Sakura menarik napas dalam-dalam setibanya di kuil Seiryoji. Dataran tinggi yang dilatarbelakangi gunung dan pepohonan hijau nan rindang mengelilingi sebagian besar wilayah kuil. "Haaah, udara pegunungan yang sejuk..." gumam Sakura pelan sembari menutup matanya, menikmati kesejukan dan ketenangan di tempatnya berada saat ini.
.
Tunggu.
.
Kuil?
.
Bukannya mereka semua seharusnya berada di Iwatayama yang penuh dengan berbagai jenis monyet yang berkeliaran?
.
Salahkan pengunjung kota Kyoto hari ini yang banyaknya membuat jalan-jalan utama penuh dengan kendaraan pribadi dan hujan labil yang menimpa mereka selama perjalanan sehingga mengharuskan mereka untuk berakhir di sebuah kuil paling termahsyur di Kyoto, yang jelas-jelas bukan tujuan utama mereka.
.
.
.
Bring Me Down © Aika Umezawa
.
.
Standard Dislaimers Applied
.
.
Warning:
Alternate Universe, Out of Characters (perhaps)
.
.
.
Chapter 2
.
Cheerful Girls and Charming Boys
.
.
.
Setelah setengah hari penuh dengan hujan yang turun dengan labilnya, rintik-rintik air yang terjun bebas dari langit kelabu di atas sana berhenti juga—walau bergumpal-gumpal awan yang gelap masih betah menutupi sinar sang surya. Sebuah mobil bermerek Ford warna hitam berhenti di area parkir yang telah disediakan. Keempat remaja terlihat bergantian keluar satu demi satu dari transportasi beroda empat itu. Bisa dibilang, kehadiran mereka semua benar-benar menarik perhatian—terutama dari penampilan fisik mereka yang mencolok.
Salah satu remaja pria berkulit pucat dengan senyum palsu yang senantiasa diumbarkannya kepada khalayak umum; pemuda berambut raven beserta wajah tampannya yang membuat setiap gadis menghentikan segala kegiatannya hanya untuk melirik masterpiece Kami-sama yang satu itu; si blondie cantik yang menatap pemandangan sekelilingnya dengan manik baby blue miliknya; dan seorang gadis manis bermata emerald dan helaian rambut merah mudanya yang panjang agak ikal cukup menimbulkan tanda tanya di benak orang-orang akan keaslian warna mata dan rambutnya itu. Ya, mereka adalah Sai, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino, dan Haruno Sakura.
Di sinilah mereka berempat berdiri, di sebuah tempat parkir yang—entah bagaimana—penuh dengan gerombolan gadis-gadis dengan mata yang berbinar-binar saat menatap mereka—ralat, tepatnya menatap Sai dan tuan Uchiha. Sedangkan kedua nona muda kita hanya memutar matanya bosan melihat pemandangan seperti itu, sudah santapan sehari-hari, terutama pemandangan fangirls Sasuke yang notabene satu sekolah dengan mereka.
Angin yang berhembus di dataran tinggi seperti Kuil Seiryoji ini cukup menusuk tulang. Apalagi setelah hujan yang melanda selama kurang lebih 6 jam. Untuk Ino dan Sai yang terbiasa memakai pendingin ruangan dalam kesehariannya mungkin tahan dengan hawa dingin seperti ini. Namun tidak dengan Sakura, yang lebih cenderung menikmati alam terbuka ketimbang benda elektronik yang membuat ozon bumi menjadi berlubang dan meningkatkan jumlah penderita kanker kulit di dunia. Wajar saja, kediaman Haruno adalah sebuah komplek perumahan tradisional Jepang dengan berbagai macam taman menguasai 3/5 dari keseluruhan luas tanah. Cukup dengan membuka pintu, maka angin yang sejuk dari luar akan masuk ke dalam ruangan. Ditambah dengan wangi dedaunan yang segar dan gemercik air dari sungai kecil atau danau akan membuat pikiran menjadi rileks.
