HAMIL,EH ?
NaruXSasu (NaruSasu)
Rated : M (Always)
Romance, Gejenes, Abal, Nista, OOC berat.
Warning : M-PREG, Lemon, bahasa fulgar. Tidak suka jangan baca oke.
Suka-Suka Author lah
AnnieSakkie
HAMIL, EH ?
.
.
.
_Sasuke's Apartement pukul 11.00 malam_
Uchiha Sasuke, aktor muda nan tampan terlihat lelah dan kusam. Wajahnya yang biasanya memukau seolah ada ribuan cahaya yang meneranginya, kini meredupkan sinarnya. Dengan kasar ia mendudukan diri di sofa ruang tamu begitu ia sampai di dalam apartemen. Ia buang tas ransel, yang berisi pakaian serta peralatan syuting ke atas meja. Ia penat dan kesal. Bagaimana ia tidak merasa kesal, bila sang asisten pribadi yang seharusnya berada di sisinya selama syuting, meminta izin untuk cuti dan berlibur bersama kekasihnya. Yang Sasuke tahu, ia belum memperboleh kan Kakashi untuk libur, namun pagi ini sesaat sebelum ia berangkat syuting, ia mendapatkan pesan bahwa Kakashi sudah sampai di Otogakure, dan mengatakan bila dirinya tidak dapat menemani Sasuke selama 1 minggu. Damn it.Dasar asisten malas dan seenaknya. Kapan-kapan bila ada waktu luang, Sasuke akan mencari asisten baru dan pastinya memecat Kakashi.
Suasana apartemen sepi dan gelap adalah hal pertama yang ia dapati. Sepertinya Naruto belum kembali dari kegiatannya, entahlah Sasuke tidak memperdulikan pria kuning itu. Sebaliknya, ia merasa cukup tenang, karena jujur saja ia tidak dapat bernafas lega bila ada Naruto yang menempel di sisisnya. Belum lagi akhir-akhir ini, pria kuning itu seolah mencari tahu rahasia apa yang ia pendam. Ia mendesah pelan, bagaimanapun Naruto tidak boleh mengetahui masalah kehamilannya. Setidaknya belum saat ini. Terlalu lelah berpikir, Sasuke berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju lantai atas. Ia ingin membasahi tubuhnya yang seolah lengket karena keringat dengan mandi air hangat.
.
Bunyi dentuman keras pintu mengagetkan Sasuke yang tengah tertidur lelap. Belum juga dapat satu jam, ia harus kembali terjaga. Orang bodoh mana sih, yang datang tengah malam begini. Oh My, Sasuke baru ingat bahwa ada penghuni lain yang tidak resmi selain dirinya di apartemen ini. Dengan sangat terpaksa, ia menarik tubuhnya dari kasur lalu melangkah kaki untuk melihat.
"Pasti si idiot itu. Apa ia tidak bisa tenang sedikit. Dasar." Gumam Sasuke kesal lalu berjalan munuju lantai bawah. Ia akan memarahi kalau bisa menceramahi pelaku pembantingan pintu.
Alis Sasuke berpaut saat melihat Naruto datang dengan kondisi buruk. Pemuda pirang itu, terlihat tenang tertidur di atas sofa seperti kucing namun pakaian yang dikenakan sangat jauh dari kata normal. Pria tampan itu, hanya menggunakan celana jeans belel nya tanpa atasan.
"Apa yang terjadi padamu, Dobe?" tanya Sasuke setelah dekat.
Mata Naruto menyipit karena kini pengelihatannya menjadi kabur. "Uhmm—apa kau Sasuke?" rancaunya dengan kalimat tidak jelas.
Sasuke mendesah dan memutar matanya lelah. Pasti si bodoh ini, sudah menenggak minuman keras. Terbukti dari mulutnya yang menguar aroma menyengat, serta wajahnya yang memerah seperti hampir meledak. "Kau minum alcohol, heh?" Sembur Sasuke kesal sambil berkacak pinggang. "Berapa kali ku bilang padamu, jangan minum racun itu lagi." Tambah reaven itu lalu melipat tangannya.
Pria pirang ini terkekeh kecil, setelah tahu tebakannya benar. Dalam kondisi mabuk pun, ia tidak lupa dengan Sasuke. "Hehehe—ternyata kau benar-benar Sasuke-teme. Hei manis—" Naruto bergumam layaknya orang berkumur lalu bersuit manja seperti preman kampung.
