Fanfiction ini adalah hasil remake dari sebuah film yang berjudul sama, yaitu The Shop Around the Corner tahun 1940 hanya saja ada scene yang saya ubah. FF ini Genderswitch ya hehe saya sudah kasih peringatan sebelumnya, karena fanfic ini bakalan aneh kalau tetap yaoi (menurut saya).

FF nya nggak jadi twoshoot, ternyata panjang sekali :')

Genre : Romantic, (mungkin) Comedy.

Rate : T

Chapter : 2 of 3

Cast :

Jung Yunho (27)

Kim Jaejoong (25) *Genderswitch*

Shim Changmin (27)

Dan lain-lain..

Summary : Kim Jaejoong mempunyai sahabat pena yang bernama U-know, tapi bagaimana jika ternyata sosok U-Know itu adalah seseorang yang sama sekali tidak ia duga ? Penasaran ? Monggoh silahkan dibaca..

.

.

.


The Shop Around the Corner

.

Sementara itu di sisi lain..

"Hyung, kau langsung memecat Jung Yunho ? Kau harus mencari tahu kebenarannya dulu hyung, jangan langsung mengambil keputusan dulu !" Bentak Jungkook pada sang kakak yang kini terlihat sangat frustasi. Aish, ia tidak menyangka kalau kakaknya yang terkenal dengan sifat tenangnya bisa mengambil keputusan se gegabah ini.

"Diamlah Jungkook, aku sangat marah sekarang.." Ucap Changmin lirih dan terkesan dingin. Jungkook menghembuskan nafas beratnya, kini ia berfikir bagaimana solusi dari masalah ini. Dalam hati ia menyesal karena mengatakan kabar 'mentah' itu langsung ke hyungnya, padahal ia sendiri pun belum mencari tahu kebenarannya.

Changmin memijit pangkal hidungnya, ia benar-benar kecewa pada kekasihnya. Padahal ia sudah berusaha keras sampai sejauh ini hanya untuk kekasihnya, ia sangat mencintai wanita itu. Tapi dengan teganya kekasihnya itu berselingkuh dibelakangnya. Sebenarnya ia pun tidak ingin mempercayai kabar mentah ini, tapi hatinya sudah terlanjur sakit. Ia tahu, adiknya itu tidak pernah berbohong.

"Hyung, kita harus mencari tahu kebenarannya dulu.. bisa saja gossip itu tidak benar.." Changmin menatap sang adik serius. Jungkook sedikit merinding melihat aura hitam yang dikeluarkan sang kakak.

"Caranya ?" Jungkook berfikir lagi, mungkin ide nya ini terdengar konyol dan terkesan seperti di dalam film yang ditontonnya. Tapi hanya ini yang bisa dipikirkannya.

"Mungkin kita harus menyewa detektif untuk memata-matai Vic noona.. jika aku atau hyung sendiri yang mengikuti Vic noona, itu pasti akan mencurigakan. Bagaimana hyung ?" Changmin terlihat berpikir mengenai ide adiknya, meskipun terdengar sangat konyol dan seperti film kartun, tapi ide adiknya ini lumayan masuk akal juga.

"Baiklah, nanti akan kuurus semuanya.."

.

.

.

Terlihat seorang wanita cantik yang duduk sendirian ditengah keramaian café. Ya, wanita itu tidak lain adalah Jaejoong. Ia terlihat seperti sedang mencari seseorang, siapa lagi kalau bukan U-Know, sahabat pena nya. U-Know bahkan sudah terlambat 30 menit sekarang, Jaejoong merasakan firasatnya tidak enak, apakah jangan-jangan U-Know tidak bisa datang ? Jaejoong menggigit bibir bawahnya, tidak, ia harus optimis. U-Know pasti akan datang sesuai dengan janjinya. Jaejoong menyeruput kopi yang ia sudah pesan, mencoba menenangkan pikirannya dari bayangan-bayangan buruk.

Sedangan di sisi lain, tepatnya di luar café, Yunho saat ini tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat bingung sekarang, ia mencoba mengacuhkan Jaejoong yang ada di dalam, dan mencoba mencari keberadaan Youngwoong.

'Nanti, di hari kita bertemu.. aku akan memakai dress merah selutut, rambutku yang panjang bergelombang akan ku gerai'

Yunho ingat bagaimana Youngwoong menuliskan dresscode nya untuk hari pertemuan mereka. Bagai seorang detektif, Yunho memperhatikan seluruh pengunjung café ini, tapi tidak ada satu pun wanita yang memakai dress merah dan rambutnya tergerai. Pandangan Yunho kembali pada Jaejoong yang tengah duduk sendirian. Astaga, ia memakai dresscode yang sama dengan yang dituliskan Youngwoong di surat. Jangan-jangan...

"J-jadi Jaejoong adalah Youngwoong ?" Pikir Yunho tidak percaya. Sebenarnya ia bersyukur karena sosok Youngwoong yang asli adalah wanita yang cantik. Di hari pertama bekerja, Yunho memang mengakui kalau Jaejoong adalah tipe wanita yang sangat cantik dan menarik perhatiannya. Tapi ia tidak menyangka kalau karyawan barunya itu adalah Youngwoong, sahabat pena sekaligus cinta pertamanya.