Gadis Haruno ini merapatkan jaket parasut yang sudah sedari tadi melekat di tubuhnya, namun seerat apapun ia menggunakannya, tetap saja angin pegunungan mampu menembus selapis bahan parasut yang tipis itu. Sakura menggerutu dengan kebodohannya dan mencoba untuk menghangatkan dirinya dengan meniup-niupkan udara ke kedua telapak tangannya dan menepukannya ke pipi. Baru saja ia ingin meminjam jaket hitam yang dibawa Ino, namun sudah disambar lebih dulu oleh Sai.
Sakura mengangkat wajahnya untuk melihat keadaan sekitar, tetapi tiba-tiba alisnya terangkat melihat keabsenan Uchiha Sasuke dari sebelah kanan Sai. Padahal belum ada 10 detik yang lalu ia melihat Uchiha bungsu itu berdiam diri di sana. Dan dalam sekelebat sudah menghilang begitu saja. Sakura menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan pemuda itu. Di tengah kesibukannya menoleh ke sana kemari, ia mendapati sebuah kain tebal menutupi pandangannya. Diraihnya kain itu dan direntangkannya. Hoodie biru tua yang Sasuke kenakan tadi.
"Pakai itu sebelum kau menggigil kedinginan," suara baritone yang khas terdengar dari punggungnya. Uchiha Sasuke berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku. Mata obsidiannya tengah asik menikmati pemandangan alam di sekitarnya. Sakura mengerutkan dahinya sambil menatap hoodie Sasuke di tangannya. Kepalanya kembali menengadah untuk menatap Sasuke, yang kini sedang menatap balik manik hijau mint miliknya. "Kau sendiri bagaimana?"
"Aku sudah biasa. Kau pakai saja itu," sahut Sasuke santai, "lagipula, itu sudah terlalu pas di badanku. Dan sepertinya itu lebih cocok kalau kau yang pakai."
Sakura mengangguk mengerti dan segera melepas jaket parasutnya untuk digantikan dengan hoodie milik Sasuke. Ia meletakkan jaketnya begitu saja di jok tengah dan kembali menutup pintu mobil. Ternyata benar kata Sasuke, hoodie-nya pas dengan tubuh Sakura yang lebih kecil. Walau masih agak kebesaran, namun itu membuatnya lebih hangat. Sakura menggumamkan terima kasih pada Sasuke dan kembali berkumpul bersama yang lain.
"Hei, Sak. Mau ber—ehem, jaket siapa tuh yang kau pakai?" Pertanyaan awal Ino teralihkan oleh sosok Sakura yang memakai jaket biru tua milik Sasuke dengan lambang Uchiha di belakangnya dan pemilik dari jaket itu yang berdiri di sampingnya sambil menyisir rambutnya dengan sebelah tangan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Sakura hanya mengendikkan kepalanya ke arah Sasuke. Ino mengangguk-angguk mengerti dan bertanya, "Mau ke kuil di atas? Pemandangannya lebih bagus lagi."
.
.
.
Cring.
Sebuah koin perak berkumpul bersama teman-teman yang satu jenis dengannya di depan altar. Seorang gadis berambut merah muda dengan si pirang di sebelahnya menangkupkan kedua tangan masing-masing dan memejamkan mata. Berbagai doa mereka panjatkan dalam hati, dengan harapan akan terkabul tentunya.
Sasuke menyandarkan punggungnya pada dinding kuil yang terbuat dari kayu yang dirawat dengan sangat baik. Matanya menerawang setiap lekuk dari salah satu kuil tertua di Kyoto ini sembari mendengarkan musik dari iPod hitam miliknya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Berbeda dengan Sasuke, Sai sedang sibuk mencari objek fotografi yang bagus untuk koleksinya, hitung-hitung menunggu kedua gadis yang sedang konsentrasi dengan doa masing-masing. Sudah banyak foto yang diambil olehnya dan semuanya terlihat sangat indah.
