Summary:

Sasori dan Gaara menerima sebuah misi untuk merebut kembali patung manekin milik Naruto, yang tidak sengaja dipungut oleh otaku tampan yang agak2 aneh bernama Sasuke yang iseng menjalankan ritual seperti di anime favoritenya, membuat manekin dengan rambut merah muda itu hidup layaknya manusia! Akhirnya misi itu terlihat seperti para cowok yang merebutkan Sakura dlm wujud manusia.

.

.

Sasuke Uchiha menatap intens kelopak mata yang tertutup itu. Di belainya pipi putih dan lembut tersebut namun terasa… dingin. Hatinya sedikit mencelos, itu hanyalah sebuah patung full-body manekin cantik dengan rambut merah muda dan manik hijau buatan di dalam kelopak dingin yang tertutup tersebut.

Ia membulatkan tekatnya, memasangkan sebuah kalung dengan liontin bening berwarna merah pekat. Bibirnya mencium liontin tersebut, lalu ragu-ragu mendekati wajah manekin cantik itu…

Sambil berbisik mengucapkan mantra… "Aku memberimu kesempatan untuk hidupbersamaku…"

CUPS...

Ia tak peduli ciuman pertamanya adalah dengan sebuah patung manekin… ia pun mundur beberapa langkah…

Dan… WUSS!

Liontin itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan…

Ia nyaris tak percaya, mengintip dari balik lengan tangan yang menghalau sinar menyilaukan tersebut. Manekin itu berkedip! Dan menoleh ke arahnya.

"Ohayou…" seakan mimpi dan tak percaya… Sasuke mendengar suara lembut keluar dari mulut gadis itu.

Dia… benar-benar menjadi… manusia?

.

.

.

==00==00==00==

Beautiful Target

Disclaimer: Naruto © Mashashi Kishimoto | Beautiful Target © Kitty Kuromi

Soundtrack and Inspired by: Beautiful Target-nya B1A4 xD

Warning: AuthorUniversal, Futuristic, unlogic, semi OutOfCharacter.

-Chapter II-

.

.

Little note:

Naruto (pelajar, childish, 17th)

Sasuke (pelajar cerdas, unpredictable, 17th)

Shikamaru (professor muda & mahasiswa jenius, 17th)

Gaara, Sasori (cerdas, detektif termuda di organisasi rahasia swasta, 22th).

Suigetsu (DISINI GIGINYA RAPIH NORMAL. TIDAK TAJAM.)

==00==00==00==

.

.

.

Dua pemuda berambut merah—mengenakan kemeja kantor—sedang berkutat pada layar transparan kebiruan di hadapan mereka masing-masing. Kesepuluh jari mereka mengetuk-ngetuk meja silver yang terdapat cahaya merah—hologram berbentuk keyboard.

Mereka tampak menikmati kesibukan masing-masing. Pemuda bermuka baby-face dengan iris hazelnut mengangguk-anggukan kepalanya dan sesekali menggumam, telah bertengger earphone bluetooth di salah satu telinganya, tangannya tak berhenti mengetik sesuatu.

Sedangkan rekannya yang bertato 'Ai' dan memiliki iris hijau lumut itu memiliki pembawaan tenang dan dewasa. "Sasori, laporanmu harus sudah selesai lima belas menit lagi." gumamnya tenang dan tetap sibuk dengan kegiatannya.

"Oke!" sahut si rambut merah baby-face yang ternyata bernama Sasori. "Ah Gaara, bagaimana dengan misi terakhirmu kemarin di Kiri City?"

"As usual." Jawab Gaara. Sasori pun mengasamkan wajahnya. Ia seharusnya sudah menduga jawaban sepupunya itu pasti akan datar. Ia pun mengangkat bahu memutuskan untuk menyelesaikan laporan misinya sendiri.

Tiba-tiba layar di depan mereka menghilang, tangan mereka pun otomatis berhenti mengetik, lalu muncul lagi dengan cahaya merah. Mereka pun sama-sama mengernyitkan alis. Sasori nampak mematikan mp3 di saku celananya dari luar dan melepas earphone-nya.

Emergency Announcement. Tulisan itu berkedip dilayar keduanya, mereka segera menyentuh layar masing-masing untuk mengkonfirmasi perhatian mereka. Dan setelah itu munculah sebuah gambar seseorang di layar tersebut.

"Sasori, Gaara, apa kalian sedang free-mission?" tanya seseorang dalam layar tersebut.

"Tidak, Hatake-sama. Ada dua misi rank A untuk tiga bulan ke depan yang harus kuselesaikan." Jawab Gaara datar.

"Aku juga. Satu misi rank C dan satu misi rank S untuk tiga bulan kedepan." Sahut Sasori, terdapat nada tidak ingin terkalahkan oleh Gaara di dalam kalimatnya. Gaara pun sekilas melirik, namun tak ia pedulikan lagi.

"Hm. Misi kalian akan diambil alih oleh tim senior. Aku ada misi yang lebih darurat." Ujar pria bermasker di layar tersebut. Sasori dan Gaara pun memasang telinga mereka dengan baik.

"Misi ini sangat rahasia. Bisa di katakan rank S. Tidak ada yang boleh tahu selain client, aku, dan kalian. Client kalian bernama Naruto Namikaze, ia anak wali kota Konoha. Minato Namikaze. Deadline kalian sepuluh minggu. Dan misi kalian adalah…"

.

==00==00==00==

.

"Ohayou…" seakan mimpi dan tak percaya… Sasuke mendengar suara lembut keluar dari mulut gadis itu.

Dia… benar-benar menjadi… manusia?

Cahaya yang menyilaukan tadi telah sirna diiringi senyuman yang tergores di wajah manekin—uh, gadis itu. Sementara obsidian milik Sasuke tak bergerak sedikitpun saat memandanganya. Tanpa sadar tangannya terulur ke arah pipi gadis itu.

Halus, hangat… rasanya ada sesuatu yang berdesir menyejukan di dalam tubuh Sasuke. Suhu hangat dalam tubuh gadis tersebut justru menandakan bahwa gadis itu benar-benar manusia…

Tangan gadis itu meraih telapak tangan Sasuke yang tengah menyentuh pipinya. Diturunkannya tangan itu namun masih ia genggam. Kepalanya mendongak dan sedikit memiringkan untuk memperhatikan wajah tampan di depannya.

"Namaku, Sakura." Ucap gadis itu dengan nada lembut dan terdengar manis di telinga Sasuke. "Hn." Sahut Sasuke sekenanya, ia masih menatap penuh-penuh pada sosok gadis yang sangat mirip dengan boneka. Ya, aslinya memang boneka sih…

Kali ini alis Sakura bertaut. "Perkenalkan diri master, agar aku dapat membantu master dengan mudah. Silakan berikan aku sebuah perintah…"

Master? Dan sekarang alis Sasuke yang bertaut. Ditatapnya sosok mungil itu dengan tatapan tidak mengerti. Tangan mereka pun terlepas. "Panggil aku Sasuke. Aku bukan mastermu."

"Aa?" Sakura seolah kehilangan kata-kata seolah tidak mengerti kosa kata yang diucapkan Sasuke. Tiba-tiba ponsel Sasuke berdering.