Sasuke merengut, ia paling malas meladeni orang teler seperti ini. "Cepat naik keatas dan tidur di kamar mu, idiot!" Bentak Sasuke kesal. Ia lelah karena syuting, kini ia harus mengurusi pria kuning yang teler akibat bir. Apa belum cukup masalah Kakashi, berikan lagi masalah yang lebih parah dari ini.
Naruto kembali terkekeh lalu mencoba bangkit dari duduknya dengan susah payah."Kau mirip ibuku. Hei, kau tahu dimana ibuku?—"
Sasuke merasa kalau di diamkan saja ia akan menjadi bodoh karena mendengarkan pria mabuk yang merancau tidak jelas. Lebih baik ia seret Naruto ke kamar lalu menguncinya hingga besok. "Cepat pegang tanganku, aku akan membantumu berdiri." Ucap reaven itu tidak ikhlas sambil menyodorkan tangan nya.
Naruto yang melihatnya bingung, ia yang sedang berada antara di surga dan neraka itu, kini malah mempertajam pengelihatannya "Kau mau apa?" Dalam pikiran Naruto, pria dengan wajah tampan berambut hitam tersebut akan mengajaknya bertengkar.
Sungguh bila saja sekarang Sasuke tidak dalam kondisi lelah, pasti ia akan tendang keluar si idiot ini keluar dari apartemennya. Atau memukulnya hingga pingsan dan babak belur hingga berdarah-darah. Wow, itu ide yang cukup berlian. "Kau selalu merepotkan Naruto. Bisa tidak sehari saja kau tidak membuat masalah." Ketus Sasuke lalu membantu Naruto berdiri dengan merangkul pundaknya.
"Apa-apaan ini kenapa kau malah memeluk ku!" Pekik pemuda pirang itu kalut.
"Cerewet." Ketus Sasuke kesal.
"Kau benar-benar mirip ibu ku, pria manis." Naruto menggoda Sasuke dengan mencolek dagunya. Sasuke yang menerima itu, merasa panas. Sudah baik si Uchiha ini membopongnya, kini malah merayunya seperti preman pengangguran.
"Hentikan itu dasar idiot!" Bentak Sasuke yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh si pria pirang.
Dengan tertatih ia berjalan. Tubuh Naruto yang lebih besar dan tinggi, menyulitkan pemuda Uchiha itu untuk menyeretnya. Apalagi tiada henti Uzumaki itu merancau dan menyanyi kecil, membuat apa yang dilakukan Sasuke menjadi lebih sulit.
"Brussh!—" Sasuke mendorong begitu saja tubuh berat Naruto di atas kasur.
"Enghh—Ibu, aku pusing." Rancau pirang itu lalu berguling kekanan dan kekiri. Sasuke menyeka keringat yang menetes dari dahinya. Rupanya berat juga tubuh idiot kuning ini, ia yakin bukan hanya ramen yang masuk dalam perutnya. Mungkin mobil atau perabotan lainnya.
"Kau pusing. Apa mau ku ambilkan air putih." Sasuke berkata pelan sambil mendudukan diri di samping Naruto yang mendengkur keras layaknya singa.
Naruto bergumam kecil, lalu mengangguk-angguk kepalanya layaknya anak autis, "Aku haus, mau minum. Hei, Sasuke ambilkan aku minuman!—" Uzumaki itu berteriak keras. Namun itu sama sekali tidak membuat Sasuke emosi. Dia masih waras, dapat membedakan mana orang yang sadar dan tidak. Si pria kuning ini pasti merasa bahwa Sasuke adalah pembantunya. Lihat saja rancauan Naruto, yang meminta macam-macam. Seperti minta disuapi, memijati kepalanya, kompres air dingin dan lain-lainnya, yang membuat Sasuke mengusap dada mencoba bersabar.
"Nah, aku sudah melakukan apapun yang kau inginkan, sekarang tidurlah." Bisik Sasuke kecil di telinga Naruto yang tengah terlelap pasca muntah.
Pria kuning dengan nama Naruto itu, hanya mendengkur halus tanpa membalas. Sasuke tersenyum tipis, ia memang membenci Naruto, tapi tidak dapat dipungkiri kehadiran pria ini membuat dadanya menghangat.
