Disclaimer :

Naruto © Masashi Kisimoto

Summary : Uzumaki Naruto, seorang siswa dengan pendidikan menengah serta nperekonomian yang rendah mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah untuk orang kaya, orang-orang pun mulai membully Naruto karena tidak pantas di sekolah tersebut, namun beberapa orang tidak memperdulikan Seperti apa Naruto, malah mereka ingin dekat dengannya.

Why do you like me?

Pair :

Naruto x ...

Genre : Action, Romance, Comedy, Little Humor, Slice of Life, Echhi, DLL

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, Alur berantakan dan Lain-lain

" Naruto " berbicara

' Naruto ' batin

.

Chapter 2 : Palsy atau Nyata.

.

Rabu, 25 April 2019

Kediaman Hyuuga

07.00 AM

.

Di pagi yang indah di sertai kicauan burung, di sebuah kediaman bernuasa tradisonal jepang, seorang perempuan berambut indigo Tengah memasak Sarapan dengan senyum cerah di wajahnya.

Sementara itu di meja makan terdapat Dua orang berbeda gender duduk dengan wajah pucat, mereka memucat karena melihat senyuman Hinata yang cerah, mereka seolah seperti melihat hantu.

"O-Otou-sama, O-Onee-sama kenapa?" tanya seorang perempuan berambut Cokelat kepada Pria di depannya. "A- Aku juga tidak tahu Hanabi, B- Bahkan semenjak kemarin senyum itu tidak pernah luntur dari wajah Hinata bukan?" balas Pria tersebut ikut tergagap.

"Ha'i~ ini Sarapan untuk kalian~" ucap preemption berambut indigo yang tak lain adalah Hinata sambil membawakan Sarapan untuk Ayahnya dan Hanabi.

Sang Ayah Dan Hanabi terdiam ketika melihat Sarapan mereka yang tampak imut, biasanya Sarapan mereka tampak biasa saja namun Kali ini… sungguh imut!

"Ha'i! Ittadakimasu~"

"N-Ne, O-Onee-sama… Apa kau baik-baik saja?" tanya Hanabi dengan raut wajah Khawatir. "A-Apa kau lelah belajar? J-Jika iya aku tidak akan memaksamu lagi?" timpal sang Ayah ikut khawatir.

Hinata yang melihat kekhawatiran mereka tetap tersenyum, bahkan senyumnya semakin lebar. "Ha'i, Aku Baik-baik saja kok!" balas Hinata membuat kekhawatiran Sang Ayah Dan Hanabi semakin besar.

'Pasti terjadi sesuatu! Kami-sama, apa yang terjadi pada Putriku!/Onee-sama!'

.

.

"Jaa~, Ittekimasu~!" ucap Hinata lalu berlari dengan riang di sertai hati berbunga-bunga menuju Sekolah. Para warga yang melihat Hinata tampak ring merona tipis karena mereka seperti melihat bidadari cantik yang turun ke Bumi.

'Hehe~ tidak sabarnya aku bertemu Naruto-kun, Apakah Naruto-kun sudah sampai di Sekolah ya~' batin Hinata memikirkan orang yang telah merebut hatinya.

"Oh, Hinata-chan!" Hinata yang di panggil menghentikan langkahnya dan dia melihat Tenten dan Sakura yang berdiri di tempat tunggu Zebra Cross, Hinata yang melihat mereka tersenyum lalu mendekati mereka Dan ikut menunggu.

"Ada apa Hinata-chan? Kau tampaknya senang sekali Hari ini?" tanya Sakura penasaran. "Hehe~ Aku hanya tidak sabar bertemu Naruto-kun kembali, dan aku sudah membuatkan sesuatu untuknya," jawab Hinata dengan senyumannya.

"Astaga, kau seperti orang yang merindukan pacarnya setelah pergi sekian lama, padahal kau bisa melihatnya Setiap Hari," ucap Sakura tidak habis pikir akan tingkah Hinata, tingkahnya benar-benar berubah setelah Ada Naruto.

"Tapi Sebelum itu kau Harus melatih dirimu agar tidak pingsan seperti kemarin, kasihan Naruto-kun menggendongmu Ke UKS," omel Tenten membuat wajah Hinata memerah malu.

"Mou~! Jangan mengingatkanku Hal itu!" kesal Hinata sambil memukul pelan Tenten. "Heh~ jadi karena itu kau ingin membalas kebaikkannya dengan membuatkannya Bento?" tebak Sakura, Hinata yang mendengar itu memainkan jarinya malu-malu.

"Hah~ berdoalah Dia menerimanya, kau ingat bukan kalau dia tidak mau di buatkan Bento?" ucap Sakura dan di balas Anggukan oleh Hinata.

.

Konoha Gakuen

.

Hinata yang sudah sampai di Sekolah Harus memasang wajah datar kembali ketika Ada orang yang ingin menyatakan Cinta kembali padanya, Sakura dan Tenten yang di belakang Hinata hanya diam, bagi mereka ini sudah biasa, tapi dalam hati, mereka benar-benar khawatir jika Hinata jadi kesal.

