Hit Men : Seven Brothers

.

Chapter 2 : I'll Be There For You

.

.

.

Sakura melangkah meninggalkan kafe dengan wajah duka yang seperti tidak bisa hilang dari wajah cantiknya. Seperti biasa, jika ia selesai dengan tugasnya sebagai penyanyi di kafe. Ia segera kembali ke rumah sakit dan menunggui adiknya.

"Sakura" langkah Sakura terhenti. Ia menoleh ke sumber suara pria yang tadi memanggil namanya.

"Kamu?" Sakura sedikit kaget ketika ia melihat siapa yang memanggilnya. Sakura menegang setelah tahu siapa yang memanggilnya.

Pria yang sempat membuat perhatiannya teralih dari pelanggannya ketika tatapan tajam itu beradu dengan matanya. Dan pria ini pula lah penyebab bencana baginya.

Sakura diam mematung di tempatnya, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ingin sekali rasanya Sakura meninggalkan tempat itu, tapi kakinya seperti tidak menurut lagi pada keinginannya. Dadanya seperti bergemuruh, karena gara-gara pria yang berdiri di depannya inilah yang membuat adiknya terbaring antara hidup dan mati.

"Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Sasuke yang dari tadi juga kebingungan harus mulai bicara dari mana.

Sakura menatap wajah pria yang meminta maaf barusan. Ia memang menyaksikan raut penyesalan di wajah pria di depannya. Tapi apakah ia memang harus menyalahkan pria itu. Ingin rasanya ia meneriaki pria yang di depannya kini. Tapi suaranya seperti tertahan di kerongkongannya. Sakura juga berfikir, tidak ada juga gunanya menyalahkan pria yang di depannya. Bahkan meminta pertanggung jawabannya pun, dengan cara apa? Itu tidak akan memberi pengaruh pada adiknya.

"Tidak apa-apa" begitulah jawaban singkat Sakura. dengan sedikit berbicara, setidaknya ia bisa mengurangi sifat kaku nya dari tadi.

Sakura berbalik meninggalkan Sasuke. Biar bagaimana pun, dalam hati kecilnya ia sedikit menyalahkan Sasuke.

Gerp!

Sasuke memegang tangan Sakura. Sakura berhenti, "lepaskan aku" ujar Sakura lirih, "Aku ingin menjaga adikku" Suaranya terdengar serak.

"Sakura…" Sasuke membalik tubuh Sakura, sehingga tanpa sengaja kedua mata mereka beradu.

"Maaf" Sasuke menundukkan kepala.

Sakura masih sempat melihat raut penyesalan di wajah Sasuke. Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pria itu malah merasa sangat bersalah? Memang benar pria inilah yang menyebabkan adiknya tertembak. Tapi apakah memang harus sampai ia merasa sangat bersalah?

Keduanya masih dalam posisi yang sama. "A… apakah pelurumu yang melubangi kepala adikku" tanya Sakura terbata-bata.

"Aku tidak tahu, yang pasti waktu itu kami hanya saling menembak…"

"Cukup!" Sakura memotong ucapan Sasuke, "Hikss… aku tidak mau menyalahkanmu… aku hanya inginkan adikku tetap hidup.. hikss…a..aku…" Sakura tidak melanjutkan ucapannya. Dukanya akibat selalu mengingat bencana yang menimpa adiknya selalu membuat airmatanya menetes. Air mata yang selalu mengalir tatkala mengingat adik dan keluarga satu-satunya itu terbaring koma. Sakura tak bisa bayangkan andai terjadi sesuatu yang buruk menimpa adiknya, Sasori.

Sasuke yang sudah tidak bisa menahan semua perasaan terpendamnya. Seperti apa kebaikan gadis ini, bahkan untuk menyalahkan Sasuke pun tidak gadis ini lakukan. Sasuke menarik Sakura kedalam pelukannya.

"Izinkan aku melindungimu" Sasuke mengeratkan pelukannya karena Sakura seperti keberatan di peluk olehnya. Sasuke merasakan sedikit adanya berontakan dari Sakura.

"Melindungiku dari apa?" Sakura tetap menangis membiarkan airmatanya membasahi pakaian Sasuke, "Aku bukan penjahat… hiks.. aku juga bukan orang penting dan aku tidak pernah berurusan dengan dunia kejahatan"

Sakura tidak lagi memberontak, ia malah meremas kemeja Sasuke makin erat. Jelas sekali terasa bagi Sasuke kalau gadis itu sedang menanggung kesedihan yang ingin ia luapkan, namun tidak tahu dengan cara apa.

