Jakarta, 21 September 2015.

Gadis berparas oriental itu menyisir pelan rambut pendeknya. Wajahnya terus saja berbinar-binar di depan cermin. Diambilnya foundation, dan diolesinya ke wajahnya. Tak biasanya gadis itu mengenakan make up, kecuali ketika sedang bekerja. Berarti, ada hal special yang sedang menunggunya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan sigap, gadis berambut hitam legam itu langsung menyabet posel itu, dan membuka pesan yang masuk.

"Kau jadi pulang hari ini, kan? Aku akan menyambutmu begitu sampai dirumah! –Eren"

Mata abu-abu gadis itu semakin berkilat-kilat. Ia cepat-cepat mengoleskan make-up di wajahnya, kemudian beranjak dari meja hias. Diambilnya tas besar yang ada di atas kasur, kemudian berjalan keluar dari apartemen.

Begitu mengunci pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Tapi, kali ini berbunyi karena panggilan masuk. Ah, ternyata manajer gadis itu yang menelepon. Cepat-cepat ia menekan tombol hijau, kemudian menempelkan benda persegi panjang itu di telinganya.

"Halo?"

Beberapa menit gadis itu terdiam. Matanya membesar, dan tenggorokannya terasa tercekat. Seketika tangannya lemas, hingga tas besar yang ia pegang terhempas ke lantai.

Top Model Girl! Return!

(Suichi Shinozuka)

Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime

'

'

~Inspired by the true story of author~

"Yak, bagus. Ok. Posisi lain. Agak kesamping."

Pria bermata tajam itu sibuk memotret dengan kameranya. Sesekali, ia hisap rokok yang bertengger di bibirnya, walau konsentrasinya tetap penuh pada obyek yang ia potret.

"Cukup," perintahnya sambil melepas matanya dari lensa kamera. Gadis yang sedang menjadi obyek kamera tadi pun mengembalikan posisinya, dan menghela nafas panjang.

"Kau tampak lelah, Mikasa. Mau istirahat?" Tanya Hanji, sang manajer, sambil mengelap beberapa bintik keringat di kening gadis berambut legam itu.

"Ah ya, aku mau minum air," ucap gadis itu sambil mengambil botol air yang tersedia di pinggiran dinding partisi studio itu.

"Maafkan aku yang sebesar-besarnya, Mikasa. Aku juga tak menyangka akan ada pemotretan mendadak seperti ini, padahal aku sudah memberikanmu libur," ucap Hanji dengan sangat menyesal.

Mikasa mencoba untuk tersenyum. "Tidak masalah."

"Untung saja kau masih dirumah, dan mengiyakan untuk pemotretan hari ini. Kau benar-benar professional!" ucap wanita itu girang.

Mikasa mencoba untuk tersenyum lagi. Walau ada sesuatu yang menganjal di dalam hatinya, ia mencoba untuk professional dan tidak memperlihatkannya pada siapapun.

"Mikasa," tiba-tiba Levi, sang fotografer menghampirinya. Wajahnya yang maskulin dengan janggut tipis yang tumbuh di dagunya, membuat fotografer ini digandrungi gadis-gadis cantik. Hanya saja, ia sangat kejam, dan pendek.

Mikasa membelalakkan matanya. "Ya? Ada apa?"

"Bisa tidak aku merampas hari liburmu? Aku membutuhkanmu sampai bulan depan. Tidak masalah bukan?" ucap pria itu. Sudah dikatakan, ia memang sangat kejam.

Gadis itu terbelalak kaget. Tapi, kemudian ia kembali tenang.

"Tidak masalah."

Fotografer itu tersenyum licik. "Bagus. Baiklah, sampai jumpa besok pagi," ucapnya sambil berlalu.

Sampai di apartemen, gadis itu langsung melempar tubuhnya diatas kasur. Ia benar-benar lelah, fisik maupun pikirannya. Diambilnya ponsel, dan benar saja. Ada 30 pesan, dan 50 panggilan masuk. Beberapa dari ibu, dan selebihnya, dari Eren.

Mikasa menekan-nekan sesuatu di layar ponselnya, kemudian menempelkan benda itu di telinganya.

"Halo?"

"… Halo."

"Mikasa? Dimana kau sekarang?! Aku sangat khawatir, kau tahu? Mengapa belum juga sampai?!"

"Aku di Jakarta sekarang."

"… apa?"

Gadis itu menarik nafas panjang.

"Pemotretan mendadak. Aku jadi tak bisa pulang."

"Haaa?!"

"… maaf."

Diam dan hening. Lelaki yang berada di seberang telepon pun tak menjawab, hingga membuat gadis itu ikut terdiam.

"Jadi, kau lebih memilih pekerjaanmu daripada menemuiku?" bisik seseorang di seberang.

Mikasa menghela nafas. Gadis itu memijit pelipisnya yang pening karena diajukan pertanyaan yang sulit.

"Ya, begitulah, maaf."