Jika kesal Hinata tak segan-segan menggunakan Senjata tajam untuk mengancam seperti waktu di kantin kemarin. Walau mereka di tempat terbuka dan tidak terlihat Senjata tajam sedikitpun tapi di Dalam Tas Hinata, kemungkinan saja Ada.

"Apa maumu, Inuzuka Kiba?" tanya Hinata menatap datar laki-laki di depannya yang memiliki rambut Cokelat acak-acak di sertai tato segitiga di pipinya.

"Hinata-chan jadilah kekasihku, jika kau menerimanya aku Akan membahagiakanmu dengan hartaku," ucap Laki-Laki bernama Kiba menyatakan cintanya dengan sebuket bunga. Bisik-bisik murid pun terdengar di telingamu Hinata, jujur dirinya benci menjadi gosip seperti ini.

"Menyatakan Cinta dengan harta? Sungguh anak-anak yang berkembang di negara berflower," gumam Sakura sambil memainkan Hpnya.

"Apa yang terjadi jika aku menolak?" Tanya Hinata dengan ekspresi datarnya. "Maka aku akan memaksamu menjadi kekasihku," jawab Kiba enteng.

"Etto… permisi, Ada apa ya?" Hinata yang mendengar suara Naruto menoleh ke belakang Dan dia melihat para Murid menyingkir dari Naruto seolah memberi Naruto ruang.

"Naruto-san," gumam Sakura Dan Tenten bersamaan. "Etto… ini ada apa ya, Sakura-san, Tenten-san?" tanya Naruto sambil mendekati Sakura dan Tenten.

"Maa~, sebenarnya…"

"Baiklah, Aku menolak Cintamu itu Inuzuka Kiba!" balas Hinata dengan tegas lalu mengaitkan lengannya pada lengan Naruto, "Karena aku telah memiliki pujaan Hatiku," lanjutnya membuat semua di sana terdiam.

Sakura yang mendengar itu menepuk jidatnya, itu seperti menyatakan cintanya secara tidak langsung. Tenten yang mendengar itu bahkan terdiam seperti batu.

'W-Wawawawa! Apa yang baru saja aku katakan! Bukankah itu seperti mengatakan cintaku secara Tak langsung! Dasar bodoh!' teriak Hinata dalam batin dengan wajah memerah.

"E- Eh? A- Apa maksudmu, Hi-Hinata-san?" tanya Naruto dengan wajah memerah malu. "S-Shhh~ diamlah, Bantu aku keluar dari situasi ini," bisik Hinata menyembunyikannya wajahnya yang memerah

"Apa kau bilang?! Kau lebih memilih si miskin itu di banding denganku?!" tanya Kiba merasa terhina, Hinata yang mendengar itu tentu tidak terima, "Maaf saja, Inuzuka Kiba. Aku menolak Cintamu karena Cintamu itu salah, Cinta tidak berdasarkan harta, namun saling mencintai Satu sama lain," balas Hinata membuat Kiba menggeram marah.

"Ayo, Naruto-kun Kita ke kelas," ajak Hinata sambil menarik Naruto melewati Kiba.

Greb!

"Jangan harap kau bisa Lolos!" teriak Kiba sambil menarik kerah Naruto.

Bugh!

.

.

Kediaman Hyuuga.

.

Sementara itu di kediaman Hyuuga, Hanabi yang membersihkan Peralatan dapur seketika terhenti ketika dirinya melihat sebuah tempat yang harusnya terdapat beberapa pisau hilang semua.

Hanabi yang tidak melihat pisau Satu pun menatap sekitarnya namun hasilnya nihil, "Dimana Onee-sama meletakkan pisaunya?".

.

Back To Konoha Gakuen.

.

Kembali ke Konoha Gakuen, para Murid yang berkerumun seketika berkeringat dingin ketika melihat apa yang terjadi di depan mereka.

"Tenangkan dirimu Inuzuka-san, atau kau akan kehilangan nyawamu," ucap Sakura yang berdiri di depan Naruto sambil menahan sebuah tinju yang di layangkan Kiba dengan tangan kosong.

Kiba yang mendengar itu bergetar ketakutan ketika sebuah Mata pisau hampir menusuk matanya, pemegang Mata pisau itu Tak lain adalah Hinata.

Hinata menyembunyikannya Pisaunya di lengan Jas sekolahnya agar memudahkannya mengeluarkan pisau tersebut.

Tenten yang menahan tubuh Hinata agar tidak menusuk Mata Kiba melirik Naruto yang terdiam ketakutan, dirinya sempat terkejut karena Hinata membawa pisau di lengan jasnya dengan refleks dia langsung saja menahan Hinata, melihat situasi semakin tidak bagus Tenten berbisik Kepada Hinata.

"Hinata, hentikan. Kau membuat Naruto-san ketakutan," bisik Tenten membuat Hinata tersadar. Hinata pun menarik Pisau di tangannya lalu berjalan kembali sambil menarik Naruto tapi Kali ini dengan lembut.

