Sweet Jung

Our Story

Na Jaemin/Ji Jaemin

Lee Minhyung/Mark Lee

Lee Jeno

Huang Renjun

– Chapter 2: Far Away –

"In case you go far away, in case you might dislike me. I wanted to tell you but my lips wouldn't move"

Jaemin mengerjapkan matanya saat cahaya matahari menerobos masuk dari sela-sela tirai yang terpasang di jendela kamarnya. Ia segera bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Tidak butuh waktu sampai 15 menit, Jaemin sudah keluar dari kamar mandinya dan segera membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju seragam berwarna putih dengan celana hitamnya. Ia segera memakai seragamnya dan menyisir rambut basahnya yang mulai agak kering dan mengambil tas hitamnya dan keluar dari kamarnya menuju ke arah dapur. Jaemin melihat Hina dan sang ibu sedang mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga mereka.

"Pagi, Umma!" sapa Jaemin kepada ibunya yang sedang meletakkan nasi goreng di meja makan. Ibunya segera menyambutnya dengan senyum di wajahnya. "Pagi juga, Sayang! Ayo sarapan dulu!" sang Ibu mengajak Jaemin untuk duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. Hina yang baru saja selesai mencuci tangannya langsung ikut mendudukkan dirinya di sebelah Jaemin.

"Nanti saat di sekolah jangan asal pergi saya ya, Jaem. Kalau kau tersesat nanti aku yang juga repot. Kau kan buta arah," ujar Hina tiba-tiba sambil menyendok nasi gorengnya. Jaemin mengangguk mendengar perkataan Hina. Jaemin memang buta arah karena itu Hina sangat menjaga Jaemin dengan sangat ketat. Yuta yang melihat kedua anaknya makan dengan tenang hanya bisa tersenyum. Hina sangat perhatian dan menjaga Jaemin dengan baik. Ia bahkan rela mempelajari karate yang menurutnya selain bisa untuk melindungi dirinya juga bisa untuk melindungi adik kesayangannya.

"Oh ya, Umma. Kapan Appa akan pulang dari Jepang?" tanya Jaemin. "Kemarin Appamu menelepon Umma dan ia bilang mungkin dua hari lagi baru pulang. Kenapa? Kau kangen ya?" jawab Yuta sambil menggoda Jaemin sementara yang digoda hanya mengangguk. "Bagaimana aku tidak kangen dengan Appa. Dia kan di Jepang sejak bulan lalu dan sekarang aku dan Hina noona akan masuk ke sekolah menengah pertama tanpa diantar oleh Appa." ujar Jaemin.

"Kau tenang saja, Jaemin-ah. Kan tinggal dua hari lagi. Sekarang lanjutkan makanmu, ya. Biar nanti Woo ahjussi yang mengantar kalian ke sekolah." Yuta langsung mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali menikmati makanan yang berada di depan mereka.

Hina dan Jaemin sampai di sekolah mereka tepat pukul 7.00. Mereka berjalan di koridor sekolah menuju ke arah aula. Di depan aula, Donghyuk dan Renjun sudah menunggu mereka. "Hina! Jaemin! Kesini!" seru Donghyuk memanggil dua sahabatnya tersebut. Hina dan Jaemin yang dipanggil oleh Donghyuk segera mempercepat langkah mereka menuju ke arah Donghyuk dan Renjun. "Jam berapa acara penyambutan murid baru?" tanya Hina kepada Donghyuk sementara yang ditanya langsung melihat jam tangannya. "Jam 7.30. Setengah jam lagi mungkin kita sudah dipanggil oleh panitia," jawab Donghyuk. Hina pun mengangguk.

"Ngomong-ngomong Jeno di mana?" tanya Hina lagi kepada Donghyuk. "Aku belum melihatnya dari tadi. Saat datang ke sini aku baru melihat Renjun," jawab Donghyuk. "Lagipula aku kira dia akan bersama kalian apalagi kan dia sering ke sekolah bersama kalian waktu SD dulu." lanjutnya.

"Aku juga agak merasa aneh dengannya. Akhir-akhir ini dia terkesan menjauh. Dia bahkan tidak pernah mampir lagi ke rumah kami. Tapi, Jaemin-ah bukankah kau sering ke rumah Jeno. Dia ada masalah dengan kami sampai menjauhi kami?" jawab Hina sambil melontarkan pertanyaan kepada Jaemin. Jaemin yang ditanya seperti itu langsung gugup. "Eung, sebenarnya aku ke rumah Jeno karena Mark hyung. Tapi, saat aku mau bermain dengannya dia menghindar bahkan tidak melihat wajahku barang sedikitpun. Aku juga bingung. Ya, mungkin dia ada masalah tapi biasanya dia akan cerita padaku tapi sekarang tidak." jawab Jaemin.

"Jadi, kau ke rumah Jeno karena diajak Mark hyung? Kok aku baru tahu kalian dekat?" tanya Donghyuk. "Sebenarnya aku dekat dengan Mark hyung karena aku juga sering ke rumah Jeno, sih. Dia juga sering menjemputku waktu aku ikut pelatihan untuk lomba cerdas cermatku." jawab Jaemin. "Aku kok tidak tahu kau sering dijemput Mark oppa?" tanya Hina dengan muka bingung. Wajah Jaemin jadi sedikit gugup, "Dia datang sendiri waktu itu jadinya kami pulang bersama." jawab Jaemin.