Hening kembali.

"Cih, baiklah, sampai nanti."

Tuuut

Lelaki di seberang telepon langsung menutup teleponnya dengan cepat, sebelum Mikasa membalas. Gadis itu meletakkan ponselnya diatas meja, dan merebahkan kepalanya. Matanya mengarah pada langit-langit. Pikirannya berkabut.

"Aku ini… jahat ya?" ucapnya pelan, sebelum ia terlelap.

Esoknya, pemotretan berjalan sangat lancar, dan Mikasa mendapat banyak pujian. Karena kerja kerasnya, ia bahkan mendapat tawaran untuk menjadi model fashion show oleh desainer mode terkenal. Mikasa sangat bahagia, hingga bisa melupakan sedikit rasa kalutnya tentang Eren.

Begitu sampai di apartemen, Mikasa mengecek ponselnya, dan tak ada satupun panggilan atau chat masuk. Tak ada pesan dari Eren. Mikasa memeluk bantal. Rasanya sakit. Eren pasti marah besar padanya. Ia pasti sudah tidak mencintainya lagi. Gadis itu memejamkan matanya, mencegah air matanya untuk jatuh.

Tapi, ia benar-benar tak bisa tidur. Jujur, dalam hatinya, ia sangat merindukan kekasihnya, Eren. Sudah hampir 5 bulan ia tak melihat langsung wajah kekasihnya. Hanya dengan foto dan telepon cara mereka saling melepas rindu. Tapi, kini ia benar-benar ingin bertemu langsung, memeluk erat tubuhnya, dan mencium langsung aroma tubuhnya.

Mikasa mengambil ponselnya, kemudian dengan nekad, mengirim chat pada kekasihnya.

"Eren?"

Sangat singkat. Ia tahu lelaki itu pasti sedang marah besar. Tapi, jujur dalam hatinya, ia tak ingin kekasihnya marah.

Tak ada balasan, tentu saja. Padahal Mikasa tahu, jam segini Eren pasti belum tidur, dan selalu mengiriminya ucapan selamat tidur. Gadis itu memilih memejamkan matanya lagi.

Tak terasa, setitik air mata menembus kelopak matanya dan membasahi pipi.

Jakarta, 23 September 2015

Seperti biasa, pekerjaan berjalan biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Mikasa tampak ceria ketika pemotretan, dan tetap bisa tersenyum dan mengobrol dengan fotografer, manajer, maupun model-model lain.

"Oh, jadi kau Mikasa?" tiba-tiba seorang model pria menghampiri gadis itu.

"Iya benar," balas gadis itu singkat.

"Wah, aslinya kau memang sangat cantik. Kau sedang naik daun, ya. Kau sering menjadi cover di majalah-majalah," ucapnya girang.

"Begitulah, terima kasih," ucap gadis itu sambil tersenyum kecil.

"Oya, kenalkan. Aku Jean. Aku juga model dari agency yang sama denganmu. Mohon kerja samanya ya!" ucapnya sambil menyalami gadis itu.

Setelah itu, Mikasa dan Jean pun mengobrol bersama. Mereka bahkan bertukar ID Line. Jean benar-benar pria yang lucu, dan sesekali Mikasa tertawa dibuatnya. Jean sangat berbinar-binar melihat Mikasa yang tertawa.

"Hey, kau sangat manis, ya. Apa kau punya pacar?" Tanya Jean setelah begitu lama mereka mengobrol.

Mikasa terdiam.

"Um, ada," ucapnya.

Wajah pria itu terbelalak begitu mendengarnya.

"Oh ya? Siapa?" Tanya Jean lagi.

"Teman SMA dari daerah asalku. Tapi kami long distance relationship," jawab Mikasa

"Wah…" gumam laki-laki itu.

"Ya, bahkan kami sekarang sedang bertengkar," bisik Mikasa.

Jean terbelalak lagi. "Oh ya?"

Mikasa mengangguk. Air mukanya juga berubah.

"Umm, apa kau benar-benar mencintainya?" Tanya Jean lagi. Mikasa terkesiap begitu mendengar pertanyaan itu.

"Tentu saja. Sangat mencintainya," ucap gadis itu lagi. Pria itu melengos.

"Yah, padahal ini kesempatanku untuk merebutmu. Tapi aku tak tahan melihat wajah sedihmu. Tetap cantik sih. Tapi yah, kalau kau benar-benar mencintainya, kau harus jujur kan, dan mengatakan kalau kau benar-benar mencintainya."

Mikasa terdiam sesaat mendengarnya. Kemudian menunduk lagi.

"Kupikir ia tak mencintaiku lagi. Aku terlalu banyak melakukan kesalahan," ucap gadis itu pesimis.

"Oya? Tahu darimana? Apa dia mengatakannya? Jika benar ia mengatakannya, kau tinggal meninggalkannya dan mencari laki-laki lain, bukan?" ucap Jean lagi.