"Hn?" Sasuke menempelkan ponsel biru dongkernya ditelinga. Tak sengaja mata oniksnya menangkap tangan kirinya yang entah mengapa tidak ada luka sedikitpun!

"Sasuke-sama. Kakek anda akan segera kesana. Pagi ini beliau naik penerbangan pertama, dan akan tiba sekitar satu jam lagi, anda diminta untuk tidak datang kesekolah. Ada sesuatu yang penting."

"Apa?" kali ini fokus Sasuke kembali setelah mendengar kakeknya yang super sibuk itu akan darang.

"Ya, dia akan membicarakan perjodohanmu dengan nona Shion, jika kau tidak memiliki kekasih tentunya."

PIP

Dan telepon di putus secara sepihak—oleh Sasuke. Ia menatap tangan kirinya yang harusnya terluka—gara-gara ritual semalam. Tapi tidak ada?

"Sasuke-kun? Ada apa?" dan suara lembut itu menyadarkan Sasuke.

Ia menghela napas berat, mengapa kakeknya itu sangat ingin ia menikah dengan anak dari rekan bisnisnya tersebut. Tapi tunggu, apa kata seseorang di telepon tadi? Jika ia tidak memiliki kekasih—tentunya tak akan ada perjodohan. Gotcha!

Sasuke pun kini menatap gadis berparas seperti boneka di hadapannya. Ia tersenyum aneh seraya memegang kedua bahu gadis tersebut. "Dengar, kau meminta perintah dariku?"

Gadis itu mengangguk antusias.

"Ini perintah untukmu…"

.

==00==00==00==

.

"Ha? Apa ini lelucon? Misi hanya merebut sebuah manekin di beri rank S?" cicit Sasori mengikuti langkah Gaara. Gaara pun mendengus kesal.

"Kau dengar sendiri, kan? Itu bukan manekin biasa." Selanya sebelum Sasori melontarkan kalimat meremehkan—lagi.

"Oh ayolah, memangnya siapa yang tahu? Paling-paling yang akan memungutnya itu cuma orang biasa yang tidak mengerti di dalamnya terdapat chip Autos Eve. Dan paling-palingnya lagi, manekin itu akan berakhir di toko butik atau pajangan, atau festival boneka hari ini!" celoteh Sasori panjang lebar yang membuat kakak sepupunya malas menjawab dan memilih memasuki mobil dengan tenang—di ikuti Sasori.

"Jangan sesumbar, bukan tanpa alasan misi ini di beri rank S. Kau ingat, misi ini tidak boleh diketahui siapapun." Gaara datar sambil mulai melajukan mobil jaguar merahnya. Sasori yang duduk di sebelahnya pun masih memasang tampang meremehkan.

"Tapi, kalau dilihat-lihat dari fotonya, manekin itu sangat cantik, andaikan ia milikku, aku pasti akan mencoba melakukan ritual di anime Orochimaru kemarin. Hey, Gaara, apa kau nonton episode kemarin? Tentang menghidupkan benda mati!"

Gaara hanya memutar bola mata dengan bosan mendengar celotehan adik sepupunya yang nampaknya mengalami kemacetan dalam pendewasaan.

"Pasti akan sangat seru kalau aku dapat menghidupkan manekin itu, sayang itu hanya cerita di anime. Tapi seandainya aku di beri kesempatan un—"

"Cukup!" Gaara mengacak rambutnya dengan sebelah tangan sambil menyetir. "Kau membuat kepalaku pusing dengan ocehan tentang anime bodoh itu."

"Tapi kan aku ha—"

"Sudah! Kita akan menemui Namikaze-sama–client kita, pagi ini. Bersiaplah."

.

==00==00==00==

.

Tiga sosok beda rupa dan penampilan itu kini berada di ruang makan dengan suasana kurang nyaman. Sasuke masih mengenakan baju jogging malam—yang dipakai dari tadi malam, dan sebelahnya tengah duduk sesosok imut yang kini sedang memandang innocent pria tua di seberangnya.

"Ah, tidak buruk untuk segi penampilan, aku nyaris menganggapnya boneka—jika ia tidak bergerak dan berkedip seperti itu." pria di seberang sana memicingkan mata menatap lekat-lekat gadis bersurai merah muda dan memakai baju yang menurutnya terlalu lucu untuk sarapan pagi. "Jadi, dia kekasihmu?"

"Aa." Jawab Sasuke datar sambil mulai menggigit roti selai kacangnya. Ia menatap kakeknya lurus kedepan sambil terus mengunyah dan melirik ke arah Sakura. "Perkenalkan dirimu, sayang." Ucap Sasuke lembut membelai rambut Sakura, dan entah kenapa gadis itu merasakan panas pada wajahnya.

"A-a… namaku Sakura Haruno, Madara-sama." Ujarnya pelan namun terdengar jelas meski sedikit terbata-bata. Picingan mata Madara pun kini memudar tergantikan senyum simpul.

"Hm, pantas kau memilihnya, suaranya juga bagus." –sangat bagus. Tapi bukan Madara bila tidak mencari celah untuk menguji pilihan cucunya itu.

"Mengapa kau mengenakan pakaian seperti itu pagi ini?" tanya Madara spontan dan di jawab dengan lancar oleh Sakura…

"Maaf jika Madara-sama tidak berkenan, aku memang sangat suka setelan seperti ini, apalagi hari ini ada festival boneka di pusat kota, aku dan Sasuke-kun akan pergi ke sana nanti sore." jawabnya ceria dan sukses membuat Sasuke berhenti mengunyah setengah mengaga dalam pose yang tidak berkelas memandangi 'kekasihnya'.

"Hoo, pantas kau berdandan seperti boneka." Ucap Madara seraya mengigit potongan pertama rotinya.

.

==00==00==00==

.

"Bodoh! Kau menambah pekerjaanku!"

"Gomenasai, aku kan tidak tahu kalau akan seperti ini." Naruto tertunduk mengikuti langkah Shikamaru di depannya.

"Kau tahu, aku mati-matian menginstal tujuh bahasa dalam 'otak' Authos Eve yang berukuran super mini itu!" sungut Shikamaru melangkahkan kakinya buru-buru.

"Iya, maaf. Aku sudah berusaha mencarinya lewat agen rahasia swasta."

.

==00==00==00==

.

"Jadi, apa kelebihannya dibanding Shion, Sasuke? Berikan alasan tepat untukku agar membatalkan perjodohan antara kau dan Shion." Tanya Madara sakartis.

"Tolong jaga perasaan kekasihku, kakek." Ketus Sasuke sambil menggenggam tangan Sakura di bawah meja. Hey, mengapa dirinya seolah memberi hiburan pada Sakura, belum tentu Sakura tersinggung kan? Tapi kalau oniksnya tak salah lihat, ia sempat melirik Sakura dan mendapatkan gadis itu tertunduk sejenak.

Madara kembali menyunggingkan senyum aneh yang tak terdefinisikan apa artinya—khas Uchiha. "Shion menguasai bahasa inggris dan prancis—selain jepang dengan baik. Lalu kekasihmu?" seolah masih mencari cela, Madara melontarkan pertanyaan barusan tanpa rasa bersalah.

"Ah, aku menguasai inggris, prancis, itali, belanda, jerman, dan korea –selain jepang." Sahut Sakura ceria seakan tak menyadari 'kekasihnya' kini sulit menelan roti.