Setelah lima menit yang dirasa cukup lama untuk para lelaki, Sakura dan Ino menghampiri Sasuke dan ketiganya menuruni tangga kuil. Di bawah, Sai sudah menunggu dengan kamera digital di tangannya. Ia mengangkat tangannya, memberi tanda pada ketiga orang itu untuk tetap di tempat. Sakura, Sasuke, dan Ino mengerutkan dahi mereka, namun kemudian mengangguk mengerti begitu pemuda-senyum-palsu itu mengarahkan lensa kameranya pada objek foto yang berdiri beberapa meter darinya.
Splash!
.
.
.
"Waw. Ternyata kau ganteng juga, Sas," komentar Ino saat melihat setiap foto yang diambil oleh mereka berempat secara bergantian. Foto yang dimaksud Ino adalah saat Sasuke sedang tertawa bersama Sakura dan Ino mengambilnya secara candid. "Kalian terlihat mesra."
"Hei!" seru Sasuke dan Sakura bersamaan.
Ada saat Sasuke mencolekkan bubuk tepung kue mochi pada pipi Sakura; Sai menangkap Ino yang tersandung; Sakura dan Ino yang berlarian dari kejaran Sai yang ingin melumuri mereka dengan tepung mochi; Sasuke yang memakan mochi dari tangan Sakura; Sakura dan Ino promosi botol mineral yang mereka genggam masing-masing; dan terakhir, foto mereka berempat yang sedang tersenyum, diambil oleh supir Ino—Hito-san—sesaat sebelum mereka saling mencolekkan tepung ke pipi mereka.
Sakura tertawa terbahak-bahak saat melihat candid hasil dirinya sendiri, yaitu foto Sai yang terlihat seperti ingin mencium Sasuke, dengan wajah kaget bercampur jijik dari Uchiha bungsu itu. Sasuke memberikan death glare terbaiknya pada Sakura yang masih terkekeh geli dan berusaha merebut kamera digital itu untuk menghapus foto aibnya dengan Sai, namun Sakura berlari menghindarinya dan mengoper kamera tersebut pada Sai, yang langsung disembunyikan di dalam kantung jaketnya. Pemilik manik onyx itu hanya mendecih kesal dan berdiri di antara Sakura dan Ino yang tertawa melihat reaksi dari Sasuke.
Ino mengeluarkan Blackberry Pearl miliknya dan melihat angka yang tertera di sana. Pukul empat lewat 30 menit waktu Tokyo sore. Ia masukkan kembali benda elektronik mungil itu dan berkata, "Sudah sore. Balik, yuk. Kemungkinan besar kita baru sampai Tokyo pada malam hari."
Keempat remaja itu memasuki Ford hitam dengan Sakura dan Sasuke duduk di bangku tengah, sedangkan Sai dan Ino di bangku belakang. Perlahan-lahan, mobil itu meninggalkan tempat parkir Kuil Seiryoji dan memasuki jalan utama Kyoto.
Sakura melirik iPhone miliknya yang mati. Ia lupa untuk mengisi baterainya dan sekarang berakhir dengan mengenaskan. Padahal ia belum memberitahu posisinya sekarang pada ibunya. Membayangkan nyonya Haruno dengan tampang datar yang mengancam miliknya membuat Sakura mau-tak-mau bergidik ketakutan.
Gadis itu melirik ketiga orang sebayanya. Sai yang sibuk SMS-an entah dengan siapa, Sasuke yang memandang rintik-rintik hujan yang kembali turun, dan Ino yang sedang melihat kembali foto-foto di kamera digital Sai. Sakura menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil dan menghadap Sasuke yang kini melakukan hal yang sama. Nona Haruno melirik Ino yang masih berkutat dengan kamera di tangannya dan berkata, "No, pinjam ponselmu. Aku mau SMS Okaa-san."
Ino mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memberikannya pada Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera. Sakura menerima benda berwarna hitam itu dan menaikkan sebelah alisnya.
"Hei, hei. Bateraimu juga habis?" tanya Sakura heran.
Si pirang yang satu itu menoleh pada Sakura yang menunjukkan layar ponselnya yang mati. Selang beberapa detik, tiba-tiba Ino berteriak, "HAH? DEMI APA?"
.
No, reaksimu itu telat sekali.
.
.
