-Happy Reading-
Happy Ending : Partner
Naruto © Masashi Kishimoto
Happy Ending © Rin Mizuki
Genre : Romance & Sci-Fi
Rate T
Cast :
Sakura x Gaara
.
.
.
.
.
Sakura tengah duduk di samping Gaara dengan pandangan penuh tanya. Sesekali ia akan mengalihkan pandangannya ke arah kedua orang tuanya dan juga Bibinya kemudian kembali lagi ke arah pemuda itu. Pikiran-pikiran buruk sudah terlebih dulu menjajah pikirannya, kini yang bisa gadis itu lakukan saat ini hanyalah menelan ludah bersiap untuk segala kemungkinan terburuk yang mungkin saja sudah siap menerjangnya.
'Tidak adakah yang ingin menjelaskan sesuatu padaku?' batin Sakura.
"Kapan rencana kalian untuk menikah?" tanya Kizashi.
"EH? M-mm-menikah?" Sakura mendadak kalang kabut setelah mendengar pertanyaan Ayahnya.
"Bagaimana Gaara?" sambung Mebuki.
"Itu, biar Sakura saja yang putuskan." Jawab Gaara yang sukses membuat kedua bola mata Sakura nyaris keluar.
Melihat keadaan semakin memburuk Sakura segera melirik ke arah Bibinya dan langsung mengirimkan sinyal untuk membawa orang tuanya keluar dari kamar itu. Tsunade yang menangkap sinyal dari Sakura langsung berinisiatif untuk mengajak kedua orang tua Sakura ke ruang kerjanya.
"Kak Mebuki, bagaimana kalau kita pindah ke ruanganku? Sepertinya mereka ingin berduaan." Bujuk Tsunade.
"Oh, benar. Ayo sayang jangan ganggu mereka." Ajak Mebuki pada suaminya.
"Tapi aku ingin mendengar kapan mereka akan menikah. Coba lihat, Minato terus saja menyombongkan kedua cucunya setiap kali datang ke rumah. Kalian pikir bagaiamana perasaanku?"
'Astaga mulai lagi.' Batin Sakura.
"Sudahlah sayang, kita bisa membcirakan itu nanti."
"Tapi Mebuki…"
Awalnya, Kizashi nampak enggan untuk beranjak dari tempat itu karena masih menunggu jawaban dari keduanya. Ketiganya pun meninggalkan ruangan tersebut. Sakura langsung mendekatkan wajahnya dan menyerang Gaara dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepalanya.
"Kenapa Ayahku bicara seperti itu? Apa yang sebenarnya kalian bicarakan dari tadi? Apa kau bilang yang sebenarnya? Astaga. Tapi kalau kau bilang yang sebenarnya kenapa dia membicarakan tentang pernikahan? Hn? Cepat jelaskan padaku!" Sakura tidak sadar wajahnya semakin mendekat hingga tinggal beberapa senti yang masih tersisa.
Raut Gaara masih terlihat sama meski di depannya ada sosok Sakura. Pria bersurai merah itu kemudian mengacungkan telunjuknya dan mendorong pelan dahi Sakura agar menjauh darinya. Pria itu sepertinya enggan untuk menjawab semua pertanyaan Sakura berusan.
"Bukankah kau yang berhutang penjelaskan padaku, Dokter Pink?"
"Pink? Dokter Pink? Kau memanggilku Pink?"
"Bukankah kau memang Pink?" ucap Gaara sembari menunjuk ke arah rambut Sakura.
"Apa kau tidak bisa memanggil namaku?"
"Namamu?" Gaara pura-pura tidak mengerti.
"Lihat. Sakura. Haruno Sakura. Setidaknya kau bisa memanggilku dengan Sakura. Pink? Yang benar saja." Ucap Sakura sewot.
"Kenapa harus?"