Kiba yang telah lepas dari maut terjatuh sambil mengatur nafasnya, dirinya hampir saja kehilangan penglihatannya. Apa lagi ketika mengingat wajah Hinata saat menodongkan pisaunya.

.

.

Hinata yang menarik Naruto pun berhenti di koridor yang sepi lalu menghadap ke arah Naruto yang masih ketakutan. Hinata yang melihat Naruto ketakutan menundukkan kepalanya, "Gomen, Naruto-kun. Membuatmu ketakutan seperti itu," ucap Hinata meminta maaf.

"H-Hinata-san, ke- kenapa kau membawa Senjata tajam? Bu- Bukankah itu tidak boleh?" tanya Naruto tergagap. "Aku tahu, tapi… Aku hanya benci ketika orang-orang seperti mereka yang selalu membanggakan diri mereka dengan harta mereka," jawab Hinata membuat Naruto mencoba mencerna perkataan Hinata.

"Aku juga benci ketika orang seperti mereka merendahkanmu, kau padahal tidak salah apa, tapi mereka…. Mereka sudah keterlaluan, itulah yang membuatku membawa pisau ini, mengancam mereka adalah Cara yang paling tepat, maka dari itu…"

Greb!

Hinata tersentak ketika ke Dua tangannya di genggam oleh Naruto, "Maaf membuatmu Melakukan ini, Hinata-san. Tapi aku mohon, kau tidak perlu Melakukan Hal seperti ini lagi, aku tidak ingin merusak Reputasimu Karena hanya diriku yang miskin ini," ucap Naruto dengan lembut.

"Dari dulu aku sudah sering menerima perlakuan seperti itu, bisa di bilang itu seperti sarapanku Setiap Hari. Namun aku selalu menerimanya tanpa mengeluh sedikitpun, Aku senang kau membelaku, tapi aku harap jangan menggunakan Senjata seperti ini lagi, melihat kau membelaku dengan tulus saja sudah cukup untukku," lanjut Naruto sambil tersenyum tulus membuat wajah Hinata memerah.

Sakura dan Tenten yang melihat adegan di depan mereka merona tipis, jujur… kata-kata Naruto membuat mereka tersentuh. Naruto pun menarik Pisau di tangan Hinata dengan lembut, lalu menaikkan lengan baju kirinya.

Srash!

Semua yang di sana terkejut ketika Naruto tiba-tiba menggores otot lengan kirinya hingga berdarah, mereka tidak habis pikir kenapa Naruto Melakukan Hal itu. "Senjata ini hanya bisa melukai, dan aku tidak ingin orang sepertimu, Hinata-san. Melukai orang dengan tanganmu itu," ucap Naruto sambil tetap tersenyum.

"Baka! Dengan kata-katanya tadi sudah cukup membuat kami mengerti! Kau tidak perlu menjadikan dirimu Korban!" bentak Sakura pelan. "Tidak… Aku harus melakukannya, diriku telah membuat reputasi Hinata-san menjadi buruk, maka dari itu aku Harus melukai diriku karena kesalahanku sendiri," balas Naruto dengan tegas membuat Hinata merasa bersalah.

"Baiklah-baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi, tapi aku mohon jangan lukai dirimu lagi!" pinta Hinata lirih, "Hehe, aku senang mendengarnya," balas Naruto sambil terkekeh pelan.

"Tapi Ada Syaratnya Naruto-san," celetuk Tenten membuat Naruto menoleh ke arahnya, "Jika kau tidak ingin Hinata seperti itu, kau Harus menerima Bento dari Hinata Setiap Hari, tidak boleh menolaknya, syarat itu adalah yang paling ringan, apa kau menerimanya?"

Hinata yang mendengar itu menatap Tenten yang memberinya kode mengedipkan mata, "Dan Juga, Satu syarat lagi… hampir Setiap Hari, Hinata-san selalu menerima pernyataan Cinta dari murid-murid di sini, karena Hinata tadi sempat bilang bahwa kau adalah pujaan hatinya, kau harus menjadi kekasih sementara Hinata."

Hinata yang mendengar itu memerah wajahnya, tapi mendengar kata sementara Hinata memberi kode pada Sakura 'Kenapa harus sementara?!'

"Kenapa aku harus Melakukan itu?" Tanya Naruto polos. "Bukankah tadi Hinata-san mengatakan itu hanya untuk membohongi lelaki tadi?" lanjut Naruto.

"I- Itu memang benar… tapi…," gumam Hinata sambil memainkan jarinya, dirinya belum siap menyatakan perasaannya tapi tadi dirinya secara spontan Saja mengatakan Hal itu.

'Karena aku telah memiliki pujaan hatiku.' dan 'Bantu aku keluar dari situasi ini.' tentu itu terdengar seperti pernyataan Cinta yang tidak resmi. Dirinya ingin sekali menyatakan cintanya tapi ketika mendengar syarat Sakura rasanya tidak mungkin.

