IT'S HARD TO LOVE
.
.
.
MINYOON
Warn: BL, typo(s), Ey(T)D, OOC
Inspired by: Wotaku ni Koi wa Muzukashii & Sekaiichi Hatsukoi
.
.
.
"Aku tidak mengenalmu, Tuan. Jangan bicara denganku lagi."
Jimin menghela napasnya entah yang keberapa kalinya siang ini. Pasalnya Yoongi yang ngambek dengannya berlagak tak mengenalinya dan mengacuhkannya.
"Kan sudah ku bilang, bukan aku yang memutuskan jumlah cetakannya. Marah saja dengan Daehyun-ssi, kan dia yang memutuskan."
Menghiraukan ucapan Jimin, Yoongi masih kukuh berjalan menuju kantornya untuk menghindari Jimin. Yoongi kesal karena proposal untuk jumlah manhwa yang ditanganinya harus dipotong jumlah cetakannya. Bahkan setelah dua jam berdebat, Yoongi dan Himchan harus kalah dari departemen marketing mereka.
Bukan salah Jimin memang, terlebih Kim Himchan si kepala editor dan Jung Daehyun kepala bagian marketing memang terkenal sebagai Tom and Jerry versi Ruby Publisher. Meskipun anehnya mereka adalah sahabat. Tapi Yoongi masih sakit hati ketika jumlah cetakannya hampir saja dikurangi separuh dari jumlah dalam proposalnya.
"Yoongi~"
"Yoonyoon~"
"Nanti ku traktir chimaek ya?" Mendengar kata chimaek, Yoongi baru mau berhenti dan melirik sahabatnya itu.
"BBQ?"
"BBQ, Mexicana, apa saja terserah." Jimin itu lemah dengan Yoongi bahkan sejak mereka masih sekolah menengah. Setiap kali Yoongi ngambek, Jimin akan melakukan apapun agar Yoongi berhenti mengacuhkannya. Diacuhkan satu-satunya sahabatmu itu tak enak tahu.
"Baiklah Jimin-ssi, satu syarat lagi." Ya ampun, banyak sekali maunya. Jimin hampir saja mengusap wajahnya kesal, kadang Yoongi ini memang pintar memanfaatkan keadaan.
"Pinjam ponselmu, aku mau main gardenscapes tapi nyawaku sudah habis. Level 723 susah sekali, Jimin!" Jika tidak ingat ini di kantor, mungkin Jimin sudah menggelitiki Yoongi sampai si imut itu kehabisan napas. Bisa-bisanya Yoongi merajuk padanya dengan satu tangannya mencengkeram jasnya seperti kitten paw dan bibir poutynya itu. Oops, apakah Jimin bilang Yoongi imut? Well, Yoongi memang imut sih. Jimin tak bisa mengelak hal itu.
"Ini." Jimin dengan terpaksa menyerahkan ponselnya pada Yoongi. Yoongi itu memang payah dalam urusan gaming, tapi karena ia terbiasa main game untuk menghabiskan waktu luang saat diacuhkan Jimin yang asyik bermain game, jadilah sekarang ia kecanduan main game.
"Ehehe, nanti ku kembalikan saat pulang. Terima kasih Jimin!" Setelah mendapatkan ponsel Jimin di tangannya, Yoongi langsung pergi meninggalkan Jimin.
Ah, ada maunya saja berlagak imut sekali. Saat sudah dituruti malah langsung pergi. Untung Jimin sudah terbiasa.
-민윤-
Jimin membolak-balik proposal yang baru saja diberikan bagian novel padanya. Dia menghembuskan napasnya lega melihat hasil proposal yang diberikan padanya itu, perencanaan pemasaran dan perencanaan pencetakannya masuk akal terlebih ini merupakan novel yang merupakan bagian dari seri yang sangat diminati. Baiklah, sepuluh menit cukup untuk mengerjakannya.
Terkadang Jimin heran kenapa Yoongi betah sekali berada di devisi manhwa, menjadi editor manhwa nyatanya lebih menguras tenaga daripada menjadi editor bagian literatur. Tapi sejujurnya Jimin sendiri tak menyangka ia bisa satu kantor dengan sahabatnya itu.
Jimin dan Yoongi sudah bersahabat semenjak sekolah menengah. Jimin yang pendiam dan lebih sering sibuk dengan gamenya daripada sekitarnya bertemu dengan Yoongi yang walaupun bicaranya pedas namun punya banyak teman. Berbeda sekali dengannya, tapi nyatanya Yoongi mau berteman dengannya yang terkadang sering mengacuhkannya itu. Kemudian tahu-tahu saja mereka sudah menjadi sahabat.
