Rhyme A. Black
PresenT
Jatuh Cinta Rupa-Rupa Rasanya
A NaruHina Fanfic
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
WARNING : A. OOC. OOC. OOC. Misstypo. Bahasa agak-sangat Kurang Sopan.
I hope you enjoy this story.
1... 2... 3... TAKE... ACTION!
~0O0~
Chapter II : Pecahkan Saja Rasa Tidak Percaya Dirimu Biar Ramai!
~0O0~
Naruto tidak lagi berkonsentrasi pada ramen yang sudah setengah jalan ia habiskan. Matanya mencuri-curi pandang pada sosok gadis yang baru saja memasuki kantin dan duduk tidak jauh dari tempatnya. Gadis itu cenderung lebih diam dari teman-temannya yang cerewet dan genitnya minta ampun itu. Gadis berambut panjang itu hanya sesekali menanggapi dan tersenyum kecil, membuat Naruto yang sedari tadi memperhatikannya jadi tersenyum-senyum sendiri.
"Ih, kenapa lo? Kerasukan?" tanya Chouji yang merasa heran ketika melihat Naruto tak lagi semangat memakan ramennya dan malah senyum-senyum sendiri.
"Ah, ngasal lo." tukas Naruto, kembali tertarik dengan ramennya.
Lee yang duduk di hadapan Naruto menoleh ke belakang mengikuti arah pandangan Naruto tadi dan mendapati Hinata duduk dua meja di antara mereka. "Ohh... lagi merhatiin dia toh."
"Siapa sih?"
"Itu loh, Ndut. Incerannya nih setan. Aduuuh!" jawab Lee santai yang secara spontan dihadiahi jitakan sumpit di kepalanya.
"Ohhh, yang itu toh." Sahut Chouji, menatap Hinata dan tahu-tahu berteriak. "Hinata cantiiikkk! Naruto naksir nih!"
"Brengsek, berisik banget sih lo!"
Hinata dan teman-temannya langsung saja menoleh ke arah Naruto yang sedang memiting kepala Chouji, yang sedang berada di dalam kantin menyoraki dan bersuit-suit ria kepada Hinata yang langsung berpura-pura sibuk dengan mie ayamnya. Sementara Sakura dan Ino malah memberikan tatapan sinis pada cecunguk pembuat onar dan tidak tahu malu itu.
"Dasar norak!" desis Ino, "kampung deh."
"Ck, gue gak pernah ngerti dengan selera lo terhadap cowok, Ta." sambung Sakura, meminum es teh-nya.
"Iya, padahal yang mau sama lo kan banyak. Malah suka cowok badung begitu..."
Hinata mengunyah makanannya tanpa berniat membalas perkataan teman-temannya. Mau membela diri pun percuma, mereka tak akan bisa mengerti perasaan Hinata. Ia mengunyah buru-buru sembari menahan perasaannya yang bergemuruh. Begitu selesai dengan makanannya, Hinata merogoh sakunya dan menyerahkan dua lembar lima ribuan kepada Karin. "Rin, aku bayarnya nitip ya. Aku mau ke perpus dulu. Duluan ya, semua." Hinata segera melangkahkan kakinya keluar kantin, membuat teman-temannya saling menatap heran satu sama lain.
"Kalian sih." Ujar Karin singkat, dan kembali mengunyah Nasi gorengnya.
~0O0~
Sementara itu di kawanan Naruto...
"Ya, dia pergi deh..."
"Gara-gara kalian nih!" Sahut Naruto kesal.
"Ngek, dia jalan sendiri tuh, Nar. Susul gih, mumpung para penyihir itu lagi nggak sama si Tuan Putri." cetus Lee.
"Nggak deh, ntar dia ogah ketemu gue." ujar Naruto, kembali sibuk dengan ramennya. Melampiaskan rasa kecewanya karena tak bisa melihat diam-diam si pujaan hatinya lebih lama lagi.
Lee memutar matanya yang belo itu, "kayaknya susah banget ya buat lo ngedeketin dia? Nar gue kasih tahu ke lo ya, dia tuh naksir sama lo! Dia juga suka sama lo! Lo tinggal deketin dia aja."
"Nggak usah mengada-ada deh, gak mungkin suka sama gue."