Secara perlahan telapak tangan berbalut kulit putih pucat ini menyisir helaian surai pirang Naruto. "Kau membohongi ku dobe, katamu kau janji tidak minum alkohol lagi—" Bisik reaven itu pelan.
Sasuke menundukan kepala lalu mengecup lembut pipi yang bergaris 3 cakar kucing milik Naruto. "Oyasumi dobe, mimpi indah." Setelah mengucapkan selamat malam, reaven tampan itu menarik pantat bermaksud untuk tidur di kamarnya. Ia ingin istirahat, terlebih ia teringat betapa padat jadwalnya esok hari.
Namun sebuah tarikan tangan yang cukup kuat, membuat Sasuke terjungkal duduk kembali di atas ranjang. "Apa-apaan ini dobe." Hardik reaven itu sedikit panik. "Kau menipuku dan pura-pura tidur?"
Naruto menampilkan cengiran khasnya lalu berkata pelan. "Tidurlah disini teme. Kumohon."
Sasuke mendelik kesal. "Aku akan tidur di kamarku."
"Ayolah. Malam ini saja. Aku janji tidak akan berbuat apapun padamu."
Sasuke menghela nafas pendek. Ia tidak tahan dengan tatapan melas yang Naruto lancarkan. Tidak ada salah nya bila ia bermalam di kamar ini. Bukankah ini masih satu atap dengan apertemennya. "Baiklah. Tapi ingat jangan sentuh aku atau aku akan menendangmu, oke."
Naruto mengangguk cepat lalu bersorak riang. "Aku janji teme." Ucap Naruto lancar. Mungkin.Tambah pirang itu dalam batin. Walaupun ia pusing dan sedikit mabuk, ia masih bisa membedakan mana yang pantas di ucapkan dan tidak di depan Sasuke. Bila salah sedikit saja, teme angkuh itu akan mengacuhkannya dan yang lebih parah akan mendapat bogem mentah. Naruto masih ingat betapa sakit, pukulan Sasuke yang ia dapat sewaktu dulu menggodanya. Sangat sakit dan ia tidak ingin mengulanginya.
Malam sudah begitu larut di Konoha. Terbukti dengan bulan yang semakin meningggi dan angka yang sudah berubah menjadi 03.15 pada jam digital. Naruto masih terjaga dalam kantuknya, walaupun kepala nya pusing ia masih belum dapat menutup mata. Alkohol memang dapat menguasai otak namun tidak sepenuhnya.
Mata biru Naruto mengerling pada sesosok pemuda yang kini terlelap di sampingnya. Dalam kegelapan, ia dapat melihat betapa mempesonanya sosok itu. Wajah tenang dengan dada yang naik turun secara konstan. Dengkuran halus yang terdengar, tak ubahnya nyanyian kecil yang menggelitik indera. Secara perlahan dan halus ia usap wajah rupawan Sasuke, "Kau tampan teme. Tapi menyebalkan." Ucapnya pelan lalu tersenyum kecut.
Tubuh yang tadi bersandar pada kepala kasur, merosot pelan. "Andai saja aku bisa memiliki mu, mungkin aku bisa merubah sifat mu." Naruto berkata. Tarikan nafas lumayan berat yang Sasuke lakukan membuat tangan Naruto yang berada di pipi pemuda tersebut membeku.
"Enghh!—" Geliat manja reaven itu lalu merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi Naruto.
Pemuda tampan berkulit tan tersebut tersenyum kecil, sungguh ia gemas dengan sikap Sasuke yang menurutnya lucu. " Baiklah, aku menyerah. Selamat tidur teme. Aku menyayangi mu. Maafkan aku." Kata Naruto lalu memeluk Sasuke dari belakang.
AnnieSakkie
_Sasuke's Apartemen pukul 08.00 pagi. Keesokan hari nya_
Sasuke tidak pernah merasa seheran ini dalam hidupnya. Naruto, pemuda yang selama ini dikenalnya dengan pribadi yang malas dan menyebalkan bisa berubah menjadi seseorang yang berguna.
"Kau yang membuat ini semua?" Tanya reaven itu setelah melihat betapa banyak masakan yang tersaji di meja makan.
Pemuda pirang dengan iris biru jernih tersebut mengangguk kecil, lalu berkata gugup. "Yeah— aku yang membuat nya."
