Title: The Holy Grail War
Cast: Exo Members (ot12), other idols, OCs
Pairing: (Main) KaiSoo, ChanBaek, Slight!KaiBaek, other will be revealed later.
Rating: T/M for later chapters
Warning: Fate/Stay Night!AU, yaoi, typo, tidak sesuai dengan EYD
Disclaimer: Member EXO milik Tuhan dan keluarganya. Fate/Stay Night ©TYPE-MOON. I don't own anything except my OCs.
A/N: Kata-kata yang diketik dengan huruf italic adalah dialog dalam hati atau telepati(?). FF ini terinspirasi dari Visual Novel Fate/Stay Night jadi akan ada sedikit kemiripan ^^.
Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, baru kali ini Kim Jongin melihat sosok yang semenarik ini. Wajahnya terlihat tampan tapi ia juga terlihat cantik. Kulitnya putih pucat namun tampak berkilau terkena cahaya sinar bulan yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Rambutnya berwarna hitam legam, sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Matanya lebar dan memberikan kesan innocent, tapi ada sesuatu di dalam kedua bola mata hitam itu yang membuat Jongin merasa terpesona dan terintimidasi dalam waktu yang bersamaan.
Pemuda pemilik pemilih bibir merah muda berbentuk hati itu kemudian berkata,
"Kau telah memanggilku kemari dan aku menjawab panggilanmu. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apakah kau adalah Master-ku?"
Jongin terbangun dari tidurnya, ia menatap langit-langit kamarnya sambil mengerutkan alisnya. Tubuhnya berkeringat dan nafasnya terengah-engah seakan-akan dia habis berlari jauh.
"Mimpi itu lagi.." Bisiknya
Tangan Jongin menggapai-gapai ke arah meja di sebelah kasurnya kemudian mengambil ponselnya untuk melihat jam. Jam sudah menunjukkan pukul 08:00 dan setengah jam lagi sekolah dimulai. Hmm setengah jam lagi.
Setengah jam…
Setengah jam…
Setengah jam…
"AAAAAAAHHH AKU TERLAMBAT!"
Dengan kecepatan secepat kilat Jongin langsung bangkit dari tempat tidurnya kemudian berlari ke kamar mandi sambil membawa seragamnya, setelah itu dia berlari ke arah dapur mengambil sepotong roti di meja makan kemudian langsung berangkat ke sekolahnya tanpa mempedulikan Noona-nya yang sedang mentertawakan adiknya yang terlihat seperti sedang kebakaran jenggot. Untung saja jarak antara sekolah dan rumahnya sangat dekat. Hanya 15 menit jalan kaki. Tapi untuk saat ini 15 menit tidaklah cukup.
"Bagaimana ini!? Kalau aku terlambat bisa gawat! Hari ini jam pertama adalah pelajarannya Nam-songsaenim! Bisa-bisa aku kena hukuman!" Batin Jongin sambil berlari.
Jongin terus berlari tanpa melihat apa yang ada di depannya. Saat ini tujuannya cuma satu yaitu sekolah, Jongin menutup matanya erat sambil memikirkan pintu gerbang sekolahnya. Kemudian saat ia membuka kembali matanya, tiba-tiba saja ia sudah berada di depan pintu gerbang sekolahnya. Penjaga pintu gerbang hampir saja menutup pintu gerbang sekolah yang biasanya ditutup 15 menit sebelum bel berbunyi, tetapi tidak jadi karena melihat Jongin yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Hey bocah, kau mau masuk atau tidak?" Tanyanya.
"Ah..iya pak."
"Apa yang barusan terjadi? Perasaan aku baru saja berlari keluar rumah tapi tiba-tiba aku sudah ada di depan sekolah. Hmmm..aneh". Pikir Jongin sambil berjalan ke kelasnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Jongin,
"Yah! Kim Jongin, tidak biasanya kau datang hampir terlambat begini?"
"Oh, hai Taemin. Aku bangun kesiangan tadi, semalam aku bermimpi aneh lagi".
"Mimpi aneh?"
"Iya, mimpi aneh."
