"Gakuko, nanti malam jangan lupa acara makan malam keluarga kita. Kau masih ingat 'kan tempatnya di mana?"

Pertanyaan Luka sore itu tidak membuat Gakuko berambut magenta panjang yang diikat kuncir kuda itu hanya berbaring malas di sofa ruang tengah.

"Hn," respon Gakuko cuek. Atensinya hanya tertuju pada layar ponselnya.

Luka memutar bola matanya malas, wanita cantik itu menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Pakai gaun yang tadi pagi Kaa-san simpan di kasurmu, dan jangan lupa untuk berdandan. Pokoknya kau harus tampil feminim di acara nanti malam,"—dengan begitu, wanita itu meninggalkan Gakuko yang menatapnya dengan wajah horror.

"Oh, tidak."

Gakuko cepat melempar ponselnya ke sembarang arah; beranjak dari sofa untuk mengejar Luka.

"Kaa-san, plis, apapun selain gaun!" rengek Gakuko.

Gakuko. Benci. Merengek.

Tapi lebih benci lagi gaun.

"Tidak. Kau harus pakai gaun," jawab Luka tegas.

Gakuko mendengus, namun sebersit ide yang muncul di kepalanya membuat senyum terpoles di wajah. Kabur ke rumah teman bukanlah ide yang buruk.

"Dan jangan kabur. Penjagaan diperketat," tambah Luka seakan tahu apa yang dipikirkan putri semata wayangnya ini.

Gakuko hanya bisa menggerutu kesal.

.

.

Title : Lovers

Chapter 2 : Gakuko x Luki

Disclaimer :Vocaloid © Crypton Future Media

~Lovers~ © Crayon Melody

Rated : T

Genre :Romance ; Drama

Warning : Typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

A/N : Fic ini kami bertiga (Milky Holmes, anaracchi, dan Meirin Hinamori) persembahkan spesial untuk semua anak "Role Play Athena Academy" dan tentu saja untuk semua pembaca di fandom vocaloid. Semoga kalian menyukai fic hasil collab kami bertiga. Dan jangan lupa tinggalkan jejak di kotak review ya dan mohon bantuan like-nya di fanspage kami di FB dengan nama "Athena Academy". Siapa tahu ada yang tertarik main RP hehehehe. Nanti kita bisa seru-seruan bareng disana~

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Lovers~

.

.

Normal POV

.

.

Gakuko memasuki restoran mewah dengan wajah tertekuk. Tadinya, ia akan melancarkan niatnya untuk kabur demi menghindari acara makan malam yang bisa dipastikan akan berjalan membosankan, apalagi dengan kenyataan bahwa ia harus memakai gaun yang menurutnya sangat memalukan. Namun sayang, kedua orangtuanya sudah memperketat penjagaan dan seusai melakukan sedikit pemberontakan, akhirnya Gakuko hanya bisa mengalah—walau ia benci karena harus mengalah.

Rambut magenta indah yang biasanya tampak lurus sekarang terlihat ikal, bagian belakang rambutnya digelung ke atas, menyisakan rambut bagian samping iabiarkan menjuntai mengenai pundaknya yang agak terbuka. Gaun berwarna ungu tua yang membalut tubuhnya tampak elegan dan mewah. Ia sendiri memakai sepatu kaca dengan tinggiberukuran lima senti.

Gakuko mengernyit begitu ia dan orangtuanya mendekati meja dimana Kagamine Rinto duduk. Tampaknya senior satu kelas di sekolahnya dan orangtuanya itu belum menyadari kehadiran mereka.

Begitu Gakupo mendekat, seorang pria yang dipastikan Gakuko adalah Ayah Rinto berdiri dan tersenyum, setelahnya mereka bersalaman. Mata Gakuko memincing melihat Rinto yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya. Sadar diperhatikan, Rinto mendongak. Ia pun mengernyit begitu melihat Gakuko berdiri di belakang Gakupo dan Luka.

Leon mempersilakan mereka untuk duduk. Rin—gadis yang sangat mirip dengan Rinto, atau adik Rinto—menendang kaki kakaknya; membuat Rinto sadar akan sesuatu. Cowok itu bangkit dan menarik kursi di sebelah kanannya, mempersilakan Gakuko untuk duduk.

"Thanks, senpai," Gakuko menyeringai. Membuat cowok berambut honey blonde itu memutar bola mata malas dan kembali duduk di kursinya.

"Wah wah sepertinya kalian sudah saling mengenal," ucap wanita berambut sebahu. Sepertinya wanita itu adalah Ibu Rinto.

"Kau ini bagaimana, sih, Lola-chan. Tentu saja mereka saling mengenal, mereka 'kan satu sekolah," sahut Luka seraya tersenyum manis.

Gakuko hanya memutar bola mata malas. Perlu dikoreksi sebenarnya ia tak mengenal Rinto. Hanya saja teman-teman disekitarnya selalu berkoar-koar tentang Rinto; Rinto yang tampanlah, Rinto yang kerenlah, Rinto yang inilah, itulah—telinga Gakuko panas dibuatnya. Alhasil, mau tidak mau Gakuko jadi sedikit mengenalnya. Sekarang begitu bertatap muka dengan orangnya langsung. Gakuko makin yakin kalau teman-temannya menderita katarak.

Mereka pun segera memesan makanan; masing-masing sibuk dengan percakapan yang tidak dimengerti—dan tidak mau dimengerti—Gakuko dan Rinto. Rin pun tampaknya masuk dalam percakapan Luka dan Lola.

"Ehm." Gakupo berdeham, membuat satu meja berhenti bicara dan Gakuko juga Rinto meliriknya malas. "Sebenarnya alasan kami mengadakan acara ini untuk membahas perihal pertunangan kalian berdua, Rinto dan Gakuko."

Seperti biasa, to the point.

Gakuko dan Rinto (dan Rin juga) membeku, mereka terlihat seperti telah disambar petir saat itu juga."Tou-san, jangan bercanda."

"Tou-san tidak bercanda."