Yunho bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Apakah ia harus masuk kesana dan mengaku kalau dirinya adalah U-Know ? Atau sebaiknya ia kabur saja dari sini dan meninggalkan Young- bukan, Jaejoong di dalam sendirian menunggui dirinya ? Ia benar-benar dilanda kegalauan sekarang.

"Aishh aku harus bagaimana ?" Gumam Yunho merasa bingung dengan posisinya sekarang. Ah ya, ia mempunyai ide cemerlang. Diam-diam ia kembali ke mobilnya, lalu melepas jaket kulit berwarna cokelat yang melekat di tubuhnya. Kenapa ia melepas jaket itu ? Karena di surat yang ia tulis untuk Youngwoong, hari ini ia akan menggunakan jaket kulit berwarna cokelat. Dan jika ia melepas jaket itu, otomatis Jaejoong tidak akan tahu kalau dirinya adalah U-Know.

Dengan menyisakan kemeja biru langit yang menempel di tubuh atletisnya. Yunho memberanikan diri untuk masuk ke dalam café tersebut. Ia berjalan menuju kursi yang ditempati Jaejoong dengan perasaan gugup. Aigo, Jaejoong benar-benar cantik hari ini, pikirnya setelah melihat Jaejoong lebih dekat.

Ia merutuki kebodohannya ketika tanpa sadar ia berpikir untuk duduk satu meja dengan Jaejoong. Hell, ia harus berpura-pura tidak mengenali Jaejoong sebagai sahabat penanya sekarang. Dengan perasaan campur aduk Yunho mengambil tempat duduk di sebelah meja Jaejoong. Dengan mata setajam musang yang ia miliki, Yunho memperhatikan Jaejoong dari mejanya. Ia bisa melihat dengan jelas Jaejoong yang sedaritadi terlihat gelisah memandang sekitar café, mencari keberadaan seseorang yang sebenarnya adalah dirinya.

Jaejoong merasakan dirinya yang sedang diperhatikan intens oleh seseorang. Ia sontak melihat kesebelah kanannya dan betapa terkejutnya ia ketika bertemu pandang dengan sosok yang ia sangat kenal. Siapa lagi kalau bukan bosnya yang menyebalkan, Jung Yunho.

"Omo !" Jaejoong membulatkan matanya, bibir merahnya membentuk bulatan 'O'. Ia benar-benar terkejut, kenapa bosnya bisa berada disini ?

"Hei Jaejoong, sedang apa disini ?" Yunho bertanya seolah-olah mereka tidak sengaja bertemu. Jaejoong merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.

"Aku.. sedang menunggu temanku." Jawab Jaejoong jujur. Tanpa sadar Jaejoong telah berkata dengan bahasa informal pada Yunho yang merupakan bosnya, tapi sepertinya Yunho tidak menanggapi serius karena mereka tidak sedang bekerja. "Kau sendiri sedang apa ?" Tanya Jaejoong balik. Sejujurnya ia sendiri merasa bosan karena terlalu lama menunggu. Jaejoong bukanlah tipe wanita yang pendiam, ia tidak tahan berdiam diri, apalagi ia sekarang sendirian. Untunglah ada Yunho, setidaknya ia bisa berbicara sekarang.

"A-aku, aku hanya mampir.." Yunho mengalihkan pandangannya kearah lain, ia tidak berani menatap mata Jaejoong karena takut ketahuan berbohong. Bahkan jawabannya sempat terbata karena rasa gugupnya yang besar. Jaejoong hanya mengangguk sebagai jawaban, sepertinya ia tidak menaruh curiga sama sekali pada atasannya itu.

"Sepertinya ia tidak datang" Gumam Jaejoong tapi masih bisa didengar betul oleh Yunho. Pandangan Jaejoong berubah sendu, rasa-rasanya ia ingin menangis sekarang karena saking kecewanya ia pada sahabat penanya. Yunho yang melihat Jaejoong seperti itu hanya bisa merasa bersalah, dengan berani ia berpindah tempat, dan mendudukkan dirinya di kursi hadapan Jaejoong. Ah, betapa jahatnya ia, sekarang bahkan ia bisa melihat mata Jaejoong yang sedikit berkaca-kaca.

"Memang teman seperti apa yang sedang kau tunggu ? Apakah pacarmu ?" Jaejoong sedikit terkejut ketika Yunho berpindah tempat duduk. Namun segera ia memasang lagi senyum manisnya. "Aniya, bukan pacarku.." Jawab Jaejoong. Yunho menatap mata Jaejoong tajam seperti meminta jawaban yang lebih lengkap.

"Sebenarnya, aku disini untuk menemui sahabat penaku.. ia dan aku sudah berteman lama, namun hanya melalui surat.." Yunho memasang ekspresi pura-pura terkejutnya. Ia bahkan sampai berpura-pura tertawa di hadapan Jaejoong, bermaksud mengejek Jaejoong.