Mereka selalu bersama-sama di sekolah menengah dan bahkan masuk ke sekolah menengah atas yang sama. Namun mereka sudah tak saling berkomunikasi sejak mereka masuk ke universitas. Ia pindah ke Seoul sedangkan Yoongi tetap di Daegu.
Mereka bertemu lagi setahun lalu di Ruby Publisher. Jimin sudah bekerja di bagian marketing sedangkan Yoongi baru saja diterima di bagian editor manhwa.
Jimin terkejut tentu saja, sahabatnya yang hampir lima tahun tak ditemuinya tiba-tiba saja berada satu kantor dengannya. Dan Jimin tak bisa mengelak jika Yoongi berubah, bukan dalam artian yang buruk, justru sebaliknya. Sahabatnya yang dulu serampangan dan tsundere akut, sekarang terlihat begitu. . . manis!
"Jimin! Sudah selesai belum?" Jimin yang tak sadar sudah melamun, menengok ke sampingnya.
"Tumben sudah selesai?" Kesal dengan sindiran Jimin, Yoongi menendang kursi yang diduduki Jimin sebelum menyerahkan ponsel milik Jimin.
"Harusnya kau berterima kasih, kau tidak perlu menungguiku pulang dan malah sebaliknya." Yoongi menduduki kursi yang berada di samping meja kerja Jimin dan meletakkan tasnya di meja. Ah, Jimin bahkan tak sadar kalau rekan-rekan kerjanya sudah banyak yang pulang. "Lagipula ada yang janji padaku mau membelikan chimaek."
"Iya iya, ku kirim dulu ini ke Daehyun-ssi dan Jongup-ssi setelah itu kita pulang." Cepat-cepat Jimin mengirimkan hasil kerjanya pada atasannya dan kepala bagian literatur sebelum mematikan komputernya dan merapikan meja kerjanya.
"Sudah? Cepat sekali, aku baru main satu level."
"Protes lagi, chickennya batal."
"Eih, iya iya. Ayo pulang!" Dasar, dibujuk makanan baru mau bergerak. Jimin menatap sinis sahabatnya yang bahkan sudah jalan meninggalkannya. Lagi.
"Eh, Jimin. Nanti mainkan gardenscapesku ya, yang di ponselmu sudah sampai level 730 tapi punyaku masih tak mau naik level."
Yoongi, banyak maunya. Tapi ya sudahlah, Jimin sudah terbiasa.
-민윤-
"Yeay, chicken!" Dengan semangat Yoongi membuka tiga kotak chicken yang baru saja diletakkan Jimin di coffee tablenya. Ah, rasanya sudah beberapa hari ini ia tak makan dengan benar. Hanya cereal, sandwich, kopi dan jelly. Dua hari tak diurus Jimin rasanya perutnya tersiksa sekali.
Buru-buru Yoongi memakai sarung tangan plastiknya dan mengambil satu buah paha ayam dengan lumuran saus honey butter yang seolah sudah memanggil-manggilnya untuk dimakan. Hiks, enak sekali! Yoongi ingin menangis saja rasanya.
"Berapa hari kau tak makan?" Jimin yang sudah melepas jas kerjanya, membuka satu kaleng beer dan meletakkannya di samping yoongi yang masih sibuk mengunyah sebelum membuka satu kaleng beer lagi untuknya sendiri.
"Dua? Tiga? Hmm, aku tidak ingat."
Yoongi memang selama tiga hari ini sangat sibuk dan hanya bertemu dengan Jimin di pagi hari. Dan sekarang setelah manhwa yang ditanganinya sudah proses cetak dan akan segera didistribusi, Yoongi bisa menikmati hari liburnya.
"Kapan terakhir kali kau makan nasi?"
"Tidak ingat juga." Jimin baru saja akan menarik ketiga kotak ayam itu sebelum Yoongi menghalanginya.
"Kau harus makan nasi, Yoon."
"Nasinya besok saja, hari ini pokoknya aku mau makan chicken!"
Jimin hanya dapat menghela napasnya pasrah, mau tak mau ia mengalah pada Yoongi. Yoongi sudah berjuang keras menyelesaikan pekerjaannya, Jimin tak tega mau melarang Yoongi. Mungkin besok ia akan berkunjung lagi ke apartemen Yoongi dan membawakan makanan untuknya.