Setelah itu, Gakuko dan Rinto hanya bisa diam. Sementara kedua orangtua mereka telah hanyut untuk melanjutkan percakapan. Yang Gakuko tahu, topik mereka hanyalah satu apalagi kalau bukan bisnis, huh?

"Mau ke mana?" tanya Luka begitu putrinya beranjak dari kursi. Semua pasang mata sontak memperhatikannya dengan serempak.

"Toilet," jawab Gakuko singkat dan padat. Putri tunggal keluarga Kamui itu memang sedang sangat malas berbicara dengan orangtuanya. Juga orangtua Rinto, omong-omong.

Setelah mendapat anggukan dari Luka, ia segera melesat ke toilet wanita, memasuki salah satu bilik toilet dan menguncinya. Gakuko bersandar pada pintu.

"Dasar orang-orang sialan. Kenapa mereka malah jodohin aku, sih? Kenapa juga harus sama Rinto-senpai!" umpatnya. Kalau ia sedang berada di rumah, pasti Gakuko sudah menghancurkan pintu di depannya untuk meluapkan emosi. Namun Gakuko masih sadar diri sekarang, ia tak mungkin menghancurkan fasilitas umum biarpun ingin.

Gakuko membuka kuncinya dan berjalan keluar dari bilik menuju wastafel. Kedua tangannya ia jadikan sebagai penyangga badan. Gakuko menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menatap wajahnya, ekspresi kesal yang nyata sudah tercetak jelas di sana. Tapi kenapa Luka atau Gakupo atau orangtua Rinto tidak melihatnya, sih?!

Gakuko benar-benar ingin perjodohan ini dibatalkan!

"Gaku-nee, kau di sini rupanya."

Gakuko hampir melompat kaget jika saja ia tidak segera mengendalikan tubuhnya dan berdiri menghadap Rin. Gadis itu melemparkan senyum terpaksa pada adik Rinto.

"Kenapa kau di sini?" tanya Gakuko dengan suara lembut.

Ugh.

"Habisnya Gaku-nee lama sekali.Kaa-san memintaku untuk segera menjemputmu."

"Oh, ayo kembali kalau begitu." Rin mengangguk, setelah itu ia berbalik dan berjalan sendiri hanya mengekor; tak mau Rin melihat wajah kesal yang semakin jelas tercetak indah di wajah cantiknya.

Tadinya dia ingin berlama-lama di sana.

Mereka berdua duduk di kursi masing-masing. Tepatnya Gakuko duduk di sebelah kanan Rinto, sementara Rin di hadapan Rinto.

Rinto melirik orangtua mereka yang sibuk bercakap, dan juga Rin yang sibuk dengan makanannya—sesekali gadis itu juga mengecek ponselnya—membuat Rinto yakin kalau adiknya tidak akan mendengar apa yang akan diucapkannya nanti. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Gakuko.

"Gakuko," panggil Rinto dengan suara pelan.

"Apa?" balas Gakuko tajam. Tampaknya ia masih kesal dengan berita perjodohan ini.

"Batalin acara ini, eh," ujar Rinto, dilihatnya ekspresi Gakuko yang terlihat mulai tertarik. "Kalau tidak salah kau biang onar 'kan di sekolah?" Rinto tahu kalau Gakuko adalah cewek tomboy di sekolah, jadi ia menanyakan hal itu karena biasanya cewek tomboy itu suka nyari masalah. Biasanya.

Gakuko mengangguk walau dia sebenarnya tak suka dipanggil biang onar.

"Kalau begitu, kacaukan makan malam ini sana!" suruh Rinto enteng.

Gakuko langsung mendelik kesal ke arah Rinto lalu berkata, "Jadi aku yang ngacauin sendiri gitu?"

Kali ini Rinto yang mengangguk mantap.

"Hih. Gak mau ah. Kamu juga usaha dong," protes Gakuko.

Kenapa juga dia harus nurut sama kakak kelasnya ini. Ini kan masalah mereka bersama, setidaknya Rinto juga harus ikut berkontribusi bukannya seenak jidat menyuruhnya melakukan ini itu.

Rinto memutar bola matanya malas. "Malas sih. Tapi ya sudah deh."

Baru saja mereka akan membahas rencana, Luka dan Gakupo sudah bangkit dari tempat duduk mereka. Hal ini membuat Gakuko juga ikut bangkit walau tidak tahu karena apa. Barulah ia sadar kalau mereka akan segera pulang begitu Leon dan Gakupo berjabat tangan lagi.

Yah sepertinya mereka harus bicara lain kali. Yang pasti Gakuko ingin membatalkan pertunangan ini secepat mungkin.

Baiklah misi untuk menggagalkan perjodohan ini dimulai, batin Gakuko seraya tersenyum evil.

Kita lihat siapa yang akan menang. Orangtua mereka atau Gakuko dan Rinto. Yang pasti Gakuko paling benci dengan kata kalah.

~Lovers~

Gakuko mengerang kesal melihat pesan yang dikirim Luka, ibunya itu mengatakan bahwa ia harus pulang dengan Rinto karena supirnya tidak bisa menjemput—Gakuko yakin Luka-lah orang di balik layar dalam hal ini—tanpa alasan yang jelas. Bukan berarti Gakuko tak bisa menyetir makanya ia membutuhkan supir, namun karena Luka dan Gakupo takut Gakuko akan mengebut di jalan seolah ia sedang mengikuti pertandingan balap liar. Maka mereka lebih tenang menyewa supir untuknya.

Melihat Rinto yang agaknya telah selesai latihan basket, Gakuko pun berjalan mendekatinya dengan wajah seperti beruang kelaparan.

"KAGAMINE RINTO!" Dapat dilihat Rinto yang sedang minum air mineral itu tersedak begitu mendengar Gakuko memanggilnya, atau lebih tepat meneriakinya.

"Apa sih?" tanyanya dengan wajah yang terlihat sangat terganggu karena kedatangan Gakuko yang tanpa disadarinya mengundang banyak perhatian.

Gakuko memperlihatkan layar ponselnya, menyuruh Rinto untuk membaca pesan yang tadi dikirim Luka.

"Pulang sendiri sana," respon Rinto dengan ekspresi datarnya. Kadang (baca: seringkali) Gakuko ingin menendang wajah yang selalu menampakkan ekspresi datar itu.

