Masih disclamer. Yah, bukannya aku bakal memiliki Skip Beat!
Gerbang Surga
Bagian 02 : Amagami
Lory baru memberitahu Ren tentang keterlibatan Mogami sebagai pemeran Hiimeko setelah ia setuju menerima peran Kyoshi. Kemudian ia memberitahukan tentang kesepakatan yang ditawarkan Amagami Corps.
Ia mengatakan bahwa ia tak keberatan dengan kesepakatan itu maupun Amagami Corps. sendiri karena Kyoko menerima peran itu dengan senang hati—tak peduli semencurigakan apapun kesepakatan dan perusahaan itu. Tapi ia tak suka, tak pernah suka, dengan keluarga Amagami yang ada di belakang Amagami Corps. Sehingga ia meminta Ren untuk menjaga Kyoko dengan hati-hati dan waspada.
Walaupun ada berbagai masalah dalam dirinya—termasuk yang menyangkut gadis bermata madu itu, Ren adalah satu-satunya orang yang paling memiliki kemampuan untuk menjaga Kyoko tanpa menimbulkan kecurigaan pihak Amagami. Ren tahu itu dan ia melihat ketulusan Lory dalam mengkhawatirkan Kyoko. Jadi ia menelan rasa frustasi karena harus berakting romantis dengan cinta sepihaknya yang tak boleh diketahui oleh siapapun terutama gadis yang bersangkutan, untuk dirinya sendiri.
Sejak itu, Ren melakukan semacam penyelidikan tentang Amagami Corps. dan keluarga Amagami. Hanya ada sedikit informasi online tentang Amagami Corps., dan tak ada informasi tentang keluarga Amagami. Hampir semua informasi yang ia dapat hanya merupakan cerita yang beredar diantara orang-orang.
Amagami Corps. berdiri dua tahun yang lalu hanya dengan modal kemampuan berbisnis dan koneksi pendiri sekaligus CEO-nya yang sekarang, Kasuga Hikaru. Selama itu, Amagami Corps. telah berkembang pesat dan bergerak di banyak lapangan sehingga sekarang telah menjadi salah satu perusahaan besar yang memimpin perekonomian Jepang. Saat ini, perusahaan itu mengembangkan sayapnya ke dunia entertainment.
Sementara keluarga Amagami adalah keluarga induk tradisional dari sebuah keluarga besar kuno yang dulu pernah berpusat di Kyoto. Pusat keluarga tersebut berpindah ke Edo (sekarang Tokyo) sejak jaman Tokugawa. Keluarga bangsawan ini dapat bertahan hingga jaman ini karena tak pernah menunjukkan diri di publik maupun terlibat dalam politik—walaupun menurut gosip, banyak anggota keluarga cabangnya yang bergerak di berbagai lingkup kerja maupun mendirikan perusahaan di berbagai bidang.
Dengan kata lain, keduanya terlihat normal dan tak berbahaya, untuk ukuran sebuah perusahaan besar yanng dipimpin seorang jenius dan sebuah keluarga bangsawan kuno yang tak mau menggunakan pengaruhnya.
Ren menggenggam erat kepalan tangannya. Semua informasi itu tak membuatnya tenang. Jika firasat Lory benar—dan biasanya selalu benar, tak ada alasan bagi Ren untuk mengendurkan kewaspadaannya.
Hari ini merupakan hari pertama pemotretan poster promo untuk Gate of Heaven. Menurut rencana, semua pemeran inti akan bertemu untuk pertama kalinya dan akan ada perwakilan Amagami Corps. yang mengawasi pengambilan gambar. Yumeno Haruka pasti ada di lokasi, dan ada kemungkinan Kasuga atau Wakamiya akan hadir—jika ia beruntung, keduanya mungkin datang.
Ren melangkah masuk ke studio. Di dalam studio, ia melihat Aoyama-san, sutradara pemotretan yang juga akan menjadi sutradara film mereka. Pria itu sedang berbicara serius dengan seorang gadis semampai berambut hitam lurus.