"Ayo, ku antar kau pulang", usai berkata seperti itu, Sasuke segera menarik Sakura menuju rumah sakit tempat Sasori di rawat.

Sasuke masih bungkam sepanjang perjalanan. Meski Sakura sedikit menuntutnya tentang maksud 'melindungi' dari Sasuke.

Sepertinya Sasuke memang menyimpan sesuatu maksud dari diamnya untuk mengungkap alasan kenapa ia mengatakan melindungi Sakura.

=SSS=

Meski sudah sering mengawasi Sasori maupun Sakura, namun baru sekarang Sasuke bisa melihat Sasori yang terbaring lemah dalam jarak dekat.

Sasuke mengepalkan tangannya sendiri, "Sakura, maaf, seharusnya dia tidak pantas berbaring di sini. Ada seseorang yang seharusnya lebih pantas di sini" geram Sasuke perlahan, bahkan mungkin Sakura sendiri tidak mendengarnya.

Penyesalan Sasuke karena telah menyebabkan orang tak berdosa seperti Sasori terbaring lemah. Dalam hati ia hanya bisa berjanji akan melindungi kakak-beradik itu, kalau perlu dengan nyawanya. Bukan tidak mungkin sekarang Sakura dalam bahaya karena telah menjadi Saksi atas pembunuhannya. Belum lagi letnan Asuma pun sudah mengetahui kalau satu-satunya Saksi yang selamat adalah Sakura. Bukan tidak mungkin semua hal itu akan tercium oleh para mafia dan para pembunuh bayaran.

Jika kedua pihak yang bertolak belakang itu tahu tentang Sakura yang menjadi saksi. Maka keduanya kemungkinan akan bentrok di sini. Dan jika itu terjadi, sudah pasti Sakura dan korban yang tidak bersalah lainnya makin meningkat.

SSS

Sekarang barulah Sakura tahu, ternyata makhluk sejuta pesona yang bernama Sasuke itu adalah makhluk yang paling keras kepala.

Berkali-kali Sakura melarang Sasuke agar tidak menemuinya di rumah sakit atau dimana pun. Tapi jawaban Sasuke adalah karena ia merasa ikut bertanggung jawab.

Akhirnya Sakura menyerah dan mengizinkan Sasuke. Tidak jarang Sasuke ikut menginap sambil menjaga Sasori. Dan saat Sasuke melakukan hal itu, berarti mereka akan selalu duduk berdua, membuat jantung Sakura bertambah tensinya.

Tapi itulah yang membuat Sakura merasa aneh, ucapan dan nada tegas dari Sasuke membuat ia merasa sangat aman. Instingnya mungkin mengatakan kalau sekarang ia berada dalam masalah yang di timbulkan oleh pria ini. Dan ada kemungkinan, kalau pria ini pulalah yang akan membuatnya tidak terjatuh jauh kedalam masalah yang akan mendatanginya.

Kehadiran Sasuke juga malah menjadi penghibur bagi Sakura. Setiap kali ia menangisi nasib Sasori, Sasuke selalu menghibur dan memberikan kata-kata penguatan.

Sifat Sasuke yang pemaksa, dengan nada ketegasannya, dan juga keberadaan Sasuke justeru membuat Sakura merasa sedikit berkurang kedukaannya.

Tapi ada hal yang membuat Sakura bingung, setiap kali Letnan Asuma datang. Sasuke selalu berusaha untuk menghindar dan tidak berjumpa dengan Asuma. Sakura juga mulai curiga pada Sasuke, bisa saja Sasuke adalah buronan yang paling di cari pihak kepolisian. Namun di sisi lain Sakura membantah anggapannya, jika memang Sasuke adalah penjahat besar, Sasuke pastilah seorang yang tidak berperasaan, tapi pada kenyataannya, Sasuke malah rela membuang waktu demi menemaninya menjaga Sasori. Akhirnya, Sakura cuma bisa angkat bahu, membuang keingin tahuannya tentang Sasuke.

Dan satu hal lagi yang membuat Sakura beranggapan kalau Sasuke adalah orang baik. Karena Sakura merasa kalau Sasukelah yang selama ini membiayai pengobatan Sasori.