"Naik apaan?!"

"Bis," jawab Rinto enteng.

Gakuko menggeleng keras. Dia bukan tipe orang yang suka memakai angkutan umum, apalagi bis.

"Aku masih ada latihan," ucap Rinto berbohong. Yap sebenarnya latihannya sudah selesai, tapi dia benar-benar ingin kabur dari gadis bermarga Kamui ini.

Gadis berambut ungu itu memutar bola matanya malas. "Latihan atau ingin memperhatikan seseorang,"

Rinto tahu Gakuko hanya asal ceplos saja, gadis itu memang bukan orang yang suka memperhatikan tingkah orang lain. Contohnya saja saat ini, Rinto berani bertaruh bahwa Gakuko sama sekali tidak menyadari keberadaan penggemar perempuannya. Walaupun begitu tebakannya yang asal itu selalu benar.

"Ya sudahlah." Rinto bangkit dan menyeret Gakuko menuju tempat parkir sekolah. Meninggalkan teman-teman setimnya dan pelatihnya yang terbengong-bengong.

Pasti bakal ada gosip aneh setelah ini, batin Rinto. Tapi ia tidak peduli, sekarang ia harus membawa Gakuko pergi secepat mungkin dari sana.

"Dih. Gak usah seret-seret," protes Gakuko namun tak diindahkan Rinto. Gakuko makin sewot tapi malas protes lebih banyak lagi, ditambah dengan fakta bahwa ia sedang berbicara dengan seorang Kagamine Rinto.

Ia menduduki kursi penumpang, sementara Rinto menduduki kursi pengemudi. Mereka tidak banyak bicara, lebih tepatnya keduanya malas membuka percakapan.

Namun bukan Gakuko namanya kalau ia betah berada di suasana sunyi dalam waktu yang lama. Akhirnya gadis itu membuka suara. "Senpai! Gimana rencananya nih? Makin gak betah terikat kayak gini tuh."

"Nanti malam aku kasih tahu rencananya," ucap Rinto yang setelah itu mulai mengemudikan mobilnya keluar dari halaman sekolah.

.

Keesokan harinya

.

Gakuko berjalan di dalam kamarnya dengan gusar. Kemarin, Rinto bilang kalau rencana ini akan dimulai jam tiga siang setelah ia latihan basket. Namun sekarang sudah jam lima sore dan Rinto masih belum menemuinya.

Bagaimana kalau Rinto menyerah? Bagaimana kalau rencana ini gagal? Bagaimana kalau pertunangan ini benar-benar terjadi?

Gakuko tidak bisa mengandalkan Rinto sekarang. Maka ia harus bekerja sendiri.

Gakuko menyibak tirai jendela, melihat ke bawah dan tidak melihat adanya tanda-tanda kehadiranpara pengawal alay yang disuruh kedua orangtuanya. Ia pun melepas sprei kasurnya lalu ia lilitkan pada salah satu kaki kasurnya. Ujung sprei lainnya ia lemparkan ke luar jendela—beruntung kasur Gakuko ini dekat dengan jendela kamarnya.

Gakuko pun turun dari kamarnya berkat bantuan sprei untuk kasur king size. Walaupun tidak panjang dan bahkan sangat pendek ketika ia keluarkan, namun itu cukup untuk membantunya melompat dari ketinggian empat meter. Gakuko bersyukur kakinya tidak patah, sih.

Gakuko tersenyum puas melihat hasil kerjanya berjalan sukses. Ia pun segera kabur dari lubang yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil yang ia sembunyikan menggunakan semak-semak di belakang rumahnya. Waktu kecil Gakuko sering kabur lewat sini, beruntung setelah bertahun-tahun belum ada yang menyadari keberadaan lubang ini. Lagi, Gakuko beruntung lubang ini berukuran cukup besar untuk dilewati oleh ukuran tubuhnya saat menutupnya kembali menggunakan semak-semak, Gakuko pun berlari menjauhi rumahnya.

Matahari sudah setengahnya tenggelam sementara Gakuko belum menemukan tujuan ke mana ia akan tinggal untuk sementara. Cerobohnya ia malah meninggalkan ponsel dan dompetnya di kamar. Cih.

"Hai, Nona. Sendirian? Bareng, yuk!" Seorang pria bertubuh besar mendekati Gakuko.

"Gak," jawab Gakuko dingin dan tanpa melirik pria itu, ia pun mempercepat langkatnya. Namun pria itu malah mengikutinya dan mencengkram erat pergelangan tangannya. Seringaian tercetak jelas di wajah sangarnya.

"Dih. Apaan sih. Saya kan udah bilang gak mau!" seru Gakuko sewot.

"Tapi kitanya yang mau." Satu lagi pria bertubuh besar yang diyakini Gakuko adalah teman pria ini datang, ia pun ikut mencengkram pergelangan tangan Gakuko yang lainnya.

"Nggak mau!" Gakuko mencoba memberontak dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Namun tenaga dua pria setan ini jauh lebih besar, cengkraman mereka menguat dan Gakuko meringis kesakitan. Bagaimana pun juga ia tetaplah seorang perempuan dan sialnya dulu ia sering sekali bolos kelas bela diri, suara tawa kedua pria itu terdengar menyeramkan di telinga Gakuko.

Gakuko mencoba berpikir jernih untuk kabur dari jeratan mereka. Mau berteriak tapi tak bisa, di sini sangat sepi dan sudah malam. Tidak akan ada orang yang lewat jalan sini karena di sini sangat menyeramkan. Gakuko tahu sekarang tidak ada cara yang bisa ialakukan lagi, Gakuko hanya bisa pasrah—apalagi dengan fakta bahwa ia harus mendengar suara tawa laknat mereka yang makin keras terdengar. Dirasanya liquid bening sudah menggenang di pelupuk mata, Gakuko memilih untuk menutup kedua matanya. Meredam semua rasa takut dan membiarkan air mata itu jatuh begitu saja melewati pipi porselennya.