"Kau masih bermain surat menyurat ? Hei, ini sudah abad 20 Jaejoong-ssi.. Yang seperti itu sudah tidak zaman lagi" Yunho berucap dengan nada mengejek, bahkan bibirnya membentuk seringaian yang bermaksud mengejek Jaejoong. Mendengar ucapan bosnya itu membuat Jaejoong kesal tentunya, ia marah, tentu saja.

"Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain, selama itu menyenangkan untukku.." Jaejoong membalas dengan tenang. Bagaimanapun ia harus tetap bersikap sopan terhadap bosnya, ia tidak boleh sampai terbawa emosi walaupun ini sudah diluar kantor. Jaejoong menyesap sedikit kopinya, bermaksud menenangkan hatinya dari amarah.

Tanpa diketahui Jaejoong sebenarnya Yunho merasa sangat bersalah karena mengejeknya seperti itu. Sebenarnya ia ingin mengakui kalau U-Know adalah dirinya, tapi logikanya menentangnya. Hell, ia sangat mengingat betul ketika Jaejoong bercerita panjang lebar tentang bosnya yang cerewet dan galak, dan bodohnya dirinya malah ikut-ikutan sebal dengan bos Jaejoong. Tapi bagaimana jadinya kalau Jaejoong tahu kalau bosnya yang galak itu adalah sahabat penanya selama ini. Yunho menghela nafasnya, ia yakin ada saat yang tepat untuk mengakui semuanya.

"Sepertinya kau sudah menunggu lama disini.. Bagaimana jika sahabat penamu itu tidak datang ?" Yunho mengutuk dirinya sendiri karena secara spontan bertanya seperti itu. Astaga, itu berarti secara tidak langsung ia menyuruh Jaejoong untuk menyerah.

"Aku tidak tahu, tapi aku yakin ia akan datang.. karena ia sudah berjanji padaku.. Tapi kalau ia benar tidak datang, mungkin aku akan memutuskan tali persahabatan kami.." Jaejoong memaksakan senyumnya. Yunho terkejut mendengar ucapan Jaejoong.

"Mwo ?! Yah ! Kau tidak bisa semudah itu memutuskan tali persahabatan kalian.." Raut wajah Yunho berubah panik. Jaejoong menatap Yunho bingung.

"Memangnya kenapa ? Aku sudah berharap banyak tentang pertemuan ini, dan dia sudah mengecewakanku.." Yunho diam, ia tidak mampu berbicara sekarang, benar, ia sudah mengecewakan Jaejoong tentu saja ia pantas mendapatkannya (Sebenarnya hal ini bisa jadi mudah kalau dari awal Yunppa mau mengaku ya, readers?). Jaejoong mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, ia tersenyum miris melihat jarum jam arloji miliknya. Sudah 1 jam ia menunggu kedatangan seseorang yang menjadi sahabat penanya. 1 jam itu cukup lama bukan ? Apalagi Jaejoong bukanlah tipe wanita yang suka menunggu.

"Sepertinya aku harus pergi Yunho-ssi.. permisi." Jaejoong beranjak dari duduknya, ia ingin pulang dan menangis sekarang. Dikecewakan sungguh tidak enak rasanya. Yunho terkejut karena tiba-tiba Jaejoong beranjak dari duduknya.

"Hei kau mau kemana ?" Tanya Yunho pada Jaejoong ketika Jaejoong hendak memakai kembali mantelnya yang berwarna krem. Jaejoong sontak menoleh pada Yunho, bosnya yang masih duduk di tempatnya.

"Aku akan pulang ke apartemenku. Kurasa sia-sia saja jika aku menunggu disini.." Ucap Jaejoong sebelum melangkah keluar café. Yunho masih mencerna ucapan Jaejoong barusan, seketika Yunho berlari kecil mengejar Jaejoong yang sudah duluan keluar dari café, mengundang tatapan aneh dari para pengunjung café.

"Jaejoong tunggu !" Yunho berhasil menahan Jaejoong dengan memegang pergelangan tangannya. Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho yang sedikit terengah karena berusaha mengejarnya. Ia mengerenyit bingung, mengapa Yunho rela mengejarnya ? Padahal ini sama sekali bukan urusannya.

Yunho merasa gugup dipandang Jaejoong seperti itu, lalu melepaskan tangan Jaejoong. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa canggung dengan situasi yang aneh seperti ini.

"Ada apa ?" Tanya Jaejoong bingung, ia tidak mengerti dengan perilaku 'tidak biasa' dari bosnya ini. Untung saat ini mereka sudah berada diluar café, kalau tidak pasti mereka akan menjadi pusat perhatian orang-orang.

"A-aniya.. Ehm.. biarkan aku mengantarmu pulang.." Ucap Yunho tulus, tanpa sadar Yunho tersenyum manis pada Jaejoong. Tanpa disadari pipi Jaejoong merona karena melihat senyum manis dari seorang Jung Yunho. Sumpah, demi apapun, ia belum pernah melihat bosnya tersenyum setulus ini. Dan demi apapun, bosnya sungguh tampan jika tersenyum seperti ini.