Sasuke mendudukan diri di kursi setelah dapat menguasai rasa terkejutnya. "Serius Naruto. Jangan membohongi ku. Mana mungkin kau bisa memasak?" Tanya Sasuke tidak percaya.
Naruto mendelik emosi. "Memang aku yang memasak teme. Come on— kau meragukan ku. Memang siapa lagi yang ada di sini. Tenang saja ini tidak beracun, kok—"
"Kau yakin?"
"Kau kira aku bisa meracuni mu. Kau bodoh atau apa?"
"Oke. Tapi aku tidak yakin dengan rasanya. Kau sudah mencicipinya?"
Naruto memutar bola matanya malas. Ayolah, dia sudah bangun terlebih dahulu dan memasak untuk Sasuke. Ia merasa tidak enak karena saat mabuk, Sasuke angkuh itu merawatnya. Walaupun ini pertama kali baginya untuk memasak, tapi ia pernah mencoba belajar pada seorang teman. "Tentu saja, aku sudah mencicipi semuanya teme. Makanlah dan jangan cerewet." Ucap Naruto tidak sabaran.
"Baiklah. Awas kalau sampai aku mati setelah memakan masakan mu."
Naruto mendengus pelan. "Kau terlalu berlebihan teme."
Wajah Sasuke horror seketika menatap beberapa masakan yang ada di meja. Di depannya kini terdapat piring dengan makanan yang blonde itu ambilkan. Sebenarnya ia agak takut, bisa jadi masakan di buat Naruto dapat merusak lambungnya-mungkin-. Mengingat status Naruto yang tidak dapat memasak.
Sasuke menyendok masakan yang terbuat dari tomat-yang ia tidak tahu namannya itu, kedalam mulut. Mata hitamnya melebar sempurna, dengan mulut terkunci tak terbuka. Sedangkan si blonde manis terlihat gugup, ia berharap masakan yang ia buat mendapat pujian.
Naruto menelan ludah dengan susah payah. "Apakah enak teme. Sesuai dengan seleramu?" Tanya Naruto tidak sabaran.
Sasuke menganggukan kepala lalu menyuapkan lagi makanan itu ke mulutnya.
"Benarkah, tidak terlalu asin atau aneh?" Naruto memastikan.
Sasuke menggeleng dan tetap makan dengan tenang.
Naruto tersenyum canggung, benarkah masakannya enak. Tetapi kenapa si teme itu terlihat merana. " Aku tanya satu kali lagi teme, serius masakan ku ini enak? Tidak keasinan, kemanisan atau pahit. Well, tadi ada yang sedikit gosong sih?"
Sasuke melirik Naruto yang sedari tadi menatapnya dengan antusias. "Aku sedang makan dobe, bisakah kau tenang saat di meja makan." Ketus Sasuke lalu meminum air putih dari gelas.
Naruto nyengir lebar. Akh, ia melupakan fakta bahwa Sasuke adalah orang yang displin. Tidak ada yang boleh ngobrol di meja makan. "Gomen ne teme. Karena jujur saja, aku tidak yakin ini enak, hehehe." Ucap Naruto salah tingkah lalu mengambil piring kosong dan menyendok kan beberapa masakan dalam piringnya.
Belum juga satu suapan masuk kedalam mulutnya, namun ia di kejutkan oleh Sasuke yang berdiri secara tiba-tiba.
"Teme, kau kenapa?" Tanya Naruto heran.
Manik biru jernihnya, mengikuti arah jalan Sasuke yang terlihat terburu-buru menuju kamar mandi. "Apa masakan ini begitu tidak enak ya, sampai ia ingin memuntahkan semuanya?" tanyanya bingung.
Ia mengedikkan bahu tidak peduli lalu menyendokkan satu suapan kemudian bergumam kecil. "Ini enak kok." Katanya dengan mulut penuh makanan.
.
.
"Uhuk—ohog." Sasuke terbatuk saat ia sudah berhasil memuntahkan semua makanan yang ada dalam lambungnya. Ia merasa perutnya melilit dan perih karena sudah muntah berkali-kali. Ia seka bekas muntah yang ada di sudut bibirnya, kemudian ia nyalakan shower untuk membilas.
