Rush

….

..

Kelihatannya mudah, tapi, aku harus lari dengan kakiku sendiri.

.

Kyungsoo benar saaat ia bilang : Kim Sehun perlu dihindari.

Serius, cowok itu nyebelin banget. Kukira tampangnya yang pendiam dan kelihatan cool itu sesuai dengan sifatnya. Ternyata, salah besar.

Dengan seringai jahilnya ia memutar tubuhnya menghadapku saat kelas kami memasuki jam kosong. Ia mengajakku bicara dalam bahasa korea yang tidak ku mengerti. Aku sudah pernah cerita belum? Aku hanya bisa bahasa korea tingkat dasar. Dan, aku keceplosan memakinya dalam bahasa mandarin.

Sialnya, ia mengerti apa yang kukatakan.

"*Tianmei….mulutmu setajam pisau," (*gadis manis) ujarnya, dengan nada mengejek "Kalau bicara saja tidak bisa untuk apa kau kesini huh?"

Aku terpaksa membuang muka. Benar juga yang ia katakan. Seharusnya, aku meminta bibi Yixing mengirimku ke London. Maksudku, kalau disana aku nggak bakal keteteran seperti ini.

"Yeah," sahutku "Aku kan nggak pernah kepikiran bakal tinggal di korea. Bahasaku setara turis, dong?"

"Eh kalian," Kyungsoo menyela diantara perdebatan panas kami soal bahasa, oke benar, bahasa. Cewek itu menatap kami seperti kami amat sangat tolol. "Sehun ini hanya soal bahasa, oke? Baekhyun jangan tanggapi Sehun, dan kalau mau bicara keras gunakan bahasa korea kami tidak mengerti!" ia menggebrak meja kuat-kuat diikuti seluruh teman sekelas kami yang mengangguk-angguk seperti orang sinting.

"Hei," seruku dengan sikap sok tersinggung, padahal sebenarnya tidak dan aku juga tidak mengerti beberapa kata yang diucapkan Kyungsoo "kalau begitu ajari aku, seminggu saja belum aku tinggal disini."

Kyungsoo mengerjap. "Iya juga sih…"

Saat itulah seseorang tiba-tiba berseru keras. "Tidak lihatkah saya sudah berdiri disini?!"

Kami semua berbalik megikuti arah suara. Di sana, berdiri di depan kelas, dengan penggaris panjang, seorang guru tersangar yang pernah kulihat. Tubuhnya besar, mungkin tingginya hanya sedikit dibawah Baba, dan wajahnya terdapat beberapa goresan. Tampangnya luar biasa galak.

.

.

.

.

Nama beliau Pak Lee.

Tidak hanya muka, tapi hukumannya juga galak sekali.

Sebagai biang keributan, aku dan Sehun dihukum membersihkan toilet cowok, yang, astaga, apa sih yang para cowok lakukan di toilet? Bau sekali.

"Ayo masuk."

Dengan cara mendorong-dorong punggungku, Sehun menggiringku masuk ke dalam toilet. Ia sendiri masih berkutat dengan hidungnya yang tiba-tiba memerah seperti badut.

Aku pun ngakak sekencang-kencangnya.

"Dilarang hukumnya mencela alergi orang lain," katanya, penuh wibawa "tempat kotor itu…astaga!"

Tapi, aku nggak bisa berhenti. Ayolah, kulit Sehun lebih putih bahkan dibanding kulitku, dan ia.. berhidung merah, lucu sekali kan? Haha.

"Kau emangnya nggak pernah pakai toilet?" kataku, sambil menyikat lantai, sedangkan Sehun membersihkan kaca.

"Nggak kalau kotor begini… aku bakal pulang," jawab Sehun, dengan nada suara sedatar yang ia bisa, kupikir. "Hey Baixian," kata Sehun, lagi, aku agak terkejut saat ia menyebut nama asliku, padahal baru saja aku menyangka hanya bibi Yixing yang akan memanggilku begitu disini. Namun, mengingat Sehun yang fasih berbahasa mandarin, nggak mengherankan ia tahu nama chinaku.

"Apa?" sahutku, tanpa menyadari Sehun sudah ikut berjongkok dibelakangku, tiba-tiba saja ia berbisik dengan suara rendah, "Kau nggak mengingatku?"