"Ke-kenapa ?" Jaejoong memalingkan mukanya dari Yunho, menghindari tatapan Yunho. Aigo, kenapa ia menjadi salah tingkah hanya karena senyuman tulus dari bos galaknya ini ?

"Ini sudah malam Jaejoong-ah. Berbahaya jika wanita pergi sendirian malam-malam.." Ucap Yunho yang kembali mengejutkan Jaejoong. Astaga, apakah bosnya sedang khawatir padanya ?

"Kajja !" Tanpa menunggu jawaban dari Jaejoong dan dengan mengesampingkan rasa malunya, Yunho segera menarik tangan Jaejoong dan menyeretnya menuju mobilnya yang diparkir di samping café. Lihatlah, bahkan wajah mereka berdua dipenuhi dengan warna merah.

.

.

.

Di dalam mobil Yunho, mereka berdua tampak saling diam. Sedaritadi tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Benar-benar situasi yang sangat canggung. Yunho menghela nafasnya, ia sekarang tengah menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa terasa tidak normal. Sungguh, ia bingung ingin bicara apa pada Jaejoong sekarang. Awalnya ia bahkan tidak punya pikiran sama sekali untuk mengantar Jaejoong pulang sampai apartemennya.

Begitu juga dengan Jaejoong yang sedaritadi diam, tidak bicara sepatah katapun pada bosnya itu. Ia terlalu gugup sekarang. Sedikit-sedikit ia melirik kearah Yunho yang tengah serius menyetir. Sungguh, jika dilihat sedekat ini, bosnya benar-benar tampan. Jaejoong menggelengkan kepalanya.

'Aish apa yang kupikirkan ? Dia bosmu Kim Jaejoong..' Ucap Jaejoong pada dirinya sendiri. Tanpa sadar, perilaku aneh Jaejoong dilihat oleh Yunho.

"Ada apa Jaejoong ?" Tanya Yunho, kedua matanya masih fokus pada jalan didepannya. Jaejoong terkejut sekaligus malu karena tingkah anehnya yang dilihat oleh bosnya.

"A-aniya. Tidak apa-apa.." Cicit Jaejoong hampir tidak terdengar. Yunho hanya diam menanggapi jawaban Jaejoong, membuat suasana menjadi kembali canggung.

"Ng.. ngomong-ngomong, mengapa anda berada di café ?" Pertanyaan Jaejoong membuat Yunho sedikit terkejut, tapi ia berusaha untuk setenang mungkin. Yunho tengah berusaha mencari jawaban yang tepat. Mana mungkin ia menjawab 'untuk bertemu Youngwoong'.

"Emh.. aku hanya mampir untuk minum kopi, sudah lama aku tidak pergi ke café.." Bohong Yunho, tentu saja kenyataannya tidak seperti itu.

"Sendirian ?" Sela Jaejoong.

"Iya.."

Dan jawaban singkat dari Yunho pun mengakhiri pembicaraan mereka di mobil, mereka berdua terlalu canggung dan malu untuk memulai pembicaraan lagi.

.

.

.

Keesokan harinya, Jaejoong berangkat bekerja seperti biasanya. Namun ada yang sedikit ganjil hari ini, ia sama sekali tidak melihat bos galaknya sedari tadi. Selama kegiatan bekerja, Jaejoong sama sekali tidak bisa konsentrasi. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa hari bekerjanya menjadi membosankan. Tidak ada bentakan dan perintah aneh-aneh dari seorang Jung Yunho. Selain itu hal yang membuatnya tidak mood bekerja adalah sahabat pena nya. Sampai sekarang ia masih merasa kecewa dengan kejadian kemarin.

Jaejoong sungguh penasaran dengan apa yang terjadi pada atasannya itu. Ia memutuskan untuk menemui Park Yoochun, teman kerjanya.

"Yoochun-ssi.." Panggil Jaejoong pada Yoochun yang terlihat sedang serius dengan layar komputernya. Yoochun yang merasa dipanggil sontak menoleh kearah Jaejoong.

"Oh Jaejoong-ah, tidak perlu formal seperti itu padaku.." Ucap Yoochun SKSD. Ya, Yoochun adalah tipe pria yang 'Sok Kenal Sok Dekat', apalagi pada wanita cantik seperti Jaejoong.

"Ngomong-ngomong ada apa ? Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu ?" Jaejoong tersenyum mendengar penawaran Yoochun. Sesuai dugaannya, ternyata Yoochun memang orang yang baik.

"Aniya, aku hanya penasaran saja. Apakah hari ini Manajer Jung tidak masuk ?" Ucap Jaejoong yang menimbulkan tawa dari Yoochun.

"Kau merindukannya ? Hei, seharusnya kau senang kan ?" Wajah Jaejoong memerah mendengar godaan Yoochun. Ya, ia memang senang karena tidak ada bentakan dan perintah aneh-aneh untuk dirinya. Tapi disisi lain ia juga merasa sepi tanpa kehadiran Yunho di kantor.

"A-aniya !" Sanggah Jaejoong semakin menimbulkan tawa dari Yoochun.