Di sudut matanya, ia melihat Kyoko sedang berbicara dengan gadis manis berambut coklat ikal. Ren mengenali gadis itu sebagai Yumeno Haruka—Saat menyelidiki tentang Amagami, Ren juga menyelidiki tentang aktris yang namanya meroket sejak tiga tahun yang lalu itu. Lalu Ren melihat Kyoko tertawa. Wajah ceria objek-cinta-sepihaknya-selama-setahun melelehkan hatinya.
Ren menghela nafas berat. Ini merupakan kesempatan pertama Ren untuk meninjau medan 'pertempuran'nya, dan ia tak boleh membuang kesempatan itu—tapi ia sudah teralihkan oleh godaan makhluk menarik itu pada detik pertama ia melihatnya.
Yashiro menyeringai. "Kyoko-chan terlihat cantik dengan kimono putih itu. Akan sulit untuk berkonsentrasi pada arahan sutradara dan fotografer saat berfoto mesra dengannya. Iya kan Ren?"
Ren menahan diri untuk tidak menampar dirinya sendiri. Ia hampir lupa pada joker yang masih menyebut dirinya sendiri sebagai manajernya Itu. "Jadi Mogami-san sudah datang? Itu bagus," katanya berpura-pura tak tahu.
Yashiro cemberut dan mengomel dengan berbisik. "Kau harus lebih memperhatikannya, kau tahu? Atau kau tak boleh protes saat Kyoko direbut orang lain. Misalnya oleh pemuda yang terus memperhatikannya dari balik Haru-chan."
Ren menoleh ke manajernya, lalu ke arah Kyoko. Benar saja, di belakang gadis yang berbicara dengan Kyoko, seorang pemuda semampai berambut coklat bersandar pada meja sambil sesekali memperhatikan Kyoko. Ren menyadari bahwa pemuda itu lebih sering memperhatikan Yumeno-san dan pemuda itu bukan Fuwa, tapi pemuda itu membuatnya gugup—dengan cara yang berbeda dengan Fuwa. Pemuda itu membuat lambungnya terasa membeku.
Ren memastikan matanya bertemu dengan mata Kyoko sebelum berjalan menghampiri Aoyama-san.
"Selamat pagi, Aoyama-san," sapa Ren dengan senyum khas Tsuruga Ren.
"Oh, Ren-kun! Kau datang lebih awal. Selamat pagi, yah, walaupun ini sudah siang. Kau tahu keanehan dunia ini," Sutradara itu tertawa. Ren tersenyum sopan. " Kau sudah makan siang?"tanya sutradara itu.
"Ya, saya sudah makan sebelum ke sini," jawab Ren seraya mengangguk. Ia melirik pada gadis yang tadi berbicara dengan Aoyama-san. Gadis itu menyadari lirikannya tapi meng-tak-acuhkannya. Di ujung matanya, Ren melihat Kyoko berjalan ke arah mereka bersama Yumeno-san dan pemuda itu.
"Bagus, bagus. Kau sudah bertemu dengan Wakamiya-san? Dia perwakilan Amagami Corps. yang akan mengawasi kita hari ini. Tadi kami membicarakan tentang bagaimana iklan pertama Gate of Heaven akan di tayangkan besar-besaran oleh Fukuyama Corps." Sutradara itu bergeser ke samping sehingga gadis itu bisa maju dan meperkenalkan dirinya.
"Wakamiya Tsukiyo. Senang bertemu dengan aktor pemeran Kyoshi-kami." Tanpa senyum, gadis itu menjabat tangannya dengan hanya menyisakan sikap profesional yang dingin.
