After Your Gone
Author : DeeNa
Ch 1 : Hari sial atau hari keberuntungan?
Main Cast : Hunhan. GS for Xi Luhan.
.
.
.
.
.
Go go go
.
.
.
.
Perpaduan suara rintik hujan dan suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton. Rumah kecil dikelilingi tanaman yang menjalar sebagai pagar rumah. Sangat klasik, tapi memberikan kesan tersendiri bagi pemiliknya.
Luhan membenarkan letak kacamatanya. Entah untuk keberapa kalinya dia menggeram tertahan dan membentuk kertas yang berada ditangannya menjadi bola. Tuk! Bola kertas terbuang kesembarang arah.
Cukup sudah! Batin Luhan.
Luhan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dia mengambil minuman ber-isotonik dari dalam lemari es dan meneguk sampai habis. Ups! Sepertinya dia sangat lelah. Bagaimana tidak? Ini sudah kesekian kalinya otaknya tidak bisa mengeluarkan ide – ide atau imajenasi yang biasanya tertumpah begitu saja dikertas putih itu. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya hari ini.
Luhan memperhatikan rintik – rintik hujan yang turun di jendela didekat lemari es. Tanpa sadar, kakinya menuntun untuk mendekati jendela. Dipegangnya kaca jendela itu. Luhan menghela nafas panjang. Dia berjalan menuju pintu depan rumahnya. Sambil menenangkan jantungnya, dibukanya pintu itu, dan ketika menyadari tangannya bergetar, Luhan tersenyum miris.
Luhan menghela nafas panjang –lagi–. Ketika menyadari pintu telah terbuka, Luhan melangkahkan sedikit kakinya lalu mengadahkan tangan kirinya.
Tes! Tes! Tes! Air hujan tersebut tertampung ditelapak tangan secara perlahan. Kepalanya mengadah keatas melihat langit berwarna abu – abu.
Aku rindu, -batin Luhan. Luhan tersenyum, sesuatu yang langka untuk 2tahun terakhir ini. Dibasuhnya wajahnya dengan air hujan yang tertampung di telapak tangannya. Wajah kusutnya berubah menjadi sedikit lebih segar. Perasaannya berubah menjadi sedikit lebih baik. Sungguh!
Luhan menutup pintu dan berjalan menuju kamar. Tepat saat dia ingin berbaring ditempat tidur nyamannya, handphone-Nya berdering. Dengan cekatan, dia mengambil handphone-Nya yang berjarak selangkah dari posisinya saat ini. Luhan mengambil malas handphone-Nya dengan kaki. Dia melihat nama yang tertera di layar handphone-Nya, dan menggeser ikon telephone berwarna hijau ke kanan menggunakan tangannya.
"Ada apa?"
"Apa kau tidak kerja hari ini?"
"Sebentar lagi aku akan berangkat. Lagian, hujan juga masih sedikit deras" Jelas Luhan sambil melihat kaca jendela kamarnya.
"Baiklah. Ada proyek baru yang harus kau selesaikan, Lu. Aku tunggu kau dikantor. Bye, deer"
Tut… tuttt… tuttt….
Panggilan itu terputus secara sepihak. Selalu seperti ini! –desis Luhan tidak suka. Luhan melangkah menuju lemari, dibukanya pintu dua daun itu.
"Mari kita lihat. Apa yang bisa kita gunakan hari ini?" Tanya Luhan entah pada siapa. Tangannya terulur mengambil peplum bewarna tosca dan rok span bewarna hitam. Dengan gerakan lincah, Luhan segera mengganti pakaiannya. Dia juga memasangkan belt kecil diperutnya untuk mempermanis tampilannya.
"Ya! Mengapa kau lama sekali?" Tanya Xiumin ketika melihat Luhan yang baru saja datang. Luhan tersenyum kecut. Cerewet! Batin Luhan.
"Shut up! Masih pagi"
"Kau dipanggil keruanganan bos"
"Untuk apa?"
"Entahlah. Yang jelas kau dipanggil keruangannya"
Luhan mengerutkan dahinya. Tumben sekali, -batin Luhan.
Luhan menarik napas panjang sebelum membuka pintu itu, pintu besar kokoh yang terlihat begitu mewah dan berkuasa itu seakan mencerminkan apa yang menunggu dibaliknya. Sambil menenangkan debar jantungnya dibukanya pintu itu, dan ketika menyadari tangannya berkeringat, Luhan tersenyum kecut,
Seperti akan menghadapi hukuman mati saja, -desisnya dalam hati.