"Kau tidak tahu ? Aku dengar Manajer Jung sudah dipecat dari kantor ini.." Jaejoong terkejut mendengar penuturan santai dari koleganya itu. Mwo ? Dipecat ? Bahkan Manajer Jung yang dikenal dengan kinerjanya yang bagus bisa dipecat secara tiba-tiba. Jaejoong masih belum percaya dengan Yoochun.

"Mwo ? Dipecat ? Kenapa ?" Tanya Jaejoong memaksa. Yoochun hanya menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu alasan Manajernya dipecat.

"Molla, aku juga tidak tahu.. Tanyakan saja langsung pada Tuan Shim."

.

.

.

TOK TOK TOK !

Suara ketukan pintu yang terdengar keras sampai dapur rupanya cukup mengganggu yeoja paruh baya yang sedang sibuk memasak. Suasana rumahnya sangat sepi mengingat maid-maid yang berada dirumah itu tengah libur. Yeoja paruh baya itu sesekali mengumpat karena suara ketukan pintu yang tidak mau berhenti dan malah semakin terdengar keras.

"Tunggu Sebentar !" Teriak yeoja itu sembari berjalan menuju pintu depan. Ketika membuka pintu tersebut ia cukup terkejut karena mendapati puteranya yang tengah cemberut kearahnya. Aigo, putera bungsunya pulang.

"Yunnie !" Teriak yeoja itu a.k.a Mrs Jung yang merupakan umma Yunho. Tanpa pikir dua kali, Mrs Jung langsung menghambur memeluk Yunho yang merupakan putera bungsunya. Sungguh, ia sangat rindu pada putera bungsunya yang sudah hampir 6 bulan tidak pulang kerumah. Sedangkan Yunho hanya pasrah dipeluk ummanya seperti ini.

"Umma ! Kenapa lama sekali membuka pintunya ? Apa Umma sudah tidak sayang padaku lagi, eoh ?" Cerocos Yunho pada sang umma, dan hanya ditanggapi kekehan oleh Mrs Jung. Putera bungsunya tidak berubah.

"Maafkan umma.. tadi umma sedang di dapur. Tumben sekali kau pulang, Yunnie ?" Yunho menghela nafasnya, kemudian memeluk Mrs Jung dengan sayang. Pelukan hangat ummanya benar-benar mengurangi beban pikiran Yunho sekarang. Memang benar yang dikatakan orang-orang, obat dari segala masalah adalah 'rumah'.

"Aku rindu umma.." Gumam Yunho yang masih bisa didengar Mrs Jung. Mrs Jung tersenyum dalam pelukan hangat puteranya.

.

.

"Umma, dimana Jinnie hyung dan Appa ?" Tanya Yunho pada Umma-nya yang tengah sibuk memasak masakan kesukaannya.

"Hyungmu sangat sibuk di kantor Yunnie. Dan Appa-mu sedang di luar negeri.." Jawab Mrs Jung lesu. Yeah, sangat tidak menyenangkan karena menjadi satu-satunya wanita di keluarga Jung. Suami dan kedua anak laki-lakinya sangat sibuk, dan ia sering ditinggal sendirian dirumah sebesar ini. Yunho memandang sendu punggung umma nya, ia merasa bersalah karena jarang sekali mengunjungi umma nya.

"Maafkan Yunnie umma. Mulai besok Yunnie akan sering mengunjungi umma.." Ucap Yunho dengan suara aegyo nya, membuat Mrs Jung terkekeh. Ah, putera bungsunya ini benar-benar.

Tidak terasa hari sudah beranjak malam. Saat ini Yunho dan kakaknya, Jung Junjin sedang duduk-duduk di halaman belakang rumah sambil ditemani teh hangat dan camilan yang dibuatkan oleh Mrs Jung. Setelah mendengar kabar Yunho yang pulang kerumah, Junjin langsung secepat mungkin untuk pulang kerumahnya. Ia sangat merindukan adik kecilnya itu, sudah lama juga mereka tidak saling bertemu mengingat mereka berdua yang sama-sama sibuk.

"Hyung, apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Yunho dengan wajah gelisah. Yah, Yunho telah menceritakan semua hal yang ia lalui pada kakaknya. Mulai dari pemecatannya yang tiba-tiba, kemudian masalah Youngwoong dan Jaejoong yang ternyata merupakan orang yang sama.

Junjin menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Yunho.

"Seharusnya kau pergi menemui Changmin dulu, dan tanyakan alasannya kenapa ia memecatmu tiba-tiba. Dia pasti punya alasan, tidak mungkin ia memecatmu tanpa alasan begitu.." Jawab Junjin bijaksana. Yunho hanya manggut-manggut mendengar jawaban hyung nya itu.

"Kalau masalah Jaejoong bagaimana hyung ?" Junjin hanya terkekeh mendengar pertanyaan polos adiknya itu. Jujur saja, baru kali ini Yunho bercerita masalah perempuan padanya.

"Kalau yang itu, kau seharusnya mengaku saja Yun.. Kau ini, sudah berumur hampir 30 tahun, tapi masalah wanita masih saja tidak tahu." Junjin terkekeh di akhir kalimatnya. Yunho menatap hyung-nya itu dengan pandangan jengkel.