Saat itu juga, aku berjengit, menampar pipinya keras-keras, yah, aku kan nggak tahu Sehun yang berbisik padaku, Sehun mengelus pipinya sendiri, menatapku seolah aku manusia tersinting yang pernah ditemuinya.

"Maaf aku-"

"Sudahlah," potong Sehun, ia berdiri, dan aku merasa kecil, sialan ia tinggi sekali, kurasa tingginya sekitar seratus delapan puluh empat centi. "Kau memang payah."

"Hey aku kan-"

"Kalau di Korea," Sehun kembali memotong, ia lalu meneruskan pekerjaannya membersihkan kaca "Pakailah bahasa korea, bahkan denganku sekali pun."

Dengan kekesalan setara kekesalanku pada HuaiBai aku kembali menyikat keras-keras lantai toilet, menimbulkan bunyi yang amat sangat mengganggu, "Kalau aku bisa sudah kulakukan."

"Kalau begitu," Sehun berteriak, seolah ingin menandingi suara sikatanku, "aku akan mengajarimu."

Aku berhenti menyikat, menatap Sehun yang masih saja sibuk mengelapi kaca, bersikap seperti ia baru saja menawariku permen, "Kau serius nggak sih?"

"Tentu saja, nggak lihat muka tampanku ini?"

"Hoek tampan apanya…albino."

"Dilarang mencela warna kulit orang lain idiot," Sehun berhenti mengelap kaca yang sekarang sudah bersih mengkilap, ia menatapku dari sana, "Besok sepulang sekolah."

.

.

.

.

"Halo, Baixian," sapa bibi Yixing waktu aku masuk ke ruang makan, aku duduk tepat didepannya. "Bagaimana sekolah barumu?"

Nyebelin. Kepingin benar aku berkata begitu. Tapi, mengingat kebaikan bibi Yixing dan paman Joonmyeon yang dengan rela membiayai sekolahku, aku tidak mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku mengatakan apa yang harus kukatakan. Inilah yang kau lakukan pada keluargamu.

Maka aku pun menjawab, "Begitulah bi seperti halnya sekolah baru,"

Tidak lama paman Joonmyeon datang dan duduk di kursi, well, kau tahu kan tempat dimana kepala keluarga duduk? Bersamaan dengan itu para pelayan datang membawakan makanan pembuka. Sambil menikmati makan malam, kami mengobrol ringan. Makan malam adalah waktu terpenting untuk keluarga Kim, ini waktu seluruh anggota keluarga berkumpul. Paman Joonmyeon bilang, makan malam juga bertujuan mengakrabkan seluruh anggota keluarga.

Menyenangkan rasanya, asal tahu saja aku, baba, dan ibu kandungku, tidak pernah makan malam bersama seperti ini. Baba tidak penah ada. Ia nggak punya waktu, terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Mungkin maksudnya pekerjaan berselingkuh.

Aku nggak tahu, mana yang benar. Ia benar-benar lembur mengurusi perusahannya yang besar itu ataukah berselingkuh bersama Zi Tao. Tapi, kalau dibandingkan dengan paman Joonmyeon, yang perusahaannya lebih besar dari milik baba, hal ini perlu dipertanyakan. Bagaimana paman Joonmyeon bisa meluangkan waktunya untuk makan malam keluarga, sementara tidak dengan ayahku?

Itu dulu lho, sejak menikah dengan Zi Tao ayahku selalu punya waktu untuk keluarganya : Zi Tao dan HuaiBai.

Rasanya aku ingin menangis keras dan tertawa sama kerasnya di waktu yang bersamaan.

"Baekhyun-ie," ujar paman Joonmyeon, menarik perhatianku "Kudengar kau belum lancar berbahasa korea,"

Ya, sama tidak lancarnya dengan bahasa mandarinmu paman. Namun, paman Joonmyeon setidaknya masih jauh lebih baik dari pada aku. Kami sama-sama tidak bisa, namun, berada pada tingkatan yang berbeda.

"Begitulah paman, teman sekolahku akan mengajariku," jawabku sambil menelan kimchi yang omong-omong enak banget, "Besok sepulang sekolah."

"Benarkah?" paman Joonmmyeon dan bibi Yixing berseru disaat bersamaan, wajah mereka terlihat sumringah, membuatku entah mengapa jadi ikut senang "Kau benar-benar mewarisi gen Luhan!"

.

.

.

.