Ino menyambar Blackberry-nya dan mencoba untuk menyalakannya, namun hasilnya nihil. Hanya layar gelap yang terpeta dengan jelas, membuat gadis itu menghela nafas panjang.
"Aduh, bagaimana ini? Aku juga belum laporan pada Mama!" seru Ino panik. "Oh ya, Sai! Pinjam!"
Sai menghentikan sesi SMS-annya dan langsung menyerahkan ponselnya pada Ino. Dengan jari-jari terlatih miliknya, dalam hitungan detik, pesan singkat yang ditujukan untuk ibunya sudah terkirim. Selesai dengan laporannya, Ino mengoper benda elektronik mini itu pada Sakura.
"Aku.. masih.. di Kyoto. Dengan Ino... Sasuke... dan Sai. Nanti malam mungkin... baru sampai... Sakura. Yak, terkirim. Thanks, Sai." Sakura mengembalikan ponsel metalik hitam itu kepada pemiliknya. Si senyum palsu itu kembali memainkannya sebelum akhirnya bergetar pelan, tanda bahwa ada pesan singkat yang masuk.
"Sakura, sepertinya dari ibumu," kata Sai sembari menyerahkan ponselnya pada Sakura.
.
.
From: Mrs. Haruno
Lurus-lurus saja, 'kan?
.
.
Hah? Sakura mengerutkan dahinya membaca pesan dari ibunya. Dengan cepat ia membalas pesan dari ibunya itu, tidak mengerti dengan maksud ibunya. Sasuke yang sempat melihat pesan yang ditunjukkan oleh Sakura barusan hanya bergumam pelan.
.
.
To: Mrs. Haruno
Apanya yang lurus?
.
Status: delivered
.
.
"Apa maksud dari ibumu?" tanya Sasuke. Sakura hanya mengangkat bahu dan menunggu jawaban selanjutnya. Benar saja, tidak perlu menunggu lama, balasan dari ibunya tiba. Keempat remaja itu menundukkan kepala mereka untuk melihat isi pesan dari nyonya Haruno.
.
.
From: Haruno-san
Tidak melakukan tindakan asusila dan melanggar hukum.
.
.
Krik.
Oke, Okaa-san. Kalimat barusan seolah-olah mengatakan bahwa aku salah satu mantan narapidana masih dinyatakan bebas bersyarat dan berada di bawah pengawasan polisi setempat.
"BAHAHAHAHA!" Ino tertawa terbahak-bahak. Dalam hitungan detik, mobil itu penuh dengan ledakan tawa remaja SMA. Oke, yang perlu diperhatikan di sini adalah Sasuke dan Sai. Orang berwajah stoik seperti Sasuke dan Sai tertawa terpingkal-pingkal? Dunia sudah terbalik.
Sakura hanya mencibir melihat kelakuan teman-temannya yang sama sekali tidak membantu. Tidak ada yang lucu dari kalimat ibunya. Ada-ada saja. Jelas-jelas seorang Haruno tidak mungkin melakukan tindakan kriminal yang melanggar hukum dan bisa masuk penjara. Bisa-bisa dikutuk oleh para leluhur Haruno—yang tentunya bukan hal yang menyenangkan.
"Ibumu lucu sekali, Jidat! Hahahaha," tawa Ino sambil mengusap sudut matanya akibat tertawa yang kelewat berlebihan. "Haduh, perutku sampai sakit!"
Sai sudah kembali pada wajah datar miliknya dan berkata, "Mungkin ibumu mengira bahwa kau akan masuk dalam breaking news dengan headline 'Remaja Labil Melakukan Kerusuhan di Kyoto'."
"Sial," umpat Sakura heran, kembali melirik pada sumber permasalahan yang kini berada di tangan Sai. "Memangnya apa yang lucu dari hal itu, eh?"
Sasuke sudah berhenti dengan sesi tertawanya dan menyeringai, "Memangnya ada yang akan 'membelokkan'mu, Sakura?" Sambil menggerakkan tangannya membentuk kelokan.
"Huh?" gumam Sakura tak mengerti. Sepertinya hanya ia satu-satunya manusia yang tidak mengerti dengan maksud Sasuke. Bahkan Sai memasang ekspresi yang mencurigakan, begitu pula dengan Ino. Tepatnya, senyum om-om paruh baya yang sedang menggoda gadis di bawah umur.
