Little part 2

Min Yoongi, who are you?

Ugii x mitakun

Yoonmin

Yoongi x Jimin

Typos

Enjoy

Jimin baru berusia tujuh belas tahun di umur Koreanya. Otomatis ia masih enam belas tahun di mata umur international. Masih remaja.

Di usia yang sangat belia itu, tentu saja Jimin tengah berhadapan dengan yang namanya perang hormon. Dimana dirinya sedang dalam fase-fase tertinggi dalam merasakan ketertarikan secara berlebih pada seseorang.

Namanya Jung Daehyun. Kakak kelas tingkat tiga yang terkenal dengan suara indahnya.

Jimin pertama kali bertemu dengan Daehyun saat ia dan beberapa anggota dance lainnya pergi menemui club vokal dimana Daehyun sendiri yang menjadi ketuanya, untuk membahas soal pertunjukan yang akan meramaikan festival sekolah beberapa bulan yang lalu.

Kala melihat pemuda berkulit sedikit lebih gelap tersebut, ada sebuah gelanyar aneh yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya dari si pujaan hati.

Hingga akhirnya Jimin menjadikan Daehyun sebagai kiblat suami idamannya.

Kulit tan macho (ceklist)

Suara indah yang menenangkan (ceklist)

Pembawaan kalem dan berwibaawa (ceklist)

Jimin suka semua yang ada pada diri Daehyun.

Bukannya malah paman-paman yang tadi malam memaksanya menikah.

Hell, kulitnya putih pucat seperti vampire. Suara berat yang pasti jika di pakai menyanyi hanya akan merusak gendang telinganya. Juga jangan lupa sikapnya yang eeeww sekali.

Angan-angan Jimin jadi memutar lagi memory malam itu.

.

.

.

"Aku. Tidak. Mau." kata-kata Jimin yang terpengal penggal membuat wanita yang telah melahirkannya itu mengeleng pelan.

Anaknya keras kepala sekali sih.

"Hey bukankah saat kecil kau sudah berkoar koar ingin di nikahi Yoongi?"

Yang merasa namanya di sebut hanya mangut-mangut sambil mengunyah stik berlapis coklat yang di suguhkan ibu Jimin denga tenang. Berbeda dengan ibunya yang sedang menyerang isi toples tersebut dengan pipi menggembung seperti marmut.

"Itukan dulu, lagi pula aku tak ingat dengan paman ini." Jimin mencebik lucu sambil melipat tangannya di dada.

"Kau mungkin tak ingat tapi otakku merekam semuanya." Yoongi berujar untuk pertama kalinya. Setelah sebelumnya hanya angguk-angguk saja seperti anjing mainan di dashboard mobil Namjoon.

Jimin mendelik penuh nafsu pada Yoongi. Ingim rasanya ia menggunduli habis rambut abu abu itu.

Cih sok muda. Apa rambutnya sudah penuh uban sampai ia warnai seperti itu

Pikir Jimin nista

Tak sadar apa kalau rambutnya sudah seperti permen kapas begitu.

"Sebaiknya Jimin dan Yoongi harus bicara empat mata dulu sebelum memutuskan pernikahannya. Iya kan Eommonim?" Seokjin beralih pada ibu Yoongi yang ternyata masih menikmati kudapannya.

Yoongi memutar bola matanya melihat sang ibu yang mengangguk antusias.

"Baiklah. Jimin ajak Yoongi Hyung ke kamarmu ya." ucap nyonya Park setelah melihat ibu Yoongi yang terlihat sanngat bersemangat.

"Ap- apaa?! Kamarku?! Yang benar saja Eomma!?"

Yoongi berdiri sambil menepuk nepuk pahanya. Ia tak menghiraukan Jimin yang masih merengek manja di bawah kaki ibunya. Nanti juga gerak sendiri.

"Yak yak kau mau kemana?!"

Tuh kan Jimin ikut lari menyusul Yoongi.

Mereka, Yoongi lebih tepatnya menempatkan diri di ranjang Jimin yang terbilang cukup besar untuk hanya di tempati seorang diri.

"Dengar yaa bocah. Kau tak bisa lari dari pernikahan kita berdua." ucap Yoongi. Tatapannya menusuk namun Jimin masih bisa memabalasnya.

Mereka sama sama keras.

Kepala.

Jangan memikirkan yang lain.

"Aku tak peduli. Lagi pula atas dasar apa kau mengajakku menikah?" Jimin duduk di kursi belajarnya. Takut takut ia kelepasan duduk di samping Yoongi. Kelepasan membunuhnya tentu saja.