Taemin tersenyum jail dan Jongin hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Apakah kau bermimpi melakukan hubungan seks dengan Baekhyun?" Ujar Taemin tanpa tanggung-tanggung.
"LEE TAEMIN!" Kata Jongin sambil menutup mulut ember sahabatnya itu.
"Ooooh~ ! uri Jonginnie sudah dewasa sekarang".
"Bu-bukan mimpi itu, duh!"
"Lalu?"
Jongin terdiam sejenak sambil menggigiti bibirnya, kebiasaanya ketika dia sedang gugup.
"Aku bermimpi tentang ayahku."
"Oh, paman Heenim? Apakah kau merindukannya? Mau kutemani mengunjungi makamnya setelah pulang sekolah?"
"Tidak usah, hari Minggu kemarin aku baru saja mengunjungi makamnya bersama Eunhee-noona."
"Mmmm..baiklah kalau begitu."
Pembicaraan mereka terpotong bunyi bell yang menandakan bahwa sekarang waktunya masuk kelas.
"Aku akan menemuimu sepulang sekolah nanti, tunggu aku di studio ya!"
"Baiklah, see you!"
Belum juga sampai kelas tiba-tiba Jongin menabrak seseorang, buku-buku yang ia pegang jatuh berserakan di lantai.
DUGH!
"Aduuh..Kalau jalan lihat-lihat dong! Ugh..." Kata orang itu.
"B-baekhyun-ssi!? M-maaf sini kuban—"
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."
Anak laki-laki berwajah imut itu menata kembali buku pelajarannya sambil mengomel, tersenyum melihat kelakuannya akhirnya Jongin membantunya merapikan buku-buku yang ia jatuhkan.
"Kan sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu."
"Anggap saja ini permintaan maafku karena aku sudah menjatuhkan buku-bukumu." Ujar Jongin sambil terkekeh.
"Hmph.."
Setelah membereskan buku-buku yang jatuh tadi lelaki imut itu berkata,
"Lain kali kalau jalan pakai mata jangan pakai dengkul. Terimakasih sudah mau membantu." Katanya sambil berjalan dengan sedikit menabrak bahu lebar Jongin. Jongin hanya terdiam sambil tersipu malu.
"Aku harus bilang aku terkesan, akhirnya orang yang kau taksir dari dulu akhirnya bicara denganmu." Ucap Moonkyu, teman sekelas Jongin sambil menyeretnya masuk ke dalam kelas.
"Yeah..biarpun dia nampaknya marah padaku tapi aku senang."
"Sudah kubilang kan kauu ini Masochist..Aw! Aw! Jangan pukul aku!"
"Yah! Kim Moonkyu, Kim Jongin kembali ke tenpat duduk kalian masing-masing!
"Baik songsaenim..." Ucap Jongin dan Moonkyu bersamaan.
Pelajaranpun dimulai, tetapi pikiran Jongin tidak ada di kelas. Bukan, dia bukan memikirkan Baekhyun . Ia teringat akan mimpinya semalam. Kota Seoul terbakar habis, gedung-gedung rata dengan tanah. Dua orang lelaki saling beradu pedang. Ayah Jongin yang membacakan mantra sihir untuknya. Simbol-simbol yang tidak ia mengerti. Tattoo ditangan kiri Jongin.
"Mimpi semalam apa maksudnya ya?"
"Apakah apa yang dikatakan ayah dulu itu benar? Kalau ia adalah seorang magus*."
"Ah, mana mungkin. Mana ada yang namanya magus. Mungkin ayah hanya bercanda." Pikir Jongin sambil menggelengkan kepalanya.
"Yah, Kim Jongin! Apakah barusan kau menolak untuk mengerjakan soal di depan?" Kata Nam-songsaenim sambil melotot.
"Oh? "
Teman-teman sekelas Jongin terkekeh
"Bukan begitu Songsaenim. Saya mau kok mengerjakan soal di depan!"
"Lalu kenapa kau menggeleng-gelengkan kepalamu?"
"Umm..itu.."
"Keluar kelas sekarang."
"Tapi songsaenim...