Pembicaraan mereka harus berakhir karena suara panitia yang menyuruh siswa baru masuk ke dalam aula untuk upacara penyambutan siswa baru. Renjun yang sedari tadi diam langsung mengajak ketiga sahabatnya untuk masuk. Mereka duduk dan mulai memfokuskan diri mereka ke arah podium.

Sementara itu, Jaemin yang baru saja selesai menaruh tasnya di bawah dan mengangkat kepalanya langsung terkejut melihat Jeno. Ia memandangi Jeno yang duduk jauh dari mereka berempat. Jeno yang merasa ditatap oleh seseorang segera mengarahkan pandangannya kepada orang tersebut yang ternyata adalah Jaemin. Ia memandang Jaemin dengan tatapan dingin. Tatapan yang belum pernah dilihat Jaemin dari Jeno kepadanya. Belum sempat Jaemin membuka mulutnya untuk memanggil nama Jeno harus menelan kekecewaan karena Jeno langsung mengalihkan pandangannya dan menatap podium dengan masih memasang tatapan dinginnya.

Jaemin bingung. Jeno berubah. Apa benar dia ada masalah? Dengan siapa? Apa dengan mereka berempat? Tapi apa masalahnya?

Jaemin masih menatap Jeno yang masih menatap podium. Sesaat ia merasa ada perasaan aneh saat Jeno memperlakukannya seperti itu. Ia merasa kosong. Ia tidak tahu, tapi hatinya benar-benar kosong saat Jeno menjauhinya seperti ini. Ia baru menyadari kalau semenjak Mark hyung pulang, Jeno sudah menjauhinya. Mereka bahkan tidak pernah bertegur sapa saat di sekolah dulu. Pulang bersamapun sudah tidak pernah. Bahkan saat acara kelulusan, Jeno malah menjauhinya. Ia memilih duduk jauh dari Jaemin. Saat Jaemin ke rumahnyapun Jeno hanya mendiaminya lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Sejak itu, Jaemin tidak pernah masuk ke kamar Jeno. Bahkan saat Jaemin bertanya kepada Mark hyung dia selalu menjawab tidak tahu.

Jaemin bingung. Dia rindu Jeno yang dulu. Jeno yang selalu berjalan bersamanya. Jeno yang selalu tersenyum untuknya. Bukan Jeno yang mendiamkannya seperti ini. Sepertinya Jaemin akan menanyakannya kepada Jeno nanti.

Melihat Jaemin yang tidak fokus dengan sambutan kepala sekolah membuat Hina langsung mencolek bahunya. "Kau melamun? Fokus dulu baru nanti melamunnya." ujar Hina. Jaemin langsung mengangguk dan kembali memfokuskan dirinya sambil melirik ke arah Jeno sebentar. Jaemin tidak menyadari bahwa sesaat setelah ia mengalihkan pandanganya ke arah podium, Jeno meliriknya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.

Setelah upacara penyambutan siswa baru selesai, keempat sahabat tersebut segera berlari ke arah papan pengumuman untuk melihat kelas mereka sesuai dengan informasi dari ketua panitia saat di aula tadi. "Hina-chan! Kita sekelas!" seru Donghyuk. "Mana-mana? Ah, iya benar kita sekelas. Sayang sekali, kita tidak sekelas Jaemin-ah." ucap Hina dengan nada sedih. Jaemin hanya tersenyum lalu kembali melihat ke arah papan pengumuman.

"Ah! Ini dia namaku! Wah! Aku sekelas denganmu, Renjun-ah!" seru Jaemin senang. Renjun langsung melihat ke arah kertas yang bertuliskan nama siswa baru tersebut dan mendapati namanya di kelas yang sama dengan Jaemin. "Akhirnya kita sekelas lagi, Jaemin-ah." ujar Renjun sambil tersenyum. Jaemin mengangguk. Tanpa sengaja ia melihat nama seseorang yang akhir-akhir ini menjauhinya.

Lee Jeno.

"Jaemin-ah. Jeno sekelas dengan kita, loh!" ucap Renjun riang. Jaemin hanya membalas dengan senyuman kecil. Ia mencari Jeno di antara kerumunan tersebut dan ia menemukannya.

Lagi. Jeno menatapnya dengan tatapan dingin lalu dengan segera Jeno mengalihkan pandangannya dari Jaemin. Lebih tepatnya membuang muka. Jaemin langsung tertunduk dan diam hingga akhirnya Renjun menariknya keluar dari kerumunan manusia tersebut.

Jaemin yang kaget dengan Renjun yang menarik tangannya langsung menatap Renjun dengan tatapan 'mengapa kau menarikku?'. Renjun yang mengerti tatapan Jaemin langsung menjelaskan alasannya, "Kita sudah dipanggil kakak panitia untuk masuk ke kelas masing-masing. Dari tadi aku sudah memanggilmu tapi kau tidak menyahut jadinya aku menarikmu dari sana."