"Iya, 'dibelokkin'," ulang Sasuke.
Selang beberapa detik, barulah Sakura sadar maksud dari Sasuke. "IH, MESUM!" seru Sakura sambil meninju bahu Sasuke pelan.
Menghindar dari kepalan tangan gadis di hadapannya, Sasuke berseru, "Sai, coba bilang sama nyonya Haruno; Tante, tante. Sakura-nya diculik Sasuke!"
.
.
.
"Gila. Sudah jam segini masih di Kyoto?" gerutu Sakura sambil melirik jam tangannya. Biasanya jam segini ia sudah berada di rumah. Tentu saja aturan jam malam dari ibunya yang mengatur semua itu. Seperti dugaan awal mereka, jalan pulang pun semacet saat berangkat tadi. Mereka masih terjebak di Kyoto, bahkan sampai perbatasan pun belum. Dan dengan suhu udara sedingin ini, membuat kantung kemih miliknya cepat penuh dan menuntut panggilan alamnya untuk segera menemukan kamar kecil. Ia melihat sebuah kedai makan yang penuh dengan antrean orang-orang, yang sepertinya hanya ingin meminjam toilet. Gadis itu membuka pintu mobil. Baru saja kakinya ingin melangkah turun, suara seseorang menahannya. "Mau kemana?"
Sakura melirik orang di sampingnya—Sasuke—yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana panjangnya. Sepertinya ia baru saja selesai menelepon seseorang. Tanpa ragu ia menjawab, "Toilet."
Sakura membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Begitu ia menutup pintu, ia mendapati Sasuke berdiri di belakangnya. "Kapan kau keluar!" seru Sakura sambil menunjuk Sasuke.
"Hn," gumam Sasuke.
Ternyata bukan hanya Sasuke saja, kedua orang lainnya pun turut serta. 'Mau ke toilet saja rombongan seperti ini.' Mereka mendekati kedai makan itu dan keadaan ternyata lebih ramai daripada yang terlihat di mobil tadi. Sebagian antrean berisi anak-anak kecil yang berebut masuk toilet dengan suara yang tidak kecil tentunya, membuat kepala pusing saja. Keempat remaja itu memutuskan untuk mencari tempat lain, dan bingo! Toilet umum yang terletak di belakang kedai makan.
Terdapat dua bilik toilet, yang mereka gunakan secara bergantian. Sekembalinya dari tempat itu, mereka bergegas kembali ke mobil. Tidak jauh dari toilet umum tersebut, segerombolan preman berkumpul di depan sebuah toko bangunan. Sakura meringis melihat penampilan orang-orang itu dan berjalan merapat di sebelah Sasuke. Salah satu preman itu berteriak, "Jaket biru! Sini main sama saya!" sambil bersiul-siul. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
Sakura memutar bola matanya imajinatif dan berlagak cuek. Sasuke menepuk pelan pucuk kepala Sakura dan berkata agar tidak mengindahkan perkataan orang-orang itu. Mereka mencari Ford hitam yang menjadi tumpangan mereka namun tidak menemukannya.
"Mobilnya mana?" tanya Sakura bingung.
Ino menoleh ke kiri dan kanannya tapi tidak mendapati kendaraannya. Rintik-rintik hujan kembali turun dan angin pegunungan berhembus dingin. Yak, bagus sekali.
"Itu." Sai menunjuk mobil yang tengah berjalan meninggalkan mereka perlahan-lahan.
.
.
"..."
.
.
"SAI! KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI!" Keempat remaja itu berlarian mengejar mobil dan masuk dengan terburu-buru karena mobil-mobil di belakang mereka sudah membunyikan klakson dengan tidak sabar. Sai dan Ino masuk ke bagian belakang cepat-cepat dan Sasuke melompat ke bangku tengah. Mobil mulai berjalan padahal Sakura masih di luar, tali sandalnya lepas. Sasuke menarik tangan gadis berambut merah muda itu untuk masuk dan menangkapnya saat tubuh Sakura hampir menabrak pintu di belakangnya. Ino menutup pintu di belakang Sakura dan keempatnya menghela napas lega.