"Kau ingat bukan, tadi Ada yang menyatakan Cinta dengan Harta, dan Hinata tidak menyukai itu," jawab Tenten membuat Naruto merenung saat.

"Ini hanya sementara hingga kelulusan, setelah lulus, kau boleh memutuskannya atau tetap menjadi kekasih Hinata," jelas Sakura, baginya memberi waktu Kira-kira setahun sudah cukup untuk mereka berdua biar lebih dekat.

Mungkin ini hanya sementara tapi siapa tahu setelah kelulusan, mereka menjadi kekasih sungguhan dan menikah nanti.

"Kami Tahu ini akan sangat terlihat mencolok dan mungkin kau akan menerima perlakuan tidak Baik, tapi Jangan khawatir, kami berdua akan mengatasi itu," lanjut Tenten sambil tersenyum.

"Eh? Tapi…"

"Tenten itu dari Klub Kendo, dan Sakura dari Klub Judo, Apa lagi mereka adalah ketua Klub itu," jelas Hinata membuat Naruto terkejut.

"Tidak perlu sungkan, kami dengan tulus Melakukan ini kok," ucap Tenten sambil tersenyum tulus.

Naruto yang mendengar itu merenung sesaat

"Baiklah, jika itu untuk membalas kebaikan Hinata-san, aku menerimanya," jawab Naruto teguh membuat wajah Hinata memerah sepenuhnya.

'HEH! Apa-Apaan ini! Kenapa bisa secepat ini!' teriak Hinata dalam batin, 'P-P-Padahal aku sudah mempersiapkan diriku, tapi kenapa? Kenapa bisa secepat ini?' batin Hinata.

"Tapi aku juga memiliki syarat untuk itu," ucap Naruto, "Um? Syarat?" tanya Sakura penasaran.

Hinata yang masih berkutat dengan pikirannya tidak mendengar syarat Apa yang di minta Naruto. Sakura dan Tenten yang mendengar syarat Naruto tersenyum dan memberi tanda jempol pada Naruto.

"Hey!"

"Hyaa!" kejut Hinata ketika Sakura penepuk pundaknya. "Ayo antar Naruto-san, ke UKS setelah itu ke Kelas," ajak Sakura dan langsung di jawab anggukan oleh Hinata.

"Tidak, Jangan ke UKS, itu akan menimbulkan kecurigaan," tolak Naruto dengan lembut, "Jika Kita Ke kelas dan Sensei sudah di kelas akan berbahaya, aku tidak ingin berita kau melukaiku karena kau membawa pisau menyebar," jelas Naruto membuat Hinata, Sakura dan Tenten sedikit termenung, mereka tidak berpikir hingga Sana.

"Tapi…"

"Jangan Khawatir, aku bisa menutupnya sementara hingga istirahat nanti," potong Naruto sambil menutup kembali lengannya yang terluka dengan lengan baju dan jas sekolahnya.

"Jadi Mari Kita kembali."

.

.

[Why Do You Like Me?]

.

.

Class 3-1

.

Naruto, Hinata, Sakura dan Tenten yang telah kembali ke kelaspun harus terdiam ketika Teman-teman kelas mereka menatap mereka dengan tatapan yang sulit di jelaskan.

Naruto yang mengetahui ini akan terjadi menarik Hinata dengan lembut menuju bangku mereka, namun langkahnya Harus tertahan ketika ada yang Uchiha Sasuke berdiri di depannya bersama beberapa orang.

"Aku dengar kau menjadi kekasih Hinata, apa yang kau gunakan Anak miskin? Sihir gelap?" tanya Sasuke dengan nada menuntut. "Tidak, aku tidak pernah menggunakannya sedikit pun," jawab Naruto dengan tenang.

"Bolehkah kami lewat?"

Grek!

"Kau pikir, aku akan melakukannya?" tanya Sasuke sambil menarik kerah Naruto. Hinata yang melihat itu bersiap mengeluarkan pisau lagi satu di salah Satu lengan jasnya, namun dirinya sudah berjanji tidak akan menggunakan pisau kembali.

"Bisakah kau hentikan itu? Sasuke-san?" pinta Tenten dengan lembut. "Urusai, ini bukan urusan Kalian," balas Sasuke acuh.

"Heh~ benarkah?" tanya Sakura sambil mengepalkan tangannya. Sasuke yang melihat itu melepaskan kerah Naruto dan membiarkan Naruto lewat.

Siapa pun Tahu bahwa di Konoha Gakuen, Sakura adalah juara 1 Judo, tidak Ada yang bisa mengalahkannya, bahkan jika Sekolah lain yang menyerang Sekolah Konoha Gakuen Dan ketika melihat Sakura mereka langsung berlutut meminta maaf padahal belum Melakukan apa pun.

Naruto yang di biarkan lewat menarik Hinata dengan lembut menuju bangku mereka Dan saat melewati Sasuke, Hinata membisikkan sesuatu yang membuat Sasuke menegang.

