LONCENG KEMATIAN
DISCLAIMER: RIICHIRO INAGAKI & YUSUKE MURATA
Story: Avy-kurohime-sang author geblek-
6 November. SMA SEIBU
Sekarang baru jam 3 siang, tapi langit hari ini terlihat sangat mendung dengan awana hitam yang begitu tebal menutupi langit hari ini. Riku memandang kea rah luar jendela dengan bosan, lagit sudah begitu mendung dan pelajaran masih belum selesai. Riku yakin jika pelajaran tetap dilanjutkan maka hujan akan segera turun dan dia tidak membawa payung, itu pasti akan membuatnya kehujanan.
Riku memandang lagi ke luar, pikirannya tidak pernah bisa fokus ke palajaran sekarang. Pikirannya selalu saja melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu, saat dia mendapat surat dari seseorang dan tentang permainan jelangkung itu, Riku tidak pernah bisa tenang sejak saat itu, pikirannya terus dibanyangi dengan kejadian-kejadian aneh itu. Semua itu aneh, terlalu kebetulan dan, menyeramkan. Riku sangat takut kalau dia mengingat kejadian itu. Riku tidak bisa memungkirinya kalau sesugguhnya dia takut jika mengingat kejadian itu.
Tpi sudah beberapa hari berlalu tidak ada sesuatu yang terjadi di sana, semua baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi, semua berjalan dengan lancar dan mengalir tenang seperti biasa. Seharusnya Riku memang tidak khawatir, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa tenang, entah apa. Tapi Riku harap semua akan baik-baik saja.
Di perjalanan pulang
"Hei Riku, apa kau masih percaya akan kejadia beberapa hari itu" Michi bertanya, mulai memecah kesunyian yang ada di sekitar mereka sejak bernagkat dari sekolah tadi. Agak-agaknya dia msaih penasaran soal yang hari itu.
"Entahlah, sulit untuk dijelaskan"Riku berkata dengan singkat sambil menatap Michi dengan pandangan yang seolah berkata 'jangan ungkit-ungkit itu lagi', membuat Michi langsunmg diam seribu bahasa. Dia tidak ingin temannya yang satu itu marah, Riku terlalu menyeramkan bila marah. Riku memang tidak ingin masalah itu di ungkit-ungkit lagi dia sudah muak akan apa yang menimpanya hari itu, dan dia tidak ingin ada yang mengungkit-ungkit masalah itu lagi.
Riku memandang ke sekeliling sebentar, ada yang aneh di sana. Sebuah terasa sangat buram, ada kabut putih yang menutupi jalan. Ini aneh sekali seingat Riku dia tidak pernah melihat ada kabut di kota, kabutkan hanya ada di daerah pegunungan.
"Riku,Riku kemari" sebuah suara mengangetkan Riku, itu Michi dioa ada di depan Riku melambai padanya, mungkin dia menyuruh Riku ke sana, ah untuglah ada Michi yang bisa menuntunnya berjalan di kabut tebal ini, dia sugguh tidak bisa melihat di kabut tebal ini, sugguh aneh ada kabut tebal.
"Hei Michi tuggu aku, kenapa kau pergi duluan. Lagipula kenapa ada kabut tebal sih? aneh sekali" Riku segra berlari menghampiri Michi yang di depannya, Michi bukan terlihat semakin dekat tapi terlihat semakin jauh, dan sekarang Michi sudah tidak terlihat, a..apa yang sebenarnya terjadi?. Riku berhenti berjalan, memandang sekeliling lagi. Putih? Tidak ada yang terlihat hanya kabut tebal. Dia tidak bisa melihat apapun.
"Michi?Michi diamana kau?"