"Sasuke, apakah selama ini kau yang membiayai semua biaya perawatan Sasori?" Seperti biasa Sakura harus menenangkan debaran jantungnya ketika berbicara berdua dengan Sasuke.

Sasuke diam sejenak, ia malah terlihat sedang berfikir.

"Sasuke" panggil Sakura lagi.

Sasuke mendelik sesaat, karena Sakura tiba-tiba berdiri sambil menyodorkan seikat bunga. Ia menautkan alis menatap mata Sakura yang sedang tersenyum.

"Untuk apa?"

"Aku sudah berjanji. Aku akan memberikan bunga pada orang yang membantuku. Membiayai Sasori" ujar Sakura yang justeru merona merah. Ia merasa seperti seorang gadis yang mempersembahkan bunga pada sang kekasih.

"Darimana kau tahu?" Sasuke malah tampak kebingungan. Ia tidak langsung menerima bunga yang di berikan Sakura.

Sakura menggoyangkan bunga sebagai isyarat agar Sasuke menerima bucket bunga itu. Sasuke terpaksa menerima pemberian gadis cantik itu.

Setelah Sasuke menerima bunga itu, Sakura segera kembali dan duduk di samping Sasuke.

"Aku yakin, kalau kaulah orang yang selalu membantuku. Sejak aku di perbolehkan menemui Sasori, aku tahu kau selalu berada dan seperti mengawasi kami. Kau selalu berdiri di depan kamar rawat Sasori seperti sedang menjaga kami" jawab Sakura perlahan, "Kau tidak usah membohongiku kalau kau mau bilang bukan kau orangnya" Sakura memang sangat berharap kalau Sasuke lah orang yang membantu mereka selama ini. Sakura juga tidak menafikan kalau ia sangat bahagia jika yang membantunya adalah pria yang kini duduk disampingya. Dan hampir setiap saat menemaninya menjaga Sasori, pada beberapa waktu terakhir.

Sasuke menarik nafas panjang. Ia sedikit menarik sudut bibirnya sambil menatap bunga pemberian Sakura.

"Benar. Aku merasa sangat bersalah. Karena ulahku, kalian jadi berduka"

"Hanya itu alasanmu?" entah kenapa, Sakura sangat berharap jika masih ada maksud lain dari Sasuke.

"Apa kau mau berharap, kalau aku mau membantumu karena aku menyukaimu"

"Heh!" degup jantung Sakura berhenti sesaat, saat pria yang menurutnya keras kepala itu, seperti membaca pikirannya, "Bu... bukan itu.. hanya saja..." Kalau mau jujur, Sakura memang berharap demikian.

"Aku juga berharap demikian. Tapi, aku merasa tidak pantas mendapatkannya. Kau ingat. Isi pesan yang kutulis untukmu. Kau mau menjadikanku sebagai saudaramu yang selalu melindungimu saja, itu sudah cukup bagiku. Dan yang paling penting, akulah penyebab semua ini" ujar Sasuke perlahan, sambil menatap kembali bunga yang ada di tangannya, "Dan aku harus bertanggung jawab, hanya ini yang bisa ku lakukan".

Sakura kembali mengingat pesan yang di tulis Sasuke untuknya.

Nona Sakura memang tidak mengenal saya. Saya hanya tahu kejadian yang menimpamu. Tapi bukan berarti kita harus tidak saling mengenal. Kita memang tidak lahir dari rahim yang sama. Tapi hakikatnya, kita berasal dari zat yang sama, yaitu Tuhan. Dengan demikian, karena hal inilah, kita bersaudara. Maka terimalah bantuan yang seadanya ini.

Sakura diam, nafasnya terasa sesak, mendengar alasan Sasuke. Tapi sebenarnya tidak hanya Sakura, Sasuke juga demikian. Ia merasa paling begitu bodoh, padahal orang bodoh sekalipun jika mendengar pertanyaan Sakura tadi, sudah pasti akan menduga kalau Sakura berharap lebih. Tapi apakah ia harus mengatakan kembali kalau ia menyukai Sakura? Apakah hal itu tidak akan membuat Sakura merasa di permainkan?

Keduanya masih terdiam. Sakura menundukan kepala, dan Sasuke menggenggam erat seikat bunga yang di berikan Sakura.

Perlahan tangan Sasuke bergerak, dan yang paling membuat Sasuke merutuki dirinya, karena tangannya malah gemetaran. Meski demikian, tangan Sasuke tetap bergerak dan meraih kepala Sakura agar bersandar di bahunya

SSS

Pria berambut kuning jabrik sedang duduk sambil melepaskan sepatunya dengan agak terburu-buru.