"Cup, cup. Jangan menangis, nona." Salah satu pria itu menghapus air mata di pipi Gakuko dengan ibu jarinya. Bukannya berhenti, tangisan Gakuko malah makin menjadi dan ia sendiri makin merasa takut. Kedua tangan dan kakinya pun bergetar hebat.

"Siapapun, tolong aku ..." lirihnya dengan volume suara yang sangat kecil. Sebenarnya Gakuko sudah merasa pasrah tiap kali ia mendengar tawa itu.

BUGH!

Cengkraman di tangan kanannya mendadak tak terasa. Entahlah, mungkin Gakuko sudah mati rasa.

BUGH!

Kali ini cengkraman di tangan kirinya yang tak terasa menyakitkan lagi. Gakuko memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan. Begitu melihat seorang lelaki berambut pink sedang menghajar dua pria setan itu, barulah kedua mata Gakuko membulat sempurna.

"Sialan." Salah satu pria memukul rahang kiri pemuda itu dan membuatnya jatuh tersengkur. Darah mengalir melalui bibirnya yang robek. Ia pun meludahi darahnya pada trotoar dan balas memukul perut pria itu.

Cowok itu memukul leher bagian belakang si pria dan membuatnya tidak sadarkan diri.

Teman pria itu merogoh sesuatu dari saku celananya, apalagi kalau bukan pisau? Hal itu membuat Gakuko menggigit bibir bawahnya. Pria tadi mulai menyerang cowok itu dengan pisau, namun ia berhasil menangkisnya. Terdengar ringisan kecil yang dipercaya Gakuko kalau pisau itu sukses menggores pipi kanan si cowok. Pemuda berambut pink itu pun menahan kedua tangan pria itu di belakang punggung dan memelintir salah satu tangannya hingga terdengar suara "kretek" yang berarti iaberhasil mematahkan tulang pria itu.

Setelahnya, cowok itu menendang perut si pria dan membiarkannya mengerang kesakitan di trotoar.

Gakuko cepat tersadar dari keterkejutannya. Ia pun mendekati si cowok dan segera mengucapkan terimakasih yang tulus.

"Dengan senang hati, nona," ucapnya seraya tersenyum pada Gakuko.

"Kau terluka," gumam Gakuko seraya menyentuh goresan di pipi kanan cowok itu dengan pelan, membuatnya sedikit meringis. Gakuko sendiri tidak tahu kenapa ia bisa selembut ini pada seorang lelaki.

"Tidak apa-apa kok. Aku sudah biasa terluka kayak gini."

"Tapi tetap saja, ini gara-gara aku! Aku obati ya?" tawar Gakuko dengan nada yang lebih bisa disebut memaksa.

"Tidak perlu, aku bisa mengobatinya sendiri nanti."

"Sudahlah. Anggap saja ini balas budi karena kau telah menyelamatkanku."

Ia tampak berpikir. Sebenarnya cowok itu hanya berniat menolong Gakuko dan selesai. Namun ada satu perasaan di dalam dirinya yang tidak bisa menolak tawaran—paksaan—Gakuko.

"Iya deh."

Senyum Gakuko mengembang begitu mendengar kalau cowok itu setuju. "Namamu siapa?"

"Luki. Megurine Luki."

~Lovers~

Luka duduk di sofa ruang keluarga dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Jantungnya berdebar sangat keras sehingga ia rasa kalau jantungnya itu bisa saja melompat keluar saat itu juga. Di sebelahnya, tampak Gakupo yang merangkul pundaknya seraya mengelus punggung tangan istrinya itu dengan ibu jari.

Air mata tidak bisa lagi dibendung oleh Luka. Mereka menerobos dinding pertahanannya dan mengalir deras di pipi porselennya. Suasana rumah yang sepi mencekam kini diisi suara isakan Luka. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isakan yang tidak bisa dihentikannya. Namun usahanya selalu gagal dan tiap kali ia mengingat wajah putrinya, tangisnya akan kembali pecah.

Rasa kesal tiba-tiba menyergap hati Gakupo begitu saja. Apa yang dipikirkan oleh putrinya itu? Kenapa bisa ia begitu bodoh dengan kabur tanpa membawa apa pun? Bagaimana bisa ia membahayakan tubuhnya sendiri?

Yang pasti, Gakupo harus menemukan Gakuko segera.

~Lovers~

Gakuko memasuki kamar apartemen yang terlihat simpel, namun rasanya sangat nyaman. Untuk ukuran seorang laki-laki seperti Luki, kamar ini sangatlah rapi dibanding kamar cowok biasanya.

Megurine Luki, bulan kemarin adalah ulang tahunnya yang ke-16. Namun ia seangkatan dengan Gakuko yang baru berumur 15. Dan parahnya lagi ternyata mereka satu sekolah, kelas mereka bersebelahan! Berbeda dengan Gakuko, Luki sudah tahu siapa gadis itu. Bahkan Gakuko sampai menepuk keningnya karena memiliki sifat yang secuek ini pada lingkungan. Tingginya hampir sepantar dengan Rinto, sedikit lebih tinggi namun hanya beberapa senti saja.

Gakuko meraih kotak P3K pada tempat yang ditunjuk Luki. Sementara cowok itu duduk di sofa kamar apartemennya.

Gakuko duduk di samping Luki dan membersihkan luka goresan pada pipi cowok itu dengan kapas yang sudah ditetesi alkohol. Luki meringis begitu meraskan lukanya bersentuhan dengan alkohol yang memberikan efek perih sekaligus lebih banyak perihnya, sih.

"Pelan-pelan dong," ujar Luki akhirnya.

"Ini udah pelan kali," kekeh Gakuko. Lalu ia meraih kapas yang baru dan ditetesinya dengan obat merah. Gakuko pun kembali mengobati luka Luki perlahan. Setelah itu ditempelinya luka tadi dengan plester. Gini-gini ia jago mengobati luka, lho. Yah itupun karena dia sering mengobati lukanya sendiri. Entah karena jatuh dari pohon atau kecerobohannya yang lain.

"Belajar dari mana yang kayak gitu?" tanya Luki begitu Gakuko kembali setelah menyimpan kotak P3K.