Chouji yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka berdua tiba-tiba saja menggebrak meja. "Naruto, lo ikut gue."
"Kemana?" tanya Naruto defensif. Nih gajah Thailand mukanya serius banget, pasti ada apa-apanya nih.
"Ntar juga pasti lo tahu. Lee, bantuin gue nyeret nih beruk kampung." Lee dengan senang hati menyeret Naruto ke luar kantin, diikuti Chouji yang mendorong punggung Naruto. Dia sudah tahu kemana Chouji akan membawa mereka. Perpustakaan.
Bukan apa-apa, mereka sudah tahu kemana Hinata pergi. Sejak mereka menjejakkan kaki di SMAN Konoha ini, telinga mereka sudah dijejalkan segala macam fakta tentang Hinata. Naruto yang nota benenya naksir Hinata sejak MOS selalu saja menyampahi telinga mereka dengan cerita-cerita mengenai 'Hinata begini, Hinata begitu'. Sahabat mereka itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hinata, namun sayangnya, pemuda yang dikenal suka bikin onar itu selalu saja kurang pede bila dihadapkan pada hal-hal yang berbau cinta-cintaan.
Bukannya mereka kurang kerjaan sampai-sampai mengurusi urusan hati dua anak manusia itu. Fakta bahwa Hinata juga menyukai Naruto membuat Lee dan kawan-kawan semangat untuk mendorong Naruto menyatakan perasaannya. Tapi apa daya, rasa percaya diri Naruto yang melewati -100 kalau sudah perhubungan dengan Hinata itu membuat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Mau mendekati Hinata juga percuma, karena ketiga penyihir yang selalu mendempeti Hinata pergi kemana-mana membuat mereka susah untuk mengorek informasi dari Hinata mengenai perasaannya pada Naruto.
Cinta selalu bisa memutar balikkan segala hal. Naruto yang dikenal tidak takut apapun terpaksa harus puas dengan hanya bisa memandangi gadis pujaannya dari jauh. Untuk yang namanya urusan hati memang tidak bisa dipandang enteng, bahkan untuk cowok berantakan macam Naruto. Dia dikenal tak takut apa pun dan pantang malu, namun menyatakan perasaan pada perempuan yang disukainya saja tidak bisa. Bagi Naruto, perkara menyatakan cinta tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, mengedipkan mata dan buang kentut. Untuknya, menyatakan cinta perlu persiapan yang tidak main-main, ia butuh menguatkan mental, dan untuk saat ini, dia tidak punya mental untuk mendengar penolakan dari gadis pujaannya itu.
Penolakan?
Iya penolakan. Naruto kalau menyatakan perasaannya pada Hinata pasti akan berbuah penolakan. Mana mau Hinata dengan makhluk sepertinya?
Begitulah pemikiran Naruto.
Pemikiran paling durjana, paling kafir, paling syirik sejagat raya. Kenapa? Karena dia sudah berani menarik kesimpulan tanpa melihat secara keseluruhan apa yang sebenarnya terjadi. Atau, dalam istilah religiusnya (jiaahhhh), dia sudah melangkahi kehendak Tuhan. Apalah itu suudzon. Berprasangka. Berspekulasi yang tidak-tidak.
Atau, dalam istilah gahulnya, sok tahu!
Karena ia sudah sok tahu terhadap perasaan Hinata padanya.
"Lho, ngapain kita ke perpus?" tanya Naruto begitu Lee menyeretnya ke tempat yang jarang ia singgahi itu (kecuali untuk memperhatikan Hinata secara diam-diam tentunya).
"Comel lo. Diem aja dah" Chouji memiting leher Naruto dan menggiringnya melewati penjaga perpustakaan yang menatap mereka dengan pandangan heran. Si pemuda berbadan dua, eh bertubuh gendut itu berhenti di Fiction Section, salah satu sudut yangs sering ditongkrongi Hinata. Begitu melihat siluet gadis berambut panjang itu, sontak Chouji langsung menyentakkan tubuh Naruto ke depan, membuat Naruto menabrak rak buku yang ada di dekatnya. "Good luck, boy!"