"Naruto" suara seseorang tiba-tiba memanggil, sepertinya panggilan tadi di tujukan pada pria berambut kuning, karena tidak ada orang lain di situ.

"Kau tadi melihat sinar mata Shino?" orang yang memanggil tadi muncul didepan pintu sambil menyender. Dia adalah Asuma

"Iya" Pria blonde di panggil Naruto menoleh, "Jelas, ia tidak bodoh" ujar Naruto sambil berdiri dan menanggalkan bajunya.

"Sebagai penghubung. Dia adalah sumber informasi, kuncinya ada di tangan dia" ujar naruto lagi

Ia melangkah mengambil handuk dan tampaknya ia memang bersiap-siap untuk mandi.

"Lalu bagaimana tindakan kita" Asuma mengikuti langkah Naruto, ia nampak masih butuh saran ataupun teman diskusi.

"Kita tidak perlu bertindak terlalu dalam, diantara mereka sudah mulai tidak sejalan. Dan kita biarkan saja hal ini. Sai kan orangnya emosional. Biarkan api pertengkaran terjadi dan terus membesar" Naruto melangkah tapi ia tetap berbicara tanpa menoleh pada Asuma

Asuma juga melangkah mengikuti arah Naruto, "Kalau keadaan seperti itu, jelas, Sasuke dan Shino akan berada di pihak yang terdesak dan lemah"

Naruto menghentikan langkah dan menghadap pada Asuma, "Iya, mereka berdua akan menghadapi jalan buntu. Dan dalam kondisi seperti itu. Mereka cuma ada dua pilihan" Naruto berujar sambil mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengahnya.

Selanjutnya Naruto kembali menegaskan, "Bertarung sampai mati atau bekerja sama dengan pihak kepolisian" usai berkata demikian. Naruto kembali melanjutkan langkahnya.

"Mereka berdua berasal dari dunia hitam, hidup mereka adalah berjudi dengan maut. Tentu saja mereka memilih pilihan pertama"

Naruto sedikit membuka pintu kamar mandi tapi ia tidak langsung masuk. Ia kemudian menghadap asuma, "Kalau mereka memilih bertempur dan mati, berarti kita hanya menumpas sebagian kasus. Dan yang harus kita lakukan adalah mencegah dan mencari tahu tentang para pembunuh bayaran yang akhir-akhir ini marak terjadi. Dan mereka harus memilih yang kedua" Naruto kemudian melangkah masuk kamar mandi.

Asuma cuma bisa mendesah, ia melihat jam tangannya sekilas lalu pergi.

SSS

Sasuke hendak berencana kembali mengunjungi Sakura seperti yang sudah-sudah. Tapi begitu ia membuka pintu, di depannya sudah berdiri Shino.

"Kau masih di sini? Apa kau belum bertemu dengan Sakura?"

Sasuke menatap Shino dengan penuh tanda tanya.

Shino mendesah, "Kau pasti belum tahu. Sasori, adik Sakura, sudah meninggal" imbuh Shino perlahan.

Mata Sasuke membulat, tanpa basa basi lagi ia langsung bergerak menuju rumah sakit.

Sasuke menghentikan langkahnya, dari jauh ia melihat Sakura sedang menangis sambil memeluk adiknya yang samasekali tidak memberikan respon. Melihat Sakura yang menangis sendu, maka di bisa di pastikan kalau apa yang di katakan Shino benar, kalau Sasori sudah meninggal.

Sasuke memang sengaja menghentikan langkahnya karena yang menemani Sakura adalah pihak kepolisian. Dan ia sangat mengenal beberapa orang di antara polisi-polisi itu

Sasuke memutuskan untuk tetap menemui Sakura, dengan resiko berhadapan dengan pihak kepolisian. Ia tidak tahan melihat Sakura yang menangisi adiknya.

"Sasuke..hwaa..hiks..hiks" Sakura langsung berlari ke dalam pelukan Sasuke yang sudah berada di depan pintu. Dalam pelukan Sasuke, Sakura tak henti-henti mengadukan dan menyebutkan nama Sasori. Sasuke hanya bisa membelai lembut pucuk kepala itu. Bahkan makin mengeratkan pelukannya.

