Chapter 2 : His First Kiss.
Keluarga Namikaze adalah keluarga yang sangat terkenal dalam dunia seni di jepang. Hampir seluruh anggota keluarga Namikaze adalah seorang seniman. Contohnya sang kepala keluarga Namikaze Minato adalah komposer dunia yang terkenal karena beberapa kali memimpin konser besar, istrinya Namikaze Kushina adalah seorang pelukis dan aktris teater. Dan anak-anak mereka semua pun mengikuti jejak karrir kedua orang tuanya, si sulung Namikaze Naruto adalah pianis terkenal, sejak kecil ia banyak mengikuti kompetisi piano dan sekarang menjadi pianis paling terkenal menurut beberapa survei, sedangkan si bungsu Namikaze Menma adalah seorang penyanyi namun ia juga memainkan piano dalam beberapa penampilannya. Tak hanya terkenal sebagai seniman. Keluarga Namikaze juga terkenal dengan keramahan mereka. Dan saat ini Hyuuga Hinata merasakan sendiri bagaimana ramahnya keluarga itu. Awalnya ia datang ke mansion Namikaze, hanya untuk memberi kabar pada Namikaze Menma. Kalau dirinya sudah mendapatkan mentor dan itu adalah kakaknya hanya untuk mengucapkan terima kasih dan sedikit mengabarinya. Namun, saat tiba disana dia dijamu bak ratu dan tak disangka disana ia bertemu mentornya. Saat ini seluruh keluarga utama Namikaze kecuali sang bangsu, dan Hyuuga Hinata sedang duduk bersama sambil menikmati makan siang beberapa maid terlihat sibuk menyajikan beberapa menu kepada tuan rumah dan tamunya.
"Jadi, Hyuuga-san setelah lulus dari artzart high school apa yang kau kerjakan?" Namikaze Minato memotong steak-nya sambil bertanya pada gadis yang menjadi tamunya.
"Panggil Hinata saja Namikaze-sama. Setelah lulus dari sana aku hanya menjadi penyanyi di agensi yang sama dengan Menma-senpai." Hinata tersenyum manis sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya.
"Kalau begitu, panggil suamiku juga aku dengan nama depan saja Hinata-chan. Ah lalu kenapa kau ingin belajar piano?" Kini kushina yang bertanya ia meminum pelan lemon juice yang ada di gelasnya.
"Ah tak ada alasan khusus, sebenarnya aku hanya terpesona pada penampilan Menma-senpai saat ia menainkan piano sambil bernyanyi. Aku ingin mencobanya." Hinata kembali tersenyum saat Kushina menaruh daging yang telah dibumbui ke piringnya.
"Perasaan ku saja atau jawabannya memang sudah ia rencanakan?" Naruto memandang Hinata dengan curiga, semenjak ayah dan ibunya bertanya pada gadis itu, entah kenapa Naruto merasa jawaban yang keluar dari mulut gadis itu seperti sudah direncanakan atau sudah ia persiapkan. "Kenapa tiba-tiba begitu? Kenapa tak sejak dulu kau mencari mentor?" Kini Naruto yang membuka suara setelah sejak tadi ia hanya diam.
"Sebenarnya, aku sudah mencari mentor sejak dua bulan terakhir namun tak kunjung menemukan yang cocok. Sampai saat Menma-senpai menawarkan diri dan aku menerimanya tapi sayang baru beberapa hari setelah kami menentukan jadwal berlatih Menma-senpai mengalami cidera." Hinata menjawab dengan tenang bersyukur Menma tak ada dimeja ini ia dapat menjawab pertanyaan ini dengan mudah.
"Menma-kun menawarkan diri?" Kini Kushina hampir tersedak mendengar jawaban Hinata.
Hinata hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan itu. Sedangkan Kushina kini diam-diam memasukan Hinata dalam daftar gadis yang harus ia ketahui seluk-beluknya.
"Aku berharap semoga pembelajaran mu sukses. Oh ya Naruto-kun kau harus bersikap baik pada Hinata-chan." Kushina menatap Naruto dengan pandangan penuh harap. Dan Naruto hanya mengangguk sebagai jawabannya.
...
"Terima kasih makan siangnya." Hinata membungkuk tanda terima kasih pada pasangan Namikaze kini ia berdiri di pintu utama dan bersikap meninggalkan mansion ini.
"Ah itu bukan apa-apa Hinata-chan. Naruto, antar Hinata." Perintah Kushina pada putra sulungnya. Naruto hanya berjalan menuju Buggati Veyron Super Sport miliknya sambil memasukkan kedua telapak tangannya pada saku celana yang ia gunakan.
"Kushina-San aku duluan, sekali lagi terima kasih jamuannya." Hinata membungkuk mengucapkan terima kasih dengan formal.
Kushina tersenyum dan mengusap surai indigo Hinata pelan. "Sering seringlah berkunjung Hinata-chan. Titipkan salam kami pada keluargamu."
Hinata tersenyum kecil dan berjalan mendekati Naruto yang sudah mengklaksoni mobilnya memberi isyarat dirinya sudah siap mengantar Hinata. Dan sebelum memasuki mobil Naruto Hinata kembali membungkuk formal yang dibalas lambaian tangan oleh Kushina.
...
"Keluargamu sangat baik." Hinata bersuara sambil memasang sabuk pengamannya.