"Oh, belajar aja. Iseng," jawab Gakuko seraya nyengir kikuk. Ia hanya merasa gugup entah kenapa.

Luki hanya mengangguk dan ber-oh panjang sebagai respon.

"Ya sudah, aku duluan ya." Gakuko beranjak dari sofa Luki namun cowok itu menahan pergelangan tangannya. Gakuko menggigit bibir bawahnya begitu merasakan kehangatan tangan Luki yang menjalar hingga ke wajahnya. Gakuko pun menghapusnya dengan cepat sebelum Luki sadar kalau ia sedang blushing.

"Kau mau pergi ke mana? Aku antar, ya?" tanya Luki seraya menarik Gakuko pelan agar terduduk kembali.

Gakuko menghela napas panjang karena ia akan bercerita—setengahnya lagi karena Luki yang melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Gakuko, jadi ia sedikit merasa kecewa tanpa alasan yang jelas.

"Sebenarnya aku gak tau mau ke mana," Gakuko memulai ceritanya. Luki tampak tertarik dan mendengarnya dengan seksama. Hey, seorang putri keluarga Kamui berkeliaran di tempat sepi, bukankah aneh?

"Ke mana pun asal jangan ke rumah. Aku kabur dari rumah." Ucapan Gakuko membuat Luki mengernyit.

"Kau tahu? Cerita tentang dua perusahaan yang memaksa menjodohkan putra-putri mereka demi bisnis? Nah, itu yang aku rasakan sekarang. Masa mereka menjodohkan aku dengan Rinto-senpai?Dih, dianya juga malah hilang padahal tadi kami mau menjalankan rencana buat membatalkan perjodohan ini." Gakuko bersandar pada sofa dan membuang napasnya dengan gusar. Tanpa diketahui Gakuko, hati Luki seperti tercubit begitu mendengar kalau Gakuko ternyata sudah dijodohkan dengan seseorang.

"Makanya aku bingung mau ngapain, jadi aku kabur dari rumah tanpa ada niatan untuk kembali. Dan selesai." Gakuko tersenyum kecut. Luki menghela napas panjang, ia sendiri kasihan dengan nasib Gakuko yang seperti ini.

"Ya sudah, sementara kamu tinggal di sini saja ya?" tawar Luki membuat Gakuko menatapnya ragu.

"Nanti ngerepotin," tolak Gakuko. Apa kata dunia jika dia menginap di apartemen cowok. Bisa-bisaia dipenggal oleh kedua orangtuanya.

"Nggak apa. Lagian sepi juga sih, nggak ada teman sekamar," ucap Luki enteng.

Gakuko berpikir. Sepertinya Luki tidak akan macam-macam padanya. Buktinya ia rela terluka demi menolongnya.

"Boleh selama tidak merepotkan," jawab Gakuko pada akhirnya. Sekarang ia berharap kalau orangtuanya tidak pernah tahu kalau dia pernah tinggal satu atap dengan seorang cowok.

Tanpa sadar, Luki mengulum senyumnya.

"Ya sudah, tidur sana. Aku ngantuk," ujar Luki tiba-tiba, Gakuko menatapnya dengan alis yang bertaut.

"Hah?"

"Tidur di kasur sana. Aku tidur di sini."

Gakuko menggeleng keras. "Aku kan cuma numpang. Kamu tidur di kasur, aku di sofa!"

"Cewek tuh gak baik tidur di sofa. Sudah sana, lagian di sini nyaman," ucap Luki bersikeras memaksa Gakuko untuk tidur di kasur.

Nyaman apanya, batin Gakuko. "Ya sudah, kalau besok aku masih di sini, aku harus tidur di sofa," tegasnya seraya berjalan menuju kasur.

"Iya, kanjeng ratu," kekeh Luki membuat Gakuko melengos.

Luki baru saja akan menutup mata kalau ia tidak merasakan seseorang berdiri di sebelahnya. Terlihat Gakuko menyerahkan sebuah bantal dan selimut padanya.

"Pake nih!"

Luki tersenyum geli dan menerimanya. Ia melihat Gakuko yang sudah menaiki kasur dan tidur. Tanpa sadar Luki menyentuh plester yang ditempel Gakuko tadi sebelum akhirnya ia terlelap.

~Lovers~

Luki mengusap wajahnya yang terkena pantulan sinar matahari. Cowok itu membuka matanya dan melihat Gakuko telah menyibak tirai kamarnya.

"Yo," sapa Gakuko dibalas gumaman tak jelasnya Luki. Gakuko tampak sibuk membereskan kasur Luki yang ditidurinya tadi malam. Jujur saja, kalau ini di kamarnya sih Gakuko malas bangun pagi dan membereskannya. Tapi ini kamar orang lain dan Gakuko masih tahu diri.

"Belum mandi?" tanya Luki tiba-tiba.

"Belum," jawab Gakuko singkat. "Lagipula aku kan tidak bawa baju ganti."

"Pakai bajuku saja," tawar Luki dengan nada jahil. Sontak wajah Gakuko memerah mendengarnya, membuat tawa Luki berderai saat itu juga.

"... hah? Y-yang benar saja!"

"Haha. Daripada pakai baju itu terus." Luki beranjak dari sofa dan membuka lemarinya. Lalu ia menyerahkan sebuah kaus berwarna biru pada Gakuko. Gadis itu menerimanya dengan wajah yang memerah padam—Luki tersenyum kocak melihatnya—dan tanpa banyak bicara lagi ia pun melesat menuju kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian Gakuko keluar dengan memakai kaus Luki, namun masih memakai celana tiga perempat yang dipakainya kemarin. Sekarang giliran Luki yang memasuki kamar mandi sementara Gakuko memutuskan untuk membuat sarapan.

Hari ini weekend jadi mereka tidak perlu ke sekolah.

Baru saja Gakuko akan ke dapur kalau ia tidak mendengar ponsel Luki yang bergetar. Luki sendiri baru masuk, jadi ia memutuskan unruk mengangkat teleponnya. Siapa tahu itu penting.

Kaiko is calling ...

Kedua alis Gakuko bertaut melihat nama perempuan yang muncul. Apakah pacar? Sepertinya mereka hanya teman. Gakuko pun menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya pada telinganya.

