Tittle: The Holy of Darkness
Disclaimer: Tite Kubo
Genre: Family, Adventure, Drama, Romance
Rate: T
Warning: OOC, OC, Typo merajalela, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
Chapter 1, Rukia's Day
Setelah pertarungan 1000 tahun. Banyak bangunan-bangunan yang kembali didirikan di Seireitei. Bukan hanya bangunan baru, tetapi suasana di Seireitei juga sedikit demi sedikit mulai berubah. Sistem yang berubah juga membuat orang lain ikut berubah. Seperti halnya posisi Yamamoto Genryuusai, taichou divisi satu yang digantikan oleh taichou divisi delapan Kyouraku Shunsui. Bukan hanya itu, posisi Ukitake Juushirou taichou divisi tiga belas yang meninggal pada pertarungan 1000 tahun, setelah sepuluh tahun digantikan oleh fukutaichounya sendiri yaitu Kuchiki Rukia.
Dua belas tahun setelah pertarungan 1000 tahun, sudah dua tahun Kuchiki Rukia menjabat menjadi taichou divisi tiga belas. Selama dua tahun tersebut Rukia sibuk untuk membuat divisi tiga belas menjadi lebih baik. Selain itu juga melanjutkan warisan dari taichou divisi tiga belas terdahulu Ukitake Juushirou. Bukan hanya itu, Rukia juga sibuk memilih kadet-kadet baru untuk dijadikan anggota divisinya dan—memilih siapa orang yang akan menjadi fukutaichou divisi tiga belas nanti. Awalnya Rukia sudah merekomendasikan Sentarou untuk menjadi fukutaichounya, tetapi tiba-tiba saja Sentarou menolak tawaran Rukia dan memilih ingin tetap di bangku ketiga di divisi tiga belas entah apa alasannya.
Rukia dibuat pusing karena hal ini, menurutnya tidak ada lagi orang yang dapat dipercaya untuk menduduki posisi ini di divisinya selain Sentarou. Beberapa hari kemudian, perempuan bersurai hitam mendapatkan surat dari divisi satu. Isi surat tersebut adalah nama seseorang yang akan di rekomendasikan untuk menjadi fukutaichou divisi tiga belas. Awalnya ia ragu untuk menerima rekomendasi tersebut, tetapi karena ia ingin segera mungkin mendapatkan fukutaichou, maka Rukia pun menerima rekomendasi tersebut. Apalagi di dalam surat tersebut juga dijelaskan bahwa dia merupakan salah satu lulusan terbaik di akademi. "Mikumi Shiki".
.
.
.
(Divisi tiga belas)
DRAP.. DRAP.. DRAP..!
"Taichou!" Tiba-tiba saja Sentarou muncul dari balik pintu ruangan taichou divisi tiga belas sambil terengah-engah.
"Sentarou! Jangan teriak-teriak dan juga jangan berlari dikoridor! Kau bisa membahayakan orang, tau!" Omel Rukia karena sikap Sentarou yang terlalu heboh dan tidak bisa dikontrol. Yah, walaupun kehebohannya sedikit berkurang karena teman yang selalu menemaninya dalam membuat kehebohan sudah pindah ke divisi empat dan menjadi fukutaichou yaitu Kiyone.
"Hahaha…. maaf taichou, aku tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Sentarou sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Uhu...biasanya kau juga bilang begitu tetapi tetap saja dilakukan." Sungut pemilik zanpakuto es itu dalam hati.
"Daripada itu, Sentarou. Ada apa kau kesini?" Setelah diam, Rukia pun mulai bersuara.
"Eeh..ini ada beberapa dokumen yang harus Taichou tanda tangani." Jawab Sentarou sambil berjalan kearah meja Rukia dan menyerahkan dokumen di tangannya.
"Baiklah… letakkan saja di atas meja, nanti akan aku periksa dan tanda tangani." Jawab Rukia tanpa mengalihkan pandangan pada dokumen yang sedang dipegang di tangannya.
"Ooh iya…satu lagi Taichou. Abarai fukutaichou sudah menunggu anda di depan divisi." Jelas Sentarou setelah ia meletakkan dokumen tersebut di atas meja Rukia.