Beberapa anggota kepolisian yang mengenal Sasuke langsung memegang pegangan pistol masing-masing.

Beruntung Naruto dan Asuma menahan anggotanya agar tidak membuat keributan. Karena menurut mereka berdua, sekarang bukan saatnya untuk melakukan pertengkaran dengan Sasuke. Apa lagi mereka masih berada di rumah sakit.

Sampai pemakaman Sasori selesai di lakukan, Sakura masih terisak menangis dalam pelukan Sasuke.

Asuma dan Naruto saling tatap sekilas, kemudian mengarah pada dua sejoli yang masih berpelukan. Naruto menyikut Asuma agar mereka pergi saja dari situ.

"Kenapa?" Asuma masih mempertanyakan kenapa Naruto mau meninggalkan Sasuke begitu saja. Sesekali ia meoleh ke belakang.

"Jangan bertindak gegabah, menangkap Sasuke di saat seperti ini adalah tindakan yang keliru. Sesuai rencana, biarkan ia bebas. Dan ada satu hal lagi, naluriku mengatakan kalau kematian Sasori akan mengubah keadaan" jawab Naruto.

"Kenapa bisa"

"Entahlah, tapi aku merasa, ini akan menjadi titik balik dan membawa keuntungan buat kita"

"Jadi, apakah perlu mengawasi Sasuke atau Shino?"

Naruto tidak menjawab, ia tetap melangkah menjauh dari area pemakaman.

"Bagaimana pak, apakah memang kita harus mengawasi mereka" tanya salah seorang anggota polisian yang mengikuti keduanya. "Bukankah memang sebaiknya kita mengawasi mereka. Dan ini kesempatan kita untuk melacaknya"

Naruto menghentikan langkahnya dan menatap anggota kepolisian yang bertanya tadi.

"Kita harus berhati-hati untuk saat ini. Bersabarlah. Kalian juga harus tahu, yang menjadi target kita saat ini adalah pembunuh bayaran nomor satu. Instingnya dan kewaspadaannya pastilah sangat tinggi" ujar Naruto sambil menatap anggota kepolisian itu satu persatu.

Berikutnya, Naruto dan Asuma mengajak mereka pergi.

"Kita bicarakan ini di kantor. Hubungi staff dan yang lain. Kita rapat dadakan" pinta Asuma pada salah satu bawahannya.

Usai berkata demikian, Naruto maupun Asuma hanya menoleh kebelakang. Dan masih tampak di samping gundukan, Sasuke masih terlihat memeluk dan menghibur Sakura.

Sekilas tampak, seringai dari kedua perwira itu.

"Sasuke… hiks.. aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.. hiks..hiks.."

Sasuke memejamkan mata sambil mengadahkan kepalanya, ia menghirup nafas dalam-dalam. Pikirannya masih berkecamuk.

"Sakura tenanglah, bukannya kau tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kau tidaklah sendirian" bisik Sasuke. Sakura masih terisak, sepertinya belum memahami maksud ucapan Sasuke, atau ia memang tidak mendengarkan ucapan Sasuke barusan.

Sasuke segera mengajak Sakura pergi dari area pemakaman itu.

=SSS=

Sasuke mengajak turun Sakura dari mobilnya. Sambil menggenggam tangan Sakura, ia mengajak Sakura masuk kedalam rumahnya.

Sasuke memang langsung mengajak Sakura kerumahnya, setelah yakin kalau tidak ada lagi yang mengawasinya.

"Ini rumahku, Sakura" perlahan Sasuke mendudukan Sakura di atas sofa.

Sakura sama sekali tidak memperhatikan rumah yang ia tempati sekarang ini, dukanya masih terasa meski sejak dalam perjalanan tadi, Sasuke terus menghiburnya.

Sasuke memeluk Sakura dengan erat, "Sakura… sssst.. tenanglah, kau tidak perlu berlama-lama sedih. Aku disini, aku akan selalu menemanimu, menjagamu" bisik Sasuke.

"Tapi… hiks..hiks… kau bukan siapa-siapa ku" suara Sakura serak karena kebanyakan menangis.

"Kau salah Sakura…" Sasuke berfikir kalau inilah saatnya untuk mengungkapkan, "Maafkan aku yang telah membohongimu"

Mendengar penuturan Sasuke, Sakura mengangkat kepalanya menatap mata Sasuke dalam-dalam. Tidak di pedulikan lagi matanya yang sembab karena kebanyakan menangis dan wajahnya yang sudah basah oleh air matanya. Tatapan matanya seakan menuntut Sasuke untuk jujur atas maksud 'membohongi' barusan.