"Halo?" ujar Gakuko begitu telepon mereka telah tersambung. Terjadi jeda yang cukup lama sebelum Kaiko berdeham.

"H-halo. Lukinya ada?"

"Ada. Tapi lagi mandi. Ada yang bisa kubantu?"

"Oh, tidak usah. Tapi kalau Luki sudah selesai mandinya suruh dia telepon aku ya."

"Oke."

Gakuko menjauhkan ponsel Luki dari telinganya. Ia menghela napas panjang, kenapa dia begitu gelisah hanya karena seorang gadis menelepon Luki sih? Jangan bilang ia menyukai Luki padahal mereka belum mengenal 24 jam!

Tak berapa lama akhirnya Luki keluar dari kamar mandi, namun ia melihat Gakuko yang matanya menatap kosong ke depan. Maka ia bertanya, "ada apa?"

Gakuko agak tersentak dan menyerahkan ponsel Luki pada pemiliknya. "Tadi temanmu Kaiko menelepon. Katanya kalau kau sudah selesai mandi telepon dia."

Luki mengangguk, dalam hatinya ia merutuk sial. "Kalau gitu, tunggu sebentar ya."

Setelah Luki mendapat anggukan setuju dari Gakuko, akhirnya cowok itu pun keluar dari kamarnya dan bersandar pada pintu kamar apartemennya.

Ia menekan nama Kaiko dan menghubunginya, setelah itu didekatkannya ponsel pada telinganya.

"Halo." Terdengar suara datar Kaiko dari seberang sana.

"Kaiko, dengar—"

"Dengar apanya?! Sudah jelas kan kalau kau berselingkuh?" Suara Kaiko kini terdengar marah dan kecewa. Luki mendengus kesal, sebenarnya dia malas bicara dengan Kaiko yang akhir-akhir ini selalu sewot dan ketus padanya.

"Nggak! Aku cuma membantunya yang hampir kenapa-napa karena preman kemarin. Tapi dia kabur dari rumah jadi kutawarinya untuk tinggal di apartemenku sampai masalahnya selesai."

"Kau menawari seorang gadis untuk tinggal sekamar denganmu?!"

Luki mendengus. "Memangnya kenapa? Salah ya aku menolong orang?"

"YA! Kau tidak ingat kalau aku ini masih pacarmu, hah?! Siapa orang itu? Apa aku mengenalnya?!"

Luki tampak berpikir sebentar, sebenarnya dia tidak mau memberi tahu identitas Gakuko pada Kaiko. Tapi kalau tidak Kaiko akan ngambek dan masalah akan menjadi tambah runyam. "Kamui Gakuko," ujarnya pelan.

"Hah?! Kau gila ya?! Gakuko itu kan sudah bertunangan dengan Rinto-senpai!"

"Dia tidak mau bertunangan dengannya. Sudah ya aku sibuk."Dengan begitu Luki memutus sambungan telepon secara sepihak. Dalam hati ia mengumpat karena lagi-lagi harus membuat seorang perempuan menangis.

Luki membuka pintu apartemennya dan mendapati Gakuko yang duduk di sofa tengah menatapnya dengan tatapan bersalah.

"Kalian bertengkar gara-gara aku ya? Maaf ya."

"Nggak apa-apa. Biasalah cewek lagi sensian ribetnya kayak gitu." Luki menutup mulutnya rapat-rapat ketika ia baru sadar tengah berbicara pada seorang gadis. Kalau Gakuko sampai tersinggung—seperti reaksi kebanyakan cewek—kan merepotkan.

Namun Gakuko malah tertawa kecil mendengarnya. "Makanya hati-hati kalau ngomong sama cewek." Setelahnya senyum geli terpoles pada wajahnya.

"Aku bikin sarapan dulu deh, lapar," ujar Gakuko sambil beranjak dari sofanya.

"Eh ikut dong, masak bareng gitu." Luki ikut bangkit dan mengejar Gakuko. "Mau bikin apa?" tanyanya begitu ia telah berdiri di sebelah Gakuko.

"Omelet saja." Luki mengangguk mendengarnya. Ia sibuk memperhatikan Gakuko yang serius memasak.

Yah, ternyata Luki tidak bisa membantu Gakuko deh. Luki meraih cabai merah dan memberikannya pada Gakuko.

"Hah? Kau mau pakai itu?" tanya Gakuko menatap cabai itu ngeri, dan Luki menangkap jelas hal itu.

"Aku mau kita pakai ini." Luki nyegir kocak. Namun ekspresi Gakuko malah menampakkan yang sebaliknya.

"Aku nggak suka pedas." Gakuko menggeleng keras.

Namun Luki tak mengindahkannya dan malah memotong cabai itu menjadi potongan-potongan kecil.

"Kenapa? Kan enak," ujarnya sambil memasukkan cabai-cabai itu ke penggorengan. Gakuko menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Sementara Luki yang melihatnya hanya menyeringai dan mengambil alih spatula yang dipakai Gakuko.

Apa perlu Gakuko ceritakan kalau ia pernah keluar-masuk WC seharian penuh karena memakan makanan pedas? Gakuko menggeleng keras, hal itu terlalu memalukan untuk diceritakan!

Gakuko baru selesai berpikir ketika Luki telah menyiapkan dua piring omelet. Cowok itu menyimpannya di meja depan sofa. Gakuko mengekor Luki dan mereka duduk berhadapan di karpet.

"Selamat makan," ujar mereka berdua serempak. Luki langsung melahap omeletnya sementara Gakuko hanya memandangi miliknya—oh tepatnya cabainya. Merah menyala dan banyak. Luki yang melihatnya pun menyeringai. Inilah seorang Megurine Luki saat mode jahilnya aktif.

"Makan dong. Atau mau aku suapi?" tanya Luki jahil. Gakuko mendengus dan memotong omeletnya menjadi potongan kecil. Lalu memasukannya ke mulutnya perlahan. Gadis itu menggigitnya dengan slow motion dan membuat tawa renyah Luki berderai saat itu juga. Gakuko melempar tatapan tak percayanya karena cowok itu malah menertawakannya yang sengsara seperti ini.