Ibuku memang gampang punya teman. Ia manis sekali. Rambutnya coklat keemasan, matanya yang jernih bakal mengingatkanmu sama rusa, dan ia seorang periang yang seperti nggak punya masalah dalam hidupnya.

Tapi, entah lah kenapa ia harus menikah dengan Baba. Bukannya aku menyesali hal ini, bukan. Kalau mereka tidak menikah aku nggak bakal lahir. Yang aku sesalkan hanyalah, mengapa Baba tega-teganya menyakiti Mama. Hanya itu.

Kalau mau jujur, aku memang iri dengan mereka yang punya keluarga utuh. Aku iri dengan mereka yang bisa bercanda bersama ayah mereka, bermain bersama, melakukan hal-hal yang seharusnya di lakukan seorang ayah dan anak perempuannya.

Sedangkan aku, aku hanya bisa melakukannya bersama Mama. Mama selalu ada untukku, ia menyayangiku dalam sekali. Itulah mengapa aku selalu merindukan Mama, menangis tanpa sadar disaat tidur karena aku merindukan sentuhan tangannya di kepalaku.

Ini nggak berarti baba nggak pernah ada. Ia ada. Namun, yang dilakukannya padaku adalah mendidik. Keras sekali. Sampai-sampai aku pernah berpikir untuk meninggalkan rumahku –yang akhirnya kulakukan sekarang.

Baba nggak pernah mendengarkan Mama yang berusaha melindungiku. Saat ia punya waktu yang bisa dihabiskannya bersamaku, ia akan melatihku segala macam hal. Nggak mengherankan aku punya kemampuan lebih dari pada anak-anak seusiaku. Pelatihan yang kudapat selalu lebih dari mereka.

Mungkin karena aku selalu lebih dari mereka, nggak banyak yang mau jadi temanku. Dari dulu, hanya Xiumin teman yang kupunya. Ia satu-satunya yang mengerti perasaanku.

Jadi, saat bibi Yixing mengatakan aku mewarisi gen Mama, aku heran banget. Benarkah seperti itu? Apa sebenarnya kau memang seorang periang? Seseorang yang mudah memiliki teman?

Lalu mengapa aku hanya punya Xiumin sebagai temanku? Apa mereka takut padaku karena aku anak dari Wu Yifan? Apa orang tua mereka melarang mereka main denganku karena takut Baba tidak menyukainya dan akhirnya 'menghancurkan' mereka karena berasal dari golongan bawah?

Atau karena mereka iri padaku? –Aku nggak pernah mau tahu. Aku selalu pusing setiap memikirkan hal ini.

Sekarang, aku hanya akan menjalani hidupku penuh rasa syukur. Menerima apa yang tuhan berikan untukku.

Karena sebenarnya, itulah tujuan dari 'pelarian' ini. Dua hari saja belum cukup untukku, aku perlu tinggal lebih lama. Belajar hal-hal yang bahkan nggak pernah aku bayangkan. Di lingkungan yang tidak kukenali, setidaknya, aku masih punya apa yang orang-orang sebut sebagai keluarga. Paman Joonmyeon dan Bibi Yixing.

Kalau Baba punya HuaiBai dan Zi Tao sebagai keluarga barunya, maka, aku mendapatkan Paman Joonmyeon dan Bibi Yixing. Bahkan, aku merasakan mereka lebih mencintaiku daripada Baba.

"XiuXiu? Kau disana?"

Dengan ponsel baru yang diberikan bibi Yixing seusai makan malam tadi –ia tahu aku nggak punya ponsel –aku menelpon Xiumin. Rindu rasanya. Yeah, biasanya aku kan ketemu Xiumin setiap hari.

"Baixian?" Xiumin memekik di sebrang sana, aku tahu.

"Aku merindukanmuuu," kataku, riang. Disambut dengan Xiumin yang juga mengatakan hal yang sama, dengan nada seolah aku sudah pergi bertahun-tahun.

"Ah ya Xiu," aku berniat cerita pada Xiumin, waktu teringat soal betapa menyebalkannya Kim Sehun dan hukuman yang diberikan Pak Lee.

"Eh Baixian," disaat yang sama Xiumin juga memanggilku, kami sama-sama diam, tapi aku diam lebih lama, karena itu Xiumin mengatakan apa yang ingin ia katakan padaku lebih dulu.