"Maaf. Tadi aku agak sedikit pusing jadi aku tidak mendengarmu." Bohong Jaemin kepada Renjun yang langsung memasang wajah khawatirnya. "Kau pusing? Mau ke UKS?" tawar Renjun yang disambut gelengan kepala oleh Jaemin. "Tidak usah, Jun-ah. Lebih baik sekarang kita masuk saja."

Renjun dan Jaemin pun memasuki kelas mereka. Dapat mereka lihat kelas yang kini berisi 28 siswa tersebut mulai dimasuki satu persatu siswa baru dan kini hanya tersisa dua kursi kosong. Renjun yang langsung ditawari bangku di sebelah seorang siswi bernama Jinsol segera menduduki bangku tersebut. Sementara Jaemin masih mencari tempat duduk kosong dan ia menemukan kursi kosong di urutan paling belakang bersama dengan seseorang yang sedari tadi menatapnya dingin yang kali ini lebih tertarik dengan pemandangan di luar kelasnya. Lee Jeno. Nama itu terus berputar di pikiran Jaemin. Ia mendudukkan dirinya dengan sedikit ragu. Dan seketika atmosfer di antara mereka berdua menjadi berbeda. Jaemin jadi merasa canggung dengan Jeno. Ia baru saja mau menyapa Jeno saat kakak-kakak kelas yang akan memandu mereka untuk perkenalan sekolah datang dan menyapa mereka.

Saat mendengar kakak kelas menyapa mereka, Jeno langsung membalikkan pandangannya ke arah depan tanpa mempedulikan Jaemin yang masih menatapnya. Jaemin yang merasa didiamkan oleh Jeno langsung menghela napasnya dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan sama seperti Jeno.

Di lain pihak, Renjun yang melihat kedua temannya sedari tadi hanya bisa diam. Sebenarnya dia tahu apa yang menyebabkan Jeno menjadi seperti itu. Ia tahu berapa lama Jeno menunggu Jaemin saat ia sedang berlatih untuk lomba cerdas cermatnya. Ia tahu betapa inginnya Jeno pulang bersama Jaemin saat itu dan betapa kecewanya Jeno melihat Jaemin lebih memilih pulang bersama Minhyung. Renjun langsung menghadap ke depan saat Jinsol, teman sebangkunya menyuruhnya untuk menghadap ke depan.

Saat ini sudah menunjukkan pukul 11.30, seluruh siswa di kelas Jaemin diperbolehkan keluar untuk beristirahat. Jaemin baru saja akan bangkit dari tempat duduknya saat Jeno berdiri dan segera keluar dari kelas tersebut tanpa memandang Jaemin bahkan melewati Renjun begitu saja. Renjun segera menuju ke arah Jaemin sambil memasang wajah bertanya-tanya yang dibalas dengan gelengan kepala Jaemin. Ia pun segera mengajak Jaemin menuju kantin saat mendengar suara Donghyuk dan Hina memanggil mereka.

Kantin sudah mulai penuh saat mereka datang. Beruntung mereka menemukan meja untuk mereka tempati. Setelah bergantian untuk membeli makanan, mereka pun menikmati makanan yang sudah mereka beli. "Bagaimana suasana kelas kalian?" tanya Donghyuk kepada Jaemin dan Renjun. "Kelas kami menyenangkan. Tadi, Lee Chan sunbaenim dan Yerim sunbaenim sangat lucu. Tapi," Renjun menggantung jawabannya. "Tapi kenapa, Jun-ah?" tanya Hina.

"Tapi, tadi Jeno mendiamkan kami bahkan Jaemin yang duduk sebangku dengannya," lanjut Renjun.

Mendengar jawaban Renjun, Hina dan Donghyuk langsung menoleh ke arah Jaemin. "Benar seperti itu, Jaemin-ah?" tanya Donghyuk yang dibalas anggukan oleh Jaemin.

"Dia kenapa, sih? Dari sejak kakaknya pulang dari Kanada dia masih bermain dengan kita tapi seminggu kemudian dia jadi menjauh dari kita. Bahkan saat kelulusan pun dia malah mencari tempat duduk yang jauh dari kita! Dia ada masalah apa dengan kita sebenarnya?" ujar Hina dengan nada kesal. Jujur ia bingung mengapa Jeno jadi berubah seperti itu. Hina jadi melihat Jeno seperti orang asing.

"Lalu kita harus apa?" tanya Donghyuk kepada Hina.

Hina menghentikan sebentar kegiatan makannya. Ia lalu menjentikkan jarinya, "Aku tahu! Bagaimana jika kau menanyakannya kepada Mark oppa mengapa Jeno seperti itu." ucap Hina sambil menunjuk Jaemin dengan sumpitnya. Jaemin menatap malas sang kakak.

"Bukankah aku sudah bilang kalau Mark hyung pun tidak tahu mengapa Jeno jadi berubah seperti itu." Balas Jaemin. "Betul juga, ya. Atau kau suruh saja Mark hyung bertanya kepada Jeno apa alasan dia menjauhi kita," saran Hina. Jaemin juga sebenarnya sempat memikirkan hal tersebut. "Baiklah. Kebetulan hari ini aku juga mau ke rumah mereka. Nanti akan kutanyakan kepada Mark hyung."