Wajahnya terlihat lebih pucat, serta keringat dingin mulai bertengger di dahinya. Lagi-lagi begini, ia harus bergelut dengan muntah saat pagi. Dan itu membuatnya kesal. Sasuke berharap, sekali saja kehamilan ini tidak merepotkannya. Ia tidak dapat makan dengan tenang sekarang. Ia merasa sangat bersalah karena memuntahkan kembali masakan Naruto yang susah payah di buatnya. Walaupun masakan itu ehem-tidak enak-ehem, ia merasa senang karena dia adalah orang pertama yang mencoba masakannya.
Ia berjalan terhuyung setelah ia agak membaik dan tidak ingin muntah lagi. Namun, kepalanya mendadak pusing dan ia merasa lemas.
"Kau tidak apa-apa teme?" Naruto bertanya pelan saat mendapati Sasuke merebahkan diri di sofa.
Sasuke mengangguk kecil, enggan membuka suara.
"Kau pucat sekali, kau yakin tidak apa-apa. Mau ku antar ke dokter?" Naruto menghampiri Sasuke lalu duduk di sebelahnya. Ia merasa khawatir melihat wajah Sasuke yang memutih seperti mayat.
Sasuke menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak ingin si dobe ini mengkhawatirkan keadaannya. " Kau tidak pergi syuting, dobe. Atau main band?" Tanya Sasuke pelan.
"Aku free hari ini teme. Entahlah manager cinta uang itu, meliburkan semua jadwal."
"Maksudmu Kakuzu?"
"Ya. Biasanya dia tidak akan memberikan kami libur meskipun memohon di bawah kakinya. Ia selalu berkata waktu adalah uang, cintai uang maka hidup mu bahagia atau aku cinta uang selamanya. Dan lain-lain nya tentang uang. Aku mengerti kenapa ia sampai sekarang belum menikah juga, karena ia terlalu pelit."
Sasuke mendengus, sedikit tidak suka saat Naruto membicarakan manusia tua dengan uang itu."Hn, benar juga."
"Ne Sasuke, kau sakit? Tanya Naruto khawatir.
"Tidak dobe, percayalah aku baik-baik saja. Perut ku hanya mual."
Naruto menyentuh perut Sasuke lalu mengelusnya. Pemuda Uchiha itu terperanjat.
"Engh—do..dobe."
"Aku hanya mengelus perutmu teme. Kenapa wajahmu memerah ?"
Sasuke membenarkan lagi ekspersi wajahnya yang entah menjadi seperti apa. "Jangan menggoda dan menyentuhku." Sasuke berkata ketus lalu menyingkirkan tangan Naruto.
Naruto menyeringai kecil. "Apa maksudmu, kau ingin aku menyentuhmu?" goda si pirang itu dengan memainkan alisnya naik-turun.
"Hentikan dobe. Aku sedang tidak enak badan." Hardik Sasuke lalu memijat keningnya.
Naruto menatap sendu wajah si reaven tampan itu yang terlihat menderita. Ia tidak pernah melihat Sasuke K.O seperti ini. "Kau membuatku cemas Sasuke, kita pergi ke dokter saja."
"Tidak perlu, aku sudah biasa seperti ini bila pagi. Mungkin darah rendah ku kambuh."
"Kau tidak pernah seperti ini sejak aku mengenalmu dan tinggal disini. Kau membohongi ku teme."
"Aku sedang tidak ingin berdebat dobe."
Naruto menghela nafas pendek. "Oke, apa yang bisa ku bantu?'
"Ambilkan obat yang ada di laci kamarku."
Naruto bangkit dari duduknya." Baiklah. Tunggu sebentar." Ucap pirang itu lalu beranjak dari tempatnya.
Sasuke menutup mulutnya rasa mual kembali menguasainya. Ia selalu melewati pagi nya dengan kegiatan baru yang merepotkan.
"Damn it." umpatnya lalu berlari kecil ke kamar mandi. Well, morning sickness di pagi hari adalah hal yang lumrah untuk orang hamil bukan.
"Teme, obatmu datang!~" Seru Naruto lantang saat menuruni anak tangga terakhir.
Alis Naruto berpaut saat tidak melihat Sasuke di tempatnya. "Kemana perginya Sasuke. Apakah ia sudah berangkat syuting. Katanya ia akan pergi siang nanti." Gumam pria dengan manik biru ini pelan.
Bunyi guyuran shower mengagetkan Naruto." Akh, pasti ada di kamar mandi. Aku akan kesana, siapa tahu dia butuh bantuan ku." Gumam Naruto pada diri sendiri lalu melesat pergi ke kamar mandi.