"KUBILANG KELUAR! KEMUDIAN ANGKAT SATU KAKIMU SAMBIL MEMEGANG TELINGA!"
Jongin hanya bisa menghela nafas.
Kena hukuman dari Nam-songsaenim di hari Senin bukanlah hal yang menyenangkan. Wanita berumur 40tahun itu kerap sekali marah-marah kalau hari Senin. Tidak mau ambil resiko, akhirnya Jongin keluar kelas, tapi bukan Jongin namanya kalau menurut, anak itu bukannya berdiri dengan satu kaki tapi malah duduk di koridor sambil bermain game di ponselnya. Sesekali melirik ke arah lain, memastikan bahwa tidak ada guru yang lewat.
"Hey, sedang apa kau disini? Kenapa tidak masuk kelas?"
Kaget, Jongin menjatuhkan ponselnya.
"Minseok-Hyung! Hah, kau ini mengagetkanku saja, kukira kau guru. Huh.." Ucap Jongin sambil mengelus dadanya.
"Tch, jangan lebay ah. Memangnya aku setua itu apa hah?"
"Maaf Hyung. Umurmu memang tua tapi wajahmu 11:12 sama murid kelas satu kok!"
"Hahaha, kau ini bisa saja. Mau kutemani disini sampai pelajaran selesai?" Kata Minseok sambil duduk di sebelah
Jongin.
"Kalau sunbae tidak keberatan tidak apa-apa, memangnya sunbae tidak masuk kelas?"
"Aish..kau ini, aku pergi membolos karena aku bosan sekali di kelas."
"Kalau ketahuan guru bagaimana?"
"Ya dihukum. Kita berdua akan kena hukuman hahaha!"
"Yaaaah jangan-jangan bawa aku dong Hyung~!"
Tiba-tiba pintu kelas Jongin terbuka dan Nam-songsaenim berdiri di depan pintu. Wajahnya merah seperti kepiting rebus, ia menatap Jongin dan Minseok yang berpelukan karena ketakutan.
"Kalian berdua.." Katanya dengan kalem, sangat tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"I-iya Songsaenim.."
"Temui aku diruanganku setelah ini. Mengerti?"
"Ne, a-araso Nam-songsaenim.."
"JAWAB YANG BENAR KALIAN INI LAKI-LAKI ATAU BUKAN!?"
"BAIK KAMI MENGERTI SONGSAENIM!"
Dengan demikian, Nam-songsaenim menutup atau lebih tepatnya membanting pintu kelas kembali mengajar mungkin? Jongin dan Minseok hanya menatap satu sama lain kemudian tertawa bersama.
Hukuman yang Nam-songsaenim berikan tidak seberat apa yang Jongin dan Minseok pikirkan. Mereka berdua hanya disuruh membereskan dan membersihkan perpustakaan, menata buku dan menyusun kembali arsip-arsip ke tempat yang benar. Untung saja hari ini tidak begitu banyak murid yang datang ke perpustakaan, jadinya pekerjaan mereka tidak terlalu banyak.
"Haaah, akhirnya selesai juga." Ucap Minseok sambil menyeka keringat didahinya dengan lengan pakaiannya.
"Hyung, kalau mau pulang duluan tidak apa-apa kok. Aku masih ada urusan disini."
"Huh? Ini sudah jam segini, kau serius?
"Iya, aku berjanji pada Taemin akan menemuinya sepulang sekolah."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya!"
"Hati-hati di jalan Hyung~"
"Kau itu yang harusnya hati-hati."
"Eh?"
"Jangan sampai mati gara-gara tertusuk pedang atau tombak atau semacamnya ahaha."
Hening...
"Aku cuma bercanda Jongin."
"Ah..iya, lagi pula zaman sekarang mana ada orang membawa pedang atau tombak ke tempat umum.
Minseok hanya tersenyum mendengar itu kemudian ia pulang. Jongin melihat ponselnya, ada 4 sms dari Taemin dan 3
missed call dari Noona-nya. Jongin membacan sms dari Taemin satu per satu.