"Sebelumnya aku tidak punya waktu untuk pacaran hyung.." Ucap Yunho membela diri. Junjin bangkit dari kursinya, ia hendak masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tapi sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menjitak kepala adiknya yang sedang dilanda gundah gulana.

"Kau ini alasan saja.."

.

.

.

Tidak terasa sudah hampir satu minggu Yunho dipecat dari kantornya. Dan sudah satu minggu pula Jaejoong menjadi tidak semangat dalam bekerja. Entah apa alasannya, tapi rasa-rasanya seperti ada yang kurang. Sembari mengetik laporan, Jaejoong sempat mencuri pandang ke ruangan yang biasanya ditempati oleh Yunho. Jaejoong menghela nafas, kenapa ia jadi memikirkan pria itu ?

Ingin rasanya ia menanyakan sendiri pada Shim Changmin perihal alasan Yunho dipecat, tapi ia tidak berani tentu saja. Memangnya siapa dirinya ? Bisa-bisa ia dicap lancang dan dipecat begitu saja dari pekerjaannya.

Cukup lama Jaejoong terbengong-bengong sendiri karena memikirkan Yunho. Aish, Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa disadari oleh Jaejoong. Yoochun, pemuda playboy dan berjidat lebar itu terus memperhatikannya sejak tadi. Ia khawatir dengan Jaejoong yang sejak kemarin gemar sekali melamun seperti orang sakit.

"Jaejoong-ah.." Panggil Yoochun yang tentu saja mengagetkan Jaejoong yang tengah asyik dengan pemikirannya sendiri.

"Oh.. Yoochun-ah. Ada apa ?" Raut muka Jaejoong terlihat bingung mendapati Yoochun yang berdiri di dekatnya. Bahkan raut muka Yoochun menunjukkan kekhawatirannya.

"Daritadi kau kupanggil tapi diam saja. Jaejoong-ah apakah kau baik-baik saja ?" Jaejoong tersenyum mendengar pertanyaan Yoochun yang menunjukkan rasa khawatir padanya.

"Aniya, aku baik-baik saja Yoochun-ah.. Aku tadi hanya sedang berfikir saja hehe.." Jawab Jaejoong disertai kekehannya diakhir kalimatnya. Yoochun tersenyum gokil.

"Wah aku tahu, pasti kau sedang memikirkan Jung Yunho kan ?"

Seketika muka Jaejoong memerah mendengar pertanyaan Yoochun. Ah, Yoochun sangat bisa menggodai Jaejoong hingga seperti ini.

.

.

.

Sudah hampir dua minggu Yunho hanya berdiam diri di rumah, setiap harinya ia hanya bermain video game, atau membantu Mrs Jung di dapur ala kadarnya, dan hal itu membuat Mr Jung gondok setengah mati. Demi Tuhan, ia sangat membenci namja dewasa yang menganggur di rumah, apalagi Yunho adalah anaknya sendiri.

Saat ini keluarga Jung tengah makan malam, mereka semua sibuk dengan makanan masing-masing sampai akhirnya Mr Jung, ayah Yunho membuka suaranya.

"Jung Yunho.." Panggil Mr Jung tanpa menatap Yunho. Sedangkan Yunho yang masih sibuk dengan makanannya hanya menggumam saja, ia sudah punya firasat pasti ayahnya akan memarahinya atau menegurnya.

Mr Jung menghela nafasnya. "Yunho, Appa dengar kau dipecat dari pekerjaanmu..." Ucap Mr Jung dingin.

Yunho seketika menghentikan aktivitasnya, dan menatap sang ayah yang bahkan tidak menatapnya sama sekali. Mrs Jung dan Junjin saling menatap, merasa bingung dengan situasi yang tiba-tiba tidak mengenakan ini.

"Ye-yeobo sebaiknya-"

"Aku tidak dipecat, hanya ada kesalahpahaman saja antara aku dengan Changmin.." Potong Yunho cepat. "Lagipula aku sudah lama tidak pulang kerumah, anggap saja aku sedang liburan.." Sambung Yunho lagi.

Mr Jung hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Yunho yang sebenarnya cukup masuk akal. Ia sebenarnya sangat menyayangi anak bungsunya itu, ia sangat ingin Yunho bisa bekerja membantunya di perusahaan. Tapi apa daya, Yunho sangat keras kepala, ia ingin berusaha sendiri katanya.

"Appa hanya bertanya saja. Appa mendukung keputusanmu Yunho-ah, kau sudah dewasa.. Tapi jika kau selama satu bulan masih menganggur, appa akan menarikmu ke perusahaan.."

Mrs Jung, Junjin, dan terutama Yunho menarik nafas lega. Ia tidak mengira sang Appa akan berucap demikian. Yunho tersenyum sambil menatap Appa nya yang masih memasang tampang sok cool.

"Baiklah Appa.."

.

.

.