.
"Kau sudah merasa lebih baik. Apa masih mual?" tanya Naruto setelah membantu Sasuke meminum obat.
"Hn."
"Teme aku serius. Ayo kita ke dokter. Kau pucat seperti mayat, aku takut."
"Jangan seperti orang tua dobe."
"Geez—aku mengkhawatirkan mu bodoh. Aku tidak ingin kau sakit, kenapa kau kekanakan sekali sih. katakan padaku, kau takut jarum suntik?"
"Kau pikir aku kau?"
"A..aku tidak takut jarum suntik teme."
"Benarkah?"
"Sudahlah teme. Ayo pergi ke dokter. Kenapa kau keras kepala sekali!"
"Aku sudah bilang tidak apa-apa dobe."
Naruto mendegus kesal, sungguh ia bingung kenapa Sasuke bisa sangat keras kepala. Apa karena model rambutnya yang aneh itu. "Oke, aku tidak akan memaksamu." Naruto mendudukan diri.
Hening menguasai ruangan. Sasuke terlihat tenang mengelus perutnya. Sedang Naruto nampak mengotak-atik ponselnya.
"Sasuke, aku akan pergi. Mungkin aku akan kembali tengah malam nanti."
Alis Sasuke terangkat. "Kau mau kemana, katamu kau free hari ini?"
"Well—aku sudah ada janji dengan seseorang." Ucap Naruto dengan wajah memerah.
"Siapa?" Tanya Sasuke menuntut
"Gaara." Jawab Naruto mantap. Lalu kembali berkata sembari meminkan rambut pirangnya. "Yah—akhirnya aku bisa pergi berdua dengan nya. Kau tahu, dia cukup sibuk akhir-akhir ini, jadi kita jarang bertemu."
Sasuke diam sesaat. Gaara. Akh, dia tahu siapa Gaara ini, dia adalah model yang sangat terkenal.
"Kau pacaran dengannya?"
"A..apa maksudmu teme." Wajah Naruto bertambah merah.
Sasuke kesal melihatnya. "Aku tanya apakah kau pacaran dengannya?" ulangnya
Naruto diam tak menjawab. Sasuke yang menunggu menjadi panas. Kenapa di bodoh ini bertele-tele dan salah tingkah.
Pemuda dari Uzumaki itu meneguk ludah dengan susah payah. Lalu berkata lirih "Uhmm...kau tidak marah bila aku menjawab?"
"Tidak!"
"Baiklah, mungkin sekarang saatnya aku mengatakan ini padamu." Naruto menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, "Kau benar teme, aku pacaran dengan Gaara."
Sasuke menganga. Apa katanya, pacaran tapi sejak kapan. Naruto tidak pernah sama sekali bercerita tentang Gaara padanya. Tapi kenapa tiba-tiba mereka berpacaran. "Tapi.." Sasuke tergagap. Ia syok tentu saja.
"Maafkan aku teme. Aku sudah merahasiakan ini pada mu. Aku takut kau marah, bila aku dekat dengan Gaara." Sesal Naruto.
Sasuke tidak bergerak dari tempatnya. Jantung berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Kenyataan apa ini. Kenapa rasanya sangat sakit sekali.
"Sasuke, kau marah padaku?" tanya Naruto saat tahu Sasuke diam tak merespon.
"Uhmm—ti..tidak dobe. Aku tidak marah. Kenapa aku marah?" Sasuke berkata datar setelah terdiam cukup lama. Ia bingung harus mengatakan apa. Memberinya selamat atau menyuruhnya pergi sekarang. Tapi kenapa hatinya remuk dan sakit.
"Syukurlah teme. Bagaimana pendapatmu tentang Gaara. Dia manis kan. Well walau dia tidak setampan dirimu?" tanya Naruto dengan nada riang. Sasuke hanya diam tak menjawab.
"Teme. Kau tidak apa-apa. Kenapa kau berubah?"
Sasuke menyetakkan tangan Naruto yang hendak menyentuh pundaknya. "Jangan sentuh aku dobe."
Naruto mengeryit." Oke. Aku tidak menyentuhmu. Aku hanya khawatir padamu."
Sasuke bangkit berdiri dari duduknya. "Pergilah, jangan ganggu aku!" bentak Sasuke keras lalu pergi meninggalkan Naruto yang ternganga tak percaya.