"Kau akan menerima akibatnya, Uchiha Sasuke," bisik Hinata. Sasuke memang mendengar kabar bahwa Hinata membawa Senjata tajam dan hampir membunuh Kiba karena ingin memukul Naruto.

Namun untung saja Hal itu dapat di hentikan.

"Sungguh luar biasa, aku tidak menyangka kau akan menjadi perempuan rendahan yang berpacaran dengan orang miskin, Hyuuga-san."

Hinata yang mendengar itu menghentikan langkahnya, Sasuke melirik dan ingin melihat reaksinya Hinata, jika dia menyerangnya dengan pisau dia bisa merusak reputasi Naruto serta Hinata secara sekaligus.

"Apakah Cinta harus sederajat?" Sasuke yang mendengar pertanyaan Naruto menaikkan sebelah alisnya, "Jika iya, izinkan aku bertanya kembali?"

"Jika perempuan yang kau Cintai memiliki perekonomian yang kecil, Apakah kau akan tetap mencintainya? Atau mencari perempuan yang sederajat, namun dia bukan jodohmu di Masa depan? dan bagaimana jika orang yang kau Cintai sudah menikah lebih dulu Dan tidak pernah kau lihat lagi?"

Pertanyaan Naruto membuat semua penghuni kelas terdiam, "Apa yang akan kau lakukan, Uchiha-san?" Sasuke yang di tanya seperti itu terdiam.

"Walaupun banyak wanita di Dunia ini dan percaya bahwa Kami-sama telah menentukan jodohmu nanti tapi dia adalah perempuan yang telah menikah dan tidak pernah kau lihat lagi, apa yang akan kau lakukan?"

Dia tidak bisa menjawabnya, merasa benci di pojokan Sasuke hanya membalasnya dengan "Hn." Seolah enggan menjawabnya.

Naruto yang mendengar jawaban Sasuke pun menarik Hinata kembali dengan lembut, Hinata yang mendengar pertanyaan Naruto tadi termenung.

Dirinya belum pernah menemukan Seseorang yang seperti Naruto, orang sederhana yang tidak mementingkan Status, Uang, dan Teman. Hal itu membuat rasa suka Hinata semakin bertambah, jujur dirinya tidak salah menemukan pujaan hatinya.

Walau perekonomian kecil, pengetahuan Naruto harus di banggakan, pantas saja pemerintah memberinya Beasiswa agar orang seperti Naruto semakin 'jadi'.

Setelah sampai di bangku mereka, Naruto Dan Hinata pun duduk dengan tenang sambil mengeluarkan buku pelajaran mereka Kecuali Hinata yang mendekati Naruto Dan membisikkan sesuatu pada Naruto hingga membuat wajah Naruto sedikit merona.

"Arigato, Darling." Naruto yang mendengar itu berdehem pelan sambil memalingkan wajahnya, "Hmnn, panggil aku seperti biasa saja, Hinata-chan." Hinata yang mendengar Naruto memanggil ya dengan Sunfix -Chan merona.

"L-Lagi Pula ini hanya sementara, j-jadi…"

Hinata yang mendengar itu sedikit kecewa karena Naruto memanggil ya seperti itu hanya karena perjanjian tadi, tapi setelah menerima situasi ini Hinata tidak akan meninggalkan kesempatan ya untuk lebih dekat dengan Naruto.

"Sementara ya…," gumam Hinata sambil tersenyum tipis lalu membisikkan kembali sesuatu yang membuat Naruto membatu, "Lalu… Bagaimana jika Kita menjadi kekasih selamanya?"

Hinata yang melihat Naruto membatu terkekeh, reaksi Naruto menurutku sangat lucu, Naruto pun tersadar dan menatap Hinata yang terkekeh.

"Jika itu terjadi… mungkin aku adalah orang terberuntung di Dunia, tapi… aku rasa itu tidak mungkin bukan, Hinata-san, kau tidak mungkin mencintaimu Pria sepertiku ini," bisik Naruto dengan pelan.

.

.

Break Time

.

.

Jam istirahatpun di mulai, dan sesuai perjanjian, Naruto menerima Bento buatan Hinata dan makan bersama Di kelas dengan Sakura, Tenten Dan Hinata tentunya.

Sakura, Tenten dan Hinata sempat di ajak ke Kantin oleh Ino namun mereka menolak karena mereka juga bawa Bento. Setelah kejadian kemarin mereka kehilangan Nafsu untuk ke Kantin.

"Ha'i! Ini bento untukmu Naruto-kun!" ucap Hinata dengan nada senang memberikan Naruto Bento yang dia Buat. Naruto yang di berikan Bento oleh Hinata menerima Bento tersebut Tak lupa sedikit membungkukkan badannya.

"Arigato, Hinata-chan. Suatu saat aku Akan membalasnya," ucap Naruto, Hinata yang mendengar itu merona dan tersenyum dengan hati gembira. "Ha'i, aku akan menantikannya," balas Hinata.