From: Taeminnie
Subject: [no subject]
16.00p.m
Jonginnie, kalau urusanmu sudah selesai. Kau langsung saja ke studio ya :3
From: Taeminnie
Subject: [Dimana]
16.30p.m
Kau dimana? Latihan sebentar lagi dimulai.
From: Taeminnie
Subject: [fighting~]
17:45p.m
Kudengar kau kena hukuman si Nenek sihir? Jadi itukah sebabnya kau tidak muncul saat latihan? Hmm baiklah tak apa. Kau kumaafkan ^0^. Selamat dihukum~ Jjonginnie fighting~~~!
From: Taeminnie
Subject: [TT TT]
18:30p.m
Aku melupakan chargerku di studio, bisa tolong bawakan tidak? TT TT
To: Taeminnie
Subject: [Re: TT TT]
19:19
Karena aku adalah teman yang baik, akan kubawakan chargermu. Nanti kuantarkan kerumahmu.
Setelah mengambil charger ponsel Taemin, Jongin memutuskan untuk sedikit menari. Jongin sangat suka menari, dari kecil ayahnya sudah mengkursuskan Jongin berbagai macam hal dari mulai Karate, piano, dan lain lain. Tapi Jongin kecil lebih tertarik dengan menari. Akhirnya ayahnya memasukkan Jongin ke kelas ballet dan tari jazz, dan disitulah dia bertemu dengan sahabatnya. Lee Taemin.
Jongin memgambil iPodnya kemudian menghubungkannya dengan speaker yang ada di ruangan tersebut. Ia menatap bayangannya di kaca kemudian ia mulai menari. Ia membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti alunan musik. Jongin benar-benar tenggelam dalam tariannya, sampai ia lupa kalau sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 21:00
"Yikes, sudah jam segini ternyata. Aku harus segera pulang sebelum Eunhee-noona pulang dengan meja makan belum tersedia dengan makan malam. Selain itu aku juga harus mengantarkan charger ini ke Taemin."
"Baekhyun!? Apa yang dia lakukan? Aku harus cepat menolongnya sebelum ia jatuh!""
Jongin pun berlari ke gedung barat akan tetapi sosok Baekhyun tidak ada dimana-mana. Tapi itu tidak menghentikan niat Jongin untuk mencari Baekhyun sampai akhirnya dia sampai di lapangan belakang sekolah. Dan demi Tuhan dia tidak percaya apa yang dia lihat.
Dua orang lelaki sedang bertarung dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Yang satu menggunakan jaket berwarna hitam dan lengannya berwarna putih dengan rambut berwarna coklat muda membawa tombak yang hanya bisa dilihat di anime atau di game. Yang satunya lagi berbadan tinggi besar dengan rambut berwarna merah dan memiliki kuping yang mengingatkan Jongin akan Yoda, menghunuskan dual-bladenya ke arah si rambut coklat muda. Dan di sisi lain terlihat Byun Baekhyun berdiri mengawasi kejadian tersebut seakan-akan dia tahu apa yang terjadi.
"Apa yang Baekhyun lakukan!? Bagaimana kalau dia terluka?" Pikir Jongin
Baru juga Jongin hendak berlari diam-diam ke arah Baekhyun, kakinya menginjak ranting pohon.
CRACK!
"Siapa itu!?" Ujar si rambut coklat muda.
"Shit!"
Tanpa pikir panjang Jongin pun berlari kembali masuk ke dalam gedung mencari tempat sembunyi. Ia terus berlari, naik turun tangga, berlari melewati koridor-koridor kelas sampai akhirnya tiba-tiba dari belakang seseorang menusuknya dengan sebuah tombak tepat di jantung. A fatal blow, Jongin pun mati di tempat.
Si rambut coklat muda tadi kemudian berkata,
"Maafkan aku bocah, tapi orang asing yang melihat pertempuran ini harus mati." Ucap Si rambut coklat muda sebelum menghilang tanpa jejak.
Baekhyun berlari menelusuri koridor kelas, pikirannya kacau balau karena ada orang asing yang tiba-tiba muncul ditengah-tengah pertempuran antara Chanyeol dan Lancer.