"Kaget bukan? Kalau tak melihat langsung, kau tak akan percaya bahwa tangan kanan Kasuga Hikaru adalah gadis remaja yang cantik. Ku dengar dia membuat Fukuyama setuju membiayai seluruh promosi tanpa kita harus mencantumkan namanya di akhir film kita. Jangan tertipu penampilannya Ren, atau dia akan membuatmu menjadi Fukuyama kedua," canda Aoyama-san.
"Kalau kau mengikuti Kasuga-san, kau akan terkejut betapa mudahnya orang-orang mengikuti kemauannya." Suara Wakamiya datar dan tanpa emosi.
"Oh? Sekarang kau melempar 'tanda jasa' kepada atasanmu, Tsukiyo? Fukuyama mendapat sesuatu yang lebih mereka inginkan daripada pencantuman nama di akhir film ini. Dan seni bernegosiasi—kalau harus ku ingatkan, Rekanku—adalah keahlianmu, bukan keahliannya." Sebuah suara berat datang dari kanan mereka. Suara itu selembut beledu.
Ren menoleh dan menemukan rombongan Kyoko sudah ada disampingnya. Kyoko membungkuk hormat saat menyapa senpai-nya itu.
"Berusaha membela sesama Kasuga, eh, Tsukasa? Ah, bukan 'membela', tapi 'klarifikasi' lebih tepatnya?" Wakamiya menyeringai lihai. Pemuda yang disebut Tsukasa itu hanya tersenyum santai ke arah gadis itu. Yumeno merenggut sebal. Sementara Kyoko mengerutkan dahinya.
Dia Kasuga Tsukasa? Ren menyembunyikan rasa kagetnya dengan sempurna. Dalam setahun kemarin, Kasuga Tsukasa menulis dua naskah film dan satu naskah drama. Ketiganya memiliki plot yang menarik dan sukses di pasaran. Lalu sekarang Gate of Heaven.
Itu bukan kemampuan level remaja biasa! Ada dua Kasuga jenius, satu iblis cantik sebagai ahli negosiasi, dan—dengan asumsi bahwa Yumeno adalah bagian dari Amagami—satu peraih aktris terbaik tahun lalu dalam Amagami. Rasanya tak sulit mempercayai gosip tentang keluarga Amagami.
"Tsuruga Ren-san?" panggil aktris bermata hijau emerald itu, "Saya percaya ini pertemuan pertama kita. Saya Yumeno Haruka yang akan memerankan Kaneda Yurika."
Gadis itu menarik Kasuga menjauhi Wakamiya. "Dan ini, Kasuga Tsukasa. Seperti yang kita semua tahu, penulis naskah kita," katanya dengan bangga.
Walaupun menyadari adanya drama diantara ketiga remaja itu, Ren tetap tersenyum sopan dan mengulurkan tangan untuk menjabat tangan mereka. "Tsuruga Ren. Aku yang akan memerankan Sakuragi Kyoshi. Mohon bantuannya."
Yumeno tersipu tapi Ren tetaplah Ren, ia tidak mengartikannya sebagai rasa tertarik. Di lain pihak, Kasuga merenggut dan segera mengulurkan tangan untuk menghentikan jabatan tangan antara Ren dengan gadis berambut sebahu itu. Kerutan di dahi Kyoko makin dalam.
"Minna-san, pemotretan akan segera dimulai. Kita akan menyelesaikan semua bagian Haruka-chan terlebih dahulu. Haruka-chan harus pergi jam tiga nanti. Kyoko-kun, kami akan membutuhkanmu satu jam lagi. Dan Ren-kun, kami akan membutuhkanmu dua jam lagi. Jadi kalian bisa santai di ruangan masing-masing sampai kami memanggil kalian, " jelas Aoyama saat jam menunjukkan pukul satu siang.
Kasuga mundur ke belakang staf, diikuti oleh Wakamiya di belakangnya. Yumeno memeluk Kyoko sebelum naik ke panggung. Ren pamit ke ruang tunggunya untuk mengganti pakaian dan menemui make-up artist.