Sakura hampir saja memukul Gaara jika dia tidak mengingat status Gaara yang saat ini adalah seorang pasien. Sakura kemudian berbalik dan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah, terserah kau mau memanggilku apa. Aku akan menjelaskan padamu tentang apa yang sudah terjadi. Mungkin karena aku adalah anak satu-satunya, makanya orang tuaku ingin segera menikahkanku. Hm, karena aku menolak untuk dijodohkan jadi aku memutuskan untuk memilih calon pendampingkku sendiri dan orang tuaku memberikan batas waktu sampai akhir tahun ini. Tapi ternyata tidak mudah. Satu-satunya orang yang ku taksir, tak tau dimana keberadaannya sekarang. Dia bahkan selalu mengabaikanku. Hm, beberapa hari yang lalu Ibuku datang berkunjung dan menyakan hal ini lagi. Tanpa sadar aku mengatakan bahwa kau adalah kekasihku. Ha ha ha. Bagaimana bisa aku mengatakan kau adalah kekasihku, sedangkan kita baru saja bertemu. Ha ha ha. Bukankah ini lucu?" Sakura masih tertawa terbahak-bahak tapi saat gadis itu menatap pria yang ada di hadapannya yang tidak berekspresi sama sekali gadis itu langsung terdian dan mengucapkan maaf.
"Maafkan aku." Ucap Sakura dengan kepala tertunduk.
"Apa kau kira dengan minta maaf semua akan baik-baik saja?"
"Maaf aku tidak berpikir sejauh itu." Gaara sepertinya tidak tertarik untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Sakura.
"Hey, bisakah kau menolongku sekali ini saja, hn?" Sakura memohon kepada Gaara tapi pria itu tetap mengacuhkannya.
Tak hilang akal, Sakura kemudian duduk di tepi ranjang Gaara sembari menggenggam tangan pemuda itu agar mau mengasihaninya. Sementara Gaara mesih terus berusaha menghindari Sakura.
"Ayolah Gaara, ku mohon." Pria itu tersentak saat mendengar Sakura menyebut namanya.
Sakura yang tak kalah terkejut kembali memberondong pertanyaan. "Ada apa? Apa ada yang sakit?"
"Tidak, hanya saja ini pertama kalinya aku mendengar seseorang menyebut namaku."
"Memang apanya yang aneh? Bukankah orang-orang biasa memanggilmu dengan namamu?"
'Tidak untukku.' Gumam pria itu.
"Aneh. Jadi apa kau mau menolongku? Tentu saja sebagai gantinya aku juga akan menolongmu. Katakan saja aku pasti akan melakukannya? Asal bukan sesuatu yang aneh-aneh atau mengancam jiwa."
Sesaat Sakura tertegun saat melihat pria itu tersenyum mendengar ucapannya barusan. Rasanya baru kali ini Sakura melihat senyuman seindah itu. Tanpa sadar ia pun ikut tersenyum.
"Kau ini kenapa?" Tanya Gaara yang membuat Sakura mendadak malu karena ketahuan menatap pria yang ada di hadapannya itu.
"Ah, tidak. Ini juga pertama kalinya aku melihatmu tersenyum sejak ada di sini." Sakura kembali tersenyum tapi raut wajah Gaara sudah kembali datar seperti biasanya.
"Jadi, apa kau mau membatuku, Gaara?"
"Baiklah. Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Biarkan aku tinggal di rumahmu."
"Baiklah kau bisa tinggal di rum- Apa? Kau bilang apa?"
"Keberatan?"
"Ah, itu hm bagaimana ya? B-baiklah aku setuju." Sakura sangat senang karena satu masalah sudah selesai meski satu masalah lain telah bertambah.
"Sekarang kita adalah partner. Aku akan berjanji untuk menolongmu setiap saat kau membutuhkan pertolonganku dan kau juga harus membantuku. Janji?" Sakura menyodorkan jari kelingkingnya tapi Gaara enggan untuk meraihnya.