Bodoh, apa ia sadar dengan yang ia katakan? Sasuke meneguk air susu dari gelasnya untuk mendorong roti yang mengganjal tersebut. Membuat Madara kembali tersenyum sinis melihat kerutan samar di alis cucunya itu.

"Oh, that's awesome. So, what's your favorite colour? (Oh, itu mengagumkan. Jadi, apa warna favoritmu?)" tanya Madara sembari mengetik sesuatu di ponsel beningnya.

"I really love pink, green and white." Jawab Sakura ceria seolah menikmati percakapan, tanpa sadar membuat Madara merasa tertantang dan segera mengaktifkan aplikasi translator suara pada ponselnya. Ia segera memakai earphone blue-tooth dan sukses membuat Sasuke mulai berkeringat dingin.

Gawat, ia akan menguji kemampuan bahasa Sakura! Sasuke pun mengaktifkan aplikasi pengintai pada ponselnya di bawah meja. Memberikan akses untuk melihat apa yang di tampilkan layar ponsel kakeknya itu—tanpa sepengetahuan sang kakek.

Kali ini Madara bertanya menggunakan contekan dan sedikit terbata.

"Quelle est votre musique préférée? (Apa musik favoritmu?)"

"J'aime vraiment la musique classique, jazz et pop. (Aku sangat suka music klasik jazz, dan pop.)" jawab Sakura lancar dan tersenyum sambil mengigit kecil potongan rotinya. Sementara Sasuke mengintip layar ponsel di bawahnya.

'Bahasa Inggris, ok.'

'Prancis, ok.'

Sasuke bernapas lega mengintip layar ponselnya. Tapi itu untuk sesaat—melihat masih ada empat bahasa lagi yang belum terceklis di bawahnya.

"Qual è il tuo cibo preferito? (Apa makanan kesukaanmu?)"

"Frutti di mare. (Makanan laut.)"

'Italia, ok.'

"Stroom van de film die je leuk vindt? (Aliran film yang kau sukai?)"

"Iets, anders dan horror films. (Apa pun, selain film horror.)"

'Belanda, ok.'

Sasuke menelan ludah melirik ponselnya di bawah meja dan tanpa sadar benar-benar berhenti mengunyah. Tinggal jerman dan korea.

"Wenn ist Ihr Geburtsdatum? (Kapan ulang tahunmu?)"

"Zwanzig acht März. (duapuluh delapan maret.)"

'Jerman, ok.'

"Pertanyaan terakhir…" ujar Madara menatap lekat-lekat cucu dan calon cucu menantunya. Membuat Sasuke terkesiap dan kembali mengigit canggung rotinya. Sementara Sakura memasang wajah tertarik dengan senyum manis yang membuat Sasuke—yang meliriknya—sedikit tenang. Entah kenapa ia begitu percaya pada apapun jawaban Sakura selanjutnya pasti akan benar, dan membuat kakeknya berhenti menguji kemampuan 'kekasihnya'.

"Jeongmallo Sasuke salanghani?"

GLEK.

Sakura merasakan panas mendera wajahnya, ia merasa benar-benar tidak mampu menjawab saking tersipunya. Sasuke yang penasaran pun langsung mentranslate apa yang di katakan kakeknya barusan melalui translator suara miliknya.

Dan… apa yang tertera di layar tersebut cukup membuatnya tersedak… "Uhuk-uhuk."

'Apakah kau benar-benar mencintai Sasuke?'

.

==00==00==00==

.

"Perkenalkan, ini Shikamaru Nara. Professor yang menciptakan Autos Eve." Ujar si pirang jabrik di meja café itu, bersama cowok berambut nanas, dan dua cowok tampan berambut merah. Mereka sedang berada di ruang VVIP yang Naruto pesan tanpa kamera CCTV dalam ruangan tersebut. Ruangan itu juga menghadap keluar yang berlapiskan kaca, memungkinkan kita menikmati pemandangan luar dari lantai tiga ini.

"Bukankah misi ini tidak boleh di ketahui orang lain?" tanya Sasori pada Gaara yang dijawab oleh gendikan bahu Gaara.

"Percaya pada temanku ini, toh dia yang menciptakannya. Aku berniat agar Shikamaru mendeskripsikan secara detail tentang Sakura."

"Sakura?" Gaara menautkan alis.

"Ya, manekin itu kita sebut Sakura. Jadi, langsung saja Shikamaru." Naruto mempersilakan.

"Sakura dapat menyambungkan dan menguraikan hampir semua kode, dimulai dari peluncuran roket, pesawat, bom yang legal maupun tidak legal." Ujar Shikamaru

"Whoa! Bagaimana bisa?" tanya Sasori terkejut. Shikamaru pun tersenyum miring dan tipis—bangga akan karyanya.

"Aku mengumpulkan semua data yang kemudian di press kedalam chips-nya. Ia juga dapat mencari beberapa informasi di waktu yang sama dengan alat…"

.

==00==00==00==

.

"Jeongmallo Sasuke salanghani?" Madara mengulang pertanyaannya. Ingatan Sakura pun melayang kembali ke masa beberapa puluh menit yang lalu…

.

#Flashback On#

Sasuke pun kini menatap gadis berparas seperti boneka di hadapannya. Ia tersenyum aneh seraya memegang kedua bahu gadis tersebut. "Dengar, kau meminta perintah dariku?"

Gadis itu mengangguk antusias.

"Ini perintah untukmu…"

Sakura menaruh pandang penuh perhatian pada sesosok tampan di hadapannya. Obsidian di kedua bola mata itu seolah menghipnotis dirinya.

"Kau harus percaya padaku." Terdengar pelan namun tegas.

"Percaya pada Sasuke-kun?" Sakura mengulang kalimat Sasuke seraya mengerutkan alis tanda tak mengerti. Sosok berambut sekelam langit malam itu pun mengangguk mantap penuh ketegasan. Matanya menatap kilauan hijau emerald Sakura lurus.

"K-kau adalah ke-kekasihku. Mungkin kau tidak mengingat masalalu kita, tapi percayalah, kau milikku."

Kerutan di wajah porselen Sakura kini memudar digantikan senyuman simpul. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman—seolah mengenal pemuda dihadapannya ini sejak lama. Dan ia percaya itu.

#Flashback Off#

.

"Naneun hwagsilhineun moleugess-eoyo. hajiman neukkim-i ... geuege cheosnun-e salang haeyo." Jawab Sakura sedikit terbata sambil menaruh pandangan seolah jauh menerawang… ia mengingat saat pertamakali membuka mata dan mendapatkan selembar lukisan indah yang ia kenal dengan nama Sasuke Uchiha.

Madara pun tertegun untuk sejenak—menangkap ekspresi tulus dengan wajah merona dari gadis di sebrangnya itu. "Hm, kurasa keperluanku disini sudah selesai. Sasuke, bagaimanapun caranya, pindahkan Sakura agar satu sekolah denganmu. Kalian harus bersama setiap saat. Ah, suruh pelayan membereskan kamar tamu. Sakura akan tinggal bersamamu."