Di dalam kamar, Yunho terlihat seperti orang kebingungan. Setelah melewati percakapan dengan Appa nya saat makan malam tadi, Yunho berfikir keras. Satu bulan ? Itu bukan waktu yang lama. Ia harus mencari cara supaya bisa berbaikan dengan Changmin. Tapi ia tidak tahu caranya, Yunho ingin sekali menelfon Changmin tapi dia sangat gengsi.

"Aduh aku harus bagaimana..?" Gumam Yunho. Sumpah, ia tidak mau menelpon Changmin duluan untuk meminta maaf, lagipula ia tidak merasa salah apa-apa pada Changmin. Malahan ia sering membantu Changmin.

Tapi daripada terus-terusan dilanda penasaran, Yunho memutuskan untuk menelpon Changmin duluan. Namun ketika Yunho baru saja akan menekan tombol call. Handphone nya tiba-tiba berdering. Cepat-cepat Yunho mengangkat telepon yang ternyata dari Changmin.

"Halo, Changmin-ah ken-"

'Hyung, Yunho hyung ! Benarkah ini Yunho hyung ?!' Seseorang berucap panik.

"Iya benar.. ada apa ? Apakah terjadi sesuatu dengan Changmin ?" Yunho merasakan firasatnya tidak enak. Sebenarnya apa yang terjadi ? Suara di Line seberang terdengar kebingungan menjawab pertanyaan Yunho.

"Aku Jungkook.. Hyung, Chang- Changmin hyung berada dirumah sakit sekarang.. bisakah hyung segera kemari ? Aku akan segera meng-sms alamat rumah sakitnya"

Yunho terkejut bukan main mendengar kabar tidak enak itu. "Mwo ? Jungkook-ah, sebenarnya ada apa ? Kenapa Changmin bis-"

"Ceritanya panjang hyung ! Yang penting Yunho hyung harus kemari.."

PIP

"Hei ! He- Aisshh.."

Yunho sedikit kesal pada adik sahabatnya itu. Beberapa detik kemudian Yunho menerima pesan singkat yang ia yakini kalau itu alamat rumah sakit tempat Changmin dirawat.

Segera tanpa berfikir dua kali, Yunho meraih jaket serta kunci mobilnya, berniat untuk segera berangkat kerumah sakit, tidak lupa ia berpamitan pada Mrs Jung.

.

.

.

Yunho telah sampai di depan kamar rawat Changmin, ia kini tengah berbincang dengan adik Changmin, Jungkook.

Jungkook menceritakan dari awal alasan Changmin memecat Yunho, dan kenapa Changmin sampai terbaring dirumah sakit.

"Astaga, jadi dia mengira aku berselingkuh dengan Vic ?" Yunho mengusap kasar wajahnya "Bodoh sekali ia percaya dengan kabar sampah itu.."

Jungkook mengangguk membenarkan. "Kau benar hyung.. yang terpenting sekarang Changmin-hyung sudah mempercayaimu lagi. Yunho hyung masuklah ke dalam.. Aku akan menunggu diluar"

Setelah percakapan itu selesai. Yunho langsung masuk ke dalam kamar rawat Changmin. Ia merasa sedih melihat sahabatnya terbaring lemas di atas tempat tidur. Yunho mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang Changmin.

Changmin terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke sisi kanan dan mendapati Yunho, sahabatnya menatapnya dengan khawatir. Seketika ia merasa bersalah.

"Yun.. Yunho maafkan aku. Aku tidak berfikir panjang.." Changmin berucap lemas.

Yunho tersenyum "Hey, kau ini bodoh atau apa ? Langsung percaya begitu saja.." Gurau Yunho membuat Changmin terkekeh.

"Ya, aku memang bodoh.." Changmin membenarkan.

"Jadi, kau sudah menemukan pelakunya ? Siapa dia ? Biar aku saja yang urus.." Tanya Yunho pada Changmin.

"Aku sudah menemukannya.. Nichkhun, kau mengenalnya ?" Yunho terkejut mendengar penuturan Changmin.

"Astaga, Nichkhun ? Yang benar saja ?" Yunho terkejut pasalnya Nichkhun adalah karyawan Changmin sendiri. "Jadi, apa yang harus kulakukan ?" Tanya Yunho lagi.

"Pecat dia Yun.. Aku percayakan toko ku padamu Yun selama aku sakit.." Pinta Changmin. "Mulai besok, kau bisa bekerja kembali Jung Yunho" Gurau Changmin membuat Yunho tertawa.

"Gaya sekali kau !"

.

.

.

Seluruh toko dikejutkan oleh kembalinya Yunho, sang Manajer. Apalagi berita tentang dikeluarkannya Nichkhun dari daftar pegawai gara-gara ketahuan berselingkuh dengan kekasih pemilik toko. Termasuk Jaejoong, Jaejoong juga termasuk dalam daftar pegawai yang terkejut karena kembalinya Jung Yunho.

Ada sedikit rasa bahagia ketika Bos galaknya itu kembali ke kantor. Kenapa ? Jaejoong juga tidak tahu penyebabnya. Yang jelas hari ini raut mukanya sangat segar dan terlihat ceria, tidak seperti kemarin-kemarin.

