Taeyong POV
Hari ini sangat cerah dan kami semua libur dari pekerjaan. Kemarin kami sempat meminta izin kepada manajer hyung untuk memperbolehkan piknik hari ini. Percobaan pertama gagal karena manajer hyung meminta untuk beristirahat saja di dorm, kami semua ingin piknik untuk menghirup udara bebas polusi bukannya ingin dikurung di dorm seharian. Percobaan kedua juga gagal, alasannya karena manajer hyung kurang enak badan dan entahlah ia hanya merasa tidak enak seperti ada yang janggal, dan jika kami semua pergi harus didampingi oleh manajer hyung. Percobaan ketiga bisa dikatakan berhasil, yas ! Karena kami semua meyakinkan manajer hyung untuk tidak khawatir saat pergi nanti. Kami para hyung line akan menjaga baik sesama member terutama minirookies. Tanggung jawabku sebagai leader pun diuji karena jika biasanya ada manajer hyung yang membantuku, maka besok hanya aku penanggung jawab penuh keselamatan member. Walaupun beberapa teman yang lain, terutama hyung dan yang sepantaran denganku meyakinkan jika aku adalah leader yang baik, tetapi aku adalah tipe yang sering terserang panik mendadak, pesimis jika aku bisa. Kali ini, aku akan memegang kepercayaan yang para member berikan kepadaku, dan karena ada kekasihku Jung Jaehyun yang akan selalu menyemangatiku.
Tidak salah pilihan Taeil hyung untuk membawa kami semua berlibur sejenak ke rumah neneknya. Di dekat rumah ada sungai yang katanya banyak ikan. Di sepanjang samping sungai kami bisa melakukan kegiatan apapun yang diinginkan. Udaranya sangat segar dan rindang, kami betah bermain. Tidur di pangkuan Jaehyun membuatku lupa waktu, lembut tangan Jaehyun membuatku semakin memejamkan mata dengan damai dan seluruh keresahanku hari ini perlahan pergi terbawa angin. Mendengar para member lain yang tertawa bahagia membuatku bernapas lega, setidaknya mereka bisa terbebas dari padatnya jadwal kegiatan kami biasanya. Tak terasa langit menjadi sangat senja, kami harus segera pulang. Jika tidak ingin terlalu larut di perjalanan, kami harus bergegas pergi sekarang. Setelah memastikan seluruh member masuk ke dalam mobil, lalu rombongan perlahan kembali ke Seoul.
Member kami banyak, dan berangkat tadi dengan dua mobil. Hansol hyung dan Taeil hyung yang menyetir karena mereka paling dewasa di antara kami. Hyung line di mobil pertama dan minirookies di mobil kedua. Aku mengajak Jaehyun untuk mendampingi minirookies. Mobil pertama sudah melaju dan diikuti dengan mobil kedua. Sebenarnya aku agak khawatir dengan keadaan di mobil pertama, karena sepertinya hari ini Ten dan Yuta sedikit berlebihan dalam bertengkar. Memang mereka sering bertengkar tidak penting, tetapi keduanya tidak akan tahan jika berlama-lama marah satu sama lain. Unik karena walaupun Ten sering mengaku membenci Yuta tapi yang dimaksudnya mungkin adalah "benar-benar cinta". Namun hari ini, setelah kembali dari sungai wajah mereka diliputi kejengkelan satu sama lain.
"Aku mencintaimu hyung..jangan pergi.." Aku menoleh pada Jaehyun yang tidur bersandar padaku. Ternyata ia mengigau lagi, ia juga mengigau tentangku tadi malam. Benar-benar cutipie ku yang manis. Aku hanya tersenyum lalu mengusap sayang pipinya yang gembul.
Yuta POV
Satu pesan masuk dan itu dari Taeyong.
Fr : Lee Taeyong
Yuta, tolong pastikan seluruh pintu mobil terkunci.
Jaga seluruh member di mobil satu, dan berbaikanlah dengan Chittapon.
Maaf aku tidak bisa disana, aku disini menjaga minirookies.
Hmm memang dasar Chittapon itu keras kepala dan tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku senang sekali mengerjainya dan sebenarnya ia juga senang mengerjaiku. Hari ini kami berangkat dengan ceria tetapi pulang harus dengan saling mendiamkan seperti ini. Sejak tadi, ia benar-benar diam dan tidak menganggapku ada. Ya mungkin memang salahku, tadi ketika di sungai aku hanya pura-pura mendorongnya ke sungai tetapi karena batu yang dipijaki Ten sangat licin akhirnya ia benar-benar tercebur ke sungai. Pada saat itu aku ingin diam saja dan menertawainya tapi ketika aku melihat Ten yang terserang panik dan ternyata batu sungai memang licin, ia tidak bisa menyeimbangkan badannya. Aku langsung terjun ke sungai dan menolongnya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia sama sekali tidak menoleh padaku setelah kami keluar dari sungai.
Pesan Taeyong aku harus mengecek keadaan pintu mobil van ini apakah sudah tertutup dengan baik. Sialnya, Chittapon berada di pinggir pintu yang ingin aku cek, senggol sedikit saja pasti ia sudah cerewet seperti yeoja pms. Akhirnya aku perlahan-lahan menggapai pintu, tanganku terulur di depan Ten yang tatapannya sangat menghakimi. Ia lalu menepis tanganku yang hampir menyentuh gagang pintu.