Saat berjalan menjauhi panggung, ia menyadari Kyoko terus menatapnya. Ren berhenti dan menoleh. Kyoko—yang merasa tertangkap basah—bergerak-gerak gugup lalu berlari mendekatinya.
"Aku baru tahu bahwa kau yang akan memerankan Kyoshi-sama," katanya dengan campuran rasa bersalah dan takut.
Ren tersenyum. "Takarada-san belum tahu bahwa aku akan menerima peran itu saat kau menerimanya. Dan aku lupa untuk memperingatkanmu sebelum hari ini," dustanya dengan lancar. Kyoko hanya mengangguk dan terdiam.
Ia mengikuti Ren dalam diam hingga mereka sampai di ruang tunggu Ren. Suasana diantara mereka selalu menjadi canggung sejak malam syukuran episode terakhir Dark Moon. Dan Yashiro, karena dia adalah Yashiro, menyadari hal ini dan menemukan alasan untuk membiarkan pasangan ini berduaan untuk menyelesaikan masalah apapun diantara mereka.
"Mogami-san," panggil Ren setelah beberapa saat. Kyoko mengangkat wajahnya dan menatap Ren, mencoba membaca ekspresinya tapi tak berhasil menyimpulkan apapun. Ren menikmati saat-saat menatap wajah gadis yang dicintainya, sampai "Kau akan di sini selama aku ganti baju?" tanyanya malu-malu.
"TIDAK!" jerit Kyoko. Orang tak akan mengira bisa menemukan ekspresi pucat dan tersipu pada wajah dan waktu yang sama, tapi Kyoko menunjukkannya karena campuran rasa malu, panik, dan takut. Kemudian ia berbicara dengan cepat dan tak jelas tentang 'tidak pantas', 'kasar', dan 'tak tahu malu'.
Walaupun merasa terluka akibat penolakan setegas itu, Ren menahan tawa karena melihat ekspresi gadis itu yang berubah-ubah dengan cepat. Hal itu, membuat Mio—yang sudah lama tidak muncul—muncul. Ren segera menghentikan tawanya.
"Maaf, hanya saja... Kyoko, tunggulah di ruanganmu. Aku akan segera menyusulmu begitu selesai ganti baju. Itu pun jika aku tak salah mengerti bahwa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan," katanya. Selama beberapa saat, Kyoko menatap seniornya itu dengan curiga lalu ia mengangguk setuju dan pergi.
Setelah selesai ganti baju, Ren segera pergi ke ruang tunggu Kyoko. Kemudian mereka kembali ke ruang tunggu Ren karena tak pantas bagi senior bertamu ke ruang tunggu juniornya—alasan versi Kyoko.
Begitu pintu di tutup, Kyoko tak membuang waktunya.
"Aku tak bisa melakukan adegan cinta," aku Kyoko blak-blakan. Ren tidak kaget dengan pernyataan itu—bagaimanapun ia adalah anggota seksi LoveMe, tapi ia tak menyangka bahwa gadis itu akan mengaku seterus-terang itu padanya. Ren menunggunya untuk melanjutkan karena Kyoko terlihat masih memiliki sesuatu yang ingin dia katakan.
Kyoko menggigiti bibir bawahnya. "Tapi aku tak mau bergerak sesuai naskah hanya karena terpengaruh aktingmu," katanya mencicit. Karena Ren tetap diam, gelombang kepanikan menghantam Kyoko.
"Aku tahu ini permintaan yang tak tahu diri dan aku tahu ini akan menggangu proses shooting tapi aku ingin berdiri sejajar denganmu sebagai seorang aktris dan bukannya sebagai bonekamu tapi aku tahu aku tak bisa melakukan adegan cinta terutama denganmu karena aku takut akan menjadi salah satu korban legenda co-star killer karena aku masih takut untuk jatuh cinta tapi aku tak mau mundur dari peran ini karena aku ingin menolong Himeko-sama jadi tolong tunggu sampai aku belajar cukup banyak dengan Himeko-sama walaupun aku masih takut dan tak percaya diri tapi aku berjanji akan berusaha..."