"Atas dasar cinta tentu saja." tanpa sadar Yoongi menyilangkan jari telunjuk dan tengahnya di belakang punggungnya.

"Cinta?! Cinta pantatmu? Kalau kau yang jatuh cinta padaku sih aku percaya. Tapi aku? Mana sudi aku jatuh cinta pada om-om sepertimu." ujar Jimin penuh kepercaya dirian.

Yoongi berrolling eyes. "Bocah sialan." Umpatnya pelan.

"Kau sendiri yang bilang kalau kau akan menikah denganku sepuluh tahun yang lalu." kata Yoongi mulai sengit

Persetan dengan image dingin dan cueknya. Ia harus, harus benar benar mendapatkan Jimin untuk jadi mempelainya sebelum ulang tahunnya.

Jimin menggerakkan kursi belajarnya yang mempunyai empat roda itu mendekat ke arah Yoongi. "Itu perkataan bocah. Kau punya otak atau tidak sih. Kau mempercayai omongan bocah enam tahun? Makanya punya otak itu di pakai, jangan di awetkan untuk kau pajang."

Jari-jari Jimin yang mungil mengetuk ngetuk dahi Yoongi dengan tidak sopannya. Membuat yang tua menggeram rendah lalu meraih jari tersebut. Menarinya kearah depan hingga wajah keduanya terlihat sangat dekat bahkan hampir beradu. Hanya punggung kursi yang menghalangi keduanya.

Jimin menelan salivanya susah payah. Ini terlalu dekat. Jeritnya dalam hati.

"Sekali lagi kuperingatkan kau. Jangan pernah menolak, atau bokongmu dalam bahaya." Yoongi berdesis layaknya ular paling bahaya di dunia.

Jimin tak dapat berkutik setelah itu. Tubunya mati rasa bahkan saat Yoongi mendorong kursinya menjauh dan berlalu meninggalkannya.

"Ingat itu bocah." seru Yoongi di depan pintu. Membuat Jimin kembali mengumpat.

"Sialan, bokongku bahkan lebih dalam bahaya lagi jika menikah denganmu" teriaknya sambil memegangi aset berharganya dengan kedua tangan pendek yang membuatnya terlihat makin menggemaskan.

.

.

.

"Awas saja, ku mutilasi kau." ucap Jimin lirih.

Ia tengah menunggu Taehyung, sahabatnya di meja kantin sambil menusuk nusuk paha ayam yang tadi ia pesan.

Di matanya paha ayam itu adalah tubuh Yoongi yang meringkuk ketakutan, dimana garpunya tepat berada di atasnya. Siap menusuk nusuk wajah datar menyebalkan milik calon suaminya, uuggh.

Ayah dan ibu ditambah Namjoon, kakaknya sudah menyetujui hal itu tanpa mendengar protesan yang Jimin utarakan malam itu.

Semuanya berjalan tanpa mengikut sertakan Jimin di dalamnya. Yang Jimin tau hanya ia yang akan di umpankan pada lelaki mesum pedofil berkedok calon suami.

Semuanya karena mulut penuh bisa milik Min Yoongi yang berhasil meyakinkan ayah Jimin untuk melepas putra bungsunya. Bahkan ibunya saja sudah sangat antusias dengan rencana mereka.

Tanpa memikirkan Jimin yang nelangsa.

Jimin jadi ingin di adopsi keluarga lain kalau begini.

Lagi pula siapa sebenarnya Min Yoongi, hingga kedua orang tuanya begitu mempercayai muka datarnya.

Jimin tak ingat, benar-benar tak ingat.

"Jangan seperti itu. Kau jadi mirip psikopat." suara berat khas pria dewasa yang sudah mimpi basah itu membuat Jimin tersadar dari lamunannya.

Jimin mendongak, mendapati sosok malaikat tanpa sayap itu dengan mata berbinar.

"Daehyun sunbaenim?"

Daehyun kembali tersenyum, tampan sekali.

Jimin ingin menjerit histeris sekarang juga.

Pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu duduk tepat di depan Jimin, membuat si pemeran utama kita panas dingin.

"Kuperhatikan kau terlihat sangat kesal hari ini."

Demi apa, Daehyun meperhatikannya. Kyaaaa kipas mana kipas atau air es? Jimin ingin menyiram wajahnya yang pasti sudah mulai memerah.

"T-tidak kok. Aku hanya sedikit unmood saja hari ini." jawab Jimin agak sedikit bergetar. Mau bagaimana pun ia tetap gugup jika berdua begini bersama crush tercintanya.