Merasa dihiraukan oleh Gaara, Sakura kemudian meraih tangan Gaara dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking pemuda itu.
'Kekanakan sekali.' Batin Gaara.
"Oh iya, aku harus memeriksa keadaanmu." Sakura kemudian mulai pemeriksaan dasar dan mengamati rekam medis milik Gaara. Mata Sakura sempat terhenti sejenak saat melihat hasil catatan itu.
"Oh, sepertinya kita sudah bisa pulang." Jawab Sakura sembari tersenyum manis ke arah Gaara.
"Ah, tapi aku harus jaga sekarang dan baru akan selesai nanti malam. Apa kau mau menungguku?" Gaara mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Sakura pun keluar dari ruangan itu.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat melihat rekam medis Gaara. "Ada yang aneh."
.
.
.
Konoha Hospital, 09.00 p.m
Setelah mengganti seragamnya Sakura bergegas menghampiri Gaara di ruangannya. Pria itu masih mengenakan seragam pasien tapi tempat tidurnya sudah tertata rapi.
"Bajumu? Oh Iya aku lupa. Ayo."
Mereka pun berjalan beriringan sampai ke depan rumah sakit.
Sakura berusaha memecah keheningan, "Aku tidak punya kendaraan, bukankah itu lucu? Bagaimana bisa seorang dokter tidak memiliki kendaraan." Tapi pria itu masih diam saja.
"Tapi jangan khawatir rumahku tidak jauh dari sini. Hanya satu pemberhentian saja. Apa kau lelah? Kita bisa memanggil taksi kalau kau mau."
"Tidak perlu."
"Hm. Baiklah. Ah, aku baru ingat kalau persedian makananku sudah habis, mau menemaniku belanja? Kita juga bisa membeli baju untukmu, kau tidak akan memakai pakaian itu selamanya kan? Di sana ada swalayan yang biasa aku datangi. Ayo." Sakura mulai menarik tangan Gaara sebelum pria itu menjawab ajakannya.
.
Setelah masuk ke dalam swalayan, Sakura langsung meraih sebuah troli sembari menarik-narik Gaara ke sana ke mari. Dengan segera mereka sudah sampai di bagian sayuran.
"Apa yang biasa kau makan? Apa kau alergi sesuatu? Apa ada yang tidak kau sukai?"
"Bisakah kau bertanya satu-satu?"
"Maaf. Hm, apa kau alergi sesuatu? Kacang misalnya?" Gaara menggeleng.
"Ada yang tidak kau sukai?" Gaara menggeleng.
"Jadi apa yang biasa kau makan?"
"Tidak ada."
"Heh?"
"Beli saja apa yang biasa kau makan."
"Ah, baiklah."
Setelah selesai berbelanja bahan makanan, keduanya bergegas pergi ke bagian pakaian pria. Namun pria itu tak kunjung memilih baju apa yang ingin ia kenakan, sementara Sakura mulai tidak sabar melihatnya.
"Cepat pilih! Aku sudah lapar." Tapi pria itu tetap diam.
"Baiklah, begini saja." Sakura langsung meletakkan kantung belanjaannya dan menyambar beberapa potong baju dan celana.
"Ini sepertinya cocok untukmu. Cobalah." Ucap Sakura sembari menyodorkan baju pilihannya dan memaksa pria itu untuk langsung mencobanya.
Meski sempat ragu Gaara akhirnya mencoba baju yang dipilih Sakura. Saat pria itu keluar dari kamar ganti, Sakura cukup terkejut melihat penampilan pria yang ada di hadapannya ini. Dengan senyum yang tersungging di wajahnya ia pun mendekati Gaara dan merapikan penampilan sang pria.
"Wah, cocok sekali. Tunggu disini sebentar, aku akan membayar semuanya."