"Hn?" Sasuke masih tidak mengerti mengapa kelakuan kakeknya tiba-tiba menjadi seperti itu. Ia jadi penasaran apa yang di jawab Sakura tadi. Namun gerakan tangannya di bawah meja—berniat mencari tahu jawaban Sakura melalui ponselnya—mendadak terhenti saat sang kakek melanjutkan kalimat…

"Soal orang tua Sakura, biar nanti aku yang menghubunginya." Lanjut Madara seraya mengusap bibirnya dengan tisu.

"Ti-tidak kek, Sakura yatim-piatu." Jawab Sasuke spontan sukses membuat kakeknya berhenti bergerak dan menatap Sasuke-Sakura bergantian.

Hening. Madara pun berdiri dari duduknya. "Bagus kalau begitu, aku juga bukan orang yang suka bersosialisasi. Kirimkan riwayat hidup kekasihmu ke emailku. Lain kali aku baca, aku masih banyak urusan."

Sasuke pun menghela napas lega… meski tak tampak di tampang stoic -nya. Namun tiba-tiba Madara berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Tunggu, masih ada yang mengganjal."

Sasuke dan Sakura pun menoleh. Sasuke segera mengantungi ponselnya—takut jika yang dicurigai oleh sang kakek itu adalah isi ponsel. Sementara Sakura berhenti meneguk susu untuk memberi perhatian pada calon 'kakek mertuanya'.

Madara tersenyum tipis dengan mata memicing. "Tunjukan bukti bahwa Sakura kekasihmu."

Dan…

HAUP…

Tanpa ragu Sasuke melahap bibir Sakura.

"Ngh~" desah Sakura mencoba melepaskan bibirnya dari Sasuke. Wajahnya mulai memerah.

"Kenapa? Kau ingin membuat kakek ragu?" tanya Sasuke kecewa setelah melepaskan ciuman. Entah rasa kecewanya itu di buat-buat atau memang ia benar-benar kecewa.

"Ti-tidak… tapi aku malu kalau depan Madara-sama…" jawab Sakura tertunduk dan memainkan ujung dressnya. Madara pun tersenyum singkat lalu melangkahkan kaki keluar seraya berkata…

"Mulai sekarang panggil aku kakek."

.

==00==00==00==

.

'Aku tidak yakin. Tapi aku merasa... Aku mencintainya pada pandangan pertama.'

Blush!

Guratan merah tergores sempurna di kedua pipi Sasuke saat mengecek layarnya yang menampilkan translate dari jawaban terakhir Sakura. Sesaat ia memandangi siluet serupa boneka yang sedang meneguk segelas susu itu.

"Hm?" tanya Sakura sambil menaruh gelas susu yang kosong. Lidahnya menyapu bibir bagian atasnya sendiri—membersihkan sisa susu.

"ti-tidak. Bersiaplah, kau akan mendaftar sekolah hari ini." Ucap Sasuke sedatar mungkin. Sakura pun menoleh.

"Sekolah? Yokatta!"

.

==00==00==00==

.

Sore hari, setelah mendaftarkan Sakura—dengan data-data palsu yang dibuat Sasuke, tentunya—mereka berdua kini tengah mampir di sebuah café. Dua pasangan yang mengenakan kostum original itu nampak menjadi pusat perhatian di meja café outdoor itu.

Sakura—dengan dress baby doll berwarna merah muda dan sepatu ladyboots-nya kini tengah duduk manis meneguk jus strawberry dengan tenang. Di sebelahnya tengah duduk Sasuke—dengan kaus berbentuk kemeja sesiku biru tua berkerah putih dan celana levis hitam beserta sepatu kets-nya. Dileher Sasuke melingkar sebuah headset biru dongker. Walau hanya berpenampilan seperti itu, Sasuke di anggap mengikuti festival boneka karena 'tampang'nya yang bila di jejerkan dengan Sakura akan sangat serasi.

"Aaah, Sasuke-kun. Aku tadi lihat dance-floor machine di daerah kumpulan stand. Aku mau ma—"

"Tidak! Terlalu ramai, aku tidak suka keramaian." Jawab Sasuke tenang sambil menggoyang-goyangkan sebuah skateboard di kakinya.

"Huh, menyebalkan." Sakura melepas genggamannya pada lengan baju Sasuke sembari mengerucutkan bibir.

.

.

Sementara di meja lain…

"Hei kita harus berada di festival boneka hari ini." Gaara mengingatkan sambil melirik jam digital pada layar ponselnya.

"Hm, untuk melacak? Ya nanti, sebentar saja, aku ingin ice coffee." Sahut Sasori santai sambil mengangguk-angguk menikmati alunan music yang sangat di gemarinya sebagai seorang headbangers menggunakan earphone di sebelah telinganya.

Sementara menunggu pesanan, jade milik Gaara kini tak sengaja menatap sepasang kekasih yang sedang duduk di meja outdoor sana. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dengan kerutan alis samar. "Itu—"

Hazelnut Sasori mengikuti arah pandang kakak sepupunya dan matanya terbelalak seketika mendapati siluet cantik terbalut dress baby doll di sebelah sana. Ia mengotak ngatik layar ponselnya dan menatap foto pada ponselnya itu. "Benar! Itu Sakura!" seru Sasori menunjukan foto di ponselnya pada Gaara.

"Singkirkan itu! Aku sudah hapal!" ketus Gaara karena pandangannya tertutup layar ponsel layar adik sepupunya. "Eh tunggu… Sakura bersama…"

"Ya! Dia adik almarhum Itachi!" sambar Sasori dan sukses membuat Gaara mendengus kesal. Bagaimana tidak? Dari tadi adik sepupunya itu terus menyerobot kalimat yang akan dikeluarkan olehnya.

Tanpa komando siapa pun mereka bergerak menghampiri meja di luar itu. Membuat sang penghuni meja tersebut—tang tak sengaja menoleh—mengerjapkan mata sesekali. "Gaara? Sasori?"

"Yo! Sasuke." Sapa Sasori dengan senyum sumringah duduk bersama Gaara di seberang Sasuke dan Sakura. "Sakura Haruno?" tembak Sasori spontan, praktis membuat Sasuke mengerutkan alis.

Sakura pun menoleh dan memandang innocent dua sosok berambut merah di hadapannya. Gerakan menyedot jus strawberry terhenti seketika dengan posisi membiarkan sedotan itu terselip di bibirnya. Sementara Gaara memandang sosok yang masih ia anggap manekin itu dengan setengah tak sadar. Ia terlalu terpukau, sungguh kalau itu bukan manekin pasti nurani lelakinya akan bergerak untuk mengatakan 'Aku harus memilikinya!' dan sayang sekali khayalan itu macet dan bubar setelah deheman keras dari Sasuke.

"Apa aku mengenal kalian?" tanya Sakura dengan tatapan super polos—yang demi Kami-sama Sasori bersumpah ingin sekali mencubit pipi Sakura yang memandangnya dengan innocent tersebut. Sementara dua orang yang di tanyakan itu tergugu sendiri memandangi Sakura. Mereka tak pernah menyangka jika manekin buatan Shikamaru Nara bisa sebegitu kawaii -nya!

"Dari mana kalian mengenal kekasihku?" Sasuke memicingkan mata mendapati dua teman sahabat alamarhum kakaknya.

"Ke-kekasih?" Gaara membeo setengah tersendat. Samar terlihat kerutan alias di wajahnya.