Naruto pun membuka bento yang di buatkan Hinata dan dia bisa melihat bento yang di Tata rapi Dan memiliki kesan imut pada makannya, kenapa terkesan imut? Karena makanannya di bentuk seperti hewan-hewan yang lucu.

"Heh~ Kawaii," puji Naruto membuat wajah Hinata semakin memerah, "Ini sangat cocok denganmu Hinata-chan, sama-sama Kawaii."

Pujian Polos Naruto semakin membuat wajah Hinata memerah, dirinya di bilang Kawaii oleh Naruto. "A- Arigato," balas Hinata malu-malu.

"Hmm… padahal menjadi kekasih sementara tapi kau sudah seperti menjadi kekasih sesungguhnya, Naruto-san," celetuk Tenten membuat Naruto memerah malu.

"Go- Gomen, aku tidak bermaksud…"

"Ja- Jangan khawatir, Naruto-kun. Aku tidak masalah kok," potong Hinata sambil tersenyum agar Naruto tidak merasa bersalah. "O- Oh…" gumam Naruto lalu Memakan Bento buatan Hinata.

"Ba- Bagaimana Naruto-kun?" tanya Hinata penasaran dengan reaksi Naruto. "Uhmn, Enak sekali! Kau pandai sekali memasak ya Hinata-chan?" puji Naruto membuat wajah Hinata memerah di sertai senyum senang.

"Asal kau tahu, Naruto. Setiap pagi, dia lah yang selalu menyiapkan Makanan di rumahnya," ucap Tenten memberikannya Naruto membuat Naruto terkagum.

"Heh~ benarkah?"

"Um, soalnya kami sempat mengingat di rumahnya ketika banyak tugas tahun lalu," timpal Sakura membuat Naruto tersenyum lirih.

"Souka, andai saja kami bisa Memakan Makanan seperti ini," gumam Naruto. "Um? Ada apa Naruto?" tanya Sakura membuat Naruto tersentak dan menggelengkan kepalanya.

"Ti- Tidak, bukan apa-apa," jawab Naruto lalu Memakan Bento buatan Hinata kembali. Sakura yang menyadari perubahan raut wajah Naruto terdiam beberapa saat lalu Memakan bekalnya kembali.

"Permisi."

Naruto, Hinata, Sakura dan Tenten mendengar itu menoleh dan mereka melihat sosok perempuan dengan wajah datar di sertai kaca matandi wajahnya berdiri di sisi mereka.

"Ah, Kaichou!"

"Kaichou?" tanya Naruto polos. "Dia adalah Ketua Osis di sini, namanya Sona Sitri," jelas Tenten.

"Ehem, maaf mengganggu Kalian, tapi aku tadi mendengar keluhan beberapa murid bahwa salah Satu di antara Kalian membawa Senjata tajam dan berniat membunuh Seseorang tadi pagi," ucap Sona membuat Naruto dan yang lain tersentak.

"Ha'i, aku yang membawa Senjata tajam tersebut," jawab Naruto sambil berdiri membuat Hinata, Sakura dan Tenten terkejut.

"Ch-Chotto matte, Naruto-kun! Kenapa kau…"

"Hm, jadi begitu… Kalau begitu ikutlah denganmu menuju Ruang Kepala Sekolah," ajak Sona namun Hinata menahan Naruto agar tidak mengikuti Sona.

"Matte Kaichou! Naruto-kun tidak bersalah! Akulah yang membawa Senjata tajam itu! Jadi biarkan aku yang ikut," ujar Hinata membuat Naruto terkejut. "Hinata-chan, kau tidak perlu mengatakannya, biarkan aku yang menganggunya," ucap Naruto lembut.

"Mana mungkin aku bisa! Ini kesalahanku, maka dari itu aku harus menerima kesalahanku sendiri!" balas Hinata dengan tegas.

Sona yang melihat mereka bertebara kecil hanya diam dengan wajah datar, baginya ini seperti adegan Drama kecil yang menyakitkan matanya.

"Walau pun begitu, ini juga salahnya yang membuatmu membawa Senjata tajam. Jadi biarkan aku saja yang ikut dengan Kaichou," ucap Naruto sambil tersenyum dengan lembut.

"Naruto-kun," gumam Hinata lirih.

"Maaf Kaichou, izinkan aku bertanya… siapa yang melaporkan Hal ini Kepadamu?" intrupsi Sakura membuat Sona meliriknya. "Aku tidak bisa memberikannya," balas Sona singkat.

"Apakah Inuzuka Kiba?" tebak Sakura membuat Hinata tersentak, Sona yang mendengar itu hanya diam dengan wajah datarnya.

"Kaichou, kami juga membawa Senjata Apakah kami Harus ikut juga?" tanya Tenten sambil menunjukkan Bokkennya. "Itu adalah Senjata Club jadi itu lain," jawab Sona.

"Tapi Kaichou, kau tahu kenapa kami membawa ini?" Sona yang mendengar itu memejamkan matanya, "Tentu saja untuk kegiatan Club," jawab Sona.