"Aduuuh, taek lo—" maki-makian yang akan dilancarkan Naruto berhenti di ujung lidah begitu melihat wajah Hinata yang kini bersemburat merah hanya berjarak beberapa inchi dari wajahnya.
'Manisnya...'
Naruto langsung saja menggeleng-gelengkan kepalanya, nyengir kuda sembari menjauhkan wajahnya dari Hinata yang entah mengapa berdiri mematung di depannya. "Sori Hinata, maaf maaf tadi ada yang ngedorong aku."
Shit! malah pake gagap.
"Ehmmm, i...iya, ng...nggak apa-apa, kkok..."Hinata kembali sibuk atau lebih tepatnya berpura-pura sibuk dengan rak buku yang ada di depannya. Hatinya sudah cenat-cenut tak karuan.
Naruto hanya bisa menggaruk-garuk belakang kepalanya, lalu ikut-ikutan memilih-milih buku yang tampak menarik untuknya. Tetapi, lagi-lagi Naruto harus dibuat kaget begitu wajah Chouji dan Lee muncul dari celah-celah di rak buku.
"Ajakin dia ngomong dong!"
"Kesempatan boy, kesempatan!"
Naruto memelototi wajah-wajah jahil itu, lalu beralih ke samping dan mendapati Hinata sedang memandanginya. Hinata yang kedapatan sedang memperhatikan si pirang itu cepat-cepat menundukkan kepalanya. Aduh ini kenapa nih Hinata nunduk-nunduk terus? Takut ya, ngeliat dia?
"Err... Hinata." panggil Naruto dengan nada yang bisa dibilang lembut.
"A..ada apa, Nnaa.. Naruto?"
"I... ini." tangan Naruto yang terbungkus kulit kecoklatan menyodorkan selembar sapu tangan ungu, benda yang beberapa hari lalu dipinjamkan oleh Hinata sekaligus benda bersejarah baginya.
"Tid... tidak usah. Itu untuk Naruto saja." tolak Hinata, berupaya menekan kegugupan dalam suaranya.
"Tapi ini kan punya kamu," kata Naruto lagi, memandangi gadis yang menunduk di depannya itu. Entah mengapa, gadis itu selalu saja seperti itu, enggan untuk menatap Naruto. Takut kah gadis itu padanya? Jadi, selama ini perkiraan Lee dan Chouji itu salah dong? iya kan?
Hinata menggeleng, masih belum berani membalas pandangan Naruto. "Untuk Naruto saja."
"Nggak bisa kayak gitu dong. Aku kan cuma minjem—"
"Hinata," satu suara yang berat menyela pembicaraan mereka. Dua orang itu menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pemuda berambut merah sedang berdiri tak jauh dari posisi mereka.
"Gaara..."
"Nih, gue udah dapat bukunya. Kamu mau yang mana? Yang jilid satu atau dua?" tanya pemuda yang dipanggil Gaara, tidak mempedulikan Naruto yang tampak terusik dengan kehadirannya. Cemburu nih yeee.
"Ehmmm, sa... satu." jawab Hinata pelan, lalu beralih pada Naruto. "Na.. Naruto, aa...aku dd...duluan ya." sambungnya sambil melambai pelan lalu berjalan ke arah Gaara yang sudah duluan ke salah satu meja di perpustakaan, menunggu Hinata duduk di sampingnya.
Naruto hanya bisa memandangi mereka dari jauh. Hinata yang tampak begitu akrab dengan Gaara, salah satu cowok yang paling pintar dan dianggap paling keren di kelas mereka. Tangan Naruto terkepal kuat, ia tahu dia tidak akan punya kesempatan. Hinata itu sempurna, dan tentu saja gadis sempurna akan memilih pasangan yang sempurna pula. Dan sempurna bukanlah kata yang bisa mewakili Naruto. Dia jauh, jauh dari sempurna.
Dia sudah sering merasakan hal seperti ini. Patah hati berkali-kali dengan orang yang sama. Rasanya begitu menyakitkan jatuh cinta dengan orang yang ditakdirkan bukan untuk kita miliki. Kalau bisa, ia ingin menghilangkan perasaan ini. Perasaan yang selalu membuatnya merasa kecil dan tidak berguna. Cinta ada bukan untuk orang-orang seperti dia.