Mereka berempat pun melanjutkan kegiatan makan mereka hingga akhirnya mereka kembali ke kelas masing-masing.

Jaemin memasuki rumah keluarga Lee dan mengucapkan salam yang dibalas oleh Mark yang saat itu sedang menonton televisi di ruang tamu. Mark yang melihat Jaemin datang segera memanggilnya untuk duduk bersamanya di ruang tamu tersebut. Jaemin pun segera duduk di sebelah Mark dan Mark langsung menarik Jaemin untuk duduk semakin mendekat ke arahnya. Jaemin yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum dan pipinya memerah. Mark yang melihatnya langsung meletakkan tangannya di rambut Jaemin dan mengacak-acaknya hingga menghasilkan erangan kesal dari Jaemin karena rambutnya berantakan. Mark langsung terkekeh kecil.

"Jadi, bagaimana hari pertamamu di sekolah menengah pertama?" Mark membuka percakapan mereka hari itu dengan sebuah pertanyaan. Jaemin terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Mark "Menyenangkan. Apalagi saat sunbaenim yang memandu kami di kelas tadi sangat lucu."

"Sayang kita tidak satu sekolah, ya." ucap Mark. "Tidak apa-apa, hyung. Kan aku masih sering ke rumahmu jadi kita masih bisa bertemu." balas Jaemin. Mark tersenyum dan kembali menatap ke acara televisi yang sedang ditontonnya.

"Hyung," panggil Jaemin kepada Mark sementara yang dipanggil langsung menoleh dari fokusnya. "Ya, ada apa?" tanya Mark. "Aku mau bertanya sesuatu. Boleh?" minta Jaemin kepada Mark. "Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Mark

"Ini soal Jeno." jawab Jaemin. Mark mengernyitkan dahinya bingung. "Memang kenapa dengan Jeno? Dia satu sekolah kan denganmu?" tanya Mark bingung yang disambut anggukan dari Jaemin. "Ya. Jeno satu sekolah denganku dan teman-teman yang lain tapi dia jadi berbeda akhir-akhir ini. Dia jadi menjauhi kami bahkan saat minggu-minggu terakhir kami di sekolah dasar. Dia juga menjauhiku saat kelulusan. Apa dia sedang ada masalah dengan seseorang atau kami, hyung? Aku bertanya seperti ini karena aku tahu hyung adalah kakaknya jadi mungkin saja hyung tahu sesuatu." ujar Jaemin panjang lebar.

Mendengar penuturan dari Jaemin, Mark menjadi bingung. Karena memang sejak seminggu dia datang dari Kanada, Jeno jadi terlihat aneh. Terkadang kalau orangtuanya tidak ada di rumah ia tidak akan menyapa Mark dan langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar hingga waktu makan malam saat kedua orangtuanya sudah pulang. Dia juga baru saja ingin menanyakan kepada Jaemin apakah Jeno memiliki masalah di sekolah atau dengan siapa.

"Sebenarnya hyung juga tidak tahu, Jaemin-ah. Tapi hyung juga merasa Jeno jadi aneh akhir-akhir ini. Ia tidak pernah menyapa hyung bahkan langsung masuk ke kamarnya. Hyung malah mengira dia punya masalah dengan kalian atau orang lain." balas Mark. Jaemin jadi bingung. Jadi sebenarnya ada apa dengan Jeno? Mengapa dia jadi menjauhi orang-orang di sekitarnya? Pengecualian untuk Lami dan kedua orangtuanya karena Jaemin pernah melihat Jeno berjalan dengan Lami ke toko es krim sambil tertawa bersama dan juga tidak mungkin Jeno berani menjauhi kedua orangtuanya.

Mereka berdua larut dalam pikiran mereka hingga mereka mendengar pintu rumah itu dibuka oleh seseorang dan masuklah orang yang sedari tadi mereka bicarakan, Lee Jeno. Jeno baru saja menutup pintu dan matanya langsung berhenti pada pemandangan di depannya. Mark dan Jaemin. Mereka berdua duduk berdekatan dan tangan Mark yang melingkari bahu Jaemin. Jaemin yang melihat Jeno langsung tersenyum dan membuka mulutnya untuk menyapa Jeno "Hai Je-" belum sempat Jaemin menyelesaikan perkataannya, Jeno langsung berjalan cepat menuju ke arah tangga melewati Mark dan Jaemin yang kebingungan dengan tingkah Jeno. Ia lalu memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan sedikit membanting pintu tersebut.

Mark dan Jaemin yang melihat hal tersebut saling melemparkan pandangan bingung. Sementara Jeno di kamarnya langsung membanting tasnya ke lantai dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.

"Maafkan aku, Jaemin-ah. Tapi saat ini aku benar-benar harus menjauhimu."

Saat ini Jaemin sudah berada di rumahnya. Ia duduk di meja makan sambil menunggu ibunya dan Hina menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Jaemin masih memikirkan kejadian di rumah keluarga Lee tadi. Sebenarnya ada apa dengan Jeno? Mengapa dia jadi terkesan menjauhi orang-orang di sekitarnya? Jaemin jadi benar-benar bingung dengan keadaan ini.