"Aku tidak mau melakukan itu lagi."
.
.
.
Setelah berjam-jam terjebak di Kyoto hingga malam datang menjelang, sebuah mobil Ford hitam melintas memasuki lintas kota Tokyo pukul 9 lewat 30 menit waktu Tokyo malam. Seorang gadis berambut pirang terlihat sedang tertidur, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda yang duduk di sampingnya. Sedangkan gadis yang satunya, dengan rambut merah mudanya yang menutupi sisi kiri wajahnya berbaring di sepanjang bangku tengah mobil, berbagi tempat dengan pemuda tampan yang masih terjaga, menatap sang gadis yang sedang memasuki alam bawah sadar di sisinya.
.
.
Flashback
.
"Kalau tidur dengan posisi seperti itu akan membuat kepalamu sakit karena beradu dengan pintu mobil," sahut Sasuke saat melihat Haruno di sampingnya menyandarkan kepalanya pada sisi jendela mobil dengan mata tertutup. "Dasar bocah, jam segini sudah mengantuk."
Mendengar kata 'bocah' sontak membuat Sakura menunjukkan manik zamrudnya yang masih setengah menutup. Ia mendelik pada Sasuke sesaat lalu kembali pada sesi tidurnya. Sasuke menggeser posisi duduknya sampai tepi bangku dan menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya. Alis pink gadis itu terangkat lalu menggelengkan kepalanya dan menggumamkan 'tidak-usah-di sini-saja.' Namun pemuda itu menariknya dan berakhir dengan dirinya yang berbaring di sebelah Sasuke. Dengan iseng, Sai mengambil foto mereka berdua yang diikuti tawa dari Ino. Mendengar suara blitz kamera, Sakura langsung bangun dari posisinya dan tidak sengaja beradu dengan kepala Sasuke.
"Aduuuuh," ringis Sakura sambil mengusap-usap bagian yang sakit. Sedangkan Sasuke menanggapinya dengan santai—walau pada kenyataannya sakit sekali. Kepalanya sekeras batu, batinnya.
"SAAAI!" seru Sakura sambil menggapai-gapai tangannya untuk merebut kamera Sai dan menghapus foto barusan. Sai malah mengopernya pada Ino yang menyeringai jahil dan kembali mengambil foto Sakura yang menyembunyikan wajahnya di balik bantal kecil dengan Sasuke yang terlihat seperti merangkulnya.
"AWAS KAU, INOOO!"
.
.
Sasuke mendengus menahan tawa apabila mengingat kejadian barusan. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kesenangan seperti hari ini. Bertemu dengan orang-orang baru dan menghabiskan waktu sehari penuh ternyata menyenangkan pula. Terutama gadis berambut pink yang tertidur di sampingnya. Tidak disangka, perempuan yang (ia sangka) sangat cuek ini ternyata memiliki pribadi yang menyenangkan. Cara bicaranya yang cepat, kata-kata sulit yang kadang ia keluarkan, dan refleks saat tangannya membuat gadis itu kegelian benar-benar hiburan untuknya.
Kedua gadis yang tertidur itu bangun dari tidur singkat mereka saat mobil sudah memasuki distrik Konoha, dalam perjalanan menuju kediaman Uchiha. Ino mengantar Sasuke, Sakura, dan Sai masing-masing ke rumahnya, dimulai dari rumah Sasuke yang paling jauh. Alasan utamanya tentu saja karena hari sudah malam dan tidak mungkin membiarkan ketiga anak itu naik kendaraan umum untuk pulang.
Mereka kembali bercengkrama satu sama lain, saling bertukar nomor ponsel agar tetap bisa saling berhubungan. Sakura mengarahkan Hito-san agar melalui jalur yang tidak begitu ramai di jam-jam seperti ini. Ino berdecak kagum dengan pengetahuan umum Sakura yang tahu seluk-beluk kota Tokyo, bahkan sampai jalur transportasi daratnya pun Sakura hapal semua itu. Sampai-sampai ia dijuluki sebagai GPS berjalan. Dijamin, kita tidak akan tersesat saat bersama dengan gadis itu.