"Duh, cabainya gak pedas kok. Lagian gak banyak-banyak amat," ujar Luki di sela-sela tawanya. Gakuko menggembungkan pipinya sebal dan melanjutkan sarapannya. Begitu pun dengan Luki. Bedanya adalah Luki yang masih tersenyum geli.

Omelet Luki telah habis duluan. Berbeda dengan punya Gakuko yang masih tersisa setengahnya. Cowok bermata azure itu memutuskan untuk memperhatikan Gakuko yang sibuk minum, lalu melanjutkan makanannya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menjadi penopang dagu.

—dan hari itu berakhir dengan acara saling balas dendam dari kedua belah pihak.

~Lovers~

Hari ini minggu pagi. Jadi Gakuko dan Luki memutuskan untuk belanja ke minimarket dekat apartemen Luki. Di sepanjang perjalanan mereka saling bercanda dan saling bercerita tentang kehidupan mereka. Kejadian kemarin membuat mereka menjadi lebih dekat dan Gakuko sendiri merasa nyaman saat berada di dekat Luki.

Namun beberapa orang bertubuh besar dan memakai pakaian hitam yang familiar bagi Gakuko muncul di hadapan mereka. Gakuko menelan ludahnya dengan susah payah, sementara wajahnya sudah pucat pasi sekarang.

"Gakupo-sama menyuruh kami menjemput anda sekarang," salah satu dari mereka maju dan menarik lengan Gakuko, tapi gadis itu menyentakhnya sekuat yang ia bisa. Ia pun mundur beberapa langkah.

"Gak mau! Sampai Tou-san membatalkan pertunanganku dengan Rinto-senpai sih baru aku mau pulang!"

"Kami tidak menerima penolakan," ia pun mendekati Gakuko, namun Luki dengan cepat menggenggam erat tangan Gakuko.

"Dia kan tidak mau. Jangan dipaksa dong," ujar Luki sewot. Salah satu dari mereka maju dan menarik kerah Luki.

"Orang luar tak perlu ikut campur!" bentaknya mengundang perhatian dari para pejalan kaki, Luki menatapnya tak gentar.

Gakuko yang melihat Luki seperti itu menelan ludahnya, lagi. Dia tidak ingin Luki terluka seperti dua hari yang lalu. Maka Gakuko pun menoleh pada salah satu pengawal ayahnya.

"Oke, oke, aku ikut. Asal kalian jangan menyentuh Luki dan jangan berani menyakitinya!" seru Gakuko dengan nada mengancam. Pengawal yang menarik kerah Luki pun melepaskan cengkramannya pada Luki secara kasar sementara cowok itu menatap Gakuko tak percaya.

Gakuko pergi bersama dengan para pengawal itu. Sebelumnya ia sempat melemparkan tatapan sedih pada Luki. Luki sendiri melempar tatapan seperti ia merasa tertampar. Gakuko menggigit bibir bawahnya dan memilih memasuki mobilnya secepat mungkin. Dadanya menjadi sesak tiap kali ia sadar dengan kenyataan kalau ia harus meninggalkan Luki. Air mata pun sudah berkumpul di pelupuk matanya dan mendesak keluar. Gakuko lagi-lagi membiarkan mereka mengalir begitu saja, walau dalam hatinya ia merutuk kesal karena tingkah cengengnya akhir-akhir ini.

Satu pertanyaan bodoh terlintas dipikirannya, apakah ia menyukai Luki?

Luki menatap Gakuko menaiki mobil pengawal itu. Setelahnya ia masih berdiri terpaku walau mobil itu telah pergi menjauh.

Sekarang perasaan Luki seperti bercampur aduk. Marah, sedih, kecewa semuanya menjadi satu. Bahkan, hal ini lebih menyakitkan daripada melihat pacarnya jalan bersama laki-laki lain.

Sebegitu besarkah pengaruh Gakuko baginya?

~Lovers~

"Kenapa kabur hah? Kau tidak tahu apa kalau pertunangan ini sangat penting untuk bisnis Tou-san?!" bentak Gakupo kesal. Sementara Gakuko yang duduk di sofa hanya bisa memberikan tatapan betenya.

"Bisnis lagi, bisnis lagi. Kapan Tou-san kasih aku kesempatan supaya bisa lebih bebas, sih?!" Gakuko mengerang kesal.

"Kau sudah bebas. Hanya untuk kali ini kau mau tidak mau harus menurut," jawab Gakupo, matanya memincing melihat kaus yang dikenakan Gakuko. "Dan kau pakai baju siapa hah? Habis bermalam di tempat lelaki?" Gakuko merutuk sial dalam hatinya.

"Memangnya kenapa?!"

"Kau ini harusnya ingat kalau kau sudah memiliki tunangan!" Gakupo membentak Gakuko lagi dan lagi.

"Sudahlah, jangan membentaknya terus," Luka duduk di sebelah Gakuko dan mengusap lembut pundak Gakuko. Namun suasana hati Gakuko sangat buruk saat ini jadi ia menepis tangan ibunya kasar. Gakupo mendengus melihat tingkah putrinya.

"Batalin pertunangan ini, BATALIN!" teriak Gakuko frustasi. Napasnya memburu dan ia menatap Gakupo tajam.

"Tidak bisa! Pertunangan ini harus dilanjutkan!"

"Jadi Tou-san membiarkan aku bersama dengan orang yang tidak aku cintai selamanya? Demi bisnis?"

"Tidak lama lagi kalian juga akan saling cinta. Tenang saja, Gakuko," jawab Gakupo dengan tenang dan membuat Gakuko menjerit frustasi.

"Selamat siang."Suara bariton dari arah pintu membuat ketiga pasang mata tertuju padanya. Mereka melihat Rinto berjalan dengan seorang gadis berambut honey blonde di sebelahnya.

"Selamat datang Rinto, dan ..." Gakupo mengernyit saat Lenka malah bersembunyi di belakang Rinto dan menatapnya takut-takut.

"Lenka," jawab Rinto singkat.