"Eeh benarkah…kalau begitu beritahukan pada Renji untuk menunggu sebentar lagi. Karena ada beberapa dokumen yang harus ku tanda tangani." Jawab Rukia sambil mengambil salah satu dokumen di mejanya.
"Baiklah Taichou! Emm.. omong-omong, Taichou dan Abarai Fukutaichou mau kemana? Jangan-jangan mau kencan ya?" Tanya Sentarou sambil cengar cengir, menggoda taichounya.
"Jangan bercanda Sentarou! Aku dan Renji hanya pergi untuk menjemput Ichika di akademi!" Omel Rukia lagi karena Sentarou selalu menggodanya setiap kali Renji datang untuk menjemputnya di divisi tiga belas.
"Gomen…Taichou aku hanya bercanda. Baiklah kalau begitu saya kembali dulu ke ruangan saya." Pamit Sentarou sambil berjalan ke arah pintu keluar, tanpa menghilangan cengirannya.
"Tunggu sebentar Sentarou!" Cegah Rukia sebelum Sentarou keluar dari ruangannya.
"Eeh…ada apa Taichou? Apa ada yang anda butuhkan?" Sentarou membalikkan badannya dengan penasaran, karena tiba-tiba saja taichou-nya menyuruhnya berhenti keluar dari ruangannya.
"Mm…begini. Aku ingin bertanya kapan fukutaichou divisi tiga belas yang baru datang?" Tanya Sang kapten, karena Ia lupa kapan orang yang akan menjabat posisi fukutaichounya akan datang ke divisinya.
"Ooh…soal itu. Dia akan datang besok pagi taichou." Jawab Sentarou merespon pertanyaan taichounya.
"Baiklah. Sentarou, menurutmu Dia orang yang seperti apa?" Tanya Rukia lagi sambil mengalihkan tatapannya dari dokumen ke Sentarou yang masih berdiri tepat di depan pintu ruangannya.
"Mmm…menurut saya orangnya murah senyum dan sangat ramah. Saya merasa Dia agak mirip dengan Shiba fukutaichou. Sepertinya Taichou belum bertemu dengan Fukutaichou baru tersebut?" Jawab Sentarou sambil memandang Taichou di depannya.
"Yah…aku hanya pernah bertemu dia sekali, tetapi itu saat acara kelulusan di akademi. Jadi aku tidak terlalu mengenal seperti apa orangnya." Jawab Rukia sambil menyandarkan tubuh di kursinya.
"Menurut saya dia tipikal orang yang dapat bekerja sama dengan orang sekitarnya", Respon Sentarou mengelus-elus dagunya sambil berpikir.
"Kalau kau berpikir seperti itu, maka aku tidak perlu khawatir lagi. Kalau begitu kau bisa kembali ke ruanganmu Sentarou." Ucap Rukia sambil menghela nafas lega.
"Baik Taichou! Saya permisi dulu." Jawab Sentarou sambil berbalik berjalan kearah pintu keluar.
.
.
.
(Tiga puluh menit kemudian)
"Rukia!" Teriak Renji, lelaki bersurai merah menyala di depan gerbang divisi tiga belas.
"Hosh…hosh… Ma-maaf Renji, kau jadi menunggu lama. Banyak pekerjaan yang perlu aku selesaikan." Jawab Rukia sambil mengambil nafas karena lelah berlari dari ruangannya ke depan gerbang divisi tiga belas.
"Sudahlah, santai saja. Aku tau kok bagaimana sibuknya seorang Taichou. Yah.. karena itulah aku tidak ingin menjabat menjadi Taichou, mereka terlalu sibuk." Ujar Renji sambil tersenyum.
"Huh!? kau mengejek aku ya babon?!" Sungut Rukia sambil memicingkan matanya di hadapan Renji.
"Oi..oi.. aku tidak mengejekmu mungil! Aku hanya bilang tidak ingin menjadi Taichou!" Timpal Renji sambil membela diri.