"Stop!" perintah Ren. Kyoko segera menghentikan rentetan permintaan-alasan-penjelasan-nya. Ren memintanya duduk di kursi yang telah tersedia di ruangan itu. Kyoko menurut. Ren duduk di kursi di hadapannya.
Kyoko menyiapkan hatinya untuk menerima amarah Ren atau apapun selain yang ia dengar kemudian.
"Aku mengerti," kata Ren. Kyoko menatapnya dengan terkejut.
Ren menghela nafas. Bohong, jika ia bilang bahwa ia tak merasa sakit hati atas apa yang Kyoko ungkapkan tepat di depan wajahnya. Tapi ia juga merasa bangga atas keberanian Kyoko menghadapi ketakutannya sendiri, terlebih pada kesungguhan Kyoko untuk mengadu akting dengannya. Dan Ren mengerti, seperti saat ia berjuang untuk menemukan Katsuki-nya sendiri, akan sangat berat bagi Kyoko untuk menciptakan Himeko-nya.
"Aku mengerti. Aku meminta maaf jika aku sudah menjadi bayangan yang terlalu besar bagimu dan membuatmu tak nyaman. Aku akan menahan diri..." Ren tahu bahwa terkadang aktingnya cukup kuat untuk mempengaruhi akting lawan mainnya. Tapi ia tak pernah bermaksud menempatkan Kyoko di posisinya seperti saat ia harus menghadapi ayahnya dulu.
"Kau salah!" sanggah Kyoko. "Kau tak boleh menahan aktingmu. Bagiku, kau adalah aktor terbaik dan seperti manusia di balik awan. Wajar jika aku lebih banyak tertangkap daripada lolos dari aktingmu." Wajah Kyoko memerah.
Tepat seperti apa yang dulu ku pikirkan tentang Ayah. Ren tersenyum. Matanya bertemu dengan mata Kyoko. Kemudian ia menyadari, waktu satu jam Kyoko hampir habis. Ia berdiri, mengingatkan Kyoko, dan mengantarnya ke depan pintu.
Kyoko mengenal mata itu. Walaupun Ren tersenyum dan walaupun warna mata itu berbeda, Kyoko pernah melihat mata seperti itu sebelumnya. Corn, ucap hatinya lembut dan penuh rasa peduli. Ia terdiam di ambang pintu.
"Apa yang akan dilakukan Tsuruga-san setelah ini? Bagaimana dia akan merespon aktingku? Bagaimana aku harus merespon aktingnya? Sampai mana setting yang sudah ia pikirkan? Apakah aku lolos dari aktingnya? Atau aku sudah tertangkap tanpa kusadari?" Kyoko menoleh untuk kembali bertatapan dengan sepasang bola coklat gelap. "Setiap aku kehilangan Mio di tengah take, pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyelamatkanku dari NG-cut. Aku selalu gugup saat akan beradu akting denganmu dan semua pertanyaan itu berputar dalam kepalaku. Karena saat beradu akting denganmu, aku akan tahu sudah seberapa lebih dekat aku denganmu. Dan itu membuatku senang."
Ekspresi Kyoko memaksa Ren untuk secara spontan menutup wajah Kyoko dari pandangannya dengan kedua tangannya yang besar. Ren merasakan aliran darah hangat naik ke wajahnya. Dengan posisi itu, mereka tak bisa melihat wajah di hadapan mereka masing-masing. Ren mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk tubuh mungil di hadapannya.
Saena menyelinap masuk ke kamar kepala keluarga Amagami saat ini. Tanpa menimbulkan suara, ia segera membuka sebuah laci di sebelah kanan ruangan itu. Ia hanya memiliiki waktu lima belas menit sampai dia harus kembali ke ruang tamu utama yang berjarak seratus meter dari kamar itu.