"Maaf kalau kau tersinggung tapi, eh, Baixian ayahmu sama sekali tidak menghubungiku atau menanyakan kabarmu lewai HuaiBai, beliau seolah nggak peduli kau pergi,"

Setelah itu ada jeda cukup lama, aku tidak menyangka Xiumin bakal menceritakan hal yang bahkan nggak pernah aku bayangkan sebelumnya. Di sebrang sana Xiumin menghela napasnya, helaannya terdengar jelas dari ponselku.

"Maafkan aku memberitahumu hal itu." Xiumin berujar, dengan nada menyesal yang dalam pada suaranya.

"Tidak apa Xiu aku sudah menduganya," imbuhku, memberi tahu isi analisis kecil yang ku lakukan sebelum terbang ke Korea "Lupakan saja, aku punya cerita yang lebih menarik," sepertinya kata-kataku berhasil menarik rasa penasaran Xiumin dan membuat gadis itu melupakan penyesalannya yang menyedihkan untukku.

"Ceritakan semua!" ia berseru, Xiumin memang gadis yang suasana hatinya bisa cepat berubah.

"Namanya Sehun, ia nyebelin banget! Lebih baik aku menyibukan diri dengan karya Sir Arthur Conan Doyle, daripada harus berhubungan dengannya."

"Ceritamu mengatakan ia benar benar buruk," Xiumin terkekeh, seolah nggak mempercayai apa yang kukatakan, sebenarnya, ia satu tahun lebih tua dari usiaku, namun, suatu masalah yang tidak pernah mau diceritakannya, membuatnya terlambat masuk sekolah, "Shixun seburuk itu?"

"Sehun, Xiu, Sehun. Shixun anak bibi Yixing. Mereka mungkin dua orang yang berbeda, seingatku, semasa kecil Shixun teman paling membahagiakan begitulah, Haha"

"Tawamu sungguh nggak tepat," Xiumin berujar, dengan nada sebal yang kentara dalam suaranya "kau seolah bilang aku buruk banget, mengucap nama Shi-hun."

"Shi-hun? Astaga aku jadi mengingat saat Yukiko mencium pipi Conan dan memanggilnya Shin-conan, ia hampir kelepasan," sambil berusaha keras menahan tawaku aku melanjutkan perkataanku, "kurasa itulah posisimu sekarang."

Aku menduga, di sebrang sana, Xiumin memutar malas bola matanya. Ia nggak terlalu berminat saat aku berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan koleksi fiksi detektifku, namun, dibalik itu aku tahu, walau tanpa minat ia mendengar ceritaku dengan saksama.

Dan, begitu lah kami melewati malam. Dengan banyak cerita dan tertawa sana sini, sampai setelah mengucap beribu kata rindu kami memutuskan untuk tidur malam.

.

.

.

.

Kau tahu? Kaget sekali.

Aku sudah berusaha menjauh dari Sehun–ia sebenarnya nggak sampai mengejar-ngejarku dan tindakannya perlu dicurigai, tentu saja–yang benar saja aku sudah membawa teman cowokku ke rumah bibi Yixing di hari ketiga aku tinggal di rumahnya. Aku lupa mengatakan pada bibiku yang baik hati itu, kalau sebenarnya yang akan pulang bersama keponakannya yang manis ini adalah seorang cowok tinggi bertampang ganteng tapi nyebelin banget.

Terbayang sudah bagaimana reaksi bibi Yixing nanti.

Maka, dengan alasan itu lah aku enggan mengajak Sehun pulang bersamaku. Sebisa mungkin aku cepat-cepat pulang. Namun, apa kau bisa menebak kalau Sehun tahu dimana rumah bibi Yixing? Ia benar-benar tahu, sobat.

Rasanya aku ingin terjun dari balkon kamarku yang kebetulan ada di lantai dua rumah bibi Yixing, saat, Sehun dengan lancangnnya masuk begitu saja dan memanggil-manggil namaku seenak tampangnya.

"Wu Baixian? Turunlah aku tahu dimana kamarmu," ia berteriak, mengagetkanku. Dengan harapan Sehun bakal pergi kalau aku nggak menemuinnya, aku tetap diam di kamarku, bergelung dalam selimut besar dan masih berseragam lengkap "kau menunggu untuk aku menjemputmu tuan putri?"