Dalam waktu 15 menit, Ford hitam itu berhenti di depan gerbang kediaman Uchiha yang megah. Sasuke menggumamkan terima kasih pada mereka semua dan turun dari mobil.
"Tidak usah," potong Sasuke cepat saat Sakura bersiap melepaskan hoodie biru tua yang dikenakan gadis itu, "pinjam saja selama kau mau."
"Aa, baiklah. Terima kasih, Sasuke," gumam Sakura.
"Hn," balas pemuda itu sambil menepuk kepala Sakura. "Thanks, ya, untuk hari ini."
"No problem, Sas!" seru Ino sambil ber-high five bersama dengan Sai, Sakura, dan Sasuke. Uchiha itu melangkah memasuki gerbang rumahnya dan menghilang seiring dengan jarak mobil yang semakin jauh dengan kediaman Uchiha.
Sakura menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Hari sudah menunjukkan waktu setengah sebelas malam dan mobil dalam perjalanan menuju rumahnya. Matanya melirik keluar jendela, melihat kehidupan kota di malam hari.
"Sasuke baik sekali padamu, Sakura," gumam Ino, yang dijawab dengan gumaman tidak jelas dari Sakura. "Baru kali ini aku melihat dia tertawa ngakak seperti tadi. Biasanya kan dia selalu memasang wajah stoiknya khas Uchiha itu."
"Iya, ya," ucap Sakura pelan.
"Semoga hubungannya dengan pacarnya berjalan lancar," sahut Sai tidak nyambung.
"Gadis yang beruntung. Semoga saja dia menjadi gadis terakhir di hidupnya," timpal Ino sambil menghela napas lega. "Walau gadis itu tidak sepatutnya mendapat orang seperti Sasuke."
Sai menatap Ino dan bertanya, "Kau kenal dengan pacar Sasuke?"
"Tidak bisa dibilang kenal juga. Tapi aku tahu orang seperti apa dia," jawab Ino. "Jelas, Sasuke menyembunyikan fakta sesungguhnya agar kita tidak berpikir hal-hal yang negatif mengenai pacarnya. Cepat atau lambat, kalian akan tahu bagaimana dia sebenarnya. Pacar Sasuke, maksudku. Aku sendiri pernah suka dengan Sasuke, sekarang sih tidak. Hihihi."
Sakura menaikkan alisnya saat melihat Ino yang tertawa seperti itu. "Yang benar saja. Aku tidak mengincar orang yang sudah 'sold out'. Aku tidak mau dicap sebagai tukang rebut atau apalah itu."
"Jangan begitu."
Ino memajukan dirinya agar bisa menatap emerald sahabatnya itu. Ia berkata dengan senyum penuh keyakinan, "Haruno Sakura, suatu saat nanti dapat kupastikan bahwa kau akan terjebak dalam pesona sang Uchiha, bahkan tanpa kau sadari. Dan sepertinya, sekarang hal itu sudah dimulai bukan?"
.
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
.
A/N:
Saya merasa kalau chapter ini kurang bagus banget -_-"
Sasuke makin OOC yak? Akan diusahakan untuk dikurangi ke-OOC-annya di chapter depan (walau sepertinya bakal susah banget)
Mengatur alur cerita agar nggak kecepetan itu susahnya nauzubillah. Beh.
Abis kalau nggak begini, problemnya nggak muncul-muncul nanti :0
Err konflik baru muncul di chapter 3 *lirik-lirik Kokoro*
Awawawawaw makasih banyak yang udah review :D
Saya ngga nyangka ada yang mau sekedar baca fic abal ini. Ehehehehe
Thanks to:
tomat-pyon
Uchiha Kluke Ai-chan
Maya
Nurama Nurmala
luth a.k.a LuthRhythm
xxxkshineiiiga21737
4ntk4-ch4n
Kokoro Fujisaki a.k.a kanarienvogel
Okaaay, mind to review? :3