"Maafkan aku kalau aku membohongi mu. Aku menyukai mu… aku ingin kau melihatku… aku ingin menjagamu… menghibur mu dari kedukaan mu dan selalu berada di sampingmu" tanpa ragu Sasuke mengutarakan perasaannya.

Mata Sakura membulat, seperti merutuk Sasuke. Kenapa Sasuke mengatakan hal itu di saat yang tidak tepat begini. Di saat ia dirundung kedukaan.

"Sasuke…hiks..hiks…" Sakura mengeraskan tangisannya yang tadi sempat terhenti.

Jangankan Sasuke, Sakura saja menjadi tidak mengerti dengan tagisannya kali ini. Apakah tangisannya karena bahagia atau karena masih sedih. Atau bisakah orang merasakan kebahagiaan dan kesedihan di saat bersamaan?

Sasuke dengan penuh kehangatan membalas pelukan Sakura. Sasuke tampak membisikkan kata-kata pada Sakura. Beberapa saat kemudian tampak kalau Sakura tenang setelah Sasuke membisikkan sesuatu.

SSS

Shino melangkahkan kaki hendak memasuki sebuah restoran. Tapi pas di depan pintu masuk, ia menghentikan langkahnya. Ia tahu kalau ia sedang di buntuti.

Shino menghentikan langkah, dan menoleh kesamping. Dan kini ia tahu siapa yang telah membuntutinya.

Sementara orang yang mengikuti, karena sudah kepalang tanggung ketahuan, Si penguntit malah duduk tenang di atas kap mobil yang sedang di parkir.

Shino kembali melangkahkan kaki masuk ke restoran, ia merasa tidak terancam dengan orang yang mengikutinya dari tadi. Atau mungkin ia memang tidak peduli.

Terlihat Shino melewati tangga menuju lantai dua. Ia kemudian mengambil tempat duduk yang masih kosong. Di restoran ini, memang belum banyak pengunjung, mungkin karena masih dalam waktu sibuk, karena umumnya yang mengunjungi restoran ini adalah pengunjung yang sedang istirahat melepas lelah karena bekerja.

Sebelum Shino mengambil tempat duduk ia memang sudah merasa ada yang ganjal dengan empat orang pria yang baru saja ia lewati.

Seorang pria berambut panjang, beriris rembulan sedang menaiki tangga dengan tenang. Begitu si pria berambut panjang itu melewati empat orang tadi. Empat pria berpakaian hitam itu sontak berdiri secara bersamaan mengikuti langkah pria berambut panjang yang baru datang.

Shino menggenggam erat gelas minuman yang ada di depannya. Ia sudah bisa memastikan kalau kali ini ia menjadi target perburuan.

Begitu pria gondrong dan empat orang lainnya mendekat.

"Neji" desis Shino sambil menatap pria berambut panjang beriris rembulan. Shino tahu kalau pria berambut panjang itu dan empat orang lainnya mengincar dirinya.

Hup!

Shino melempar gelas pada pria beriris rembulan atau Neji. Dengan sigap ia menghindar sehingga lemparan Shino malah mengenai tenggorokan salah seorang yang berjalan mengikutinya.

Begitu Neji memiringkan tubuh, Shino segera menjejakkan kaki di atas meja dan melompat sambil melayangkan tendangannya pada pria Neji tadi.

Tentu Saja Neji dengan cepat melakukan tendangan putar, sehingga Shino yang masih di udara tidak bisa menghindar.

Buak!

Tendangan putar neji mengenai perut Shino. Shino terlempar kesamping dan membentur meja.

"Kyyaaa" teriakan beberapa pengunjung wanita terdengar ketika melihat mulai ada keributan. Beberapa di antaranya secara naluri sudah berlari meninggalkan lantai dua restoran tersebut.

Asuma yang tadi yang pertama kali membuntuti Shino segera menoleh ke lantai dua. Ia pun segera berlari menuju lantai dua.

Sementara Shino yang tadi terjatuh, belum sempat bangkit, ia sudah di todong pistol oleh Neji. Shino akhirnya diam, karena salah sedikit saja melakukan tindakan, maka nyawanya akan melayang.

Dor! Dor!