"Oh, siapa dia? Adikmu? Tapi adikmu Rinkan? Lalu, sepupumu?"

"Dia pacarku," jawab Rinto kalem membuat Gakupo tersedak saat itu juga. Sementara Lenka mengeratkan genggamannya pada ujung kemeja Rinto, Luka mengerjap berkali-kali, dan Gakuko melongo mendengarnya.

Suasana ruang tamu keluarga Kamui langsung hening saat itu juga.

"Langsung saja. Aku ke sini ingin membatalkan perjodohkanku dengan Gakuko. Tapi meski aku dan Gakuko tidak menikah, aku akan tetap melanjutkan kerjasama perusahaan kita," ujar Rinto setelahnya. "Dan orangtuaku juga sudah menyetujuinya."

Mendengar penjelasan Rinto yang mantap membuat Gakupo mau tak mau mengangguk setuju. Rinto tersenyum senang dan Gakuko melompat bahagia.

"Gakuko! Mau ke mana kau?!" seru Luka saat Gakuko beranjak dari sofa.

"Menemui seseorang!" seru Gakuko senang, ia menatap Lenka dan Rinto bergantian. "Duh, makasih senpai! Kalian menyelamatkanku!"—dengan begitu Gakuko benar-benar berlari keluar.

~Lovers~

Gakuko menatap pintu kamar apartemen di hadapannya. Gadis itu ingat benar seluruh isi kamar apartemen di depannya ini. Ia pun mengetuk pintu tersebut tiga kali.

Cklek!

Pemuda berambut pink itu menatap Gakuko tak percaya. Ia pun berkata pelan,

"Gakuko?"

Gakuko tersenyum.

"Tapi, bagaimana bisa?"

"Tadi Rinto-senpai datang ke rumahku dan pertunangan kami dibatalkan!" Gakuko nyengir senang. Namun Luki hanya melongo mendengarnya.

"Dan lagi ..." Gakuko menggantungkan kalimatnya, kedua bola matanya menatap ke sekeliling arah selain kedua iris azure Luki. Wajahnya tiba-tiba merona merah dan Luki yang melihatnya pun gemas, ingin rasanya ia mencubit kedua pipi tembam itu. "Aku ... aku ... aku tahu ini gila karena kita belum lama kenal. Tapi aku rasa aku sudah menyukaimu. Sangat!"

Luki melongo, mulutnya setengah terbuka dan hanya kata "hah?" yang bisa keluar dari yakin kalau Gakuko tidak tahu dirinya sudah mempunyai pacar, makanya Gakuko berani menyatakan perasaan Luki hanya mengacak puncak kepala Gakuko.

"Yah, aku keduluan deh," ujarnya seraya menjauhkan tangannya dari puncak kepala Gakuko.

"Keduluan?" Gakuko membeo.

"Keduluan nyatain perasaannya," Luki tersenyum, kali ini senyuman yang lembut dan tingkat kegantengannya bertambah sudah. Gakuko yang melihatnya pun merona merah.

"Jadi?"

"Kita resmi pacaran," Luki tersenyum dan membawa Gakuko memasuki kamarnya.

Yah, mulai sekarang Luki ingin menjadi Gakuko sebagai yang terakhir di hatinya.

Dan, oh, sepertinya besok ia harus memutuskan hubungannya dengan Kaiko.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Sesi Bincang-bincang ^^

Audrey : Hai! Akhirnya selesai juga nulis dan updatenya setelah setahun (tidak sengaja) terbengkalai.

Bella : Hontouni gomenasai minna-san n(_ _)n

Meirin : Chapter ini dibuat oleh Audrey-chan yang berperan sebagai Gakuko di RP Athena X3

Bella : Untung saja chapter ini happy ending. Walau Gakuko disini PHO (Perusak Hubungan Orang)

Meirin : Yah setidaknya disini mereka (GakukoLuki) berakhir dengan bahagia. Tidak digantungin.

Audery : Kalian berduaaaa #marah

Bragh Bruk Prang Crak Meong (Adegan ini disensor)

Audrey : Waktunya balas review~ #senyummanis

Bella : Rinto, Gakuko jahaaatt hueee~

Meirin : Mikuo help me~

Audrey : Abaikan mereka berdua. Balasan pertama untuk Fujimura Inoue, thank you. I hope you like this chapter too ;)

Meirin : Berikutnya untuk Kurotori Rei, gomenne MikuoKaiko-nya chapter depan. Masih dalam proses pengerjaan. RintoLenka memang sweet tapi lebih sweet lagi MikuoKaiko, jadi nantikan saja ya~

Bella : Selanjutnya untuk YukimitsuShinji, iya author suka pair ini lebih tepatnya Bella saja yang suka hehehehe. Arigatou atas reviewnya~

Audrey : Terus balasan untuk Oliver yang SHOTA. Oliver mau jadi apa di sini? Tukang sapu, satpam, atau orang numpang lewat?

Meirin : Lalu untuk annisa zafirah, Yowa nggak tenggelam kan. Lain kali pakek pelampung ya biar nggak hanyut lagi. Makasih sudah review :v

Bella : Berikutnya ada balasan untuk SarahAmalia, makasih sudah dibilang sweet sweet. Seneng deh. Nanti kalau kita butuh pemain tambahan, kita panggil Hate deh. Maaf ya MikuoKaikonya dipending dulu. Semoga suka dengan GakukoLuki X3

Audrey : Untuk RakaHern, mewakili Lenka-nee a.k.a Bella. Jangan narsis ya mas, kita jadi mau muntah nih.

Meirin : #kasihkresekkeAudrey

Bella : Maaf kita tidak menerima request saat ini. Pair kalian harus hits dulu di RP baru nanti kita bikinin :P

Meirin : Selanjutnya balasan untuk Gumiiii. Gumi kebanyakan cuti sih makanya nggak nongol :v

Bella : Gumi comeback ya ;)

Audrey : Arigatou semua yang sudah review. Kami harap kalian berkenan untuk menulis pendapat kalian tentang fic ini di kotak review.

Bella : Sampai jumpa di chapter berikutnya :D

Meirin : Chapter depan MikuoKaiko lho~

All : Bye bye semua~