Tittle » The First

Author » Namitsu Titi

Rate » PG-13

Genre » Friendship, School-life, Slice Of Life.

Cast » Yoo Ara, Park Chanyeol, Lime, Kim Jongdae.

Others Cast » Kris, Oh Sehun.

Summary » 'Astaga, jadi kita bersebelahan? Oh, ya ampun! Kemana saja aku ini?!'

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

A/n : FF ini telah di tulis ulang dengan versi berbeda, dengan judul The First Time Say Love [Park Jiyeon-Nam Wohyun Fanfiction] dan telah saya share di 'catatan' Fb dan blog pribadi saya.

.

© 2014 Namitsu Titi

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Awal bulan yang akan memasuki musim dingin di bulan ini, sudah terasa 'keberadaannya.' Ara sesekali merapatkan jaketnya. Meskipun hawa dingin terasa di kulitnya, tapi ia masih berdiri setia di sana.
Di kelas terasa hangat, namun membosankan, tapi di sini, terasa dingin tapi menyenangkan.

Matanya tertuju ke bawah, ke halaman sekolah, dimana ia bisa melihat siswa-siswi sedang berlalu lalang.
Hatinya bersorak girang dan pipinya pun menghangat, saat seorang pemuda berambut pirang berjalan dengan teman sekelasnya -Sehun- yang tengah memasuki halaman yang cukup luas itu.

Pemuda itu bernama Kris, Kris Wu. Seorang pemuda yang penuh kharisma, tubuh tinggi, rajin beribadah, dan memiliki Hair Style yang begitu memukau. Simple tapi ber-style dan enak dipandang.
Bagian ter-favorite dari Kris bagi Ara adalah gaya rambutnya. Dan itu yang 'membawanya' hingga saat ini, alasan pertama Ara mengagumi pemuda tampan itu. Yeah, hair at the first sign.

Ara tampak merengut kecewa, karena pemuda yang menjadi incaran matanya telah hilang dari pandangannya, saat Kris sudah menaiki anak tangga. Tapi tak apa. Pikirnya.
Ia tahu, dengan tidak terlihat di halaman lagi, maka sebentar lagi Kris akan berada... di sini, mengagumi sosoknya dari dekat, dan... this is the time.

Ara sedikit menunduk saat Kris hampir begitu dekat dengannya, dan ia tersenyum tipis saat Kris melewatinya, bahkan ia bisa mencium aroma tubuhnya.
Setelah Kris berlalu dari hadapannya, ia segera mengangkat kepalanya, seperti semula, kemudian menatap punggung pemuda itu dengan hati gembira, hingga pemuda jangkung itu memasuki kelasnya, 1-B, yang letaknya bersebelahan dengan kelasnya.

Tak lama, bel pelajaran pertama pun berbunyi. Tapi, Ara malah bersantai-santai di sana, berada di dekat tembok pembatas bersama beberapa teman sekelasnya.

Entah itu refleks atau apa, ia menengok ke arah kanan. Dan dahi gadis itu mengerut bingung. Ia melihat seorang pemuda yang dikiranya adalah kakak kelasnya. Dia... Chanyeol!

Ara segera mengalihkan pandangannya ke arah kiri, saat Chanyeol melewatinya. Ia terus menatap Chanyeol, kemana pemuda itu berjalan.

Dan... Ara mengerjab tak percaya, saat Chanyeol memasuki kelas 1-B, dimana Kris berada.

'J-jadi... dia berada di kelas 1-B? Kelasnya Kris? Dan bukan sunbae?! Astaga, jadi kita bersebelahan? Oh, ya ampun! Kemana saja aku ini?!'

Hahhh... sebenarnya kau tidak pergi kemana-mana, Ara . Kau hanya lupa... oh bukan-bukan, lebih tepatnya kau tidak memperhatikan sekelilingmu.
Bukankah saat pengumuman olimpiade, kepala sekolah dengan jelasnya mengatakan, 'Kepada saudara Kris Wu dari kelas 1-B, silakan maju ke podium. Selanjutnya, Park Chanyeol dari kelas 1-B bla... bla... bla...,'
Kau nya saja yang terus menatap Kris, tanpa mempedulikan sekitarnya, dasar!

.
"Kau sedang menulis apa, Lime?" tanya Ara, saat melihat Lime tengah mengukir sesuatu -seperti sebuah nama- di buku catatannya, halaman paling belakang.

