Grey : "The Missing Piece"
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, Crypton
Warning : Diksi Hambar, detail yang membingungkan, bahasa yang gak jelas yang sulit untuk dimengerti (termasuk untuk saya sendiri /?), Membosankan
Summary : Ini bukan kisahku, gadis hantu itulah tokoh utamanya. Aku hanya karakter pendukung yang berusaha membantunya, menuntaskan kisah cinta yang ABU-ABU.
.
.
.
Kepingan Pertama : "Mencari Masa Lalu"
"Sebenarnya untuk apa kita kesini?" gadis hantu itu menatapku ngeri, dan aku bisa melihat jelas tubuh transparannya itu merinding—ternyata hantu bisa merinding juga.
"Well… menurut buku yang kubaca, untuk membantu menuntaskan masalah hantu amnesia sepertimu. Kita harus mencari masa lalunya terlebih dahulu."
"Tapi gak harus ketempat seperti ini juga, Rin -chan!" teriaknya, wajahnya bahkan sudah tampak pucat sekarang. Eh, wajah hantu memang pucat bukan?
"Berisik! Mau cepat selesai atau nggak?" aku menatapnya kesal. Ayolah, maksudku mana ada hantu penakut seperti dia?
Dia menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk, walaupun kuyakin rasa takutnya masih tetap saja membayanginya—dasar.
Uhmm… jika kalian bertanya kemana aku membawa gadis hantu ini sehingga membuatnya ketakutan seperti itu, jawabannya mudah saja. Aku hanya membawanya ke pemakaman.
Hei, jangan menatapku aneh begitu! Aku juga punya alasan membawa hantu amnesia itu kesini. Mencari masa lalunya. Aku memang sedikit tidak yakin tapi nama setiap orang yang sudah meninggal pasti akan tercantum di batu nisan, bukan begitu?
"Hei, Rin. Mereka terus menatap kita dengan tatapan dingin… aku takut," ia memegang erat sweater yang aku kenakan—walaupun tetap saja tangannya tembus.
Aku mengernyit, mereka? Bukannya hanya kami berdua saja yang berada disini. "Mereka? Mereka siapa?"
"Kau tidak bisa melihatnya, Rin? Mereka… makhluk transparan seperti aku," ucapnya ketakutan.
"Eh…?" aku melihat sekelilingku, tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada yang kulihat selain gadis hantu itu—atau hantu amnesia apalah aku hanya memberikan dua julukan kepadanya.
"Sepertinya mereka tidak suka dengan kehadiran kita, Rin… jadi lebih baik kita pulang saja!"
Aku menghela nafas, sudah jauh-jauh kesini pulang begitu saja? Oh, tidak akan. Hanya gadis itu yang melihat jadi untuk apa aku ikutan takut, Kagamine Rin bukan gadis penakut. Harus begitu.
"Jangan pedulikan mereka. Yang sekarang harus kita lakukan adalah menyusuri setiap nisan yang ada disini, siapa tahu namamu ada disalah satu nisan!"
"Tapi…" ia hendak protes.
"Lakukan saja atau aku tidak akan mau membantumu!" aku menatapnya tajam, kenapa ada hantu menyebalkan seperti dia?
.
.
.
Sudah dua jam kami menelusuri setiap nisan yang ada dipemakaman ini dan hasilnya? Nihil, nama gadis hantu ini tidak tercantum di nisan manapun.
"Rin… kurasa 'tubuh' ku tidak dikuburkan di pemakaman ini. Maksudku, kita sudah menyusuri setiap nisan dan tidak ada unsur nama Miu dimana-mana, jadi ayo kita pulang!" Miu, gadis hantu itu menatapku penuh semangat. Dasar, sebenarnya dia ingin dibantu atau nggak?
"Tunggu!" Aku mencegatnya. "Bagaimana kalau kita minta tolong teman-teman mu?"
Dia memucat, "Teman-teman?"
Aku mengangguk, memamerkan senyuman licik. "Iya, siapalagi kalau bukan mereka yang berada disini."
Perkataanku itu sukses membuat ia menggeleng dengan cepat, "Gak! Aku gak mau Rin, aku takut…"
"Miu… kau ingin cepat tahu akan masa lalumu atau tidak?" aku menatapnya tajam, ayolah… kalau jenis hantunya seperti ini bisa-bisa masalahnya tidak akan pernah bisa tuntas.
"Tapi…." Dia menatapku ragu.
"LAKUKAN SAJA! ATAU AKU TIDAK AKAN MAU MEMBANTUMU!" bentakku kesal. Ya, Tuhan apa dosaku sebegitu banyaknya, sehingga kau menakdirkan 'makhluk' transparan dan penakut ini untuk mengacaukan hariku—yang memang sudah kacau itu?
Dan dia akhirnya mengangguk, lalu melayang menghampiri salah satu nisan. Bisa kulihat wajahnya yang memang sudah memucat daritadi kini semakin pucat, bahkan tubuhnya jauh lebih bergetar sekarang—hantu yang malang (kau yang membuatnya seperti itu Rin).
"Jadi… bagaimana?" tanyaku saat ia kembali ketempatku.
Miu dengan wajah yang cerita menjawab pertanyaanku dengan riang. "Kata Yukari ia pernah melihat nisan dengan nama 'Miu' disana," ia menunjuk kearah kumpulan ilalang yang tak jauh dari tempatku berada sekarang. "Ngomong-ngomong, mereka tidak jahat seperti yang aku kira!"
Aku menghela nafas. Lihat siapa yang ketakutan dan menolak tadi? Dan sekarang lihat siapa yang justru kegirangan dan bahkan saling bertukar nama dengan salah satu dari mereka.
Ah, tak ada waktunya untuk mengingat hal itu lagi. Sekarang, aku harus berjalan menuju rerumputan yang pastinya merepotkan tersebut hanya untuk mencari sebuah nisan—ah, bukankah aku yang memulainya terlebih dahulu.
Perlahan kusibak ilalang yang menghalangi jalanku tersebut, dan kau bisa lihat apa yang aku temukan? Batu nisan yang sudah berdebu dan sulur-sulur tanaman yang mengelilinginya—jelas sekali terlihat bahwa nisan itu tidak terawat sama sekali.
"Rin… apa kau menemukan sesuatu?" Miu melayang mendekatiku, raut penasaran terlukis jelas diwajahnya.
"Yah… sepertinya." Aku mengelap debu yang menempel dan menghalangi tulisan yang tercetak di nisan tersebut.
Rest in peace
Tanaka Miu
Born: 12 April 19xx
Died : 25 January 20xx
To Be Continued
Preview :
"Jadi begitu ya... Pantas saja aku menangis bila melihat hujan."
Next chapter :
Kepingan Kedua : "Pecahan Masa Lalu yang terungkap"
Halo semuanya ^^ akhirnya fanfic gaje ini lanjut juga, walaupun pendek :'3 maafkan saya. Yah, setelah lama menjalani UKK yang memusingkan lahir batin /? Akhirnya saja bisa lagi melanjutkan fic ini.
Sekian kata-kata saya yang gak penting ini /SLAP. Ditunggu Reviewnya jika berkenan ^^!