Setelah mencari selama semenit yang terasa sangat lama, ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah magatama putih yang dibebat dengan perban hitam. Dengan hati-hati, ia membuka segel perban itu. Ia tak ingin ada anggota klan yang merasakan pergerakan energi akibat pelepasan segel itu.
Begitu segel terlepas, ia merasakan beberapa kekuatan yang telah lama ia kenal kembali kepadanya. Tubuhnya gemetar karena dipenuhi kekuatan lagi secara tiba-tiba.
Saat pengembalian kekuatan itu hampir selesai, ia merasakan sayatan perih di pergelangan kaki kirinya terbentuk kembali. Simbol buronan Amagami yang terbentuk saat ia melarikan diri 17 tahun yang lalu.
Belum habis rasa sakit itu, sebuah sayatan baru terbentuk di lengan kirinya. Kali ini simbol hukuman bagi yang berani mencuri dari kamar kepala keluarga Amagami. Darah segar membasahi kaos kaki putih dan lengan kirinya. Saena menggertakkan giginya, menahan jeritannya.
Dalam hati ia memaki dan memprotes. Ia hanya mengambil kembali kekuatannnya, bukan mencuri. Ayahnyalah yang merebut kekuatan itu darinya begitu ia tertangkap kembali sepuluh tahun yang lalu.
Butuh tambahan semenit untuk membersihkan darah dan mengobati luka sayatan itu—walaupun Saena sudah menggunakan kekuatan penyembuhnya. Tapi, bekas luka sayatan itu akan tetap ada. Walaupun kutukan Simbol Pendosa itu hanya terjadi pada anggota klan dengan kekuatan, sekali simbol itu terbentuk, simbol itu tak akan pernah bisa terhapus.
Saena keluar dari kamar itu sama hati-hatinya seperti saat masuk. Lalu ia melangkah cepat dengan mantap menuju ruang tamu utama. Mulai sekarang, ia harus memilih pakaian yang cocok untuk menyembunyikan simbol-simbol itu. Atau klan akan tahu bahwa kekuatannya sudah kembali dan ia akan dikurung di sana.
Tapi urusan pakaian itu bisa ditunda. Sekarang ia harus mengatasi Fukuyama. Sepertinya ada yang memberikan informasi mengenai hilangnya Himiko dan rencana Tsukasa pada pria berperut buncit itu. Saena yakin, Tsukasa sendiri memang menghendaki hal itu terjadi. Karena bocah itu bisa saja mencegah hal itu jika dia memang menginginkannya.
Fukuyama meminta sepertiga kewenangan atas Himiko karena 'jasa'-nya. Para tetua meributkan hal itu dan berencana menyingkirkan pria malang itu untuk selamanya. Keserakahan klien dan rencana-rencana kotor. Saena sudah muak dan tak peduli dengan semua itu.
Ia tak tahu alasan Tsukasa memasukkan kejadian seperti ini dalam rencananya. Tapi, Saena melihat bahwa pria itu bisa dimanfaatkan untuk menjauhkan Kyoko dari Amagami. Jadi, dia akan merebutnya dari cengkraman gagak-gagak tua haus darah itu untuk rencananya sendiri. Setidaknya, rencananya tidak melibatkan rencana mengambil nyawa seseorang.
AN/: Ha! Internet hari ini lebih lancar dari pada kemarin-kemarin *nari-nari girang*
Ehm, okey, waktunya serius. Sedikit penjelasan. Aku ngga bermaksud menambah kelam kondisi Jepang sekarang dengan fanfic ini. Aku cuma, well, memiliki hubungan cinta-tapi-benci dengan genre cerita semacam ini. Dan aku berharap fanfic ini dapat dinikmati oleh siapapun yang membacanya.
Daaaaan, sekarang aku harus kembali menempel sayatan sampel tiroid (Padahal aku pengen pulang cepet hiks hiks).
Ciao,
E.C.