"Hei, jangan melamun!" Suara Yuta, sang ibu mengalihkan Jaemin dari lamunannya. Jaemin tersenyum malu kepada ibunya karena tertangkap basah sedang melamun. Yuta yang sedang menaruh sebuah mangkuk besar berisi sup di meja makan tersebut tersenyum kepada Jaemin. "Maaf, Umma." ujar Jaemin. Yuta duduk di depan Jaemin dan Hina yang baru saja datang dengan membawa piring berisi bulgogi segera duduk di sebelah Jaemin. Mereka bertiga segera memakan makanan yang sudah disediakan.

"Tadi kau melamunkan apa sih?" tanya Hina kepada Jaemin sambil menikmati makanannya. "Jeno." jawab Jaemin singkat. Hina mengernyitkan dahinya sebelum bertanya. "Kau tadi sudah bertanya ke Mark oppa?" tanya Hina lagi yang disambut anggukan dari Jaemin. "Lalu?" Hina kembali bertanya lagi. "Mark hyung juga tidak tahu ada apa dengan Jeno. Karena dia sendiri juga merasa Jeno seperti ada masalah." jawab Jaemin.

"Umma," panggil Jaemin kepada sang ibu yang sedari tadi menikmati makanannya sambil mendengar pembicaraan kedua anaknya. "Ya, Jaemin-ah ada apa hm?" tanya sang ibu. "Menurut Umma, jika seseorang menjauhimu tanpa alasan bahkan tidak mau melihatmu atau saat dia melihatmu dia memasang tatapan yang terkesan dingin itu kenapa?" tanya Jaemin meminta pendapat sang ibu.

Yuta terlihat berpikir lalu tersenyum, "Apa yang sedang kau tanyakan ini adalah Jeno?" tanyanya. Jaemin mengangguk. "Menurut Umma, Jeno tidak menjauhimu tanpa alasan tapi dia memiliki satu atau dua alasan mengapa dia menjauhimu. Mungkin saja dia sebenarnya punya masalah denganmu tapi dengan sangat terpaksa dia juga menjauhi orang di sekitarmu agar tidak terhubung dengan dirimu." jawab Yuta. "Bagaimana Umma tahu kalau Jeno juga menjauhi yang lainnya?" tanya Jaemin bingung. Yuta melirik Hina yang kini sedang menggaruk tengkuknya, "Aku terpaksa menceritakan pada Umma. Aku juga penasaran tahu!" ujarnya.

Jaemin tidak peduli dengan kakaknya dulu yang terpenting dia tahu mengapa Jeno menjauhi dia dan teman-temannya yang lain. "Lalu menurut Umma apa alasan dia menjauhiku bahkan teman-temanku?" tanya Jaemin lagi.

Yuta tersenyum penuh arti, "Kalau itu sih lebih baik kau saja yang tanyakan sendiri pada Jeno." jawabnya. "Umma menghancurkan harapanku!" seru Jaemin sementara Yuta dan Hina langsung tertawa melihat Jaemin yang saat ini sedang cemberut sambil menyuapkan makanannya.

"Tapi, benar juga kata Umma. Aku harus menanyakannya sendiri kepada Jeno. Besok aku akan bertanya padanya!" batin Jaemin.

Hari ini Jaemin mulai melancarkan aksinya. Saat di kelas ia terkadang memanggil Jeno walaupun tidak digubris sekalipun oleh Jeno. Dan sekarang adalah jam istirahat. Jaemin baru saja ingin mengajak Jeno untuk pergi ke kantin bersama tapi Jeno langsung berjalan keluar kelas. Jaemin pun langsung mengejar Jeno tanpa menghiraukan Renjun yang memanggilnya dan juga mengikuti Jaemin mengejar Jeharus

Jaemin berhenti di lorong tempat loker siswa kelas 1 dan melihat Jeno sedang berdiri di depan lokernya sedang mengambil sesuatu di dalam lokernya.

"Mengapa kau menjauhiku?" tanya Jaemin to the point. Jeno menghentikan kegiatannya mengambil sesuatu di lokernya.

"Mengapa kau tiba-tiba menjauhiku? Mengapa kau menatapku sedingin itu saat kita saling menatap?"

"Maafkan aku, Jaemin-ah,"

"Apa kau punya masalah denganku? Kalau iya katakan apa salahku?" tanya Jaemin frustrasi.

"Masalahmu adalah kau yang lebih dahulu menjauhiku demi hyungku sendiri dan salahmu adalah kau membuatku jatuh cinta padamu tapi kau menghancurkan itu semua."

"Mengapa kau diam saja, Lee Jeno?! Katakan padaku apa salahku padamu!" seru Jaemin kesal. Ia kesal, Jeno masih tetap diam di depan lokernya tak mengeluarkan suara apapun. Ia hanya butuh penjelasan.