"Ya kami terbiasa seperti itu." Naruto mulai mengemudikan mobilnya dan memutar lagu klasik pada radio mobilnya.
"Huh? Klasik?" Hinata melirik takut-takut pada mata biru safir milik Naruto yang tampak terpejam menikmati irama yang dibawa lagu atau instrumental yang ia tak kenal asal usulnya.
Naruto menoleh pada gadis disampingnya. Menampilkan sorot mata tegasnya kemudian menghela nafas mencoba menahan amarah. "Hyuuga dengar ini. Jika kau ingin memainkan piano hal pertama yang harus kau lakukan adalah mencintai musik klasik. Entah itu klasik tentang piano, violin, atau harpa kau harus mencintai mereka lebih awal sebelum menyentuh mereka." Dengan suara tegasnya Naruto memberikan pelajaran pertama pada Hinata, mata birunya menerawang jauh ke dalam mata ungu pucat milik Hinata mencoba menemukan alasan gadis itu ingin bermain piano.
"Seperti kau menyentuh seorang wanita kau harus mencintai dia mengikatnya dalam janji pernikahan lalu menyentuh nya, benar?" Hinata memiringkan kapalnya menatap Naruto yang masih serius mengemudi.
Dengan secepat kilat Naruto meminggirkan mobilnya, suara derit mobil yang di rem dan permukaan jalanan terdengar begitu nyaring saat Naruto meminggirkan mobil mewahnya. Bahkan tubuh keduanya terhempas kedepan.
"Ada apa, Naruto-sensei?" Hinata memiringkan kepalanya menatap wajah Naruto yang mengeras seperti menahan sesuatu tapi merah padam bulir keringat terlihat di pelipisnya.
"Kau," Naruto menunjuk wajah Hinata yang masih menatapnya kemudian tertawa pelan dengan nada sarkastik. "Kau, terlalu polos." Naruto melepas sabuk pengamannya dan menerjang tubuh Hinata yang masih menggunakan sabuk pengaman, hingga tubuhnya berada diatas tubuh Hinata.
"S-sensei?" Hinata menatap mata Naruto ia menyadari iris itu benar-benar indah dan memukau. Tanpa Hinata sadari pipinya merona melihat itu.
"Naruto, panggil aku Naruto." Dengan kalimat itu Naruto mengikis jarak diantara mereka, mata Hinata memeram tak sanggup menahan pesona biru safir milik Naruto ia.
"A-apa, apa yang kau lakukan sen- N-Naruto." Hinata dengan terpatah-patah mencoba memperjelas keadaan namun saat melihat safir itu semakin mendekat ia memutuskan kembali menutup iris ungu pucat miliknya.
'Tuk'
"Eh? Kenapa menyentil dahiku sen- ah Naruto?" Hinata mengerucutkan bibirnya menahan kesal pipinya merona malu dan kesal malu memikirkan hal yang bukan-bukan dan kesal karena Naruto mempermainkan dirinya.
"Hal seperti itu saja sudah membuatmu merona." Naruto mendengus meremehkan saat memperhatikan pipi merona Hinata.
"Apa kau sering melakukannya?" Hinata menatap mata biru Naruto yang sangat menenangkan untuknya.
"Apa maksudmu?" Naruto mulai mengemudikan kembali mobilnya dengan cukup kencang namun masih dalam batas normal.
"Ciuman, atau sejenisnya?" Lagi dan lagi Hinata meronakan pipinya yang chubby.
Tersentak pelan, Naruto mengingat dia, dia yang menjadi alasan Naruto menekuni musik. Dia adalah cinta pertamanya, ciuman pertamanya, teman perempuan pertamanya, dan orang pertama yang mengenalkan piano padanya.
"Kenapa diam?"
"Jangan bahas ini lagi. Kau membuat sesuatu menjadi resah."
Dan selanjutnya yang terdengar hanya derauan kencang mobil Naruto yang membelah jalan raya Tokyo. Entah Naruto bodoh atau Hinata yang bodoh mereka sampai di gedung Lexus Agency, gedung agensi yang memayungi karir Naruto.
"Kau mengajak ku kemari Naruto?" Hinata manarik sebelah alisnya bingung karena Naruto membawanya kemari.
"Maaf, aku tak bertanya kemana tujuan kita. Kau ingin pulang? Dimana rumahmu?" Naruto kembali memasang sabuk pengaman yang sempat ia lepas beberapa menit yang lalu.
"Um, apa boleh aku masuk ke dalam?" Hinata dengan ragu bertanya jari telunjuknya saling bertautan karena gugup.
"Wow. Artis dari Diligence Agency ingin masuk gedung Lexus Agency?" Naruto memasang tampang sombong khasnya.
"Apa salah? Bisa saja disana aku mendapat sesuatu untuk musikku." Hinata menjawab dengan ketus perasaan kesal masih hinggap didadanya karena ulah Naruto saat menyentil dahinya.
Naruto berjalan keluar mobilnya, lalu berjalan kesisi mobil tempat Hinata duduk. Kemudian membuka pintu mobilnya, dan mengulurkan tangannya seolah memerintah Hinata balas menggenggam tangannya. "Follow me to the dark." Dengan seringai iblisnya Naruto menyentuh pinggang ramping Hinata dan berjalan beriringan memasuki gedung besar yang bertuliskan Lexus dengan sangat besar dipuncak gedung itu.
Maafkan author yang mengupdate dengan sangat singkat;* let me know you want next chp.