"TREEET"suara klakson mobil menyadarkan Riku dari khayalayannya. Sekarang dia menengok ke samping, kabut itu sudah tidak ada. Dan sekarang semua terlihat jelas, dia ada di tengah jalan raya, dengan mobil yang ada di depanya dan siap menabraknya. Riku sebenarnya bisa saja lari dengan kecepatan 4,6 detiknya tapi dia terlalu kaget, dia tidak bisa menggerakan kakalinya barang satu milipun apalagi untuk lari.
Riku menutup matanya, tidak berani melihat lagi. Dia bingung dengan apa yang terjadi? Bagaimana caranya bisa ada di sini dan tentang bayangan tadi. Riku tidak sempat memikirkan apapun, dia hanya menutup matanya . Menuggu saat-saat terakhirnya dengan tragis.
Tapi sepersekian detik kemudian ada seseorang yang mendorong tubuh Riku, menyeret Riku ke pinggir jalan dan menyelamatkan dari tabrakan maut itu. Riku membuka matanya melihat Michi lah yang menolongnya, sejak kapan Michi ada di sana, seigat Riku tadi Michi sudah pergi duluan, apa yang sebenarnya terjadi.
"Praaang"dari sudut lain jalan itu Riku dapat mendengar suara kaca pecah, dia melirik ke sana dan terlihat mobil tadi membanting stir ke kiri dengan cepat dan menabrak took yang ada di samping jalan itu. Lalu sang pengemdi itu keluar dari mobil menghampiri Riku dan Michi yang ada di sana.
"Kalian tidak apa-apa, oh ya tuhan aku hampir saja menabrak seorang anak. Maafkan aku, aku tidak sengaja" pengemudi mobil itu berkata pada Riku, Riku segera duduk berkata kalau dia baik-baik saja dan itu memang kenyataanya, dia tidak terluka parah cuma memar sedikit. Riku menggenggam tangannya, ada sebuah cairan hangat mengalir di sana, itu darah. Dan Riku yakin itu bukan darahnya sebeb dia memang tidak terluka, hanya memar sedikit, itu pasti darah Michi. Michi apa yang terjadi padanya?. Riku pun segera melirik ke samping dan dilihatnya Michi pingsang dengan kepala berlumuran darah.
"Michi!"
"Oh ya tuhan temanmu itu terluka parah, ayo kita segera bawa ke ruamah sakit. Tenag saja nak, kami akan membawanya sesegera mungkin" supir tadi memanggil temannya, lalu mereka menggotong Michi masuk ke mobil mereka dan membawanya ke ke rumah sakit. Riku hanya bisa berdiam diri disana bingung akan apa yang terjadi. Dan tidak tahu harus berbuat apa.
"ARRRRGGGGHHHH" sebuah suara membuat Riku menoleh lagi, beberapa meter dari tempatnya jatuh tadi terjadi kecelakaan tragis. Riku awalnya tidak peduli tapi suara orang yang berteriak tadi itu mirip dengan suara seseorang, suara Kak Aizawa, itu tidak mungkin.
Maka Riku pun berlari ke sana, melihat sekeliling berdesak-desakan denga orang agar bisa melihat siapa orang yang tertabrak itu. Beberapa orang berbisik tentang kasihan pada anak yang tertabrak itu, mereka bilang anak itu terlindas truk dan isi perutnya berceceran. Riku jadi makin penasarn maka dia pun berjuang dengan keras agar bisa melihat siapa anak yang ada di sana itu. Dan ketika Riku melihat wajah anak itu, Riku menahan nafas, menutup mulutnya dengan jijik ketika melihat mayat itu hancur dengan isi perut yang berceceran dan yang paling membuatnya shock adalah mayat itu adalah Kak Aizawa. Ap yang sebanarnya terjadi, tadi Michi sekarang Kak Aizawa. Apa yang akan terjadi selnjutnya?
(X.X.X.X.X.X.X.X.X)
7 November
Riku berjalan dengan gotai menuju sekolahnya, dai tidak bisa tidur semalaman mengingat kejadian akan kejadian yang menimpanya, Michi dan Kak Aizawa, Itu semua terlalu aneh untuk kebetulan.