Sementara itu, Renjun yang baru saja sampai setelah mengejar Jaemin melihat kedua sahabatnya yang saat ini saling terdiam. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi yang ia tahu adalah saat ini ia melihat seorang Lee Jeno mengambil sesuatu dari lokernya, tempat makan. Ia juga melihat Jeno yang tanpa melirik ke arah Jaemin segera berjalan dengan cepat ke arahnya lalu menarik tangannya untuk menjauhi Jaemin yang bingung melihat Jeno yang menjauhinya bersama dirinya. Ia hanya menatap Jaemin dengan pandangan bingung sambil tetap mengikuti Jeno.

Dan kini mereka berdua, Jeno dan Renjun sudah berada di atap sekolah mereka. Renjun baru saja akan mengeluarkan suaranya saat Jeno lebih dulu mengucapkan sesuatu dari mulutnya.

"Maafkan aku harus membawamu ke sini, Renjun-ah." ucap Jeno. Renjun agak sedikit terkejut karena Jeno mau berbicara dengannya setelah beberapa bulan ia tak pernah berbicara lagi dengan Jeno karena anak laki-laki di depannya ini menjauhi sahabat-sahabatnya termasuk dirinya.

"Um, ya tidak apa-apa." balas Renjun sambil mengikuti Jeno duduk di salah satu sisi dari atsp sekolah yang dilindungi oleh kawat di segala sisinya. Jeno membuka kotak makannya dan menawarkan bekalnya yang berupa roti dengan selai cokelat kepada Renjun. "Ambillah. Anggap saja tanda minta maafku karena harus mengganggu waktu istirahatmu." ujar Jeno saat melihat wajah Renjun yang bingung.

Renjun segera mengambil salah satu roti di kotak makan tersebut sambil tersenyum. Jeno pun mengikuti hal yang sama.

"Jadi, ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Renjun setelah kunyahan pertamanya selesai. Jeno menghentikan makannya lalu menghela napasnya sebentar. "Maafkan aku menjauhi kalian akhir-akhir ini," ucap Jeno setelah beberapa saat. "Aku tidak bermaksud menjauhi kalian." lanjutnya lagi.

"Aku tahu," balas Renjun. "Kau hanya menjauhi Jaemin, kan?" tanya Renjun. Jeno menganggukan kepalanya. "Aku tidak tahu mengapa tapi aku merasa aku benar-benar harus menjauhinya."

"Karena kau cemburu dengan kedekatan Jaemin dengan kakakmu, kan?" tanya Renjun lagi yang membuat Jeno membulatkan matanya. "Bagaimana kau bisa tahu itu?" tanya Jeno. Renjun tertawa saat melihat perubahan ekspresi Jeno. "Hei! Jangan tertawa, bodoh! Cepat katakan padaku mengapa kau bisa tahu tentang hal itu?" ujar Jeno kesal saat melihat Renjun yang malah tertawa.

"Bagaimana aku tidak tertawa. Dari tadi kau bermuka dingin, datar dan tidak berekspresi tapi saat aku menanyakan hal itu kau langsung terkejut seperti itu." balas Renjun sambil berusaha menghentikan tawanya. "Tapi baiklah akan aku katakan padamu mengapa aku bisa mengetahui hal tersebut,"

"Aku melihatmu saat itu, duduk di taman sekolah sambil melamun bahkan frustrasi dan tidak pulang bersama Jaemin seperti biasanya. Aku sebenarnya bertanya-tanya mengapa tumben sekali kalian tidak pulang bersama dan akhirnya aku mendapatkan jawabannya beberapa hari kemudian. Jaemin pulang bersama Minhyung hyung saat itu. Awalnya aku juga bingung saat melihat Minhyung hyung yang berdiri di depan sekolah. Aku pikir dia ingin menjemputmu tetapi yang dijemputnya selama ini adalah Jaemin. Menghubungkan dengan sikapmu yang sering melamun sejak saat itu dengan Jaemin yang sering dijemput oleh kakakmu aku jadi bisa mengambil kesimpulan. Seorang Lee Jeno menyukai seorang Ji Jaemin." ujar Renjun yang membuat Jeno kembali kaget.

"K-Kau.."

"Tenang saja. Yang tahu soal hal ini hanya aku."

Jeno menghela napasnya. "Tapi kau salah tentang perasaanku, Jun-ah." ujar Jeno sambil tersenyum tipis. Renjun mengalihkan pandangannya ke arah Jeno. "Maksudmu?" tanya Renjun.

"Aku tidak menyukainya. Aku mencintainya." jawab Jeno sambil memandang langit di atas.

Renjun tertawa kecil. "Umurmu baru 12 tahun, Lee Jeno. Kau tahu apa tentang cinta?"

"Mungkin kau akan mengatakan bahwa lucu sekali jika anak seumurku sudah berbicara tentang cinta. Tapi ya aku yakin sekali bahwa aku mencintai seorang Ji Jaemin."

"Lalu apa pendapatmu tentang cinta pandangan pertama?" tanya Renjun. "Itu yang kurasakan pada Jaemin saat aku bertemu dengannya pertama kali." jawab Jeno singkat.