"Hn." Sasuke segera merangkul pinggang Sakura merapat kepadanya, membuat gadis itu kaget dan sedikit merona.

"Sakura, mereka Sasori dan Gaara, temanku." –sekaligus teman almarhum kakakku.

"Eh?" Sakura makin tertunduk salah tingkah sambil menggenggam gelasnya dan mulai menghabiskan jus strawberry -nya—merasakan tangan kekar itu mengeratkan pelukannya.

Aneh, jika ia sebuah Autos Eve, ia tidak akan memiliki ekspresi yang begitu nyata. Nilai Sasori dalam hati.

Aneh, jika ia sebuah Autos Eve, tidak mungkin ia menelan jus itu. Selidik Gaara dalam hati.

"Apa yang kalihan lihat!" sungut Sasuke menatap tajam kedua rekannya yang kini memangdangi Sakura seolah mereka akan menculiknya. Kedua Sabaku itu pun tersadar dari fikiran mereka masing-masing. Gaara segera mengambil ponsel dari genggaman Sasori dan menunjukannya pada Sasuke.

"Kau kenal ini? Sakura Haruno. Manekin buatan professor Nara, yang tidak sengaja terbuang oleh Namikaze-san." Tanya Gaara.

GLEK.

Sasuke pun kesulitan menelan ludahnya. Ia sangat sadar bahwa wujud asli Sakura memang sebuah manekin yang ia pungut kemarin malam.

"Hei! Kau ingat, misi ini tak boleh diketahui oleh siapa pun!" protes Sasori hendak menyambar ponselnya, namun segera dielak oleh Gaara.

"Tenang, Sasuke bisa dipercaya." Gaara meyakinkan, dan kini kembali menatap Sasuke. "Aku yakin Sasuke tahu. Karena Sakura Haruno bermata hijau emerald dan berambut merah muda hanya satu di dunia ini." Cowok bertato 'Ai' itu melempari tatapan selidik pada pemuda bermata oniks di seberangnya.

Pergerakan iris oniks Sasuke—yang terlihat sangat sedikit bergerak—kini tak menentu, mempertahankan ekspresi datarnya. Sementara Sakura menatap tiga pemuda tampan di sekitarnya itu dengan tatapan tidak mengerti.

"Ah? Kenapa kalian mencariku? Apa tadi? Aku manekin buatan?" tanya Sakura tidak mengerti masih dalam dekapan Sasuke.

"Tidak. Jangan dengarkan mereka. Kau kekasihku, ingat?" Sasuke menatap dalam-dalam kemialauan hijau di kedua bola mata bulat bak boneka itu. Membuat Sakura tanpa sadar menelan kalimat selanjutnya yang hendak ia keluarkan. Semburat merah tergores di wajah putihnya, ia pun mengangguk dan tersenyum.

Sasuke menyeringai puas melempar tatapan kemenangan pada dua orang di seberangnya. "Kalihan lihat? Mana mungkin Sakura lupa siapa itu pembuatnya—jika benar ia buatan professor Nara." Tapi jauh didalam dasar alam bawah sadarnya, ia sungguh takut jika kedua orang ini berhasil mengetahui fakta yang sebenarnya.

Biarlah! Jika memang aku gila, lanjutkan saja sampai tuntas! Sasuke merasa perjuangannya mengeluarkan darah kemarin malam itu tidak boleh sia-sia.

"Lalu, apa bisa kau menjelaskan bagaimana kami punya foto kekasihmu dengan setelan pakaian yang sama persis? Dan latar belakang foto ini berlokasi di Nara's Laboratory." kali ini Sasori bersuara, meski dalam hatinya ia agak ragu, mengingat Sakura bergerak begitu bebas layaknya manusia.

"Biar aku yang atasi." Gaara menyela sebelum Sasuke membuka mulut. Ia menatap lekat-lekat siluet cantik di seberangnya.

"B, eight, alpha, quie pink eleven. Greend nine for emerald four. Pale of twelve red. Pin and apple sign." Gaara berujar mengucapkan kode panjang yang sudah ia hafal semenjak membaca petunjuk dari Shikamaru tadi pagi

"Special edition. Cherry Blossom. Autos Eve. By Nara Shikamaru." Sakura menyahut tanpa sadar. "Eh? Apa yang aku bicarakan barusan?"

Sasuke kali ini tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya—meski agak samar.

Sasori pun menyeringai. "That's a code to confirm Autos Eve."

"Bisa kau jelaskan mengapa kekasihmu dapat merapal kode tersebut, Sasuke?" Gaara menyeringai tipis.

"Aku… Autos Eve?" tanya Sakura menatap obsidian di depan wajahnya. Pelukan meraka pun terlepas. Sasuke menghela napas sambil menarik sebuah kartu dari dompetnya. Ia belai helaian merah muda pucat itu sambil menyerahkan kartu free pass itu.

"Dance-floor machine?" tawar Sasuke masih mengelus rambut merah muda kekasihnya. Seolah lupa dengan situasi yang menyelimutinya, Sakura mengangguk antusias. "Aku akan menyusulmu nanti." Ujar Sasuke melepaskan belaian di pucuk kepala Sakura.

"Iee!" gadis berpenampilan seperti boneka itu kini melesat ke arah Game Zone Outdoor—lima puluh meter dari café.

Sasori dan Gaara hendak mengejar namun di tahan oleh Sasuke. "Aku akan jelaskan!" dan kedua pria berambut merah itu kembali terduduk. "Kalian benar, itu adalah Sakura yang kalian cari."

"Nah! Sudah kubilang misi ini tidak pantas di beri rank S!" seru Sasori berbisik di telinga Gaara.

.

==00==00==00==

.

Suasana keramaian festival boneka di daerah ini memang mengesankan. Semuanya mengenakan baju ala boneka dengan ciri khas masing-masing. Di payungi langit sore bersemburat keoranyean, mereka semua bersenang-senang menghinggapi setiap stand yang ada sembari memamerkan kostum masing-masing.

Salah satu stand paling sepi adalah Game Zone Outdoor, padahal letak stand itu adalah yang terstrategis. Ia berada di persimpangan jalan dengan letak dance-floor machine menjorok kedalam. Tapi yang namanya outdoor pasti tetap aja kelihatan sama semua peserta festival yang berlalu-lalang.

Dance floor machine itu kini sedang dipijaki oleh seorang pemuda berambut putih kebiruan, ia begitu terlihat berkilau dengan baju tanpa lengan berwarna ungu dan celana levis putih keabu-abuannya. Beberapa gadis 'boneka' yang berlalu-lalang pun mulai berkerumunan melihat sang pemain sedang bergerak bebas dengan gerakan kaki terkomando oleh petunjuk di layar.

"Kyaa!"

"Kereen!"

Mereka mulai berdecak kagum menyaksikan sosok tampan dan cool itu memainkan freestyle-mode yang mengharuskan ia siap memijakan kaki di kesepuluh tombol besar di bawah sana. Sepuluh tombol yang seharusnya di mainkan untuk dua orang. Stand itu kini tengah ramai penonton tak kalah dengan stand-stand lainnya.

Seorang gadis berambut merah muda dengan dress baby doll menyeruak ke dalam kerumunan dan hendak bermain dengan dance-floor machine tersebut.