"Bukan hanya itu, tapi kami membawa ini untuk melindungi diriku kami juga!" balas Tenten dengan tegas, "Naruto-san membawa Senjata tajam untuk melindungi dirinya, bukan untuk membunuh!"

"Hm? Bagaimana caranya agar aku percaya?"

"Etto… Gomen Kaichou, bolehkah aku bertanya?" tanya Naruto, "Aku tahu bahwa Sekolah melarang membawa Senjata tajam, tapi Apakah kau tahu tentang diskriminasi yang Ada di Sekolah ini?"

Sona yang mendengar itu hanya diam, dirinya memang sering mendengar itu dari beberapa orang luar Sekolah, "Kau harusnya tahu, Kaichou! Bahwa orang-orang di sini sangat tidak Adil, bahkan mereka Tak segan-segan melakukan kekerasan untuk mendapatkan apa yang menurut mereka Adil," ujar Sakura.

"Tapi Naruto-san tidak pernah menerima perlakuan yang Adil, bahkan tadi pagi Naruto-san hampir di hajar oleh Inuzuka-san karena Hinata-chan menjadi kekasihnya!" ucap Tenten ikut menjelaskan.

"Uzumaki-kun, kekasih Hinata?" tentu Sona sedikit terkejut karena Orang Seperti Hinata menjadi kekasih Naruto yang rumornya adalah Anak miskin.

"U-Um," gumam Naruto sambil mengalihkan wajahnya yang merona.

"Apakah Naruto-san Harus menerima serangannya itu? Tentu tidak bukan? Maka dari itu Naruto membawa pisau untuk melindungi dirinya."

Sona yang mendengar itu melirik ke arah Naruto yang masih diam di tempat, "Tapi kau bisa menjaga dirimu tanpa Senjata tajam bukan?"

"Naruto tidak memiliki kekuatan untuk menjaga diri, kau harusnya tahu bahwa Naruto itu Orangnya sederhana, dia tidak seperti Kita yang berbaring di atas uang, maka dari itu dia membawa pisau untuk menjaga dirinya," jelas Sakura membuat Sona termenung.

"Kaichou!" panggil Naruto membuat Sona menatapnya dan Sona Harus terkejut ketika Naruto bersujud di depannya, "Kumohon maafkan aku, maaf karena membawa Senjata tajam ke Sekolah ini dan tolong, Jangan beritahu Kepala Sekolah hal ini!" pinta Naruto.

"O- Oi! Angkat badanmu! Jangan seperti ini!" perintah Sona sambil memaksa Naruto until bangun dari bersujudnya. "Naruto-kun! Kumohon hentikan! Kau tidak perlu sampai seperti in!" timpal Hinata

"Aku tidak Alan berdiri hingga Kaichou berjanji tidak Alan melaporkan Hal ini Kepadamu Kepala Sekolah, jika itu terjadi… maka…" balas Naruto masih bersujud.

Sona yang mendengar itu menggeram kecil, dirinya tidak Ada pilihan lain selain menerima permintaan Naruto, "Ba- Baiklah! Aku menerimanya! Aku tidak akan melaporkannya!"

Naruto yang mendengar itu tidak berdiri dari bersujud ya, "Benarkah?" tanya Naruto memastikan. "Iya! Aku berjanji atas mama Kami-sama!" jawab Sona dengan tegas.

Naruto yang mendengar itu bangun dari bersujud ya Dan tersenyum pada Sona, "Arigato, Kaichou!" Sona yang melihat senyuman Naruto merona tipis.

Senyuman Naruto membuat Jantung Sona berdebar-debar, rambut acak-acak, kaca Mata bening menghias wajah yang memiliki Mata biru seindah Sakura Dan pipi yang di hiasi 3 kumis Kucing membuat Jantung Sona semakin berdebar-debar Dan Wajah Sona memanas

"Se- Sebagai gantinya, kau harus memenuhi permintaanku nanti! Ka-Kalau begitu A- Aku permisi!" Sona yang tidak ingin wajahnya di lihat memerah berdiri lalu berjalan menjauh sambil menyentuh dagunya.

'A- Apa- apaan itu tadi… E-Entah kenapa saat melihat senyumnya jantungku berdebar-debar,' batin Sona, 'A- Apakah ini yang namanya Cinta? M- Mustahil! Dia sudah menjadi kekasih Hinata!'

Selagi Sona berkutat dengan pikirannya menuju Ruangan Osis. Di kelas Naruto tengah duduk dengan perasaan gugup ketika di ceramahi oleh Sakura, Tenten, dan Hinata.

"Naruto-kun no baka! Padahal kau tidak perlu sampai bersujud tadi! Jika Kita meminta ya secara halus Pasti dia mau memaafkanmu!" bentak Hinata dengan suara pelan.

"Hehe, Gomen. Hanya saja, ide seperti itu terlintas di kepalaku," balas Naruto meminta maaf, "Aku hanya tidak ingin, membuat yang lain khawatir," lanjut Naruto sambil tersenyum lirih, Hinata, Sakura dan Tenten yang mendengar itu saling melirik.