Daehyun tiba-tiba merogoh saku blazer sekolah yang ia gunakan. Lantas mengambil alih tangan Jimin yang masih mengenggam sendok. Dengan lembut ia meletakkan sendok tersebut diatas meja dan menggantinya dengan lima buah gula-gula warna-warni.

"Makanlah saat kau tidak punya semangat. Aku selalu melakukan itu. Semoga berhasil, aku harus pergi."

Jimin tak bisa berkata apa apa. Ia blank.

Kemudian ia mematai gula-gula tersebut dengan mata yang berbinar lucu seolah yang ada di depannya adalah sebuah harta karun yang baru saja seorang bajak laut berikan.

"Oh ya Jimin..." Jimin mendongak.

"Nde?"

"Panggil aku Hyung boleh?"

Ooh Jimin melayang ke surga.

Lah mati dong

.

.

.

Di lihat dari cara berjalannya, sungguh lelaki ini bisa di bilang adalah lelaki paling mempesona di seluruh jagad raya. Tapi mari tengok wajah tampannya. Lebih bisa di kayakan dia seperti seekor singa yag siap menerjang siapapun yang mengganggunya

Maka jangan main main saat mood Yoongi berada di titik terendahnya.

Ia merasa terhina sekaligus di permainkan oleh bocah yang bahkan belum pernah berciuman sekalipun itu.

Ia tampan, rupawan, baik hati dan tidak sombong. Yang ketiga dan keempat abaikan hanya hoax.

Tapi bagaimana bisa bocah sialan yang memiliki pantat sexy itu bisa menolaknya secara gamblang di depan wajahnya.

Wajah tampannya.

Astaga, sebaiknya kubur saja Yoongi dengan 1001 sifat narsisnya.

Ia bahkan sangat ingat bagaimana bocah itu merengek, merajuk, dan merayu saat usia Yoongi lima belas tahun untuk menikahinya.

Itu pemikiran bocah memang, tapi apa salahnya di realisasikan. Toh mereka sama sama di untungkan.

Bohong kalau Yoongi tidak kecewa atas penolakan jelas yang Jimin berikan. Bahkan rasanya lebih menyakitkan dari pada penolakan Seokjin.

Akhirnya mereka memang tetap akan menikah. Tapi ada secuil perasaan sakit saat tau yang di nikahinya sama sekali tak menaruh hal lebih pada dirinya. Bahkan seolah ia sangat memaksa.

Padahal iya.

Tapi tetap saja. Ia harus mebuat bocah sialan itu menyukainya, agar tak ada yang dirugikan.

Atau memang karena Yoongi yang sudah duluan merasakannya.

"Kita lihat aja Park Jimin."

.

Yoongi menempatkan mobilnya di sebrang jalan yang ada di depan sekolah tempat Jimin belajar.

Masih ada sekitar sepuluh menit sebelum jam pelajaran terakhir selesai. Maka dalam waktu yang sesingkat itu Yoongi berusaha menyesuaikan dirinya lagi. Agar saat bersama Jimin nanti ia tak bertingkah aneh aneh lagi.

Tapi apa mau di kata. Berhadapan dengan Jimin selalu membuatnya jadi orang lain sejak dulu.

Sejak mereka menghabiskan hari bersama. Sejak Jimin kecil dan Yoongi yang masih remaja.

Yoongi selalu ingat bagaimana ia memperlakukan Jimin sejak kecil. Dan bagaimana sikap Jimin kecil pada Yoongi remaja.

Jimin kecil akan selalu menunggui Yoongi di depan pintu rumahnya. Menunggu Yoongi Hyung pulang untuk bermain bersama.

Yoongi Hyung, bukan ahjussi.

Jimin kecil selalu mengajaknya pergi ke halaman rumah Yoongi yang lebat oleh tumbuh tumbuhan milik ibu Yoongi untuk mencari capung.

Atau mengajaknya ke kamar Jimin yang penuh dengan lego dan memainkannya sampai bosan.

Tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Bahkan Jimin saja tak ingat lagi pada dirinya. Apa lagi janji mereka yang sempat Yoongi dan Jimin ucapkan sebelum Yoongi dan keluarga pindah keluar kota.

Sejak itu Jimin dan Yoongi tak pernah lagi bertemu. Dan entah kenapa Seokjin bisa tau keberadaan Jimin yang pasti di sambut dengan baik oleh Yoongi.