"Hai Riku, RIku" sebuah suara membuatnya menengok dan Riku dapat melihat Reiji berlari dari dalam gedung sekolah menuju tempatnya berdiri sekarang, yang sedang ada di gerbang. Pagi-pagi sudah diganggu menyebalkan.
"Ada apa? Mau mengerjaiku?"
"Hei jangan berprasangka buruk, aku mau menyampaikan sesuatu nih. Aku serius"Riku memperhatika gerak-gerik Reiji untuk beberapa waktu, dia tampak sugguh-sugguh tidak terlihat mencurigakan. Sepertinya ini sugguhan, ok Riku pecaya meskipun dia agak tidak yakin.
"Ok, jadi ada apa?
"Lihat ini!" Reiji mengeluarkan sebuah potongan kertas, kertas Koran yang disobek dan tanggalnya hari ini, Itu Koran hari ini, Riku melihat dengan seksama dan sebuah berita menarik perhatiannya dengan judul'anak SMA yang mati terjun dari Tokyo Tower'. Riku memandangi gambar itu sejenak, iru photo? Photo Ichi. Oh tuhan aoa lagi yang sudah terjadi.
"Ini Ichi bukan, diakah anak yang mati itu?" Riku masih tidak percaya, dia mencoba memastikan lagi dengan bertanya pada Reiji dan berharap kalau jawaban pemuda itu adalah gelengan, tapi dia malah menggangguk. Oh tidak itu sugguhan. Ya tuhan apa yang telah terjadi?
(X.X.X.X.X.X.X.X.X)
Pelajaran berlalu begitu cepat, dan sekarang sudah waktunya pulang. Riku segera mengemasi barang-barangnya dia ingin segera beristirahat di rumah dan menidurkan dirinya, melepaskan semua tekanan yang ada di dalam pikirannya. Riku memandang kea rah pintu kelas, biassanya diasana ada Michi yang menuggunya, tapi hari ini dia tidak ada. Michi harus dirawat di rumah sakit, karenanya. Andai saja dia tidak ceroboh, maka Michi tidak akan terluka.
Riku pun berjalan ke luar dengan cepat. Sekarang dia sudah sampai di halaman, dekat dengan menara lonceng sekolahnya dan saat Riku berjalan di sekitar sana menara lonceng itu berdentang
"TENG,TENG, TENG" Riku menoleh memandang menara lonceng itu, anhe sekali lonceng itu berbunyi padahal ini buka jam istirahat atau pulang, biasanya lomceng itu hanya berbunyi di saat-saat itu saja. Di memandang memandang lonceng itu, lalu seseorang anak perempauan yang ada d sana memekik kaget sambil menunjuk-nunjuk ke atas, Riku pun menyipitkan matanya dan memandang ke atas. Melihat sosok sesorang yang berdiri di dekat lonceng itu, tidak dia tidak berdiri dia tergantung dengan sebuah tali di lehernya. Ini aksi bunuh diri, oh tuhan ini buunuh diri.
"RE….REIJI" seorang anak berkata lagi, Reiji, itu tidak mungkin dia tadi masih terlihat waras mana mungkin dia nekat bunuh diri itu tidak masuk akal. Riku memandang lagi kea rah atas, anak itu laki-laki berambut hitam dan dia benar REIJI, ini tidak mungkin semua temannya tertimpa musibah. Apa yang sesugguhnya terjadi?
"Semuanya harap pulang! Kami akan mengurus kejadian ini, kalian semua cepat pulang" kepala sekolah itu menturuh semua untuk pulang, maka Riku pun segera pergi dari tempat itu dia memang sudah tidak ada urusan lagi.
(X.X.X.X.X.X.X.X.X)
Riku berdiri di sudut jalan itu dengan diam, bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Padahal malam sudah menjelang dan seharusnya Riku sudah pulang tapi dia masih saja keluyuran di tengah malam. Dia sedang bingung sekali sekarang.