Saat itu, barulah aku cepat-cepat bangun, membereskan penampilanku dan tergesa-gesa menuruni tangga, menghampiri Sehun yang sedang bersantai meminum coklat panas bersama kue kering di sofa besar ruang keluarga tempat biasanya paman Joonmyeon duduk.

Sadar aku sudah ada di dekatnya, Sehun mengalihkan perhatiannya padaku. Ia menyeringai, menatapku seolah aku lah mangsa terakhirnya "Beraninya membuatku menunggu, eh?"

"Sialan kau! Tahu darimana aku disini?" sahutku, sambil menatapnya tajam.

"Well, it is my business to know what other people don't know."

Aku kembali dibuat terkejut, tentu saja kata-kata itu tidak asing buatku. Kutanya kau sherlockian mana yang tidak tahu kalimat itu? Aku tidak menyangka kalau orang semenyebalkan Sehun punya selera yang sama denganku, astaga sebenarnya aku harus memusuhi atau menjadikannya teman, sih?

"Kau-"

"Cepat siapkan bukumu, aku tidak punya banyak waktu."

.

.

.

.

Satu lagi hal yang kuketahui tentang Sehun selain soal ia menyebalkan –dan kemungkinan juga penggemar Sherlock– ia pandai berbohong.

Beralasan bahwa ia punya lebih dari selusin pekerjaan, acara belajar mengajar kami benar-benar seperti lomba lari marathon. Padahal, sebenarnya ia hanyalah remaja tanggung yang sedang mengisi waktu senganggnya mengajariku. Karena pada kenyataanya, setelah acara belajar yang melelahkan itu kami masih bisa duduk sila dalam suasana santai dengan kue kering dan coklat panas serta mengobrol tentang sesuatu yang tidak penting.

Diluar perkiraanku, bibi Yixing malah sangat senang mendapati Sehun lah yang mengajariku, dan menghiraukan perilaku kurang ajar cowok itu. Beliau malah dengan senang hati menambah kue kering serta jatah coklat panas kami.

Dan juga, entah mengapa cara mengajar Sehun yang mirip pelatih bulldog itu justru membuatku lebih cepat mengerti. Rasanya ringan dan mudah.

Namun, tentu saja aku tidak mengatakannya pada Sehun, mau ditaruh dimana wajah manis dan harga diriku?

"Setidaknya ucapkan lah terima kasih,"

"Hm, Sehunna gomawo."

"Yah, logatmu agaknya sedikit lebih halus."

Beberapa detik kemudian, baru kusadari kalau ia telah mengungkapkan pemikiranku tentang dirinya, "Hey!"

Sehun tertawa renyah, ia mengusak lembut rambutku, "Sherlock pernah mengatakan pada Watson tentang karangan Poe dibagian-"

"Bahwa seorang pemikir bisa membaca pikiran temannya."

Kami saling bertatapan dalam waktu lama, Sehun masih memberikan senyumnya, yang omong-omong ganteng banget dan baru ku lihat pertama kali. Sementara aku masih menatapnya tidak percaya. "Aku sudah mencobanya puluhan kali pada sahabatku dan belum pernah berhasil! Bagaimana kau bisa?"

Sehun kembali memperlihatkan seringai menyebalkannya padaku, ia seolah meremehkanku "Aku mencobanya ratusan kali padamu, nona Wu."

"Mustahil,"

"Itu lah kenyataannya."

Belum sempat aku mendebat perkatannya, yang sayang sekali sangat mustahil ku lakukan. Bibi Yixing terlebih dulu berteriak memanggil kami agar segera berkumpul bersamanya dan paman Joonmyeon –yang tanpa kami sadari sudah pulang dari kantornya– untuk menyantap makan malam bersama.

Namun, tentu saja aku belum selesai dengan si Kim–menyebalkan–Sehun.

.

.

.

.

.

.

TBC

I love this Chapter so muchhhh! Impianku banget buat bikin ff yang nyisipin Sherlock dan bikin pemerannya deket dan kenal karna sesama Sherlockian. Trus nikah dan dilamar pake mecahin kasus or something itu uhh I love it! Itu sih harepannya aku, peace:v

Serius deh aku ngetik ini enjoy banget haha enjoy juga ya buat kalian yang baca lol

p.s ; aku sengaja up cepet karna aku gatau kapan bakal up lagi, aku lagi sibuk banget bulan ini! double lol!