.

.

Skip Time

16.00 PM

.

Ting! Tong! Ting! Tong!

Pelajaran Hari ini pun berjalan dengan lancar tanpa terjadinya sesuatu yang buruk, bahkan rumor tentang membawa Senjata tajam tidak terdengar ketika Kaichou mengumumkan bahwa rumor Senjata tajam tidak Ada Dan bagi siapa pun yang ngelanjutkan rumor tersebut Akan di panggil menuju Ruangan Kepala Sekolah karena menyebarkan berita bohong.

"Hah~ akhirnya selesai juga," gumam Sakura sambil meregangkan badannya. "Kerja bagus, Minna," ucap Naruto memberi selamat.

Hal itu telah wajar, Setiap pekerjaan berat atau pun ringan sudah selesai, kalimat itu wajib di Ucapkan.

"Oh ya, sejak tadi aku tidak melihat yamanaka-san bersama Kalian, apa tidak apa?" tanya Naruto khawatir membuat hubungannya mereka rengang. "Jangan khawatir, Hari ini dia selalu menggoda Uchiha-san Sasuke jadi tidak perlu khawatir," jawab Sakura membuat Naruto menggumam mengerti.

"K-Kalau begitu sampai bertemu besok… Ma-Matta ne," ucap Naruto pamit setelah sampai di depan gerbang Sekolah lalu berjalan meninggalkan Hinata, Sakura dan Tenten yang memiliki jalur searah sementara Naruto sebaliknya.

Hinata yang melihat Naruto telah pergi melambaikan tangannya pelan di sertai wajah murung, Sakura yang melihat itu menyenggol pelan Hinata lalu Tenten yang sejak tadi terfokus pada Naruto yang telah menjauh.

"Ayo Kita ikuti dia," ajak Sakura membuat Tenten dan Hinata kebingungan. "Ke- Kenapa? Kenapa Kita mengikutinya?" Tanya Hinata bingung.

"Ini adalah kesempatan untuk mengetahui dimana dia tinggal dan bagaimana kehidupan kesehariannya, aku sejak tadi penasaran kenapa Naruto selalu menyebut 'Kami', Apakah Ada yang tinggal bersama Naruto?" Hinata dan Tenten sedikit tersentak ketika mengingat bahwa mereka juga sempat mendengar itu.

"Ayo! Sebelum Kita kehilangan jejaknya!" Ajak Sakura sambil menarik Hinata dan Tenten untuk mengikuti Naruto.

Secara sembunyi-sembunyi, Hinata, Sakura dan Tenten mengikuti Naruto tanpa di ketahui oleh Naruto sedikit pun.

Setelah cukup lama mengikuti, Sakura, Hinata, dan Tenten akhirnya sampai di tempat Naruto tinggal, Mereka cukup terkejut karena Naruto tinggal di apartment sederhana yang bisa di bilang murah.

"Jadi Naruto-san, tinggal di sini...," gumam Sakura tidak percaya. "Separah inikah perekonomiannya? Bukankah harusnya pemerintah memberikannya kediaman yang layak?" timpal Tenten tidak percaya.

"Naruto-kun," gumam Hinata lirih, 'Sebenarnya… seberapa sakit waktu yang telah kau lalui, Naruto-kun?'

.

.

.

.

TBC

Note : Yo! Kembali up nih.

Bagaimana cerita Kali ini? Menarikkah? Haha aku harap iya.

Btw Hinata akan Saya beri 3 sifat di sini, pertama Yandere, Sadistic, Dan tentunya Sifat Imutnya, aku mendapat ide ini ketika gak sengaja melihat anime Gadis muda yang menjadi menyeramkan untuk menjaga kehidupan manisnya.

Lalu Sona Sitri? Aku masukkan sebagai Oc di sini. Karena hanya dia saja yang masuk sini, jujur bagiku hanya dia yang cocok memerankan peran Kaichou.

Lalu Apakah Sona akan menyukai Naruto nanti? Who knows…

Lalu menjadi kekasih sementara? Saya memang sengaja membuat situasi ini, kenapa? Tidak akan asik jika langsung menjadi pacaran tanpa saling mengenal dulu bukan?

Rahasia menjadi kekasih sementara hanya di ketahui oleh mereka berempat saja, tapi akan terbongkar entah kapan. Lalu Apakah Naruto tidak Alan memberi perlawanan? Dan apakah dia Akan selalu menerima pembullyan?

Tentu tidak, aku sudah menyiapkannya.

Jaa~ itu saja yang bisa aku jelaskan. Sampai bertemu di Fanfic yang lain yaitu…

Autisme? Or Genius? … Cukup banyak yang menunggu Fanfic ini jadi Alan Saya ketik ke depan walau mungkin akan Memakan waktu lama, mungkin.

Jaa~ sampai bertemu lain waktu!

4kagiSetsu Out