Setelah menghabiskan hampir dua kotak chicken dan tiga kaleng beer, Yoongi melepas sarung tangan plastiknya dan menyenderkan punggungnya ke kaki sofa di belakangnya. Perutnya bahagia sekali hari ini.
"Lihat wajahmu itu, baru tiga kaleng dan wajahmu sudah merah." Wajah Yoongi memang yang paling cepat memerah saat minum alkohol walaupun ia masih cukup sober.
"Aku mau pulang, jangan lupa bersihkan ini sebelum tidur. Dan tidurlah di kasurmu, mengerti?" Dengan wajah cemberut, Yoongi mengangguk mengiyakan perintah Jimin. Yoongi saat terlalu lelah atau terlalu mabuk kadang bisa tidur dimana saja.
"Tunggu Jimin, aku ikut!" Buru-buru Yoongi mengambil jaket dan dompetnya sebelum mengikuti Jimin yang sedang mengenakan sepatunya.
"Kenapa ikut? Wajahmu sudah merah begitu, bagaimana kalau malah jatuh di jalan."
"Tidak akan, aku cuma mau beli sesuatu di mini market." Yoongi memang jalannya masih lurus walaupun wajahnya memerah dan matanya terlihat lebih sayu.
Hari ini akhir pekan dan jalanan di sekitar apartemen Yoongi terasa lebih ramai dari biasanya. Sesekali Jimin harus menarik Yoongi mendekat ke arahnya agar tak tertabrak pejalan kaki lainnya, sedangkan Yoongi sendiri justru sibuk melihat sekitarnya.
Akhir pekan, tentu saja banyak orang. Dan banyak pasangan yang menikmati hari libur mereka, pemandangan di sekitarnya rasanya seperti mengejek Yoongi yang masih single sampai sekarang.
"Kenapa banyak sekali orang pacaran sih?"
"Kau hanya iri karena tak punya pacar. ADUH!" Yoongi yang kesal, menendang betis pria Park itu sekuat tenaga. Beruntung Yoongi masih mabuk jadi tendangannya pun tak begitu mematikan seperti biasanya.
"Padahal ku pikir aku tak butuh kekasih, apalagi dengan pekerjaanku seperti ini. Tapi ternyata sendiri terus seperti ini tak enak ya." Meski suara Yoongi di akhir seperti berbisik, namun Jimin yang berjalan di sampingnya masih dapat mendengarnya.
"Kalau begitu jadi pacarku saja."
Yoongi yang terkejut, reflek menghentikan langkahnya dan memandang sahabatnya itu. Ia tak salah dengar kan?
"Jangan bercanda Park!"
"Aku tidak bercanda." Jimin menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Yoongi. "Aku sudah mengenalmu, bahkan kita satu kantor jadi aku bisa memahami pekerjaanmu. Kalau kau lelah, aku bisa membantumu dan memastikan kau tak kelaparan. Aku tahu kau sering berjalan jadi saat kau lelah aku bisa memijat kakimu. Saat akhir pekan aku tak akan memaksamu untuk pergi kencan, kita bisa bermalas-malasan sampai siang."
Yoongi yang tertegun hanya dapat berdiri diam di depan Jimin. Kedua matanya mengerjap cepat mencoba mencerna semua perkataan Jimin. Meskipun ia cukup sadar, tapi serangan bertubi-tubi dari Jimin ini mau tak mau membuat perasaannya berputar-putar. Ia tak menyangka, Jimin mau menjadi kekasihnya. Dan lebih tak menyangka lagi betapa pengertiannya Jimin dengan segala kekhawatiran Yoongi selama ini yang membuatnya memilih untuk tetap sendiri selama beberapa tahun ini.
"Dan. . ." Yoongi yang masih terdiam, mendongak ke arah Jimin. "aku bisa membantumu menyelesaikan level yang terlalu sulit untukmu."
.
.
.
.
Apa Jimin benar-benar mengatakan itu? Yoongi mengerjap-kerjapkan matanya, Jimin di depannya masih memandangnya dengan keseriusannya.
"DEAL!"
.
.
.
TBC
A/n: Haiiiiiiiii ku kembali lebih cepat dari biasanya~
Hohoho terimakasih kepada vpn~
Last, terimakasih yang sudah bersedia baca dan memberi review~ review kalian suntikan semangat buatku~
Woof ya~