"Kau kenapa teme. Aku kan sahabatmu." Bisik Naruto pelan lalu mengedikan bahu dan asyik kembali dengan ponselnya.
.
Sasuke membanting pintu kamar dengan keras lalu menghempaskan dirinya di ranjang. Hatinya sakit walau ia tidak tahu kenapa. Apakah ia merasa kesal karena Naruto baru mengatakannya sekarang ataukah karena hal lain. Entahlah. Matanya memerah dan panas.
"Jangan menangis." Bisiknya pada diri sendiri sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Ia merasa dunia ini hancur dan kiamat. Ia pun masih bingung mencari jawaban kenapa ia bisa merasa sakit hati. Naruto bukan pacarnya, jadi wajar saja bila kini ia dekat dengan pria lain. Apakah Sasuke yang merasa terlalu percaya diri, bahwa dia adalah satu-satunya orang yang sangat dekat Naruto. Mereka memang sudah lama hidup bersama, jadi wajar saja bila perasaan memiliki sangat dirasakan oleh Sasuke. Tidak pernah sekalipun Naruto membawa teman atau pria lain ke apartemennya. Bahkan mengatakan dekat dengan seseorang saja tidak. Well, lain dengan kasus Gaara. Sasuke pernah terlibat pembicaraan dengan Naruto dan pria berambut merah itu sebagai topiknya. Ia tidak menyangka bahwa Naruto akan serius menjadikan pria itu kekasihnya. Ia mengira, pria kuning itu hanya main-main.
Sasuke meremas kuat perutnya yang kembali ingin muntah. Air asin sudah siap meluncur bebas dari matanya. Tapi ia tidak akan menangisi nasibnya. Dia pria dan keturunan dari Uchiha. Bagaimanapun seorang pria tidak boleh menangism itu akan membuatnya terlihat seperti banci. "Fuck!—" umpatnya lalu berlari ke kamar mandi yang ada dalam kamar.
"Uhuk—uhuk." Sasuke terbatuk keras dan itu cukup menyakiti paru-parunya. Ia terduduk di bawah kloset dengan tubuh lemas seakan tak berdaya. Ia tidak tahu, kemana tenaganya pergi. Ia yakin dirinya pria walau ia hamil, namun kenapa ia lemah sekali.
Tubuhnya gemetar seiring dengan memorinya yang berputar mengingat kenangan mereka berdua. Seperti, pertemuan pertama mereka di studio saat syuting, wajah memerah si pirang saat mengatakan Naruto adalah artis favoritnya , ciuman pertama serta puncaknya adalah hubungan badan yang terjadi setelah pesta. Entah kenapa tiba-tiba Sasuke mengingat itu semua. Dan nyatanya air mata yang sedari tadi di tahannya, perlahan keluar tak dapat di bendung. Membasahi pipi sang bungsu Uchiha yang memerah.
"Naruto bodoh." Gumamnya sembari mengusap air itu yang semakin deras menetes.
"Bodoh." Isaknya lalu meremas perutnya. Di dalam sana terdapat janin hasil hubungannya dengan Naruto. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Apakah semuanya harus berakhir.
Sasuke kembali menangis dalam diam. Mengingat begitu seringnya Naruto mengecup kening serta memberinya pelukan hangat, membuat ia tak kuasa menahan tangis. Jadi selama ini Naruto menganggapnya apa. Partner. Ataukkah Sasuke hanya di jadikan skandal untuk mendongkrak popularitasnya.
"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku membenci mu." Sasuke menekuk kaki lalu menenggelamkan kepalanya di sana. Ia lelah dan merasa bodoh karena begitu mudah bohongi. Ia tidak menyangka bahwa kedekatan mereka hanya untuk kepentingan band-nya. Setahu Sasuke, walau tanpa skandal ini, band Naruto sudah sangat terkenal. Jadi, pelukan hangat, kecupan mesra dan ucapan sayang hanya kamuflase saja.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mengatakan bahwa ini adalah anakmu Naruto." Ucap Sasuke lirih di tengah tangisannya.
.
.
.
TBC
Hai Minna, maaf ea updatenya lama banget karena saia sibuk hehehe.
Di chap ini aku kasih full NaruSasu biar kerasa feel nya.
Lemonnya belum muncul, well mungkin next chap.
Masih banyak typo dan kesalahan2 lain.
Oke akhir kata Review ne.