Ketika masuk Luhan menyadari ruangan itu sangat luas. Suasana didalam ruangan itu sungguh elegan, dengan penataan ruang dari desainer terkenal dan perabotan kelas tinggi yang khusus dipesan untuk ruangan ini. Temperaturnya diatur senyaman mungkin dan samar-samar tercium aroma citrus yang menenangkan. Semua yang ada diruangan ini sungguh menyenangkan, ups!,.. salah, semua menyenangkan kecuali satu hal, dan satu hal itu adalah sosok dingin yang duduk tegak dibalik meja dengan keangkuhan yang mencerminkan seolah-olah dirinyalah pusat dunia.
"Aku mempunyai project baru untukmu, Luhan"
"Apa seperti yang dikatakan Xiumin?"
"Tepat! Aku ingin kau menulis buku tentang Oh Sehun?"
Luhan membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan bosnya. Shock! Tetapi bosnya itu biasa saja dengan reaksi Luhan, karena dia telah menduga sejak awal. Luhan melemparkan tatapan kepada "Apa kau sedang bercanda Park Chanyeol? Ini tidak lucu, sungguh! Bosnya itu
"Aku ingin kau menulis tentang dia. Bocah itu sedang naik – naiknya saat ini"
"Apa kau gila? Aku tau bocah itu sedang ramai dibicarakan orang dan mengapa harus aku?!" Hilang sudah tata karma yang selalu dijunjung tinggi oleh Luhan. Dia merasa begitu kesal kepada bosnya saat ini.
Chanyeol menaikkan salah satu sudut bibirnya. Tepat sesuai dengan dugaannya, pikirnya. "Ya! Sopanlah pada bosmu. Yang lain telah memiliki project masing – masing, Nona Luhan" Chanyeol mengatakan dengan santai. Dia berbohong! Ada sesuatu yang ingin Chanyeol rubah. Sesuatu dari temannya itu –Luhan-.
Luhan menggeram tertahan. Cukup sudah! –batin Luhan
"Tidak akan! Aku tidak akan menulis buku tentang dia. Lebih baik aku resign dari sini" Ancam Luhan. Dia tidak habis pikir dengan bosnya itu. Sudah jelas, dia –bosnya- tau jika Oh Sehun adalah musuh bebuyutannya. Dimana letak otak waras Chanyeol?
Suasana menjadi hening. Chanyeol tersentak kaget mendengar ancaman Luhan, untung saja Chanyeol bisa mengendalikan ekspresinya dengan baik. Jika tidak, mungkin Luhan akan tertawa bahagia.
"Game is On" –batin Chanyeol
"Aku akan memberikanmu cuti 1 bulan jika kau mau menulis tentangnya. Bukankah kau sangat ingin berlibur?"
Telak! Chanyeol tau apa yang diinginkannya saat ini. Luhan mendesis tidak suka dalam hati.
"Aku ingin 2 bulan" Luhan mengajak Chanyeol bernegosiasi.
"Tidak. Kau adalah penulis terbaik disini, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu libur terlalu lama. Jadi, 1bulan atau tidak sama sekali?" Chanyeol menyilangkan kedua tangannya didada. Menatap Luhan yang tampak sedang menimbang – nimbang tawaran yang diberikannya.
"Baik 1bulan. Jadi, kita akan memberikan keuntungan satu sama lain. Deal?" Luhan menjulurkan tangannya, Chanyeol dengan antusias menyambut tangan Luhan. Mereka berjabat tangan. Chanyeol mengeluarkan smirk andalannya, tetapi Luhan tidak menyadarinya. Ups!...,, Luhan terjebak didalam permainan Chanyeol.
Chanyeol menatap pintu yang tertutup dengan agak keras. Dia telah menduga, jika Luhan akan menolak tawaran itu dan akan menerimanya dengan apa yang diinginkan Luhan sejak dulu –Berlibur–. Sudah lama Chanyeol merencanakan ini dan menunggu kapan terjadinya. Dan dia rasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai permainannya ini.
"Xi Luhan, Oh Sehun"
Chanyeol mengucapkan dua nama itu bagaikan mantra. Lalu senyum terukir di bibirnya.
"Well, aku akan mengawasi kalian" –batin Chanyeol dengan senyum yang masih terukir dibibirnya.
Chanyeol mengambil benda persegi panjang bewarna hitam dari sakunya. Lalu dia mengklik ikon buku telephone. Tangannya menari – nari mencari nama seseorang disana. Siapa lagi kalau bukan dia.
Luhan menggerutu tidak jelas disepanjang jalan sehabis dia keluar dari ruangan Chanyeol. Para pekerja lain, hanya menatap luhan dengan pandangan seolah berkata "Apa kau baik – baik saja?" dan Luhan mengabaikan semua tatapan itu.
"Apa kau baik – baik saja, Lu?" Xiumin memperhatikan wajah Luhan yang berubah menjadi lesu.