"Diamlah babon! Heem.. aku tau kau pasti iri kan karena posisiku lebih tinggi darimu? Iyakan babon? Mengaku saja lah.." Ejek Rukia tidak lupa dengan senyum mengejeknya kepada Renji.
"Jangan bercanda mungil! Kau baru dua tahun menjabat menjadi Taichou jangan sombong kau!" Marah Renji karena ejekan Rukia.
"Mmmm…bilang saja kau iri tidak usah malu begitu nanas." Cengir Rukia masih mengejek Renji.
"Hei! Berhenti mengejek ku mungil!" Tunjuk Renji ke depan wajah Rukia dengan wajah memerah menahan amarah.
Tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi tontonan para anggota divisi tiga belas yang berlalu lalang di depan gerbang. Menyadari mereka telah menjadi tontonan anggotanya, Rukia pun langsung berjalan menjauhi gerbang.
"Ah…sudahlah! Bertengkar denganmu menguras tenagaku." Ucap Rukia sambil berlalu melewati Renji.
"Hei Rukia! Tunggu aku!" Panggil Renji sambil memanggil Rukia yang telah berjalan menjauh darinya.
.
.
Beberapa menit kemudian. Mereka berdua telah tiba di depan gerbang akademi shino sambil menunggu seseorang.
"Ayah! Ibu!" Panggil seorang anak kecil berkuncir kuda dan bersurai merah yang berlari menghampiri mereka berdua.
"Ichika!" Teriak Renji dan Rukia secara bersamaan.
"Bagaimana pelajaranmu di akademi, Ichika?" Tanya Rukia sambil berjongkok menyamakan tinggi dengan Ichika yang berdiri di hadapannya.
"Sangat baik ibu! Apa ibu tau aku menjadi peringkat pertama dalam pelajaran kidou!" Seru Ichika dengan semangatnya menanggapi pertanyaan sang ibu.
"Eeh benarkah! Itu baru namanya anak ibu..!" Puji Rukia sambil mengelus-elus kepala Ichika lembut dengan tangannya.
"Juga anak ayah!" Sahut Renji disamping Rukia ikut mengelus kepala Ichika.
"Itu betul sekali!" Jawab Ichika sambil tersenyum memperlihatkan gigi susunya menanggapi elusan kasih sayang oleh orang tuanya.
Mereka bertiga pun pergi menjauhi gerbang akademi dan berjalan ke rumah sambil bergandengan tangan layaknya keluarga bahagia.
.
.
Matahari yang muncul pada siang hari mulai berganti menjadi bulan yang menyinari malam yang gelap. Bulan yang bersinar terang itu pun juga menyinari salah satu rumah bangsawan Soul Society, yaitu kediaman Kuchiki.
Tok.. Tok..
"Ibu? Apakah ibu sudah tidur?" Panggil Ichika yang mengetuk pintu kamar Rukia.
Beberapa saat kemudian sang ibu pun menyahut. "Belum Ichika. Masuklah." Serunya sambil membereskan tempat tidurnya.
"Mmm…ibu, bolehkah aku tidur disamping ibu? Aku tidak bisa tidur.." Tanya Ichika setelah membuka pintu dan masuk ke kamar Rukia.
Rukia yang melihat tingkah lucu anaknya pun tersenyum. "Tentu saja boleh! Ayo kemarilah." Jawabnya sambil menepuk futon disampingnya.
Ichika pun tersenyum senang dan langsung menutup pintu kamar Rukia. Bocah perempuan itu langsung masuk ke pelukan ibunya yang sudah tiduran di atas futon.
"Ibu?" Panggil Ichika yang masih dipelukan Rukia.
"Hm? Ada apa sayang?" Jawab Rukia sambil tetap memeluk Ichika dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih sudah menjadi ibuku. Padahal aku bukan anak ibu." Jawab Ichika sambil mengeratkan pelukannya ke badan Rukia.
"Apa maksudmu Ichika? Ibu sudah menganggapmu anak ibu sendiri." Sahut Rukia yang juga semakin pengeratkan pelukannya.