Yunho keluar dari ruangannya, ia hendak berjalan menuju dapur, ia ingin membuat kopi. Entah kenapa, sejak Yunho tahu Jaejoong adalah Youngwoong, ia merasa segan dan tidak tega menyuruh-nyuruh Jaejoong seperti dulu.

Tidak disengaja, ternyata Jaejoong juga sedang berada di dapur kantor. Ia terkejut melihat Yunho, bos tampannya. Yunho tersenyum menyapa Jaejoong, membuat Jaejoong terbengong-bengong. Astaga, bos nya baru saja tersenyum padanya. Hal yang sangat jarang !

"Hei, bisakah kau minggir sedikit ? Aku mau membuat kopi.." Pinta Yunho pada Jaejoong. Jaejoong terlonjak kaget dan segera minggir dari tempatnya. Ia tidak sadar kalau ia berada di depan mesin kopi.

"Maafkan saya manager Jung.." Jaejoong sedikit membungkuk meminta maaf pada atasannya itu. Tapi, Jaejoong sedikit heran, kenapa bosnya itu tidak menyuruhnya seperti biasanya ya ? Ah, mungkin ada baiknya ia tanyakan langsung.

"Ehm.. Manajer Jung, kenapa anda tidak menyuruh saya saja seperti biasanya ?" Cicit Jaejoong.

"Tidak apa, aku bisa sendiri. Sebaiknya kau kembali bekerja.." Ucap Yunho datar tanpa menoleh pada Jaejoong.

Entah kenapa Jaejoong sedikit sedih mendengar jawaban Yunho. Ia merasa… diabaikan ? Entahlah.

.

.

.

Di dalam ruangannya, Yunho terlihat sangat gusar. Ia merasa tidak tenang setelah pertemuannya dengan Jaejoong tadi. Rasa-rasanya ia merasa bersalah karena tidak mengaku saja sebagai U-Know, terlebih lagi ia mengabaikan Jaejoong ketika karyawan cantiknya itu menawarkan bantuan padanya.

Yunho mengusap wajahnya dengan kasar. Astaga, ia tidak tahan lagi. Ia merasa seperti pengecut jika begini terus. Yunho mengintip ruangan Jaejoong dari dalam kantornya. Wanita itu bahkan terlihat sangat cantik ketika sedang bekerja.

Pada akhirnya Yunho memberanikan dirinya menghampiri meja Jaejoong. Membuat semua karyawan menoleh kearah Jaejoong. Sedangkan Jaejoong masih terlalu focus dengan dokumennya, sehingga tidak menyadari keberadaan bosnya itu.

"Ehem.." Yunho berdehem, untuk mengalihkan perhatian Jaejoong. Wajah Yunho terlihat memerah karena malu, plus jantungnya juga berdetak-detak tidak karuan. Astajae !

Jaejoong terkejut mendengar suara deheman yang ia yakini itu suara bosnya. Jaejoong menolehkan pandangannya, dan ternyata benar, Jung Yunho tengah berada didepan mejanya. Secara reflek Jaejoong berdiri untuk menunjukkan rasa hormatnya.

"Ma- manajer Jung !" Sekarang wajah Jaejoong sama merahnya dengan wajah Yunho.

"Ehm.. kau.. Jaejoong…. Be-beritahu aku dimana apartemenmu.." Cicit Yunho hampir tidak terdengar, namun masih didengar oleh Jaejoong. Apakah ia tidak salah dengar ? Bosnya ini minta alamat apartemennya ?

"Y-ye ?"

Yunho berdehem sekali lagi untuk menghilangkan rasa gugupnya, tapi percuma saja, wajahnya sekarang terlihat merah seperti tomat.

"Aku minta alamat apartemenmu Kim Jaejoong..!"

Yunho sedikit berteriak, membuat semua karyawan menoleh padanya dan mulai bisik-bisik. Aigo, malunya Jung Yunho.

Jaejoong merasakan pipinya memanas. Ternyata ia tidak salah dengar. "U-untuk apa ?" Ucap Jaejoong gugup.

"Pokoknya berikan saja alamatmu.. nomor telefonmu juga" Yunho mulai panik dan merasa malu karena menjadi bahan omongan baru dikalangan karyawan toko.

Jaejoong cepat-cepat mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat rumahnya beserta nomor telfonnya lalu memberikannya kepada bosnya.

Yunho langsung menarik kertas tersebut dari tangan Jaejoong, kemudian memasukkannya ke saku. Ekspresinya sangat sok cool dengan semburat merah di pipinya. Dengan tergesa-gesa Yunho meninggalkan Jaejoong dan berjalan ke ruangannya lagi. Tapi sebelum pergi ia sempat mengatakan..

"Besok jam delapan malam, dirumahmu.. bersiap-siaplah Kim Jaejoong…"

.

.

.

TBC


Hehe TBC dulu ya.. maaf update nya lama.. Authornya kemarin sibuk kuliah, magang, dan mau skripsi huhu..

Maap juga kalau ternyata ceritanya panjaaang, gakbisa twoshoot ternyata… satu chapter lagi tamat deh

Mind to review ?