Lagi pula siapa dia, sampai mimpi bisa mendapatkan Hinata?
~0o0~
Hinata baru saja pulang dari les Pianonya. Biasanya, sehabis les dia akan langsung pulang ke rumahnya. Namun sejak beberapa minggu terakhir ini dia selalu saja menyempatkan dirinya untuk singgah ke salah satu kedai kopi yang terletak tidak jauh dari tempat lesnya. Dia pergi ke kedai kopi itu bukan tanpa alasan, dia juga tidak fanatik-fanatik amat sama yang namanya kopi. Hanya saja sewaktu pertama kali ia datang ke tempat itu bersama teman-teman lesnya, dia merasa saat itulah Tuhan mengabulkan doa-doanya selama ini.
Saat itu, ketika ia dan teman-temannya hendak menuju kasir, pintu masuk menjeblak terbuka dan sosok pemuda yang selama ini selalu menghantui pikiran Hinata muncul dari balik pintu itu. Tanpa melihat kanan-kiri, pemuda bermata biru itu berjalan teburu-buru menuju bagian belakang kedai kopi itu. Dengan sengaja Hinata melambatkan transaksinya, berpura-pura menghitung uang, bahkan meminta teman-temannya pulang duluan, berharap agar ia bisa melihat kembali kemunculan Naruto yang tidak diduga-duga itu. Sekaligus ingin memuaskan rasa ingin tahunya sedang apa Naruto di tempat itu. Dan mungkin hari itu adalah hari keberuntungan Hinata, Saat sedang berpura-pura menghitung uang kembaliannya, Naruto muncul dengan kemeja putih dan celana panjang hitam sementara kedua tangannya sibuk mengikatkan celemek hitam ke pinggangnya.
"Nona, apa ada yang salah?" tanya kasir kedai kopi saat itu. Hinata menggeleng pelan, lalu berjalan lambat-lambat dengan mata yang sesekali melirik ke arah Naruto yang cekatan meracik minuman.
Ketika sampai di luar pun, Hinata tidak langsung pulang. Dia malah berdiri memandangi Naruto dari balik kaca jendela besar di kedai yang berhadapan langsung dengan jalanan. Saat itu Naruto begitu sibuk meramu satu pesanan seorang tamu kedai. Naruto terlihat begitu serius mengerjakan racikan kopinya, jauh berbeda dengan yang biasanya Hinata lihat di sekolah. Namun, entah mengapa hal itu semakin menambah kekaguman Hinata kepada Naruto. Di saat orang-orang seumurnya masih bergantung pada orang tua, Naruto sudah bisa bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sosok Naruto selalu saja mengundang kekaguman Hinata. Naruto terlihat begitu bersinar. Naruto yang penuh semangat, selalu tersenyum, bebas dan hidup tanpa beban. Sangat berbeda dengan dirinya yang selalu terikat dengan aturan dan hidup penuh kekangan orang tuanya. Meskipun selalu berbuat onar, Naruto tidak serta merta tak punya kelebihan. Naruto terlihat begitu berkharisma ketika berhadapan dengan bidang yang disukainya. Naruto sangat pintar dalam pelajaran seni, terutama bermain gitar. Naruto bisa menjadi sangat berbeda ketika berhadapan dengan alat musik bersenar itu. Apa lagi saat cowok itu bermain gitar sembari menyanyikan lagunya Secondhand Serenade yang Fall For You. Naruto keren sekali, romantis dan hihihihi… tampan! Pernah suatu waktu saat Naruto tampil di pensi sekolah (setelah dirong-rong oleh teman-temannya untuk manggung), sewaktu pemuda itu menyanyi dan melihat ke arahnya—menurut Hinata, Naruto melihat ke arahnya—cowok itu tersenyum padanya, dan terus-terusan saja menatapnya! Menurutnya.
Hinata menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lamunannya tentang Naruto mulai menyebar ke mana-mana. Pipinya putihnya tersepuh warna merah gara-gara memikirkan pemuda pujaannya itu, dan jantungnya meloncat-loncat di dalam dadanya. Bahkan hanya dengan memikirkannya membuatnya menjadi seperti ini.