Lime sedikit terkaget, kemudian langsung menutup bukunya dengan ekspresi gugup, saat Ara mencoba melihat apa yang tengah dilakukannya.

"B-bukan apa-apa hehe...," jawabnya canggung.

"Oh," gumam Ara, kemudian mengajak ngobrol temannya, yang duduk di depannya, karena sepertinya Lime sedang sibuk dengan bukunya.

"Anak-anak, berhentilah berbicara sendiri, karena kelas akan dimulai!" ucap seorang guru yang baru saja memasuki kelas itu, dengan suara lantang. Dan semua siswa langsung terdiam.
.

.

.

.

Ara berdiri di ambang pintu sembari celingak-celinguk ke segala arah, mencari sahabatnya, untuk diajaknya ke kantin. "Aishhh... kemana dia?!" gerutunya.

Ara akan menguap, bahkan mulutnya sudah mulai terbuka lebar, tapi langsung mengatup lagi, saat melihat Chanyeol berjalan melewatinya. Hampir saja, harga dirinya jatuh, karena menguap seenaknya, tanpa menutup mulutnya.

"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Ara pada dua orang gadis yang baru saja melewatinya.

"Ke kantin. Kenapa?" jawab salah seorang dari kedua gadis itu.

"Kalau begitu aku ikut!"

.

.
"Sunbae...," panggil Lime pada seorang pemuda yang tengah menempelkan lembaran-lembaran yang berisi karya-karya yang dibuat oleh siswa, di Mading.

"Ne?" sahut pemuda itu, setelah menoleh ke arah Lime.

"A-anu... bolehkah aku membantumu menempelkan lembaran-lembaran itu, Jongdae Sunbae?"

Pemuda yang bernama Jongdae itu tersenyum hangat, dan itu membuat Lime merona.

"Baiklah. Kalau begitu kemarilah."

Lime berjalan mendekati Jongdae dengan malu-malu. Heh, tak rugi juga dirinya menghilang dari kelas, khususnya Ara, karena ia disambut hangat oleh pemuda berlesung pipi itu.

"Ngomong-ngomong siapa namamu?"

"E-ehmm... Lime, sunbae...,"

.

.
Ara dan kedua temannya menenteng sebuah kantong plastik kecil, yang di dalamnya berisi beberapa makanan cemilan, ditemani dengan obrolan mereka, tentang cemilan yang baru dibelinya.
Saat menoleh ke depan lagi, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan seorang pemuda yang sedang duduk tak jauh darinya.
Ia mulai gelisah, saat jarak dirinya dengan pemuda itu semakin dekat.

Haruskah ia menyapanya? Tapi... tapi ia masih malu dengan pemuda itu, gara-gara jantungnya berdegup samar tempo hari. Tapi kalau ia tidak menyapanya, Ara takut jika Chanyeol menganggapnya gadis sombong, yang hanya sekedar menyapa pun tak mau.

'Ah, sial! Ngomong apa, ya? Ah... apa itu saja, ya?' Ara mengangguk samar, kemudian, "Eh, nanti setelah pulang sekolah kumpul dulu, ya!" ucapnya, sambil menahan nafas. Ia tidak yakin, jika ia akan berbicara lancar kalau tidak sambil menahan nafasnya. Pasti suaranya akan bergetar, meski samar.

Chanyeol menatap bingung pada seorang gadis yang berbicara kepadanya. "Untuk apa?"

He? Kali ini Ara benar-benar tidak mengerti dengan dirinya. Apakah error? Entah itu salah lihat atau tidak, tapi yang ditangkap oleh mata dan perasaannya, Chanyeol nampak sedikit gelagapan saat hendak berkata, yah meski hal itu terlihat samar.

"Mendiskusikan barang bawaan untuk KIR," jawabnya cepat.

Ara baru akan mendorong pintu keluar Minimarket -salah satu fasilitas sekolah- tapi ia urungkan, karena Chanyeol bertanya lagi.

"Kumpulnya di mana?"

"D-di depan kelas 1-C," jawabnya dengan suara sedikit gugup. Well, ia sudah tidak bisa menahan dirinya, terlebih lagi Chanyeol terus-terusan menatap matanya dalam, saat keduanya melakukan pembicaraan singkat tadi. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia benar-benar keluar dari Minimarket itu, sedangkan kedua temannya sudah menunggunya di luar.

"Ciee... yang mau ketemuan~" goda salah satu temannya, saat mereka sudah berada di luar area Minimarket.

