san yang masih memilih fokus pada bukunya.

"A-ano..."

Uchiha -san melirikku dengan ujung matanya. Aku sedikit ngeri melihat tatapan tajamnya yag tertuju padaku.

"A-apakah U-U-Uchiha-san tidak ingin p-pulang?" tanyaku pelan, bahkan hampir seperti desisan. Kadang aku malu pada diriku sendiri karena mudah sekali gugup jika berhadapan dengan orang asing.

"Kau mengusirku?" tembaknya. Aku berjengit kaget. Apa kata-kataku barusan terdengar seperti mengusir?

"T-t-ti-tidak U-Uchiha-san!" pekik ku. Aku takut Uchiha-san salah paham. Uchiha-san terlihat sedikit kaget mendengar pekikanku. Aku pasti disangka orang aneh olehnya.

Bisa kulihat Uchiha-san menghela nafas sambil menutup buku tebalnya yang ternyata adalah novel dan membuka resleting tas hitamnya kemudian memasukkan novel itu kedalamnya. Setelah itu Uchiha-san menyender di bangkunya dengan santai dan menatapku dengn tatapan tajamnya. Aku hanya hanya bisa terpekur di tempatku duduk sambil menunduk dalam, tidak tahu harus melakukan apa.

"Kupikir, dari tadi yang membuat suasana canggung itu si dobe dan kawan-kawannya, ternyata kau ya pelakunya." Aku mengangkat kepalaku dan menatap Uchiha-san yang menatapku balik. Aku jarang bertatapan dengan orang lain tapi ini pertama kalinya aku menatap mata seseorang sedemikian intens.

'Matanya hitam kelam.'

Bisa kurasakan pipiku sedikit memanas.

"Apa kau tidak lelah tergagap seperti itu? Badanmu juga tegang sekali, lalu wajahmu juga sering jadi merah tiba-tiba Kau yakin kau sehat-sehat saja?" tanya Uchiha-san sambil menyilangkan tangannya didada. Aku sedikit ragu itu adalah pertanyaan atau sindiran. Alhasil aku hanya diam, tidak tahu harus merespon bagaimana.

"Asal kau tahu saja, sikapmu itu membuat orang lain tidak nyaman. Orang lain berusaha membuatmu nyaman tapi kau terus bergelung dengan pikiranmu sendiri. Itu menyebalkan." Aku sedikit tertegun, antara karena aku tidak tahu Uchiha-san adalah tipe orang yang mau berbicara sepanjang itu atau karena kaget dengan kenyaataan tentang sikapku selama ini.

Benarkah selama ini aku seperti itu?

"Sikapmu yang memilih-milih itu membuat orang lain tidak nyaman. Aku tidak akan heran jika nantinya kau akan dimusuhi." Tambahnya.

Dimusuhi? Apa seeorang bisa dimusuhi karena memilih-milih teman? Apakah aku tanpa sadar memilih-milih teman? Seingatku aku memperlakukan semua orang dengan sama.

"Ku-kupikir aku tidak m-memilih-milih teman, U-Uchiha-san." Balasku pelan.

"Kau pikir. Menurutmu apa yang kau pikir dan orang lain pikir sama? Hanya mau bicara dan bergaul dengan Sakura dan Naruto, mengikuti klub yang tidak ada peminatnya, menurutmu itu bukan pilih-pilih?"

"K-kita t-tidak harus selalu m-menuruti keinginan orang l-lain!" balasku sedikit emosi. Kata-katanya sedikit menyakitiku.

"Ya tentu saja. Lalu kita harus hidup sepertimu, hanya berpegang teguh dengan pendapatmu dan tidak mau peduli dengan pendapat orang lain." Sengitnya. Aku bisa merasakan air mataku sedikit berkumpul, membuat pandangan ku sedikit buram.

"I-itu tidak benar!" pekikku lagi. Setelah itu keadaan menjadi hening.

"Aku pulang." Setelah itu Uchiha-san menenteng tas hitamnya dan menutup pintu ruang klub dengan debaman pelan.

Aku menghela nafas berat. Kata-katanya sungguh membuat pikiranku kacau. Dengan perasaan campur aduk aku pun menenteng tas putihku dan memilih untuk pulang.

.

.

.

Aku benar-benar payah.

To Be Continued

Author's Note :

Hai readers sekalian, Voiceless Rain disini. Author masih newbie sebagai penulis ffn, tapi kalo sebagai silent reader, author udah kelas kakap #puih, mohon bantuannya ya minna/senpai sekalian. author tau dalam hal menulis author masih banyak kekurangannya, jadi mohon bantuan dan dukungannya yaa

Chapter 2 ini ingin author jadiin awal dari kedekatan main pair Bitter&Sweet, SasuHina~

Author ngga ingin mereka langsung instan jadi deket ato tiba-tiba saling suka, lets take it slowly. Niatnya author ingin mereka jadi temen curhat2an dulu, terus baru saling suka deh wkwk

Author ingin tegasin kalo cerita ini bakal fokus ke Sasuhina aja, pair lain mungkin bakal jd sidekick doang, maaf yaa

Apa alurnya kecepetan? Pasti cepet banget ya. Author sebenernya suka detail, tp author takut pada tepar bacanya wkwk, eh malah jd sependek ini. Author rada dilema mau bkin yang panjang atau pendek.

Ohiya author ngga cantumin mana yang pov karakter, mana yg pov author. Soalnya menurut author bedanya jelas bgt sih #gataudiri

Tp seandainya ada yg kesulitan, author bisa cantumin buat chapter selanjutnya. Kali ini cuma full pov Hinata doang kok hehe

Thanks to : MizuMiu-chan, Paijo Payah, Miyuchin2307, NurmalaPrieska, lovely sasuhina, HipHipHuraHura, Pikajun, icaraissa11

Author ucapin terima kasih banyak buat reviewnya. Author seneng kok ada yg mau curhat di kolom review wkwk. Kualitas lebih penting dr kuantitas. Hidup review panjang~! Wkwk

Mohon segala bentuk typo, kosakata atau kalimat yang aneh/rancu dimaafkan. Buat kedepannya author bakal usaha jadi yang lebih baik.

Wihh keren abis.

Jangan lupa reviewnya yaa. Review minna-san sangat author apresiasi.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya

Voiceless Rain