Sakura kemudian pergi membayar belanjaannya meninggalkan Gaara. Tak lama setelah ia kembali ia melihat Gaara tengah berbicara dengan beberapa wanita yang entah bagaimana menurut Sakura, wanita-wanita itu sedang berusaha untuk merayu Gaara meski Gaara masih mengacuhkan keberadaan mereka. Saat mata keduanya bertemu, Gaara sepertinya mengatakan sesuatu pada para wanita itu dan kemudian bergegas menghampiri Sakura dengan kantong belanjaan di tangan kanannya.
"Baru saja ku tinggal, tapi lihat sekarang. Ckck. Tapi, kalau dilihat-lihat dia memang hm ya sedikit tampan. Pantas saja mereka mengerubutinya."
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak ada. Ayo kita pulang."
Keduanya kemudian menaiki sebuah bus. Butuh sekitar sepuluh menit, keduanya pun turun. Di sepanjang jalan Sakura berusaha memecah suasana meski terkadang Gaara tidak begitu tertarik dengan apa yang Sakura bicarakan. Sebuah rumah bercat hijau muda dengan beberapa deret mawar mengitarinya. Sakura lalu membuka kunci gerbang rumahnya dan mempersilahkan pria itu masuk.
"Masuklah. Hm, biar aku tunjukan kamarmu. Kebetulan aku punya dua kamar. Tapi biasanya kamar itu dipakai temanku saat dia datang untuk menginap. Tapi ku rasa dia tidak akan menginap lagi sejak menikah dua bulan yang lalu. Jadi, kau bisa memakainya." Ucap Sakura.
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Hm? apanya?"
"Selalu banyak bicara."
"Maaf, akan aku usahakan menguranginya."
"Tidak perlu."
"Baiklah, jika itu maumu."
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Sakura langsung menunjukan kamar untuk Gaara tempati. Tepat saat gadis itu membuka kamar tersebut matanya terbalalak. Beberapa majalah berserakan, tumpukan tisu bekas dan kumpulan baju kotor memenuhi isi kamar.
'Astaga! Bisa gawat jika Gaara melihatnya.' Gumam Sakura saat melihat beberapa baju kotor yang berserakan di dalam kamar.
"Kau, mandi saja dulu ok? Aku akan merapikan kamarmu jadi kau bisa istirahat nanti." Bujuk Sakura yang langsung mendorong Gaara agar masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah memastikan Gaara masuk ke dalam kamar mandi, Sakura kembali ke dalam kamar dan mulai membersihkan kamar tersebut sembari terus mengeluh.
"Tidak akan ku ijinkan lagi gadis itu menginap!" sumpah Sakura.
.
.
.
Suna Laboratory
Dua orang pria tengah berjalan di sepanjang koridor yang ada di dalam Laboratorium. Keduanya lalu masuk ke dalam sebuah ruangan yang bertuliskan Director's Room. Salah seorang pria meletakkan sebuah laptop di hadapan seseorang. Di dalam laptop terdapat sebuah potongan video dari CCTV. Melihat hal tersebut, pria itu hanya menggertakan giginya dan memukul meja.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat bawa dia kembali sebelum pihak Konoha mengetahui siapa dia sebenarnya. Aku tidak mau senjataku jatuh ke tangan mereka."
"Baik, Direktur."
.
.
.
-to be continued-
.
.
.
.
.
#Author's Corner
Lama ya… chapter kali ini lebih pendek dari sebelumnya dan sepertinya bakalan pendek-pendek terus. Hehe. Makasih buat yang mau nyempetin baca apalagi ngasih review. Karena ini sebenarnya bukan genre yang Rin kuasai jadi ya Rin masih kesulitan untuk menentukan konflik yang akan terjadi nantinya. Udah dulu ngebahas kegalauan Rin yang nggak ada abisnya. Akhirnya Sakura dan Gaara tinggal serumah. Hm, selanjutnya enaknya apa ya…? Tunggu kelanjutannya ya? (o^_^o) ok-ok?