"Lalu bagaimana jika cinta pada pandangan pertamamu harus berakhir dalam waktu singkat?" tanya Renjun dengan nada lirih yang masih bisa ditangkap oleh pendengaran Jeno. "Tidak ada cinta yang berakhir dalam waktu singkat bahkan cinta pada pandangan pertama sekalipun. Jika itu terjadi, itu bukan salah cinta itu tapi salah yang merasakannya. Ia terlalu lemah untuk mempertahankan perasaannya." jawab Jeno.

"Jadi, aku ini lemah ya?" Renjun bermonolog setelah mendengar jawaban Jeno. Jeno mengernyit bingung mendengar ucapan Renjun. "Maksudmu?" tanya Jeno. "Ah. Tidak. Jadi kau cemburu dengan kakakmu itu?" Renjun memilih untuk mengganti topik. "Kalau dibilang tidak cemburu berarti aku berbohong padamu. Ya, kau bayangkan saja, sejak mereka dekat Jaemin jadi tidak pernah mengobrol denganku lagi, pulang sekolah bersama dengan Minhyung hyung, di rumahku dia malah memilih untuk mengobrol bersama dengan Minhyung hyung padahal ada aku di rumah itu!" jawab Jeno dengan nada kesal.

"Apa Minhyung hyung juga menyukai Jaemin?" tanya Renjun hati-hati. Jeno menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Renjun "Aku pikir dia juga menyukai Jaemin. Terlihat jelas dari wajahnya saat melihat Jaemin untuk pertama kalinya saat di pesta penyambutannya."

Renjun mengalihkan wajahnya. Entah mengapa ia setuju dengan perkataan Jeno. Minhyung menyukai Jaemin dan itu fakta yang tidak bisa dibantah. Dia sudah kalah dari awal.

"Lalu kau masih akan menjauhi Jaemin?" tanya Renjun lagi setelah menghentikan pemikirannya tentang Minhyung dan Jaemin. "Aku tidak tahu. Aku bisa saja bersikap seperti biasa lagi denganmu dan yang lain tapi untuk Jaemin aku masih belum bisa. Aku selalu teringat senyumnya yang dia berikan untuk Minhyung hyung. Sebut aku egois, tapi memang begitu adanya."

Renjun tersenyum tipis, "Kau tidak boleh begitu. Kau tidak lihat ya? Jaemin sangat terpukul melihat kau menjahuinya. Cobalah untuk membuang egomu. Atau nyatakan saja perasaanmu pada Jaemin." ujarnya.

Jeno mengalihkan pandangannya kepada Renjun setelah mendengar ucapan Renjun lalu tertawa kecil. "Renjun-ah, kau lucu sekali! Kau pikir mudah menyatakan perasaanmu kepada seseorang? Apalagi seseorang itu menyukai orang lain." ucap Jeno setelah meredakan tawanya.

"Maksudmu?" tanya Renjun. "Maksudku, kalau Jaemin tidak menyukai siapa-siapa itu akan mudah untukku menyatakan perasaanku padanya tapi saat ini Jaemin menyukai kakakku sudah pasti aku kalah telak dari kakakku!" jawabnya.

Renjun yang kini tertawa. "Belum mencoba saja sudah menyerah. Ya, kalau belum bisa mengatakannya coba kau dekati dia saja. Buat Jaemin memilihmu dibanding kakakmu." ujar Renjun. "Caranya?" tanya Jeno. Renjun menggedikkan bahunya, "Tidak tahu. Karena ini urusan percintaanmu, kau saja yang mencari tahu." jawab Renjun. Jeno merengut. "Pelit sekali." ledek Jeno yang disambut tawa oleh Renjun.

"Hei, Jeno-ah. Ngomong-ngomong sekarang jam berapa?" tanya Renjun. Jeno yang kebetulan memakai jam tangan langsung melihat ke arah jamnya. "Jam 14:30. Kita melewatkan mata pelajaran kita dan sebentar lagi jam pulang." jawab Jeno. "Jadi dari tadi kita membolos?" tanya Renjun tidak percaya. "Sayangnya, iya." jawab Jeno.

"Ini bolos pertamaku seumur hidup, Lee Jeno! Dasar bodoh! Lee Jeno bodoh! Kau membuatku membolos!" Renjun berteriak sambil memukul bahu Jeno berulang kali yang mengakibatkan beberapa kalimat protes keluar dari mulut Jeno.

"Yak! Yak! Sakit bodoh! Berhenti! Yak! Huang Renjun!" Jeno berteriak kesakitan karena dipukul oleh Renjun. Anak lelaki itu menghentikan pukulannya di bahu Jeno melipat tangannya di atas dadanya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Dasar Lee Jeno bodoh! Membuat anak rajin sepertiku membolos! Kalau bawa tas sih masih bisa buat alasan! Sedangkan tas kita masih di dalam kelas! Kau mau buat alasan apa hah?" Renjun menggerutu kesal. Jeno yang masih sibuk memegang bahunya yang kesakitan karena dipukul oleh Renjun.

"Nanti aku yang tanggungjawab kalau kau ditanya oleh seonsaengnim besok." balas Jeno.