"Kau benar," ujar Mikasa sambil mengangkat wajahnya.

"Yah, jadi…"

"Terima kasih nasehatmu, Jean! Aku akan coba menghubunginya lagi! Terima kasih banyak!" ucap Mikasa dengan penuh semangat, kemudian bangkit dari tempat duduknya.

"Oi, mau pergi kemana kau, hey—" belum selesai Jean menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah melesat meninggalkannya sendiri. Air mukanya berubah lagi. Tapi, kini jadi lebih semangat.

Jean tersenyum sambil membuka botol air putih. "Yah, gagal deh," ucapnya.

Sampai di apartemen, Mikasa mencoba menghubungi kekasihnya, tetapi teleponnya tak diangkat. Terus ia telepon, tapi tetap saja tak diangkat.

"Ayo angkat…"

Mikasa tak menyerah. Di teleponnya terus, tapi, hasilnya nihil. Eren tetap saja tak mengangkatnya.

Mikasa mulai menangis.

Ia terisak, dan terus terisak. Ia benar-benar mencintai Eren. Ia tak ingin putus dari Eren. Air matanya terus mengalir, dan ia terus saja terisak. Ia sangat ingin melihat wajah Eren lagi, dan tak ingin kehilangannya.

Akhirnya, gadis itu pasrah. Tubuhnya terkulai lemas. Pasrah saja, kalau putus. Jika diambil dari sisi positifnya, ia dapat berkonsentrasi penuh pada pekerjaan, jika tak punya pacar. Atau bahkan ia bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Eren. Ya, itu rencana yang bagus. Pasrah saja walau nanti putus…

"Aku sudah berusaha untuk meminta maaf. Jika kau tidak memaafkanku, ya sudah. Terserah kau sekarang bagaimana…"

Mikasa mengirim chat tersebut pada Eren, kemudian tertidur.

Sunyi, benar-benar malam yang sunyi. Begitu menutup mata, Mikasa langsung terlelap begitu saja. Mungkin, karena kelelahan bekerja. Atau, kelelahan menangis.

Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Tiba-tiba, ponsel gadis itu berbunyi memecahkan keheningan. Dengan malas, Mikasa mengambil ponsel itu. Matanya masih bengkak karena menangis, jadi ia mengangkat telepon itu dengan matanya yang masih mengatup.

"Halo, Hanji? Mengapa menelepon malam-malam?" bisik Mikasa pelan kepada seseorang diseberang telepon.

Lama tak ada jawaban.

"Umm… ini aku," jawab seseorang di seberang.

Mendengar suara yang sangat ia kenali itu, Mikasa langsung membuka matanya lebar-lebar.

"Eren?!"

"Keluarlah dari apartemen sekarang,"ucapnya.

"Hah? Tapi, tapi…"

"Cepatlah."

Tanpa ba-bi-bu, dengan cepat Mikasa melompat dari kasur, dan berlari keluar kamar. Dengan kaki telanjangnya, ia menyusuri lorong, dan memasuki lift.

"Hah, dia diluar? Kenapa? Bagaimana bisa?" Mikasa kebingungan. Banyak pikiran di kepalanya, tetapi dalam hatinya dia sangat kegirangan.

Pintu lift terbuka, dan dengan cepat gadis itu melesat ke arah lobi.

Dan benar saja, sesosok lelaki berbadan tinggi dengan rambutnya yang coklat dan acak-acakan sedang berdiri disana.

Air mata gadis itu mulai bercucuran.

Pria itu kemudian mendekati gadisnya, kemudian mendekapnya dengan erat.

"Sudah sudah," ucap pria itu lembut.

"Hiks, kenapa kau disini, hiks, bukannya kau marah padaku, hiks…" ucap Mikasa sesenggukan. Aroma keringat Eren membuat hatinya jadi sangat membuncah.

"Tidak, aku tidak marah," ucap Eren menggeleng. "Aku tahu kau sedih, kalut, makanya aku mengunjungimu, untuk menghiburmu."

Mendengar itu, Mikasa malah makin histeris.

Eren mengecup kening kekasihnya, sangat lama. Ia ingin melepas rindu. Dalam hati pria itu, ia sangat merindukan gadisnya. Tak jauh beda seperti Mikasa yang merindukan dirinya.

Eren melepas kecupannya, dan menghapus air mata gadis berambut hitam itu.

"Oya, aku membawa jajan ikan coklat keju kesukaanmu. Tadi aku beli di emperan kota Jakarta," ucap Eren dengan senyum girang.

Mikasa cekikikan, "namanya taiyaki, kau tahu."

Melihat Mikasa tertawa, Eren tak bisa menahan dirinya, dan ia mengecup bibir hangat Mikasa dengan lembut.

"Aaaahh?!" desis gadis itu kaget. Wajahnya merah padam!

"I love you!" ucap Eren.

Dengan perasaan yang campur aduk dan wajah merah padam, Mikasa membalas, "I love you too."

.

END