Dalam pelukan tersebut, Ichika tersenyum senang karena jawaban yang diberikan oleh ibunya. Dirinya sangat bersyukur karena mendapatkan seorang ibu yang akan selalu menyayangi dan mencitainya walaupun tidak memiliki hubungan darah sekalipun. Sama dengan ayah dan pamannya yang juga selalu menyayanginya.
"Ibu, apakah aku boleh bertanya lagi?" Tanya Ichika yang masih memeluk Rukia dengan erat.
"Boleh kau ingin bertanya apa Ichika?" Jawab Rukia yang juga masih tetap memeluk Ichika.
"Kenapa ibu memberikan namaku 'Ichika'?" Tanya Ichika sambil melonggarkan pelukannya dan menatap Rukia dalam.
"Eh?" Sesaat Rukia terdiam mendengar pertanyaan Ichika tersebut. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ibu?" Tanya Ichika bingung karena ibunya diam saja.
"Apakah kau ingin tau sekali kenapa ibu memberi namamu 'Ichika'?" Tanya Rukia kemudian setelah diam beberapa detik tadi, sembari membalas tatapan Ichika.
"Ya!" Jawab Ichika dengan semangat dan penuh rasa ingin tahu.
Sang ibu pun menjawab pertanyaan anaknya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. "Namamu merupakan gabungan dari nama dua orang yang sangat penting bagi ibu."
"Eh..eh..benarkah? Siapa mereka? Kurasa itu bukan nama ayah dan paman." Tanya Ichika semangat sambil bergerak-gerak senang dipelukan Rukia.
"Kau pernah bertemu dengan salah satunya sayang." Jawab Rukia lagi sambil tersenyum lembut dan tetap memeluk Ichika.
"Eh…benarkah! Siapa dia ibu?", Tanya Ichika lagi, penasaran siapa orang yang pernah ia temui dan merupakan orang yang sangat penting bagi ibunya.
"RAHASIA! Sudalah ayo cepat tidur! Ibu harus bangun pagi besok!", Jawab Rukia lagi sambil mengeratkan pelukannya kepada Ichika.
"Eeeeeeehhhh…Ibu!", Rengek Ichika di pelukan Rukia karena jawaban gantung dari ibunya.
Rukia pun hanya tersenyum menanggapi rengekan Ichika di pelukannya. Setelah beberapa detik ia mulai memejamkan matanya dan masih memeluk Ichika dengan erat. Bulan diluar pun masih tetap menyinari rumah tersebut dan menunggu matahari yang akan menggantikannya keesokan harinya.
.
.
.
.
TBC
Suna : Hosh…hosh…hosh…akhirnya selesai juga. Chapter ini telah menguras tenaga saya #kelelep. Nozomi-kun tolong gantikan gue dulu. Gue mau cari oksigen dulu #tariknapasdalamdalam.
Nozomi: Oi, oksigen kagak usah dicari! Napas juga ada..
Suna : #kembalikuatlagisetelahmenghirupoksigen bagaimana..bagaimana chapter satunya. Rasa ayam, lada hitam, sapi—
Nozomi: STOBERI! LU KATA NIH MAKANAN!? LAGIAN MANA EKSIONNYA!? GUA NUNGGUIN ITU SUNA!
Suna: Woi! Apanya yang eksion, action kali. Sabar dong masa langsung bekelahian. Yang manis-manis dulu saya keluarkan. Nanti saya keluarkan rasa pahit dan asinnya pada chapter selanjutnya..
Nozomi: Yah.. masalahnya bukan itu.. Saya baper, Suna-kun..
Suna: Nozomi-kun, anda baru merasakan baper tingkat satu. Pada chapter selanjutnya anda akan merasakan baper akut tingkat tiga !Whahahahahaha...
Nozomi: Ukh! Kuat-kuatlah diriku! Yah, sudahlah! Ini baru awalnya, rencananya kami akan memunculkan konfliknya di sekitar chapter 3 atau chapter 4..
Suna: Sudahlah kayanya terlalu banyak kita berkicau disini Nozomi-kun. Kita akhiri saja.
N-S: Please Read and Review..!