"Aah, sudah ada yang memainkannya duluan." Ia mengerucutkan bibirnya saat sampai di kerumunan paling depan dan paling kiri—sebelah layar dance-floor. Mata emerald-nya bergerak mengikuti langkah kaki yang menghentak lihai di atas dance-floor machine dan beralih pada layar itu—seolah merekam bagaimana cara memainkan permainan tersebut lalu mengangguk-angguk seakan mengerti.

Sementara pemuda jangkung berambut putih kebiruan itu setengah melirik siluet mencolok di samping kiri—agak di depannya. Gadis itu memang sepertinya sama dengan gadis-gadis lain yang berdandan ala boneka, tapi ada sesuatu yang menarik dari penampilan gadis itu—entah apa.

"Hey! Kau banyak miss-nya!" pekik gadis bersurai merah muda yang sedari tadi di lirik sang pemain—melihat layar dance-floor machine yang tertera kata 'MISS!' karena sang pemain itu kehilangan konsentrasinya.

"Sini biar kubantu!" seru gadis—yang baru pemuda beriris ungu itu sadari—memiliki bola mata cerah dan indah hijau cemerlang. Gadis itu menaikan kaki terbalut lady-boots nya mengambil alih lima tombol sebelah kiri sementara pemuda itu mengambil alih lima tombol sebelah kanan. Mereka pun bergerak bersama mengikuti direksi di layar.

"Woooh! Kereeeen!"

"Kyaa! Mereka hebat!"

"Sangat serasi!"

"Yeah!"

Stand itu kini tengah ramai penonton yang menyaksikan dua orang—yang mereka anggap peserta festival boneka—berbeda warna itu bergerak bebas di atas dance-floor machine. Pink dan ungu.

Sakura tertawa dan hampir terjatuh saking semangatnya, untung pemuda berambut putih kebiruan di sebelahnya menangkap tangannya sambil terus menyelesaikan stage mereka. Pemuda yang juga memiliki iris ungu itu seolah tersambar gelak tawa Sakura. Mereka kini terlihat seperti Price and Princess of dance-floor machine, di saksikan dan di teriaki banyak orang yang berdecak kagum melihat mereka.

"YEAH!" tangan pemuda itu yang tanpa sadar dari tadi tertaut tangan si gadis merah muda di sebelahnya—kini terangkat tinggi-tinggi bersama tangan mungil itu.

"Ah! Kita berhasil!" seru Sakura sedikit melompat keluar area dance-floor diikuti rekan dance-nya. Mereka pun di sambut dengan riuh tepuk tangan penontonnya yang melihat hurup terpampang jelas di layar tersebut. "A"

Kerumunan itu pun perlahan surut meninggalkan kedua siluet—merah muda dan ungu—berdua dengan tangan yang masih tertaut. "Ya! Seharusnya kita mendapat nilai S kalau saja tadi aku tidak melakukan miss." Seru pemuda itu sambil meredam tawanya. Namun tawanya meredam dengan sendirinya saat menyadari tak ada tawa dari rekannya, ia pun menoleh dan mendapati rekannya itu sedang menatap tangan mereka yang masih bertaut—dengan nafas terengah.

"Ah, maaf…" Sakura menarik tangannya yang berada di genggaman tangan besar itu. Ini tidak benar, aku kan kekasih Sasuke. Ia membatin. Sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat sang pemuda di hadapannya itu merasa tidak enak.

"Akulah yang harusnya minta maaf padamu, nona. Maaf aku tidak sengaja." Ujarnya sambil mengulurkan tangan, mereka pun berjabat dalam keadaan terengah mengatur nafas. "Hn. Kita sama-sama tidak tahu." Sahut Sakura mengulum senyum dalam deru napasnya yang mulai membaik. Tanpa sadar membuat pemuda di hadapannya itu terpaku untuk sesaat.

Dia benar-benar seperti boneka. Mata agak besar dan cerah itu… iris hijau cemerlang—berkilauan, kulit seputih susu tanpa cacat… bentuk wajah nyaris sempurna… tubuh mungil… dibalut dengan setelan seperti itu, rambut unik berwarna pink-nya… apa benar ia seorang manusia? Sungguh aku tidak percaya…

"M-maaf, bisa lepaskan tanganku?" tanya Sakura sedikit jengah pada pemuda di hadapannya. Pemuda beriris ungu itu pun mengerjap dan kembali pada dunia nyatanya lalu melepaskan tangan mungil dan hangat itu. Hng, tentu saja ia manusia, lihat saja mata lucu itu setiap berkedip… "Kawaii." Gumamnya tanpa sadar dan nyaris tak terdengar.

"Lain kali jangan pegang tangan orang lain sembarangan, apalagi aku sudah punya kekasih. Huh. Mana ya Sasuke-kun katanya mau nyusul?" Sakura mulai menolehkan kepalanya mencari sosok kekasihnya.

"Ah, jadi kau sudah punya kekasih?" –sayang sekali.

Dan dijawab anggukan oleh Sakura dengan senyum cerianya.

Maaf, sepertinya aku akan merebutmu, nona… "Hm, siapa namamu?"

"Sakura Haruno."

"Nama yang indah—

aku Suigetsu Hozuki."

.

==00==00==00==

.

Gaara dan Sasori mengerjap dengan tatapan tak percaya dengan cerita Sasuke akan 'penghidupan manekin Sakura'. Tapi mau tak mau, mereka harus percaya dengan teori di luar nalar itu. Mengingat seorang robot tidak mungkin bersuhu tubuh hangat, tidak mungkin dapat merona merah pada wajahnya, tidak mungkin dapat menelan jus strawberry. Semua terasa memusingkan untuk kedua Sabaku yang memiliki pemikiran rasional.

"Tapi aku tidak bisa menyerahkan Sakura pada kalian." Cowok berambut emo itu berdiri menggenggam skateboard yang sedari tadi hanya kakinya mainkan di bawah meja. Sontak membuat kedua Sabaku itu berdiri—berjaga seandainya Sasuke melarikan diri.

"Karena aku yang memberinya kesempatan hidup." Sasuke menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan kedua pemuda dihadapannya itu tengah menunjukan ekspresi tak percaya—meremehkan.

Sasuke menurunkan skateboard dari tangannya. Ia menatap kedua pemuda itu dengan intens, tanpa dua pemuda itu tahu kalau kini kaki kanan Sasuke sudah naik ke atas skateboard. Seringai pun mengembang di wajahnya,

"Dan, dia milikku!" sedetik kemudian kaki kirinya menghentak ke aspal dan berhasil mendorong laju roda skateboard tersebut.

DASH!

Skateboard Sasuke kini melaju dan dengan hilai melewati beberapa polisi tidur di jalan. Kaki kirinya sesekali turun ke aspal untuk mendayung kecepatan, lalu kembali ke sebelah kaki kanannya. Posisi tubuhnya miring kesamping seolah akan membelah angin. Sasori agak tertegun, namun perlahan ia menyeringai. Ia menekan tombol salah satu dari tiga tombol di gelang silvernya, dan… "Biar aku yang membereskannya, Gaara."

Sepatu ketsnya kini mengeluarkan empat roda berbaris vertikal di bawah, dengan langkah dan lompatan-lompatan cepat ia mengejar Sasuke, meninggalkan Gaara di belakang.

.

.

"Iya, kekasihku bernama Sasuke-kun~"

SET!