Salah seorang di sampin Neji tumbang setelah terdengar suara tembakan. Ternyata tembakan barusan berasal dari Asuma.

Neji dan rekannya yang tersisa kini mengabaikan Shino, mereka mengalihkan tembakan pada Asuma.

Mendapat tembakan balasan, Asuma terpaksa melompat, dan mendarat sambil berjungkir untuk menghindari tembakan yang di arahkan padanya.

Tembakan bertubi-tubi dari Neji bahkan tidak berhenti ketika Asuma berlari dan melompat ke belakang meja yang sengaja ia jadikan tempat berlindung.

Dor!

Prang!

Vas bunga yang pecah di abaikan oleh Neji. Ia terus menembak.

Neji menghentikan tembakannya sesaat di ikuti oleh rekannya yang tersisa. Kesempatan ini di manfaatkan sangat baik oleh Asuma.

Dor!

"Aakh"

Rekan Neji yang terakhir ikut tumbang ketika tembakan Asuma mengenai dadanya.

Dor!

Neji menembak tepat mengenai pistol yang di pegang Asuma. Pistol jatuh, dan Asuma kaget. Meski begitu, Asuma tidaklah heran, karena yang di hadapinya adalah pembunuh bayaran handal. Tembakannya pasti sangatlah tepat sasaran.

Dor! Dor!

"Aaakh!"

Di saat sedang kaget itulah, beberapa tembakan Neji mengenai tubuhnya. Ia menjerit tertahan dengan tubuh yang terjungkal kebelakang.

Neji kemudian berbalik menuju Shino.

Tap!

Shino segera memegang tangan Neji dan mengarahkan tangan Neji yang memegang pistol ke atas, sehingga Shino lolos dari tembakan Neji.

Buk! Dess!

Beberapa kali Shino mengarahkan tendangannya ke arah Neji.

Neji terjejal mendapat tendangan Shino.

Begitu melihat Neji terjejal mundur. Shino menyusuli Neji dengan tubuh yang menerjang. Tangan kanannya menyambar lalu yang sebelah lagi secara bergantian. Neji menahan serangan Shino yang berkali-kali itu.

Neji pun tidak tinggal diam. Ia membalas dengan jotosan. Meski Shino sempat menghindar serangan cepat Neji. Tapi itu cukup membuat Shino kehilangan kontrol. Maka cepat sekali Neji memutar tubuh. Kakinya melayang keras ke arah dada Shino.

Dess!

Tendangan putar mengenai dada. Lalu menyusul pukulan Neji mengenai perut.

Duak!

Shino terjatuh seketika.

Neji masih merasakan adanya serangan lain. Siapa lagi kalau bukan Asuma, ia memang belum mati ketika terkena tembakan Neji tadi, itu terjadi karena ia memang memakai rompi anti peluru.

Duak!

Kembali Neji melayangkan tendangannya pada Asuma. Nasib Asuma juga sama dengan Shino. Ia terlempar setelah tendangan Neji mengenai dadanya juga.

Neji kembali mengalihkan perhatian pada Shino yang tadi terjatuh sambil menodongkan pistol.

Dor! Dor!

Shino segera bangkit dan melompat menghindari tembakan neji. Ia berlari sambil di cerca tembakan dari Neji, hingga Shino menghilang di balik pintu.

Neji berusaha mengejar, tapi Shino keburu menghilang.

-SSS-

Tok! Tok! Tok!

Shino mengetuk pintu rumah bercat putih itu. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Mata Shino sedikit melebar, karena yang ternyata membukanya bukanlah Sasuke.

Sementara yang membuka pintu adalah Sakura, juga sedikit kaget, bahkan terlihat mulai ketakutan. Sakura surut ke belakang.

Shino memang sudah tahu tentang Sakura. Namun Shino tidak menyangkah kalau Sasuke mengajak Sakura untuk tinggal bersama.

"Siapa? Sakura!" suara Sasuke tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Begitu melihat Sasuke muncul, Sakura segera bersembunyi di belakang Sasuke. Melihat adegan di depannya itu, Shino lantas tersenyum.

"Dia bernama Shino. Dia itu teman" ujar Sasuke lembut pada Sakura.

Wajarlah kalau Sakura takut saat ia melihat orang baru yang berurusan dengan Sasuke. Karena sekarang ia adalah kekasih seorang pembunuh bayaran, yang tidak di ketahui siapa kawan, dan siapa lawan.