"Kau ini memang berniat ingin membunuhku ya Nakamoto?" Teriak Ten marah secara tiba-tiba.
"Kau bisa diam dulu tidak, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Aku ulangi ya, tadi itu tidak sengaja, aku tidak tahu kalau kau benar-benar jatuh ke sungai. Minggir sedikit." Aku berusaha menggapai pintu lagi, tetapi Ten tidak mau minggir sebentar.
"Bisakah kau minggir sebentar, aku ingin mengecek pintu!"
"Hah sekarang apa? Kau membuka pintu ini lalu mendorongku keluar iya kan?!"
"Astaga Ten, kau pikir aku psikopat yang memiliki niat buruk seperti itu. Minggir aku harus mengeceknya, apa kau menutup pintu ini tadi dengan baik ?!" Maaf Ten aku harus mendesakmu seperti ini, demi keamanan kita di mobil. Gagang pintu sudah kuraih dan pintu terbuka, ketika ingin kututup dengan rapat tiba-tiba suara Ten memekik di telingaku, memanggil-manggil Hansol hyung yang sedang menyetir di depan.
Aku merasakan tiba-tiba mobil oleng ke kanan kiri, ketika aku menoleh ke depan ternyata ada truk di depan mobil kami. Aku berusaha menutup kembali pintu mobil tetapi mendadak macet. Aku panik, truk sudah hampir dekat dengan tenaga sisaku aku berusaha mendorong Ten ke sisi dalam tetapi tiba-tiba mobil kami miring dan Ten terdorong keluar, bersamaku yang memeluknya, setidaknya untuk melindunginya dari benturan-benturan.
"Hyungg !?"
"Ten hyung ! Yuta hyung !"
"Hansol hyung awassss !"
Ciiittttt brakkkkkk
Aku dan Ten tergulung-gulung ke pinggir jalan, mobil kami jatuh miring ke pinggir jalan. Aku berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk bernapas. Penglihatanku mengabur dan pendengaranku samar-samar, tetapi aku sadar ketika mobil kedua tertabrak oleh truk. Kulihat mobilnya berputar-putar dan penyok di salah satu sisinya. Tetapi...
"Taeyongie ! Andwaeeeee!" Aku berteriak sekuat tenagaku lalu tiba-tiba semuanya menggelap.
Taeyong POV
Semua orang di mobil ini tidur kecuali aku, Taeil hyung yang menyetir, dan Jisung yang duduk di bangku depan untuk melihat hyung tertua kami menyetir di jalan. Jisung sangat memperhatikan dengan mata berapi-api karena sesungguhnya ia benar-benar ingin menyetir. Aku sedikit menahan tawa melihatnya seperti anak ayam, lucu sekali. Kuteliti lagi ternyata Jisung lupa memakai sabuk pengaman.
"Jisungieee, pasang sabuk pengamanmu ne?"
"Aku lupa hyunggg, maaf" Jisung berusaha menyatukan sabuk pengaman itu dengan ujungnya yang lain tetapi terlihat sangat susah di mata Taeyong. Berulang kali Jisung tidak berhasil memasukkannya.
"Mau hyung bantu?"
"Iya hyungggg, tolong hihi..." Jisung menoleh dengan wajah memelasnya.
Aku memindahkan kepala Jaehyun sebentar dari bahuku lalu aku memajukan badanku ke depan. Wah sabuk pengaman ini memang agak macet, aku berusaha memasukkannya dari arah samping ternyata susah. Akhirnya aku berusaha untuk memasangnya dari depan Jisung, ya tidak mudah karena badanku harus menyusup-nyusup. Tiba-tiba Taeil hyung yang sejak tadi menyetir dengan tenang berusaha menepuk-nepuk pundakku untuk segera kembali ke tempat dudukku.
"Taeyong-ahhh, cepat kau kembali, aku serius !" Taeil hyung berkata padaku dengan nada panik.
"Sebentar hyung, ini sudah hampir berhasil.." Aku masih berusaha memasang sabuk pengaman Jisung tanpa menoleh ke depan.
"Taeyong hyung !? Jisung takut !" Raut wajah Jisung yang memucat langsung menyadarkanku bahwa keadaan saat ini tidak baik. Aku menoleh ke depan. Tanpa babibu aku langsung memeluk Jisung erat dan berusaha untuk menutup jendela mobil samping kursi Jisung. Belum sempat aku meraih jendela dan benturan itu terasa sangat keras sekali. Lalu semuanya menjadi buram, aku masih berusaha bernapas dan berusaha untuk menjaga mataku agar tetap terbuka.
"Jae...Jaehyun..aaa...Jaehyun..." Mengapa Jaehyun tidak menyautiku. Hatiku mendadak penuh dengan rasa takut. Jisung terus menangis dalam pelukanku. Aku tahu, ia pasti takut melihatku penuh dengan darah yang mengalir dari kepalaku. Aku juga mendengar Yuta yang berulang kali memanggil namaku, semakin lama semakin menjauh. Aku sudah tidak kuat membuka mata, tangisku tangis kering, napasku putus-putus, perutku mual, kepalaku berdenyut nyeri, aku merasa tidak mampu untuk bertahan lagi, namun tiba-tiba sirine terdengar.