Sakura yang berdiri di hadapan Suigetsu itu kini berada dalam dekapan tangan Sasuke yang sedang mengendarai skateboard. Ia mengubah posisi Sakura menjadi 'gendongan' di punggungnya sambil berjalan.

"Kyaa! Sasuke-kun…!" Sakura terkesiap dan mendekap kedua tangannya di leher Sasuke. "Hn, percaya padaku, kau takkan terjatuh."

"Menyerahlah!" seru Sasori dengan seringai mengejek. Ia terus menggerakan kedua kakinya untuk memacu kecepatan agar dapat menyamai Sasuke. Juga kedua tangannya yang seolah mendayung angin.

"Hei! Sasori-san!" Sakura melambaikan sebelah tangannya ke arah Sasori. "Ada Sasori-san di belakang, Sasuke-kun~ sepertinya ia mengejar kita. Ayo lebih cepat. Jangan sampai kalah~" seru Sakura riang tanpa tahu situasi yang sebenarnya.

"What the…" umpat Sasuke ketika obsidian-nya menangkap sosok Sasori dengan sepatu roda, sekilas. Ia tak menyangka kalau Sasori akan mengejarnya dengan sepatu roda yang entah dari mana. Sasuke pun menyeringai tipis lalu menekan tombol di headset kirinya, perlahan keluar tangkai membentuk sebuah microphone.

Sedangkan Sasori sedikit bingung dengan lambaian dan senyuman Sakura dari jauh, tapi itu membuatnya tersenyum geli dan sesuatu bergejolak dalam jiwanya menyuruhnya untuk berlari lebih cepat.

"Auto mode! Speed increase!" seru Sasuke di depan mini mic-nya, kaki kanan Sasuke yang sedari tadi mengayuh kecepatan, kini berdiri manis di sebelah kaki kanannya. Membiarkan skateboard melaju lebih kencang dengan auto mode-nya. Kedua tangannya memgangi tubuh Sakura agar tidak terjungkal. Terdapat tali pengaman logam yang kini menghimpit kedua telapak kakinya agar tidak terjatuh.

"Kyaa!" teriak Sakura yang justru terdengar semangat.

Lagi-lagi Sasori di buat tertegun karena sosok Sasuke yang melesat lebih cepat menjauh darinya. Tapi bukan Sasori jika ia menyerah. Ia kini menurunkan kecepatannya, ketika sepatu rodanya berjalan pelan, ia berjongkok untuk menyatukan layar di gelang silvernya dengan layar di sepatu kiri bagian luarnya. Cahaya pun terlihat sekilas diantara kedua layar tersebut. Lalu Sasori berdiri lagi mendekatkan gelang silvernya ke depan bibir. "Speed up!"

Dalam sekejab sepatu roda Sasori melaju otomatis dengan cepat, pemuda berwajah baby-face itu menyeringai saat kecepatan sepatu rodanya meningkat drastis. Perlahan sosok Sasuke yang jauh di depan sana pun kini semakin dekat.

Sasuke yang melihat Sasori mendekat, hanya mendecih lalu berbelok, namun Sasori dengan lihai mengikutinya. Terus berbelok, melewati jembatan fly-over hingga memasuki distrik rekreasi.

Semakin dekat…

Dan HUP!

Tubuh Sakura terebut dan berada di punggung Sasori sekarang. "Kyaaah! Eh? Sasori-san?" Sasori hanya tersenyum sambil menggerakan kedua kakinya dengan semangat. "Sasuke-kun~ aku di culik…! Selamatkan aku… hihihi…" Sakura terkikik seolah menikmati situasi yang ia anggap 'main kejar-kejaran itu'.

Sasori terus belari dengan gerakan tersendiri, kaki kirinya terangkat ke belakang ketika belok ke kanan dan sebaliknya, tangannya bergantian di depan dada seakan mengayuh angin. "Sasori-san, Sasuke semakin dekat! Kau akan kalaah~"

Dan kalimat itu seolah mantra untuk Sasori mengamuk mempercepat kecepatannya, dan Sakura yang tidak tahu apa-apa menanggapinya dengan teriakan dan gelak tawa.

Sasuke terus menggerakan bahu dan punggungnya ke belakang dan ke depan ketika berbelok ke kanan atau ke kiri menghindari tabrakan dengan orang-orang yang berteriak kaget karena hampir ia tabrak.

Mereka terus berkejar-kerjaran hingga beberapa kilometer menuju perbatasan Konaha City.

"HELL NOS!" seru Sasuke dan terlihatlah sebuah angin kebiruan berkibar di belakang skaterboardnya. Kecepatannya meningkat sangat drastis! Semakin dekat dengan siluet di depan sana… dan… HUP! Sakura kini kembali berada di punggung Sasuke. "Yeah! Aku diselamatkan Sasuke-kun~"

"Ck! Anak itu, tidak bisa di remehkan!" umpat Sasori ketika melihat Sasuke mengaktifkan NOS. Ia pun tak mau kalah, mendekatkan gelang silver ke dekat mulutnya seraya berseru… "NOS in the switch!"

Dan kini api kecil keoranyean berkibar di belakang kedua sepatu roda merah milik Sasori.

Mereka melesat secepat angin, sampai mereka dekat ke sebuah dermaga perbatasan Konoha City. Seringai puas tergores di wajah Sasori. Tamat kau, tak mungkin skateboard dapat berjalan di atas air!

"Kyaa! Awas Sasuke-kun~ aku tidak yakin bisa berenang…!" Sakura mengeratkan pelukan pada kekasihnya itu. Sasuke hanya tersenyum mengeratkan pegangannya kebelakang—ketubuh Sakura. "Ingat perintahku?"

"Ya! Aku percaya pada Sasuke-kun…"

Eh! Sakura! Celaka! Seolah menyadari keberadaan mungil di punggung rivalnya, Sasori semakin berlari cepat dengan sepatu roda bermode NOS-nya.

"See you—" Seru Sasuke memandang kebelakang –ke arah Sasori yang tengah menatapnya tidak mengerti. Tanpa Sasori sadari Sasuke telah mengaktifkan flying-mode pada skateboard-nya.

"—looossseerrr!" serunya dan skateboard itu melayang tepat sebelum pijakan kayu dermaga itu habis… menatap puas sosok Sasori yang tercebur di bawah sana.

"Kyaah! Woohooo!" sementara Sakura masih tidak tahu situasi yang sebenarnya kini berteriak karena merasakan adrenalinnya terpacu. Sasuke pun tak berniat menambahkan ketinggian. Dan membiarkan dirinya serta kekasihnya mengatur nafas. "Kau senang?" tanya Sasuke sedikit menoleh, wajah Sakura yang berada disampingnya –diatas punggungnya itu kini terasa panas berkeringat.

"Hhh… seruuu!"

Dan mereka terbang ke arah daratan.

Brug!

Tiba-tiba sesuatu menabrak mereka, tubuh keduanya limbung—terlepas dan jatuh… "Sakura!"

"Kyaaaa!"

"MAAF!" teriakan mengejek itu membuat Sasuke mendongak keatas mendapati pemuda bertato 'Ai'—dengan ransel roket di punggung—sedang menggendong Sakura—dengan bridal style—yang memeluk leher pemuda itu erat. "Eh? Gaara-san?"