Hinata sudah sampai pada belokan terakhir yang akan membawanya ke kedai kopi tempat Naruto bekerja sampai sesuatu menghentikan langkahnya. Untuk beberapa saat ia mematung, memandang tak percaya pada apa yang terjadi tak jauh di depannya, lalu detik berikutnya Hinata menggeser tubuhnya dan bersembunyi di balik tiang beton yang menempel pada bangunan yang ada di dekatnya.
Ia menyeka rambut panjangnya, pelan-pelan menatap ke depan dari balik tiang persembunyiannya. Di ujung jalan sana, didapatinya Naruto yang berseragam pegawai kedai kopi sedang berjongkok di depan kardus coklat. Dua ekor kucing berbulu kuning belang-belang putih nampaknya sedang menikmati susu dari dalam wadah plastik yang ada di dekat kaki Naruto. Hinata benar-benar memperhatikan bagaimana Naruto mengelus-elus kepala kucing yang terlihat begitu mungil di tangan kekarnya. Dia terlihat begitu penuh kasih sayang. Lagi, Hinata menemukan nilai plus dalam diri Naruto. Hinata berdiam di sana selama beberapa saat, memandangi Naruto yang kini semakin hihihi… tampan dengan rambut pirang cepaknya yang beberapa waktu lalu dipotong itu.
Manik keperakannya membulat seketika saat ia merasakan sebuah genggaman di bahunya, ia menoleh cepat dan didapatinya seorang pria berjanggut sedang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Permisi, nona." kata pria itu dengan sopan. "Anda menghalangi pintu masuk rumahku." lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu besi keabu-abuan yang ada di belakang Hinata.
"Aaaa... Ma... maaf!" ucap Hinata cepat-cepat sembari membungkukan badannya berkali-kali. Segera ia menggeser posisi berdirinya, dan memberikan kesempatan pada pria berambut coklat itu untuk membuka pintu rumahnya.
Sesaat Hinata benar-benar lupa kalau Naruto juga ada di sekitar tempat itu.
"Hinata?" suara serak itu menyentakkan pikiran Hinata. Gadis berambut panjang itu menoleh dengan gerakan patah-patah, melihat Naruto berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Rasa panas merembesi wajah Hinata, membuat putih pualam itu tersepuh dengan rona merah muda. Naruto tengah nyengir kepadanya dan hal itu membuat hatinya kebat-kebit. Tangannya yang mulai berkeringat meremas gelisah pegangan tas tangannya, sesaat mata mereka bertemu namun Hinata cepat-cepat menurunkan wajahnya. Hinata benar-benar bingung harus berbuat apa karena kejadian ini tidak pernah ada dalam rencananya. Tadinya dia hanya ingin masuk ke dalam kafe, duduk di kursi paling pojok sembari berpura-pura membaca majalah—padahal sebenarnya sedang memperhatikan si barista remaja muda ganteng sedang bekerja. Stalker, menurutmu? Stalker? Iya, Hinata mengaku. Dia stalker. Stalkernya Naruto. Mending dia ngaku deh daripada bohong-bohong. Tapi kalian jangan bilang ya, sama sahabat-sahabatnya yang lain mengenai kelakuan nista si Tuan Putri ini.
"Hai," sapa Naruto, tersenyum kikuk.
"Na... Naru... H... Hai!" tergagap, Hinata menjawab cepat. Aduh, Naruto tersenyum padanya dan Hinata merasa dia akan pingsan sekarang juga. Tanpa melihat Naruto ia melambai singkat, berbalik dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Naruto yang kebingungan melihat tingkahnya.
Yang kemudian dia sesali kelakuannya. Mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia tidak bisa santai saja menghadapi naruto? Mengapaaaa?
~0O0~
Naruto menerawang langit-langit kamar kost-nya, Berbaring dengan menjadikan tangan kirinya sebagai bantal, sementara tangan kanannya menggenggam sehelai sapu tangan berwana ungu muda. Pikirannya berkelana pada kejadian tadi sore di tempatnya bekerja. Wajah yang dihiasi tiga garis di masing-masing pipi itu tersenyum-senyum sendiri, tangannya sibuk menggaruki bagian belakang kepala, gelisah sendiri.