"Baiklah kupegang kata-katamu!" ucap Renjun. "Ayo turun." ajak Jeno setelah merapikan kotak bekalnya. Ia segera berdiri dan berjalan ke arah pintu diikuti oleh Renjun yang masih kesal dengan Jeno.

"Kalian dari mana saja?" suara Jaemin yang kini berada di luar kelas sambil membawa dua tas di tangannya. Ia terlihat lelah mungkin karena terlalu lama berdiri di depan kelas sambil memgang dua tas milik Renjun dan Jeno. Dari nada suaranya, Renjun mengetahui bahwa Jaemin agak kecewa dengan Jeno yang tidak mau menjawab pertanyaan Jaemin saat di lorong sekolah tadi.

"Um, itu tadi aku dan Jeno baru saja dari-" belum sempat Renjun menyelesaikan perkataannya, Jeno sudah mengambil tasnya dan tas Renjun dari tangan Jaemin tanpa memandang Jaemin yang terlihat terkejut dengan sikap Jeno.

"Ini tasmu, Jun-ah. Kau mau pulang bersamaku?" ajak Jeno tanpa menghiraukan tatapan Jaemin kepada dirinya. Renjun yang bingung hanya bisa melihat Jaemin dan Jeno secara bergantian.

"A-Ah itu-" lagi-lagi perkataan Renjun harus terpotong oleh Jeno. "Kalau kau tidak mau maka aku akan memaksa." Renjun benar-benar tidak tahu apa-apa hingga akhirnya kini tangannya sudah digenggam oleh Jeno yang kini menariknya di lorong sekolah untuk pulang dan meninggalkan Jaemin yang terlihat kecewa dengan Jeno atau dirinya atau bisa juga mereka berdua.

Kini Jaemin sendirian di lorong itu. Entah mengapa perasaannya saat ini campur aduk. Di sisi lain ia sangat bahagia bisa mendengar suara Jeno yang ia rindukan. Tapi di sisi lain ia merasa sedih dan kecewa melihat Jeno lebih memilih mengajak Renjun untuk pulang bersama. Tiba-tiba bayangan mereka berdua – Jeno dan Jaemin – pulang bersama saat masa sekolah dasar dulu muncul dalam pikirannya. Jaemin benar-benar merindukan masa-masa itu. Sekarang ia pulang bersama dengan Hina tapi ia yakin sebentar lagi akan pulang sendiri karena Hina kembali memilih ekstrakurikuler karate yang jam latihannya sampai malam dan ia yakin Hina lebih menyuruh Jaemin pulang duluan dibanding harus menunggu dirinya.

Dan lagi, kenapa Jeno harus menggenggam tangan Renjun seperti itu? Jaemin merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang seakan-akan tidak menerima kalau Jeno jadi lebih dekat dengan Renjun bahkan sampai menggengam tangan Renjun seperti itu. Dada Jaemin sesak. Dia tidak mau menangis di lorong ini tapi sekuat apapun dirinya, Jaemin tidak bisa menahan tangisannya.

Ia terduduk di lorong itu sendiri sambil menangis terisak-isak.

"Sebenarnya apa salahku padamu, Lee Jeno?" batin Jaemin.

"Jaemin! Kenapa kau duduk di situ?!" suara teriakan Hina memenuhi lorong tersebut tapi Jaemin tidak peduli. Dia masih terisak-isak.

"Hei, bodoh. Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Hina sambil membantu adiknya untuk bangun dari duduknya. Jaemin tidak menjawab, ia masih terus menangis membiarkan Hina dan pertanyaannya. Hina yang tidak mau membiarkan Jaemin menangis di lorong sekolah yang sudah sepi itu langsung membopong Jaemin untuk keluar dari sekolah dan memasukkannya ke dalam mobil dengan bantuan Woo ahjussi. Mereka pun langsung pulang sementara Jaemin yang mungkin terlalu lelah akibat aktivitas di sekolahnya dan karena menangis langsung tertidur dengan menyenderkan kepalanya ke bahu Hina yang masih bertanya-tanya apa yang terjadi dengan adik angkatnya hingga menangis seperti itu.

"In case you go far away, in case you might dislike me. I wanted to tell you but my lips wouldn't move"

TBC

A/N: Finally selesai juga chap 2 nya XD~ thank you buat yang review di chapter kemarin. Aku terharu sumpah T^T tapi ngakak juga karena ada yg bilang aku author baru udah nyiksa bocah-bocah di ff ini XD aku suka melihat dreamies tersiksa /digampar/ XD. Banyak juga yang bilang maunya NoRen MarkMin yak? Jujur aja aku juga masih bingung nanti di end mau pairing siapa yang jadian :'D karena aku suka semua pairing di tag ff ini :'D haha. Tapi tiap pairing pasti ada momennya kok. Don't worry hehe.

Sekali lagi aku ngucapin terimakasih buat yang udah review, follow, fav ff ini. Jangan berhenti buat follow, fav, dan yang utama review ff ini ya. By the way aku juga update ff ini lebih cepet karena seneng banget dreamies dapet 1st win mereka X'D ga nyangka banget mereka bisa menang lawan abang-abangnya lagi XD tetep semangat buat NCTStan let's make another win for our NCT. See you on the next chap ya. Paiii!