"Ya. Aku baik – baik saja sebelum aku masuk keruangan itu" Luhan menarik setengah nafas pendek.
"Aku ingin kau menulis tentang dia. Bocah itu sedang naik – naiknya saat ini"
"Aku akan memberikanmu cuti 1 bulan jika kau mau menulis tentangnya. Bukankah kau sangat ingin berlibur?"
Wajahnya semakin lesu, ketika teringat akan perkataan Chanyeol tadi. Sungguh, ini adalah sebuah BIG MISTAKE dalam hidupnya!
Sebenarnya, apa yang dipikirkan Chanyeol sialan itu? Jelas – jelas dia tau jika Xi Luhan dan Oh Sehun adalah musuh bebuyutan sejak masa kuliah. Sungguh, Luhan benar – benar tak habis pikir.
"Brengsek"
"Sialan"
"Bangsat"
"Aku tidak menyukaimu"
"Aku membencimu!"
Luhan bergumam entah pada siapa. Yang jelas, saat ini hati dan pikirannya tidak sejalan. Tidak searah. Dan dia paling benci ketika saat itu datang.
Luhan duduk tidak nyaman dikursi kerjanya. Matanya fokus pada computer di depannya. Ada sesuatu yang mengganjal menurutnya. Tapi dia bingung itu apa. Diperhatikan baik – baik layar komputernya.
"Brengsek!" Luhan baru teringat, jika dilayar komputernya kini terpajang foto Sehun. Musuh terbesar dalam hidupnya. Xiumin menatap malas pada temannya itu. Mengapa dia lambat sekali bereaksi? –pikir Xiumin.
Luhan mengambil handphone didalam tasnya. Kemudian mengetikkan beberapa kata dan mengirimnya pada Chanyeol. Ini adalah hari tersial dalam hidup Luhan. Mulai dari proyek baru, hingga foto yang terpajang di layar komputer kerjanya. Nanti apa lagi? Batin Luhan tidak suka.
Luhan berdiri dari kursi kerjanya. Dia ingin keluar dari sini. Dia malas bekerja hari ini. Moodnya sedang tidak baik. "Aku akan keluar. Jika Chanyeol bertanya kemana perginya aku, bilang saja 'ini semua gara – gara kau' okay?" Luhan menatap xiumin dengan tampang memelas. Xiuman hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda 'Iya'. Toh, hanya menyampaikan saja pikir Xiumin.
"Baiklah, aku jalan. Bye" Luhan berpamitan pada Xiumin. Kaki jenjangnya melangkah menuju parkiran mobil. Menyalakan mesin mobil dan go away dari kantor.
Luhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memberhentikan mobilnya saat melihat supermarket. Dia keluar dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Tidak, sebelum dia kecipratan genangan air hujan. Sungguh hidupnya sangat sial hari ini.
Mobil yang menabrak genangan air itu berhenti. Seorang laki – laki keluar dari jok pengemudi. Dia menghampirik si korbannya tadi. Ingin meminta maaf.
"Maaf. Tadi, aku tidak sengaja" Ucap laki – laki tersebut yang melihat Luhan sibuk membersihkan bajunya dengan tissue.
"Iya tidak-" Luhan terpengarah. Dia menggeram tertahan. Hilang sudah niat untuk memaafkan laki – laki itu.
"Oh, ternyata kau. Kupikir siapa, Tch" Laki – laki tersebut berkacak pinggang. Tanpa ada niatan untuk menatap Luhan.
"Brengsek kau, Oh Sehun!" –batin Luhan. Bisa saja Luhan mencakar muka Sehun dengan kuku panjangnya. Tapi dia tidak ingin tidur di penjara. Dia masih waras untuk melakukan hal seperti itu.
"Minta maaf. Cepat!" Perintah Luhan dengan ketus
"Bukankah aku sudah mengatakannya, tadi?" Sehun menatap Luhan dengan malas. Sehun menyilangkan tangannya didepan dada.
"Tidak. Aku tidak mendengarnya. Cepat katakan" Luhan memaksa dengan nada dingin.
"Kau tidak pernah berubah, Nona Luhan" –batin sehun sambil merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Tidak akan" Sehun berkata dengan santai. Matanya memperhatikan mobil yang berjalan dengan kecepatan diatas rata – rata.
"Ya! Cepat minta maaf at-" Ucapan Luhan terpotong.
Trashhh…..
Sehun memeluknya, tepat saat mobil melintas dan genangan air tadi terkena mereka. Lebih tepatnya, hanya Sehun yang terkena. Luhan terlindungi oleh tubuh Sehun.
Te to the Be to the Ce
Gimana Chapter pertamanya?
Penasaran gak?
Mau lanjut atau delete aja? Hehehe…