Sasuke menggeram memposisikan tubuhnya berdiri tegak dan menekan satu tombol di gelang silvernya, kemudian skateboard dengan flying-mode itu mendapatkan kendali kembali.

"WOHOOO! LEBIH TINGGI! LEBIH TINGGIIII, GAARA-SAAAN!" Gaara terkesiap mendengar teriakan Sakura, ia baru sadar kalau Sakura tidak mengetahui situasi yang sebenarnya.

"GAARA-SAN! LEBIH TINGGIIII!" Seolah mantra sihir untuk Gaara, pemuda tampan itu menaikan ketinggiannya, entah kenapa ia ingin sekali membuat siluet mungil dalam pelukannya kini tetap tertawa seperti itu. Ia tersenyum penuh—senyuman yang tak pernah dilihat oleh orang lain dari seorang Gaara.

"YEAAHHH!" Sakura masih berteriak dan tertawa gembira bukan main. "Tinggi sekali!"

Gaara pun tersenyum memandangi wajah kemerahan Sakura. Ia benar-benar terpukau dengan bentuk wajah itu… mata besar hijau, hidung kecil mancung, bibir merah tipis, gigi putih bersih dan rapih, kulit seputih susu… dan terakhir rambut merah mudanya.

"AWAAASSS!" teriak Sakura melihat sebuah pesawat menuju ke arah mereka, Gaara pun terkesiap dan dengan segera bergerak turun. Namun hampir terlambat…

Dan…

WESSSS!

Tubuh mereka terjungkal berputar-putar terkena imbas angin sekitar pesawat yang melesat itu.

"KYAAAAH!" Sakura berteriak ketika tubuhnya terjatuh ke bawah. Sementara Gaara berusaha menggapai tubuh Sakura tapi mesin ransel roketnya mati! Ia berusaha mati-matian bergerak ke arah Sakura namun sangat sulit bergerak dalam keadaan terjatuh dan di hantam angin menjelang malam begini. Tidak! Sakura!

Sementara itu terlihat sosok Sasuke di bawah sana dengan skateboard ber-flying-mode-nya. Bagus! Tangkap dia Sasuke! Seru Gaara dalam hati.

"SASUKE-KUUUUNNN!"

Sedikit lagi Sasuke dapat menggapai Sakura…

sedikit lagi…

Sasuke mulai panik melihat siluet Sakura yang tak lagi di atas sana, dia pasti pingsan! Sasuke pun berusaha semampunya mendekat ke tubuh Sakura…

Sedikit lagi…

WUUUSSS!

Tubuh Sakura kini berada dalam pelukan pemuda asing berambut putih kebiruan dengan ransel roket di punggung pemuda itu. Sasuke terkesiap dan berusaha mengejar. Tapi sosok itu makin menjauh. Skateboard-nya tidak bisa mengeluarkan NOS saat dalam flying-mode seperti ini. "AAARRGGGHHH!"

.

.

.

Pemuda biris ungu itu mendekap tubuh tak sadarkan diri dipelukannya. Ia bergerak menuju perbatasan Konoha dengan ransel roketnya. Sekali lagi ia menatap wajah gadis itu… ia pun tersenyum puas.

"Hai cantik, sudah kubilang kau akan kurebut, bukan?"

Tawanya renyah…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

Words story: 5878. Panjang yah? Ahahaha :D semoga tidak mengecewakan :'( kuromi kurang ahli nulis action

SANGAT DISARANKAN DENGERIN LAGU B1A4 – BEAUTIFUL TARGET UNTUK CHAPTER INI ^^ karena kuromi ngetik sambil denger lagu itu…

Kuromi's Note:

-Gotcha artinya: dapat! Kena lu! Got u! got them! Or whatever yang nyerempet2 ke situ deh. Klo gaulnya bahasa Indonesia mah gini - "Aha! *mimik muka seolah dapet ide*"

-Dance floor machine yang ini mustahil kalo nggak tahu, itu loh mainan di mol2 yang di injek2 xD

-Headbangeritu klo nggak salah pecinta musik metal. CMIIW :D

-Nos (Nitrous Oxide System) sebenarnya senyawa ini digunakan pada mesin mobil untuk mempercepat kecepatan mobil. Tapi di sini kuromi pake buat spatu roda Sasori dan skateboard-nya Sasuke. Sebenarnya lagi, NOS itu pake tabung yang nggak mungkin di tempel di sepatu roda atau skateboardnya SasoSasu, tapi di sini kuromi karang, ceritanya senyawa NOS yang mereka pake itu memiliki takaran beberapa milligram saja, karena suda di kali fungsikan senyawa tersebut menggunakan kandungan lain yang akan di bahas di next chapter. Dan sebenernya lagi, NOS itu fungsi kalo dicampur dengan bahan bakar minyak alias BBM, tapi di sini kuromi karang jadi campuran energy battery.

-jembatan fly-over itu jembatan layang, nggak mungkin readers nggak tau. ^^

-ransel roket, pasti tahu kalau suka main GTA ^^

Wkwkwk, authornya emang dasar tukang ngarang n mengada-ada ya? ==a

.

.

Special thanks:

cherry Hishikawa (iaa dia pengen samaan sama sakura, makasih ^^ kau adalah reviewer pertama dari beautiful target! Selamaaat~ ^^), Indha (yoo ^^ makasih), Little Drunken (ini sudah lanjut, review lagi yaa^^), Uchiha Hime Is Poetry Celemoet (hohoho itu sih rahasia~), nilopyon (ini sudah~ ^^), Li-chan SasuSaku (ini sudah agak panjang… bagaimana? ^^), Kang Mas Neji Ganteng (Kyaaa! Anda author favorite saya! ^^ *terbang melayang* senangnya dapet ripiu dari author favorite! Bagaimana chapter ini? Apakah cukup untuk di jadikan fave? #plak), Sadame Anomias Evaloun (ya^^ apa sekaran memuaskan?), Jorydane Sugiyama (tuh Gaara udah muncul, gimana? ^^), Arezzo Calienttes 'Namikaze (sudah update nih, gimana? ^^), Cherry No Blue (sudah kuromi update, apa ini termasuk kilat? ^^), Sslove (arigatou~ ^^), Aeudrey (terimakasih ^^ wah penggemar B1A4 juga ya?), Just Ana (aku sudah apdet! Ayok repiuuu~ ^^), me Ara-chan (ia temannya futuristic ^^ oke nih sudah kulanjut), Sakura Monica (Hooo~ makasih ^^ ini sudah kulanjut, ia tuh biar tahu rasa si naru, fufufufu), Ishikawa Cerry Blossom (eh? Jadi malu~ ia aku akan berusaha ^^), Akasuna no Regina (itu sudah muncul sasorinya, gimana? ^^), Michelle (yes, I did! Mind to review again? ^^), Vanille Yacchan (sama dong! Aku juga suka yang boneka2 gitu ^^ ia terimakasih yaa), Mameha (sudah update ^^), tomatCerry (yosh, arigatou ^^). Maaf untuk yang tidak tersebut. Aku sudah mengecek dan kayanya sudah semua…

Dan terimakasih untuk KAMU yang baca fic ini :) berkenankah untuk meninggalkan jejakmu di kolom review?

Akhir kata, review lahhh…

V

V