Walau niat awalnya hanya untuk sebuah warisan_Yoongi jadi merasa jahat untuk hal sungguh, saat bertemu dengan Jimin untuk yang pertama kalinya dalam sepuluh tahun ini. Ia merasa tak punya oksigen untuk bernafas. Semuanya terserap oleh si manis bersurai merah jambu itu.

Ia tak bisa munafik dengan mengatakan Jimin tak ada menarik menariknya sama sekali. Bahkan Jaehwan saja tak bisa tak tertawa saat perjalanan pulang dari rumah Jimin. Dimana Yoongi yang terlihat berkali kali lipat lebih samangat untuk hidup.

Bukan Yoongi sekali katanya.

Tapi mau bagaimana lagi? Iming iming warisan kakeknya bahkan sudah lenyap dalam angannya mana kala sepasang mata sipitnya mematai Jimin dari jarak dekat saat mereka berada di dalam wilayah kekuasaan bocah sexy itu.

Ia sadar yang saat ini ia incar bukan lagi seonggok emas atau segepok uang milik mendiang kakeknya. Tapi Jimin, Jimin dan hatinya.

Suara riuh menghentikan kegiatan Yoongi dalam mengenang masa masa indah yang makin hari makin ia ingat.

Berbagai jenis siswa kini tumpah ruah di jalanan. Ada yang menunggu jemputan, bis, atau hanya sekedar bersendag gurau bersama teman sebelum berjalan untuk pulang.

Begitu pula dengan Jimin yang Yoongi lihat.

Pemuda itu kini tengah mencak mencak di hadapan pemuda lain yang tak kalah manis darinya. Di belakang mereka sesosok yamg lebih besar tengah memperhatikan perselisihan yang terjadi di antara dua pemuda manis itu.

Garis bibir Yoongi tertarik lebar saat si yang lebih besar menarik pemuda yang berdebat dengan Jimin. Mereka berlalu tanpa memperdulikan Jimin yang bahkan sudah mau menangis di depan gerbang.

Yoongi dengan segera keluar dari dalam mobil, mendekati Jimin yang masih merunduk memperhatikan sepatu yang ia gunakan sambil menggerutu.

"Dasar teman tidak berguna. Sialan kau Kim Taehyung."

"Kalau temanmu tidak berguna, bagaimana denganku?" Yoongi berbisik tepat di sebelah telinga kanan Jimin.

Tentu saja Jimin menoleh, hingga mendapati wajah Yoongi yang hanya beberapa senti dari miliknya.

"Kau can- Aaakkkkhh."

Pujian Yoongi harus tertelan kembali ketika Jimin dengan keras membenturkan keningnya pada kening Yoongi.

Heran, Yoongi saja berteriak kencan. Tapi Jimin seolah tak merasakan apa pun.

Ternyata ungkapan keras kepala benar benar terjadi pada diri Jimin.

"Kau, mau apa kau kemari!?" Jimin bertanya dengan tidak santai, lihat saja kedua tangannya yang berada di atas pingganya.

Jimin jadi mirip tante tante galak, sungguh.

"Apa salahnya sih kalau aku menjemput calon is-eemmmpphhh"

Kali ini tangan Jimin yang menghentikan ucapan Min Yoongi.

Mata bak seekor rubahnya membulat lucu memberi peringatan pada Yoongi yang sudah hampir membiru kehabisan nafas.

"Jangan bicara hal yang aneh aneh paman Min, ini tempat umum" Jimin mengancap dengan menggertakkan giginya.

Yoongi hanya mengagguk pelan. Ia butuh oksigen sekarang.

Jimin mengagguk sambil melepaskan bekapan kedua tangannya dari sebagian wajah Yoongi. Tanpa tau kalau pria berjarak sembilan tahun lebih tua darinya itu telah menyiapkan sederet kata yang pasti membuat Jimin...

"Kau gila yaaa. Ingin membunuh calon suamimu sebelum kita resmi malam pertama?!"

Bugh

Menendang tulang keringnya.

Ngilu, bro.

.

.

.

Jimin hanya bisa melarikan pandangannya ke segala arah saat Yoongi keluar dari kamar pas dengan tuxido berwarna hitam. Tampak sisi manly seorang Min Yoongi menjadi berkali kali lipat melebihi tngkat maksimum.

Jimin malu mengakuinya, tapi ia tak boleh bohong kalau Yoongi mang benar benar menawan. Terlepas dari kriteria calon suaminya yang sudah di bahas di atas.

Sebenarnya tak banyak yang berbeda dari Yoongi yang tadi memjemputnya dengan Yoongi yang ini. Sama sama mengenakan outfit resmi dan formal. Hanya saja ada yang berbeda menurut Jimin.