Sasuke juga sudah bercerita pada Sakura, kalau dunianya adalah dunia yang paling kejam. Karena bisa saja, di awal seseorang menjadi teman, tapi kemudian ia bisa berubah jadi pengkhianat dan menjadi lawan. Dalam dunia Sasuke, sangat susah mempercayai, bahkan untuk satu orang sekalipun.

Itulah alasan Sakura kenapa ia sedikit ketakutan ketika ia bertemu dengan Shino.

Senyum Shino bertambah. Ia bisa melihat adanya perubahan pada diri Sasuke. Sahabatnya itu biasanya bernada datar dan seperti tanpa ekspresi, kini terdengar agak berbeda.

Begitu sudah mendapat jaminan dari Sasuke kalau pria yang di panggil Shino adalah teman, Sakura tidak ragu untuk berdiri di samping Sasuke menghadap pada Shino

"Sakura" ujar Shino sambil mengangkat telunjuknya. Ia mendahului Sakura berbicara.

Sakura hanya sedikit tersenyum simpul.

Sasuke segera mengajak Shino duduk di ruang tamunya. Tidak lama kemudian Sakura datang dengan minuman, dan di suguhkan pada mereka berdua.

Shino dari tadi tak henti-hentinya tersenyum. Ia melihat Sasuke dan Sakura seperti melihat sebuah hubungan keluarga.

"A…Aku ingin ke kamar saja, Sasuke" Sakura mohon pamit.

Sasuke mengangguk.

"Kau sepertinya kelihatan sangat bahagia Sasuke" goda Shino.

Sasuke cuma menunjukkan sedikit tarikan sudut bibirnya.

"Tadi saya di kuntit oleh Letnan Asuma" Shino nampaknya tak ingin menggoda Sasuke lama-lama, karena Shino tahu Sasuke bukanlah tipe orang yang suka dan gampang di ajak bercanda berlama-lama. Maka dari itu, Shino langsung mengutarakan alasannya menemui Sasuke.

"Dan Neji" imbuhnya lagi sambil menatap Sasuke.

"Neji? Berarti dia menerima tawaran Sai" Sasuke balas menatap Shino.

"Mengingat kita bertujuh di besarkan bersama. Paling tidak seharusnya ada kenangan baik yang bisa di kenang" imbuh Sasuke sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.

"Tapi sayang, kita semua tidak memiliki jalan pikiran yang sama" balas Shino.

Sasuke maupun Shino diam dalam pikiran masing-masing.

"Sungguh ironis, kita di sebut sebagai Seven Brothers, tapi kita tidak pernah di ajarkan untuk memiliki rasa persaudaraan"

Sementara Sakura yang dari tadi mendengar percakapan Sasuke dan Shino merasa miris setiap mengingat profesi Sasuke saat ini. Profesi yang selalu di bayangi maut. Dan kini Sakura secara tidak langsung terlibat dalam dunia Sasuke, mengingat sekarang Sasuke adalah kekasihnya.

Sakura bukannya takut akan kematian. Ia sudah menyaksikan kematian adiknya. Tapi hatinya tidak rela. Ia sangat mengkhawatirkan tentang Sasuke melebihi dirinya sendiri.

Sakura tanpa sadar menitikkan air matanya, bisakah dirinya meminta agar Sasuke berhenti dan keluar dari dunianya.

Ataukah sebagai kekasih, ia cukup mempercayai dan membiarkan atau justru mendukung semua keinginan Sasuke?

Jika ia menyampaikan hal ini pada Sasuke, apakah Sasuke lantas tidak marah? Itulah beberapa pertanyaan yang terlintas di benak Sakura.

Sakura berusaha agar tangisannya tidak terdengar oleh Sasuke dan Shino.

"Mau ke mana?" suara Sasuke kembali terdengar.

"Aaah… tidak ada. Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian" jawab Shino enteng. Tapi Shino cukup senang melihat satu-satunya sahabatnya itu mulai menemukan tujuan hidup dan perlahan melangkah ke gerbang kebahagiaan.

"Apa tidak…"

Shino mengangkat telapak tangannya membuat Sasuke tidak melanjutkan ucapannya.

"Aku berangkat Sasuke" pamit Shino, "Sakura! Aku pamit" teriak Shino.

Sasuke sedikit mendengus di iringi dengan senyum tipis, tapi ia tetap mengantar Shino sampai di depan pintu.

TO BE CONTINUE