"Y-yaakk! B-bukan ketemuan! Hanya mendiskusikan KIR saja!" Ara mencoba mengelak. Heh, tapi jangan salahkan tubuh dan perasaannya jika berbanding terbalik depan apa yang diucapkannya. Buktinya, ia salah tingkah dan jangan lupakan pipinya juga memerah karena malu.

"Ohhh... benarkah~?" kali ini gadis berambut sebahu ikut menimbrung.

"Iya!" jawa Ara cepat.

.

.
"Sehun!" Panggil Ara dari tempat duduknya.

Sehun yang baru saja menutup pintu, langsung menoleh ke arah seorang gadis yang memanggilnya.

"Apa?" Sehun menyahut dengan nada malas.

Ara bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Sehun. "Nanti setelah pulang sekolah, kita kumpul dulu, ya. Aku sudah membicarakan ini dengan Chanyeol tadi."

"Nanti? Jangan nanti, aku tidak bisa."

"Apa? Hei, kemarinkan saat aku tanya, kau sudah setuju!"

"Tapi nanti ada urusan mendadak," elak Sehun seraya meninggalkan Ara dengan cuek.

"Yah! Yak, Sehun! Kau tidak bisa seenaknya begitu!" teriak Ara, namun saat mendekati protesan terakhirnya, suaranya tidak begitu jelas, karena bel jam istirahat terakhir berbunyi, yang berarti pelajaran terakhir akan dimulai.
Dengan kesal, ia kembali ke tempat duduknya.
Setelah rasa kesalnya sedikit menghilang, ia kembali mengintrogasi Lime. Menanyakan kembali, kemana Lime menghilang saat jam istirahat.

.

.

.

.

"Lime, kau tunggu di sini. Aku ingin menemui Chanyeol dulu," ucap Ara sambil sesekali melirik Chanyeol yang tengah bercandaan dengan temannya di depan kelas 1-B.

Lime melirik Chanyeol sekilas, "Kau yakin ingin menemui Chanyeol?" tanya Lime tidak yakin.

"Iya. Sudah kau diam saja di sini." Ara perlahan menghampiri Chanyeol, meski rasa gugup mulai menghinggapinya. Sembari berjalan mendekati Chanyeol, ia memperhatikan cara berpakaian pemuda itu yang benar-benar ber-style, apalagi dengan rambutnya.

"Chanyeol," panggil Ara yang terkesan sedikit pelan. Untungnya, suaranya bisa sampai di telinga Chanyeol.

Chanyeol menghentikan pembicaraan dengan temannya, masih dengan mulut sedikit terbuka, ia menoleh ke arah Ara, kemudian menghampiri gadis itu.

Ara sedikit berdehem kecil, "Chanyeol, kumpulnya tidak jadi, ya. Soalnya Sehun malah pulang." Dan ia langsung pergi meninggalkan Chanyeol, tanpa mendengar apa yang akan diucapkan Chanyeol dulu.
Saat Ara dan sahabatnya akan menuruni tangga, tiba-tiba saja Chanyeol berhenti di hadapan Ara, dengan nafas yang sedikit terengah.

"Kalau wajannya meminjam di club memasak, bagaimana?" tanyanya sembari tersenyum lebar.

"Apa boleh?" Ara menahan gugupnya mati-matian, karena Chanyeol terus-terusan tersenyum padanya. Lantas, ia menengok ke belakang, ke arah Lime. Kemudian, "Lime, apa Chanyeol tersenyum padaku?" bisiknya sembari tersenyum salah tingkah.

Lime yang mendapat pertanyaan aneh dari Ara mengerutkan dahinya bingung.
Mendapat reaksi Lime yang seperti itu, Ara menatap Chanyeol lagi.

"Ya, nanti tinggal bilang saja."

Ya, Tuhannn... Ara benar-benar salah tingkah sekarang. Apalagi jantungnya ikut berdegup.
Mengabaikan Chanyeol dan Lime, Ara segera menuruni anak tangga itu dengan langkah cepat.

Ara memegang dada kanannya yang masih berdegup samar, saat ia sudah berada di halaman sekolah dekat tangga itu.
Ara menatap ke arah tangga itu, dan melihat Lime di sana.

"Kau itu kenapa, sih?" tanya Lime heran, saat ia sudah berada di samping Ara.

Ara diam saja, kemudian menengadah ke atas, ke lantai kelasnya berada, dan melihat Chanyeol di sana.

.

.

.

.

To be Continued.