Entah apa, yang pasti bisa membuat Jimin menahan nafas untuk sejenak.

"Bagaimana?" tanya Yoongi sambil membenahi penampilannya di depan kaca, sambil sesekali melirik Jimin yang berada di belakangnya.

"Bagus." Jimin berkata pelan sambil meremat tali ranselnya.

Kini Yoongi berbalik. Ia menampakkan senyumnya sekali lagi, senyum yang hanya akan muncul jika ia sedang benar benar bahagia.

"Baiklah, pakaianku sudah. Sekarang giliranmu. Kau mau pakai apa? Yang sepertiku atau ingin mengenakan gaun?"

Dahi Jimin berkedut kesal. "Sekalian saja kau pakaikan aku kostum babi di altar nanti."

"Waah kau suka babi yaaa?"

"Menurutmu?"

"Pantas saja."

"Apanya yang pantas?"

"Kau lucu.."

Jimin sedikit merona mendengarnya.

"Seperti babi."

Hari itu di habiskan dengan mencari pakaiian Jimin yang berakhir pada sebuah tuxido warna putih gading. Juga memesan sepasang cincin dan memboking sebuah gedung untuk tanggal yang sudah di sepakati.

Jimin lelah sebenarnya. Pulang sekolah Yoongi sudah menariknya kesana kemari untuk sesuatu yang masih abu abu di mata pemuda berusia enam belas tahun itu.

Ia masih bimbang sebenarnya dengan pinangan Yoongi yang secara tiba-tiba meruntuhkan kisah masa remajanya.

Sungguh, jika memang itu karena Yoongi betul-betul mencintainya, Jimin ingin sekali tuhan memberikannya waktu untuk sekedar mengingat masa masa dimana ia juga sama menggebunya dengan Yoongi.

Walau yakin yang hanya akan muncul di ingatanya hanya kilas balik masa kecilnya yang samar.

Jimin tak tau kenapa otaknya begitu buram ketika di minta mengingat masa lalu. Sejak dulu Jimin memang selalu meraba raba Jika seseorang yang memintanya untuk bercerita tentang masa kanak-kanaknya.

Jimin tak tau apa yang terjadi di masa itu hingga ia menjadi seperti ini.

Dengan siapa ia berteman, apa yang menjadi mainan favoritnya ketika masih kecil, kemana saja orang tuanya mengajak Jimin berlibur di akhir pekan, apa yang terjadi pada ulang tahunnya dan yang paling penting, siapa itu Min Yoongi.

Kenapa seperti ia orang yang dekat tapi juga terlihat semu di pikiran Jimin.

Lalu kenapa pula Jimin harus menikah dengannya. Juga kenapa sekarang ia terlihat begitu pasrah dengan pernikahan mereka.

Itu yang membuat Jimin diam tak bersuara bahkan saat mobil Yoongi telah sampai di pelataran rumahnya yang tak bisa di bilang sempit.

"Kau tidak turun?"

Jimin menolah, dan berapa terkejutnya ketika melihat sekitarnya.

"Sudah sampai?"

"Sudah dari lima belas menit yag lalu."

Jimin diam sejenak sebelum menghela nafas panjang nan berat.

"Apa kau benar benar lelah?" Yoongi bertanya pelan.

"Menurutmu?" namun lagi lagi balasa menyebalkan yamg ia dapat.

Membuatnya mengubur dalam dalam niatan menggendong Jimin ke dalam rumahnya. Hell, dalam keadaan biasa saja Jimin ogah apalagi saat pemuda itu badmood. Mati sudah Min Yoongi.

"Jimin, aku tau mungkin pernikahan kita nanti akan sedikit membebabimu. Tapi kuharap kau terima saja kenyataan yang ada"

Terima kenyataan.

Terima kalau ia akan kehilangan masa remaja yang tak bisa ia ulang dua kali, terima kalau ia akan menghapus nama Daehyun maupun lelaki lain dari daftar lelaki idamannya, dan yang jelas terima kalau yang jadi suaminya adalah paman paman mesum.

Hell, damnit yang benar saja.

"Menolak pun kau akan tetap memaksa kan?"

"You know me so well."

Jimin memutar matanya. Ia jengah, sumpah.

"Ya sudah. Aku pulang saja. Malas aku melihat wajahmu."

"Hey, nantipun kau akan menatap wajahku saat bangun tidur."

Bugh

Tas ransel Jimin mendarat di wa

jah mulus Min Yoongi.

Tbc

Selamat bertemu di chapter selanjutnya