Entah kebetulan macam apa yang mempertemukan mereka tadi, meskipun hanya saling menyapa dua patah kata, rasa-rasanya seperti ada yang meledak di dalam dirinya saat ia menatap wajah jelita gadis itu.
Namun, keadaan berbunga-bunga yang membuat cowok tujuh belas tahun itu serasa Superman yang baru saja menyelamatkan Lois Lane langsung meredup ketika pikirannya terus berjalan ke akhir pertemuan singkat mereka tadi. Saat Hinata tergagap membalas sapanya dan langsung kabur begitu saja, membuat rasa percaya diri Naruto menurun drastis. Jebol ke angka -100.
Siapa sangka Hinata akan berlari ketakutan saat melihatnya?
Naruto bangkit dan menudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidurnya, manik kebiruan itu menatap dalam-dalam pantulan dirinya di dalam cermin persegi yang ada di meja belajarnya yang berantakan.
"Apa wajahku begitu menyeramkan? Apa aku begitu memalukan untuk didekati?" tanyanya entah pada siapa. Kepalanya menunduk, tangannya meremas sapu tangan 'pemberian' Hinata. Ia nyengir lebar, lalu beberapa detik kemudian berganti senyum sinis.
Aiiih... serumit ini kah cinta? Bagaimana caranya sebuah cinta bisa mengubah bahagia menjadi sedih? Mengganti manis dengan kecut?
"Tuhkan," katanya kepada sapu tangan yang ia angkat tinggi-tinggi. "Aku mengharap pemilikmu lagi. Aku menginginkan pemilikmu lagi. Tapi dia jauh sekali."
~0O0~
Bersambung? Bersambung? Bersambung?
Nggak deh. Nggak bersambung. Udah tamat.
Tapi bohong!
Author's side
Naruto bisa main gitar? Hanjeeerrrr…. Impian anak SMA banget guaaa. Teenlit binggooooo~~~
Dah, Maafkan atas deskripsi kampret saya untuk beberapa bagian yang tampak mustahil di fanfik ini, anggap saja lah ada hope insert saya di sini. Yang naksir cowok yang bisa main gitar. Yang langsung balik badan maju lari pas ketemu dengan gebetan. Hhahahhahaha.
Oke stop.
Ini dia chapter kedua. Masih seperti yang chapter satu, dia diberhentikan pada bagian yang heeemmmm masih membuat bingung. Mau berhenti di sini, tak ada bagian yang membuat teman-teman untuk penasaran. Mau dilanjut ke adegan selanjutnya, adegan selanjutnya nggak oke buat ditaruh di sini. Jadi ya sudah, ambil opsi pertama saja, dengan harapan teman-teman tidak bosan baca fanfik ini. Maklum, menurut pendapat beberapa orang, katanya cerita saya ini cenderung datar gitu. Minim konflik.
Masalahnya, saya nggak suka konflik. Saya suka yang flat. Yang datar kayak papan cucian.
Jadi, kalau teman-teman berpikir akan ada konflik yang waw bingo OMG yang sampai bisa bikin pusing pala Megatron, I'm sorry. I can't give you a drama. Saya belum bisa kasih tulisan tebing terjal untuk kalian baca. Saya belum siap menyiksa Mas Naruto dan Mbak Hinata saya iniiihhh. Hohohoho.
Terusss, kalau mungkin teman-teman mau, saya butuh saran dan kritik kalian. Kira-kira, apa-apa saja yang kurang dan yang perlu ditambahkan dalam fanfik saya ini. Yaahhh, apa-apa yang ada dalam pikiran kalian lah.
Heheheh.
So, terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca chapter dua ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Balasan Review:
Silent Reader : Iyaaa, ini sudah update. Hehehe, makasihhh :D
Hqhqhq: Hahaha, syukurlah kalau culu. Padahal aku sempat mikir ini garing. Makasih reviewnya kakaaaa! :D
Sinoy : iYaapp, ini sudah dilanjut kakaaa :D
Nanananaha : Yahh, di sini memang Naruto sifatnya kurang percaya diri gitu deh kalau berhadapan dengan Hinata. Hohohoho…
Narsiezzz dikit gak papa, yaphz?
NaruHina, The Greatest Pairing...
Ever After...
*Sewotkah bos? Goreng aspal! Wakakkaka...*