"DUk" sebuah bola mengenai kakinya, menghentikan lamunan Riku. Riku mengambil bola itu, melihat sekeliling dan ada seorang anak perempuan yang menghampirinya. Wajahnay mirip Kusigakura, tapi dia lebih manis dan lucu tidak seperti Kusigakura yang tanpa ekspresi itu.
"Ini bolamu" kata Riku sambil menyerahkan bola itu pada anak tadi.
"Terima kasih kak" anak itu menganbil bola itu dari tangan Riku,dan dia berkata sedikit 'Kakak akan mendapat sebuah pengalaman hebat".
"Apa maksudmu?" Tanya Riku, heran akan perkataan anak anak itu sudah keburu pergi dari tempat Riku berada dan meningglkan kembali Riku dalam kesepian.
(X.X.X.X.X.X.X.X.X)
Riku duduk di salah satu bangku di gerbong yang ada, ini sudah sangat malam dan Riku pun masih bisa dikatakan beruntung karena dia masih mendapatkan kereta terakhir sebelum berangkat. Riku menyadarkan dirinya dalam kursi yang ada, kereta ini kosong, sepi dan cukup menyeramkan karena yang ada di sana cuma dia dan sang masinis. TApi Riku tidak perduli dia hanya ingin segera pulang ke rumahnya.
Riku memandang ke arah sang masinis, dia memakai topi dan menghadap ke luar jadi tidak terlihat wajahnya dan dia kelihatan seperti perempuan, masinis perempuan? Aneh? Tapi yang sudahlah Riku tidak perduli.
Kereta itupun maju perlahan membuat Riku merasa tenang dan menutup matanya pelan.
Saat bangun Riku sudah hampir sampai ke rumahnya, dan kelihatannya ada orang lain yang menemaninya sekarang seorang anak perempuan seusia hampir sama dengannya, mungkin dia naik di stasiun lain saat Riku tidur. Dia tidak begitu banyak bicara dan lebih banyak diam, Riku merasa ini sama saja dengan sendirian.
Beberapa menit kemudian, kereta itu tiba-tiba berhenti mendadak. Membuat Riku terlonjak kaget dan dia langsung berlari kea rah masinisnya.
"Ada apa?" Tanya Riku.
"Entahlah" sang masinis itu menengok, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan darah yang mengalir di sekujur wajahnya. Dan yang lebih mengejtkan itu wajah Kusigakura.
"Si..siapa kau?" Riku sugguh ketkutan sekarang, aoa yang sednag terjadi kenapa wajah masinis itu sama dengan wajah Kusigakura dan mengapa wajahnya itu berdarah-darah. Riku menoleh kagi ke belakang, ke rah anak tadi. Anak tadi berdiri menghampirinya, memperlihatkan wajahnya yang sama mengerikan dengan wajah masinis tadi, mereka serupa. Mereka sama-sama memakai wajah Kusigakura, ada apa ini?. Riku menoleh lagi ke segala arah, sekarang kereta itu penuh dengan orang-orang yang netah kapan dia masuknya. Mereka semua berwajah Kusigakura dan berdarah-darah, mendekati Riku dan mengepungnya disana. Ok Riku benar-benar takut sekarang.
"Apa yang kalian inginkan?"
"Kau tahu kami tidak suka jika dunia kami, duania para roh diganggu, selamat tinggal Riku" gadis berwajah Kusigakura itu berbisik sedikit dan mengangkat sebuah pedang tinggi besar lalu mengarahkannya ke rah Riku. Memunculkan cipratan darah yang hebat dari tubuh Riku dan Riku dapat merasakan jiwanya terbang dari raganya, dia sudah mati.
Esoknya
Di sebuah kuburan tertancap sebuah nisan baru denga tulisan
Kaitani Riku
Meninggal 7 November karena kecelakaan kereta.
End-dengan gajenya-