"Siapa orang tadi!? Apa yang dilakukannya malam-malam begini disekolah? Mengapa aku tidak dapat mendeteksi keberadaanya? Apakah dia juga seorang Magus?"
"Tenanglah Baek, aku yakin Lancer sudah menghabisinya." Ujar Chanyeol lewat telepati.
"Hah!? Tenang katamu? Bagaimana kalau orang itu adalah murid sekolah ini? Aku tidak ingin menjadi seorang criminal tahu!"
"Aku akan mengawasi sekitar, jika kau membutuhkanku panggil saja aku."
"Tch.."
Langkah kaki Baekhyun terhenti, ia melihat sosok yang terkulai tak bernyawa ditengah-tengah koridor.
"!?"
Perlahan-lahan Baekhyun menghampiri sosok tersebut, kalau dilihat nampaknya noble phantasm* milik Lancer berhasil menusuknya tepat di jantung. Jika dilihat dar ciri fisiknya, Baekhyun sepertinya mengenali orang ini. Tanpa ragu-ragu Baekhyun membalik tubuh orang itu, dan benar saja, Baekhyun mengenalinya.
"Kau!?"
Seragam kuning-mustardnya bersimbah darah, kulit kecoklatan yang mengingatkan Baekhyun pada caramel itu tampak pucat. Bola mata berwarna coklat gelap itu menatap Baekhyun dengan kosong, dan bibir penuhnya sedikit terbuka dan mengeluarkan darah. Dan tepat di jantungnya terdapat lubang yang menganga dengan lebar.
"Kim Jongin?"
Hening
"A-apa yang kau lakukan disini? Malam-malam..Astaga.." Baekhyun jatuh terduduk di samping tubuh bersimbah darah milik Jongin.
Baekhyun menatap tubuh tak bernyawa itu dengan seksama, ia mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini. Sesekali ia mengigiti jarinya. Apa yang harus ia lakukan? Membuang mayat Jongin? Membakar mayatnya? Menyuruh Chanyeol untuk mencincangnya sampai tak bersisa? Atau kembali menghidupkan Jongin?
"Kembali menghidupkan Jongin…"
Tiba-tiba Baekhyun teringat akan sesuatu, ia merogoh kantong celananya kemudian menemukan sebuah kalung liontin yang di dalamnya terdapat cahaya berwarna kemerahan.
Yep..dia akan menggunakan kalung itu untuk menyelamatkannya.
-TBC-
*) Magus: Adalah istilah untuk praktisi Magecraft, yaitu ilmu magis, yang berbeda dengan Magician, yang mampu mewujudkan kejaiban yang tidak mungkin untuk kembali dilakukan pada saat ini. Di masa lalu, istilah magus sendiri digunakan untuk pengguna Thaumaturgy dan Sihir, tetapi seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dapat membuat keajaiban di masa lalu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin dan penurunan seluruh kekuatan Magecraft, membuat perbedaan di antara keduanya menjadi lebih jelas. Penyihir, sama seperti dengan magus memiliki umur yang panjang. Jika mereka menggunakan sihir untuk memperpanjang umur, mereka mungkin dapat hidup selama ratusan maupun ribuan tahun lamanya.
*) noble-phantasm: Senjata yang amat sangat kuat yang dibuat dengan menggunakan imajinasi manusia sebagai intinya, dan merupakan senjata atau kemampuan yang dimiliki seorang servant. Mereka adalah perwujudan terakhir dari seorang pahlawan yang melambangkan keberadaan mereka melalui fakta-fakta sejarah dan anekdot yang ada. Wujudnya bisa bermacam-macam, mulai senjata fisik seperti pedang, tombak, busur, atau benda-benda lain seperti cincin atau mahkota. Selain itu wujud dari noble-phantasm itu bisa sebagai sesuatu yang tidak berwujud seperti kemampuan yang unik, cara menyerang lawan, kutukan, dll. Noble-phantasm adalah kartu trump para servant yan mampu memungkinkan mereka untuk mengatasi lawan mereka dalam pertempuran
[A/N] ada di chapter selanjutnya c:
